Home Blog Page 1013

GCOS Akan Diserbu Puluhan Pakar Open Source Dunia

0

GCOSPertemuan kepanitiaan GCOS 2009 pada tanggal 01 Oktober 2009 yang bertempat Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) lalu telah berhasil melakukan pendataan final terkait dengan kesiapan perhelatan akbar Global Conference on Open Source dan kesediaan para pembicara baik yang berasal dari luar negeri maupun dalam negeri.

Pakar open source dari luar negeri yang secara positif menyatakan kesediaannya hadir dan menyampaikan paparannya antara lain dari kalangan pemerintahan (government) seperti MAMPU (Malaysia): Modernizing Public Service Using Open Source, USA: The Importance of Document Format on Government Task, Nanggroe Aceh Darussalam: Serving The Society Efficiently and Effectively, Ministry of Information and Communications, Republic of Indonesia: Legal and Smart Solution in Building National  ICT Capability 2,  dan lainnya.

Pembicara dari kalangan pebisnis yang juga telah menyatakan kesediaannya antara lain; Sun Microsystems: Embrace and Extend: Making Open Source Technologies Complement Incumbent Technologies in the Enterprise, TELKOM: To Open source or Not To Open source: A CIO Strategy and Migration Methodology, IBM: Open Source Adoption in Enterprise, NTT: Big Surge in the Use of Open Source in Mission Critical Systems , dan lainnya.

Tak kalah menarik adalah pembicara dan topik-topik di jalur akademisi. Akan hadir diantaranya adalah dari CNRS Perancis: The Use of Open Source in the Grid Computing and Data Acquisition System in High Energy and Particle Physics Research Projects, SEAMOLEC: Prospect and Experience in using Open Source for Distance Learning, The Arnold Arboretum of Harvard University: Open Source Software and Open Data in Biodiversity Research and Education.

Selain topik-topik pemerintahan, bisnis dan akademis, ada pula topik-topik open source di komunitas juga open source di dunia kreatif.

Dalam pertemuan tersebut juga memetakan kesiapan panitia terkait dengan kegiatan Workshop dan pameran yang akan digelar menjadi satu kesatuan dari serangkaian acara Global Conference on Open Source yang akan segera dilaksanakan pada tanggal 26 – 27 Oktober 2009 nanti. Empat buah workshop tengah disiapkan oleh panitia, yaitu : Character Animation using Blender, Open Source For Health/Medicine, dan Network Analysis and troubleshooting @ enteprise.

Bersamaan dengan Global Conference on Open Source ini, akan diselenggarakan pula Asia Open Source workshop, POSS Network Workshop dan IGOS Summit 3.

Hal yang menarik, setelah perhelatan Global Conference on Open Source juga akan diselenggarakan satu sesi khusus dengan pembicara Richard M. Stallman, sang Pencetus gerakan perangkat lunak bebas (Free Software Movement) yang juga pendiri Free Software Foundations (FSF). Richard M. Stallman adalah penulis “GNU Compiller Collection”, sebuah kompiler portable yang dapat ditujukan untuk berbagai variasi arsitektur dan bahasa pemrograman. Selain itu ia juga menulis “GNU Symbollic debugger (gdb)”, “GNU Emacs” dan berbagai program GNU Project yang sebenarnya adalah salah satu wujud usaha Stallman untuk memperjuangkan “free software”.

Acara yang digelar di Auditorium, Gedung BPPT II Lt. 3, Jl. MH Thamrin 8, Jakarta pada tanggal 28 Oktober 2009 mulai pukul 09:00 s/d 11:30 ini dipandu oleh Majalah InfoLinux dan  dibuka GRATIS untuk umum. Dalam kesempatan ini Richard M. Stallman akan membawakan topik : “The Free (Bebas) Software Movement and the GNU/Linux Operating System”.

Mari bersama kita sukseskan penyelenggaraan Global Conference on Open Source sebagai tonggak kebangkitan dan perkembangan komunitas Open Source di Indonesia.

Keterangan lebih lanjut terkait dengan kesiapan, jadual acara serta rangkaian kegiatan GCOS, silakan kunjungi situs resminya di http://gcos.info

UI Kukuhkan Tiga Guru Besar Fakultas Teknik

0

Res dsc06914Universitas Indonesia mengukuhkan tiga Guru Besar UI, yakni Prof. Dr. Ir. Riri Fitri Sari, MM., M.Sc, Prof. Ir. Yulianto Sulistyo Nugroho, M.Sc., Ph.D dan Prof. Dr. Ir. Anondho Wijanarko, M.Eng pada hari Rabu, 7 Oktober 2009 di Balai Sidang Kampus UI Depok. Rektor Universitas Indonesia, Prof. Dr. der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri memimpin upacara pengukuhan tersebut.

Pidato pengukuhan Prof. Riri Fitri Sari bertemakan “Rekayasa Protokol Jaringan Informasi dan Kematangan Sistem Informasi dalam Era Jaringan Sosial”. Sistem yang dikenal dengan Internet atau World Wide Web sekarang ini berasal dari sistem untuk berbagi dan mendistribusikan informasi dantara para ilmuawan. Kurang lebih dalam satu dekade Internet telah menjadi media komunikasi, kolaborasi serta diskusi yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari penduduk di seluruh dunia dalam bentuk aplikasi jaringan sosial seperti Facebook, Twitter, MySpace, Friendster dan lain-lain.

Dalam paparan Prof. Riri Fitri Sari dijelaskan mengenai faktor penentu kunci dari jaringan informasi. Salah satu contoh permasalahan besar di dunia Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah rekayasa protokol dan kontrol kemacetan (congestion control) yang menentukan kualitas layanan (Quality of Service) yang dirasakan oleh pengguna. Salah satu solusi yang pernah diajukan adalah penggunaan Jaringan Actif (Active Network) untuk protokol kontrol kemacetan unicast dan multicast.

Perkembangan besar dan cakupan domain aplikasi harus dilayani dengan baik secara kuantitas dan kualitasnya oleh fungsi-fungsi protokol dan layanan. Selain kemampuan kerjasama melalui telekonferensi yang dipakai bersama oleh banyak pengguna, keberadaan secara virtual menyisakan berbagai masalah teknis, organisasi, etika dan hukum.

Sementara itu Prof. Ir. Yulianto Sulistyo Nugroho, M.Sc., Ph.D menyampaikan pidato yang berjudul “Membangun Kepedulian, Disiplin dan Keunggulan dalam Bidang Teknik Keselamatan Kebakaran (Fire Safety Engineering) dan Prof. Dr. Ir. Anondho Wijanarko, M.Eng menyampaikan pidato pengukuhan yang berjudul “Produksi Bahan Baku Suplemen Pangan dan Bahan Bakar Alternatif melalui Kemampuan Biofikasi CO2 Mikroalga”.

Dalam acara ini hadir pula Mantan Presiden RI, Prof. Dr. Dr.-Ing. B.J. Habibie, Dirjen HAKI, Dr. Andi Noorsaman Sommeng, Kemal Stamboel dari Detiknas, mantan Dirjen Postel Djamhari Sirat, dosen UI, Dr. Wahidin Wahab dan Ir. Soegiharto Santoso, Pimpinan Umum Majalah BISKOM

Yogyakomtek 2009 Gelar B2B Forum

0

jogjaAsosiasi Pengusaha Komputer Indonesia Dewan Pengurus Daerah Istimewa Yogyakarta (APKOMINDO DPD DIY) untuk ke-12 kalinya akan menggelar pameran komputer bernama Yogyakomtek 2009.

Yogyakomtek 2009 diselenggarakan pada 17 – 21 Oktober 2009 di Jogja Expo Center Yogyakarta, menempati seluruh ruangan tiga hall seluas lebih dari 11.000 M2.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya,  tema Yogyakomtek tahun ini  adalah Terbesar, Terlengkap, Terbanyak. Maknanya, sebagai pameran dan  bursa penjualan komputer serta  segala perlengkapan digital, Yogyakomtek mengutamakan pada kualitas sebuah pameran, dan  pada akhirnya menjadi sebuah ajang penjualan terbesar di seluruh Jawa Tengah dan DIY.

Pada Yogyakomtek kali ini, APKOMINDO DPD DIY menyelenggarakan satu acara B2B (Business to Business) Forum untuk memfasilitasi pemerintah DIY dalam mempromosikan DIY sebagai tujuan investasi dan pasar potensial bagi para pebisnis TI seluruh dunia serta mengundang para pebisnis TI (principal, distributor, master dealer) untuk menjajaki kemungkinan pengembangan investasi di wilayah DIY.

Selain itu akan diadakan pula Yogyakomtek Award dimana pada ajang ini akan diberikan penghargaan kepada produk-produk TI yang beredar di masyarakat yang memiliki keunggulan dalam hal inovasi, teknologi, dan harga yang terjangkau.

Rangkaian acara lainnya adalah  Festival dan Anugerah e-Pendidikan, hasil kerjasama APKOMINDO DPD DIY dengan Pustekkom (Pusat Teknologi dan Komunikasi Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional). Acara ini dilaksanakan secara roadshow di 20 Kota se-Indonesia, dan tanggal 17 Oktober 2009 bersamaan dengan Yogyakomtek 2009.

Para Perintis TI Indonesia (Bagian 2)

0

Cikal bakal teknologi informasi (TI) Indonesia hingga berkembang pesat pada masa kini tentu tak lepas dari peran sumber daya manusia (SDM) yang membawa dan memelopori kehadirannya negeri ini. Indonesia di era 1970-an merupakan negara yang baru akan berkembang, dan TI baru mulai diperkenalkan di Indonesia, serta didominasi instansi pemerintah seperti Pertamina dan Pemda DKI Jakarta. Siapa sajakah yang berperan dalam sejarah perkembangan TI di Indonesia? Simak dalam lanjutan dari Para Perintis TI Indonesia (Bagian 1)

Petrus Golose, Doktor “Cybercrime” Pertama
Komisaris Besar Petrus Reinhard Golose merupakan orang Indonesia pertama yang memperoleh gelar Doktor untuk bidang cybercrime pada 7 Juni 2008 lalu. Tim penguji yang terdiri dari 9 guru besar dan promotor, Prof. Dr. Sarlito W Sarwono, di Depok, Jawa Barat menyatakan, Petrus lulus dengan yudisium ”sangat memuaskan” dengan angka 3,92. Seharusnya ia memperoleh predikat cum laude, tapi diurungkan mengingat ia tidak dapat selesai tepat waktu lantaran harus melaksanakan tugas-tugas kepolisian sehingga tak bisa jadi peneliti full time.

Disertasinya berjudul ”Manajemen Penyidikan Tindak Pidana Hacking, Mengambil Studi Kasus: Penyidikan Tindak Pidana Hacking Website Partai Golkar”. Disertasinya menghasilkan definisi hacking, yaitu setiap kegiatan menggunakan komputer atau sistem elektronik lainnya yang dilakukan dengan mengakses suatu sistem jaringan komputer, baik yang terhubung dengan internet maupun tidak, baik dengan tujuan maupun tidak, untuk memperoleh, mengubah dengan cara menambah atau mengurangi, menghilangkan atau merusak informasi dalam sistem komputer atau sistem elektronik lainnya dengan melawan hukum.

Hacking dikategorikan sebagai kejahatan komputer tanpa kekerasan dan termasuk kejahatan komputer yang merusak. Petrus bersama Tim Cybercrime Bareskrim Polri juga berhasil menangkap pelaku tindak pidana hacking website Partai Golkar pada tahun 2006 melalui jalan panjang menelusuri internet.

Di samping mengajar sebagai dosen luar biasa di bidang kriminologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UI dan Kajian Ilmu Kepolisian untuk Program Pascasarjana UI, ia pun aktif terlibat sebagai wakil dari pemerintah RI untuk turut merumuskan Rancangan Undang-undang tentang Informasi dan Transaksi Elelktronik (UU ITE) yang telah diundangkan menjadi UU No 11/208. Kini Petrus juga menjadi narasumber pemerintah dalam pembuatan peraturan tentang Lawful Interception (penyadapan informasi).

Supeno Djanali-Handayani Tjandrasa, Guru Besar TI Pertama
Institus Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) mengukuhkan dua orang guru besar dari Fakultas Teknologi Informasi, Prof.Ir. Supeno Djanali, M.Sc.,Ph.D. dan Prof.Ir. Handayani Tjandrasa,M.Sc.,Ph.D, pada 25 Februari 2005 di Graha 10 Nopember ITS.

Pengukuhan sebagai guru besar kedua pasangan suami istri ini menambah jumlah guru besar di lingkungan ITS menjadi 34 orang. “Tapi, tentunya tidak hanya kuantitas saja yang kita tonjolkan. Kualitas guru besar tetap menjadi tujuan utama,” kata Rektor ITS, Dr Ir. Moh. Nuh, DEA waktu itu, yang kini menjabat Menteri Komunikasi dan Informatika. Menurut Nuh, ke depan ITS terus mengadakan program percepatan untuk memperoleh guru besar sebanyak mungkin.

Sementara itu, dalam kesempatan orasinya, Supeno yang mendapat gelar Guru Besar Bidang Ilmu Arsitektur dan Jaringan Komputer, Fakultas TI, mengambil judul ‘Perkembangan Teknologi Jaringan Komputer dan Tantangan ke Depan’. Sedangkan ‘Informatika Medika: Citra Medis dalam Sistem Informasi Terintegrasi’ dipilih Handayani sebagai judul orasinya dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Pengolahan Citra Digital.

Sylvia W Sumarlin, Brand Nasional Chipset WiMax Pertama
Sylvia Sumarlin termasuk salah seorang perintis produk chipset WiMax pertama di Indonesia. Chipset yang dinamakan Xirka ini nantinya bakal dipakai di seluruh dunia. Sylvia menjabat sebagai Direktur Utama PT. Dama Persada, pemilik merek dagang chipset Wimax Xirka. Sebelumnya ia juga pendiri dan CEO perusahaan ISP (Internet Service Provider) D-Net pada 1995. Hingga tahun 2000, D-Net jadi perusahaan pertama yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta untuk bidang TI.

Kini, nyaris di banyak tempat orang Indonesia bisa mengakses internet, baik melalui perangkat mobile maupun teknologi hotspot yang diakses melalui WiFi. Namun Sylvia, masih merasa ada yang kurang. ”Karena cara berkoneksi internet saat ini sudah membuat orang tidak sabar. Orang juga mulai bergantung dengan internet. Nah, kita ingin internet makin maju. Kita ingin, di Indonesia terjadi dua hal. Penetrasi komputer dan penetrasi internetnya meningkat, dan akhirnya edukasinya meningkat,” kata Sylvia seperti dilansir Tabloid Wanita Indonesia..

Padahal, teknologi WiFi yang dianggap maju, akan segera tergantian dengan teknologi WiMax yang lebih canggih. “WiFi itu 1 base station maksimal mencangkup radius 5 kilometer. Nah WiMax, 1 base station rata-rata mencapai radius 40 kilometer. Bahkan kalau kondisi geografisnya datar bisa mancapai 80 kilometer,” jelas Sylvia. Melalui perusahaan PT. Dana Persada, kami membuat sistem chipset wireless bernama Xirka. Yang satu chipset ukuran 2X2 mili, dan memiliki pemancar frekuensi data sampai 40 kilometer,” papar dia.

Sylvia menuturkan, pihaknya sudah mengembangkan chipset atau system-on-chip hasil karya putra-putri Indonesia asli. Perangkat yang diklaim buatan dalam negeri tersebut dikembangkan oleh Trio Adiono dari Institut Teknologi Bandung dan Eko Fajar yang bergelut di bidang tersebut di bawah payung PT Versatile Silicon Technologies sebagai penerima alih daya proyek-proyek dari Jepang. “Prestasi ini sebenarnya sungguh membanggakan dan idealisme mereka adalah mewujudkan ciptaan mereka untuk di Indonesia,” ujarnya.

Adapun PT. Dama Persada berperan memberikan kesempatan bagi ilmuwan yang diwakili kedua peneliti tersebut dan pemodal yang diwakili oleh Rudy Hari dan Sylvia Sumarlin dalam mengembangkan produk-produk Xirka sebagai brand nasional yang ditargetkan pada saatnya akan go-international. “Kami berkomitmen mendapatkan sertifikasi internasional Wimax Forum untuk produk Mobile Wimax berstandar 16e dan mendapatkan pengakuan dunia,” ujar Sylvia.

Xirka menjadi pemenang Asia Pacific Information Communication Technology Award pada tanggal 15 Desember 2008 dan menyisihkan sembilan negara peserta lainnya dan dua industri raksasa Singapore Telcom serta Fujitsu Australia. Perusahaan manufacturing Xirka ini termasuk salah satu dari 8 perusahaan manufaktur chipset Wimax. Perusahaan pertama adalah Intel, yang diikuti pula oleh PT. Solusindo Kreasi Pratama (Technology Research Group/ TRG), PT. Industri Telekomunikasi Indonesia (Inti), PT. Hariff Daya Tunggal Engineering (HDTE), PT. Versatile Silicon Technologies, dan Reksis. Tidak sebatas pada chipset, tapi juga ke perangkat seperti dongle.

Xirka yang baru saja diluncurkan 7 Agustus 2009 ini bisa digunakan di dalam USB dongle dan USB mini-cards sebagai mobile station untuk notebook, PDA, maupun di dalam CPE modem untuk desktop komputer di sekolah, perkantoran atau kompleks perumahan.

Nur Aini Rakhmawati, Dengan Joomla Jadi Peserta GSoc

Programmer Nur Aini Rakhmawati berhasil menyusun kode pemrograman mewujudkan software pengembangan Joomla, aplikasi open source yang kini banyak digunakan masyarakat dunia. Wanita kelahiran Pasuruan 20 Januari 1982 ini tercatat sebagai wanita pertama di dunia internasional dalam tim pengembang Joomla.

Prestasinya ini pun yang diakui Google. Dia berhasil menunjukkan kehebatannya ketika menjadi peserta Google Summer of Code (GSoC) 2007. Untuk menjadi peserta GsoC, bukan hal yang mudah. Dia harus bersaing dengan ribuan aplikasi lain dari seluruh penjuru dunia. Bagi kalangan TI, even tersebut cukup bergengsi. Sebab, mereka bisa menimba ilmu langsung dari mentor yang ditunjuk Google. Khusus Joomla, diantara 6.000 aplikan, hanya 50 orang yang diterima. Iin panggilan akrabnya, sehari-hari bekerja sebagai dosen Sistem Informasi, Fakultas Teknik Informatika, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), merupakan satu-satunya peserta dari Indonesia.

Tahun 2009 giliran alumni S-2 National Taiwan University of Science and Technology ini yang menjadi mentor GsoC dan membimbing seorang peserta dari Filipina. ”Ya mungkin Google tahu kalau saja sudah banyak pengalaman dengan Joomla. Soalnya, setelah jadi peserta saya juga direktur jadi developer,” kata Iin. Menjadi satu-satunya wanita dalam GsoC sempat membuat dirinya canggung. Untunglah rekan-rekan dari berbagai negara mendukungnya. Sedikitnya wanita yang terjun secara profesional dalam bidang TI membuatnya tergerak.

Dia juga membuat milis khusus wanita yang membahas Linux, salah satu sistem operasi open source. Milis tersebut dibentuk karena sebenarnya banyak wanita yang ingin memahami Linux. Iin pun  mengumpulkan kenalan wanita di dunia maya membentuk milis yang diberi nama Kluwek. Mereka punya situs di http://kluwek.linux.or.id. Sekarang anggota milis itu berkembang hingga ratusan orang. Anggotanya mulai mahasiswi hingga ibu rumah tangga sekali pun. Uniknya, tiap anggota punya julukan nama bumbu dapur.

Frans Thamura, Pendiri Komunitas Java

Java Evangelist Indonesia, salah seorang pendiri komunitas Java, berupaya mati-matian mempromosikan Java di Indonesia melalui Yayasan Meruvian, hingga jadi program popular seperti sekarang. Meski di Indonesia ada perusahaan lain yang mendahului terapkan Java, seperti Asimetrik dan Balicamp, namun komunitas yang dipeloporinya mempromosikan open source secara serius dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini sehingga menjadi besar seperti sekarang dengan 3.000 anggota dengan 200 perusahaan pengikut.

Para Perintis Lainnya

Onno W Purbo
Onno Widodo Purbo, lahir di Bandung 17 Agustus 1962. Mantan dosen ITB ini membangun gateway Internet ITB dan Jaringan AI3 Indonesia. Ia juga aktif menulis buku dan memberikan ilmu TI pada masyarakat Indonesia.

Ayah Onno, Hasan Poerbo, adalah seorang profesor di ITB bidang lingkungan hidup yang banyak memihak pada rakyat kecil. Onno yang masuk ITB pada jurusan Teknik Elektro angkatan 1981, lulus dengan predikat wisudawan terbaik. Setelah itu ia melanjutkan studi ke Kanada dengan beasiswa dari kampus asalnya.

RT/RW-Net adalah salah satu dari sekian banyak gagasan yang Onno lontarkan dan mengukir sejarah internet Indonesia. Ia juga aktif menulis terkait TI di berbagai media, jadi pembicara seminar, konferensi nasional maupun internasional, terutama untuk memberdayakan masyarakat Indonesia menuju masyarakat berbasis pengetahuan.

Heru Nugroho

Heru Nugroho adalah Executive Council Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) sekaligus Ketua Dewan Pelaksana Yayasan Sekolah 2000. Merupakan motor di belakang Yayasan Sekolah 2000 dan Yayasan Air Putih.

Heru mengaku yayasan yang dipimpinnya menggelar sejumlah program peningkatan SDM melalui kerjasama dengan swasta. Tujuan Program Sekolah 2000 yang dipelopori APJII sejak Oktober 1999 itu yakni penyiapan SDM di bidang TI, khususnya di kalangan guru dan pelajar. Namun kini, Heru tengah sibuk dengan ‘mainan’ barunya Nusantara Online untuk pengembangan game lokal dan Wacana Nusantara, sebuah situs arsip digital kebudayaan nusantara. “Dulu, sebelum ada program-program ke sekolah, Sekolah2000 sudah paling dulu. Kalau sekarang ini vakum, karena sudah banyak sekali program yang seperti itu. Saya sendiri bersyukur karena orang sekarang sudah banyak yang peduli untuk memajukan dunia pendidikan TI,” ungkap Heru.

I Made Wiryana

Dosen Gunadharma ini adalah pendorong Linux Indonesia, dan penggerak Tim Pandu dalam pergerakan Linux di Indonesia. Beberapa buku Linux termasuk tutorial Linux-nya yang sangat membantu dapat diambil secara cuma-cuma tanpa melanggar HaKI. Buku-buku yang bersifat tutorial sebagian merupakan bagian dari aktivitas Open Source Campus Agreement (OSCA) untuk membuka wawasan siswa dan mahasiswa Indonesia akan Linux. I Made Wiryana baru-baru ini meraih gelar Doktornya di Jerman dan kembali ke tanah air untuk mengabadikan dirinya kepada dunia pendidikan.

Budi Rahardjo
Dosen ITB ini pendiri ID-CERT. Pernah menjadi Country Code Top Level Domain ccTLD .id antara 1998 – 2005, sebelum diberikan kepada Depkominfo di tahun 2005-2006. Ia juga dikenal sebagai seorang pakar sekuriti di Indonesia, pendiri Indonesian Computer Emergency Response Team (ID-CERT), suatu organisasi yang bergerak di bidang Internet Security.

Menyelesaikan program Sarjana Teknik Elektro dari ITB tahun 1986, Budi melanjutkan pendidikannya ke University of Manitoba, Kanada, jurusan Electrical and Computer Engineering. Selesai tahun 1990, kemudian Budi melanjutkan ke program studi S3, di jurusan dan universitas yang sama, sampai meraih Ph.D pada tahun 1996. Budi juga dikenal sebagai salah seorang penggagas Bandung High Tech Valley (BHTV).

Kingston DataTraveler 410 Kini Lebih Cepat

0

DT410_HalfOpen_Top_32GBPengguna umum dan kalangan enterprise selalu menginginkan USB Flash drive yang memiliki kemampuan menyimpan dan memindahkan file dalam jumlah yang besar secara lebih cepat.

Alasan ini telah mendasari  Kingston Technology untuk melakukan peningkatan kecepatan baca dan tulis pada USB Flash Drive DataTraveler 410 menjadi 20Mb/sec untuk baca dan tulis.

Unit dengan dimensi 65.76 x 17.98 x 10.7mm ini memiliki kapasitas hingga 32Gb, kecepatan DataTraveler 410 membuatnya lebih cepat dalam melakukan transfer file dan proteksi passwordnya membantu dalam membuat data tetap aman.

Nathan Su, Sales Director Flash Memory Kingston, Wilayah APAC mengatakan,  “Berdasarkan keinginan pelanggan tersebut, kami mengembangkan DataTraveler 410 yang memiliki kecepatan data transfer lebih tinggi dan keamanan yang didukung oleh harga yang memuaskan.”

Kecepatan baca dan tulis yang lebih cepat membuat DataTraveler 410 sangat ideal untuk penyimpanan foto-foto berkualitas tinggi, dokumen-dokumen dalam jumlah besar, musik, video dan data-data lainnya. Di dalamnya juga terdapat software SecureTraveler yang mengizinkan penggunanya untuk menciptakan dan mengakses password pada area terproteksi pada drive yang dikenal dengan “Privacy Zone.”

Peningkatan kecepatan transfer pada DataTraveler 410 diikuti dengan peningkatan kapasitas (16 dan 32Gb) dari drive level consumer Kingston pada DataTraveler I, DataTraveler 101 dan DataTraveler 112 dengan kecepatan baca dan tulis 10MB/sec.

Drive-drive tersebut menawarkan berbagai pilihan warna, kapasitas dan beberapa memiliki rectractable body atau desain swivel.

Para Perintis TI Indonesia (Bagian 1)

2

IlustrationCikal bakal teknologi informasi (TI) Indonesia hingga berkembang pesat pada masa kini tentu tak lepas dari peran sumber daya manusia (SDM) yang membawa dan memelopori kehadirannya negeri ini. Indonesia di era 1970-an merupakan negara yang baru akan berkembang, dan TI baru mulai diperkenalkan di Indonesia, serta didominasi instansi pemerintah seperti Pertamina dan Pemda DKI Jakarta. Siapa sajakah yang berperan dalam sejarah perkembangan TI di Indonesia?

Secara umum, pada saat TI baru dikenal di negeri ini, daya beli masyarakat dan swasta nasional masih sangat lemah. Waktu itu, sebuah instalasi komputer dapat berharga jutaan dollar, menempati ruangan yang besar, serta membutuhkan listrik dan pendinginan yang besar. Teknologi komunikasi data pada saat tersebut bekisar antara 50 – 300 baud. Jika merunut angka sejarah, TI Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupannya pada dekade 1980-an. Satu persatu sejumlah nama yang membawa segala hal berbau computer atau TI mulai bermunculan. Inilah sejumlah nama yang berhasil dihimpun.

Jusuf Randy, Pakar Komputer Pertama

Jusuf RandyJusuf Randy alias Mang Ucup, lahir di Bandung, 19 Juli 1942 dengan nama Nio Tjoe Siang. Dulu kala di kampungnya ia lebih dikenal dengan nama Tompel, sedangkan di Eropa dengan nama Robert TS Nio. Dia sempat dikenal sebagai pakar komputer pertama dan “juragan” komputer pertama di Indonesia. Kepiawaiannya di bidang komputer membuatnya menjadi pelopor lembaga pendidikan komputer pertama di Indonesia dengan nama Lembaga Pendidikan Komputer Indonesia-Amerika (LPKIA).

Prinsip hidup “Hari ini harus lebih dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini,” dijadikan landasan untuk meraih yang terbaik dan terbesar. Hingga akhirnya Jusuf berhasil membangun kerajaan bisnis dan dijuluki juragan komputer pada masanya.

Mulanya Jusuf bekerja sebagai programmer, kemudian jadi “Programming Manager”, yang semuanya ia pelajari sendiri dari buku. Sehingga akhirnya orang mengenalnya sebagai “dukun komputer”, sebab hampir tiap permasalahan, ia selalu tahu penyelesaiannya.

Jusuf pernah membangun bisnis di Jerman, kemudian berpindah ke Inggris, dan bekerja di Rank Xerox sebagai System Analyst sampai ke Amerika Serikat dimana ia bekerja di IBM. Saat itu IBM merupakan perusahaan komputer nomor wahid dunia. Di IBM, dia bekerja sebagai Sotware Manager, dan akhirnya berpindah lagi jadi direktur di perusahaan German Data Communication.

Kini ia pun memiliki lembaga pendidikan komputer yang termasuk salah satu terbesar di Indonesia bernama LPKIA. Pertama kali didirikan tahun 1980-an di Bandung dan di Jakarta, LPKIA dahulu kerap disebut-sebut sebagai lembaga pendidikan komputer modern pertama di Indonesia, sebelum kemunculan berbagai perguruan tinggi yang menawarkan disiplin TI. Jusuf Randy sekarang memilih tinggal di Belanda dan menjadi warga negara Kincir Angin tersebut.

Jos Luhukay, Pendiri Fakultas Ilmu Komputer

Josh LuhukayBernama lengkap Joseph Fellipus Peter Luhukay, kelahiran Jakarta, 18 Desember 1946 ini mengawali karir sebagai staf Pusat Ilmu Komputer Universtias IndonesiaI (1972), hingga menjadi staf ahli sejumlah menteri, konsultan di sejumlah bank dan perusahaan swasta, serta menjadi dosen. Dari situ karirnya terus menanjak sebagai Kepala Laboratorium Komputer, Arsitektur dan Desain, Pusat Antaruniversitas untuk Ilmu Komputer, UI (1985) serta Kepala Program Pascasarjana bidang Komputer dan Ilmu Informasi UI (1985).

Pada 1980, Jos Luhukay memperdalam ilmu komputer di University of Illinois di Urbana Champaign, Amerika Serikat hingga memperoleh gelar Ph. D. (1983). Sekembalinya dari Amerika Serikat, ia mendirikan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI). “Saya menilai, perkembangan TI 99,9 % terletak di negara maju, sementara Indonesia hanya menjadi negara pemakai. Itulah yang membuat saya terdorong mendirikan Fakultas Ilmu Komputer waktu itu,” kata Jos.

Lantaran kerja ahli TI dianggap tukang, ia menyempatkan diri mengambil Ph. D. bidang Bussiness Administration, di universitas yang sama. Kedekatannya kepada ekonomi secara praktis bermula karena seringnya ia mengikuti rapat pengambilan keputusan pada Bank Niaga, tempat ia bekerja saat itu. “Sampai-sampai saya mengalami pembelokan bidang, memimpin masyarakat pasar modal, kemudian menjadi ketua pelaksana Prakarsa Jakarta yang sama sekali tidak ada TI-nya,” kenang dia. Itulah titik balik ia menjadi pakar ekonomi sekaligus salah seorang tokoh penting TI Indonesia.

TI yang dikuasainya memang bukan ilmu yang mandeg, tapi suatu disiplin ilmu yang hingar-bingar dengan teknologi yang cepat silih berganti. Dari situ Jos memiliki obsesi besar, agar bangsa ini pada abad 21 memiliki akses yang sama terhadap TI. Ia juga mengajak semuanya berpikir mengatasi imbas dari TI. “Bayangkan segala sesuatunya dapat dilakukan tanpa meninggalkan rumah, sehingga ikatan-ikatan sosial bisa pudar,” cetusnya.

Selain Jos Luhukay, di lingkungan UI, TI dirintis seorang dosen dari Fakultas Kedokteran, yaitu Indro S. Suwandi, yang meninggal dunia pada 1986. Menurut catatan Wikibooks Indonesia, almarhum Indro Suwandi mendirikan Pusat Ilmu Komputer (Pusilkom) UI pada 1972 hanya dengan modal semangat dan idealisme. Almarhum, kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh terkemuka yang memperkenalkan teknologi ini, baik di kalangan perguruan tinggi maupun industri.

Pada masa ini pula mulai dikirim 6 staf Pusilkom UI ke Amerika Serikat untuk studi lanjutan. Alumni Fakultas Teknik UI, Jos Luhukay, diantaranya dikirim ke Universitas Illinois di Urbana-Champaign (UIUC). Jos lah yang pertama mengenal teknologi internet ketika sedang melakukan berada di UIUC, dan kemudian memperkenalkannya ke Indonesia.

Pada awal 1980-an, Pusilkom memperoleh sebuah komputer super mini Data General MV/8000 berbasis AOS/VS. Ke-32 terminal serial/current loop dari super mini tersebut menyebar di beberapa gedung kampus Salemba, sehingga dapat dikatakan merupakan cikal bakal jaringan kampus UI.

Jaringan ethernet UI mulai dibentuk ketika Jos memperoleh gelah Ph.D pada tahun 1982. Seiring dengan kepulangan ke Tanah Air pada 1983, Jos membawa oleh-oleh seperangkat komputer unix “Dual Systems 83/20” berbasis Motorola 68000, serta server terminal ethernet “NTS” berbasis Intel 80186. Kehadiran kedua perangkat ini menandai dimulainya dua era sekaligus: “Networking” dan “Unix”. Pada saat itu, di Pusilkom UI juga terdapat sejumlah komputer mikro Apple, serta sebuah IBM XT asli.

Budiono Darsono, Pendiri Portal Berita

Budiono DarsonoPemimpin Redaksi Detikcom, Budiono Darsono memulai karier sebagai wartawan di Koran Surabaya Post, lalu ke Majalah Tempo. Bersama beberapa teman-teman dari Tempo menggarap harian Berita Buana untuk manajemen baru, lalu menjadi Redaktur Pelaksana Tablod Detik versi Eros Djarot, pernah sebulan menjadi Eksekutif Editor Liputan6 SCTV lalu bersama Abdulrahman, Didi Nugrahadi dan Yayan Sopyan mendirikan Detik.com.

Pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 1 Oktober 1960 ini adalah arsitek berdirinya situs Detikcom. Merintis Detikcom sejak 9 Juli 1998 lalu, setelah meluncurkan perusahaan yang bergerak di bidang internet, yakni Agrakom. Pertimbangannya waktu itu sangat praktis: masyarakat cenderung tidak sabar menunggu informasi dari koran pagi, atau liputan siang di televisi. Karenanya, kehadiran media online yang mampu menyajikan berita cepat dengan jangkauan global bisa menjadi sebuah solusi.

Sebagai “makluk baru” pada jaman Orde Baru, Detikcom memang tak bisa langsung dikenal dan diterima. “Modal saya hanya tiga: semangat, tape recorder, dan handy talkie,” kenang Budiono. Inilah yang membuat Budiono harus kerja siang malam untuk menset-up banyak hal pada mainan barunya itu. Mulai dari karakter wartawan agar cakap dalam membuat breaking news hingga membuat organisasi yang ramping tapi berpotensi. Juga harus menggeser imej publik bahwa sajian Detikcom bukanlah berita-berita gosip, seperti imej yang kadung melekat pada internet.

Hasilnya? Situs berita digital ini telah menjelma menjadi raksasa media maya di Indonesia hingga melahirkan banyak “pengekor.” Wartawannya yang semula hanya berjumlah satu-dua, kini telah membengkak menjadi ratusan orang.

(Bersambung ke Bagian 2)

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H

0

Res Ucapan Lebaran 1430 HAda sejumlah alasan mengapa kami menyajikan headline “Menangkal Teroris Dengan TI” pada edisi September ini. Pertama karena maraknya kasus teroris di dalam negeri, dan hal lainnya pada September ini  merupakan tahun kedelapan warga Amerika Serikat memperingati Tragedi 9/11, serangan teroris Al-Qaeda terhadap gedung kembar World Trade Center di New York.

Aksi yang sama tentu tak luput dari perhatian kita dimana terror telah terjadi pada 17 Juli 2009 di Mega Kuningan Jakarta setelah teroris berhasil meledakkan bom serupa pada 5 Agustus 2003. Dua kali serangan bom juga terjadi di Bali yakni pada 12 Oktober 2002 dan dan 1 Oktober 2005. Belum lagi pengeboman di depan Kedutaan Besar Australia, 9 September 2004.

BISKOM terus berupaya mengetengahkan setiap permasalahan aktual yang terjadi di negeri ini dengan memfokuskan wacana dalam konteks teknologi informasi (TI). Penanganan masalah terorisme begitu kompleks sehingga memerlukan keterlibatan dan peran serta dari berbagai disiplin ilmu, termasuk TI. Serentetan aksi teror yang marak terjadi dalam satu dasawarsa terakhir telah memacu Dr. Petrus Reinhard Golose, salah seorang dosen luar biasa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, untuk menulis suatu program tentang deradikalisasi terorisme.

“Sebab, bagaikan membersihkan rumput ilalang walau sudah ditebas dan dibakar akan tumbuh kembali dengan cepat, pemberantasan terorisme harus dilakukan sampai ke akar-akarnya dan harus pastikan tidak ada yang tertinggal,” tegas Petrus dalam sambutannya di acara peluncuran buku Deradikalisasi Terorisme di Gedung F FISIP Universitas Indonesia, Depok, Kamis (20/8).

Komisaris Besar Petrus Reinhard Golose merupakan orang Indonesia pertama yang memperoleh gelar doktor untuk bidang cybercrime pada 7 Juni 2008 lalu. Inilah yang membuat kami berinisiatif menyajikan tulisan “Para Perintis TI Indonesia” di mana Petrus termasuk salah satu diantaranya. Apa yang kami sajikan merupakan apresiasi terhadap sosok yang berkontribusi dalam perkembangan TI nasional. Kami memandang pemberian penghargaan secara formal berupa award tertentu sejauh ini belum belumlah cukup. Yang kami kedepankan adalah mencatat prestasi sejumlah insan TI dalam perjalanan sejarah TI nasional. Dengan harapan akan kembali muncul sosok yang bisa mengembangkan dan memajukan TI di masa mendatang.

Akhirnya, selamat menunaikan ibadah puasa bagi umat Muslim sekaligus selamat merayakan Hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 Hijriyah.

Asus Designo MS, LCD Ultra-Tipis

1

ASUS_Designo_MS_Series_LCD_MonitorAsus memperkenalkan monitor LCD ultra-tipis terbaru dari keluarga  Designo MS. Produk ini adalah  kombinasi sempurna antara gaya dan kualitas gambar yang luar biasa.

Konsep desain dibalik Seri Designo MS terinspirasi dari angka biner yang terdiri dari elemet – elemen kontras seperti angka 1 dan 0 atau garis lurus dan lingkaran, serta casing warna hitam dan putih mengkilap layaknya piano. Monitor ultra-tipis dengan ketebalan hanya 16.5mm ini juga dilengkapi dengan dudukan berbentuk lingkaran yang unik.

Asus Designo MS mempunyai fitur Teknologi Ergo-Fit yang memungkinkan pengguna mengatur kemiringan layar hanya dengan satu jari. Desain ergonomis dari Seri Designo MS menempatkan layar sejajar dengan mata untuk pengalaman komputasi layar ganda yang nyaman dan produktif apabila digunakan sebagai monitor tambahan pada notebook.

Monitor ini tampak mengagumkan berkat visual yang tajam pada Full HD 1080p, rasio kontras 50.000:1, waktu respon 2ms dan Teknologi ASUS Splendid Video Intelligence, dan juga penghematan 40% energi tambahan. Tampilan visual yang mengagumkan dalam satu kesatuan.

Seri Designo MS memungkinkan bertambahnya produktivitas kerja Anda karena dapat dipasangkan dengan notebook melalui sebuah koneksi kabel DVI/VGA dan telah dirancang secara ergonomis agar sejajar dengan mata sehingga sesuai dengan tinggi dari layar notebook.

Eddy Liew, Perintis Bisnis PC Pertama

2

eddy liew 1Jika kita bicara mengenai sejarah perkembangan Teknologi Informasi (TI) di Indonesia, tak akan mungkin melupakan nama Fransiskus Eddy Liew. Dikenal sebagai perintis bisnis komputer desktop (PC) atau pemasok PC pertama di Indonesia, Eddy Liew telah membangun kerajaan bisnis bernama Dragon Computer & Communication Group, serta mengubah wajah organisasi di bidang TI Indonesia menjadi lebih modern dan tertata. Kini, setelah sebulan kepulangannya ke Sang Pencipta, nama Eddy Liew tetap berkibar.

Eddy Liew memulai perjalanannya di dunia bisnis sebagai pedagang kalkulator Casio di Malaysia dan Singapura. Ia kembali ke Tanah Air tahun 1973 dan membuka sebuah toko kecil di Hayam Wuruk Plaza, Jakarta. Menjelang tahun 1980, Eddy Liew mulai memasok kalkulator merek baru Citizen, dengan harga yang relatif lebih murah. Citizen melesat merebut pasar kalkulator Indonesia, sehingga produk Citizen berkembang dalam banyak tipe. Beberapa tipe diantaranya merupakan penamaan dari Eddy, sebut saja CT-500 dan SDC-868.Bersamaan dengan berkembangnya kalkulator Citizen, Eddy mulai memasarkan komputer generasi awal merek Sinclair. Eksistensinya sebagai perintis bisnis komputer di Indonesia terungkap dalam testimoni Effendi Ruslim (Pimpinan Columbia Computer) pada resepsi 25 tahun Dragon Computer di Hotel Borobudur Jakarta beberapa tahun yang lalu.

Pada resepsi tersebut, Effendi yang akrab disapa Ko Lim itu, selain memberi sambutan kesaksian juga membawa produk Sinclair lengkap dengan kwitansinya yang dibeli dari Eddy Liew puluhan tahun yang lalu. Setelah itu, dengan berkembangnya Kawasan Glodok, Eddy pun mulai ekspansi ke Plaza 21 dan Glodok Plaza dengan bendera Dragon Computer & Communication (DCC). Bersama beberapa pengusaha muda komputer seperti Soegiharto Santoso atau Hoky, Surya Kencana, Surya Lesmana dan Wing Wiryawan, mereka mencatat babak baru dalam sejarah pengusaha bisnis komputer Indonesia dengan mendirikan wadah bernama Computer City yang beranggotakan ratusan pengusaha komputer di kawasan Glodok Plaza.

Sejak itu pula tumbuh bentuk-bentuk kerjasama dengan vendor- vendor besar seperti Microsoft dan Intel melalui pameran-pameran yang diorganisir sendiri oleh pengurus Computer City. Presiden Direktur CBM Computer, Surya Kencana, menyebut Eddy Liew sebagai seorang enterpreneur tangguh yang mampu memotivasi orang lain menjadi seorang businessman. “Dengan kreativitas yang tinggi, Eddy bukan saja berhasil membangun bisnisnya, tapi juga menjadi tempat menimba ilmu bagi orang-orang muda,” ujar Surya.

Puncak prestasi Eddy Liew yakni mengantarkan Acer menjadi market leader Indonesia. Semua itu dicapai Eddy dengan kerja yang tiada henti plus kemampuan lobi yang luar biasa, bahkan ketika Acer masih dipegang PT. Metrodata Elektronik Tbk. Ketika Acer ragu untuk kembali ke pasar Indonesia pasca tragedy Mei 1998, Eddy pula yang berangkat ke Taipei dengan misi meyakinkan Bobby Chang (pejabat Acer untuk kawasan Asia-Pasifik), untuk terus mengembangkan sayap di Indonesia. Sebuah badan hukum pun dibentuk sebagai pengaman produk Acer dengan nama PT. Aman Citra Era Reformasindo (ACER) yang kelak menjadi PT. Acer Indonesia.

Tak berlebihan kiranya jika President Director Acer Indonesia, Jason Lim, menyampaikan rasa hormatnya, “Eddy has contribute greatly to resources Acer Indonesia, he was known for his enterpreneur and marketing skills. He has also the key contributor and making Acer a round known brand in Indonesia. He trully deserved of the title of ‘Guru of Marketing’ or ‘God Father of Computer or IT’,” ungkap Jason.

Hal senada disampaikan mantan Ketua Computer City Tahun 1992-1995, Soegiharto Santoso. “Eddy Liew adalah peletak dasar organisasi para pengusaha komputer dan membuat organisasi tersebut teratur dan baik susunannya hingga kini,” katanya seperti dikutip Majalah Swa, Agustus 1999.

Eddy meninggal dunia di Jakarta, 12 Agustus 2009 setelah menelurkan banyak kemajuan bagi industri TI Indonesia.

Jika kita bicara mengenai sejarah perkembangan Teknologi Informasi (TI) di Indonesia, tak akan mungkin melupakan nama Fransiskus Eddy Liew. Dikenal sebagai perintis bisnis komputer desktop (PC) atau pemasok PC pertama di Indonesia, Eddy Liew telah membangun kerajaan bisnis bernama Dragon Computer & Communication Group, serta mengubah wajah organisasi di bidang TI Indonesia menjadi lebih modern dan tertata. Kini, setelah sebulan kepulangannya ke Sang Pencipta, nama Eddy Liew tetap berkibar.

EDDY LIEW memulai perjalanannya di dunia bisnis sebagai pedagang kalkulator Casio di Malaysia dan Singapura. Ia kembali ke Tanah Air tahun 1973 dan membuka sebuah toko kecil di Hayam Wuruk Plaza, Jakarta. Menjelang tahun 1980, Eddy Liew mulai memasok kalkulator merek baru Citizen, dengan harga yang relatif lebih murah. Citizen melesat merebut pasar kalkulator Indonesia, sehingga produk Citizen berkembang dalam banyak tipe. Beberapa tipe diantaranya merupakan penamaan dari Eddy, sebut saja CT-500 dan SDC-868.Bersamaan dengan berkembangnya kalkulator Citizen, Eddy mulai memasarkan komputer generasi awal merek Sinclair. Eksistensinya sebagai perintis bisnis komputer di Indonesia terungkap dalam testimoni Effendi Ruslim (Pimpinan Columbia Computer) pada resepsi 25 tahun Dragon Computer di Hotel Borobudur Jakarta beberapa tahun yang lalu.

Pada resepsi tersebut, Effendi yang akrab disapa Ko Lim itu, selain memberi sambutan kesaksian juga membawa produk Sinclair lengkap dengan kwitansinya yang dibeli dari Eddy Liew puluhan tahun yang lalu. Setelah itu, dengan berkembangnya Kawasan Glodok, Eddy pun mulai ekspansi ke Plaza 21 dan Glodok Plaza dengan bendera Dragon Computer & Communication (DCC). Bersama beberapa pengusaha muda komputer seperti Soegiharto Santoso atau Hoky, Surya Kencana, Surya Lesmana dan Wing Wiryawan, mereka mencatat babak baru dalam sejarah pengusaha bisnis komputer Indonesia dengan mendirikan wadah bernama Computer City yang beranggotakan ratusan pengusaha komputer di kawasan Glodok Plaza.

Sejak itu pula tumbuh bentuk-bentuk kerjasama dengan vendor- vendor besar seperti Microsoft dan Intel melalui pameran-pameran yang diorganisir sendiri oleh pengurus Computer City. Presiden Direktur CBM Computer, Surya Kencana, menyebut Eddy Liew sebagai seorang enterpreneur tangguh yang mampu memotivasi orang lain menjadi seorang businessman. “Dengan kreativitas yang tinggi, Eddy bukan saja berhasil membangun bisnisnya, tapi juga menjadi tempat menimba ilmu bagi orang-orang muda,” ujar Surya. Puncak prestasi Eddy Liew yakni mengantarkan Acer menjadi market leader Indonesia. Semua itu dicapai Eddy dengan kerja yang tiada henti plus kemampuan lobi yang luar biasa, bahkan ketika Acer masih dipegang PT. Metrodata Elektronik Tbk. Ketika Acer ragu untuk kembali ke pasar Indonesia pasca tragedy Mei 1998, Eddy pula yang berangkat ke Taipei dengan misi meyakinkan Bobby Chang (pejabat Acer untuk kawasan Asia-Pasifik), untuk terus mengembangkan sayap di Indonesia. Sebuah badan hukum pun dibentuk sebagai pengaman produk Acer dengan nama PT. Aman Citra Era Reformasindo (ACER) yang kelak menjadi PT. Acer Indonesia.

Tak berlebihan kiranya jika President Director Acer Indonesia, Jason Lim, menyampaikan rasa hormatnya, “Eddy has contribute greatly to resources Acer Indonesia, he was known for his enterpreneur and marketing skills. He has also the key contributor and making Acer a round known brand in Indonesia. He trully deserved of the title of ‘Guru of Marketing’ or ‘God Father of Computer or IT’,” ungkap Jason.Hal senada disampaikan mantan Ketua Computer City Tahun 1992-1995, Soegiharto Santoso. “Eddy Liew adalah peletak dasar organisasi para pengusaha komputer dan membuat organisasi tersebut teratur dan baik susunannya hingga kini,” katanya seperti dikutip Majalah Swa, Agustus 1999. Eddy meninggal dunia di Jakarta, 12 Agustus 2009 setelah menelurkan banyak kemajuan bagi industri TI Indonesia.

AOSI Siap Gelar GCOS 2009

0

GCOSAsosiasi Open Source Indonesia (AOSI) yang secara resmi berdiri setahun lalu akan menggelar sebuah perhelatan akbar bernama “Global Conference on Open Source” (CGOS) 2009.

Acara yang didukung oleh Kementrian Negara Ristek serta Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) ini diadakan di Jakarta tanggal 26 – 27 Oktober 2009 dan ditargetkan akan dihadiri oleh 500 peserta, dimana 50% nya adalah delegasi dari berbagai negara di dunia.

GCOS 2009 bertujuan untuk menggalang kolaborasi internasional di kalangan pemerintah, pebisnis, akademisi dan masyarakat pendukung open source untuk memperkuat posisi open source dan membuatnya semakin menarik dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

GCOS akan terdiri dari seminar, workshop dan pameran berbagai solusi, teknologi dan inisiatif yang bertemakan open source.

Betti Alisjahbana, Ketua Umum AOSI yang sekaligus Ketua Penyelenggara GCOS mengatakan, “Melalui GCOS, kami beharap dapat membangun momentum bagi tumbuhnya industri teknologi informasi dan komunikasi (TIK) nasional sekaligus sebagai ajang promosi bagi kepemimpinan Indonesia di bidang TIK, khususnya open source ke dunia Internasional,”

Narasumber atau pembicara dari dalam negeri yang akan memeriahkan acara ini diantaranya Zainal Hasibuan dari Dewan TIK Nasional (DeTIKNas), Gatot HP dari SEAMOLEC, institusi tingkat Asia Tenggara yang bergerak dalam kerjasama regional dalam bidang pendidikan antara lain dalam pemanfaatan TIK untuk Belajar Jarak Jauh (distance learning), Onno W. Purbo (penggiat TIK Nasional), dan juga dari berbagai instansi seperti Telkom, PT Samudera Indonesia, Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Kabupaten Jembrana – Bali, pembicara dari BlankOn Linux, Sangkuriang Studio, Universitas Gajah Mada, Depkominfo, CommonRoom, dan ITB.

Sementara pembicara dari luar negeri antara lain Todishiro Yoshida (NTT Japan), Clam Webb (Harvard University), Richard Randriatoamanana (CNRS, France), A Min Tjoa (Technische Universiteit, Wien, Austria), Andrea Reimer (Councillor of Vancouver, British Columbia, Canada), dan Rajanish Dass dari NECTEC, Thailand, Indian Institute of Management.

Paralel dengan GCOS 2009 akan diselenggarakan pula IGOS Summit 3, Asia Open Source Software (AOSS) Workshop dan POSS Network Workshop. Keterangan lebih lanjut kunjungi http://gcos.info