Home Blog Page 808

Anjelo Tawarkan Berbagai Pilihan Jasa Pengiriman

0
Oky Kurniawan, Co-Founder Anjelo., menyatakan dengan adanya Anjelo mereka bisa membandingkaan harga maupun durasi waktu dari beberapa jasa pengiriman dengan sekaligus dan hanya dalam satu platform” kata Oky Kurniawan

Pergeseran gaya hidup masyarakat dalam berbelanja membuat bisnis daring semakin naik daun. Menjamurnya berbagai toko daring diikuti dengan meningkatnya penyedia jasa logistik dengan persaingan kompetitif.

Sayangnya, begitu banyak pilihan memakan banyak waktu bagi para pelaku bisnis dalam menentukan jasa logistik yang ingin digunakan. Tidak sedikit dari pilihan mereka kurang tepat dan menyebabkan pembengkakan pada biaya operasional.

Berangkat dari fenomena tersebut, Anjelo perusahaan rintisan hadir sebagai logistik platform berbasis aplikasi dan situs guna memudahkan para pelaku bisnis dalam memilih jasa pengiriman.

Anjelo menawarkan berbagai fitur antara lain perbandingan harga, durasi pengiriman, dan booking pick up.

Keunggulan dari logistics aggregator ini adalah kemampuannya dalam menyediakan pilihan penyedia jasa logistik untuk berbagai kebutuhan logistik dari mulai last mile delivery, freight udara dan laut, layanan kepabeanan, hingga pergudangan.

Selama masa soft launching , Anjelo memberikan free trial dengan maksimum biaya pengiriman Rp50.000 ke pulau Jawa dan Bali.

Kami melihat saat ini para pelaku bisnis maupun masyarakat memiliki banyak sekali pilihan jasa pengiriman tetapi, mereka tidak tahu apakah pilihan tersebut sudah tepat. Karena, untuk bisa membandingkan beberapa jasa pengiriman memakan banyak waktu.

“Dengan adanya Anjelo mereka bisa membandingkaan harga maupun durasi waktu dari beberapa jasa pengiriman dengan sekaligus dan hanya dalam satu platform” kata Oky Kurniawan, Co-Founder Anjelo.

Anjelo juga memberikan berbagai macam pilihan layanan logistik sehingga dapat menjangkau segmen business to business (B2B) maupun customer to customer (C2C).

Anjelo tidak hanya memberikan efisiensi waktu, tetapi perusahaan ini juga dapat menekan biaya operasional melalui pemilihan jasa logistik yang tepat.

Selain itu juga memberikan berbagai macam pilihan layanan logistik sehingga dapat menjangkau segmen business to business (B2B) maupun customer to customer (C2C).

Cara kerja Anjelo yaitu menjalin kerjasama dengan perusahaan penyedia jasa logistik yang akan menjadi mitra Anjelo. Proses pick up dilakukan oleh penyedia jasa logistik yang sudah dipilih oleh pengguna.

Selanjutnya, barang dapat di-track melalui aplikasi maupun situs Anjelo. Kehadiran Anjelo menjadi, solusi logistik awal (first mile), tengah (middle mile), dan akhir (last mile) dengan metode yang sederhana dan terpercaya. moc

BPPT Gandeng Kimia Farma Hadirkan Alat Deteksi DBD

0

Jakarta, Biskom – Indonesia saat ini masih dibayangi tingginya kasus penyakit menular (infeksi), ini tentunya menjadi salah satu tantangan dalam pembangunan kesehatan nasional. Satu penyakit yang menjadi concern pemerintah adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Masih tingginya angka kematian yang disebabkan infeksi virus dengue ini, membuat Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berupaya menghasilkan inovasi yang bisa mendeteksi secara dini gejala tersebut.

Hal itu agar para penderita DBD bisa mendapatkan penanganan yang cepat, dan angka kematian pun bisa ditekan. Saat ini beberapa produk import Kit Rapid Test Dengue memang telah beredar di pasaran. Produk impor ini memiliki kandungan bahan aktif dari luar (bukan menggunakan strain virus lokal) dan harganya cukup mahal. Oleh karena itu, BPPT sebagai lembaga kaji terap berupaya melakukan pengembangan produk Rapid Test Dengue dengan menggunakan strain virus lokal. Hal ini tentunya untuk memberikan hasil yang lebih spesifik serta harga yang jauh lebih terjangkau bagi masyarakat.

Dalam acara Serah Terima Teknologi Industri Bahan Baku KIT Rapid Test Dengue yang digelar di Denpasar, Bali, Rabu (11/12/2019), Kepala BPP Hammam Riza mengatakan ini merupakan inovasi teknologi bidang kesehatan yang dikembangkan oleh BPPT. Hammam pun menyampaikan bahwa inovasi KIT Rapid Test Dengue ini merupakan jawaban dari arahan yang diberikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Rapat Terbatas Kabinet yang membahas mengenai Pembangunan Kesehatan Nasional pada tanggal 21 November lalu. “Pak Presiden mengatakan pembangunan kesehatan masyarakat ke depan agar lebih diarahkan pada upaya prevensi (pencegahan penyakit, termasuk deteksi dini),” ujar Hammam, di Bali, Rabu (11/12).

Selain itu, ketergantungan impor Bahan Baku Obat (BBO) yang mencapai angka 95 % itu tidak boleh dibiarkan berlangsung lama. Hasil-hasil riset juga diharapkan agar segera didorong masuk ke industri, dan nsentif riset pun harus dimanfaatkan secara maksimal. “Menjawab arahan (tantangan) Presiden tersebut, BPPT telah melaksanan kegiatan pengkajian teknologi produksi Kit Rapid Tes Dengue,” jelas Hammam.

Ini tentu saja dilakukan untuk menguatkan deteksi dini terhadap infeksi virus dengue. Sehingga bisa mencegah keterlambatan penanganan pasien dan dapat menekan jumlah kematian pasien DBD. BPPT melalui Pusat Teknologi Farmasi dan Medika, Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB) telah melakukan inovasi teknologi Industri Kit Rapid Test Dengue.

Ada tiga tahapan utama dalam inovasi teknologi ini, yakni pengembangan teknologi produksi bahan baku aktif Kit Rapid Test Dengue, formulasi sediaan strip Kit Rapid Test Dengue sertt Transfer teknologi, up scaling, registrasi dan komersialisasi bersama mitra industri. Hammam menuturkan, bahwa pada kesempatan tersebut BPPT juga akan menyerahkan dokumen Teknologi Industri Bahan Baku KIT Rapid Test Dengue kepada mitra industri, PT. Kimia Farma (Persero) Tbk.

Selanjutnya akan dilakukan tahapan proses registrasi, produksi dan Komersialisasi Kit Rapid Test Dengue sebagai bagian dari upaya dalam menghadirkan produk Kit Rapid Test Dengue sebagai produk dalam negeri untuk substitusi impor. “Ini sebagai bagian dari tahapan alih teknologi dalam rangka kerjasama hilirisasi (komersialisasi) teknologi industri Kit Rapid Test Dengue,” kata Hammam.

Acara ini pun turut dihadiri oleh Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro. Dikatakan Hammam, dalam kegiatan itu, BPPT turut berkolaborasi dan didukung oleh Badan Litbang Kementerian Kesehatan dan PT. Hepatika Mataram.

Pada kesempatan tersebut, Hammam menambahkan bahwa BPPT telah melaksanakan pengkajian dan penerapan teknologi produksi BBO pada periode 2015-2019. Hal ini dilakukan untuk mendorong upaya dalam mengurangi ketergantungan impor. Kaji terap teknologi produksi itu pun telah dilakukan pada sejumlah BBO, mulai dari antibiotik amoksilin hingga obat herbal. “Diantaranya antibiotik amoksisilin, sefalosporin, garam farmasi, dekstrosa monohidrat, produk biofarmasi dan obat herbal,” papar Hammam.

Dalam acara itu, BPPT juga akan melakukan Penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT. Kimia Farma untuk percepatan hilirisasi dan inovasi beberapa teknologi BBO prioritas. “Kegiatan dan kesepahaman ini merupakan landasan dan penguat bagi BPPT dan PT. Kimia Farma dalam rangka pelaksanaan program flagship nasional BBO periode 2020-2024,” pungkas Hammam.

Perlu diketahui, pada tahun 2016, terjadi outbreak DBD di berbagai wilayah Indonesia dengan jumlah kasus mencapai 204.171. Kemudian di 2017, jumlah kasus DBD pun menurun signifikan menjadi 68.407 kasus. Selanjutnya, sebanyak 53.075 kasus DBD terjadi pada tahun 2018. Lalu data pada Januari 2019, tercatat kasus DBD terus mengalami penurunan menjadi 13.683 dengan jumlah kematian sebanyak 133 orang. Kendati terus mengalami penurunan setiap tahunnya, namun angka kematian yang disebabkan penyakit ini masih cukup tinggi , Sehingga ini menjadi tantangan bagi pemerintah dalam mengantisipasi agar kasus DBD ini bisa diatasi secara tuntas. (red)

BPPT Luncurkan InaBuoy Pendeteksi Tsunami

0

Jakarta, Biskom– Terletak di kawasan cincin api (ring of fire), membuat Indonesia harus siap menghadapi bencana alam gempa bumi hingga tsunami.Pemerintah pun terus berkomitmen dalam mengupayakan mitigasi bencana untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan pasca terjadinya bencama alam.

Satu diantaranya melalui pemasangan alat pendeteksi tsunami yakni buoy di sejumlah wilayah rawan bencana. Dalam acara Pelepasan Kapal Riset (KR) Baruna Jaya III Program InaTEWS 2019′ Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan BPPT akan mendeploy peralatan deteksi dini tsunami di sekitar selatan Pulau Jawa dan Bali.

Mulai dari Buoy Generasi 4, Ocean Bottom Unit (OBU), Mooring Line hingga Sinker. “KR Baruna Jaya III ini akan membawa peralatan deteksi dini tsunami (buoy tsunami), yang terdiri dari Buoy Generasi 4, Ocean Bottom Unit (OBU), Mooring Line dan Sinker serta peralatan pendukung lainnya untuk di deploy di sekitar selatan Pulau Jawa dan Bali,” ujar Hammam, di Denpasar, Bali, Rabu (11/12). 4 buoy tsunami itu akan dipasang di Selatan Pulau Jawa, sedangkan 2 Kabel Bawah Laut atau Cable Based Tsunameter (CBT) akan dipasang di kawasan Gunung Anak Krakatau (GAK) dan perairan mentawai.

Pada tanggal 8 hingga 26 Desember mendatang, KR Baruna Jaya III akan melakukan serangkaian perjalanan untuk memasang 4 buoy yang dimulai dari Pelabuhan Surabaya menuju Pelabuhan Benoa. Kemudian dilanjutkan dengan deployment buoy Indonesia tsunami early warning system (Ina-TEWS) di Selatan Pulau Jawa. “Pada tahun 2019 ini, kami memasang 4 buoy tsunami dan 2 alat deteksi tsunami berbasis kabel atau Indonesia Cable Based Tsunameter (Ina – CBT). Salah satu lokasi pemasangan Ina-CBT di lokasi sekitar Kawasan Gunung Anak Krakatau,” jelas Hammam.

Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mitigasi sekaligus reduksi risiko bencana. Karena BPPT, kata Hammam, berkomitmen untuk mendorong terwujudnya cita-cita pemerintah dalam menjadikan Indonesia sebagai negara yang mampu mengantisipasi bencana alam sejak dini. “Ini satu inovasi teknologi BPPT di bidang kebencanaan sekaligus sebagai bentuk mitigasi dan reduksi risiko bencana, agar dapat mengurangi korban jiwa dan kerusakan harta benda apabila terjadi letusan Gunung Anak Krakatau yang memicu terjadinya tsunami,” kata Hammam.

Pelepasan KR Baruna Jaya III ini pun dipimpin secara langsung oleh Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro. Dalam Rapat Terbatas tentang Peningkatan Kesiagaan Menghadapi Bencana yang diadakan di Kantor Presiden Jakarta pada 14 Januari 2019, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan agar dilakukan evaluasi, pengecekan lapangan, pengujian, dan pengorganisasian pada Sistem Peringatan Dini tsunami.

Sehingga semua berada pada posisi yang sesuai dan tepat, hal itu disampaikan Presiden Jokowi dalam pengantar rapat saat itu. Langkah-langkah itu harus dilakukan agar kedepannya rakyat dapat mengetahui secara dini terjadinya bencana alam. Ini tentunya akan semakin meminimalisir jumlah korban dari bencana alam yang terjadi.

Hammam menjelaskan, khusus untuk Sistem Peringatan Dini Tsunami (Tsunami Early Warning System), pihaknya bekerja sama dengan sejumlah lembaga pemerintah yakni Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Badan Informasi Geospasial (BIG). Selain itu, langkah ini diinisiasi oleh Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi serta Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK). “Kami bersinergi untuk mewujudkan Sistem Peringatan Dini Tsunami yang terorganisasi, yang handal, yang modern, yang mampu menjawab harapan Presiden RI,” tutur Hammam.

Lebih lanjut ia pun berharap agar pemasangan buoy tsunami ini bisa berlangsung lancar tanpa terkendala. Sehingga dapat berfungsi secara optimal dalam meminimalisir risiko bencana. “Kami mohon doa dan dukungan dari Bapak Menteri, para pimpinan K/L terkait, BNPB, BMKG dan BIG agar pemasangan buoy tsunami dapat terlaksana sesuai harapan Presiden RI, sehingga dapat mengurangi dan meminimalisasi risiko bencana,” pungkas Hammam.

Sebelumnya, bencana tsunami yang terjadi di sekitar perairan Selat Sunda, pada 22 Desember 2018 mengejutkan masyarakat Indonesia. Karena tsunami tersebut terjadi tanpa didahului oleh bencana gempa bumi. Hal ini akhirnya berdampak pada tewasnya 429 orang.

Melihat bencana tsunami yang terjadi secara tiba-tiba itu, BPPT menyiapkan teknologi alat deteksi dini tsunami atau Indonesia tsunami early warning system (Ina-TEWS) sebagai upaya mengurangi kerugian material dan jiwa. Ini sudah dimulai pada 10 April 2019, BPPT mendeploy alat deteksi tsunami buoy yang dinamakan ‘Buoy Merah Putih’ di kawasan GAK menggunakan KR Baruna Jaya IV menuju perairan Selat Sunda, melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Dalam peluncuran itu, BPPT juga melengkapi dengan CBT karena alat deteksi dini tsunami BPPT ini terdiri dari dua jenis teknologi, yakni buoy dan CBT. Melalui program InaTEWS ini, bangsa Indonesia diharapkan dapat lebih tangguh dalam menghadapi bencana tsunami. (red)

Ritase Kembangkan Transportasi Multimoda

0

Jakarta, Biskom- Ritase, layanan logistik truk berbasis aplikasi, mengembangkan transportasi multimoda (combined transport) yang memadukan angkutan darat, air, dan udara di Indonesia dalam platform aplikasi (apps) marketplace logistik yang telah diluncurkan sejak Mei 2019.

Ritase memadukan kemudahan penggunaan aplikasi dengan jaringan logistik terpercaya sehingga konsumen merasakan pengalaman baru dalam pengiriman barang antarpulau secara efisien dan efektif. Keunggulan Ritase diperoleh dari perpaduan optimasi rute dengan proses yang efektif dalam menyesuaikan beban dengan truk sebelum beroperasi sehingga menghasilkan harga yang lebih efisien.

Transportasi multimoda Ritase memanfaatkan angkutan kereta untuk jalur darat, pesawat untuk jalur udara, dan pelayaran untuk jalur air. Aplikasi ini akan mencari kombinasi angkutan yang tercepat dan termurah melalui sistem sehingga konsumen punya pilihan yang sesuai dengan kebutuhannya.

“Aplikasi kami sangat cocok untuk shipper karena menyediakan fitur Track & Trace pada tiga moda yang berbeda ketika pengiriman di luar pulau tidak bisa dipantau,” ujar David Samuel, CTO & Co-Founder Ritase di Jakarta.

Selain soal pelacakan, lanjut David, pengguna apps Ritase dapat menerima laporan berkala tentang cloud stock atau barang yang sudah keluar dari gudang muat tetapi belum tiba di end customer, nilai barang yang sudah keluar dari gudang muat (in transit) dan sudah sesuai dengan lead time pengiriman, maupun nilai barang in transit tetapi sudah melebihi lead time pengiriman. “Dan semua itu dapat dilihat dalam dashboard yang user friendly,” tambah David.

Ritase adalah startup  dalam digitalisasi industri trucking di Indonesia. Dalam kurun waktu satu tahun beroperasi, Ritase mampu mencakup area trucking di Indonesia dan sekarang telah memiliki lebih dari 13,000 armada truk dari 600 perusahaan truk (transporter) yang melayani beberapa perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) terbesar di Indonesia.

Tahun ini Ritase telah berhasil mendapatkan pendanaan Seri A sebesar US$ 8,5 juta untuk mendorong pertumbuhan bisnisnya sebagai pelopor layanan trucking digital di Indonesia. Pendanaan tersebut diberikan oleh sejumlah investor dengan Golden Gate Ventures (SG) sebagai investor terbesar.

Dukungan besar dari investor dan pelanggan strategis telah memosisikan Ritase sebagai startup yang mampu mengintegrasikan alur informasi antara pengirim dan transporter melalui sarana digital tunggal. Dalam satu tahun sejak berdirinya, Ritase telah berhasil merangkul perusahaan internasional seperti Nestle, Universal Ribena Corporation (URC), Japfa, Signify/Phillips Lighting, Lotte dan Perfeti Van Melle.

Memberi layanan kepada perusahaan terkemuka seperti Nestle menghasilkan pembelajaran yang berharga dalam melayani pasar perusahaan FMCG. Dari pengalaman itu, Ritase telah mengembangkan fitur-fitur penting termasuk transparansi kepada pengirim dan transporter, digital order processing management, serta perencanaan beban dan optimasi rute.

Selain itu, Ritase didukung sarana yang bersifat open-API dan perangkat lunak cloud-based memungkinkan pengirim untuk menikmati akses informasi real-time pergerakan barang dan perkembangan di marketplace trucking. “Solusi layanan multimoda yang kami tawarkan belum ada pesaingnya sampai saat ini. Jadi, 2020 adalah momentum kami untuk tumbuh,” kata David. (red)

Semarak Festival IKMA 2019: Menuju Industri 4.0

0

Jakarta, Biskom- Revolusi Industri 4.0 merupakan sebuah keniscayaan yang harus dihadapi oleh para pelaku usaha di Indonesia, termasuk sektor Industri Kecil dan Menengah (IKM). Saat ini, teknologi industri 4.0 yang umumnya bebasis pada digital, dinilai bisa menjadi tools dalam mendukung produktivitas sektor industri secara lebih efisien sehingga dapat mendongkrak daya saing.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan, apabila seluruh sektor industri kecil dan menengah mampu mengimplementasikan industri 4.0 maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan semakin tinggi. Adapun sumbangsih diberikan sektor IKM terhadap pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 10 persen.

“Jadi ada value added dari teknologi industri 4.0 nilai tambah bisa mencapai 10 persen apabila industri kecil menengah ini betul-betul bisa memanfaatkan industri 4.0. Dan,  dengan hadirnya teknologi industri 4.0, kami melihat, bisa membantu untuk menekan berbagai biaya dari sebuah proses produksi. Bahkan, di era tersebut, tidak perlu dikhawatirkan tentang dampak ketersediaan lapangan kerja,” ujar Menteri  Agus Gumiwang  pada acara Semarak Festival IKMA 2019 di Jakarta, Rabu (11/12).

Menperin meyakini, penerapan industri 4.0 bisa menimbulkan peluang terhadap pembukaan lapangan kerja baru. Contohnya, startup yang kian marak bermunculan di dalam negeri, sebagian ada yang menyerap cukup banyak tenaga kerja. Oleh karena itu, pemerintah fokus dan memberikan perhatian lebih dalam upaya pengembangan pelaku IKM karena sektor tersebut dinilai mampu menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

“Dalam sejarahnya, ketika Indonesia menghadapi krisis ekonomi, IKM merupakan salah satu sektor usaha yang bisa bertahan,” kata Menperin. Pada 1999 kita liat pasca krisis ekonomi ditemukan bahwa industri kecil dan menengah merupakan salah satu dari sedikit industri yang bisa bertahan. Nyatanya, kondisi ini tidak hanya dirasakan di Indonesia saja. Melainkan seluruh industri kecil menengah di negara-negara lain pun demikian. “Industri kecil dan menengah merupakan dari kegiatan ekomi dari sebuah negara,” tandasnya

Terpantau hingga 15 tahun mendatang, Indonesia akan mengalami bonus demografi. Hal ini menjadi momentum untuk menumbuhkan jumlah wirausaha muda, termasuk pelaku IKM. “Pemerintah telah meluncurkan Making Indonesia 4.0. Peta jalan ini tidak hanya diimplementasikan untuk industri skala besar saja, tetapi juga untuk sektor IKM,” ungkap Menperin.

Menurut Menperin, peran startup sebagai kaum muda millenial sangat penting dalam membawa Indonesia lebih cepat menuju revolusi industri 4.0. Inovasi para startup ini diharapkan akan memberikan solusi bagi industri dan masyarakat dalam mengadopsi teknologi, sehingga menjadi lebih efisien dalam hal biaya, energi, dan waktu. (red)

Pesan Luminer Cetak 3D via Online

0

Eindhoven, Belanda – Signify mengumumkan layanan pertama di dunia bagi konsumen yang memungkinkan Anda mendisain dan memesan luminer (kap lampu dan lampu) secara online, mencetaknya 3D dari bahan daur ulang serta mengantarkannya ke rumah Anda dalam waktu dua minggu.

Perusahaan juga mengumumkan penggunaan bahan daur ulang untuk pencetakan 3D, dimulai dengan CD bekas, dan hari ini meluncurkan lampu meja LED bermerek Philips yang terbuat dari 24 CD daur ulang.

Menindaklanjuti proyek percontohan di Benelux (Belanda, Belgia, dan Luksemburg), Signify memperluas layanan konsumennya di seluruh Eropa. Dengan hanya beberapa klik, Anda dapat merancang luminer dekoratif Anda sendiri.

Cukup pilih desain dasar Anda, kemudian sesuaikan dengan keinginan Anda, pilih ukuran, warna, tekstur dan pola luminer serta jenis bohlam LED yang diinginkan, termasuk bohlam Philips Hue. Signify mengirimkan produk jadi ke rumah Anda dalam waktu dua minggu.

Luminer cetak 3D Signify dibuat dengan mempertimbangkan konsep keberlanjutan. Bahan dasarnya adalah polikarbonat yang kuat, berkualitas tinggi dan 100% dapat didaur ulang. Luminer yang diproduksi, tidak termasuk elektronik dan bohlam, pada umumnya memiliki jejak karbon 47% lebih rendah daripada luminer logam yang dibuat secara konvensional. Selain itu, luminer cetak 3D tidak menggunakan lem dan memiliki lebih sedikit bagian. Berat

luminer ini hanya dua pertiga dari berat luminer konvensional, menghasilkan penghematan emisi karbon sebesar 35% saat pengiriman.

Investasi Signify dalam pencetakan 3D menggambarkan lebih lanjut komitmen perusahaan untuk melayani konsumen dengan lebih baik sekaligus mengurangi jejak karbon pelanggan dan perusahaan sendiri.

“Ini adalah layanan pasar massal pertama yang memungkinkan Anda mendesain estetika pencahayaan berkelanjutan Anda sendiri. Dan karena online, hal ini dapat dengan mudah diintegrasikan pada toko web pihak ketiga sehingga memberikan lebih banyak pilihan bagi konsumen,” kata Khalid Aziz, Head of Ventures Signify.

Dilanjutkan Khalid, ini adalah dunia lain pertama dalam pencahayaan dan menggambarkan bagaimana kami memimpin jalan dalam melayani pelanggan di seluruh dunia dengan teknologi pencahayaan paling inovatif dan berkelanjutan. (red)

Gelar Temu Bisnis, BPPT Bedah Inovasi SDA

0

Jakarta, Biskom- Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Wilayah (PTPSW) salah satu unit kerja di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menggelar  acara Temu Bisnis dan Bedah Produk Inovasi Teknologi terkait valuasi ekonomi lahan gambut di Hotel Sapphire Sky, BSD Serpong, Tangsel, Selasa (11/12).

Dalam kegiatan ini juga diselenggarakan acara apresiasi pada metode estimasi luas panen padi dengan kerangka sampel area (KSA) berupa penyematan tanda jasa Satya Lencana Karya Satya Pembangunan dari Presiden RI tahun 2019 kepada para inovatornya: Heri Sadmono, Swasetyo Yulianto, Lena Sumargana dan Fauziah Alhasanah.

“Dalam temu bisnis ini  dibahas mengenai  sistem daring (online) pemeringkatan bahaya kebakaran hutan dan lahan secara near-real time berbasis web yang diberi nama InaFDRS (Indonesia Fire Danger Rating System) yang bertujuan memperbaiki keakurasian peringkat bahaya kebakaran, khususnya di lahan gambut,” kata Tri Handoko, Kepala Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca-BPPT Tri Handoko Seto.

Sebanyak empat unit Ina FDRS yakni  suatu teknologi  untuk menjaga lahan gambut basah, dimana  saat terpantau terjadi penurunan segera dibasahi tersebut, sudah dipasang Ogan Komering Ilir  Sumatera Selatan berkolaborasi dengan sejumlah instansi  lain seperti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Seto menjelaskan ini merupakan sistem informasi secara real time pengukuran langsung pada lahan gambut untuk memantau potensi kebakaran hutan. Lokasi yang menjadi target pemasangan  yaitu di areal PT. Kelantan Sakti dan PT. Rambang Agro Jaya. Kedepan, Ina FDRS juga akan dilengkapi parameter yang bisa mengetahui potensi kerugian jika terjadi karhutla di suatu wilayah.

Tak hanya itu,  BPPT di tahun 2020 juga akan memadukan dan menyempurnakan semua sistem yang ada saat ini menjadi kecerdasan buatan (artificial intellegence/AI). Teknologi ini dapat membantu  untuk melakukan  monitoring, kontrol dan deteksi dini karhutla. Penggunaan AI, kini memang tengah dibidik pemerintah dalam upaya upgrade teknologi. Apalagi, inovasi seperti AI dan Big Data merupakan hal yang sangat krusial dalam melakukan upgrade teknologi untuk mitigasi bencana.

Dilanjutkan, dari hasil Temu Bisnis tersebut dapat ditarik benang merahnya bahwa Riset seharusnya tidak hanya untuk perpustakaan tetapi harus dapat diimplementasikan (Research not only for library, it should go to human life); Untuk itu keterbukaan, berbagipakai data dan kerjasama mutlak diperlukan (Data sharing and collaborative works are needed)

“Kolaborasi antara Akademisi, Komunitas, Bisnis dan Pemerintah diperlukan untuk hilirisasi produk riset agar mempunyai dampak untuk umat manusia (AcademicCommunity-Business-Government collaboration are needed),” ujar Handoko yang juga Pelaksana tugas (Plt) Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Wilayah-BPPT.

Diketahui, TMC selain diaplikasikan dan dimanfaatkan untuk mitigasi bencana hidrometeorologi seperti kekeringan, banjir dan bencana kabut asap akibat karhutla, juga dilaksanakan dalam pengamanan proyek strategis nasional dan kegiatan penting kenegaraan yang bersifat nasional dan internasional baik untuk mengurangi gangguan kabut asap maupun menjaga agar lokasi kegiatan tidak terkendala oleh cuaca ekstrem. (red)

BPPT Innovation Day Sajikan Beragam Produk Inovatif

0

Jakarta, Biskom-  Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)  Innovation Day 2019 yang resmi dibuka Kepala BPPT Hammam Riza. Pameran yang diusung  tersebut, menampilkan banyak produk inovatif hasil-hasil penelitian BPPT maupun calon pelaku bisnis (tenant) yang dibina oleh Balai Inkubator Teknologi – BPPT.

Dalam event pameran Innovation Day 2019 kali ini pihaknya menampilkan produk-produk inovatif antara lain: Bitumen Nano, material berbahan dasar aspal termodifikasi nanosilika yang berfungsi untuk mengatasi dan mencegah kebocoran yang terjadi pada rumah atau gedung serta dapat juga sebagai pelindung logam dari korosi; PT. Algaepark Indonesia Mandiri, specialis dalam bidang mikrobiologl khususnya mikroalga dan bakteri yang sudah diaplikasikan dalam beberapa turunan produk dan kerjasama industri; dan Swasembada.Id, platform terintegrasi dalam mengembangkan potensi rural area melalui mekanisme crowdfunding dan data based profil desa potensial.

Produk inovatif lainnya yaitu Sitomo, alat sistem tomografi yang dapat memetakan kondisi fisik laut; Valex Folifix, Kap lampu berbahan dasar material aluminium yang dapat dirakit dan dibongkar sendiri; PT. Hebat inovasi Indonesia, perusahaan yang bergerak di bidang provider platform simulasi bisnis terintegrasi Hi-simbis yang menggunakan metode “experiential learning“dan pendekatan “interprofessional education“; PT. Global Indotech Madani, suplemen magnesium yang diberikan dengan cara disemprotkan ke permukaan kulit; serta PT. Master solusi internasional, aplikasi on demand real time pertama di Indonesia yang menghubungkan tenaga kesehatan dengan pasien dimana saja dan kapan saja.

Pada kesempatan tersebut dilaksanakan peluncuran Buku Outlook Teknologi Energi, Outlook Teknologi Pangan, Outlook Teknologi Kesehatan, dan Outlook Teknologi Kebencanaan. Selanjutnya, dilaksanakan peluncuran National Science Techno Park (NSTP) BPPT dan produk souvenir “Barong”. Selain itu dilaksanakan penyerahan Buku Rekomendasi ke Pemkab Pelalawan tentang Rencana Kebijakan Pengembangan Kawasan Techno Park Pelalawan, serta penyerahan TKDN ke PT PLN.

Dalam sambutannya, Hammam Riza mengatakan, sasaran yang ingin dicapai dalam ajang BPPT Innovation Day,  adalah menyampaikan informasi terkini mengenai hasil-hasil penelitian BPPT, serta meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kontribusi BPPT pada peningkatan tumbuhnya perusahaan pemula berbasis teknologi atau start up.

“Untuk itu BPPT Innovation Day menghadirkan tenant-tenant yang diinkubasi oleh Balai Inkubator Teknologi–BPPT yang telah terakreditasi oleh Kemenristekdikti sebagai terbaik klasifikasi A,” kata Kepala BPPT Hammam Riza disela acara BPPT Innovation Day yang digelar di Gedung Pusat Inovasi dan Bisnis Teknologi, Puspiptek, Tangsel, Selasa (10/12).

Hammam menambahkan, BPPT Innovation Day adalah sebuah acara yang bertujuan  untuk mendorong tumbuhnya inovasi bukan hanya di BPPT tetapi inovasi di seluruh penjuru Indonesia. Kita ingin inovasi betul-betul tumbuh dan berkembang sebab Indonesia memerlukan inovasi untuk jadi negara maju.

Menurut Hammam,  inovasi sebagai penghela ekonomi,  tak bisa dipungkiri merupakan sebuah keniscayaan. Untuk itu, agar bisa bersaing dengan negara-negara secara global, Indonesia harus bertransformasI dari efficiency driven economy menjadi innovation driven economy. “Karena itu BPPT Innovation Day mengangkat tagline ekosistem inovasi untuk negeri, karena tanpa ekosistem inovasi kita tidak bisa melakukan sinergi, kolaborasi, dan koordinasi terhadap upaya-upaya inovasi,” tutur Hammam.

Pembentukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), lanjutnya, salah satunya bertujuan agar bisa mensinergikan dan mengkoordinasikan program dan anggaran, sumber daya manusia (SDM) serta pengawasannya dan perencanaannya itu menjadi satu ekosistem riset dan inovasi. “Kita tidak mungkin menjadi kompetitif, adaptif, dan kreatif kalau tidak dilakukan pembangunan ekosistem yang benar, yang tidak lagi terpecah-pecah dalam program dan anggarannya,” kata Hammam.

Sementara itu, Deputi Pengkajian Kebijakan Teknologi (PKT) BPPT Gatot Dwianto mengatakan bahwa BPPT Innovation Day bertujuan memperkuat komunikasi, koordinasi dan interaksi pembelajaran antara para pemangku kepentingan (pemerintah-akademisi-bisnis) dengan berbagi pengalaman dan pandangan; serta mempererat jaringan kemitraan pusat-daerah, daerah-daerah dan antara beragam pihak melalui perbaikan kebijakan, program/kegiatan dan dengan berbagi gagasan.

Dilanjutkan, BPPT Innovation Day juga bertujuan untuk merumuskan langkah tindak lanjut kolaboratif yang kongkrit para pihak sebagai terobosan kreatif-inovatif yang sinergis sesuai dengan potensi dan kompetensinya. “Sekarang adalah era kolaborasi dan sinergi, tanpa berkolaborasi dan bersinergi diantara kita semua tentu ekosistem pembangunan nasional tidak akan terjadi,” tuturnya. (red)

BATAN Fokuskan Hilirisasi Hasil Litbang Iptek Nuklir

0

Jakarta, Biskom- Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Anhar Riza Antariksawan menyampaikan program BATAN kurun waktu 2020 – 2024. Selama 5 tahun mendatang kegiatan BATAN akan menitikberatkan pada upaya hilirisasi hasil litbang iptek nuklir.

“Rencana strategis (Renstra)  yang berisi perencanaan program dan kegiatan beserta target dirancang sehingga program dan kegiatan Batan berkesinambungan. Untuk tahun 2020-2024 fokus kegiatan akan lebih banyak pada upaya hilirisasi dan komersialisasi produk litbang,” ujar Anhar pada acara internalisasi  Renstra BATAN kepada seluruh pegawai di Gedung Graha Widya Bhakti, Kawasan Puspiptek, Tangsel, Selasa (10/12)

Saat ini BATAN berusia 61 tahun, tepatnya pada tanggal 5 Desember 2019. Di usia ke-61 ini, menurut Anhar, BATAN telah menunjukkan karyanya dengan mengahasilkan berbagai produk litbang di bidang pertanian, kesehatan, industri, dan lingkungan.

Menurutnya, salah satu tonggak penting dalam perjalanan sejarah BATAN selama 61 tahun ini, adalah terbangunnya 3 reaktor riset, yakni reaktor Triga Bandung, reaktor Kartini di Yogyakarta dan Reaktor Serba Guna GA Siwabessy di Serpong. “Selain itu litbang iptek nuklir BATAN telah menghasilkan puluhan varietas unggul tanaman pangan, padi, kedelai, kacang tanah, sorgum dan lainnya. Capaian lain di bidang kesehatan, BATAN telah menghasilkan beberapa produk radioisotop dan radiofarmaka yang telah memperoleh izin edar dan dipergunakaj di berbagai rumah sakit,” tambahnya.

Dengan tiga reaktor yang dimiliki, Anhar mengaku, Indonesia, mempunyai potensi yang besar untuk memproduksi radioisotop yang sangat diperlukan di bidang kesehatan. Potensi ini akan menjadi salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap radioisotop impor. “Kita sekarang baru bisa subsitusi produk radioisotop sebesar 6% dari proroduk impor, kita harus bisa membalikkan, 5 tahun kedepan, 96% harus diproduksi dari dalam negeri,” ujarnya.

Untuk itulah, Anhar mengaku, perlu meningkatkan kolaborasi dengan para pemangku kepentingan khususnya yang terkait dengan produksi radioisotop dan radiofarmaka. Sehingga Indonesia mampu memenuhi kebutuhan radioisotop baik di dalam negeri dan mampu berkontribusi di tingkat regional.

Selain itu, selama 5 tahun yang lalu, lanjut Anhar, di bidang pertanian BATAN telah menghasilkan beberapa varietas tanaman pangan. “Satu varietas tanaman pisang unggul kita temukan, 5 varietas padi kit peroleh, 2 varietas kedelai yang tahan di lahan kering, dan 1 varietas kacang tanah,” lanjut Anhar.

Keberhasilan tersebut tentunya harus dipertahankan dan ditingkatkan pada periode mendatang. Anhar menyadari, pada era yang akan datang menjadi era dengan perubahan yang sangat cepat, dengan persaingan yang ketat baik ditingkat nasional maupun internasional. Untuk itulah diperlukan tekad yang kuat untuk terus membumikan nuklir. “Nuklir untuk Indonesia yang berdaya saing dan sejahtera,” tambahnya.

Untuk mencapai hal itu, papar Anhar, BATAN mempunyai misi yakni, pertama, menghadirkan iptek nuklir yang unggul secara kompetitif untuk meningkatkan kapasitas iptek dan memperkuat landasan sosio ekonomi nasional. Kedua, mewujudkan sistem manajemen yang efektif, efisien, kuntabel, dan melayani sebagai implementasi dari reformasi birokrasi secara berkelanjutan untuk Indonesia yang berdaya saing.

Pada periode 2020 – 2024, BATAN mendapat penugasan berupa program yang dikemas dalam prioritas riset nasional (PRN). “BATAN menjadi koordinator di tiga bidang PRN yaitu bidang energi khususnya pembangkit listrik tenaga nuklir, pembangunan sistem pemantauan radiasi lingkungan, dan bidang radioisotop dan radiofarmaka,” tuturnya.

Ketiga penugasan tersebut tidak akan berjalan dengan baik bila tidak didukung oleh sistem manajemen dan dukungan sumber daya manusia yang handal. Selain itu diperlukan juga inovasi baik produk yang dihasilkan maupun dari cara melakukan penelitiannya.

“Harapannya BATAN akan semakin inovatif sehingga produk litbangnya akan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan pada akhirnya akan berkontribusi untuk mewujudkan Indonesia yg bdaya saing dan sejahtera,” harapnya. (red)

JAPNAS Siap menjadi Business Gateway

0

Jakarta, Biskom- Jaringan Pengusaha Nasional (JAPNAS) didesain untuk menjadi business gateway bagi para investor luar  dan dalam negeri. “Kami berharap JAPNAS  menjadi top of mind bagi para investor yang ingin masuk ke Indonesia. Kami memiliki networking yang siap menghubungkan investor luar negeri dengan sektor usaha  di seluruh Indonesia,” ungkap Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi Keanggotaan Dan Hukum PP JAPNAS Reza Irsyad Aminy saat Pelantikan Pengurus Wilayah JAPNAS Provinsi Lampung, Senin (9/12).

Pria yang biasa disapa Bung Reza ini menyampaikan bahwa networking JAPNAS di 15 Provinsi siap menjadi partner pemerintah untuk membangun konektifitas dan sinergitas pengusaha di seluruh Indonesia. “ Dengan dibentuknya JAPNAS Lampung, kini kami sudah hadir di hampir setengah wilayah di Indonesia. Sindikasi JAPNAS di 15 provinsi ini akan  terus  membangun sinergitas antar anggota JAPNAS dan sektor usaha lainnya di Indonesia. Dalam waktu dekat kami akan hadir di seluruh provinsi di Indonesia. Apalagi JAPNAS sekarang juga sudah menjadi Anggota Luar Biasa Kadin Indonesia,” lanjutnya.

Dengan kehadiran JAPNAS Lampung, diharapkan mampu membangun sinergitas di provinsi tersebut. Selama ini Lampung memiliki potensi sektor usaha yang beragam. “ Lampung memiliki kekayaan alam dari sektor perikanan, perkebunan, kelautan, tambang, hingga pariwisata. Posisi strategis Lampung sebagai pintu masuk Sumatera juga memiliki peran bagi perkembangan ekonomi Lampung. JAPNAS Lampung harus memanfaatkan potensi ini untuk memajukan ekonomi provinsi ini,” ungkapnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum PW JAPNAS Lampung Hendri Irawan menyampaikan JAPNAS Lampung siap bekerjasama dengan seluruh pengusaha yang di Indonesia. “ Kalau ingin investasi di Lampung, ayo kami siap menjadi local partner-nya. JAPNAS yang kami kenal merupakan action group yang tidak terkotak-kotak. Kami siap bersinergi dan bekerjasama dengan pengusaha manapun, baik dalam maupun luar negeri,” ungkapnya.

Oleh karenanya, dalam waktu dekat JAPNAS Lampung akan memetakan potensi yang ada dalam provinsi tersebut. Sebab menurutnya di dunia bisnis 4.0 ini keakurasian data merupakan salah satu kunci untuk memenangkan persaingan usaha. “ Kami akan melakukan pendataan, berangkat dari anggota kami dahulu. Data pemetaan potensi usaha ini akan menjadi modal utama kami bersinergi dengan para pengusaha maupun investor dari luar Lampung,” pungkasnya. (red)