BISKOM | Jakarta – PT Prima Globalindo Logistik Tbk menghadapi tekanan kinerja sepanjang 2025 seiring perlambatan industri logistik dan meningkatnya beban operasional. Emiten jasa pengurusan transportasi berkode saham PPGL itu mencatat penurunan pendapatan, laba, sekaligus lonjakan rasio utang dalam laporan keuangan tahun buku yang berakhir 31 Desember 2025.

Dalam paparan publik di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026, Direktur Utama PPGL Darmawan Suryadi menyebut Perseroan masih berupaya menjaga kualitas layanan di tengah pasar logistik yang semakin kompetitif. Fokus perusahaan kini bergeser pada efisiensi operasional dan perluasan basis pelanggan.

Margin Tertekan di Tengah Kompetisi Tarif

Kinerja PPGL sepanjang 2025 mencerminkan tekanan yang sedang dihadapi industri logistik nasional. Aktivitas perdagangan global yang belum sepenuhnya stabil membuat volume pengiriman melambat. Di sisi lain, perang tarif antar pelaku logistik ikut menggerus margin usaha.

Baca :  Dukung Ketahanan Energi, UI Luncurkan City Car Listrik

PPGL membukukan pendapatan usaha Rp175,23 miliar, turun 17,24 persen dibandingkan capaian 2024 sebesar Rp211,73 miliar. Penurunan pendapatan tersebut berimbas langsung pada laba sebelum pajak yang terkoreksi menjadi Rp14,56 miliar dari sebelumnya Rp19,23 miliar.

Laba komprehensif tahun berjalan juga turun lebih dalam, yakni 25,78 persen menjadi Rp9,50 miliar. Koreksi laba ini menunjukkan tekanan tidak hanya berasal dari sisi pendapatan, tetapi juga dari meningkatnya biaya dan kewajiban keuangan.

“Pendapatan usaha tercatat sebesar Rp175,23 miliar, mengalami penurunan sebesar 17,24 persen dibandingkan tahun 2024,” ujar Darmawan Suryadi.

Di kalangan pelaku logistik, kondisi seperti ini bukan hal yang mengejutkan. Seorang pelaku freight forwarding di kawasan Tanjung Priok misalnya mengaku banyak perusahaan kini berlomba menjaga arus kas ketimbang mengejar ekspansi agresif. Beban bunga dan biaya distribusi menjadi faktor yang paling sering dikeluhkan sejak tahun lalu.

Baca :  PESUGIHAN Tayang 23 Februari 2023…!

Aset Tumbuh, Namun Leverage Meningkat Tajam

Di tengah penurunan laba, PPGL justru mencatat kenaikan aset cukup signifikan. Total aset Perseroan melonjak 59,25 persen menjadi Rp411,85 miliar dari sebelumnya Rp258,61 miliar.

Namun pertumbuhan aset itu dibayangi kenaikan liabilitas yang jauh lebih agresif. Total kewajiban perusahaan naik 136,45 persen menjadi Rp267,53 miliar dibandingkan 2024 sebesar Rp113,14 miliar.

Kondisi tersebut tercermin dalam rasio leverage Perseroan. Debt to Equity Ratio (DER) meningkat tajam menjadi 185,3 persen dari sebelumnya 77,7 persen. Sementara Debt to Asset Ratio (DAR) naik menjadi 64,96 persen.

Secara finansial, lonjakan DER menunjukkan ketergantungan perusahaan terhadap pendanaan berbasis utang semakin besar. Situasi ini lazim ditemui pada perusahaan yang sedang memperbesar kapasitas usaha, namun tetap menyimpan risiko terhadap arus kas apabila pasar belum pulih sepenuhnya.

Baca :  KORIKA dan BMKG Berkolaborasi Perluas Inisiatif ClimateSmart Indonesia

PPGL memastikan tetap mempertahankan strategi pelayanan kepada pelanggan eksisting sambil membidik klien baru pada 2026. Perseroan juga menegaskan komitmennya memperkuat layanan one-stop service bagi eksportir dan importir.

Reporter Thalia Febiola