Home Blog Page 909

Advan, Microsoft dan Intel Ikat Kerjasama di 2015

0

advan-microsoft-intel-biskomADVAN, Microsoft dan Intel adalah trio yang kompak. Setelah memperkenalan dua produk tablet PC Advan berbasis Windows yang diperkuat oleh prosesor Intel, yaitu Vanbook W80 dan Vanbook W100 pada September lalu, ketiga vendor tersebut kembali mengukuhkan kerjasama yang sedianya akan berjalan mulai 2015 mendatang.

Penandatanganan kerjasama dilakukan secara simbolis oleh Tjandra Lianto, Marketing Director Advan dan Jude Buckley, Corporate Vice President Consumer Channels Group, Microsoft Worlwide serta dihadiri oleh Harry K. Nugraha, Country Manager Intel Indonesia di Jakarta (3/12).

Tjandra Lianto menyebutkan, kejayaan brand lokal Advan dalam skala global dibuktikan melalui data IDC yang menyebutkan bahwa tablet PC Advan berada di posisi kedua setelah brand global lainnya untuk jumlah shipment terbanyak. Hal ini juga menjadi pembuktian Advan sebagai local brand yang mampu bertengger bersama brand global.

Andreas Diantoro, President Director, Microsoft Indonesia, mengungkapkan, “Ini adalah pertama kalinya bagi Microsoft bermitra bersama produsen No. 1 Tablet PC Indonesia. Momen ini merupakan bukti keyakinan untuk Microsoft yang melihat Advan sebagai brand tablet Indonesia yang mampu menjadi pemain Tablet PC Windows No.1 di Asia Pasifik.”

Jude Buckley, Corporate Vice President Consumer Channels Group, Microsoft Worldwide menyatakan, “Microsoft akan senantiasa mendukung para pabrikan lokal seperti Advan dan bekerjasama dalam memberikan pengalaman digital terbaik bagi konsumen dalam menjalankan kegiatan sehari-hari dimanapun kapanpun.”

Advan-intel-microsoft

Pada kesempatan yang sama, Lucky Gani, Business Group Head, Windows Division, Microsoft Indonesia mengatakan, integrasi hardware dan software pada produk line up Advan Vanbook seperti pada type W80, W100 dan tipe lain kedepannya adalah bentuk lain dari PC dalam bentuk tablet yang terjangkau bagi konsumen di Indonesia. Hal ini juga didukung dengan kehebatan premium gaming XBox, productivity tools seperti Office yang terhubung Cloud Storage dan aplikasi lainnya yang dimiliki Windows platform.

Berkomentar mengenai hal tersebut, Harry K. Nugraha, Country Manager Intel Indonesia mengatakan, “Intel memiliki fokus dan target untuk berekspansi di portfolio tablet dan perangkat mobile. Karena itu kami berkomitmen untuk berkolaborasi dengan Advan dan Microsoft yang juga sangat konsisten membangun portfolio produk mereka di pasar perangkat teknologi. Kami percaya kemitraan strategis dari 3 pemain besar di bidang TI ini akan memudahkan tercapainya misi ini.”

Kerjasama Microsoft, Intel dan Advan ini dipercaya akan memberikan keuntungan bagi konsumen, karena kedepan, konsumen akan mendapatkan sebuah produk tablet berprosesor Intel serta operating sistem Windows dengan harga yang terjangkau. •

Rangsang Pertumbuhan Startup, Telkom Hadirkan DiLo

0

Digital Innovation LoungePT. TELKOM Indonesia  baru saja meresmikan Digital Innovation Lounge (DiLo) terbaru di Gandaria City, Jakarta. DiLo adalah sebuah tempat berkumpulnya para pecinta gadget, teknologi, dan hal-hal berbau digital.

Sarana yang disediakan di tempat ini diantaranya meeting room, function room yang bisa digunakan untuk mensosialisasikan produk atau aplikasi terbaru kepada masyarakat serta coworking space yang diperuntukan untuk para startup dan komunitas teknologi informasi (TI) untuk mengerjakan tugas mereka. Tempat ini juga menyediakan akses internet dengan kecepatan tinggi yang disediakan oleh Telkom.

Selain itu, DiLo  menyediakan perangkat untuk mendukung aktifitas para startup, seperti komputer, notebook serta tablet yang juga bisa digunakan untuk melakukan trial aplikasi.

Selain beberapa fungsi tadi, DiLo juga menjadi sebuah sarana bagi para startup untuk belajar dan juga menjadi sebuah ajang penyaringan, dimana para startup yang berpotensi akan masuk ke tahap inkubasi kemudian masuk ke tahap akselerator. Di DiLo, para startup juga dibekali dengan pengetahuan mengenai digitalpreneur melalui berbagai workshop dan seminar.

Sampai dengan saat ini, DiLo sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Beberapa daerah tersebut meliputi Jakarta, Solo, Malang, Balikpapan, Medan, Surabaya, Makassar, Bandung, Bogor serta Tangerang.

Untuk di Jakarta, lokasi DiLo selain di Gandaria City juga terdapat di La Piaza Kelapa Gading, serta di Mahakam. Untuk di Gandaria City, lokasi DiLo terdapat di gerai Grapari Telkomsel.

Melalui Digital Lounge, Telkom berharap dapat merangsang pertumbuhan startup di Indonesia. Fauzi Ishak, Koordinator DiLo Pusat mengatakan (2/12), “Kami melihat para startup membutuhkan tempat untuk bekerja. Dari pada mereka menghabiskan waktu di mall atau cafe untuk sekedar meet up dan membuang uang di sana, maka kami menyediakan tempatnya di DiLo.”

Untuk menggunakan DiLo pun sangat mudah. Hanya tinggal mendaftar sebagai member saja, maka komunitas TI atau pun startup dapat langsung menikmati berbagai fasilitas yang tersedia di DiLo ini. •ARIE/M. TAUFIK (foto)

 

TEDI SUPARDI MUSLIH: Kedepan, Indonesia Lebih Powerful Atasi Ancaman Cyber

0

Serangan cyber yang banyak terjadi di berbagai belahan dunia menjadi perhatian serius bagi pemerintah Indonesia untuk segera merancang dan merumuskan sebuah badan yang mampu mengatasi dan mengidentifikasi berbagai serangan cyber, baik yang datang dari luar maupun dari dalam negeri.

SONY DSCKASUS sang ‘whistle blower‘, Edward Snowden, yang membocorkan rahasia badan intelijen Amerika Serikat, National Security Agency (NSA), membawa trauma tersendiri bagi Indonesia. Mantan kontraktor NSA yang pernah menjadi pegawai dinas rahasia Amerika, Central Intelligence Agency (CIA) tersebut pada tahun lalu membeberkan kepada publik rekaman telepon pelanggan Verizon dan penyadapan data ke server perusahaan raksasa internet Amerika seperti Google, Facebook, Microsoft, Apple dan sebagainya.

Akibat aksi nekat Edward Snowden tersebut, hubungan kerjasama Amerika Serikat dengan negara luar seperti Jerman, Perancis, Brazil, Meksiko dan bahkan termasuk Indonesia dan sejumah negara Asia lainya, menjadi terganggu.

Pelajaran yang dipetik dari kasus ini adalah pembuktian bahwa Indonesia masih rentan terhadap aksi penyadapan dan penyusupan dari pihak luar. Untuk mengantisipasi terulangnya kejadian seperti ini serta persoalan-persoalan cyber lainnya yang semakin kompleks, Deputi VII Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Kemenko Polhukam) sejak bulan April 2014 telah membentuk Desk Ketahanan dan Keamanan Informasi Cyber Nasional (DK2ICN).

Menurut Tedi Supardi Muslih, Bidang Komunikasi Publik & Kemitraan Strategis, DK2ICN, Kemenko Polhukam, selama ini masyarakat hanya mengetahui bahwa permasalahan keamanan informasi hanya ditangani Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) saja. Padahal, permasalahan cyber space ini kini sifatnya sudah multi stakeholder, cyber crime juga terkait dengan pelanggaran hokum hingga keamanan informasi yang berhubungan dengan informasi pertahanan negara, dan belum lagi berbicara kejahatan di industri keuangan.

“Permasalahan cyberspace ini bukan hanya menjadi tugas Kemkominfo, tetapi sudah multi stakeholder. Tidak bisa lagi ditangani secara parsial atau sendiri-sendiri. DK2ICN akan mencoba mengkoordinasikan ketika ada persoalan-persoalan cyber space yang sifatnya sudah lintas sektoral. Dengan demikian, DK2ICN akan mereduksi egosektoral dari masing-masing yang merasa permasalahan ini adalah domainnya,” ujar Tedi.

Meski begitu, tambah Tedi, bukan berarti DK2ICN mengambil kontrol semuanya. Justru akan ada koordinasi dan kerjasama untuk menghadapi ancaman bersama. “Jadi nantinya akan ada skala-skala yang ditentukan bersama. Targetnya desk ini memprioritaskan critical infrastructure dan government,” lanjutnya.

Di usianya yang baru delapan bulan, DK2ICN kegiatannya masih bersifat koordinasi dan dalam bentuk kajian. Disebutkan pria berdarah Sunda ini, Desk Cyber terlebih dahulu melihat kedalam dan mencoba menata ulang dalam desk. “Nantinya desk ini diharapkan bisa menjadi badan sehingga lebih powerful,” tandasnya.

Lebih lanjut, berikut ini petikan wawancara BISKOM dengan Tedi S.M yang melepas karirnya di industri untuk lebih fokus membangun DK2ICN.

Siapa sajakah yang terlibat dalam tim Desk Cyber ini?
Sekarang ada sekitar 67 orang dengan anggota organik Ketua Deputi VII, Wakil Ketua Deputi, dua orang Kepala Bidang dan sisanya multi stakeholder, baik itu dari komunitas, praktisi, akademisi dan bahkan hacker.  Di dalamnya ada forum komunitas, staf ahli, serta ada ketuanya masing-masing. Kurang lebih ada enam bidang. Nantinya masing-masing bidang mengejawantahkannya ke Kelompok Kerja (Pokja). Ada 4 Pokja yang sekarang ini terus berjalan indexing dan monitoring.

SONY DSCSeperti apa peranan yang akan dijalankan desk ini?
Bila digambarkan, akan seperti masalah di laut kita yang luas dan komplek, dimana ada kapal-kapal asing, illegal fishing, penyelundupan dan hal lainnya yang rumit. Nah, dalam mengatasi hal tersebut disana ada Polisi Air dan Udara (Polairud), TNI AL, Bea Cukai dan lainnya. Biasanya dalam pengoperasian sering bersinggungan atau bertabrakan dalam masalah kewenangan dalam mengatasi suatu kejadian. Sama halnya dengan yang terjadi di cyber space itu bisa siapa saja, mulai dari individu,  organisasi, pemerintah dan lainnya campur aduk. Sementara saat ini kan cyber lebih fokus ke Kemkominfo dengan regulasi UU ITE dan Telekomunikasi. Ini tentunya jadi berat untuk Kemkominfo dengan kompleksitasnya yang tidak mungkin di-handle sendiri. Sehingga desk ini akan mengkoordinasikan ketika ada persoalan-persoalan yang sifatnya lintas sektoral yang berhubungan dengan cyber space.

Jika menjadi sebuah badan, akan dinamakan apa desk ini?
Sejauh ini belum ada nomenklaturnya mengenai ketahanan informasi. Tetapi kami sedang mendorong kearah sana. Disini kami masih desk yang sifat koordinator. Jadi kalau dari segi pertahanan adalah tugasnya Kemhan, segi pornografi adalah Kemkominfo, kriminal bagiannya Polri dan lain sebagainya. Sementara tugas desk adalah memonitor itu semua bukan eksekusi. Gambaran besarnya nanti desk akan menjadi suatu helicopter view yang tahu pola serangannya seperti apa, dengan catatan sensor-sensor itu dipasang dengan berdasarkan pengertian dan komunikasi yang baik tentunya.

Bagaimana kesiapannya untuk melangkah menjadi suatu badan nantinya?
Kebetulan Menko Polhukam sekarang yakni Pak Tedjo Edhy Purdijatno telah berkomitmen untuk mewujudkannya menjadi badan. Sebab bila hanya desk tidak cukup, mengingat ini sifatnya urgent. Kemarin, bertepatan Hari Pahlawan hal ini sudah dibawa ke Komisi I DPR yang membidangi komunikasi, informasi dan intelegen. Ternyata pimpinan komisi, Pak Mahfud Shidiq dan salah satu wakilnya yakni Pak Tantowi Yahya sangat konsen dengan masalah ini. Kebetulan yang mensounding ini ke mereka adalah Pak Setyanto P. Santosa, Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), yang juga merupakan Ketua Forum Komunitas di desk ini.

Selain itu, beberapa waktu lalu kami juga berkunjung ke Korea bertemu dengan Korea Internet Security Agency (KISA) untuk melakukan kerjasama dan mengetahui pengalaman mereka dalam mengatasi problema cyber security.

Seperti apa teknologi yang akan diadopsi nantinya?    
Di teknologi kelihatannya bisa jumping menggunakan teknologi terbaru. Teknologi itukan terus berubah, bisa jadi kalau ini sesuatu yang bagus tentu sudah menggunakan teknologi yang paling canggih tidak perlu mulai dari nol untuk mengetahui penanganan cyber. Seperti misalnya, pengguna baru Blackberry (BB) tidak perlu membeli BB yang versi pertama untuk bisa mengunakannya tetapi bisa melakukan loncatan yang terbaru.

Terbukti waktu kami ke KISA mereka berbicara seputar Super Komputer tetapi mereka sendiri belum menggunakannya. Kita harusnya juga jumping ke super computer karena negara kita kan memiliki jumlah penduduk mencapai 250 juta jiwa. Jadi pengolahan datanya atau big data-nya akan menjadi luar biasa dalam menjaga keamanan nasional.

Bila sudah terbentuk badan, tentunya diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang tidak sedikit jumlahnya. Bagaimana kesiapan dari SDM sendiri?
Bila berbicara SDM tentunya sudah siap tetapi kedepannya memang harus dipertajam lagi. Sebelumnya sudah terbentuk kerjasama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) mengenai SDM. Tapi ini bukan berarti universitas unggulan lainnya tidak akan bekerjasama, kebetulan yang memiliki inisiatif dan proaktif adalah ITB.

Apa harapan Anda kedepannya bersama tim Desk Ketahanan dan Keamanan Informasi Cyber Nasional?
Tentu harapannya desk ini segera bisa menjadi sebuah badan. Semangatnya, sejarah telah membuktikan badan-badan yang ada saat ini awalnya merupakan sebuah desk. Sebut saja, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dulunya merupakan desk anti teror dan itu juga dari Menko Polhukam. Lalu desk keamanan laut menjadi Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) yang akan berganti menjadi Badan Keamanan Laut (Bakamla). Jadi kedepan, kami berharap Indonesia telah benar-benar siap menghadapi permasalahan cyber space. •ANDRI

Buka Lagi Vimeo, Asal…

0

Menkominfo Rudiantara berjanji akan membuka blokir akses Vimeo.com jika pengelola layanan itu mau melakukan penyaringan konten yang mengandung pornografi untuk pengguna di Indonesia.

 vimeo

MASIH ingat kasus pemblokiran situs berbagi video Vimeo yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Informatika beberapa waktu lalu? Meski pada akhirnya Tifatul Sembiring, saat masih menjabat Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), pada Mei 2014 lalu telah kembali membuka situs Vimeo, tak pelak kasus ini sempat memicu beragam protes dari para pengguna internet.

Tifatul Sembiring memblok akses ke situs Vimeo berdasarkan laporan Tim Trust+, karena terindikasi memuat konten pornografi. Tifatul menilai, Vimeo mengizinkan konten ketelanjangan atas nama seni.

Tim Trust+ Telkom memang dibentuk untuk mendata situs-situs internet yang bermuatan negatif. Perusahaan telekomunikasi dan penyedia jasa internet tersebut diwajibkan memblokir situs web yang ada dalam daftar Trust Positif.

Saat berita ini diturunkan, BISKOM sempat mencoba membuka situs Vimeo dari beberapa operator, ternyata masih tertulis: “Sebagai bentuk dukungan terhadap program “Internet Sehat” program pemerintah Indonesia, maka kami menutup akses ke situs yang Anda kunjungi dalam rangka mendukung program pemerintah tersebut (We are blocking this abusive site as stated by the Indonesia regulation in order to provide Internet Sehat).”

Selanjutnya: “Apabila Anda merasa situs yang dikunjungi tidak bertentangan dengan program pemerintah, silakan hubungi customer support kami (If you think this site is not containing abusive content, please contact our customer support).”

Pornografi Hingga Cyberbullying

Saat Vimeo diblokir, salah satu protes pedas dilayangkan oleh seorang pengguna Vimeo, Didit Putra. Ia menyampaikan surat terbuka untuk Menkominfo Tifatul Sembiring. Didit melaporkan Twitter.com, sebab menurutnya media sosial ini menjadi ancaman jauh lebih besar ketimbang Vimeo yang sebelumnya diblokir.

“Kenapa? Sangat mudah konten pornografi ditemukan di media sosial ini. Tinggal gunakan fitur “search” dan semuanya terpampang di depan mata. Satu akun bisa mengunggah belasan gambar tidak senonoh dalam sehari, sebagian malah tautan ke video atau minivideo seperti Vine,” sebut Didit.

Menurutnya, berbagai genre pornografi bisa ditemukan di linimasa Twitter mulai dari model luar negeri hingga dalam negeri. Ada dugaan bahwa akun dari Indonesia yang gemar mengunggah foto porno di Twitter memiliki kaitan dengan jaringan prostitusi karena sebagian mencantumkan kontak baik nomor telepon maupun PIN Blackberry Messenger (BBM).

“Dari pengamatan saya pribadi, akun dengan karakteristik ini bisa mencapai puluhan buah dan berinteraksi dengan ribuan follower-nya. Mereka lah generasi muda yang seharusnya diselamatkan,” tandasnya. Tentu saja, hal ini bisa dihindari bila pemilik akun memiliki kontrol diri, tapi membayangkan bahwa potensi ancaman dari pornografi bakal mengancam mereka sungguh mengkhawatirkan.

Masalah berikutnya, bila pengguna tidak berkeinginan mengakses konten pornografi, mereka tetap terancam karena pengguna lain bisa dengan mudah menautkannya dalam sebuah pesan atau retweet. Sebuah mention dari kawan bisa membuat pengguna membuka tautan gambar atau video porno tanpa sadar. Bisa dibayangkan betapa mengerikannya media sosial ini. “Tentu saja pornografi hanyalah satu dari bahaya dari Twitter, masih ada bahaya lain seperti fitnah, hate speech, hingga cyberbullying yang saya yakin juga jadi keprihatinan Kemkominfo. Namun saya memilih untuk mengangkat soal pornografi karena lebih nyata ancamannya,” pungkas Didit.

Filtering

Di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, sepertinya masalah-masalah di dunia teknologi informasi (TI) Indonesia menjanjikan penyelesaian yang lebih jelas. Buktinya, saat menyinggung menyelesaikan polemik pemblokiran Vimeo, Menkominfo dalam Kabinet Kerja Joko Widodo, Rudiantara mengungkap, akan mengupayakan pendekatan yang berbeda. Ketimbang memblokir layanan video tersebut secara utuh, Rudi menginginkan Vimeo melakukan filtering secara otomatis untuk konten yang berbau pornografi.

Rudi mengatakan sebenarnya langkah filtering lebih efektif untuk memblok konten pornografi. Ketimbang memblok akses ke keseluruhan situs, yang tidak melulu berisi konten yang dianggap tidak sesuai. Jadi, lebih baik hanya menutup akses untuk konten tertentu saja.

Faktanya Vimeo banyak digunakan juga oleh pembuat konten video di Indonesia untuk membagikan video berkualitas tinggi, karena hal tersebut merupakan keunggulan Vimeo dibandingkan YouTube. “Menurut pemantauan kami, filtering terhadap konten video tertentu sudah dilakukan oleh penyedia layanan video DailyMotion. Untuk keyword tertentu, mereka memblok akses terhadap konten-konten yang tidak diinginkan,” kata Rudi.

Melihat bahwa pemblokiran konten di DailyMotion tidak menunjukkan label “Internet Sehat”, hanya sekedar menghilangkan akses terhadap konten tersebut, berarti DailyMotion sudah melakukan filtering untuk pengaksesan yang menggunakan IP Indonesia.

Untuk mengurangi “kebocoran” akibat skema pemblokan melalui DNS yang digalakkan pemerintah, Kemkominfo juga telah menginstruksikan semua penyedia layanan Internet untuk memblok akses ke DNS alternatif, seperti Google Public DNS dan OpenDNS.

Langkah yang dikenal dengan filter konten ini telah dilakukan Google pada layanan YouTube untuk sejumlah video yang tidak sejalan dengan Undang-Undang yang berlaku di Indonesia. Jika ada konten yang dilarang, maka konten itu tidak bisa ditonton oleh pengguna di Indonesia. “Ini adalah tugas kita bersama, bagaimana melakukan limitasi dan menyaring konten di internet yang sesuai dengan budaya dan Undang-undang yang berlaku di Indonesia,” kata Rudi di Jakarta (11/11).

Rudi sendiri mengaku telah melakukan komunikasi melalui konferensi video kepada CEO Vimeo, Kerry Trainor. Konferensi video ini juga diikuti sekitar 25 pengguna internet dan pekerja kreatif. Menurut menteri, pengelola Vimeo akan mendukung penyaringan itu dari sisi teknis. “Vimeo menyambut komunikasi ini dan mereka akan dukung dari sisi teknis karena banyak pekerja kreatif yang menilai konten di Vimeo itu positif. Saya ingin lebih cepat lebih baik,” ujar Rudiantara.

Pada video konferensi kali ini, Rudi mengajak serta pengguna internet dan pelaku industri kreatif untuk ikut berdiskusi dengan Vimeo. Rudi mengatakan pengguna internet dan pekerja kreatif sangat menginginkan Vimeo dapat diakses kembali. Asal, konten pornografi harus tetap disaring agar sejalan dengan budaya Indonesia. “Platform berbagi video seperti Vimeo ini banyak manfaatnya. Tapi kita harus filter sisi negatifnya,” tandasnya.

Disambut Baik

Pornografi, menurut Rudi, adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar dalam dunia maya. Karenanya ia minta pihak Vimeo untuk membuat alat filter untuk konten pornografi di Indonesia. Dukungan teknis penyaringan itu bisa dilakukan dengan memblokir konten pornografi untuk kawasan Indonesia. Jika pengguna internet Indonesia hendak menonton video yang di dalamnya mengandung unsur pornografi, maka video itu tak bisa diakses atau tidak tersedia untuk pengguna di Indonesia. Pengelola Vimeo mengizinkan konten ketelanjangan atas dasar seni.

Rencana Menkominfo Rudiantara mencabut pemblokiran situs web Vimeo dengan sejumlah syarat, disambut baik oleh perusahaan telekomunikasi. Perusahaan telekomunikasi masih menunggu komando dari pemerintah sebagai regulator konten di internet untuk membuka akses Vimeo. Presiden Direktur Biznet Networks, Adi Kusma mengatakan, hingga kini pihaknya belum menerima perintah tersebut. “Blocking list halaman situs itu berasal dari pemerintah. Kalau pemerintah bilang buka, ya, kita buka blokir itu,” kata Adi.

Adi menjelaskan bahwa jumlah pengunjung Vimeo dari jaringan Biznet cukup banyak, namun ia tak menyebut angka pastinya. Ketika pemblokiran dilakukan, banyak pengguna yang beralih mencari alternatif situs web serupa. Pemblokiran ini disebut Adi tidak memengaruhi bisnis Biznet.

Sementara Head of Corporate Communications Group Telkomsel, Adita Irawati berpendapat, kala itu pemerintah terlihat terburu-buru melakukan pemblokiran terhadap Vimeo. Di masa depan, Adita berharap Kemenkominfo memiliki aturan yang lebih matang ketika hendak memblokir karena harus dipertimbangkan konten positif di dalamnya.

Adita setuju dengan kebijakan pemerintah untuk menyaring konten yang mengandung pornografi yang tak sesuai dengan aturan dan budaya di Indonesia. “Itu semua kembali lagi pada regulator,” tutur Adita. •IWA

HTC DESIRE EYE, Kamera Depan 13 Megapiksel

0

HTC-Desire-EYE-1TREN berfoto narsis alias selfie seakan tak pernah ada habisnya. Selfie tidak hanya dilakukan anak muda dari kalangan orang biasa. Para pemimpin negara, seperti Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama ataupun Presiden Indonesia, Joko Widodo juga pernah selfie untuk kemudian dishare ke sosial media.

‘Wabah’ selfie ini kemudian menuntut produsen perangkat mobile di seluruh dunia untuk lebih serius mengembangkan kamera depan pada perangkat terkini. Beberapa smartphone bahkan telah dirancang khusus untuk selfie. Salah satunya adalah smartphone terbaru yang diberi nama HTC Eye.

Tidak hanya aplikasinya saja yang ditingkatkan, jagoan selfie dari HTC ini datang dengan kamera depan dan belakang yang sama-sama memiliki resolusi 13 megapiksel. Jadi bisa dipastikan, HTC Eye menjadi ponsel pertama di dunia dengan resolusi kamera depan tertinggi untuk saat ini.

Kendati resolusinya sama, namun antara kamera depan dan belakang menggunakan lensa yang berbeda. Di bagian belakang, sebagai kamera utama HTC melengkapinya dengan lensa 28mm berdiafragma F/2.0. Sementara untuk kamera depan, lensa yang dibawa hadir dengan sudut yang lebih lebar yaitu 22mm dengan bukaan diafragma F/2.2. Sebagai tambahan, tersedia dual color LED Flash di samping kedua lensanya yang akan menerangi kegiatan foto selfie di kondisi cahaya yang temaram.

HTC-Desire-EYE-2Beberapa fitur yang khusus dihadirkan untuk selfie juga tersedia di sini. Salah satunya adalah mode Autoselfie yang memungkinkan kamera memotret secara otomatis saat Anda memegang kamera dengan posisi selfie. Alternatif lain, Anda bisa memerintahkan ponsel untuk memotret dan merekam video menggunakan perintah suara.

Pihak HTC juga memperkenalkan software Eye Experience untuk mengambil bidikan dengan perintah suara ‘Cheese’ ataupun menstabilkan smartphone yang dipegang. Selain itu perekaman video juga dapat digunakan dengan perintah suara ‘Action’ untuk memulai perekaman.

Untuk urusan layar, HTC Desire Eye juga datang dengan layar Full HD 5.2-inci beresolusi 1920 x 1080 piksel. Performanya mendapat dukungan dari SoC Qualcomm Snapdragon 801 berkecepatan 2.3GHz dan besaran RAM yang mencapai 2Gb. Seluruh hasil foto dan multimedia bisa ditampung di kapasitas ruang penyimpanan miliknya yang berkapasitas 16 Gb dengan tambahan slot kartu microSD.

Karena akan digunakan sebagian besar oleh mereka yang berjiwa muda, fasilitas multimedia tidak akan dilupakan HTC. Perusahaan tersebut melengkapi Eye dengan speaker stereo hadap depan yang didukung oleh teknologi HTC Boom Sound.

Untuk mengakomodir hobi fotografi menggunakan HTC Desire Eye, HTC membekalinya dengan baterai dengan kapasitas 2400mAh. Bodinya juga dirancang tahan air dengan sertisifikasi IPX7 yang bisa diajak berenang hingga kedalaman 1 meter selama 30 menit. Cukup direkomendasikan untuk Anda yang ingin foto selfie di dalam air.

Sebuah situs menyebutkan, satu unit HTC Eye dibanderol mulai US$ 540 atau sekitar Rp 6,6 juta. HTC mengawali pemasaran Desire Eye di Amerika Serikat dan di Inggris pada bulan ini. Belum disebutkan kapan produk tersebut bakal menyambangi negara lain. •

Negara Peserta Apresiasi APICTA 2014 di Indonesia

0

WILAYAH Asia Pasifik diyakini bisa mendominasi sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK) global di masa depan. Saat ini saja, banyak karya inovatif yang sudah dihasilkan oleh para ‘Generasi Z’ atau mereka yang lahir setelah tahun 1990. Hal ini dikatakan Ketua Umum FTII, Sylvia W. Sumarlin, saat Asia Pasific ICT Alliance (APICTA) Awards 2014, di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta (30/11).

Sylvia yang juga merupakan salah satu Ketua APICTA Awards 2014 mengatakan, “Dalam empat tahun terakhir telah terjadi peningkatan partisipasi APICTA Awards yang berasal dari sekolah dan perguruan tinggi. Peningkatan juga terjadi untuk kategori start–up.”

“Kami mengamati karya mereka sangat baik, terutama dalam matematika dan ilmu pengetahuan, dan mereka secara alami juga ingin menyederhanakan banyak hal, seperti membuat aplikasi untuk membuat hidup lebih mudah,” katanya.

Sementara Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara, dalam sambutannya mengatakan, ajang APICTA Award telah menunjukkan bahwa TIK dapat diaplikasikan untuk banyak bidang, seperti turisme, industri kreatif, research and development, pendidikan, kesehatan dan usaha kecil menengah.

APICTA 2014-Biskom-2Rudiantara memaparkan, berdasarkan data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sektor industri kreatif pada 2013 mencapai 7.5% produk domestik bruto (GDP) Indonesia dan berpotensi tumbuh pada 2014 dan tahun-tahun mendatang.

Di kesempatan yang sama, Kepala Sekretariat MDeC APICTA, Najat Ahmad Marzuki mengatakan, kawasan Asia Pasifik memimpin dunia dalam jumlah pengguna aplikasi mobile. Namun, Asia tidak hanya menjadi kawasan dengan tingkat penetrasi ponsel tertinggi saja, tetapi juga memiliki pengembang teknologi mobile.

“Mengutip data Portio Research (2013) dan Visi Mobile, dari sekitar 2,3 juta orang yang bekerja sebagai pengembang aplikasi mobile di seluruh dunia, 32,9 persen atau sekitar 760.000 berasal dari Asia, yang juga menyebabkan pertumbuhan pendapatan pasar aplikasi mobile pada 2012-2013 sebanyak 162 persen,” katanya.

Penghargaan APICTA sendiri telah diselenggarakan sejak tahun 2001, untuk mengakomodir karya inovasi di bidang TIK di kawasan Asia Pasifik. Diprakarsai oleh Malaysia’s Multimedia Development Corporation (MDeC), acara di tahun ini diselenggarakan oleh Asosiasi Indonesia Telematika Software Development (ASPILUKI). Indonesia dipilih menjadi tuan rumah APICTA Awards 2014 menggantikan Lahore, Pakistan, karena alasan keamanan.

APICTA 2014-Biskom-3Chairman of the Executive Officer MDeC, Datuk Yasmin Mahmood mengapresiasi penyelenggaraan APICTA Awards 2014. Menurutnya, secara kualitas acara pada tahun ini bertambah baik. Setiap inovasi yang ditampilkan bukan saja sangat unik dari segi ide dan berteknologi tinggi, tetapi juga berpotensi dikembangkan dalam skala global.

“APICTA Awards 2014 berhasil memberikan peluang kepada peserta untuk menunjukkan produk inovatif dan bakat mereka. Melalui ajang ini, TIK di kawasan Asia Pasifik akan terus berkembang ke tahap yang seterusnya,” jelasnya.

APICTA yang didukung oleh BISKOM selaku media partner ini pada 2015 mendatang dijadwalkan berlangsung pada November  di Colombo, Sri Lanka. •

Indonesia Raih 8 Merit Award di APICTA 2014

0

Richard Kartawidjaya-APICTA-BiskomINDONESIA sebagai tuan rumah penyelenggaraan Asia Pacific ICT Alliance (APICTA) 2014 Awards ke-14 yang berlangsung 30 November 2014 di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta, telah berhasil melibatkan 17 negara mengikuti kompetisi internasional bergengsi ini. Negara-negara tersebut adalah Australia, Brunei Darussalam, China Taipei, Hong Kong, India, Korea, Macau, Malaysia, Myanmar, Pakistan, Republik Rakyat China, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Thailand dan tentunya Indonesia sendiri.

Berbeda dari tahun sebelumnya, kali ini dari 17 kategori yang diperlombakan tidak satu pun karya-karya anak bangsa yang berhasil menjadi juara. Indonesia hanya boleh puas dengan meraih 8 merit award. “Hasil ini tidak jelek, tetapi memang mengecewakan tidak ada yang winner. Padahal antara winner dan merit perbedaan nilainya hanya tipis sekali, antara 2-3 persen bahkan ada yang hanya 0,0 sekian persen,” ujar Richard Kartawidjaya, Ketua Panitia APICTA 2014, Jakarta (30/11).

APICTA-Biskom-1Kendala yang dihadapi peserta Indonesia setiap tahunnya, menurut Richard adalah masalah bahasa. “Kita punya kebiasaan hanya memikirkan inovasi dan ide teknologinya tetapi cara menyampaikan atau presentasi tidak kelihatan. Selain itu tidak membuat produk yang dibuat dikemas dengan baik,” lanjutnya.

Hal tersebut juga dikatakan Kepala Sekretariat MDeC di APICTA, Najat Ahmad Marzuki, “Sebagian besar peserta APICTA Awards 2014 kategori sekolah dan tertiary meki memiliki inovasi yang tinggi, namun sering kali tidak memiliki soft skill untuk mengkomunikasikan pesan yang diinginkan dengan jelas.”

Namun demikian bila diakumulasikan penghargaan yang diperoleh bisa dibilang Indonesia meraih posisi tiga, dengan urutan Hong Kong di posisi pertama dengan 3 winner dan 7 merit, lalu Malaysia dengan 2 winner 6 merit.

Indonesia sendiri mendapatkan merit award dari kategori Tertiary Student Project sebanyak 3 tim, yaitu Politeknik Elektronika Negeri Surabaya dengan karya 2-in-1 Diamond, Telkom University dengan karya MonTrash dan Del Institute of Technology dengan karya The Lake Rescuer, Pora.

APICTA-BiskomTidak jauh berbeda, untuk kategori School Project juga terdapat 3 tim peraih merit award, yaitu Muh. Isfahani Ghiyath dengan karya My Spensav, Sekolah Dasar Regol 10 dengan karya Saron Simulator dan SMA 1 Sidoarja dengan karya SEAT (School Electricity Assistant).

Sementara itu, dua sisanya diraih ID-SIRTII dengan karya Mata Garuda untuk kategori Security dan Fasilkom Universitas Indonesia dengan karya e-Cardio masuk kategori Research & Development.

Dengan penghargaan yang dicapai ini, diharapkan Richard kedepannya para peserta nantinya bisa lebih serius lagi dalam persiapannya. “Kalau dari aplikasinya sendiri bagus sekali dan akan lebih bagus lagi bila produk dalam negeri ini diberikan semacam prioritas karena saat ini kebanyakan aplikasi asing yang digunakan padahal produk anak bangsa ini tidak kalah bagusnya. Ini perlu peran dan dukungan pemerintah tentunya,” tandasnya.

APICTA Awards 2014 didukung oleh BISKOM selaku media partner. •ANDRI

Intel Berikan Solusi Logistik dan Trasportasi Untuk Pemain TI Lokal

0

SONY DSCMEMASUKI era perdagangan bebas, perusahaan logistik dan transportasi harus mampu meningkatkan efisiensi pergerakan barang untuk dapat terus bersaing di industri. Implementasi teknologi menjadi hal yang diharapkan mampu menjawab tantangan tersebut.

Mewujudkan hal itu, Intel Indonesia bersama PT Integrasia Utama menghadirkan solusi lengkap dan terintegrasi dengan diluncurkannya OSLOG Ecosystem & OSLOG 4 untuk mendorong adopsi teknologi berbasis Internet of Things (IoT) bagi perusahaan logistik dan transportasi.

“Sebagai pendorong inovasi di Indonesia, Intel mendukung perusahaan-perusahaan lokal, salah satunya PT Integrasia Utama, demi memperluas kemitraan strategis dalam menumbuhkan potensi pasar lokal. Intel terus memimpin implementasi internet of things dengan memberikan solusi yang lengkap dan terintegrasi bersama mitra kami, sehingga perangkat akan semakin pintar dan saling terhubung dalam sebuah ekosistem yang padu,” ujar Harry K. Nugraha, Country Manager Intel Indonesia di Jakarta (26/11).

Para pakar Intel juga turut hadir pada acara peluncuran OSLOG Ecosystem & OSLOG 4 yang bertema “The Great Convergence: Increasing Efficiency & Effectivity in logistic transportations using ICT” tersebut, diantaranya Larry Cheng (Geo Sales & Marketing Director of Intel Embedded Sales Group) dan Joko Banu Sastriawan (Field Sales and Application Engineer of Intel Embedded Sales) untuk berbagi pengetahuan bersama dengan praktisi lain di bidang transportasi logistik dan teknologi informasi (TI). Kedua pakar dari Intel ini, hadir untuk menjelaskan topik masing-masing seputar ICT & Fleet Management dan Supporting Hardware with Intel Solution.

Bayu Wedha, Managing Director PT Integrasia Utama, menjelaskan komitmennya dalam memberikan solusi bagi perusahaan logistik dan trasportasi di Indonesia. “Sebagai perusahaan lokal Indonesia yang sedang berkembang, Integrasia Utama bersama Intel ingin memberikan solusi dengan membangun sistem yang dibuat untuk memudahkan perusahaan logistik dan transportasi dalam melaksanakan bisnis prosesnya. Dengan menggunakan sistem ini, perusahaan dapat mengurangi operational cost secara umum sehingga terjadi peningkatan efisiensi dan efektivitas kerja yang tentunya akan berkontribusi terhadap penurunan biaya logistik di Indonesia,” jelasnya.

OSLOG Ecosystem & OSLOG 4 merupakan sebuah Core System yang didalamnya terdapat Logistics Data Management (LDM). Nantinya, para software developer diharapkan dapat mengembangkan aplikasinya menggunakan platform LDM. Sistem ini dikembangkan oleh Integrasia dengan harapan dapat mempercepat proses penerapan TI bagi sektor transportasi logistik, khususnya teknologi berbasis IoT.

“Kami berharap, kerjasama yang dilakukan Intel dengan Integrasia Utama ini dapat mempercepat adopsi teknologi dalam industri transportasi logistik di Indonesia. Karena teknologi serta platform telah kami siapkan. Kini saatnya para pelaku usaha untuk memanfaatkan terobosan ini,” tutup Harry. •

PANDI: Dunia Tertarik Pada Domain .ID

0

Pandi-Biskom-1SEJAK dirilis  pada Januari 2014 kemudian dibuka pendaftannya dengan cara first come first serve pada 17 Agustus 2014, Domain Tingkat Tinggi (DTT) bernama Anything.id telah menarik banyak perhatian institusi luar negeri untuk menggunakan domain tersebut. Hal inilah memicu Pengelola Nama Domain Indonesia (PANDI) untuk menggelar seminar nasional bertajukkan “Domain ID untuk Dunia” di Grand Bellagio, Jakarta pada 27 November 2014.

Ketua Umum Pandi, Andi Budimansyah menyebutkan, saat ini telah banyak institusi yang menanyakan kapan .id bisa digunakan secara global. “Domain .id merupakan anugerah kita sebagai bangsa Indonesia. Banyak negara tertarik untuk menggunakan generic top level domain (gTLD) .id karena mengkonotasikan id tersebut sebagai identity meskipun artian sebenarnya merupakan singkatan dari Indonesia,” ujar Andi di Jakarta (27/11).

Tidak hanya Indonesia, ada juga gTLD yang mendapatkan anugerah seperti Indoonesia, diantaranya .tv milik negara Tuvalu yang berkat domainnya menjadikan negara ini dikenal, dan .co dari Kolombia yang diartikan sebagai company lebih pendek dari .com, serta .me dari Montenegro. Dimana ketiganya telah membuka diri untuk pengguna dari luar negeri.

Pandi-Biskom-2Di Indonesia sendiri pengunaan domain .id oleh pihak luar hanya dapat dilayani secara terbatas, yaitu selama menggunakan merek yang terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual serta ada penanggung jawab atau perwakilannya di Indonesia. Menurut Andi, hal ini sudah diatur dalam Peraturan Menteri (Permen) 23 tentang nama domain.

“Kita bisa saja menutup diri atau membuka sedikit seperti saat ini. Ini tergantung kesepakatan kita semua untuk dapat mengatakan bahwa negara lain meniru penggunaan .id. Bagi institusi luar negeri dapat dimaknai sebagai dominasi .id di dunia internet global,” papar Andi.

Diungkapkannya juga, sejak Oktober 2014, pengguna .id sudah mencapai 119 ribu atau sebesar 29% dari gTLD yang sudah mencapai 290 ribuan. Tentunya diharapkan dominasi ini bisa lebih besar lagi. Tetapi perlu diwaspadai juga akan ada sekitar 170 gTLD baru yang sangat atraktif dan sangat menarik yang sudah dipasarkan di seluruh dunia oleh Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN).

Perkembangan ini perlu disikapi secara arif dan cepat tentunya berharap agar penggunaan domain .id lebih ditingkatkan lagi dan perlu dikembangkan cara-cara yang lebih mudah untuk mendapatkan domain .id,” lanjutnya.

Penyelenggraan gTLD dari suatu negara yang tidak luput dari anggapan bahwa sebagai salah satu masalah kedaulatan negara, juga dibahas dalam seminar sehari ini. Seperti diketahui bahwa batasan yuridiksi atas laut, darat dan udara sudah diketahui bersama, namun tidak dengan yuridiksi di internet.

Foto Bersama di acara domain-id

Meskipun pada Undang-undang ITE pasal 2 yuridiksi sudah diatur, namun masih menitik beratkan pada perlindungan kepentingan Indonesia baik yang terjadi di dalam wilayah Indonesia maupun di luar wilayah. Secara jelas belum disebutkan dimana yang dimaksud wilayah hukum Indonesia di dunia internet.

“Dalam kontek yuridiksi di internet tentunya domain .id dapat dipertimbangkan sebagai salah satu batasan yuridiksi kita di internet yang tanpa batas ini,” tandas Andi.

Pernyataan Andi pun disambut Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Kemkominfo, Bambang Heru Tjahjono, yang menyatakan perlunya segera membentuk namanya teritorial cyber Indonesia yang tentunya domain .id bisa menjadi salah satu bagiannya. “Perlu dirumuskan bagaimana nantinya membentuk menjadi suatu cyber jurisdiction dan cyber territorial karena kalau tidak nantinya menghadapi kendala dan kebingungan dalam menghadapi cyber war,” ungkap Bambang.

Untuk mengangkat permasalahan yang menarik ini, dalam seminar yang gelar Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama PANDI, serta didukung ID Insitutute, CBN Registrar, Radnet, Telematika.id dan BISKOM ini menghadirkan para pembicara dari pakar-pakar TI dan mantan Dirjen Aptika, seperti Cahyana Ahmad Jayadi, Azhar Hasyim, Edmon Makarim, Teddy Purwadi, Taufik Hasan dan Hendri Kasyfi Soemartono.

Selain itu, di kesempatan ini juga diumumkannya peluncuran S.id sebagai url shortener dan DNS Nasional. S.id merupakan salah satu persembahan dari PANDI sebagai konten dan tools kepada industri internet dalam negeri dalam menghemat bandwidth internasional dan memusatkan trafik internet dalam negeri.

Sementera DNS Nasional merupakan hasil kerjasama PANDI, Nawala, Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID SIRTII), Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan Klik Indonesia untuk meminimalisasikan serangan trafik ilegal maupun malware.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, yang turut hadir pun menyambut baik dengan adanya kegiatan seminar yang membahas perkembangan domain .id di Indonesia. Ia pun menyatakan kesiapannya menjadi duta agar domain .id lebih banyak lagi digunakan.

Namun demikian, Ia menyarankan proses prosedur yang ada juga harus dipermudah. Apalagi di dunia yang penuh kompetisi saat ini, perlu memberikan atau menunjukkan kepada dunia seperti apa positioning-nya, diferensiasi, benefit dan fitur yang bisa didapatkan dari layanan yang diberikan. •ANDRI/TAUFIK (foto)

GlobalWebIndex: Mobile Messaging Meningkat Karena Gratis dan Cepat

0

GlobalWebIndex3HASIL penelitian yang dilakukan GlobalWebIndex (GWI) menunjukkan telah terjadi penurunan penggunaan social network yang diiringi dengan mulai meningkatnya pengguna internet ke aplikasi mobile messaging. Hasil penelitian yang dilakukan hingga kuartal ketiga 2014 dengan melibatkan 170 ribu responden di 32 negara ini menunjukkan 40% dari pengguna internet global menggunakan aplikasi mobile messaging dan di Asia Pacific meningkat menjadi 46%. Di Indonesia sendiri terjadi peningkatan hingga 45% sejak tahun 2013.

Menurut Head of Trends di GlobalWebIndex, Jason Mander, dari hasil survei lembaga yang dipimpinnya menunjukkan alasan utama terjadinya peningkatan ini karena penggunaan aplikasi messaging yang bebas biaya atau gratis sebanyak 45%, dan 41% menyatakan lebih cepat dari menggunakan social network atau SMS untuk berkomunikasi, serta 41% karena banyak teman-temannya yang sudah menggunakannya.

“Aplikasi pesan mobile telah menjadi tingkat pertumbuhan yang utama di kalangan generasi muda, karena orang yang menggunakan social networking lebih pasif menjadikan layanan pesan sebagai cara cepat berkomunikasi,” ujar Jason di Jakarta (25/11).

Meski demikian, social networking masih tetap jadi primadona, meski sudah mulai ada kejenuhan bagi penggunanya untuk ngobrol di wall Facebook ataupun berbalas Twitter. Komunikasi mulai berpindah ke aplikasi messaging yang sifatnya lebih pribadi.

Dari mobile messaging yang ada saat ini, disebutkan GWI untuk wilayah Asia Pacific penggunaan WeChat menduduki posisi teratas yang mencapai 30%. Disusul Facebook Messenger yang mencapai 16% pengguna yang tidak jauh berbeda dengan Skype dengan 15% pengguna. Sementara WhatsApp hanya bertengger di posisi keempat dengan total pengguna 13%.

Di Indonesia sendiri WeChat merupakan aplikasi yang mengalami pertumbuhan paling signifikan dengan penggunaan aktif hingga 895%. Diungkapkan juga bahwa pengguna WeChat di Indonesia termasuk yang katif dalam melakukan mobile internet, dimana 62% melakukan belanja online, 85% mengupload foto dan 40% melakukan panggilan VoIP via mobile.

Meski demikian, WhatsApp masih menjadi yang paling populer dengan meraup 34% dari total pengguna, disusul Facebook Messenger sebanyak 28%, WeChat 18%, Skype 18%, dan Line 16%. •ANDRI