Prof Connie Bakrie memberikan paparan mengenai ancaman krisis iklim terhadap kedaulatan negara.

BISKOM | Jakarta – Guru Besar Universitas Saint Petersburg sekaligus Anggota Dewan Pakar Ikatan Analis Kebijakan Indonesia (INAKI), Prof. Dr. Connie Rahakundini Bakrie, memperingatkan bahwa ancaman krisis iklim terhadap kedaulatan negara berpotensi melumpuhkan Indonesia tanpa perang militer, dalam Seminar Nasional HUT ke-1 INAKI di Jakarta, Kamis (23/7/2026).

Pertahanan Tanpa Peluru dan Paradoks Kebijakan

Dalam pemaparannya, Connie menegaskan bahwa krisis iklim bekerja sebagai pengganda ancaman (threat multiplier) yang memperbesar kerentanan ekonomi, sosial, hingga keamanan nasional. 

Indonesia dinilai masih menghadapi paradoks, seperti ambisi menjadi pusat industri kendaraan listrik namun kawasan pengolahan mineralnya masih mengandalkan pasokan energi batu bara.

Baca :  Wook Global Technology Gandeng Baznas Salurkan Lampu Induksi Acome IoT ke Tempat Ibadah di Jabodetabek

Ia juga memberikan catatan kritis terhadap wacana perluasan Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Menurutnya, pembagian peran militer yang tidak proporsional dalam penanganan bencana berisiko mengaburkan fungsi pokok antarinstansi.

Tekanan Regulasi Global Terhadap UMKM

Di tingkat internasional, penerapan regulasi seperti EU Deforestation Regulation (EUDR) sejak 1 Januari 2025 serta Corporate Sustainability Due Diligence Directive (EU CSDDD) per 30 Juli 2026 memberikan tekanan berat. Tanpa kelengkapan data geolokasi dan bukti legalitas lahan, petani kecil serta UMKM terancam kehilangan akses pasar ekspor.

“Indonesia tidak boleh pasif menjadi rule taker. Kita harus menjadi rule shaper yang ikut membentuk aturan dunia dan menegosiasikan keadilan bagi industri nasional,” ujar Prof. Dr. Connie. 

Baca :  Peneliti Tiongkok Kembangkan AI yang Bisa Gantikan Peran Jaksa

Usulan Sistem Inteligensi Iklim Nasional

Mengatasi tantangan tersebut, Connie mengusulkan pembentukan National Climate Intelligence System berbasis kecerdasan buatan (AI). Sistem ini dirancang untuk memodelkan cuaca, memprediksi gagal panen, hingga mengawasi lalu lintas maritim.

Ia mendorong sinegritas lembaga di mana BRIN berfokus pada riset sains, LAN pada tata kelola kepemimpinan, dan INAKI sebagai jembatan kebijakan.

“Indonesia Emas 2045 dibangun oleh negara yang mampu membaca ancaman, menguasai data karbon, dan mengintegrasikan teknologi,” ujarnya.

Kesiapan penguasaan data dan kecerdasan buatan menjadi kunci utama dalam meredam ancaman krisis iklim terhadap kedaulatan negara di masa depan.

Reporter: Lakalim Adalin 

Editor: Arianto 

#KedaulatanNegara #KrisisIklim #ConnieBakrie #INAKI2026 #ClimateIntelligence #EUDR #Geopolitik #TeknologiAI #IndonesiaEmas2045 #BeritaUtama

Baca :  Profesor Riset BRIN Membaca Secara Ilmiah Kebencanaan 2021