BISKOM,Jakarta -Menarik untuk dicermati bahwa Allah tidak menyebut Al-Qur’an sebagai hiburan, pelarian, atau pengalih perhatian.
Al-Qur’an disebut sebagai obat.“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar (syifa’) dan rahmat bagi orang-orang mukmin.”
(Q.S. Al-Isr?’ [17]:82) Manusia modern hidup di tengah kemajuan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Teknologi berkembang pesat, akses informasi terbuka luas, dan berbagai kebutuhan hidup dapat dipenuhi dengan lebih mudah.
Namun, pada saat yang sama, kegelisahan, kecemasan, kesepian, dan kehilangan makna justru bisa semakin dirasakan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan utama manusia bukanlah kekurangan sarana hidup, melainkan keburaman arah hidup.
Manusia dapat memiliki segalanya, tetapi tetap merasa kosong.Kekosongan itu lahir ketika manusia kehilangan hubungan dengan makna terdalam keberadaannya.
Manusia bukan hanya makhluk biologis yang membutuhkan makan, minum, dan tempat tinggal.
Manusia adalah makhluk yang selalu bertanya untuk apa aku hidup, dari mana aku berasal, dan ke mana aku akan kembali? Ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak menemukan jawaban yang memuaskan, lahirlah kegelisahan eksistensial.
Jiwa menjadi lelah karena kehilangan pijakan,Di sinilah Al-Qur’an memperkenalkan dirinya sebagai syifa’ atau obat.
Menarik untuk dicermati bahwa Allah tidak menyebut Al-Qur’an sebagai hiburan, pelarian, atau pengalih perhatian.
Al-Qur’an disebut sebagai obat. Sebab obat bekerja bukan pada gejala, melainkan pada sumber penyakit.
Obat yang baik tidak sekadar menghilangkan rasa sakit, tetapi menyembuhkan penyebab rasa sakit itu sendiri.
Penyakit terbesar manusia bukanlah kemiskinan, kegagalan, atau penderitaan. Penyakit terbesar manusia adalah kehilangan makna.
Ketika hidup dipahami hanya sebagai rangkaian peristiwa biologis tanpa tujuan yang lebih tinggi, maka segala sesuatu akan tampak sia-sia.
Kesuksesan menjadi hampa, penderitaan menjadi tidak tertahankan, dan kematian menjadi ancaman yang menakutkan.
Dalam keadaan seperti ini, manusia mengalami apa yang oleh para filsuf disebut sebagai kekosongan eksistensial.
Al-Qur’an menyembuhkan kekosongan tersebut dengan cara mengembalikan manusia kepada hakikat dirinya.
Al-Qur’an mengajarkan bahwa manusia bukan makhluk yang terlempar begitu saja ke dunia.
Manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan hikmah, dibekali amanah, dan diarahkan menuju perjumpaan dengan Tuhannya.
Ketika seseorang memahami bahwa hidup memiliki tujuan transenden, maka penderitaan tidak lagi dipandang sebagai kesia-siaan, melainkan sebagai bagian dari proses penyempurnaan diri.
Al-Qur’an juga menyembuhkan karena ia membebaskan manusia dari ilusi.
Kegelisahan muncul karena manusia menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang bersifat sementara.
Seperti harta, jabatan, popularitas, atau pengakuan orang lain.
Padahal semua itu dapat hilang dalam sekejap.
Ketika manusia menggantungkan dirinya pada sesuatu yang fana, ia akan hidup dalam ketakutan kehilangan.
Al-Qur’an mengajarkan bahwa hanya Allah yang bersifat kekal, sehingga hanya kepada-Nya hati dapat bersandar secara sempurna.
Dari sinilah lahir ketenangan yang tidak mudah diguncang.
Al-Qur’an menyembuhkan karena ia mempertemukan manusia dengan dirinya sendiri.
Banyak orang mengenal dunia, tetapi tidak mengenal jiwanya.
Kebanyakan orang mampu membaca berbagai buku, tetapi tidak mampu membaca dirinya sendiri.
Al-Qur’an mengajak manusia melakukan perjalanan ke dalam batin, mengenali kelemahan, kesombongan, ketakutan, dan harapan yang selama ini tersembunyi.
Kesadaran diri semacam ini yang menjadi awal dari penyembuhan.
Tidak mengherankan jika Al-Qur’an juga disebut sebagai obat bagi hati.
Sebab hati yang sakit bukanlah hati yang berhenti bekerja, melainkan hati yang kehilangan arah.
Hati yang sakit adalah hati yang dinodai dengan kebencian, keserakahan, keputusasaan, dan kegelisahan.
Ketika ayat-ayat Al-Qur’an dibaca, direnungkan, dan dihayati, hati menemukan kembali orientasinya kepada Allah.
Pada saat itulah ketenangan lahir, karena manusia telah menemukan makna di balik masalah tersebut.
Karena itu, penyembuhan yang ditawarkan Al-Qur’an berbeda dengan penyembuhan pada umumnya.
Ia tidak selalu mengubah keadaan di luar diri manusia, tetapi mengubah cara manusia memandang keadaan tersebut.
Al-Qur’an tidak menghilangkan ujian, tetapi memberikan cahaya agar ujian dapat dipahami.
Al-Qur’an tidak menghapus kesedihan, tetapi mengubah kesedihan menjadi jalan menuju kedewasaan spiritual.
Al-Quran mengajarkan bahwa ketenangan sejati lahir ketika manusia kembali kepada sumber kebenaran yang melampaui dirinya sendiri.
Al-Qur’an menjadi obat karena ia menyembuhkan akar terdalam penyakit manusia, yaitu keterasingan dari Tuhan, dari makna hidup, dan dari dirinya sendiri.
Ketika hubungan itu pulih, jiwa menemukan rumahnya. Dan ketika jiwa telah menemukan rumahnya, maka di tengah segala hiruk-pikuk kehidupan, ia tetap mampu merasakan kedamaian.(Surame)









