Home Blog Page 947

INAICTA 2013: Indonesia Siap Bersaing di Industri Games Internasional

0

SETELAH tahapan demi tahapan dilaksanakan, Indonesia ICT Award (INAICTA) 2013 akhirnya sampai pada acara puncak yang berlangsung selama dua hari di Assembly Hall dan lower lobby Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta. Sebanyak 168 karya telah didemonstrasikan langsung dan dinilai potensinya di hadapan para juri.

Pada tahun 2013 ini, INAICTA telah diadakan untuk ke tujuh kalinya dengan membuka 21 kategori karya yang dapat diikuti profesional dan non profesional dari kalangan pelajar maupun umum.

Berdasarkan hasil rekapitulasi tim kepesertaan INAICTA 2013, dari 1.000 akun pendaftar ditemukan kategori Games untuk umum dan pelajar adalah yang paling banyak diminati peserta, diikuti oleh kategori Aplikasi, juga untuk peserta universitas maupun pelajar (SMU/SMK).

Selanjutnya kategori favorit lainnya adalah Digital Interactive Media, Small Medium Enterprise Application, dan Reseach and Development Projects. Karya-karya dari  para nominator tersebut telah dipamerkan kepada publik 31 Agustus – 1 September 2013.

Jumlah peserta pameran akan sama dengan jumlah nominator terpilih, yaitu 168 booth yang dipajang di area Assembly 3 dan Assembly Lobby JCC.

Para juri yang terdiri dari praktisi dan akademisi bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan non-teknologi yang berjumlah 106 orang tersebut menilai, tidak hanya inovasi dan keunikan karya yang menjadi perhatian, namun juga fungsi dan fitur, penerapan teknologi, serta manfaat, baik secara komersial maupun bagi target dari karya-karya tersebut. Para juri yang berkompeten tersebut diantaranya adalah Yoris Sebastian (OMG Consulting), Andrew Darwis (Kaskus), Narenda Wicaksono (Nokia), Adi Panuntun (Sembilan Matahari), Angkie Yudistia (Thisable Enterprise) dan Dennis Adishwara (Layaria).

“Sesuai tema INAICTA tahun ini, ‘Teknokreasi: A Nation of Possibilities’, seluruh finalis sudah menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki potensi yang luar biasa, tidak hanya untuk berkembang, tetapi juga bersaing secara internasional di bidang teknologi informasi dan terapannya,” ujar Andreas Surya, Ketua Pelaksana INAICTA 2013.

Pada kesempatan tersebut, 15 pakar di industri TIK juga turut mengisi rangkaian conference dan workshop. Acara konferensi pada tahun ini bertema ‘All about Indonesia Game Industry’ yang titik beratnya ada pada industri game.

Mengenai materi konferensi dan workshop, jelas Andreas, “Hampir 70% menggarisbawahi seputar industri games di Indonesia. Hal ini dikarenakan setelah melalui berbagai tahapan dan menerima banyak insight. Kami melihat potensi Indonesia ke depannya merujuk kepada pertumbuhan industri games yang sangat signifikan. Selain itu juga diperkuat dengan kenyataan bahwa jumlah pendaftar INAICTA terbanyak tahun ini adalah dari kategori games.” papar Andreas.

Pesatnya industri games di Indonesia sendiri ditandai dengan tumbuhnya studio games di Indonesia yang mulai dilirik oleh dunia serta banyaknya games lokal yang popular dan diunduh tidak hanya oleh masyarakat Indonesia. “Melihat tren tersebut, kami sengaja mempersiapkan para calon pelaku industrinya melalui konferensi dan workshop yang fokus dan menyeluruh. Tujuannya, supaya kita siap memasuki persaingan dalam industri games di tingkat internasional,” lanjut Andreas.

Selain mengenai games, workshop juga akan diisi dengan materi mengenai robotika, video mapping, e-commerce, dan aplikasi digital.

Pembukaan rangkaian acara puncak INAICTA 2013 diresmikan secara langsung oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring. “Indonesia memiliki potensi yang besar, yang mulai dipertimbangkan oleh masyarakat internasional. Salah satunya adalah dengan terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan industri TIK internasional, Internet Government Forum,” jelas Tifatul.

Pengumuman pemenang dan malam penganugerahan INAICTA 2013 yang memperebutkan total hadiah senilai Rp. 1 Milyar ini akan dilangsungkan pada Minggu malam, 1 September 2013 pada pukul 19.00 WIB. •

 

HARRY KARTONO: Rapoo Target Jadi Top 3 Brand di Indonesia

0

Indonesia sebagai negara besar berpopulasi sekitar 250 juta jiwa dengan pertumbuhan perekonomian yang membaik telah menjadikannya sebagai negara potensial tujuan investasi dan pemasaran oleh berbagai industri di dunia.

RAPOO mulai serius untuk menggarap pasar Indonesia dengan menunjuk Harry Kartono sebagai Country Manager Rapoo yang bertanggungjawab untuk memperkenalkan teknologi terbaru dan strategi bisnis dari Rapoo di Indonesia serta membangun kemitraan lokal.

Produsen asal China yang dikenal dengan produk peripheral nirkabel, seperti mouse dan keyboard ini tidak tanggung-tanggung menargetkan bisa menjadi Top 3 Brand di tanah air dengan kepemimpinan Harry yang mempunyai pengalaman di dunia teknologi informasi (TI) selama 13 tahun.

Menurut Harry, Rapoo sebagai brand global yang sudah sukses di Eropa, Amerika, China dan Hongkong akan meraih kesuksesan juga di Indonesia. “Rappo sebagai manufaktur company bisa mendengar kebutuhan dan produk apa yang cocok untuk konsumen Indonesia, sehingga trend di Indonesia seperti apa bisa disiapkan dengan cepat dalam memenuhi kebutuhan konsumen,” ujar lulusan University of Philiphine GS FAME, jurusan Marketing ini.

Ia optimis, Rapoo bisa menarik pasar Indonesia karena inovasi-inovasi yang dilakukan Rapoo adalah yang terdepan, seperti penggunaan wireless di frekuensi 5,8GHz untuk produk mouse dan keyboard terbarunya yang memiliki performa dan kecepatan tinggi, teknologi robotic dalam proses pembuatan produk dan garansi ganti baru apabila terjadi kerusakan pada produk-produk Rapoo.

“Inilah menariknya untuk pasar Indonesia. Rapoo tidak melakukan servis untuk produk yang rusak tetapi konsumen bisa langsung menukarnya dengan yang baru apabila terjadi kerusakan pada mouse ataupun keyboard yang digunakan selama masa garansi,” katanya.

Dengan pengalaman diberbagai perusahaan TI, seperti Samsung, Logitech, dan Microsoft, diakuinya yang membuatnya tertantang bergabung di Rapoo adalah dirinya bisa memberikan feedback terhadap R&D sebelum produk di-launch di Indonesia. Segala masukan produk apa yang paling cocok dan tren kedepannya seperti apa di Indonesia akan dilihat dan didengar pihak R&D. Sehingga ia merasa dilibatkan dan turut andil dalam menentukan kemajuan Rapoo di tanah air.

Lebih lanjut, berikut petikan wawancara BISKOM dengan Harry Kartono di kesempatan peluncuran tiga lini produk nirkabel terbaru dari Rapoo, mulai seri mouse dan keyboard (T120p, T300p, E9180p, E9090p, E6700p, E9500p dan 8000p), seri audio (H9080, A8060, A5000, H3250 dan H6250), dan seri hiburan multimedia (RATV dan mini RATV).

Apa yang membuat Rapoo berbeda?
Rapoo ditawarkan ke saya itu benar-benar brand yang bisa mendengar produk apa yang cocok terhadap konsumen Indonesia. Berbeda, dimana selama karir saya itu lebih banyak produk di establish dan didesign terlebih dahulu, lalu setelah jadi baru ditawarkan ke market Indonesia. Ini salah satu titik dimana sangat challenge buat saya untuk move on ke Rapoo.

Jadi, menurut Anda sangat penting untuk membuat produk yang sesuai?
Bagi saya yang paling penting sebagai warga negara Indonesia adalah bagaimana bisa mensupport market di Indonesia sehingga bisa berkontribusi terhadap tanah air kita sendiri. Bukan 100% itu produk dari luar negeri tetapi bagaimana menciptakan market di Indonesia lebih cepat terutama dalam mensupport infrastruktur dari UKM, bidang-bidang ekonomi kerakyatan dan secara nasional mendukung infrastruktur secara luas, misalnya perbankan dan pendidikan. Itu yang sangat penting untuk mendukung generasi berikutnya dan pastinya akan disupport oleh manufaktur langsung karena kalau menciptakan produk yang tidak sesuai tren di Indonesia tentunya akan sangat membuang waktu.

Apa yang menjadi optimisme Anda bila melihat pasar PC sedang down saat ini?
Berdasarkan survei badan independen yang saya dapat, komputer itu baru 15% tercover di kota besar saja sehingga masih ada 85% lagi yang belum menggunakan . Saya juga melihat banyak program pemerintah kedepannya untuk gerakan pendidikan ataupun kesejahteraan di semua kota membutuhkan perbaikan infrastruktur. Dimana dalam kegiatan tersebut tentunya membutuhkan komputasi yang tidak sedikit jumlahnya. Apalagi pemerintah mulai membuat aturan pelarangan ekspor bahan mentah bagi manufaktur. Diharuskan ada industri pengolahannya yang tentunya ini butuh infrastruktur TI. Nah, itu baru dilihat untuk new market.

Sedangkan untuk replacement  market tentunya setiap pengguna PC akan mengalami kerusakan pada keyboard ataupun mouse-nya sehingga membutuhkan yang baru. Disini peluang cukup besar yang bisa digarap oleh Rapoo untuk menawarkan produk yang berkualitas dengan garansi tukar baru.

Peningkatan yang dilakuan dengan menggunakan robot dibandingkan sebelumnya?
Sejak dua tahun lalu Rapoo menggunakan teknologi robot dalam memproduksi berbagai produk-produk Rapoo, baik itu keyboard, mouse ataupun perangkat audio. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk Rapoo dan juga mengefisiensi cost.

Dengan menggunakan robot proses perakitannya tidak mungkin salah karena sudah dikalibrasi dengan chips untuk menentukan gerakan, tekanan dan lainnya. Andaipun ada kendala tetap bisa dikontrol berbeda dengan pekerja yang dipengaruhi kondisi fisik dan moodnya yang tidak stabil sehingga mempengaruhi proses perakitan produk jadi tidak standar. Bisa disimpulkan, pada saat manufaktur itu masih menggunakan human sebagai pekerja untuk menambah kapasitas produksi pasti dibutuhkan lebih banyak pekerja lagi yang tentunya mengeluarkan cost sangat tinggi dan unbreakable untuk jangka panjang.

Tetapi perangkat dengan automation seperti robot ini tentunya sistemnya lebih sedikit dan mereka minimal problemnya juga lebih sedikit dibandingkan  pekerja. Efisiensi pekerjanya sendiri yang digunakan sekarang hanya 25% saja dan kapasitas produksi 3 kali lipat dari sebelumnya.

Kenapa Rapoo tidak menargetkan untuk menjadi brand nomor satu di Indonesia?
Saya rasa Indonesia itu satu-satunya pasar yang unik dimana brand itu tidak bisa digantikan  karena kebiasaan. Sebut saja pompa air, pastinya orang menyebutnya Sanyo bukan Panasonic ataupun lainnya. Begitupula dengan Aqua merek dari air mineral. Tapi pastinya yang kita lakukan tentunya untuk bisa menjadi salah satu produk yang bisa diunggulkan dari pilihan yang terbaik. Hal ini sudah kita buktikan dahulu secara konsisten produk nirkabel berteknologi 5G hanya Rapoo saja. Kami merupakan pioneer untuk penggunaan wireless 5,8GHz dalam rangkaian produknya. Itu berarti mulai ada edukasi untuk pengenalan brand kami.

Bagaimana kedepannya untuk memenuhi keinginan pasar di Indonesia?
Mulai akhir tahun ini akan mulai mengembangkankan tim di Indonesia untuk lebih mensuport dan menjangkau secara nasional. Karena saat inikan baru kota-kota besar saja yang terjangkau oleh pihak distributor.

Selain itu, kedepannya R&D dari Rapoo akan banyak duduk di Indonesia untuk bisa membuat produk-produk berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan tren di tanah air. •ANDRI

Sasar Segmen Enterprise, Oracle Kenalkan Cloud Solution

0

KOMPUTASI Awan atau Cloud Computing yang kian populer di dunia mendorong Oracle untuk menawarkan Oracle Cloud Solutions bagi segmen enterprise yang menjangkau semua komponen infrastruktur yang dibutuhkan industri.

Persoalan keamanan merupakan prioritas bagi perusahaan untuk beralih ke Cloud Computing. Doug Hughes, Vice President, Applications Product Management Oracle dalam diskusi bertajuk “Roadmap To Enterprise Cloud Computing” di Jakarta (27/8), mengatakan, “Kami berfikir dan memeras otak untuk membuat sistem keamanan kami unggul bahkan lebih sering atau lebih banyak dari pada mereka (konsumen) sendiri.”

Willie Hardie, Vice President Oracle Database Product Marketing mengatakan, perusahaan perbankan dan telekomunikasi merupakan segmen yang tepat untuk melakukan migrasi infrastuktur ke komputasi awan. Bagi kinerja pada segmen enterprise, Oracle memberikan Police Base Management yang mampu mengatur performa terbaik bagi pengguna dalam menggunakan Cloud Computing.

Cloud Computing menurut National Institute Of standard Technology (NIST) adalah model yang memungkinkan akses on-Demand terhadap sumber daya komputasi yang dapat di konfigurasi dalam waktu singkat untuk dapat digunakan bersama-sama seperti jaringan, server, penyimpanan, aplikasi dan layanan.

“Kami bisa menyediakan kepada pengguna on-demand service melalui layanan aplikasi/software mengenai database, storage dalam Cloud Computing,” kata Hardie.

Oracle juga menyediakan tiga macam model layanan Cloud Computing yaitu Software As a Service (SaaS) dengan contoh produk Oracle CRM On Demand, Platform As service (PaaS) yang spesifik ditujukan untuk bahasa pemrograman atau API, seperti java atau Python.  Infrastructuce as a Service (Iaas) perangkat server, media penyimpanan dan jaringan dihadirkan sebagai layanan.

Strategi Oracle dalam menyediakan cloud Computing adalah menyediakan produk yang paling lengkap, meliputi Private Cloud, Public Cloud, Community Cloud, dan Hybrid Cloud. •

Taiwan-Indonesia Buka Pasar TIK Melalui ICT Roadshow

0

PERAN Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saat ini menjadi sangat penting dalam mendukung pertumbuhan bisnis dan industri di suatu negara. Bahkan, di beberapa  negara, pemerintahannya telah membuat tim khusus untuk memajukan pengembangan industri TIK, karena TIK dianggap mampu menjadi bagian pendorong pertumbuhan perekonomian bangsa tersebut.

Di Indonesia, kepedulian untuk mengembangkan industri ini dimulai oleh swasta dan asosiasi serta didukung oleh pemerintahan, karena keinginan untuk merubah peran Indonesia sebagai negara konsumen menjadi produsen. Hal ini salah satunya dibuktikan melalui kegiatan Taiwan – Indonesia ICT Radshow 2013 yang digelar oleh Federasi Teknologi Informasi Indonesia (FTII), Taipei Computer Association (TCA) dan Bureau of Foreign Trade Ministry of Economic Affairs, Taiwan (R.O.C), di Grand Mercure Hotel, Jakarta, 27 Agustus 2013.

Taiwan – Indonesia ICT Radshow 2013 juga didukung oleh Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo),  Asosiasi Perangkat Lunak Indonesia (Aspiluki), Asosiasi Penyelenggara Jasa Intenet Indonesia (APJII), Asosiasi Warung Internet Indonesia (Awari),  Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Ilmu Komputer (Aptikom), Asosiasi Pengusaha Warnet Indonesia (APWI) dan Asosiasi Logistik Indonesia serta BISKOM sebagai media partner.

Ashwin Sasongko, Direktur Jenderal Aplikasi Telematika Kementerian Kominfo saat membuka acara ini mengatakan, “Di kesempatan ini antara Taiwan dan Indonesia berkesempatan untuk mempromosikan masing-masing industri TIK-nya. Sehingga diharapkan hubungan kerjasama bisnis antara kedua negara bisa lebih erat dan luas lagi di masa mendatang.”

Menurut Ketua Umum FTII, Sylvia W. Sumarlin, penyelenggaraan event ini akan membuka kesempatan dan memunculkan benefit bagi kedua negara. “ICT Roadshow ini bukan hanya membuka pasar untuk Taiwan tetapi juga harus membuka pasar untuk Indonesia,” kata Sylvia.

Diungkapkan Sylvia, di era mobile computing ini Indonesia mempunyai banyak ahli di bidang software namun terkendala masalah market, meskipun Indonesia mempunyai market yang besar. Hal disebabkan masyarakat Indonesia masih percaya dengan satu brand atau terbiasa dengan distribution channel tertentu.

“Taiwan terbiasa menjadi penyelenggara jasa. Bukan hanya untuk negaranya saja tetapi juga untuk negara-negara lainnya. Kita berharap dengan kerjasama ini bisa menggabungkan aplikasi yang dikembangkan oleh industri lokal dengan mereka. Sehingga kita bisa menjadi provider di negeri sendiri dan membuka market serta juga bisa ikut market mereka di luar,” paparnya.

Melihat jumlah penduduk yang besar, Taiwan tak lantas menganggap Indonesia sebagai konsumen semata.  Perwakilan Taipei Economic and Trade Office (TETO) untuk Indonesia, Andrew Y.L Hsia mengatakan, perusahaan-perusahaan Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan bisnis digital bagi penduduk Indonesia sendiri, bahkan juga bisa melakukan ekspansi pasar ke luar Indonesia.

Sedangkan TCA Chief Delegate, Richard Tang menyoroti tiga hal besar yang difokuskan dalam perkembangan TIK kedepannya sebagai peluang bisnis, yaitu mobility, Cloud dan big data. “Pengadopsian tiga hal tersebut akan banyak dimanfaatkan oleh banyak negara. Bisa dilihat penggunaan smartphone ataupun tablet yang semakin kian tumbuh dan aplikasi yang berjalan diatas Cloud. Semuanya saling terhubung dan akhirnya permasalahan akan berdampak pada kebutuhan big data,” ujarnya.

Acara ini juga dirangkai dengan talkshow bertemakan “The Era of Mobility Gadget in Indonesian ICT Industry” yang di moderatori oleh Teddy Sukardi, Chairman Ikatan Konsultan Teknologi Informasi Indonesia (IKTII) dengan pembicara Richard Tang dari Systex, Anton Prasojo dari PT. Aplikasi Lintas Nusantara, Arif dari Telkomsel dan Christine dari SpeedUp.

Puncak acara dari Taiwan – Indonesia ICT Roadshow ini dituangkan dalam One on One Business Meeting yang diharapkan dapat terjadi kesepakatan MOU atau Perjanjian Kerjasama antara perusahaan TIK  Indonesia dan Taiwan sehingga memperkuat hubungan jangka panjang dan dapat membangun bisnis tumbuh lebih cepat, meningkatkan produktivitas dan menghasilkan keuntungan bagi kedua belah pihak.

Di kesempatan ini, pihak Taiwan menghadirkan sekitar 16 delegasinya, yaitu Advantech, Anbonn, Attention System Develop, Axtronics, Changing Information Technology, Chunghwa Telecom, Farnet, Favite, Gemtec, Horizon Multimedia, Infotime, Avier, JoyMaster, Phantosys, Systex dan Qin Bai Yang. •

Edimax WPS-1300, Memudahkan Presentasi Kelompok

0

PERUSAHAAN penyedia perangkat jaringan, Edimax, belum lama ini memperkenalkan WP-S1300, sebuah server yang dirancang untuk pengguna yang ingin berbagi satu proyektor atau perangkat video (monitor, televisi, dan lain sebagainya) dengan perangkat lainnya melalui jaringan kabel atau wireless, tanpa diperlukan kabel VGA.

Server WP-S1300 yang kompatibel dengan sistem operasi Mac  ini bisa membagi 4 tampilan atau 4 komputer untuk ditampilkan pada satu layar, dan dapat menayangkan format video flash. Bukan hanya berfungsi sebagai sebuah proyektor server, WP-S1300 juga berfungsi sebagai akses point. Jika menghubungkan WP-S1300 ke internet, maka pengguna dapat untuk menjelajahi web sambil melakukan presentasi.

Edimax WP-S1300 mendukung  teknologi nirkabel terbaru 802.11n. Selain itu terdapat fitur gigabit LAN port (10/100/1000Mbps) bagi mereka yang membutuhkan tingkat transmisi yang lebih cepat. Perangkat ini sangat user-friendly, sehingga pengguna dapat secara mudah mengontrol perangkat. Moderator rapat juga dapat dengan mudah mengganti materi presentasi dari peserta rapat lainnya melalui remote control, tanpa harus melepas dan memindahkan kabel VGA dari satu komputer ke komputer lainnya. Dengan antarmuka VGA built-in, pengguna dapat menghubungkan alat ini ke setiap proyektor, layar CRT, layar LCD atau TV yang mendukung VGA video input.

Dengan Edimax WP-S1300, Anda dapat mengatur sebuah sesi login kode untuk menolak akses dari pengguna yang tidak sah. Tombol WPS (Wi-Fi Protected Setup) juga memungkinkan Anda untuk mengkonfigurasi sambungan nirkabel terenkripsi dengan cara menekannya. •

Spesifikasi

Cara Menghubungkan WPS-1300
–    Hubungkan WP-S1300 ke proyektor melalui antarmuka VGA.
–    Hubungkan komputer ke WP-S1300 melalui koneksi nirkabel/wireless.
–    Dapat mengakses Internet melalui WP-S1300 selama melakukan presentasi (WP-S1300 perlu terhubung ke internet).

 

 

 

 

 

 

 

ONNO W. PURBO: Lebih Baik Jadi Guru, Demi Cerdaskan Bangsa

1

Hidup harus bermanfaat untuk orang lain. Inilah prinsip hidup sosok pria sederhana yang dikenal sebagai Pakar Internet Indonesia. Tidak heran bila dengan pengetahuan yang dimiliki, sebagian hidupnya diabdikan untuk mencerdaskan bangsa dengan karya-karyanya yang inovatif, seperti Wajanbolic yang sekarang ini menjadi solusi banyak orang di pelosok desa untuk bisa terkoneksi internet dengan baik dan murah.

ONNO WIDODO PURBO atau lebih dikenal dengan sebutan Kang Onno W. Purbo, demikian tokoh teknologi informasi (TI) nasional yang nama namanya disebut-sebut selalu berpihak pada kesejahteraan rakyat kecil ini. Dengan kreatif, ia selalu berupaya mengembangkan solusi-solusi untuk menciptakan layanan internet dan telekomunikasi menjadi lebih murah untuk rakyat. Onno pernah  menggagas RT/RW-Net dan penerapan Open Base Transceiver Station (BTS) serta membuat karya bernama Wajanbolic.

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat buat orang lain,” ujar lulusan Tehnik Elektro, Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengutip salah satu hadist yang menjadi inspirasinya untuk berbagi ilmunya dengan orang lain. “Jadi buat apa kaya, pintar, punya jabatan tinggi kalau tidak bermanfaat untuk orang lain?” lanjutnya.

Memahami hal tersebut, Onno lebih memilih berkiprah di dunia TI di jalur independen dibandingkan terikat dengan perusahaan ataupun instansi. Bahkan saat banyak tawaran untuk menjadi konsultan,  tetap ditolaknya. Dirinya lebih memilih untuk tetap menjadi guru, sebagai upaya untuk mencerdaskan bangsa ini dengan ilmu yang dimilikinya.

“Belasan tahun lalu saya sempat dikumpulkan dengan dosen ITB lainnya di suatu ruangan. Saat itu kami semua ditanya oleh pengajar senior, Bapak Prof. Samaun Samadikun, tentang cita-cita kami. Semua dosen di ruangan tersebut menjawab ingin menjadi industriawan dan hanya saya satu-satunya yang menjawab ingin menjadi guru alias pendidik,” ujar bapak dari enam anak ini bercerita.

Saat mengundurkan diri mengajar di ITB tahun 2000, dirinya tetap mendidik melalui, seminar, workshop, artikel maupun buku yang ditulisnya yang dapat diunduh secara gratis. Kecintaannya terhadap profesi guru ini tetap ditekuninya hingga kini. Pada 2011, Onno sempat bergabung mengajar di Sekolah Tinggi Kejuruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Surya yang secara khusus mengajar dan mendidik para guru yang berasal dari daerah Papua, NTT, Bengkulu dan Kepulauan Riau.

Salah satu yang digaunginya dalam memberikan pendidikan adalah teknologi Open BTS yang dianggapnya mampu menjadi solusi murah telekomunikasi di tanah air dan solusi ini bisa segera mengatasi permasalahan telekomunikasi yang belum tersebar ke pelosok-pelosok daerah yang selama ini terhambat karena infrastrukturnya mahal dan dari sisi operator sendiri enggan membangun karena dianggap tidak menguntungkan.

“Bayangkan bila BTS selular 60 watt buatan Siemen Nokia dihargai antara Rp.500juta-Rp.1,5 milyar dengan Open BTS yang hanya membutuhkan Rp.150 juta sudah termasuk sentral telephon. Seharusnya Open BTS ini bisa dijadikan jalan keluar untuk telekomunikasi yang murah untuk rakyat. Namun kembali lagi ke pemerintahnya, mau tidak menerapkan ini?”

Dengan gaya bicara yang ceplas-ceplos, lulusan McMaster University, Kanada dan penyandang gelar Ph.D dari Universitas Waterloo ini menganggap pemerintah masih belum berpihak pada rakyatnya.

Berikut petikan BISKOM dengan kelahiran Bandung, 17 Agustus 1962 yang kerap dianugerahi beragam penghargaan secara nasional maupun internasional ini.

Hal apa yang membuat Anda tertarik dengan dunia TI?  
Hobi saja. Awalnya waktu sekolah dulu ada pelajaran menyolder untukmembuat lampu klip-klop atau sirene. Akhirnya keterusan dan mulai masuk kuliah jurusan komputer dan mulai terjun ke duania TI. Pokoknya semua tidak sengaja. Saya buat Open  BTS juga hobi saja, coba-coba dan ternyata bisa dan nyambung lalu saya coba kembangkan terus.

Secara umum menurut pengamatan Anda, bagaimana perkembangan TI saat ini dibanding tahun-tahun sebelumnya?
Sebagai user atau pengguna kita bisa ranking ke 2 atau 3. Hal ini bisa dilihat dari pengunaan Facebook, Twitter, Google+ dan lainnya di berbagai media sosial di internet termasuk yang terbesar. Juga dari sisi pengggunaan internet melalui seluler sudah banyak digunakan anak muda kita saat ini.

Namun konsekuensinya menyedihkan, kita harus membeli ponsel ataupun gadget dari negara lain dalam skala mendekati Rp. 2-3 trilyun. Padahal saya masih mimpi, pasar Indonesia dikuasai oleh industri TI local. Tidak seperti sekarang, uang kita lari ke keluar negeri semua.

Sebenarnya apa keinginan Anda pribadi untuk bangsa ini dan untuk dunia TI khususnya?
Masih sama dengan yang lalu, yaitu ingin melihat bangsa ini hidup dari kekuatan otaknya tidak hanya mengandalkan otot dan bedil saja. Khususnya dalam dunia TI inginnya kita bisa menjadi produsen juga jangan hanya hebat sebagai pengguna dan konsumen saja.
Namun konyolnya sekarang inikan TI malah dicoret dari kurikulum pendidikan oleh Diknas. Tentunya ini semakin  menjadikan kita terus menjadi negara konsumen. Jadi kalau bangsa ini masih begini saja, bisa-bisa Indonesia akan tenggelam dengan produk asing. Tetapi mudah-mudahan dengan pemilu 2014 nanti bisa menghasilkan pemimpin yang pintar dan bisa merubah semua ini.

Bagaimana Anda menilai pertumbuhan TI di masa mendatang dilihat dari karakter masyarakat dan wilayah grafis Indonesia?
Sebenarnya dari sisi pertumbuhan sangat baik dan ini akan lebih dipercepat lagi kalau pemerintah cukup cerdas mengimbangi pertumbuhan tersebut, misalnya dengan cara memberikan insentif bagi aplikasi lokal di Indonesia, memberikan insentif bagi Google, Facebook, Twitter dan lain sebagainya untuk bisa hosting dan bekerjasama dengan developer lokal, mewajibkan semua gadget yang beredar harus dibuat di pabrik lokal, dan membuat kurikulum TI untuk semua sekolah  serta membuat lebih banyak lagi program studi TI di kampus-kampus.

Banyak permasalahan di bidang telekomunikasi yang hingga saat ini belum terselesaikan, misalnya saja masalah koneksi internet yang lambat. Idealnya, koneksi internet yang baik itu seperti apa?  
Terus terang tidak akan pernah tercapai yang namanya ideal itu. Saya sendiri di rumah mempunyai 3 televisi LCD layar lebar yang melakukan streaming video on demand dari server lokal di rumah dengan kecepatan 100-1000Mbps. Jadi kalau mau nonton film seri high definition yang ada di TV semuanya tinggal streaming server dari rumah yang dibuat sendiri. Belum lagi 3 Network Attached Storage (NAS) yang filenya sebesar 9 Tb tersambung ke jaringan LAN, WiFi dan Wireless Mesh lokal.

Saya yakin bangsa ini maunya juga seperti ini kecepatannya, maka sebaiknya pemerintah mengizinkan rakyatnya membuat sendiri jaringannya. Membuat sebanyak mungkin server lokal, baik itu di rumah, kampus, kantor bahkan kalau bisa di masing-masing kota dibuat server-server multimedia lokal untuk komunitas. Jadi kita bisa mengubah paradigma TV digital menjadi Internet Multimedia sehingga bisa internet, audio streaming dan video HD streaming menggunakan infrastruktur internet gigabit buatan rakyat.

Jadi solusinya membuat jaringan lokal sendiri?
Betul, bila diizinkan membuat sendiri jaringan lokalnya, maka internet kita bisa cepat. Kuncinya cukup simpel. Pertama, buat semua server lokal di Indonesia dengan sedikit mungkin pakai server luar negeri.

Kedua, izinkan  rakyat membuat jaringan sendiri baik itu kabel tembaga, wireless maupun fiber optic dengan membuang jauh-jauh segala izin yang menyulitkan. Ketiga, jadikan telepon sebagai layanan di atas internet, telepon tidak lagi esklusif bagi operator dan beri alokasi kode area telepon untuk rakyat. Keempat, bebaskan frekuensi seluler agar terutama di pedesaan bisa membangun BTS selular sendiri yang bisa menggunakan teknologi Open BTS. Serta kelima, pemerintah hendaknya melakukan investasi pada jaringan backbone fiber kabel laut antar pulau dan jaringan backbone ke daerah perbatasan dan pedalaman.

Lalu tanggapan Anda mengenai belum terpenuhinya kebutuhan telekomunikasi dasar di berbagai wilayah Indonesia?
Itu menjadi tugas pemerintah untuk memenuhi hak asasi telekomunikasi rakyat. Seperti saya bilang tadi, sebutulnya cara mengatasi hal tersebut cukup mudah dengan cara memberi kebebasan bagi rakyat daerah terpencil untuk membuat sendiri jaringan telekomunikasinya. Cukup murah kok, dengan biaya Rp.150-200 juta bisa jadi satu BTS dengan daya 60 watt lengkap dengan sentral telepon dan lain-lainnya. Anggaran tersebut kan bisa ditalangi secara swadaya masyarakat desa. Masalahnya, mereka belum tahu ilmunya saja.

Pemerintah Daerah (Pemda) Jakarta dan beberapa daerah di Indonesia telah melakukan inisiatif untuk mengadakan ruang publik yang sudah tersambung dengan WiFi. Menurut Anda cukup berhasilkah cara ini?
Saya sendiri belum banyak merasakan WiFi gratis dari Pemda dan belum tahu kalau itu ada. Sekarang inikan biasanya di hotel-hotel, restouran dan kafe yang memberikan WiFi gratis. Sebetulnya kalau Pemda menyediakan WiFi gratis yang perlu digalakkan adalah memberikan akses internet ke sekolah-sekolah karena disitulah kuncinya yang lain akan ikut, karena terjadi demand dari anak-anak sekolah tersebut.

Dalam setiap kesempatan diskusi, Anda kerap memperkenalkan istilah dan cara-cara unik untuk membuat komunikasi menjadi lebih baik, misalnya Wajan Bolic dan Open BTS. Apakah sejauh ini banyak pribadi maupun perusahaan yang mengadopsi solusi yang diajarkan?
Untuk Wajanbolic saya sering lihat alat ini bertengger di rumah-rumah penduduk terutama di kota-kota di luar jawa. Rasanya nyaman juga melihat sebuah ide di adopsi oleh masyarakat. Namun jumlah pemakainya sendiri tidak tahu karena rata-rata mereka memang tidak pernah melapor ke saya kalau mengadopsi teknologi tersebut dan hal itu bukan masalah buat saya.

Sedangkan untuk Open BTS kita masih punya kendala karena frekuensi yang digunakan adalah frekuensi berbayar ke pemerintah. Kalau Anda mengoperasikan Open BTS tanpa ijin maka dianggap melanggar. Tetapi secara praktek sebetulnya sudah mulai digunakan di daerah-daerah baik itu di perkebunan, di pertambangan maupun di daerah terpencil seperti di Papua. Biasanya agar aman, kebanyakan mereka membuat kerjasama operasi dengan operator yang berlisensi.

Mengapa Open BTS dan Wajan Bolic sangat penting? Apa keuntungan dari keduanya?
Dalam bahasa yang sederhana sebetulnya solusi-solusi ini untuk kemerdekaan rakyat di bidang TI. Masih banyak lagi selain itu, misalnya penggunakan open source, linux, penggunakan VoIP Rakyat dan lain-lain.

Semuanya lebih berharga dibandingkan puluhan juta bahkan milyar jika dioperasikan oleh operator menggunakan solusi proprietary. Masalah utamanya adalah ilmu ini tidak semua rakyat Indonesia tahu. Makanya sebagian besar rakyat tergantung pada solusi operator atau vendor yang mahal.

Seberapa banyakkah anak muda yang gemar TI di Indonesia, kota manakah yang menurut pengalaman Anda berisi anak-anak muda yang berbakat di bidang TI?
Kalau soal kualitas, anak-anak Indonesia jenius. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya anak yang menjadi juara di level Asia Pacific bahkan dunia. Masalahnya kan bukan kualitas tetapi masalah utamanya adalah kuantitas.

Sekarang saja, perusahaan-perusahaan TI masih kesulitan untuk mencari SDM TI, baik itu untuk programmer, jaringan dan lainnya. Kenapa hal ini bisa terjadi? Bisa dilihat dari 2,5 juta mahasiswa yang sedang belajar di kampus saat ini hanya 12% yang jurusannya tehnik, baik itu tehnik mesin, sipil arsitek maupun lainnya. Dari 12% hanya 10-20% yang jurusannya TI, berarti dari 2,5 juta mahasiswa yang ada hanya 1-2% berjurusan TI. Belum lagi kalau maunya lulusan yang bagus dan siap kerja tentunya makin tersaring lagi jumlahnya.

Lemahnya, kebanyakan dosen mengajari siswanya hanya konsep bukan skill yang menjadikan sistem perkuliahan kita tidak bisa diandalkan. Biasanya, kalau mau mencari orang TI berkualitas adanya di komunitas ataupun underground di dunia hacker. Pusatnya terutama di Yogyakarta dan Malang, daerah lainnya ada di Samarinda, Makassar dan Padang. Mereka mendapatkan ilmunya secara otodidak.

Ke depan, dengan cara apa Anda memberikah sumbangsih untuk kemajuan anak bangsa di bidang TI secara lebih luas lagi?
Dengan tangan saya yang cuma dua, jemari yang cuma 10 dan dengan otak saya yang cuma satu, saya akan berjuang membuat orang pintar melalui tulisan, artikel, buku, ceramah dan workshop.

Selain itu,  saya memberikan kesempatan orang-orang untuk mengkopi ilmu saya dalam USB harddisk. Kalau mau silahkan kirim USB harddisk 2 TerraByte ke rumah disertai ongkos kirim balik. Kalau ke kampus-kampus yang mengundang saya juga biasanya saya sarankan untuk kirim USB harddisk agar ilmu saya bisa menyebar dengan cepat. Maklum mengkopi pakai internet tidak mungkin untuk data sebesar itu.

Perlu disyukuri, sekarang ini banyak teman yang mendukung untuk bergerak membantu proses bikin anak Indonesia pintar, seperti ICTWatch dan relawan TI lainnya. Kalau kita punya banyak orang pintar, mau buat internet murah pun mudah. Atau mau buat perangkat apapun bisa saja. •ANDRI

Arikel Terkait:
– TELAH TERBIT BISKOM EDISI AGUSTUS 2013
– Pegiat Internet Indonesia #AkhirnyaMilihJokowi
– Ratusan Pelaku Ekonomi Kreatif Padati Konser Salam Dua Jari
– Asosiasi dan Penggerak TIK Nasional Sepakati Roadmap dan Menteri TIK Kedepan

Sukaca Purwokardjono: Smartfren Sajikan Handset Superior

0

DARI sekian produk bundling yang ditawarkan setiap penyelenggara telekomunikasi, terlihat Smartfren yang satu-satunya mempunyai handset sendiri. Penyedia layanan telekomunikasi berbasis CDMA EVDO dengan slogan “anti lelet” ini telah memperkenalkan smartphone terbarunya, seperti Smartfren Andromax V, New Andromax I dan Smartfren Andromax C.

“Smartfren berbeda dengan yang lain. Pengadaan device handset dilakukan sendiri oleh Smartfren, mulai dari awal kita menyusun spesifikasi, requirement, menentukan vendor, hingga mengurusi masalah importasi dan segala macamnya. Begitu pula dengan pengembangan aplikasi dihandle sendiri,” ujar Sukaca Purwokardjono, Division Head of Core Product Smartfren.

Ia juga menambahkan, setiap handset yang dikeluarkan Smartfren selalu mendapat respon yang baik dari masyarakat. Dicontohkannya, Andromax I generasi sebelumnya telah berhasil terjual sebanyak 355 ribu hanya dalam waktu 6 bulan. Diharapkan, dengan hadirnya New Andromax I bisa mendapatkan sekitar 200 ribu pelanggan baru dengan penjualan di atas 300 ribu unit di tahun ini.

“New Andromax I merupakan kelanjutan dari generasi sebelumnya dengan sejumlah peningkatan spesifikasi, seperti penggunaan prosesor yang lebih cepat 1,2GHz dual core dan sistem operasi sudah Android Jelly Bean,” ujar pria lulusan PPM Institute Management Jakarta ini.

Sambil menunjukkan handset Smartfren terbarunya, penggemar olah raga sepeda dan golf ini juga menjelaskan, produk yang dikeluarkan Smartfren merupakan teknologi superior dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan produk sekelasnya. “Inilah salah satu yang menjadi daya tarik masyarakat untuk menggunakan produk Smartfren.”

Berbagai strategi yang dilakukannya telah membawa Smartfren mencapai 11 juta pelanggan di akhir 2012 lalu. Tidak salah bila Indonesia Cellular Award (ICA) yang terselenggara bersamaan dengan ICS 2013 ini menganugerahi Smartfren sebagai “The Best CDMA Operator” dan produk Smartfren Andromax U sebagai “The Best CDMA Phone”.

Lebih lanjutnya, berikut ini petikan wawancara BISKOM dengan Sukaca Purwokardjono.

Apa rahasia sukses Smartfren sebagai The Best CDMA Operator di Indonesia saat ini?
Saya rasa yang pertama disoroti terlebih dahulu adalah dari sisi network terlebih dahulu. Saat ini BTS kami semuanya sudah berteknologi EVDO yang setara dengan 3,5G dengan speed download mencapai 3,1 Mbps. Bahkan di beberapa kota sudah berteknologi EVDO Rev. B yang bisa download mencapai 14,7 Mbps. Disini, konsumen yang memanfaatkan layanan kami tidak akan mengalami experience seperti menggunakan GSM dimana lokasi tertentu sinyalnya 3G tetapi di saat lain dapatnya 2G.

Kalau pakai smartphone seperti Blackberry dan Android yang EVDO dapatnya akan 3G terus. Kedua, dari sisi layanan kami memberikan tarif atau paketnya sangat murah sehingga konsumen melihatnya akan tertarik. Dan ketiga, pengadaan device handset dilakukan sendiri oleh Smartfren sehingga kami bisa menjual layanan sekaligus di saat yang sama kami berikan device-nya sebagai sarana untuk menikmati layanan Smartfren.

Seperti apa proses seleksi pengadaan device yang dilakukan Smartfren?
Tentunya melalui proses yang panjang, tetapi clue-nya adalah bahwa produk yang Smartfren keluarkan di pasar itu harus superior secara teknologi ataupun spesifikasinya, baik itu dari sisi chipset yang digunakan, design ataupun bentuknya yang lebih bagus dari yang lain maupun dari sistem operasinya. Sedangkan untuk memilih vendornya sendiri kami terapkan standar yang tinggi dengan melakukan testing yang sangat ketat sekali.

Lalu, bagaimana device yang superior ini bisa dijual dengan harga murah?
Sebenarnya bagi Smartfren yang dijual itu bukan device-nya tetapi service-nya, baik itu data, voice ataupun SMS. Device hanya sebagai sarana agar pelanggan bisa menikmati layanan kami. Jadi bagi Smartfren, device itu tidak mengambil untung yang besar tetapi yang terpenting pelanggan bisa menggunakan layanan dari Smartfren.

Kalau dilihat, dalam penyedian device selalu memilih brand asal China. Apakah ada rencana untuk menggandeng brand lokal?  
Ada joke “God created the world and the rest was made in China”, jadi kalau dibilang sekarang ini apakah ada ponsel yang buatan Amerika? Tidak ada. Blackberry saja perakitannya di China, begitupula dengan iPhone.

Seiring perkembangannya, improvement yang dilakukan China dalam meningkatkan kualitas industrinya sangat besar sekali. Ini terjadi karena banyak perusahaan-perusahaan di China yang pabrik handphone-nya banyak mengakuisisi perusahaan di Eropa, contohnya TCL mengakuisisi Avatel sehingga standar kualitasnya diadopsi semua, mulai dari proses produksi, mesin-mesin, maupun teknologi yang dipakai. Jadi sekarang ini berbagai handset banyak dibuat China, karena kualitasnya sudah berstandar global. Maka itu kami memilih pabrikan China yang jelas-jelas sudah diakui dunia kualitasnya.

Sedangkan terkait menggandeng brand lokal sebenarnya sudah pernah kita lakukan bersinergi dengan brand lokal. Namun terkendala, biasanya secara kuantiti tidak sesuai dengan apa yang kami targetkan karena kalau mereka importasinya dari jumlah sedikit, kalau kami sekali importasi targetnya besar karena harus tumbuh cepat. Sehingga, mereka status hanya sebagai pelengkap saja belum menjadi primary kami punya device. Namun demikian, kami tetap berikan peluang kalau mereka punya barang dan ingin bundling dengan Smartfren.

Menurut Anda, apa yang perlu diperhatikan agar industri lokal bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri?
Menurut saya, kalau di dunia usaha yang terpenting adalah regulasinya harus mendukung kesana. Di China itu industrinya tumbuh cepat karena pemerintahnya punya roadmap dan komitmen yang jelas untuk menumbuh kembangkan industrinya. Dari government sendiri memberikan pinjaman dimana instalmentnya sangat atraktif sehingga dunia usaha tertarik. Selanjutnya, adalah infrastrukturnya juga harus mendukung dan insentif terhadap pemain-pemain yang mensuplai terhadap industri tadi harus betul-betul diprasaranai dengan baik oleh pemerintah. Kalau tidak, maka tidak akan jalan.

Bagaimana tren kedepan dari telekomunikasi di tanah air?
Saya rasa tergantung dari bidangnya apa. Kalau behaviour konsumen pasti yang terjadi perubahan dari sisi perilaku dan sekarang ini sudah terjadi. Dimana dulu hanya voice, kemudian menyusul SMS, sekarang transaksi data yang dimulai tahun 2005 seiring tersedianya internet. Jadi behavior konsumen dari waktu ke waktu akan berubah mengikuti arah perkembangan teknologi. Kalau dari sisi pemainnya, saya rasa akan terjadi konsolidasi.

Dulu Indonesia itu merupakan negara yang operatornya terbanyak mencapai 12, namun pada akhirnya bersinergi sendiri seperti yang dilakukan Smart dan Fren. Jadi tinggal masalah waktu, saya perkirakan akhirnya akan tertinggal 3-5 operator saja. Sedangkan, pada bisnis handset ini akan terus ada dan berkembang, tidak pernah mati. Saat ini saja, di Indonesia setiap bulannya sekitar 4-5 juta handset yang terjual, dimana jumlah pemegang handset mencapai 150 juta dengan tingkat penggantian 2 tahun sekali perkonsumen pastinya bisnis handset pasarnya akan besar sekali. •ANDRI

SAMSUNG ATIV BOOK 9 LITE, Notebook Tipis dan Ringan

0

NOTEBOOK dengan bodi langsing dan ringan adalah dambaan konsumen pengguna notebook selain kemampuannya yang canggih. Dua kelebihan inilah yang diusung ATIV Book 9 Lite, notebook terbaru dari Samsung.

Sesuai dengan namanya, Samsung ATIV Book 9 Lite memiliki ketebalan 16,9 mmH dan bobot hanya 1,44 kg. Begitu tipis dan ringan, sehingga Anda bisa dengan mudah membawanya ke mana pun pergi.

Keunggulan lain dari notebook ini adalah waktu booting yang sangat cepat, yaitu hanya 7 detik. Sedangkan waktu untuk aktif dari kondisi sleep hanya 1 detik. Dengan kecepatan yang ditunjukkannya ini, pengguna tidak perlu membiarkan klien menunggu Anda untuk mempersiapkan materi presentasi.

Samsung melengkapi ATIV Book 9 Lite dengan media penyimpanan Solid State Drive (SDD) 128 Gb yang membantu performa notebook menjadi lebih cepat. Keunggulan dalam kecepatan tersebut juga didukung oleh performa grafis yang tak kalah hebat. Menggunakan layar 13 inci dengan resolusi 1366 x 768 piksel, notebook ini tersedia dalam dua versi, layar sentuh (touch screen) dan layar biasa (non touch screen). Tak ketinggalan prosesor quad-core dengan clock speed 2GHz serta grafis terintegrasi AMD Radeon HD 8400 serta RAM 4GB DDR3 untuk membantu Anda menyelesaikan setiap detil pekerjaan dengan sempurna dan tepat waktu.

Satu lagi fitur menarik keluaran Samsung yang dibenamkan di notebook tipis ini adalah SideSync. Fitur ini memungkinkan Anda untuk mensinkronisasikan antara Ativ Book 9 Lite beberapa gadget Samsung dengan mudah dan cepat. Jadi Anda dapat dengan leluasa memindahkan data, screen share, bahkan melakukan chatting dari Samsung Ativ Book 9 Lite ke Galaxy S4 atau seri gadget Samsung lain, begitu juga sebaliknya.

Notebook yang mulai tersedia sejak Juli ini dipasarkan dengan harga sekitar Rp. 6,9 juta. Sedangkan versi layar sentuh akan dijual Rp. 7,9 juta. •

ALIENWARE 14 & ALIENWARE 17

0

ALIENWARE, salah satu pemain di PC Gaming berkinerja tinggi, baru-baru ini memperkenalkan notebook gaming terbaru dan canggih: Alienware 14 dan Alienware 17. Keduanya tampil dalam desain baru, yang dirancang untuk memberikan pengalaman bermain game terbaik.

Alienware 14 cocok untuk penggemar game yang menginginkan notebook dengan kemampuan melakukan berbagai pekerjaan tapi juga pas untuk dibawa dan muat di dalam tas ransel. Untuk model Alienware 17 sesuai untuk pengguna yang ingin menikmati pengalaman bermain game sarat grafis luar biasa dengan teknologi terkini setara kinerja komputer desktop.

Kedua notebook Alienware baru ini memiliki desain lekuk unik, terinspirasi dari pesawat jet dan pesawat pembom siluman yang memiliki kerangka berlapis aluminium dan badan terbuat dari campuran magnesium. Notebook terbaru ini sangat kuat, dimana lebih dari 60 persen komponen mekanis utamanya terbuat dari bermacam-macam jenis besi.

Keyboard-nya dilindungi oleh plat yang diperkuat untuk menjamin pengalaman mengetik yang mantap, sementara jarak dan tingkat kepekaan responnya dirancang khusus dengan mempertimbangkan kebutuhan para gamer. Alienware 14 terbaru ini memiliki layar LCD anti-silau dengan sudut pandang lebar untuk menghadirkan pengalaman bermain game yang bebas pantulan dalam hampir semua kondisi pencahayaan; tersedia juga pilihan panel Full HD premium berteknologi IPS. Bagi penggemar game 3D, Alienware 17 memiliki pilihan panel 3D untuk pengalaman visual maksimal.

Dari sisi dapur pacu, kedua notebook dilengkapi prosesor Quad-Core Intel Core i7 generasi ke-4 dan kartu grafis NVidia seri GeForce 700. Memory DDR3L memberikan kemampuan luar biasa dengan konsumsi listrik yang lebih hemat untuk memperpanjang umur baterai.

Alienware 14  bisa dilengkapi hingga tiga hard disk, sementara Alienware 17 bisa menampung hingga empat hard disk. Kedua notebook tersebut juga dilengkapi teknologi Ethernet dari seri KillerTM besutan Qualcomm, speaker Klipsch dan audio Dolby Home Theater v4.

Alienware tersedia dengan kisaran harga 14 mulai dari US$ 2.199 atau Rp 22 jutaan dan Alienware 17 mulai dari US$ 2.499 atau Rp 25 jutaan. •

GINTING SADTYONO: Undang-undang Kini Bisa Berbentuk Aplikasi

0

Inovasi-inovasi yang dilakukan Steve Jobs selaku pendiri Apple yang menciptakan produk berupa tablet, telah berhasil menginspirasi industri lain untuk membuat produk sejenis. Tidak hanya dari segi hardware tetapi dari sisi software atau aplikasi juga turut berkembang memberikan peluang kepada kreatif di bidang teknologi informasi (TI) untuk berinovasi membuat beragam aplikasi pendukung.

GINTING Sadtyono, pengusaha di bidang TI,  mulai serius membentuk tim pengembangan aplikasi untuk AppStore karena ketertarikannya akan inovasi teknologi yang dikeluarkan Apple. Keseriusannya itu juga diapresiasikannya dengan membangun perusahaan yang diberi nama PT. Mahoni Global beberapa waktu lalu.

Ketertarikan terhadap Apple dimulai sejak 20 tahun lalu saat menjadi distributor Apple untuk wilayah Jawa Timur. Ia melihat produk yang dibuat Steve Jobs dan kawan-kawan selalu terlihat elegan dan berbeda dari yang ada. Namun sejak krisis ekonomi di tahun 1998, ia mulai menggeser binisnya dari hardware ke dunia software, yaitu masuk ke dunia internet, bergerak di bidang web developer yang spesialis di segmen ekspor dan pariwisata.

“Peluang di bidang mobile development sangat bagus. Hingga sekarang, kami berhasil membuat sekitar 90 aplikasi mobile dimana separuh dari jumlah aplikasi yang dibuat merupakan aplikasi gratis bisa didownload langsung,” ujar lulusan Geografi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta tersebut.

Dengan membawa label Mahoni.com, produk aplikasi yang dibuatnya lebih difokuskan ke pengembangan aplikasi disegmen e-book dan material presentasi. Belum lama, pria berlatar belakang pendidikan Kartografi ini memperkenalkan sebuah aplikasi bernama Themis Rader Pro yang berisi lebih dari 5000 Undang-Undang Indonesia yang diuraikan secara rinci dan lengkap.

Tersedia di Apple App Store, Themis Reader ditujukan untuk pelaku hukum, Universitas, sampai Pusat Pendidikan Jaksa. “Bayangkan jumlah undang-undang di Indonesia ada ribuan. Tentunya ini menyulitkan dalam mengumpulkan ribuan berkas untuk mencari suatu pasal. Kini , bila biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama maka dengan aplikasi Themis Reader hanya dalam hitungan detik bisa ditemukan pasal yang dicari,” jelas pria yang hobi membaca ini.

Berikut petikan wawancara BISKOM dengan Ginting Sadtyono, Founder PT. Mahoni Global, yang juga aktif dalam kegiatan pembinaan UKM untuk rakyat kecil.

Berapa lama dibutuhkan untuk membuat aplikasi Themis Reader dan investasi yang dikeluarkan untuk pengembangan aplikasi ini?
Sekitar dua tahun untuk mewujudkan aplikasi ini, mulai dari bentuk mentah hingga menjadi sebuah aplikasi yg berwajah 3D dan mempunyai menu yang lengkap (versi 2.0). Kalau investasi awal dilakukan untuk mengumpulkan data dan mengolahnya. Saat itu kami mempekerjakan 10 orang untuk mencari dan mengolah data. Masing-masing disediakan sebuah notebook yang berisi Windows 7 dan Ms Office 2010. Jadi kami harus membeli 10 lisensi asli untuk Windows 7 dan Office tersebut.

Apakah hal tersulit dilakukan dalam pembuatan aplikasi ini?
Selain dari segi programming, bagian yang tersulit adalah saat mengumpulkan data. Selama proses pengumpulan data, bantuan yang kami dapatkan dari departemen yang mengurus perundang-undangan sangat minim sehingga harus menerima kenyataan mencari sendiri di internet. Untuk itu, komputer kami bahkan menyala sampai seminggu penuh tanpa berhenti untuk mengumpulkan data-data dari internet.

Secepat apa dan bagaimana proses update-nya, mengingat peraturan dan hukum di Indonesia yang terus berkembang?
Betul, dalam hitungan hari muncul undang-undang baru di Indonesia. Begitu muncul, maka team kami segera mengolah bentuk datanya lalu meng-upload ke dalam server. Dalam hitungan menit semua pemakai Themis Reader segera diinfokan secara otomatis bahwa ada data terbaru yang bisa di update. Pemakai tinggal memencet tombol ‘Update Data’ di aplikasi, maka dalam hitungan detik data terbaru ini akan masuk di gadget mereka.

Dari aplikasi yang Anda kembangkan berbasiskan iOS, bagaimana dengan Android dimana penggunanya cukup banyak ataupun berbasiskan Windows dan Blackberry?
Saat ini kami konsentrasi dulu di versi iOS sambil melengkapi terus kemampuan dari Themis Reader. Kami baru saja meluncurkan Themis Reader 2.5 dengan penambahan kemampuan  bisa melakukan anotasi, seperti corat-coret, garis bawah, ditebalkan, diwarnai, dan lainnya saat dokumen sedang dibaca. Kemudian halaman tersebut bisa dikirim via email. Kedepan kami sedang mengembangkan Themis Reader 3.0 yang kemampuan bertambah lengkap, diantaranya merekam suara dan mengubah intonasinya, memiliki fungsi sebagai kompas dan penunjuk arah kiblat, fasilitas menulis-nulis (text processor), games, dan lainnya.

Diharapkan beberapa bulan lagi versi 3.0 bisa kami luncurkan. Sedangkan alasan belum berencana untuk membuat aplikasi di luar iOS disebabkan, saat ini untuk Android belum berhasil untuk melakukan proteksi dan kami melihat penginstalan tanpa lisensi resmi sangat mudah dilakukan di Android sehingga jika terjadi pembajakan pada aplikasi ini maka investasi kami akan merugi. Kalau Windows dan Blackberry, selain alasan security, kami juga ingin melihat perkembangan jumlah market yang ada. Jika nanti besar tidak menutup kemungkinan untuk masuk ke dunia ini.

Sejauhmana Anda menggandeng kreator-kreator lokal dalam pengembangan aplikasinya?
Mahoni berisi 100% staff dari Indonesia, kami tumbuh dari lokal di Surabaya dan berkembang sampai ke Jakarta. Pengembangan aplikasi dikerjakan juga 100% oleh team Mahoni sendiri yang notabene semua orang Indonesia, dan kebanyakan masih muda-muda. Mahoni tumbuh dan berkembang menjadi suatu team yang terdiri dari staff yang spesialist mengurus dibidangnya masing-masing, seperti grafik designer, web dan applications programmer, tim editor, tim server, marketing, tester, dan lain-lain. Secara person team mahoni sudah lengkap sehingga semuanya bisa kami kerjakan sendiri, dari bahan mentah hingga aplikasi tersebut online di internet

Bagaimana pandangan Anda terhadap kreator-kreator lokal di tanah air? Apa yang dinilai masih kurang dan perlu dikembangkan oleh kreator lokal saat ini?
Programmer Indonesia tidak kalah dengan luar negeri, kami sering bertemu kreator lokal lain yang rata-rata masih muda dan punya potensi yang hebat. Hanya biasanya tim-tim seperti ini berdiri sendiri-sendiri, sehingga untuk menggarap suatu proyek yang besar  masih kesulitan, perlu dukungan konsultasi, bimbingan dan fasilitas dari pemerintah.

Apa yang perlu diperhatikan untuk bisa sukses terjun di bisnis aplikasi ini dan apa rahasia sukses Anda?
Untuk bisa sukses terjun kebisnis ini harus memilih segmen yang jelas. Misalkan, saat ini banyak kreator lokal ingin menggarap market games. Ini memang bagus sebab games tetap menjadi penghasil uang terbesar, namun harus diperhatikan bahwa saingannya juga banyak. Mahoni sejak awal memutuskan untuk masuk ke dunia e-Book, karena kami yakin buku konvensional akan beralih ke e-Book. Rahasia sukses Mahoni, pemilihan segmen yang jelas dan kerja keras, kerja keras dan kerja keras!

Lalu, apa yang ingin Anda capai selanjutnya ?
Mahoni berkeinginan menjadi salah satu pemain utama di dunia e-Book. Sejak tablet booming kami yakin buku, koran dan majalah akan bergeser menjadi bentuk digital. Selain Themis Reader, Mahoni saat ini sedang mendevelop beberapa proyek yang kami yakin akan menjadi pilihan dan standar yang tepat untuk kedepan, diantaranya aplikasi Toko Buku 2.0.

Buatan Mahoni ini mempunyai kelebihan dibandingkan aplikasi lain sejenis, karena mampu melakukan anotasi di halaman buku, ada fasilitas browsing, menulis catatan dan saat membaca mampu ditampilkan koleksi suara sebagai backsound. Selain itu, penyediaan aplikasi pembaca ribuan buku sekolah untuk Android dan iOS gratis. Diharapkan aplikasi ini bisa membantu pelajar untuk mendapatkan ilmu yang sebanyak-banyaknya. •ANDRI