BISKOM,Jakarta – Ketua Umum Forum Silaturahmi Media Mahkamah Agung (FORSIMEMA), Syamsul Bahri memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada mantan Ketua Pengadilan Negeri (PN) Makassar, I Wayan Gede Rumega, S.H., M.H., atas pencapaian luar biasa dalam mentransformasi PN Makassar menjadi unit kerja berpredikat Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) yang bernafaskan nilai-nilai BerAKHLAK.
?Ketua Umum FORSIMEMA menilai bahwa kunci keberhasilan pimpinan asal Bali ini terletak pada pendekatan kepemimpinan yang unik—mengawinkan jiwa seni yang mendalam, kearifan adat, serta perpaduan budaya Makassar dan Bali ke dalam tata kelola peradilan modern.
?Sentuhan Seni dan Penyelarasan Budaya Lokal, ?Menurut Ketum FORSIMEMA, kepemimpinan I Wayan Gede Rumega membuktikan bahwa penegakan hukum dan keadilan tidak hanya berkutat pada aturan yang kaku, tetapi juga membutuhkan sentuhan empati dan estetika. Jiwa seni yang melekat pada diri beliau mampu menghadirkan suasana pelayanan publik di PN Makassar yang lebih humanis, teduh, dan ramah bagi masyarakat pencari keadilan.
?”Bapak I Wayan Gede Rumega berhasil membuktikan bahwa kebudayaan adalah pilar pendukung integritas. Perpaduan antara ketegasan adat Makassar (‘Siri’ na Pacce’) dan keharmonisan filosofi Bali (‘Tri Hita Karana’) melahirkan lingkungan kerja yang berintegritas tinggi, menjunjung etika, serta menghormati harkat dan martabat manusia,” ujar Ketum FORSIMEMA.
?Zona Integritas yang BerAKHLAK
?Penerapan nilai-nilai dasar ASN/Aparat Penegak Hukum yaitu BerAKHLAK (Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif) di bawah nakhoda beliau tidak sekadar menjadi slogan formalitas, melainkan terinternalisasi dalam tindakan sehari-hari seluruh jajaran di PN Makassar.
?Langkah-langkah strategis yang diusung meliputi:
- ?Berorientasi Pelayanan:
Pembaharuan ruang Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) yang berbasis kenyamanan estetis, cepat, dan transparan bagi masyarakat.
- ?Harmonis & Adaptif:
Mengikis sekat-sekat birokrasi melalui pendekatan kebudayaan sehingga tercipta keterbukaan dan kerja sama tim yang solid di lingkungan Pengadilan Negeri Makassar.
- ?Akuntabel & Kolaboratif:
Membangun benteng integritas anti-gratifikasi dan anti-pungli dengan merangkul seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan (stakeholders) di Sulawesi Selatan.
?Warisan
- Kepemimpinan untuk Peradilan Indonesia
?FORSIMEMA berharap jejak kepemimpinan (legacy) yang ditinggalkan oleh I Wayan Gede Rumega di PN Makassar dapat menjadi inspirasi dan role model bagi pimpinan badan peradilan lainnya di seluruh Indonesia.
?”Kami di FORSIMEMA mengagumi bagaimana beliau memimpin dengan hati dan karya seni. Semoga rekam jejak positif ini terus menyala dan menginspirasi insan peradilan di mana pun berada untuk terus berinovasi tanpa melupakan akar budaya bangsa,” tutup Ketum FORSIMEMA dalam rilis resminya.(Surame)









