365 DAYS OF DIGITAL TRANSFORMATION CAPTAIN

21 Oktober 2026

DARI GOVWARE SINGAPORE MENUJU NATIONAL CYBERSECURITY CONNECT: SUDAH SIAPKAH INDONESIA MENGAMANKAN ERA AI?

AI Security is no longer a future concern. It is becoming a national priority.

Minggu lalu, saya berkesempatan mengikuti GovWare 2026 di Singapore, salah satu kegiatan cybersecurity penting di kawasan Asia, yang berlangsung pada 13โ€“15 Oktober 2026.

Ada satu hal yang sangat menarik perhatian saya.

Cybersecurity sedang memasuki babak baru.

Jika sebelumnya kita banyak membahas ransomware, phishing, endpoint security, network security, dan SOC, kini pembicaraan semakin berkembang menuju AI Security, Agentic AI, AI Governance, Digital Trust, dan Cyber Resilience.

Tema GovWare tahun ini, โ€œAnchored in Unchanging Principles: Cyber at Agentic Velocity,โ€ sangat menggambarkan perubahan tersebut.

AI tidak lagi hanya membantu manusia menganalisis informasi.

AI mulai diberikan kemampuan untuk mengambil keputusan, mengakses aplikasi, menggunakan tools, menjalankan perintah, bahkan mengotomatisasi proses bisnis.

Pertanyaannya bukan lagi sekadar:

HOW CAN WE USE AI?

Tetapi:

WHO CONTROLS THE AI, WHO SECURES IT, AND WHO IS ACCOUNTABLE WHEN SOMETHING GOES WRONG?

1. AI for Security dan Security for AI Adalah Dua Hal Berbeda

Selama beberapa tahun terakhir, banyak vendor cybersecurity memperkenalkan AI untuk meningkatkan kemampuan produknya.

AI digunakan untuk threat detection, security analytics, incident investigation, dan automation.

Inilah yang kita kenal sebagai AI FOR SECURITY.

Namun sekarang muncul tantangan lain.

Bagaimana jika AI yang digunakan perusahaan justru menjadi sasaran serangan?

Bagaimana jika AI agent mengakses data yang seharusnya tidak boleh diakses?

Bagaimana jika instruksi berbahaya disisipkan melalui dokumen yang dibaca AI?

Bagaimana jika AI secara otomatis melakukan perubahan konfigurasi sistem tanpa otorisasi yang memadai?

Inilah SECURITY FOR AI.

Keduanya harus dikembangkan bersama dengan satu kemampuan tambahan: AI SAFETY & ASSURANCE.

Karena AI yang aman dari serangan belum tentu menghasilkan keputusan yang benar, dan AI yang akurat belum tentu memiliki kewenangan yang sesuai.

2. Agentic AI Mengubah Cara Kita Melihat Cybersecurity

Salah satu perkembangan penting yang tercermin dalam agenda GovWare 2026 adalah meningkatnya perhatian terhadap Agentic AI.

Baca :  Kejaksaan Agung Memeriksa 3 Orang Saksi Terkait Perkara BPDPKS

Bayangkan sebuah AI agent yang memiliki akses ke email, database, ERP, CRM, dan sistem IT perusahaan.

Agent tersebut dapat bekerja lebih cepat daripada manusia.

Tetapi siapa yang menentukan batas kewenangannya?

Siapa yang memonitor aktivitasnya?

Bagaimana jika agent melakukan kesalahan?

Bagaimana jika agent dimanipulasi melalui prompt injection?

Selama ini kita mengenal Identity & Access Management untuk manusia.

Sekarang kita harus mulai memikirkan Identity & Access Management for AI Agents.

Menurut saya, setiap AI agent yang digunakan dalam organisasi harus memiliki identitas, pemilik yang bertanggung jawab, hak akses terbatas, aktivitas yang dapat diaudit, serta mekanisme pengawasan manusia.

NO AI AGENT SHOULD HAVE UNLIMITED AUTHORITY SIMPLY BECAUSE IT CAN AUTOMATE A TASK.

3. Indonesia Harus Membangun AI Security Capability, Bukan Hanya Membeli AI Security Products

Menyongsong kegiatan National Cybersecurity Connect, saya melihat ada satu agenda penting yang perlu menjadi perhatian bersama.

Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar bagi teknologi AI dan cybersecurity global.

Kita harus mulai membangun kemampuan nasional untuk memahami, menguji, mengamankan, mengintegrasikan, dan mengoperasikan AI.

Article content

Saya melihat setidaknya enam kemampuan yang perlu dipersiapkan.

Pertama โ€” AI Security Governance.

Indonesia membutuhkan pendekatan yang jelas untuk mengidentifikasi penggunaan AI, mengklasifikasikan risiko, menentukan tanggung jawab, dan menetapkan mekanisme pengawasan.

Kedua โ€” AI Security Testing & Assurance.

Kita membutuhkan kemampuan untuk menguji keamanan model AI, aplikasi berbasis LLM, AI agents, dan integrasinya dengan sistem enterprise.

Ketiga โ€” AI Identity & Access Security.

Ketika AI mulai bertindak atas nama pengguna dan organisasi, kontrol terhadap identitas, kewenangan, privileged access, dan API menjadi semakin penting.

Keempat โ€” AI Security Operations & Observability.

SOC masa depan tidak hanya memonitor jaringan, server, endpoint, dan aplikasi.

SOC juga harus mampu memahami aktivitas AI agents, akses data, perilaku abnormal, dan potensi penyalahgunaan otomatisasi.

Kelima โ€” Critical Infrastructure AI Resilience.

Implementasi AI dalam energi, telekomunikasi, transportasi, manufaktur, dan infrastruktur penting lainnya harus disertai kemampuan pengujian, pengawasan, penghentian yang aman, serta pemulihan ketika terjadi gangguan.

Keenam โ€” Local AI Security Talent & Industry Development.

Indonesia membutuhkan lebih banyak AI security engineer, AI auditor, AI red team specialist, AI governance practitioner, dan managed AI security provider.

Baca :  APTIKNAS Desak RUU Keamanan dan Ketahanan Siber Segera Disahkan

Tanpa kompetensi lokal, kita berisiko hanya memindahkan ketergantungan teknologi lama ke ekosistem AI yang baru.

4. Dari AI Adoption Menuju National AI Security Readiness

Saya juga sedang mempelajari pendekatan UNIDIR mengenai pengembangan strategi nasional AI untuk keamanan dan pertahanan.

Salah satu pelajaran penting adalah bahwa pengembangan AI tidak dapat dipisahkan dari tata kelola data, pengujian sistem, ketergantungan teknologi, pengawasan manusia, dan ketahanan operasional.

Prinsip-prinsip tersebut relevan untuk dikembangkan lebih luas dalam konteks industri dan layanan publik Indonesia.

Karena itu, saya melihat perlunya sebuah inisiatif:

INDONESIA NATIONAL AI SECURITY READINESS

Langkah awalnya tidak harus berupa investasi teknologi yang sangat besar.

Kita bisa mulai dengan melakukan pemetaan penggunaan AI, menyusun baseline risiko, membangun kemampuan pengujian, mengembangkan talenta, dan menjalankan pilot project bersama industri.

Dari sana, kita dapat mengembangkan standar, layanan assessment, dan kemampuan AI security operations yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia.

WE CANNOT SECURE WHAT WE DO NOT KNOW.

WE CANNOT TRUST WHAT WE CANNOT TEST.

WE CANNOT CONTROL WHAT WE CANNOT OBSERVE.

5. National Cybersecurity Connect Harus Menjadi Momentum Kolaborasi

Saya berharap National Cybersecurity Connect dapat menjadi ruang yang mempertemukan pemerintah, BSSN, asosiasi industri, penyedia teknologi, akademisi, praktisi cybersecurity, dan perusahaan pengguna AI.

Bukan hanya untuk membahas ancaman terbaru.

Tetapi juga untuk menjawab pertanyaan yang lebih strategis:

Bagaimana Indonesia mempersiapkan kemampuan AI Security nasional?

Bagaimana industri cybersecurity lokal dapat mengambil peran?

Bagaimana kita membangun kemampuan AI security testing dan assurance?

Bagaimana mengintegrasikan AI Security dengan SOC, PAM, SIEM, dan observability yang sudah digunakan perusahaan?

Bagaimana memastikan implementasi AI dalam infrastruktur kritis tetap aman, andal, dan berada dalam pengawasan manusia?

Dan yang tidak kalah penting:

HOW CAN INDONESIA DEVELOP ITS OWN AI SECURITY EXPERTISE AND INDUSTRY ECOSYSTEM?

Sebagai bagian dari APTIKNAS, saya melihat peluang besar untuk memperkuat kolaborasi lintas ekosistem teknologi Indonesia.

Kita memiliki system integrator, cybersecurity provider, software developer, cloud provider, data center operator, perguruan tinggi, dan komunitas profesional.

Kemampuan tersebut perlu dipertemukan dalam program nyata.

Baca :  IFBEX 2025 Resmi Dibuka, Kolaborasi Franchise dan Teknologi Digital Wujudkan Wirausaha Masa Depan

Misalnya melalui AI Security Readiness Assessment, AI Security Testing Lab, AI Security Talent Development, dan Managed AI Security Services.

Dengan demikian, pertumbuhan AI juga menciptakan peluang bisnis dan kompetensi baru bagi industri teknologi nasional.

6. Dari Cybersecurity Awareness Menuju Cybersecurity Capability

Ada satu refleksi yang saya bawa dari GovWare Singapore.

Kesadaran terhadap ancaman siber memang penting.

Namun kesadaran saja tidak cukup.

Organisasi membutuhkan kemampuan untuk mengidentifikasi risiko, membangun kontrol, menguji sistem, mendeteksi ancaman, merespons insiden, dan memulihkan operasional.

Hal yang sama berlaku untuk AI Security.

Kita perlu bergerak dari:

AI SECURITY AWARENESS ? AI SECURITY READINESS ? AI SECURITY ASSURANCE ? AI SECURITY OPERATIONS ? NATIONAL AI RESILIENCE

Perjalanan ini tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah, vendor, atau satu asosiasi.

Dibutuhkan kolaborasi nasional yang berkelanjutan.

Article content

DAFTAR HADIR KE NCC : https://ncsc.co.id/visitor-registration


DIGITAL TRANSFORMATION CAPTAIN โ€” REFLECTION OF THE DAY

GovWare Singapore minggu lalu memberikan perspektif mengenai bagaimana pembahasan cybersecurity berkembang seiring percepatan AI.

Menyongsong National Cybersecurity Connect, pertanyaan terpenting bagi saya bukan sekadar teknologi keamanan baru apa yang akan kita gunakan.

Tetapi:

Apakah Indonesia sudah membangun kemampuan untuk mengamankan AI yang semakin banyak digunakan oleh pemerintah, industri, dan masyarakat?

Kita tidak harus mengembangkan seluruh teknologi AI sendiri.

Namun kita harus memiliki kemampuan untuk memahami risikonya, mengendalikan penggunaannya, menguji keamanannya, dan memastikan manfaatnya bagi kepentingan nasional.

Karena pada akhirnya:

AI SOVEREIGNTY WITHOUT AI SECURITY IS NOT DIGITAL RESILIENCE.

FROM AI ADOPTION TO AI ASSURANCE.

FROM CYBERSECURITY PRODUCTS TO NATIONAL SECURITY CAPABILITY.

FROM DIGITAL TRANSFORMATION TO TRUSTED DIGITAL RESILIENCE.

INDONESIA MUST NOT ONLY BUILD AI. WE MUST BUILD THE CAPABILITY TO TRUST, SECURE, CONTROL, AND OPERATE AI.

Bagaimana pandangan rekan-rekan praktisi cybersecurity, pengembang AI, akademisi, dan pelaku industri IT Indonesia?

Apakah AI Security Readiness sudah saatnya menjadi salah satu agenda prioritas cybersecurity nasional?

Mari kita jadikan National Cybersecurity Connect sebagai momentum untuk membangun kolaborasi dan kemampuan nyata bagi Indonesia.

Digital Transformation Captain

#DigitalTransformationCaptain #365DaysOfDigitalTransformation #APTIKNAS #NationalCybersecurityConnect #NCC2026 #GovWare2026 #AISecurity #AgenticAI #Cybersecurity #DigitalResilience #AITrust #AIGovernance #SovereignAI #IndonesiaDigital #TransformasiDigital