Home Blog Page 910

Menkopolhukam Tedjo Edhy Purdijatno: Koordinasi Selesaikan Masalah Bangsa

0
Koordinasi sebagai salah satu kunci keberhasilan pemerintah dalam mengelola negara dapat terbaca jelas pada Kabinet Kerja yang baru saja dibentuk oleh Presiden Joko Widodo. Terlihat, sejak kabinet ini dilantik, setiap kementerian segera melakukan koordinasi sebagai langkah awal memulai tugasnya di kementerian.

biskom-nov14.indd

ADA yang baru dan menarik pada pola kerja Kabinet Kerja. Segera setelah terbentuk, para menteri langsung mengadakan koordinasi, baik di intern kementerian maupun bersama kementerian terkait. Hal ini juga yang dilakukan Menteri Koordinasi Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Tedjo Edhy Purdijatno. Selang sehari dilantik, mantan Kepala Staf Angkatan Laut ini langsung menggelar rapat koordinasi (rakor) perdananya dengan jajaran menteri dan kelembagaan di bawah koordinasinya.

Menurut pria kelahiran Magelang, 20 September 1952 ini, tugasnya sebagai Menkopolhukam menangani tiga bidang yang strategis yaitu politik, hukum dan keamanan sehingga diperlukan segera melakukan koordinasi agar berbagai persoalan di kementerian koordinasinya segera selesai dan menteri-menteri yang ada di bawahnya bisa segera menjalankan tugasnya secara sinergis.

Dinilainya, banyak permasalahan negara yang belum terselesaikan selama ini karena tugas-tugas dari kementerian koordinasinya yang saling bersinggungan. Koordinasi yang selama ini berjalan ternyata di lapangan tidak berjalan.

“Saya melihat ada beberapa permasalahan dari kepentingan yang satu dengan yang lain. Hal ini kemudian saya koordinasikan dan meminta kepada para menteri dan lembaga agar permasalahan yang ada bisa disinergikan dan menjadi solusi sesuai arahan Presiden. Sekat-sekat koordinasi yang tidak berjalan harus segera dikikis sehingga antar kementerian bisa langsung bersinergi,” ujar purnawirawan bintang empat ini.

Sebagai menteri yang menangani tiga bidang strategis, dirinya juga diharuskan konsen terhadap apa yang menjadi tugasnya agar tercipta stabilitas politik, kepastian dan ketegasan hukum, serta stabilitas keamanan.

Menyoroti bidang politik, Menkopolhukam fokus pada masalah politik luar negeri bebas dan aktif yang mengatur bagaimana bangsa ini berperan di kawasan sendiri maupun di dunia, untuk kepentingan nasional dan ketertiban dunia. Hal lain yang menjadi fokusnya adalah mewujudkan visi Presiden untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim. Untuk itu, ia akan berkoordinasi dengan kementerian-kementerian yang terkait dalam pelaksanaannya di bawah koordinasi Menkopolhukam.

Menkopolhukam-biskom-2“Posisi geografis Indonesia terletak pada posisi yang strategis, sehingga kita harus berperan di dalam mengoperasikan laut, udara dan lain sebagainya untuk mendapatkan pengakuan internasional. Meski pengakuan itu sudah ada, namun dalam implementasinya masih banyak kendala. Padahal untuk mengawal poros maritime, saya rasa kekuatan yang ada sudah cukup memadai,” jelas Tedjo yang menamatkan pendidikan militernya di Akademi Angkatan Laut tahun 1975 ini.

Untuk menuju negara maritim yang berdaulat, keamananan laut pun mulai diperkuat dengan membentuk Indonesia Coast Guard. “Coast Guard atau Badan Kemanan Laut (Bakamla) ini merupakan pengganti dari Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla). Selama ini ada sekitar 13 instansi yang turun ke laut dengan tugas yang hampir-hampir sama, sehingga menyebabkan sering terjadinya tumpang tindih kewenangan. Tetapi dengan dibentuknya Bakamla, tidak akan terjadi lagi tumpang-tindih dalam pengamanan laut karena semuanya akan disatukan,” lanjutnya.

Memperhatikan perkembangan jaman yang semakin tinggi, pemanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam berbagai bidang, termasuk dalam menjaga keamanan nasional, juga menjadi perhatian besar bagi Menkopolhukam. Saat ini, ia tengah mewaspadai serangan-serangan dalam dunia maya atau cyber attack. “Cyber security merupakan hal yang sangat perlu dan mendesak untuk disikapi. Jangan sampai serangan cyber terlanjur terjadi, kemudian baru dibentuk tim keamanan cyber,” tandas Tedjo yang sebelumnya memiliki pengalaman berdinas di Satuan Udara selama 14 tahun.

Hal-hal yang perlu diwaspadai dari serangan cyber ini, paparnya, juga akan menyerang wilayah critical infrastructure dan government. Bila hal ini terjadi bisa saja mematikan listrik negara sehingga menghentikan laju perekonomian negara.

Lebih lanjut, berikut ini petikan wawancara BISKOM dengan Menkopolhukam, Tedjo Edhy Purdijatno yang dalam karirnya banyak menerima berbagai penghargaan dari dalam maupun luar negeri, seperti Bintang Dharma, Bintang Yudha Dharma Pratama, Satya Lencana Dharma Nusa, Pingat Jasa Gemilang dari Singapura, Grand Cross Knight to the Order of Crown of Thailand dari Kerajaan Thailand dan Panglima Gagah Angkatan Tentra dari Kerajan Malaysia.

Citra hukum di mata masyarakat terus diuji. Bagaimana cara Anda membenahi dan menegakkan  hukum yang memberikan efek jera kepada masyarakat?
Berbicara tentang hukum itu sesungguhnya bukan hanya kepada sisi penegakkan hukumnya saja, melainkan lebih kepada esensinya, yakni menjadi pedoman bersikap dan bertindak. Hal itu membutuhkan upaya untuk membangun kesadaran hukum masyarakat dengan cara penyebaran informasi produk-produk hukum, berikut sosialisasi, pemahamannya dan penegakkan hukum yang tidak sewenang-wenang.

Sebagai mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut periode 2008-2009, Anda tentu sudah ahli di bidang keamanan negara. Hal apa yang tengah dipersiapkan untuk menjaga pertahanan yang komprehensif baik di laut, udara maupun di darat?  
Pada dasarnya hal itu sudah ada dalam kebijakan pertahanan nasional. Tampaknya yang perlu lebih dikembangkan lagi adalah hal-hal yang terkait dengan cybercrime, cyber security, dan cyber defence. Hal ini penting, bila melihat serangan-serangan cyber yang sudah menyasar banyak negara telah menimbulkan dampak yang luar biasa terhadap kestabiltasan negara.

Kasus Edward Snowden yang membocorkan pimpinan negara kita disadap merupakan salah satu pembelajaran, agar keamanan informasi harus mendapatkan perhatian khusus.

Bagaimana cara Kemkopolhukam dalam mempersiapkan keamanan cyber ini?
Saat ini kami sudah mempunyai Desk Cyber di bawah pengawasan Deputi VII. Desk Cyber ini sebetulnya baru berjalan bulan April 2014 yang timnya terdiri dari internal dan berbagai stakeholder, seperti pakar TIK, komunitas, akademisi dan bahkan white-hackers (certified). Saat ini masih dalam tahap koordinasi hal-hal apa saja yang harus dikerjakan dalam menghadapi serangan-serangan cyber. Perangkat yang kami miliki saat ini sudah cukup memadai, tetapi akan terus ditingkatkan dan diharapkan Desk Cyber ini nantinya bisa menjadi suatu badan yang memiliki kewenangan strategis.

Siapkah Indonesia menghadapi cyber war yang diisukan akan terjadi dalam skala besar?  
Semua serangan termonitor, tetapi jelas bukan hal yang mudah menghadapi serangan ini. Namun tidak ada cerita tidak siap, harus senantiasa peka dan siaga. Oleh sebab itu dalam waktu dekat diupayakan terbentuk badan yang menangani masalah ketahanan informasi dan keamanan komunikasi kita.

Di sini, Desk Cyber bisa menjadi cikal bakal terbentuknya badan cyber nasional. Ini bukan hal yang tidak mungkin, karena dulu pun Badan Nasional Penangulangan Terorisme (BNPT) berawal dari sebuah desk. Tetapi tentu saja, Kemkopolhukam tidak bisa berjalan sendiri untuk  menentukan kebijakan-kebijakan terkait cyber war. Ada instansi-instansi terkait yang perlu memberikan masukan-masukan.

Menkopolhukam-biskom-1Presiden saat ini juga tengah mencari Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Seperti apakah sosok ideal dan kecakapan yang harus dimiliki untuk menjadi Kepala BIN mendatang?  
Data intelijen itu harus akurat sehingga data yang masuk ke Presiden haruslah data yang sudah matang. Untuk itu dicarilah Kepala BIN yang bisa melaksanakan itu semua sekaligus dapat mengolah berbagai informasi intelijen untuk menjadi masukan Presiden dengan klasifikasi A. Jangan sampai Presiden mengambil kebijakan yang salah karena data yang dari BIN tidak akurat.

Teknologi tentunya memiliki dampak negatif juga. Sudah banyak anak-anak bangsa yang menjadi korban dari maraknya penggunaan sosial media. Apa himbauan Anda untuk menekan resiko negatif dari TI?
Menurut saya, kesadaran hukum masyarakat harus senantiasa ditingkatkan, selain upaya penegakkan hukumnya. Lebih dari itu, bangsa Indonesia harus selalu meningkatkan national character building-nya dan menjaga serta membanggakan identitas bangsa Indonesia.

Seperti di dunia nyata, kita juga menghadapi kejahatan yang sama di dunia maya, seperti perjudian online, penjualan narkotika, anak dan perempuan secara online, bullying, pemerkosaan dan pembunuhan serta lain sebagainya. Apa saja cara yang akan Anda tempuh untuk menghadapi kasus-kasus ini?
Langkah utama yang perlu dilakukan adalah dengan memadukan koordinasi untuk mencegah, melakukan pemulihan atau menangani respon, insiden, serta penindakan hukum secara lebih terpadu dan komprehensif.

Dan bagaimana pula teknologi akan berkembang dengan gaya kepemimpinan Bapak Joko Widodo  yang selama ini selalu mengedepankan isu perkembangan teknologi?
Insyaallah akan membaik, namun semua itu kembali kepada kesadaran kolektif kita semua. Kepemimpinan tentunya menjadi pemicu untuk semuanya.

Presiden Jokowi mengamanatkan Menteri untuk segera bekerja. Apakah Anda siap untuk melakukan percepatan kerja untuk lima tahun mendatang? Bagaimana Anda membentuk staf yang tangguh di Kementerian?  
Pastinya siap! Hal ini sudah merupakan konsekwensi untuk berani mengemban tugas dan kewenangan. Untuk membentuk staf yang tangguh, peningkatan kapasitas pengetahuan dan skill selayaknya akan selalu menjadi perhatian kami.

Apakah Anda juga akan melakukan gaya blusukan Pak Jokowi dalam bekerja?
Banyak hal yang akan kami lakukan nanti. Beberapa waktu lalu juga sudah melakukan blusukan dengan memanfaatkan TI melalui video conference tetapi tetap perlu dilakukan turun ke lapangan langsung agar mengetahui kondisi real-nya. Sebagai Menko, saya melihat kementerian teknis bergerak dahulu untuk mengetahui hambatan atau kendalanya di lapangan. Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan laporan Badan Narkotika Nasional (BNN) ada ketidak seragaman dengan Polri berkenaan dengan pengedar atau pengguna narkoba. Satu mengatakan dihukum bagi pengguna, yang satu lagi mengatakan harus direhabilitasi. Inilah yang kami selesaikan sehingga tidak terjadi dualisme pemahaman.

Sebetulnya masih banyak hal yang belum sinergi, seperti misalnya di Selat Malaka pihak Angkatan Laut membangun 12 radar pantai, begitu pula dari Perhubungan Laut serta Kementerian Kelautan dan Perikanan juga membangun radar yang sama di sana. Padahal teknologi dan perangkat yang digunakan juga sama. Kenapa tidak dipergunakan secara bersama-sama saja sehingga lebih hemat dan anggaran? Dana yang tadinya untuk membeli radar bisa digunakan untuk hal bermanfaat lainnya.

Apa kendala yang dihadapi dalam mengkoordinasikan kementerian dan kelembagaan yang ada?
Selama ini tidak ada kendala. Saya melihat semangat para menteri-menteri Kabinet Kerja ini untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada, sangat luar biasa. Kami ingin berbuat sesuatu yang baik bagi bangsa dan negara. Saya kira tidak terlalu sulit untuk itu, tinggal mengatur saja.
Dan bagusnya, para menteri melakukan koordinasi pertama di Menkopolhukam sehingga kami bisa lebih cepat bekerja. Nanti yang kedua bisa juga di Kementerian Pertahanan, berikutnya Kementerian Dalam Negeri dan seterusnya. Hal ini agar saling mengenal, memahami persoalan dan mencari solusinya dengan segera.

Mudah-mudahan dengan koordinasi yang dilakukan efektif bisa menyelesaikan semua masalah bangsa yang ada. •Hoky/ANDRI/TAUFIK (foto)

Arikel Terkait:

SPRI Surati Kepala Daerah dan Menteri Terkait UKW dan Verifikasi Media

MARSDA TNI AGUS BARNAS: Negara Perlu Badan Khusus Keamanan Cyber

Kongres Pers Indonesia 2019 Berjalan Sukses dan telah terbentuk Dewan Pers Indonesia

Disahkan Kemenkumham, LSP Pers Indonesia Jawaban Keresahan Wartawan Soal UKW

HP SPROUT, PC AIO Dengan Proyektor 3D

0

HP SPROUT-2GEBRAKAN canggih baru saja dikenalkan Hewlett Packard (HP). Berupa PC Desktop All-in One (AIO), perangkat ini bukan hanya sekedar menyatukan mesin dalam satu tubuh monitor, namun juga mengemas proyektor keyboard yang bisa mengubah touchpad menjadi layar interaktif.

Diberi nama HP Sprout, PC desktop ini memiliki dimensi layar 23 inci yang mendukung resolusi Full HD 1080p dengan kanopi kamera dan proyektor yang akan menampilkan keyboard digital pada area touchpad. Dengan kata lain, HP Sprout tidak dilengkapi keyboard dan mouse.

Sebagai penggantinya, HP telah menyediakan sebuah workmat atau permukaan khusus interaktif di lokasi keyboard. Permukaan ini mampu merespon 20 titik jari secara bersamaan dengan dukungan beragam perintah gestur seperti mencubit atau menyapu layar. Mengingat ini adalah inovasi baru, pengguna mungkin harus melakukan adaptasi dahulu untuk mengoperasikan perangkat ini secara virtual melalui layar sentuh atau workmat yang ada.

Tidak hanya berfungsi untuk menampilkan keyboard dari kamera proyektor yang ada, area touchpad ini juga bisa digunakan sebagai alat scanning dokumen. Bahkan, area tersebut juga bisa dimanfaatkan sebagai pengganti mouse untuk navigasi menu yang ada di layar.

HP Sprout-1Di balik proyektornya, terdapat teknologi HP Illuminator dan Intel 3D RealSense. Selain itu, tersedia juga sebuah kamera beresolusi 14.6 megapiksel dan lampu LED. Dengan dukungan teknologi 3D RealSense, kamera tersebut dapat digunakan untuk memindai objek secara 2 dimensi atau 3 dimensi. Caranya, taruh objek yang ingin dipindai di atas workmat kemudian jalankan aplikasi pindai. Dengan segera hasilnya kemudian akan muncul di layar atau workmat dan bisa langsung dimanipulasi di layar atau di workmat dengan bantuan aplikasi khusus.

Bukan hanya mampu memindai objek secara 3D, HP Sprout juga mampu diandalkan sebagai mesin hiburan seperti untuk menikmati konten multimedia hingga bermain game. Untuk mengakomodir seluruh tugas yang dilakukannya ini HP Sprout ditenagai oleh prosesor Intel generasi ke-empat Core i7-4790S, besaran RAM 8GB yang bisa diekspansi hingga maximum 16GB, dan memiliki ruang penyimpanan SSD berkapasitas 1TB. Sementara sektor grafisnya dipercayakan pada chip grafis HD 4600.

Selain Grafis Intel HD, HP Sprout juga mengintegrasikan VGA Card dari Nvidia seri GeForce GT745A dengan memori RAM sebesar 8GB dan penyimpanan internal jenis HDD SATA sebesar 1TB serta jenis solid state Drive (SSD) sebesar 6GB.

PC Desktop yang telah resmi diperkenalkan di Manhattan, Amerika ini dibanderol dengan kiraan harga US$ 1.899 atau sekira Rp.23 jutaan. Hingga saat ini belum ada informasi resmi kapan produk ini akan tersedia di Indonesia. •

Bootcamp APICTA, Tingkatkan Kemampuan Presentasi Produk TI

0

Apicta-biskom-1MENJELANG pagelaran tahunan Asia Pacific Information and Communication Technology Alliance (APICTA) Award 2014, para nominator Indonesia yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, perusahaan maupun government mulai mempersiapkan diri di bootcamp APICTA 2014 yang berlangsung selama tiga hari, 24-26 November 2014, di Hotel Amaroossa Grande Bekasi, Jawa Barat.

Dalam bootcamp APICTA ini, para peserta yang merupakan para jawara dalam ajang Indonesia ICT Award (INAICTA) 2014 dan juga lembaga atau perusahaan terpilih mulai melakukan berbagai pelatihan untuk mempresentasikan karyanya di bidang teknologi informasi (TI). Asosiasi Piranti Lunak Telematika Indonesia (Aspiluki) selaku penyelenggara bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) dan Federasi Teknologi Informasi Indonesia (FTII) memfokuskan pelatihan untuk lebih mematangkan ke 24 tim yang ada agar lebih siap menghadapi kompetisi APICTA.

“Melalui pelatihan ini kami akan dapat melihat apa saja kelemahan dan kekuatan dari masing-masing tim. Para mentor akan memberikan penilaian dan mengarahkan untuk memperbaiki segala kekurangan yang ada. Intinya, kami ingin para peserta bisa membuat presentasi yang impresif dalam menjelaskan produk aplikasinya, konsep dan cara berkomunikasi sehingga juri interest dan memberi nilai yang baik nantinya,” ujar Djarot Subianto, Chairman Aspiluki, di Bekasi (25/11).

Apicta-biskom-2Ketua Umum FTII, Sylvia Sumarlin menambahkan, presentasi selalu menjadi kendala para tim dari Indonesia untuk menang dalam setiap mengikuti APICTA. Hal ini bisa disebabkan karena gugup, urutan slidenya tidak menarik maupun karena bahasa yang tidak dikuasainya sehingga semakin sulit terdengar. “Jadi fokus kami dalam bootcamp ini selain memperbaiki aplikasinya sendiri tetapi lebih kepada presentasi yang difokuskan untuk diperbaiki,” papar Sylvia.

APICTA Award yang akan berlangsung pada 27-30 November 2014 di Jakarta, akan diikuti 17 negara, yaitu Australia, Brunei Darussalam, China Taipei, Hong Kong, India, Korea, Macau, Malaysia, Myanmar, Pakistan, Republik Rakyat Cina, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Thailand, Vietnam dan termasuk Indonesia yang turut serta dalam 11 kategori dari 17 kategori yang perlombakan.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kemkominfo, Bambang Heru Tjahjono menyebutkan, ajang APICTA Award merupakan kesempatan bagi karya-karya anak bangsa di bidang TIK untuk bisa bersaing dan dipasarkan tidak hanya dalam kawasan Asia Pacifik saja namun juga dalam skala global nantinya. “Untuk para mentor, saya harapkan dapat memberikan dan membagikan pengalaman-penglaman, best practice dan tips bagi peserta bootcamp 2014 ini,” ucapnya.

Para mentor yang terdiri dari industri dan komunitas, menurut Bambang, memegang peranan penting dalam membangun ekosisitem inovasi dan kreativitas. Diharapkan, ajang ini bisa terus mendorong pengembangan inovasi, kreativitas dan kemampuan pengembangan TI di kalangan anak muda semenjak dini, sekaligus membimbing peserta agar memilki jiwa digitalpreneur melalui kompetisi-kompetisi yang sehat, imbang dan dinamis.

APICTA Award 2014 didukung oleh BISKOM sebagai media partner. •ANDRI/TAUFIK (foto)

Teknologi Citrix Mungkinkan Pengguna Bekerja di Manapun

0

CitrixMENINGKATNYA tren konsumerisasi teknologi informasi (TI) dewasa ini mengubah cara orang-orang dalam hal berbisnis. Saat ini, pengguna tidak terpaku pada satu lokasi begitu juga dengan pertukaran data yang semakin cepat dan besar.

Menjawab tantangan tersebut, Citrix menghadirkan solusi Mobile Workspace Suite yang diklaim memungkinkan karyawan bekerja dari mana saja secara mudah dan aman.

Mobile Workspace merupakan solusi mobility terbaru yang ditawarkan Citrix bagi enterprise. Solusi itu menggabungkan berbagai solusi yang dipergunakan oleh enterprise untuk mengakses apps, desktop, data dan service dari berbagai perangkat yang terhubung dalam berbagai jaringan. Solusi ini juga bisa berjalan di berbagai platform diantara nya Android, iOs dan dan Windows.

Hans A. Utomo, Country Sales Manager Citrix Indonesia mengatakan (25/11), “Dengan hadirnya solusi ini, perusahaan tidak perlu khawatir mengenai masalah keamanan, karena menggunakan server dari perusahaan dan pihak perusahaan yang memiliki akses penuh terhadap server tersebut. Jika device pengguna hilang, data perusahaan akan tetap aman karena disimpan di dalam data center tersebut.”

Kelebihan dari solusi Workspace Suite adalah performa tinggi dalam hal transfer data baik itu sedang dalam bandwith kecil maupun besar, rencana nya pada kuartal pertama tahun 2015, Citrix pun akan menambahkan fitur baru pada solusi mereka ini. Fitur yang menggunakan teknologi dari NASA tersebut akan memungkinkan pengguna mentransfer data dengan cepat walaupun berada pada jaringan 2,5 G.

SaveMax Super Grosir menjadi salah satu pengguna dari Citrix Mobile Workspace mengaku puas dan sangat terbantu dalam hal operasional kerja. Mereka juga mengatakan sangat mudah dalam pengimplementasian solusi ini, Save Max pun hanya membutuhkan waktu 2 bulan saja. •ARIE

ICSS: Mendesak, Indonesia Perlu Lembaga Cyber Security

0

ICSSBADAN Telekomunikasi PBB menyatakan bahwa perang dunia III bisa terjadi di dunia maya. Karenanya, negara-negara di dunia diminta untuk waspada dan membekali diri dengan sistem pertahanan yang mumpuni.

Dalam rangka mengevaluasi sistem cyber security Indonesia, Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) pun menyelenggarakan acara Indonesia Cyber Security Summit (ICSS) di Hotel Hyatt, Jakarta, 24 November 2014. ICSS adalah yang pertama kali diadakan di Indonesia.

Meskipun masalah cyber security Indonesia masih di level invansi atau level awal, namun kesadaran tentang cyber security belum ada. Sehingga Mastel mendesak pemerintah untuk sebuah lembaga nasional khusus cyber yang mengkoordinir lembaga cyber di Kementerian. Lembaga tersebut nantinya harus mampu mengidentifikasi dan bertanggung jawab terhadap masalah cyber security system dalam sebuah negara, sebab ancaman besar bisa datang kapan saja.

ICSS-1Ketua Mastel, Setyanto P. Santosa mengatakan, “Kita belum mengidentifikasi kementerian mana yang harus bertanggung jawab terhadap masalah ini. Belum tentu ke Kemkominfo karena mereka juga harus menguasai masalah perbankan. Idealnya sebenarnya di bawah presiden langsung.”

Ia menambahan, serangan cyber saat ini menjadi ancaman bagi semua industri di Indonesia, baik perbankan, migas, militer, media dan bahkan pemerintah. Oleh sebab itu masalah ini harus mendapat perhatian baik dari pemerintah, swasta, akademisi dan semua pihak yang ada di Indonesia.

ICSS-3I Wayan Budiastra, Staf Senior dari Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada kesempatan tersebut menyampaikan, teknologi informasi (TI) memberikan dampak yang luar biasa bagi kehidupan manusia. Meski demikian, TI harus memiliki moral hazzard yang harus dibenahi.

“Di samping memberikan kemudahan bagi manusia, TI mempunyai ancaman yang berdampak pada kehidupan sosial manusia,” papar Wayan. Contohnya adalah cyber threat yang berpotensi mencuri data rahasia di industri, mengancam kedaulatan negara melalui cyber spionage dan pencemaran nama baik melalui media sosial.

ICSS-5Ia menyampaikan bahwa Menristekdikti, Muhammad Nasir berharap, pertemuan ini harus memberikan rekomendasi yang positif bagi pemerintah Indonesia.

Dirjen Aplikasi dan Informatika Kemkominfo, Bambang Heru Tjahjono dalam summit ini memberikan pemaparan tentang Ensuring The Safety and Security of The National Cyber Space. Ia menjelaskan bahwa berdasarkan laporan dari Symantec, Indonesia masuk sepuluh besar dalam kejahatan cyber. Berdasarkan laporan dari Kedubes Amerika Serikat di Jakarta, Indonesia memiliki lima vulnerability yaitu malware, phising dan spam, mobile threat, social media dan hacktivism. Sedangkan insiden cyber yang sering terjadi adalah web defacement. “Berdasarkan agenda Indonesia Global Cyber Security, cyber security pada intinya lebih luas daripada cyber crime. Hal ini dikarenakan aktor dan kasus yang terjadi juga jauh lebih luas.”

ICSS-2

1. Foto bersama di acara ICCS 2014

 

Dalam pemaparannya, Bambang menekankan bahwa Indonesia harus memiliki sertifikasi standar nasional yang berbasis keamanan. Produk-produk berbasis internet, misalnya, harus tersertifikasi standar keamanan informasinya. Menrutnya, aspek manajemen risiko juga harus disosialisasikan di seluruh lembaga pemerintahan. Karena manajemen risiko adalah bagian dari governance. •M. TAUFIK (foto)

Indonesia Raih Juara 1 World Robot Olympiad 2014 di Rusia

0

World Robot Olympiad 2014-2KEMAMPUAN anak muda Indonesia di bidang robotik tidak perlu diragukan lagi. Terbukti, di ajang World Robot Olympiad (WRO) 2014,  Indonesia berhasil menyabet juara ke 1 mengalahkan 48 negara lainnyadi seluruh dunia.

World Robot Olympiad (WRO) 2014 merupakan kompetisi robotik tahunan ke-11 yang diikuti oleh ± 360 tim dari 48 negara di seluruh dunia. Dalam kesempatan ini, Indonesia mengirimkan 6 tim untuk mengikuti WRO 2014 yang di selenggarakan di Sochi-Rusia pada tanggal 21 – 23 November 2014. Ke-6 tim ini merupkan tim terbaik yang telah lolos melalui seleksi dalam ajang Indonesian Robotic Olympiad (IRO) 2014 yang diselenggarakan oleh Mikrobot pada tanggal 6 September 2014 di Jakarta.

Tim yang menjadi delegasi Indonesia dalam kompetisi WRO 2014, diantaranya adalah kategori Elementary NH-IICS (Michael Sutanto dan Natasha Emanuelle Utama), Kategori Junior yaitu Tim Garuda 1 (Steven Mahasin, Kenneth Rusli dan Jonathan Russel) dan Tim IICS-Tunas Muda (Arya Nagatama Giat dan Brian Putra). Kategori Senior (Jimmy Chang liong, Stefany Muliadji, Anthony Muliaji), Kategori Robot Soccer (Immanuel Andrew Suryowidagdo, Immanuel William Suryowidagdo) dan untuk Kategori Open (Anindhito Irmandharu, Adhitya Oktaviandra dan Windu Nur Hardiranto)

World Robot Olympiad 2014-1Pada babak penyisihan yang di adakan di hari pertama (22 November 2014), 3 tim dari Indonesia berhasil lolos ke babak eleminasi dan berkesempatan untuk bertanding di hari ke 2 (23 November 2014) untuk menentukan pemenang pada kategori masing-masing.

Hasil final akhirnya di umumkan pada tgl 23 November 2014, dan Tim NH-IICS dari Indonesia yang beranggotakan Michael Sutanto dan Natasha Emanuelle Utama berhasil meraih juara pertama pada kategori regular tingkat SD di kompetisi World Robot Olympiad (WRO) 2014.

Menjadi satu-satunya tim yang mewakili Indonesia pada kategori SD, tim NH-IICS berhasil mengumpulkan nilai sempurna dan meraih waktu tercepat. Aaron Kurniawan, pelatih tim NH-IICS mengatakan, prestasi ini merupakan hasil latihan dan kerja keras yang ditempuh selama 1 tahun.

Acara WRO 2014 ini juga di hadiri oleh Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus, Djauhari Oratmangun. Ia mengatakan “Dengan menang di Indonesia luar biasa, karena itu wakili ke dunia. Hidup Indonesia”.

Ungkapan tersebut cukup menjadi motivasi bagi tim Indonesia untuk dapat meraih juara dan menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia juga dapat di jadikan sebagai negara yang memiliki daya saing tingkat dunia. •

MARSDA TNI AGUS BARNAS: Negara Perlu Badan Khusus Keamanan Cyber

0
Marsda TNI Agus Barnas, Deputi VII Menko Polhukam Bidang Koordinasi Komunikasi, Informasi, dan Aparatur (Kominfotur) dan Soegiharto Santoso Pimpinan Umum BISKOM.

Jakarta, BISKOM – Untuk menangkal serangan di dunia cyber yang dapat mengganggu kedaulatan dan pertahanan negara, Indonesia perlu segera membentuk satuan khusus tentara cyber.

TINGKAT kejahatan di dunia maya atau cyber crime di Indonesia sudah mencapai tahap memprihatinkan. Bukan tidak jarang, ada perusahaan yang sistem informasinya mendapat serangan dari hacker sehingga tidak berfungsi. Akibatnya, perusahaan mengalami kerugian hingga miliaran.

Begitupun, cukup banyak laporan masyarakat yang menjadi korban penipuan online, bahkan pemerintahan berkali-kali mendapatkan ancaman atau teror yang berpotensi merusak keamanan negara. Melihat kondisi tersebut, sudah saatnya pemerintah mengantisipasi permasalahan cyber security dengan menerapkan organisasi security yang end to end dan dipimpin langsung oleh Presiden. Organisasi security ini nantinya melibatkan multi departemen, mulai dari Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Kementerian Pertahanan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, hingga stakeholder terkait lainnya.

Marsda TNI Agus Barnas, Deputi VII Menko Polhukam Bidang Koordinasi Komunikasi, Informasi, dan Aparatur (Kominfotur) kepada BISKOM (13/11) mengatakan, “Perlu dibentuk badan khusus bahkan badan tersendiri yang dipimpin langsung oleh Presiden, seperti yang sudah dilakukan Amerika Serikat, China, Australia, dan Israel.”

Berbicara soal keamanan sekarang ini, lanjut Agus, bukan soal keamanan sosial atau ekonomi semata, sudah harus dipikirkan pula tentang keamanan cyber. “Jika kita harus mulai mempersiapkan badan atau satuan khusus dari sekarang. Sebenarnya sejak April 2014 kita sudah membentuk suatu desk ketahanan informasi. Desk inilah yang nantinya akan menjadi cikal bakal badan tersebut,” ungkap Agus.
Berikut kutipan wawancara BISKOM selengkapya.

Bisa diceritakan lebih lanjut mengenai konsep cyber security yang ditawarkan Menko Polhukam?
Sebenarnya sejak April 2014, kami sudah membentuk sebuah desk ketahanan informasi yang disebut Center of Cyber yang mengacu pada Permenko Polhukam yang menilai Menko Polhukam perlu mengkordinir semua stakeholder terkait ketahanan cyber.

Keanggotaan desk ini pun ada beberapa stakeholder, seperti Federasi Teknologi Informasi Indonesia (FTII), Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), Pengelola Nama Domain Indonesia (Pandi), Masyarakat Telematika (Mastel), serta kalangan bisnis dan akademisi yang menyadari bahwa sudah saatnya kita memiliki suatu organisasi yang mampu mengkoordinir masalah ketanahan cyber nasional. Pemikiran ini juga merupakan hasil seminar dan kajian panjang, baik di lembaga pemerintahan maupun perguruan tinggi.

Bagaimana koordinasi keamanan antar kementerian di bawah Kemenko Polhukam sejauh ini?
Setiap hari kami berkoordinasi terkait keamanan. Misalnya dengan Kemenkominfo setiap saat kami berkomunikasi dengan semua Dirjen atau Sekjen terkait seperti Direktorat Jenderal (Ditjen) Informasi dan Komunikasi Publik (IKP), Ditjen Penyiaran (PPI), atau Ditjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI), juga dengan semua pemangku kepentingan lainnya seperti Kementrian Luar Negeri (Kemenlu), Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN dan RB), Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (Kemenkum HAM).

Di Kemenko Polhukam sendiri, kami terus berkoordinasi dengan Sekretariat Menko Polhukam (Sesmenko Polhukam), dan Kepala Pelaksana Harian Badan Koordinasi Keamanan Laut (Kalkhar Bakorkamla). Sedangkan di Deputi VII Polhukam, kami menangani masalah komunikasi, informasi publik yang berkaitan dengan teknologi informasi, dan aparatur pemerintah.

Bagaimana kondisi keamanan cyber kita saat ini?
Kondisinya di negara kita sendiri, budaya masyarakat kita tampaknya belum mengikuti perkembangan teknologi informasi (TI), terutama masalah etika, seperti soal pencemaran nama baik lewat media sosial, sehingga hukum, budaya dan etika kita harus disesuaikan, perlu di-update sesuai kemajuan TI.

Dari sisi penanganan keamanan cyber, kita masih berjalan dengan baik. Akan tetapi, negara kita masih begitu rawan terhadap gangguan keamanan cyber. Artinya, kita jangan menunggu sampai terjadi suatu gangguan keamanan cyber, baru kita bereaksi. Sebab paradigma perang sekarang bukan lagi phisycal contact, tapi sudah mulai bergeser ke perang cyber.

Bisa disebutkan contoh-contoh perang dunia maya atau cyber warfare di dunia, sehingga kita perlu waspada terhadap serangan cyber?
Pernah terjadi di Eropa Timur yang distribusi listriknya diatur oleh TI sedemikian rupa, tapi tiba-tiba di-hack dan sempat jebol. Begitu pula di Ukraina sebelum Rusia menyerang dengan operasi militer secara fisik ke Ukraina, yang diserang terlebih dahulu oleh Rusia adalah keamanan cyber Ukraina oleh para hacker.

Koneksi internet Korea Selatan juga sempat diputus selama 20 hari karena ada serangan dari hackers sehingga roda perekonomian, bursa saham, distribusi bahan bakar pangan semuanya kacau.  Hal-hal seperti ini lah yag harus kita lindungi. Kita harus tahan terhadap ancaman-ancaman cyber. Karena itu kita mulai menjalin kerjasama dengan Korea, Amerika, Belanda, untuk belajar, bertukar informasi dan pengetahuan karena semua negara menghadapi masalah dan ancaman serupa dan perlu membangun ketahanan cyber dan menjaga keamanan cyber.

Apakah sudah ada regulasi yang mendukung pembentukan cyber defence dan cyber army?
Sebetulnya kami sudah menyiapkan suatu rancangan regulasi yang akan kami serahkan ke pemerintah. Termasuk naskah akademiknya tentang kenapa kami menyarankan negara perlu membentuk badan yang khusus menangani keamanan cyber ini. Tentunya kita juga perlu payung hukum untuk badan tersebut nantinya.

Kami juga sudah mempersiapkan produk kajian yang menyarankan pentingnya dibentuk suatu badan atau organisasi di bawah kementerian yang khusus menangani keamanan cyber nasional. Memang, produk hukum yang ada saat ini agak ketinggalan dibanding dengan kemajuan TI, seperti pengaturan penggunaan frekuensi, dalam Undang-undang Informasi dan Transaski Elektronik (UU ITE) terkait cyber crime juga ada pasal yang perlu direvisi lagi untuk mengikuti perkembangan TI yang begitu pesat.1. Foto Bersama

Selain regulasi, peningkatan dan penambahan SDM cyber defence atau cyber army dengan membekali soft power dan smart power, apa lagi sarana prasarana penunjang untuk cyber defence ini? Misalnya dari sisi hardware, seperti halnya pembelian satelit?
Memang sudah saatnya Indonesia punya sistem sendiri yang bisa menangkal ancaman cyber dari luar maupun dalam, khususnya terhadap institusi penting dan strategis, apakah bentuknya nanti semacam badan koordinasi keamanan dan lain sebagainya. Sudah saatnya juga kita punya satu perangkat seperti super komputer maupun satelit dan suatu ruang yang bisa memonitor ancaman tersebut.

Jadi memang, perlu suatu badan yang melindungi kepentingan nasional dari ancaman yang berpotensi mengganggu cyberspace kita. Sebab ketahanan cyber merupakan bagian penting dalam kehidupan kita, bukan lagi sekadar ketahanan energi, pangan, dan air.

Kapan kira-kira badan khusus keamanan cyber itu bisa diwujudkan?
Kami berharap tahun 2015 sudah ada pemikiran ke situ. Kami sudah berikan informasi ke instansi-instansi terkait seperti Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Memang ini masih perlu kajian lebih lanjut, misalnya apakah nanti badannya masih menempel di Kemenko Polhukan seperti Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) atau badan khusus bahkan badan tersendiri yang dipimpin langsung oleh presiden, seperti yang sudah dilakukan Amerika Serikat, China, Australia, dan Israel.

Sebab bagaimana pun, seiring perkembangan teknologi yang begitu pesat, perlu suatu badan institusi di bawah satu kementerian. Sebab berbicara soal keamanan sekarang ini bukan soal keamanan sosial atau ekonomi saja, sudah harus dipikirkan tentang keamanan cyber. Sehingga jika kita mulai siapkan badan khusus dari sekarang, mulai 2015 bisa jadi sudah ada suatu badan atau wadah atau desk atau unit khusus keamanan cyber. Desk inilah yang nantinya akan menjadi cikal bakal badan tersebut. • Hoky/ANDRI/M. TAUFIK (foto)

Arikel Terkait:

Tedjo Edhy Purdijatno: Koordinasi Selesaikan Masalah Bangsa

Kongres Pers Indonesia 2019 Berjalan Sukses dan telah terbentuk Dewan Pers Indonesia

Disahkan Kemenkumham, LSP Pers Indonesia Jawaban Keresahan Wartawan Soal UKW

Harry K. Nugraha, Country Manager Baru Intel Indonesia

0

Harry K Nugraha-biskomINTEL mengumumkan pengangkatan Harry K. Nugraha sebagai Country Manager Intel Indonesia yang baru, menggantikan Santhosh Viswanathan, pemimpin sebelumnya. Harry akan bertanggung jawab dalam mengelola keseluruhan operasional dan pertumbuhan bisnis Intel yang melalui saluran distribusi, OEMs lokal dan perusahaan multinasional di Indonesia.

Sebagai pemimpin baru Intel Indonesia, Harry akan fokus dalam memperluas kemitraan yang strategis dengan pemerintah dan pebisnis di bidang teknologi informasi (TI) untuk mempercepat adopsi teknologi Intel di Indonesia dan mendorong perluasan pasar untuk menumbuhkan potensi pasar lokal.

“Indonesia adalah negara yang memiliki potensi besar di kawasan Asia Tengara. Saya yakin dibawah kepemimpinan Harry yang memiliki pengetahuan lokal yang mendalam, bisnis Intel akan terus tumbuh dan berkembang. Tak hanya itu, ia akan membantu meningkatkan dan mempercepat adopsi teknologi pada semua sektor – antara lain sektor pemerintahan, edukasi, komersial, dan juga konsumen dalam menyampaikan misi Intel untuk mempermudah cara orang bekerja dan hidup melalui bantuan teknologi,” jelas Prakash Mallya, Managing Director Intel South East Asia melalui siaran pers kepada BISKOM hari ini (25/11).

Setelah diangkat untuk memimpin pasar terbesar di Asia Tenggara, Harry menjelaskan bahwa Indonesia lebih dari sekedar pasar bagi Intel. “Selama enam belas tahun terakhir, Intel telah melakukan pekerjaan yang besar di Indonesia. Kami berinvestasi secara signifikan di dunia TI untuk pendidikan, mempromosikan inovator muda, local developers, dan juga solution integrator community. Saat ini, Intel berkomitmen dan fokus untuk berkontribusi dalam mendorong inovasi lokal melalui TI,” kata Harry K. Nugraha.

Ia optimistis bahwa di bawah kepemimpinannya, Intel bisa mencapai misinya di Indonesia. “Intel percaya dengan menciptakan dan meningkatkan teknologi komputasi dapat menghubungkan dan meningkatkan kehidupan setiap orang di bumi. Dengan inovasi teknologi yang kami miliki secara luas mulai dari cloud solution, server, PC, notebook, tablets, dan smartphones, dan bahkan Internet of Things, kami yakin  bisa memenuhi ambisi kami sebagai pengendali inovasi di negara ini,” jelas Harry lebih jauh.

Bergabung dengan Intel Indonesia pada 2011, Harry memulai karirnya di tim pengembangan bisnis strategis di bidang telko, enterprise, embedded solution, perangkat lunak dan aplikasi.

Sebelum mendapatkan jabatan Country Manager, Harry menjabat sebagai Director Channel Sales untuk Indonesia. Harry menghabiskan waktu lebih dari 18 tahun dalam bekerja di berbagai perusahaan multinasional di bidang TI di Indonesia antara lain Astra Daihatsu, NEC, Ericsson, dan Qualcomm. Ia mempunyai gelar sarjana Teknik Mesin dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan juga mempunyai gelar pascasarjana MM/MBA dari Institut Pengembangan Manajemen Indonesia (IPMI). •

 

FETRA SYAHBANA: F5 Optimalkan Aplikasi Perusahaan

0

Aplikasi telah menjadi jantung dari sistem perusahaan, sehingga sangatlah penting bagi perusahaan untuk menjaga kinerja yang optimal, ketersediaan dan keamanan aplikasinya.

Fetra Syahbana-biskom-1ERA teknologi informasi (TI) mengharuskan sebuah perusahaan mampu menyediakan akses terhadap aplikasi dengan cepat, paling aman, dan dapat diandalkan kepada seluruh penggunanya kapanpun, dimanapun dan melalui perangkat apapun.

Country Manager F5 Indonesia, Fetra Syahbana menyebutkan, F5 Network sebagai pemimpin bidang Application Delivery Controller (ADC) atau Application Delivery Platform (ADP) selama 6 kuartal berturut-turut dapat memberikan kebutuhan ketiga faktor penting dari aplikasi yang harus dimiliki setiap perusahaan tersebut agar bisa melayani pelanggannya dengan baik.

“Bisa dibayangkan, ketika kita sedang mengakses sesuatu mengalami hambatan dengan kecepatan dalam mengakses aplikasi. Hal ini disebabkan tidak optimalnya kinerja aplikasi yang mengakibatkan menghambat aktifitas kita untuk menggunakan aplikasi tersebut. Belum lagi masalah ketersedian, ketika kita mengakses internet banking saat login dihadapkan oleh tulisan “Maaf sistem sedang tidak tersedia/sistem sedang down”, padahal mungkin saja servernya tidak mengalami masalah, tetapi karena hacker membanjiri akses tersebut dengan request palsu yang menyebabkan pengguna yang valid tidak bisa mengakses web tersebut,” papar Fetra yang telah berkecimpung di dunia TI lebih dari 22 tahun.

Selain kedua hal tersebut yang menjadi pusat perhatian banyak enterprise di dunia adalah keamanan. Namun disayangkannya, menurut pria lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, di Indonesia fokus teratas untuk TI enterprise bukan lah pada sektor keamanan. Padahal meningkatnya jumlah aplikasi di dalam sistem perusahaan akan berdampak pada keamanan sistem tersebut, baik dalam hal keamanan data maupun perangkat.

“Berbicara tentang keamanan, kami melihat kejahatan cyber menjadi semakin canggih dan lebih terencana melalui serangan distributed denial-of-services (DDoS), jaringan, dan akhir-akhir ini mereka juga menyerang lapisan aplikasi,” paparnya.

Untuk memperlengkapi kemampuan F5 dalam menyediakan perlindungan serta menanggulangi serangaan DDoS, F5 pun belum lama ini mengakuisisi Defense.Net yang merupakan sebuah perusahaan penyedia layanan keamanan berkapasitas tinggi berbasis Cloud yang melindungi pusat data dan aplikasi internet dari berbagai serangan DDoS.

Dengan demikian, F5 memilki solusi keamanan yang terpadu yang menyediakan skalabilitas dan intelijensi yang tidak dimiliki oleh vendor lain, baik untuk pusat data on-premise maupun berbasis Cloud. Dengan solusi keamanan ini, pelanggan akan terlindungi dari zero-day threats, menanggulangi serangan multilayer berbasis web, serta melindungi pelanggan dari ancaman penipuan, phising, pharming dan malware.

Simak petikan wawancara BISKOM dengan Fetra Syahbana yang memiliki tanggung jawab untuk mengelola serta mengembangkan pasar di Indonesia secara keseluruhan, dan memegang peranan penting untuk menjadikan F5 sebagai mitra strategis bagi seluruh pelanggannya.

Apa yang menyebabkan munculnya ADC/ADP?
Layanan yang selama ini kita dapatkan, dibentuk oleh suatu sistem yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak dan networking. Dalam mengakses website atau aplikasi perusahaan, pastinya kita sebagai pengguna tidak ingin dipusingkan oleh operasional dibalik sistem, yang pengguna inginkan adalah bisa mengakses aplikasi atau website tersebut dengan cepat, mudah, dari perangkat apapun, kapanpun, dan di manapun.

Ekspektasi ini tentu saja tidak semudah itu dipenuhi oleh tim di bagian jaringan atau operasional ketersediaan yang tinggi dan bandwitdh yang besar di dalam jaringan yang tentu saja memunculkan biaya yang tidak sedikit pula. Karena itu ekosistem sistem TI perusahaan harus bisa dioptimalkan untuk mengimbangi harapan dari pengguna dengan keadaan operasional sistem. Maka dari itu, F5 Networks berperan untuk mengoptimalkan ekosistem ini.

Fetra Syahbana-biskom-2Jadi apakah bisnis F5 Networks ini lebih ke keamanan atau jaringan?
Kami bermain di area trafik. Menurut Gartner, tugas dari ADP adalah memastikan bahwa apliakasi bisa diakses oleh orang yang berhak, dengan cepat, aman dan kapanpun bisa. Kami tidak bermain di area hardware, kami berada diatasnya. Hal ini disebabkan karena hardware adalah jembatan menuju aplikasi. Ibaratnya jembatan harus bisa menampung bandwidth yang banyak untuk bisa lewat dan mengakses aplikasi. Peran kami disini adalah untuk mengoptimalkan penggunaan aplikasi.

Lalu keamanan seperti apa yang diterapkan dalam ADC?
Berbicara tentang ADC dan security, tentunya kita harus mengaitkannya dengan model Open System Interconnection (OSI) layer 1-7 (physical, data link, network, transport, session, presentation dan application). Model OSI ini merupakan konsep yang menjadi standar bagi fungsi-fungsi internal yang terdapat di dalam sistem komunikasi, dengan cara membaginya ke dalam berbagai lapisan atau layers. Karena bermain di pasar ADC, dimana kami bermain di level di atas perangkat maka kami menyediakan layanan untuk lapisan 3-7.

Keuntungan dari F5 Networks adalah memiliki semua produk untuk melayani lapisan 3-7. Hal tentunya menjadi keuntungan tersendiri bagi perusahaan karena tidak harus berurusan dengan banyak pihak untuk mengurusi keamanan lapisan OSI 3-7. Secara sederhana, kami bisa membedah trafik yang masuk hingga level ke 7, sehingga pelanggan bisa mengontrol jaringan mereka.

Beberapa contoh produk yang kami miliki adalah Web Application Firewall (WAF), Apllication Firewall Module (AFM), Policy Enforce Module (PEM). Kesemua ini bertujuan agar pelanggan enterprise mampu memberikan pelayanan yang terbaik dengan aman kepada para pelangganya atau end-user.

Sektor industri apa yang paling rentan terserang keamanannya?
Tentunya Perbankan, alasannya sederhana, karena bank adalah tempat di mana uang disimpan. Untungnya aturan perbankan kita semakin membaik. Jika waktu-waktu lalu, sebuah bank belum bisa comply dengan aturan dari Bank Indonesia, maka bank tersebut diberi waktu 3-6 bulan untuk memperbaiki sistemnya. Bank yang tidak comply dengan regulasi maka akan diberi waktu hanya 3 bulan untuk menyesuaikannya. Selepas tenggat waktu itu, maka bank yang melanggar akan terkena penalti yang tidak sedikit.

Meskipun peraturan yang tegas ini berkesan seperti “memaksa” bank, namun yang diuntungkan adalah nasabah. Tetapi tidak hanya sektor perbankan, namun sektor lainnya juga menjadi sasaran, terutama dalam hal pencurian data. Pencurian data dapat dilakukan oleh orang internal perusahaan maupun juga orang di luar perusahaan.

Bagaimana dengan keberadaan F5 di pasar Indonesia saat ini?
F5 Networks sudah ada sejak 5 tahun lalu, namun selama 2 hingga 3 tahun terakhir kami masih konservatif dalam melakukan bisnis. Kami mempelajari terlebih dahulu bagaimana kondisi pasar dan market acceptance di negara ini. Ternyata, pasar di Indonesia sangatlah dinamis dan berkembang dengan pesat. Ini pun mempengaruhi bisnis kami, sehingga bisa menjadi salah satu pemain ADC/ADP yang memiliki jumlah pelanggan, dan persentasi penerimaan atas solusi yang tinggi di pasar Indonesia.

Bila awalnya kami hanya memiliki 5-6 orang di dalam tim, namun saat ini sudah memiliki 18 orang di dalam tim F5 Networks di Indonesia. Kesemuanya merupakan orang-orang “best in the market” karena kemampuannya memahami kebutuhan pelanggan, serta mengartikulasikan produk dan solusi untuk dijadikan sebagai solusi dari masalah yang dihadapi pelanggan. Inilah yang menjadi faktor diferensiasi kami di bidang sumber daya manusia. Selain fokus mengembangkan bisnis, kami juga membangun kemitraan.

Dari industri manakah yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan F5 di Indonesia?
Kontribusi terbesar berasal dari industri telekomunikasi, baik itu perusahaan tier 1 ataupun tier 2 di industri ini. Industri lainnya yang juga tidak kalah besarnya adalah Financial Service Industry atau industri layanan keungan. Saat ini dapat dikatakan bahwa semua bank besar di Indonesia sudah menggunakan solusi dan produk dari F5 Networks. Tidak hanya terbatas untuk fokus terhadap kedua industri ini saja, solusi dan produk F5 Networks juga menargetkan lembaga Negara maupun perusahaan swasta. •ANDRI

RICOH WG-30, Kamera Sporty Nan Tangguh

0

Ricoh WG-30-1RICOH, pabrikan perangkat imaging asal Jepang, belum lama ini meluncurkan dua kamera tangguh yang dirancang khusus untuk para pecinta petualangan. Ricoh WG-30 dan WG-30W, demikian kedua kamera tersebut. Keduanya diklaim tahan banting, karena dapat digunakan sampai pada kedalaman 12 meter dan mampu menahan suhu dingin sampai -10C.

Kedua kamera ini pada dasarnya memiliki perangkat yang sama, hanya saja untuk WG-30W memiliki fungsi WiFi dan sebuah aplikasi yang memungkinkan pengguna mengontrol dengan jarak jauh. Bagi yang tidak mau repot, tersedia mode auto yang bisa secara otomatis memilih 16 mode scene menyesuaikan kondisi pemotretan dan 12 pilihan filter untuk mempercantik hasil bidikan Anda.

Dengan desain yang tetap masih sama seperti pendahulunya, Ricoh WG-30 telah dilengkapi layar berukuran 2,3 inci. Salah satu fitur lain yang dipertahankan adalah adanya 6 buah lampu LED di sekeliling lensa yang berguna sebagai flash makro saat memotret obyek dari jarak dekat.

Ricoh WG-30-2Di balik lensa 28mm dengan kemampuan zoom optikal 5x WG-30, pengguna akan menemukan sensor BSI-CMOS beresolusi 16 megapiksel yang juga bisa digunakan untuk merekam video pada resolusi Full HD 1920 x 1080 piksel. Dengan menggunakan sensor BSI-CMOS 16 megapiksel, Ricoh WG-30 cukup handal untuk memotret di kondisi minim cahaya dengan opsi pengaturan ISO hingga 6400.

Terdapat pula triple anti-shake protection yang memungkinkan pengguna untuk merekam video dan mengambil foto tanpa blur.

Jika berminat Ricoh WG-30 tersedia di bulan November 2014 dengan harga US$ 269.99 atau sekitar Rp.3.240.000. Sementara versi yang telah dilengkapi koneksi Wi-Fi, Ricoh WG-30W, baru akan tersedia di bulan Januari 2015 dengan banderol harga US$ 299.95 atau sekitar Rp.3.600.000. Belum ada informasi resmi kapan produk ini dapat dijumpai di Indonesia. •