Home Blog Page 964

TOSHIBA SATELLITE U840W, Ultrabook Layar Lebar

0

TOSHIBA menyuguhkan sesuatu yang baru bagi konsumen Indonesia. Melalui ultrabook Toshiba Satellite U840W yang memiliki layar yang lebih lebar berteknologi cinematic display dengan rasio 21:9, Toshiba mengklaim membuat kegiatan menonton film menjadi lebih nyaman. Bukan itu saja, layar Ultra-wide HD Clear SuperView-nya berukuran 14,4 inci diagonal, dengan resolusi 1792 x 768 piksel.

Layarnya yang berkualitas diklaim Toshiba dapat membuat kegiatan menonton film menjadi lebih nyaman. “U840W menggunakan layar dengan rasio 21:9, sehingga Anda bisa menonton film sebagaimana sebuah film diharapkan oleh sutradaranya,” ujar Assistant Manager Product Marketing Group Toshiba Singapore, Khairul Ibrahim, di Jakarta (15/10).

Toshiba menyematkan U840W dengan prosesor Intel Core i5 2.0GHz, RAM 6GB, hard disk 500Gb dan SSD 32Gb, dan kartu grafis AMD Radeon HD7550M atau Intel HD Graphics 4000. Sementara sistem operasinya menggunakan Windows 8.

Menurut Khairul, ultrabook ini juga telah dioptimalkan untuk Windows 8 dan dibekali konektivitas yang lengkap. “Kami tidak kompromi dengan konektivitas maupun performa,” paparnya.

Ultrabook berbahan magnesium ini memiliki tiga buah port USB 3.0 dengan satu slot yang mampu digunakan mengisi daya meski dalam keadaan sleep, HDMI, card reader dan Ethernet.

Ultrabook U840W berdimensi 368,5 x 200mm. Sedangkan ketebalannya 20,8mm dan bobot 1,58kg. Konektivitas pada ultrabook ini mencakup 3 port USB 3.0, HDMI, slot card reader, port ethernet RJ45, Wi-Fi dan Bluetooth.

Selain kemampuan tersebut, Toshiba juga membekali U840W ini dengan piranti lunak Split-screen Utility yang bisa membagi layar menjadi beberapa bagian. Misalnya, membuat setengah dari sisi kanan layar menampilkan halaman Facebook, sementara setengah di sisi kiri digunakan menampilkan film dan berita saham.

Toshiba U840 telah tersedia di pasaran sejak Oktober lalu. Harganya dibanderol US$ 1249 atau sekitar Rp. 11,8 juta. •

PANASONIC LUMIX GH3 , Kamera DSLM 16 Megapiksel

0

DUNIA digital kini tengah diramaikan oleh kehadiran kamera mirrorless atau yang kini disebut Digital Single Lens Mirroless (DSLM). Seperti juga produsen besar lainnya, Panasonic belum lama ini memperkenalkan kamera mirrorless terbarunya, Lumix GH3.

Kamera mirrorless pada umumnya tampil ringkas. Namun Lumix GH3 tampak seperti kamera DSLR. Meski begitu, GH3 memiliki bobot 550 gram yang relatif ringan. Casing GH3 menggunakan bahan magnesium-alloy yang tahan cuaca. Tak perlu khawatir terkena hujan, debu atau salju, Anda dapat tetap memotret dengan GH3. Tak lupa, di bagian belakang, Panasonic menambahkan kamera semi pro ini dengan layar sentuh putar OLED berukuran 3 inci dan viewfinder elektronik yang siap membantu Anda melakukan komposisi foto.

Panasonic Lumix GH3 dilengkapi sensor Four Thirds Live MOS 16 megapiksel terbaru dan prosesor Venus Engine VII FHD yang menghasilkan foto dan video terbaik dalam kategori DSLM.  Dengan dukungan ISO mencapai 12800 dan dua teknologi inovatif; 3D Noise Reduction dan Multi-process Noise Reduction, maka tak perlu khawatir mengambil objek meski dalam kondisi minim cahaya.

Yang menarik, salah satu kelebihan GH3 justru terletak pada kemampuan rekam videonya. Anda dimanjakan dengan pilihan hasil rekam video yang amat lengkap, mulai dari 1920 x 1080 piksel (60, 50, 30, 25 24 fps) 1280 x 720 pixel (60, 50, 30, 25fps) sampai 640 x 480 pixel (30, 25fps). Adapun format kompresi yang didukung adalah MPEG-4, AVCHD dan H.264. Lumix GH3 juga telah dilengkapi mikrofon stereo serta soket untuk headphone dan mikrofon eksternal.

Fitur tambahan lain adalah integrasi Wi-Fi untuk memudahkan pemindahan data dari kamera ke tablet atau komputer. Panasonic juga menyediakan layanan Lumix Club Cloud Sync untuk menyimpan foto di Cloud, langsung dari GH3. Juga ada aplikasi Lumix Link (Android dan iOS) yang memberikan Anda kendali untuk memotret tanpa mendekati kamera.

Saat ini informasi harga dan ketersediaannya untuk pasar Indonesia masih belum diketahui. •

WENDY CHANDRA: Buku Lokal, Kekuatan Wayang Force

2

“Perkembangan teknologi telah merubah cara orang untuk dapat menikmati sebuah buku bacaan. Tidak lagi hanya dengan cara konvensional, berupa buku fisik yang dicetak, tetapi sebagian orang mulai beralih membaca buku secara digital.”

PERUBAHAN gaya hidup orang dalam membaca, berawal dari sebuah situs e-commerce asal Amerika yang membuat Amazon Kindle, berupa perangkat baca elektronik yang dikenal dengan istilah e-Book. Keberhasilannya merubah cara membaca orang Amerika, mempengaruhi negara-negara lainnya untuk mengikuti jejaknya. Termasuk Pebisnis sukses, Wendy Chandra, yang akhirnya juga terinspirasi membuat aplikasi reader berisi buku-buku dari seluruh Indonesia.

Merasa bisa menjadi peluang bisnis yang bagus, akhirnya pria asal Bandung ini pun merealisasikan idenya setahun lalu dengan membuat aplikasi Wayang Force yang pertamakali tersedia di iPad, lalu mengembangkannya ke  Android dan iPhone.  “Di aplikasi Wayang ini, orang bisa menemukan sekitar 4857 bacaan, baik itu buku, majalah ataupun koran yang sudah digitalisasikan dan bisa dibeli secara digital,” ujar lulusan Bisnis, Universitas Parahiyangan ini.

Untuk memudahkan orang mencari bacaannya, aplikasi ini dirancang dengan antar muka yang intuitif, mode pencarian mudah dan cepat di store maupun library, navigasi yang mudah dengan thumbnail view, kategorisasi konten, preview konten sebelum membeli, hingga fitur bookmark.

Pengembangannya sendiri dilakukan 100% oleh developer lokal yang dibentuk bersama teman-temannya yaitu sebuah start up bernama PhaseDev. Dengan didirikannya perusahaan ini, bukan hanya Wayang Force saja yang sudah berhasil dibuat tetapi juga ada Tiket.com dan beberapa aplikasi game.

“Dengan dibentuknya perusahaan ini, saya ingin membuktikan kalau orang Indonesia itu mampu membuat aplikasi yang tidak kalah dengan luar,” lanjut penggemar games ini, sambil menunjukkan penghargaan-penghargaan yang diperolehnya dari Wayang Force, seperti Juara INACTA 2011 untuk Best Application for e-Commerce: Retail and Financial, menjadi salah satu Asia’s Top 50 Apps 2011 dari Singtel Innovation Exchange dan nominator untuk Best Mobile Application Award di gelaran Indonesia Cellular Award (ICA) 2011.

Berikut petikan wawancara BISKOM dengan Chief Executive Officer Wayang Force, Wendy Chandra di Wayang Force Café, Jakarta, yang merupakan café sekaligus base edukasi aplikasinya.

Apa yang melatarbelakangi Anda mengembangkan Wayang Force dan kenapa diberi nama Wayang?
Sebenarnya bisnis saya bergerak di media. Ada 7 majalah yang saya jalankan saat ini, yaitu Animonster, Cinemags, Gamestation, Gadget, Kiddo dan MacWorld. Dari sana saya berfikir, bagaimana kalau kelamaan nanti prinsip majalah cetak ini turun, maka harus segera ada penggantinya untuk cara membaca majalah ini. Makanya saya membuat aplikasi Wayang Force. Awalnya hanya untuk mendistribusikan majalah saya sendiri secara digital, akhirnya berfikir untuk dijadikan brand agar bisa diisi juga oleh majalah lainnya.

Sedangkan untuk nama Wayang sendiri, kami ingin menunjukkan kalau aplikasi ini isinya buku-buku lokal. Inilah yang menjadi kekuatan kami, sehingga kita tidak bersaing dengan aplikasi luar yang sudah ada lebih dulu.

Apakah nantinya trend media ini akan ke digital?
Bisa dibilang inikan media baru, jadi belum tahu apakah ini akan menggantikan media cetak. Karena di dunia cetak sendiri ada histori yang cukup panjang. Dulu printed itu dimulai dari koran yang sangat populer waktu pertama keluar, kemudian muncul radio yang menurunkan popularitas printed ini secara drastis karena dianggap menggantikan yang cetak. Begitu pula saat televisi muncul, dianggap akan menghilangkan printed, tapi hingga sekarang ternyata printed masih berjalan. Jadi kita tidak tahu apakah trendnya akan substitusi cetak untuk selamanya atau nanti hanya tren saja, masih belum bisa diprediksi kedepannya.

Berapa investasi yang dikeluarkan untuk pengembangan aplikasi ini?
Kalau modal awalnya sendiri hanya untuk membuat kantor, tetapi investasi yang dikeluarkan setahunnya diperkirakan sekitar Rp, 2 Milyar. Ini untuk menggaji sekitar 40 developer yang kita rekrut dengan kisaran gaji Rp. 5 – 15 juta. Karena tidak hanya Wayang Force yang kami buat, tetapi juga aplikasi lainnya.

Apa syarat untuk bisa bergabung sebuah buku atau majalah ke wayang Force? Berapa keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan tersebut?
Yang terpenting jangan berbau suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) dan pornografi. Untuk keuntungannya sendiri kita dapat 50% dari harga penjualan yang disepakati.

Berapa banyak yang download aplikasi Wayang Force saat ini?
Di iPad sendiri sudah sekitar 500 ribuan yang download dan Android sekitar 300 ribuan. Sedangkan untuk download perharinya majalah atau buku yang free bisa 30 ribu – 40 ribu. Kalau yang berbayar bisa jual sekitar 8 ribu setiap minggunya.

Kebanyakan aplikasi lokal untuk pertama kali hadir di Android terlebih dahulu, kenapa Wayang Force  justru hadir lebih dulu di iPad?
Aplikasi lokal lebih banyak masuk ke Android karena sifatnya open source dan lebih mudah dimengerti karena hampir mirip dengan Java. Spesifikasi untuk bisa masuk ke iOS (iPad dan iPhone) harus orang yang mengerti, sedangkan programmer iOS masih sedikit di Indonesia.  Maka itu kebanyakan aplikasi lokal lebih dulu ke Android baru iOS. Wayang Force sendiri mengejar iOS terlebih dahulu karena memang cara baca dan kualitas tabletnya lebih baik iPad dibandingkan yang berbasis Android.

Apa yang perlu diperhatikan untuk bisa sukses terjun dibisnis aplikasi seperti Wayang Force?
Membuat aplikasi harus yang unik jangan mengekor aplikasi yang sudah ada. Contohnya, jangan sekali-kali mencoba aplikasi seperti Facebook yang sudah nomor satu di dunia apalagi membuat versi yang Indonesianya, karena tidak ada diferensiasinya. Buat aplikasi yang memang belum ada, karena di dunia aplikasi itu cuma ada yang nomor 1 dan 2. Kalau 3, 4 dan 5 sudah pasti akan hilang nantinya.  Kenapa Wayang Force berani saya keluarkan, karena ini adalah seperti aplikasi pertama e-Book khusus Indonesia di Indonesia.

Jadi, apa kelemahan perkembangan aplikasi karya anak bangsa yang ada saat ini?
Programmer di Indonesia itu sudah cukup bagus dan bisa membuat apapun.  Cuma konsepnya masih lemah dan suka mencontoh. Jadi kurang kreatif, maksudnya kreatif ide bukan secara pembuatan. Selain itu secara bisnis masih belum stabil, terkadang hits lalu tiba-tiba hilang. Seperti Disdus yang sempat hits di Googling tiba-tiba turun. Hal-hal seperti ini juga perlu diperhatikan.

Apa tanggapan Anda tentang kemajuan teknologi informasi (TI) di tanah air kedepannya?
Pasti kedepannnya berkembang meskipun masih di software. Tapi  saya juga melihat hardware akan mengikuti juga. Hal ini bisa dilihat mulai munculnya brand lokal seperti Axioo dan Byon. Kedepannya pasti akan banyak brand lokal lainnya yang muncul mengingat teknologi makin mudah dibuat  disini dan pastinya murah.

Apa yang ingin dicapai Wayang Force selanjutnya?
Nanti, berikutnya Wayang Force akan muncul di Blackberry, tapi kami menunggu Blackberry 10 terlebih dahulu hadir di di Indonesia, kemudian juga di Windows Tablet. Karena dasarnya, kami ingin Wayang Force bisa tersedia di semua device. Selanjutnya kami juga membuat device berupa tablet yang kami kembangkan sendiri.

Mudah-mudahan tahun ini sudah bisa di-launching. Selain itu, kami ingin membesarkan customer base yang targetnya bisa mencapai 1 juta customers di tahun ini.  •ANDRI

LENOVO S400 & S300, Notebook Tipis 4 Jutaan

0

DUA notebook tipis baru saja muncul untuk menambah pilihan bagi para penggemar produk Lenovo.  Dua notebook tersebut adalah IdeaPad S400 dan S300. Keduanya masuk ke kelas notebook tipis, antara netbook dan Ultrabook.  Ukurannya memang  sedikit lebih tebal dan berat dibandingkan Ultrabook. S300 dan S400 masing-masing memiliki ketebalan 22,4mm dan 21,9 mm, dengan bobot yang sama, yaitu 1,8kg.

Lenovo IdeaPad S300 hadir dengan layar berukuran 13.3 inci. Sedangkan S400 dipersenjatai layar berukuran 14 inci. Keduanya mendukung resolusi hingga 1366×768. Prosesor yang digunakan oleh masing-masing seri pun berbeda. Varian S300 menggunakan prosesor Intel Pentium 977 dual-core dengan clock speed 1.6GHz. Sedangkan S400 menggunakan prosesor yang lebih tinggi, yaitu Intel Core i3-2356M dengan clock speed 1.4GHz dual-core.

IdeaPad S400 dan S300 juga dilengkapi dengan hard disk hingga 500 Gb, RAM hingga 4 Gb, port USB 2, dan port HDMI. IdeaPad S300 dan S400 diklaim memiliki baterai dengan kemampuan yang lebih baik, jika dibandingkan dengan notebook pada umumnya. Lenovo mengklaim kalau produk barunya ini mampu bertahan selama 5 jam pemakaian.

IdeaPad S400 dan S300 telah  dipasarkan sejak akhir September lalu. IdeaPad S400 dibanderol dengan harga Rp. 4,699 juta, sedangkan IdeaPad S300 seharga Rp. 4,199 juta. •

WALTER YEH: TAITRA Dekatkan 39 Brand ke Konsumen

0

 

“Sejak pemerintahan Taiwan berinisiatif menggalakkan industrinya di akhir tahun 1970-an, negara Asia Timur itu kini telah membuahkan hasil yang sangat luar biasa di sektor industri. Kesuksesan Taiwan dalam membangun perekonomian tidak terlepas dari keseriusan dan komitmen negara ini untuk terus mensuport industrinya dalam berbagai kegiatan, seperti mempromosikan berbagai produknya ke berbagai negara, baik di Amerika, Eropa maupun Asia.”

 

DI INDONESIA, berbagai merek Taiwan telah banyak digunakan oleh masyarakat luas, khususnya produk-produk Teknologi Informasi (TI) seperti Acer, Asus, BenQ dan D-Link. Namun permasalahannya, masyarakat kerap mengira bawa brand global tersebut berasal dari Eropa ataupun Jepang. Alasan ini kemudian membuat pemerintahan Taiwan merasa perlu untuk meningkatkan kesadaran konsumen di Indonesia pada branding produk teknologi Taiwan yang berkualitas tinggi.

Karenanya, sejak tiga tahun lalu, Taiwan mulai giat mengkampanyekan produk-produk asal negaranya ini ke pasar Indonesia melalui program Taiwan Excellence yang diorganisir oleh Bureau of Foreign Trade (BOFT), Ministry of Economic Affairs (MOEA) dan diimplementasikan oleh Taiwan External Trade and Development Council (TAITRA).

Dikatakan Executive Vice President TAITRA, Walter Yeh, jika masyarakat sudah mengetahui produk-produk asal Taiwan, kedepannya masyarakat akan semakin percaya bahwa Taiwan adalah negara penghasil produk berkualitas.

“Tak terasa, pelaksanaan program kampanye Taiwan Excellence telah memasuki tahun ketiga. Di tahun ini, kami menargetkan bisa lebih mendekatkan brand Taiwan kepada pelanggan Indonesia. Tentunya ini akan meningkatkan kepercayaan terhadap produk-produk kami yang lain nantinya,” ujar Yeh, saat kunjungannya ke Jakarta untuk meresmikan iklan terbaru Taiwan Excellence yang berjudul “Celebrate The Bond”, beberapa waktu lalu.

Tidak hanya Indonesia, negara berkembang lainnya seperti Vietnam dan India juga menjadi fokus agenda kampanye Taiwan Excellence sebagai upaya mempromosikan perdagangan eksternal Taiwan. Dalam kegiatannya tidak hanya berupa pameran saja tetapi juga memberikan kesempatan langsung bagi konsumen untuk merasakan keunggulan dari produk-produk Taiwan. TAITRA juga menyelenggarakan kegiatan kreatif berupa kontes di tingkat nasional yang dilanjutkan ketingkat Asia, seperti SmarTEST yang finalnya dilakukan di Taipei Oktober ini. Di tahun sebelumnya, TAITRA juga  pernah sukses dengan kontes IT Travel Go!.

Dijelaskan Yeh, apa yang telah dilakukan dalam kampanye ini ternyata berdampak positif bagi brand Taiwan sehingga semakin dikenal dan diterima masyarakat Indonesia. Hal ini mendorong perusahaan Taiwan lainnya untuk ikut bergabung bersama TAITRA. “Kini akan ada 39 brand yang akan kami perkenalkan di pasar Indonesia yang awalnya hanya 19 brand,” tambah Yeh.

Sebagai organisasi nirlaba terkemuka di Taiwan yang disponsori oleh pemerintah, asosiasi industri, dan beberapa organisasi komersial di Taiwan. TAITRA telah memiliki lebih lebih dari 50 kantor cabang yang tersebar ke pelosok negeri untuk memudahkan jangkauan layanan yang dibutuhkan  konsumen di pasar Internasional.

Berkat perannya, sejak 2011 TAITRA telah membantu perusahaan Taiwan menghasilkan pendapatan lebih dari US$ 34.1 milyar. Sejumlah brand Taiwan juga dinilai telah menunjukkan kinerja terbaiknya di tahun 2011. Berdasarkan survei Direktorat Jenderal Anggaran, Akuntansi dan Statistik (DGBAS) dari Taiwan Eksekutif Yuan, di 2011, 20 top merek global Taiwan tumbuh 40% dari tahun ke tahun menjadi US$ 13.10 miliar. Selain itu, sejumlah 10 merek global teratas tumbuh 43,9% dari tahun ke tahun menjadi US$ 11.56 miliar. Pembuat smartphone HTC juga menduduki peringkat teratas dan terdaftar di Interbrand sebagai “Best Global Brands 2011”, bernilai US$ 3.6 miliar.

“Kami berharap apa yang telah dicapai tahun lalu bisa mengalami peningkatan yang signifikan di tahun ini,” ujar pria yang sebelumnya menjabat sebagai Executive Director, Strategic Marketing Department ini.

Berikut petikan wawancara BISKOM dengan Walter Yeh disela peluncuran video iklan terbarunya Taiwan Excellence di Theatre Cinemax XXI, Plaza Senayan, Jakarta.

Seberapa efisiensikah pameran yang diselenggarakan TAITRA dalam memperkenalkan brand Taiwan?
Pameran menjadi langkah yang sangat efektif untuk mengangkat brand-brand Taiwan agar dikenal dunia internasional. Bisa dilihat, terjadi peningkatan-peningkatan pada peserta maupun pengunjung pameran setiap tahunnya. Di tahun 2011 saja, dari 29 pameran dagang internasional yang diselenggarakan TAITRA telah menarik total 10.667 peserta pameran (naik 3,6% dari 2010) dan 74.667 pembeli di luar negeri. Bahkan sampai 7,9% dibandingkan 2010. Ada lebih dari 4000 pembeli untuk mengunjungi pameran dagang di Taiwan pada tahun 2012.
Melihat ke 2012, TAITRA akan tetap berkomitmen untuk mempromosikan perdagangan eksternal Taiwan. Dihadapkan dengan ekonomi dunia yang terus berubah dan persaingan global yang makin ketat, TAITRA akan terus melengkapi kebijakan ekonomi pemerintah dan membantu perusahaan Taiwan untuk menjangkau pasar seluruh dunia.

Selain pameran-pameran Taiwan Excellence yang diselenggarakan TAITRA dimana lagi pelanggan bisa mendapatkan informasi mengenai brand-brand Taiwan?
Sebetulnya kami sejak mencanangkan Taiwan Excellence di Indonesia, kami telah menggandeng banyak pihak untuk mendistribusikan brand-brand kami. Kami juga telah menyediakan outlet atau ruang pamer yang kami sebut Taiwan Excellence Windows di Mal Mangga Dua Jakarta, Lantai 2 No. 38B, Mal Ambasador Lantai 3 No.60 dan Ratu Plaza Lantai 3 No. 42, Jakarta, yang bisa berfungsi sebagai tempat untuk melihat rangkaian produk Taiwan secara langsung tanpa harus menunggu event pameran terlebih dahulu.

Kedepannya, kami ingin membuka lagi beberapa outlet di Mal Jabodetabek  dan tentunya kami juga ingin dapat membuka gerai di berbagai kota besar Indonesia seperti Surabaya dan Yogyakarta serta kota-kota lainnya, agar semakin banyak masyarakat Indonesia yang lebih mengenal dan menggunakan merek-merek TI Taiwan. Tapi memang untuk sementara ini, event pameran menjadi tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi.

Sepanjang tahun 2012 ini berapa banyak event yang diselenggarakan TAITRA?
Di semester dua ini bersama Proyek Integrated Marketing & Communications (IMC), kami telah menyiapkan 4 lokasi sebagai  Home & Leisure Experiential Pavilions yang berlangsung selama 5 – 9 hari di pusat perbelanjaan terpilih di Jakarta, yaitu pada tanggal 27 Juni – 1 Juli  di Lipppo Karawaci Mall, 20 – 29 Juli  di Living World Mall, 19 – 23 September di Central Park Mall dan 10 – 14 Oktober di Mangga Dua Mall. Ditahun ini pula kami mengajak lebih dari 80 delegasi dari 60 perusahaan Taiwan untuk dipertemukan dengan lebih dari 1000 perusahaan Indonesia.

Selain itu, kami mengundang pengusaha-pengusaha Taiwan untuk menghadiri pameran dagang di Indonesia. Kami menghadirkan lebih dari 20 pameran dagang lokal untuk membantu koneksi bisnis di kedua negara. Dengan apa yang kami lakukan ini, kami percaya bahwa perdagangan dan hubungan ekonomi antara dua negara, akan terus tumbuh dan sejahtera. Kita akan menciptakan win-win solution kemitraan untuk Indonesia dan Taiwan.

Saat ini brand yang tergabung dalam Taiwan Excellence mengalami peningkatan, apa langkah strategis yang akan dilakukan TAITRA untuk memperkenalkan mereka?  
Ini menjadi tantangan untuk kami, dimana saat ini bukan produk TI saja yang coba kami perkenalkan tetapi mulai memasuki produk kebutuhan rumah tangga dan kesehatan, seperti Merida dan Microlife. Sebab itu di tahun ini selain pameran, kami membuat terobosan baru dengan meluncurkan sebuah video iklan layar lebar berjudul “Celebrate The Bond” yang menampilkan Duta Kampanye Taiwan Excellence, Cathy Sharon, yang mengungkap ragam cerita tentang brand-brand Taiwan yang telah menjadi bagian kehidupan banyak konsumen Indonesia. Video ini tidak akan menjadi iklan TV komersial, tetapi akan diputar di sejumlah Theatre Cinema XXI di Jakarta.

TAITRA juga mempunyai fungsi untuk memfasilitasi dan menjembatani brand Taiwan dengan industri di Indonesia. Apakah ada kerjasama baru yang dilakukan TAITRA dengan industri lokal?
Kami baru saja mendukung Edimax yang merupakan penyedia network solution dari Taiwan, dengan Telkom Speedy, penyedia layanan internet yang merupakan anak perusahaan Telkom Indonesia. Dalam kerjasama ini, Edimax menyediakan fitur IP camera “Plug and View” untuk layanan Telkom Indonesia yaitu Speedy Monitoring. Ini suatu kolaborasi ideal dalam penyediaan layanan kamera pemantau dan perekam video untuk kebutuhan outdoor maupun indoor yang bisa diakses melalui web browser atau aplikasi mobile di smartphone, tablet dan PC.

Dan ini menjadi suatu kebanggaan kami, bisa dipercaya oleh perusahaan informasi dan telekomunikasi terbesar di Indonesia untuk menghadirkan layanan terbaru berupa paket pengawasan untuk keamanan rumah dan kantor. Kedua perusahaan sendiri kabarnya menargetkan hingga akhir tahun layanan ini bisa digunakan sebanyak 10.000 users.

Apakah Anda melihat ada kendala dalam hubungan kedua negara, Indonesia dan Taiwan sejauh ini, terutama di bidang regulasi?
TAITRA berkonsentrasi hanya pada bisnis, bukan politik. Saya tidak melihat hambatan atau masalah dari regulasi pemerintah Indonesia dalam mengatur masuknya barang dari luar negeri ke Indonesia, terutama dari Taiwan. Hal terpenting yang kami lakukan adalah berkonsentrasi bagaimana melakukan inovasi produk sehingga dapat diterima oleh konsumen di Indonesia.

Apakah program Taiwan Excellence juga membuka peluang lapangan kerja bagi Indonesia?
Indonesia merupakan pasar yang penting bagi Taiwan, sebab itu kami ingin mempererat hubungan ini dengan selalu mengeluarkan beragam produk Taiwan yang handal, inovatif, dan terjangkau dan membuat kerjasama-kerjasama yang saling menguntungkan.

Hingga akhir 2011 kemarin, investasi Taiwan ke Indonesia tercatat sebesar US$ 5,11 juta. Angka ini menunjukkan terjadinya peningkatan sebesar 120% dibandingkan tahun yang sebelumnya. Investasi ini juga telah menciptakan sekitar satu juta lapangan kerja baru di Indonesia dan menempatkan Indonesia sebagai rekan dagang ke-11 terbesar bagi Taiwan, dengan nilai total kerjasama perdagangan bilateral sebesar US$ 12.27 miliar pada tahun 2011.

Seberapa besar penetrasi pasar di Indonesia untuk brand Taiwan?
Di Indonesia produk-produk TI kami sebenarnya sudah lebih dulu aktif mengembangkan pasar sejak lama, baik itu Acer, Asus, MSI, Gigabyte, D-Link, Transcend, A-Data, Trend Micro, dan BenQ. Makanya brand-brand tersebut sudah sangat  terkenal, bahkan Acer menjadi brand terfavorit untuk komputer pribadi selama 6 tahun berturut-turut. MSI, Transcend dan BenQ Proyektor dan D-Link router nirkabel sudah menjadi nomor 1 pilihan bagi konsumen Indonesia.

Selain itu, produk kesehatan dengan brand Microlife yang dikenal di dunia kesehatan sebagai produsen thermometer dan blood pressure ini juga telah meramaikan pasar Indonesia sejak 12 tahun lalu. Keberadaannya di pasar telah diakui karena akurasinya dan satu-satunya blood pressure yang dapat mendeteksi gejala stroke. Kami berharap, nantinya segera menyusul produk-produk Taiwan lainnya yang menjadi pilihan utama konsumen Indonesia dan dunia.

Apa target TAITRA di 2013 mendatang?
Kami akan tetap berkomitmen untuk mempromosikan perdagangan ekternal Taiwan dengan merencanakan promosi dua langkah, yaitu  business to business (B2B) dan business to consumer (B2C) dengan mengadakan lebih dari tiga puluh pameran Perdagangan Internasional Taipei di Taiwan. Terutama yang akan terus kami kembangkan adalah di Informasi Teknologi Internasional Taipei Show (Computex Taipei). Kami juga akan semakin gencar melakukan pameran di negara-negara yang menjadi konsentrasi promosi kami.

Untuk memudahkan akses, semua pameran dagang akan menyediakan layanan secara mobile melalui Taiwantrade Mobile App, yang tersedia dalam bahasa China dan Inggris pada Android dan perangkat iOS. Aplikasi ini akan memberikan informasi terbaru daftar peserta pameran, katalog produk, peta petunjuk, denah dan lainnya. Ini adalah media komunikasi yang memperkuat hubungan antara pembeli dan peserta pameran, sehingga bisa menciptakan  peluang bisnis kapanpun dan dimanapun mereka berada.

Komitmen kami adalah akan terus melengkapi kebijakan ekonomi pemerintah Taiwan dan membantu perusahaan Taiwan untuk mencapai hubungan yang lebih dekat lagi dengan semua mitra bisnis, termasuk di Indonesia. • YULIA CH

Cyber Park Indonesia, Kawasan Berteknologi Fiber

2

ERA LEDAKAN internet di Indonesia yang dimulai dengan maraknya pengguna Facebook, Twitter, Yahoo, Google melatarbelakangi kemajuan industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang akan semakin menjanjikan kedepan.  Untuk membantu pembangunan industri kreatif di tanah air,  Deddy Yudiant, CEO Cyber Park Indonesia, mencoba mengumpulkan komunitas TIK di dalam satu wilayah, dengan melakukan pre launching Cyber Park Indonesia (CPI).

CPI merupakan sebuah kawasan TIK berbasis Fiber Optic pertama di Indonesia dan akan menjadi Taman Maya pertama di Indonesia. “CPI dibangun sebagai salah satu pusat kreatif Indonesia berbasis digital dan wadah untuk memfasilitasi pelaku ekonomi kreatif digital Indonesia,” ujarnya di Jakarta (11/10).

Dibangun di lahan seluas 13 Ha kota Bogor, CPI untuk tahap awal membangun kawasan perumahan terlebih dahulu sebanyak 264 unit diatas lahan 6 Ha dengan fasilitas fiber optic to home internet berkecepatan 100 Mbps. Perumahan ini menyediakan berbagai tipe dengan nama-nama yang unik, yaitu  Cooper (60/90), Satellite (62/105), HFC (78/150), Wireless (75/120) dan Optic (102/193). Kawasan ini juga akan didukung berbagai fasilitas lainnya, seperti ruko, water zone, wetland cyber, cyber office, cyber hotel, cyber games dan lainnya.

Diharapkan Deddy, perumahan ini bisa ditempati oleh penggiat TIK yang nantinya bila mereka berkumpul jadi satu bisa membangun industri kreatif dan industri informasi. “Yang kami kembangkan bukan propertinya saja, tetapi juga bisnisnya.  Jadi bagi yang tidak mengerti bidang TIK, akan menjadi mengerti untuk bersama membangun bisnisnya,  sehingga industri kreatif akan berkembang di sini,” jelasnya.

Berbagai unit bisnis yang akan dibangun  di kawasan CPI antara lain Cyber Animation, Cyber Web, Cyber Education, Cyber Advertisement, Cyber Manage, Cyber Provider, Cyber Infrastruktur dan unit bisnis lainnya. Dengan adanya unit bisnis ini, diharapkan dapat memberikan kesempatan pada sumber daya manusaia (SDM) generasi muda di bidang TIK dan industri kreatif lainnya untuk mengembangkan, mengasah kemampuan dan mengembangkan potensi menjadi sesuatu yang memilki nilai bisnis yang nantinya berdampak pada kemandirian dan kesejahteraan serta meningkatkan ekonomi Indonesia.

Di kesempatan yang sama, CPI juga melakukan penandatanganan kerjasama dengan ALTO Network, sebuah perusahaan penyedia jaringan keuangan antar Bank di Indonesia. Dengan MOU ini akan memberikan kemudahan penghuni di lingkungan CPI untuk melakukan berbagai transaksi keuangan secara online.

Dengan tagline Natural Living with Cyberthinking, CPI akan menjadi Perumahan Cyber yang nyaman, natural, berteknologi canggih dan menjadi Pusat Industri Cyber di Indonesia. •

 

ADVAN VANDROID T1Ci, Lebih Responsif

0

PILIHAN tablet dengan layar ukuran 7 inci semakin marak di pasaran.  Advan salah satunya. Perusahaan ini baru saja menghadirkan komputer tablet Android 4.0 terbaru bernama Vandroid T1Ci yang menjanjikan performa lebih dahsyat dari pendahulunya.

Tablet itu menggunakan prosesor Qualcomm Snapdragon Turbo 1 GHz dengan tingkat sensivitas layar yang sangat tinggi sehingga dengan sentuhan ringan saja, pengguna  dapat mudah mencari dan menggunakan aplikasi di dalamnya.  Advan mengklaim, fitur multifinger 5 touch yang dimiliki  dapat merespon lebih dari satu sentuhan sehingga membuat pengguna dapat menjalankan aplikasi musik atau game secara bersamaan. Sementara teknologi G-sensor membuat game lebih nyata.

Tablet yang seringan smartphone ini memiliki desain yang  praktis dan tampil dengan performa yang tangguh seperti komputer PC sehingga menunjang kinerja penggunanya sehari-sehari. Vandroid T1Ci memiliki bodi yang tipis hanya 9 mm saja.

Tablet itu memiliki dual camera pada depan sebesar 0.3 megapiksel, dan belakang sebesar 5 megapiksel. Pengguna itu juga dapat langsung mengunggahnya ke media sosial melalui T1Ci, atau menggunakan kamera untuk chatting dan video conference.

T1Ci yang dilengkapi dengan koneksi 3.5 G ini menggunakan baterai 4200 mAh sehingga daya tahannya baterai lebih lama ketika berada di luar ruangan. Tablet ini juga memilki in-Plane Switching technology (IPS) yang membuat gambar lebih jernih dan tajam. Advan memasarkan T1Ci seharga Rp. 1.999.000. •

Menanamkan Nasionalisme di Industri TI

0

PADA AWAL  tahun 2012, publik Indonesia  dihebohkan dengan  oleh produksi mobil nasional (mobnas) yakni Kiat Esemka. Seluruh media massa baik cetak maupun elektronik menjadikan berita tersebut sebagai Headline pada setiap pemberitaannya. “Kita merdeka sudah 66 tahun, masa membuat mobil saja tidak bisa? Ini saatnya Indonesia unjuk gigi dan kita harus mendukung penuh pembuatan mobil nasional,” ujar Joko Widodo, Walikota Solo, saat itu.

Jokowi pula penggerak pertama pembelian mobil karya SMK di kalangan aparat pemerintahan. Langkah tersebut mengingatkan kita akan kurangnya pemimpin yang bangga dengan produksi dalam negeri yang salah satu indikator penilaian nasionalisme seseorang menurut Mahatma Gandhi.

Saat baru saja merdeka di mana nasionalisme menggebu-gebu, pemerintah dengan gencar menyuarakan anti kolonialisme dan imperialisme. Langkah yang dilakukan pemerintah saat itu sangat berani dengan menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing yang ada di Indonesia. Tindakan itu sangat jelas bahwa pemerintah ingin kekayaan alam yang ada di bumi Indonesia untuk kepentingan masyarakat.

Karena saat itu Indonesia sebagai negara yang baru merdeka memerlukan sarana infrastruktur pendukung untuk kelancaran akses ekonomi. PT Caltex ingin “membantu” pemerintah dengan membuatkan jalan raya di Pulau Sumatera. Namun sebagai gantinya Caltex diizinkan melakukan pengeboran minyak di Pulau Kalimantan. Lagi-lagi usaha tersebut ditolak oleh Presiden Sukarno. Bukan hal aneh karena saat itu menerapkan sistem ekonomi yang disebut Berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri.

Pada tahun 1980-an, Indonesia ingin memproduksi mobil sendiri melalui putra Presiden Suharto yakni Tommy Soeharto dengan nama Timor nasional. Namun hal itu justru mendapat ancaman dari investor dan akhirnya  terhenti. Di periode tahun yang sama, Malaysia membuat langkah yang serupa dengan merk mobil Proton. Berbeda dengan Indonesia, pemerintah Malaysia mendukung hal tersebut dan memberikan kemudahan pembelian/kredit mobil tersebut bagi rakyatnya.

Hal yang sama dengan Malaysia tadi terjadi pula di Korea Selatan dengan etos kerja yang tinggi dan semangat nasionalis berslogan: Saingi Jepang. Peran pemerintah Korea Selatan yakni membatasi  jumlah mobil yang masuk ke negaranya sebagai upaya menjadikan mobil KIA sebagai tuan rumah di negeri sendiri.

Lalu bagaimana dengan nasib mobil Kiat Esemka Indonesia? Negara yang mementingkan gengsi merk luar negeri dibanding kualitas ini masih harus mendapat banyak tantangan terutama pendanaan.  Sebagai contoh adalah gerbong kereta bekas dari Jepang oleh pemerintah padahal produksi kereta api PT INKA diboyong oleh Iran dan Qatar.

Menurut Pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik, Ichsanuddin Noorsy, lebih baik mobil Esemka dikembangkan oleh pihak swasta dengan mengumpulkan konglomerat Indonesia untuk mendukung produksi mobnas. Peran pemerintah bisa lebih ditekankan pada contoh yang di Malaysia dan Korea tadi. Konsep Swadesi terlihat dapat memajukan taraf kehidupan negara.

Kondisi industri otomotif kita seperti tadi, sama juga terjadi pada industri teknologi informasi, yang akan dipaparkan lebih jelas pada Headline BISKOM edisi Oktober ini. Kami kembali menyajikan wacana teknologi informasi dari persepekstif nasionalisme. Gerakan Indonesianisme Industri TI kita gaungkan agar semangat untuk tetap berdaulat, mandiri, berkarya dan berkontribusi untuk bangsa ini makin tertanam, tumbuh dan berkembang. Jika pun kita ingin memilih produk dari luar, namun setidaknya produk tersebut juga memberikan kontribusi ekonominya terhadap negara kita. •

Salam,

REDAKSI

TELAH TERBIT BISKOM EDISI OKTOBER 2012

0

MAJALAH BISKOM kali ini menampilkan Ketua Executive Vice President Taiwan External Trade and Development Council (TAITRA), Walter Yeh (Terima kasih kepada  TAITRA yang turut mendukung Majalah BISKOM).

Dalam kesempatan ini, kami sekaligus menawarkan kepada seluruh pembaca untuk bekerjasama saling menguntungkan dengan Majalah BISKOM, baik berupa pengiriman artikel TI, mengadakan seminar, workshop dan pameran serta kegiatan-kegiatan lainnya yang berkaitan dengan dunia TI.

Topik menarik Majalah BISKOM Edisi Oktober 2012 diantaranya:

•   COVER STORY: Ketua Executive Vice President TAITRA, Walter Yeh: TAITRA Dekatkan 39 Brand ke Konsumen

• HEADLINE:  Indonesianisme Industri TI
TAITRA: RI-Taiwan Jalin Kemitraan TI

• FIGURE:
–    Djoko Tata Ibrahim, Deputy CEO Commercial Smartfren: Device Jadi Motor Penggerak Brand
–    Erison Hek Oktavian, Chief Information Officer (CIO), PT Sierad Produce: Sierad Transformasi Menuju Cloud
–    Djarot S Wisnubroto, Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan): Batan Usung Inovasi Teknologi  PLTN
–    I Made Wiryana, Dosen Universitas Gunadarma: Simbada Gratis, Catat Rapi Aset Daerah

• FOCUS:
–    RIM Dituntut Klarifikasi Gangguan Layanan
–    Green IT, Ramai-ramai Tanam Pohon di Lahan Virtual
–    Saat Kedaulatan TI Indonesia Terusik

• REVIEW & CELLULAR:
–    Acer Iconia W700
–    LG Optimus G
–    HTC 8S
–    Epson L350
–    Nikon D600
–    Asus ROG Tytan CG8890
–    Kingston DataTraveler Locker+ G2
–    Sony RX1
–    Lenovo IdeaPad S400 dan S300
–    Sony  VAIO T13
–    HTC ONE X+

• SNAP:
–    Menristek: Peneliti Harus Perbaiki Hasil Inovasi
–    SAS Dukung Statistika Ria Ke-8
–    SAP Fokus Pada Cloud
–    Smartfren Luncurkan Ponsel Murah Berkekuatan Hotspot
–    INAICTA 2012 Umumkan 17 Pemenang
–    Telkom & Edimax Tawarkan Kamera Pengawas Realtime
–    ITMN Kenalkan BrikerBox Segmen SOHO
–    Pameran TAITRA Jadi Pusat Perhatian Di Central Park Jakarta
–    Hari Jadi Pertama, KOMISI Gelar MSI Award
–    Masuki Tahun Ketiga, Taiwan Makin Dekat Ke Pelanggan Indonesia

Dapatkan Majalah BISKOM di Toko Buku Gramedia dan Gunung Agung atau berlangganan melalui Bagian Sirkulasi Majalah BISKOM. Untuk review, ujicoba, update harga produk dan kegiatan perusahaan Anda, hubungi redaksi[at]biskom.web.id •

NIKON D600: Teringan, Terkecil dan Terjangkau

0

NIKON memperkenalkan kamera DSLR yang mengusung sensor full-frame, D600. Kamera ini memiliki sensor FF berukuran 35.9 x 24 mm yang menghasilkan gambar berukuran resolusi 24,3 megapiksel.

Nikon menyebut D600 sebagai seri kamera terkecil, teringan dan paling terjangkau dari segi harga. Meski mengusung sensor full-frame, dimensinya memang kecil.  Hanya 141 x 113 x 82 mm dengan berat sekitar 760 gram,  sehingga membuatnya mudah untuk dibawa kemana saja.

Meski lebih ringan, Nikon D600 nampak kokoh dan kuat. Hal ini disebabkan pada bagian atas dan bekalang bodinya terbuat dari magnesium alloy, sehingga memberikan kesan kuat digenggaman. Pada bagian belakang bodi disematkan juga sebuah LCD berukuran layar 3,2 inci yang dapat secara otomatis menyesuaikan kecerahan untuk memperhitungkan kondisi pencahayaan.

Nikon D600 disematkan sensor CMOS berkekuatan 24,3 megapiksel. Sensor ini digabungkan dengan prosesor pengolah gambar EXPEED 3 dan dapat menghasilkan image gambar dan rekaman video yang lebih baik. Beberapa kemampuan ekstra yang diberikan Nikon untuk D600 diantaranya sensitifitas ISO 100 – 6400 dan memungkinkan untuk mengatur ISO 50 – 25.600.

Pada mode Continuous Shooting, D600 mempunyai kecepatan 5,5 fps (frames per-second). Bagi kebanyakan fotografer, kecepatan 5,5 fps ini sudah cukup mumpuni jika digunakan untuk memotret kegiatan olahraga.

Kabarnya, Nikon D600 akan segera hadir di pasar Indonesia. Beberapa situs menyebutkan, di daratan Eropa, Nikon D600  dibanderol dengan harga £1,955.99 atau sekitar US$ 3.150. •