Ketua HINABI Widayat Raharjo memaparkan materi proyeksi alat berat nasional 2026.

BISKOM | Jakarta – Perkumpulan Industri Alat Besar Indonesia (HINABI) mengungkap adanya ketimpangan tajam antara daya serap pasar domestik dan angka produksi alat berat nasional dalam gelaran Indo Machinery Investment and Trade Show 2026 di Jakarta, Kamis (13/8/2026). Di tengah kebutuhan pasar nasional yang menembus 20.000 unit per tahun, manufaktur lokal hanya mampu merealisasikan produksi sebesar 8.500 unit akibat keterbatasan utilisasi pabrik dan maraknya gempuran unit impor.

Pasar Alat Berat Nasional Masih Dikuasai Unit Impor

Ketua Umum HINABI Widayat Raharjo menjelaskan bahwa kapasitas terpasang dari 65 anggota asosiasi sebenarnya mencapai 13.500 unit per tahun. Namun, realisasi produksi nasional tahun lalu tertahan di angka 8.500 unit atau setara tingkat utilisasi sekitar 70 persen. Kondisi tersebut memaksa pasar domestik mendatangkan sekitar 11.500 unit alat berat impor guna memenuhi total kebutuhan nasional.

Baca :  Pangkoarmada 1 Tandatangi Perjanjian Kerjasama Dengan PT. Yabes Anugerah Nusatama Tentang Pengerukan Alur Lautan

“Untuk proyeksi tahun ini, kami memperkirakan kondisi pasar mengalami penurunan sekitar 5 persen hingga 10 persen dibandingkan tahun lalu. Pergerakan ini sangat bergantung pada dinamika harga komoditas global dan aktivitas sektor pertambangan,” kata Widayat. 

Ia menambahkan bahwa sektor pertambangan masih memegang porsi kebutuhan terbesar tetapi memiliki tingkat fluktuasi paling tinggi. Sebaliknya, sektor konstruksi yang ditopang anggaran infrastruktur pemerintah cenderung memerlukan unit kelas kecil hingga menengah, seperti ekskavator, motor grader, dan wheel loader.

Kesiapan Manufaktur Lokal dan Adopsi Modernisasi Teknologi

HINABI menegaskan bahwa pabrikan dalam negeri yang terbagi atas kategori Principal (Tier 1) seperti Komatsu, Caterpillar, Sakai, Tadano, dan Sumitomo, hingga pembuat komponen (Tier 2 dan Tier 3) telah mampu memproduksi unit secara penuh dari nol. Kemampuan manufaktur ini mencakup lini ekskavator kapasitas 6 ton hingga 200 ton, buldoser, hingga kendaraan pengangkut berat.

Baca :  Kejaksaan Agung Periksa 5 Orang Saksi Terkait Perkara Digitalisasi Pendidikan Kemendikbudristek

Inovasi Efisiensi dan Smart Construction

Guna meningkatkan daya saing terhadap produk impor, industri dalam negeri mulai menerapkan efisiensi berbasis teknologi terkini. Langkah modernisasi ini diwujudkan melalui tiga pilar efisiensi utama:

– Efisiensi Energi Hybrid: Penggunaan mesin hibrida terbukti menghemat konsumsi bahan bakar sebesar 10 persen hingga 20 persen melalui sistem regenerasi energi swing dan pengereman.

– Peralihan Unit Listrik (EV): Pengembangan alat berat berbasis baterai Lithium difokuskan untuk area perkotaan demi mengatasi keterbatasan infrastruktur pengisian daya di area terpencil.

– Digitalisasi Smart Construction: Pemetaan lahan menggunakan drone dan analisis data terpadu mampu meningkatkan efisiensi operasional lapangan sebesar 20 persen hingga 30 persen.

Baca :  Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Menyetujui 7 Pengajuan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Restorative Justice

HINABI berharap rilis Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 dapat memicu gairah proyek infrastruktur sehingga produk alat berat buatan dalam negeri mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Reporter: Lakalim Adalin 

Editor: Arianto 

#AlatBeratIndonesia #HINABI #IndustriManufaktur #AlatBeratImpor #SmartConstruction #InfrastrukturNasional #EkonomiIndonesia #AlatBeratHybrid #BeritaEkonomi #RAPBN2026