BISKOM | Jakarta – PT Berdikari Pondasi Perkasa Tbk (BDKR) mencatatkan lonjakan profitabilitas sepanjang tahun buku 2025. Emiten yang bergerak di bidang pondasi dan infrastruktur tersebut membukukan laba bersih sebesar Rp25,1 miliar atau tumbuh 65,7 persen dibandingkan laba bersih tahun 2024 yang sebesar Rp15,1 miliar.

Peningkatan kinerja keuangan BDKR 2025 tersebut disampaikan Direktur Operasional BDKR, Tan Franciscus, dalam agenda Public Expose di Jakarta, Jumat (12/6/2026). Menurut manajemen, pertumbuhan laba menjadi hasil dari strategi korporasi yang berfokus pada profitabilitas dan kualitas proyek, bukan semata-mata mengejar pertumbuhan pendapatan.

Profitabilitas Meningkat Signifikan

Kenaikan laba bersih turut mendorong laba per saham atau earnings per share (EPS) menjadi Rp5,31 per saham. Perseroan menilai pencapaian tersebut menunjukkan efektivitas strategi seleksi proyek yang lebih disiplin dan berorientasi pada margin keuntungan yang sehat.

Baca :  Masuk Kota Ketiga, Roadshow AI YORINDO, APTIKNAS & APKOMINDO Dorong Transformasi Digital Manufaktur di Cikarang

Salah satu indikator utama yang memperlihatkan perbaikan kinerja adalah Net Profit Margin (NPM). Sepanjang 2025, NPM BDKR meningkat dua kali lipat menjadi 6,2 persen, dibandingkan 3,1 persen pada tahun sebelumnya.

Selain itu, perusahaan juga berhasil menekan beban bunga sebesar 25 persen secara tahunan. Langkah efisiensi tersebut dilakukan melalui pengelolaan struktur permodalan yang lebih konservatif dan optimalisasi penggunaan dana perusahaan.

Liabilitas Turun Tajam

Dari sisi neraca, BDKR melakukan konsolidasi aset sekaligus mempercepat penyelesaian kewajiban keuangan. Total liabilitas perseroan turun drastis 39,16 persen menjadi Rp348 miliar pada akhir 2025, dari Rp572 miliar pada tahun sebelumnya.

Penurunan liabilitas tersebut berdampak positif terhadap tingkat kesehatan keuangan perusahaan karena mengurangi tekanan biaya pendanaan serta memperkuat kemampuan perseroan dalam menjaga likuiditas.

Baca :  10 Skills AI dan Data Science yang Harus Dikuasai CEO Teknologi

Sementara itu, total aset BDKR tercatat Rp1,115 triliun pada 2025, turun 17,41 persen dibandingkan Rp1,35 triliun pada 2024. Adapun aset lancar berada di level Rp527 miliar, turun 20,46 persen yang mencerminkan optimalisasi modal kerja dan percepatan perputaran piutang proyek.

Di tengah penurunan aset, posisi ekuitas tetap terjaga kuat sebesar Rp767 miliar, hanya terkoreksi tipis 1,67 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp780 miliar.

Prospek dan Strategi 2026

Manajemen menilai tantangan tahun 2026 masih dipengaruhi ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi nilai tukar rupiah, kenaikan harga energi, serta ketatnya persaingan industri konstruksi. Namun demikian, peluang pertumbuhan tetap terbuka lebar seiring berlanjutnya pembangunan infrastruktur nasional dan ekspansi sektor industri, energi, maritim, serta pertambangan.

Baca :  Tim DMSTA GSJA Beri Perhatian Khusus Untuk Suku Anak Dalam

Untuk memanfaatkan peluang tersebut, BDKR menyiapkan empat fokus strategi utama pada 2026, yakni memperbesar perolehan kontrak baru di sektor inti perusahaan, meningkatkan efisiensi pemanfaatan alat dan sumber daya, menjaga disiplin pemilihan proyek demi profitabilitas berkelanjutan, serta mempertahankan struktur permodalan dan likuiditas yang sehat.

Dengan posisi keuangan yang semakin kuat dan tingkat utang yang jauh lebih rendah, perseroan optimistis mampu menangkap peluang proyek baru sekaligus menjaga pertumbuhan kinerja secara berkelanjutan.

Reporter: Thalia Febiola