Home Blog Page 968

Kemenristek Targetkan Seluruh Pemda Gunakan OSS

0

Firma riset Gartner memprediksi, pada 2013 teknologi Open Source akan mendominasi solusi software di industri modern dan komersial. Di 2014, sedikitnya 75 persen dari penggunaan open source software (OSS) akan memberikan tingkat pengembalian investasi (return of investment) yang positif. Apalagi investasi untuk memakai OSS tidak mahal sehingga tidak akan membebani biaya investasi perusahaan.

Di Indonesia, usaha untuk memasyarakatkan OSS telah dimulai sejak bertahun-tahun lalu. Beberapa institusi pemerintah daerah (Pemda) bahkan telah merasakan manfaat OSS. Pemerintah Kabupaten Pekalongan misalnya, bisa menghemat anggaran pendapatan daerah hingga Rp 14 miliar. Sementara Kabupaten Jembrana berhasil menggunakan OSS untuk pemilihan kepala daerah dan membangun e-Government yang berbasis kepada pelayanan masyarakat.

Sayangnya, keberhasilan tersebut belum dirasakan oleh seluruh Pemda di tanah air. “Saat ini baru 25 persen daerah yang sudah menggunakan OSS. Padahal ditargetkan, pada  2011 seluruh daerah sudah menggunakan OSS,” kata Menristek, Gusti Muhammad Hatta saat jumpa pers Training of Trainer (ToT) Open Source (OS) Koridor Ekonomi Seluruh Indonesia dengan tema Pengembangan e-Government dan Basis Data IPTEK, di Solo, Jawa Tengah (3/7).

Tahun ini, kementerian akan terus mendorong seluruh Pemda dan instansi lainnya untuk menggunakan OSS. Demi mencapai target tersebut, Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Kemenristek) melakukan penjadwalan pencapaian target pertahun, meski banyak kendala yang dihadapi di lapangan. “Kendalanya terletak pada Sumber Daya Manusia (SDM) yang belum terbiasa menggunakan OSS, serta komitmen dari pemerintah yang masih rendah.” paparnya.

Kemenristek kini tengah membuat enam koridor pembangunan ekonomi yakni Jawa, Papua- Kepulauan Maluku, Bali-Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera. Namun saat ini baru koridor Jawa yang sudah seluruhnya melakukan ToT.

ToT OSS di Solo yang bekerjasama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta ini dilaksanakan pada 3-6 Juli 2012. Pelatihan yang melibatkan peserta dari Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi/Kabupaten/Kota ini juga membuka diskusi bagi masyarakat luas di Solo dan sekitarnya melalui talkshow di stasiun televisi lokal, Terang Abadi TV (TATV).

Dalam pelatihan tersebut sekaligus membahas penggunaan OSS secara luas, termasuk Pengembangan dan Pemanfaatan Geo Ina Portal (INA-SDI). Asep Karsidi, Kepala Badan Informasi Geospasial menyampaikan, informasi geospasial atau peta bermanfaat untuk penetapan batas wilayah administrasi, wilayah negara, penataan ruang, pembangunan kewilayahan, sumber daya alam, pelestarian lingkungan, pariwisata bahkan penanggulangan bencana. Hampir 90 persen aktivitas pemerintahan memiliki elemen geospasial.

Di sisi lain, Menristek Gusti Muhammad Hatta juga berharap dengan adanya penguatan Sistem Inovasi Daerah (SIDa) dan Sisten Inovasi (SINas), bisa memberikan manfaat bagi kebijakan bidang ekonomi, sosial dan kemasyarakatan di daerah.

Training of Trainer (ToT) OSS Koridor Ekonomi Seluruh Indonesia didukung oleh Taiwan Excellence dan BISKOM sebagai media partner.

TAITRA Luncurkan SmarTEST! Berhadiah US$ 100 Ribu

0

Setelah sukses dengan IT Travelers Go’ di tahun 2011, Biro Perdagangan Asing (BOFT) dari Kementerian Ekonomi Taiwan dan Taiwan External Trade Development Council  (TAITRA), menyelenggarakan  kampanye The SmarTEST! dan Taiwan Joint Trade Mission.  Dua kegiatan ini diluncurkan  bersamaan dengan peluncuran Taiwan Excellence Home & Leisure Experiencing Zone di Lippo Karawaci Mall, 27 Juni–1 Juli 2012.

Dalam kampanye The SmarTEST!, partisipan akan disaring di tingkat regional melalui tes pengetahuan dan kepintarannya dalam menggunakan produk Taiwan Excellence. The SmarTEST! bertujuan untuk mencari orang-orang yang paling cerdik, berwawasan, dan terpintar.

Wakil Ketua TAITRA, Wu Wen-Yea berkomentar, “The SmarTEST! merupakan usaha Taitra untuk memperkuat citra Industri Taiwan dan memberikan kesempatan bagi konsumen Indonesia untuk mengenal lebih dalam dan merasakan keunggulan dari merek-merek Taiwan kelas dunia.

The SmarTEST menawarkan total hadiah sebesar USD100.000 dalam bentuk produk, uang tunai, dan jalan-jalan gratis ke Taiwan. Celebrity Endorser, Cathy Sharon mengatakan,  total hadiah ini adalah yang terbesar dalam sejarah penyelenggaraan kompetisi di Asia.

Proses kompetisi ini dibagi jadi tiga tahap. Tahap pertama akan dilakukan pada 7 Juli 2012 dalam 24-hour Online Quiz.  Masyarakat dapat mengikuti kuis ini secara gratis melalui komputer, notebook, bahkan smartphone.

Bagi masyarakat yang tidak memiliki akses internet, panitia penyelenggara menyediakan layanan kuis 24 jam ini secara gratis di Ritter Internet Cafe, Jalan Tanjung Duren Utara 3F Blok C No. 92 Jakarta Barat.

Finalis yang masuk ke dalam sepuluh besar akan mendapatkan kesempatan untuk masuk ke kompetisi final, pada Agustus mendatang. Pada tahap kedua ini, kata Direktur Jendral BOFT, Cho Shi-Chao, TAITRA dan para mitra pendukung akan memberikan produk rumah tangga Taiwan, dan rangkaian tantangan kepada para partisipan. Kemudian, setiap partisipan harus mendemonstrasikan kepintarannya baik secara individual maupun tim, dengan menggunakan produk-produk tersebut.

Penampilan para finalis ini akan dinilai berdasarkan kepintarannya, jumlah online votes yang didapatkan dari online followers dan jaringan sosial lainnya. Pemenang nasional ini akan membentuk sebuah tim dan terbang ke Taipei untuk bertanding di Regional Final Contest pada bulan Oktober 2012. Mereka akan mewakili Indonesia untuk bertanding melawan tim dari China, India, dan Vietnam.

Pemenang yang mengalahkan tim lainnya dan menarik perhatian publik, serta didukung oleh komite The SmarTEST! dan online followers, akan memenangkan tahap regional. Mereka akan menerima gelar ‘The Smartest’ dan hadiah grand final.

Informasi  lebih lanjut mengenai The SmarTEST! bisa diperoleh melalui website resmi The SmarTEST!, http://www.2012smartest.com atau Facebook http://www.facebook.com/TaiwanExcellence, dan Twitter @TaiwanICT.

Bandara Changi Adopsi nLighten Sebagai Pusat Hiburan

0

Layar besar multi sentuh (Multitouch Display) dari nLighten semakin luas penggunaannya. Salah satu bandara tersibuk di dunia, Bandara Changi di Singapura, belum lama ini memasang monitor nLighten di terminal transit, yang letaknya tepat di tengah terminal.

Seperti diketahui, Bandara Internasional Changi dikunjungi oleh 33 juta orang di seluruh dunia setiap tahunnya. Changi Airport Group (CAG) memasang monitor layar sentuh nLighten sebagai salah satu fasilitas hiburan, manakala pengunjung tengah menunggu untuk transit ke pesawat berikutnya.

Dengan monitor yang besar tersebut, pengunjung bisa melakukan aktifitas browsing dengan lebih menyenangkan ataupun untuk melakukan atraksi permainan. Bukan itu saja, monitor ini juga menjadi pusat informasi bandara maupun Singapura, dengan tampilan gambar dan video berformat tiga dimensi (3D).

nLighten Multi Touch yang beroperasi selama 24 jam atau 365 hari dalam setahun ini sangat responsif. Pengguna bisa memperlebar dan memperkecil gambar, serta memindahkannya ke bagian layar yang lain dengan mudah. Perangkat ini bisa mengakomodir 32 jari yang bergerak sekaligus. Layar multi sentuh interaktif nLighten ini menggunakan teknologi video inframerah untuk menggantikan fungsi mouse dan keyboard dengan sentuhan jari.

nLighten sendiri merupakan salah satu manufaktur asal Taiwan. Sejak akhir tahun lalu, perusahaan tersebut gencar memperkenalkan layar sentuh ini ke beberapa negara, termasuk pasar Indonesia, melalui pameran Indocomtech 2011 dan Mega Bazaar Computer (MBC) 2012 di Jakarta Convention Center, serta berpartisipasi di Pameran IT Show 2012, Maret lalu di Singapura.

Multitouch Display nLighten saat ini telah digunakan bukan saja di bandara, namun juga di dunia pendidikan, perdagangan, perindustrian, periklanan, kesehatan, teknologi informasi dan hiburan, Untuk keterangan lebih rinci dapat menghubungi NTeractive Technologies (www.nteractive.sg).

 

Kanada Jadi Tuan Rumah Kongres TI Dunia ke 18

0

Ajang pertemuan praktisi Teknologi Informasi (TI) seluruh dunia akan kembali digelar. Tahun ini, World Congress on Information Technology (WCIT, www.wcit2012.org) yang diadakan tiap 2 tahun sekali memasuki penyelenggaraan ke 18, sejak dibentuk pada 1978 silam dibawah naungan World Information Technology and Services Alliance (WITSA).

WCIT yang sedianya akan berlangsung dari tanggal 22 hingga 24 Oktober 2012 di Palais des Congrès de Montréal, Kanada, kali ini dipercayakan kepada Information Technology Association of Canada (ITAC) sebagai tuan rumah.

WCIT 2012 menjanjikan sesuatu yang baru, dan mungkin belum pernah berlangsung sebelumnya di panggung dunia. Dengan tema One Vision for a Global Digital Society, kongres ini selama 3 hari akan menampilkan lebih dari 100 profil sebagai pembicara serta mengundang 3.000 delegasi dari lebih dari 80 negara untuk memberikan perspektif yang tepat bagi perkembangan TI dan solusi yang efektif bagi revolusi digital yang terjadi saat ini.

Francois Morin, CEO WCIT 2012 mengatakan, “WCIT 2012 akan menyatukan pembicara utama dari pemerintahan, industri, akademisi, dan masyarakat sipil untuk melakukan diskusi tentang bagaimana TI bisa membantu masyarakat digital, dengan menempatkan pengguna sebagai pusat perhatian.”

Jika tahun-tahun sebelumnya, WCIT mengundang pembicara terkemuka dari seluruh dunia, seperti Bill Gates, Michael Dell, Bill Clinton, Colin Powell, dan Mikhail Gorbachev, pada tahun 2012  ini akan hadir pembicara diantaranya Robert Youngjohns (President Microsoft North America), Wim Elfrink (CGO Cisco), Tom Jenkins (Executive Chairman and Chief Strategy OpenText), Bernard Charles (President and CEO Dassault System), Juliana Rotich (Co-Founder and Executive Director Ushahidi), Andrew P. McAfee (Researcher, MIT Sloan School of Management), Danah Boyd (Senior Researcher Microsoft Research), Dr. Eric Brown (Research Scientist IBM), Professor Peter A. Bruck (CEO and Chief Researcher of The Research Studios Austria) dan Larry King (American Television and Radio Host), serta tampil sebagai host: Don Tapscott (Eksekutif Bisnis Kanada, Penulis, Konsultan dan Pembicara mengenai dampak strategis teknologi informasi)

Acara ini, jelas Morin, akan menampilkan inovasi teknologi Kanada kepada masyarakat global, menciptakan peluang bisnis bagi para pengusaha dan menarik investasi asing. Tujuan konferensi ini adalah membangun sektor ekonomi dan sosial melalui pertukaran kebijakan, praktek, tren dan ide serta peran TI dalam perekonomian, lingkungan, pemerintahan, perawatan kesehatan, pendidikan dan mobilitas.

Agenda WCIT 2012

WCIT 2012 dimulai dengan Tech World Jam, sebuah sesi brainstorming digital yang dimoderatori oleh pakar industri global dan komunitas IBM Smarter Planet. Masyarakat dari 84 negara akan login lebih dari 11.000 kali untuk memberikan ide kepada pemerintah untuk membantu mengatasi tantangan sosial, ekonomi, kesehatan, pendidikan, keterampilan digital, smart cities, transportasi, lingkungan, seni, budaya dan lain sebagainya.

World Youth Summit Awards (WSYA) yang dibentuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga akan digelar bersamaan dengan WCIT 2012. WSYA mempromosikan aplikasi terbaik pada e-content dan media baru, untuk menunjukkan potensi kaum muda dalam menciptakan konten digital dan berupaya bersama seluruh anggota negara PBB untuk mencapai Millenium Development Goals (MDGs). MDGs adalah delapan tujuan konkrit untuk memberantas kemiskinan dan ketidaksetaraan di seluruh dunia. Tujuan ini ditetapkan oleh PBB pada tahun 2000 dan harus dicapai pada tahun 2015.

WCIT 2012 juga menggelar pameran produk, layanan, dan aplikasi TI terbaru, dimana pada paviliun pemerintah akan menampilkan ahli TI dari berbagai negara.

Acara Business to Business (B2B) pada WCIT 2012 adalah pertemuan bisnis antara 200 hingga 300 UKM Kanada yang bertujuan untuk memperbaharui dan mengembangkan hubungan industri multinasional dan lintas industri serta kemitraan strategis, komersial, keuangan, dan teknologi antara perusahaan dan negara-negara dengan perekonomian yang maju dan berkembang.

Sekitar 200 perusahaan asal Kanada juga akan dipilih dan diundang untuk menghadiri Forum Investasi WCIT C200. Program ini akan memberikan peluang jaringan bagi perusahaan-perusahaan Kanada untuk mengembagkan investasi TI di tingkat internasional.

Pada 23 Oktober 2012, Larry King, seorang penyiar radio dan televisi legendaris, akan hadir sebagai keynote dalam diskusi roundtable: “The Digital Era and the Impact on Our Society”, untuk menjawab tantangan dan solusi dalam evolusi teknologi di masa depan. Selama diskusi, Larry King akan ditemani tamu khusus termasuk pengusaha Carlos Slim Jr, Justin Rattner (CTO Intel) dan lainnya.

WCIT 2012 disponsori antara lain oleh Air Canada, AMD, Bell, Canon, CGI, Cisco, Dassault Systèmes, Dell, Enterprise Saskatchewan, Gouvernement du Québec, IBM, ICTAM, Intel, Investissement Quebec, ITAC, Microsoft, OpenText, Pemerintah Kanada, RIM, SaskPower, SaskTel Internasional, Softchoice, Tourisme Montréal dan Xerox. Acara ini juga didukung oleh BISKOM sebagai media partner di Indonesia.

IT Camp 2012 Segera Digelar

0

Ajang belajar teknologi informasi (TI) yang dipadu dengan rekreasi dan berkemah, IT Camp, akan kembali digelar. Tahun 2012 yang merupakan tahun keempat penyelenggaraan IT Camp, menjanjikan pengalaman yang lebih seru dengan materi ajar yang lebih mendalam.

IT Camp 2012 yang dijadwalkan pada 14 – 15 Juli 2012 di Pondok Zidane, Jl. Rawa Bengkok, Kampung perigi, Sawangan, Depok, Jawa Barat ini diadakan oleh ODC (One Destination Center) bersama KeRMIT (Kelompok  Remaja Melek IT).

Tujuannya adalah agar para peserta mendapatkan ilmu pengetahuan dan menambah wawasan tentang teknologi-­teknologi baru, sehingga menjadikan mereka lebih kompetitif di dunia pendidikan maupun dunia kerja.

Pada IT Camp 2009, materi yang diberikan adalah pelatihan dasar seperti pengenalan komputer, jaringan, merakit komputer server, pembuatan jaringan internet, jaringan  wireless maupun Internet telepon (VoIP).

Kemudian pada 2010, IT Camp memberi pelatihan teknik hacking, untuk menjawab banyaknya permintaan dari peserta yang ingin mendalami ilmu tentang hacking.

Onno W. Purbo, Pembina Yayasan ODC sekaligus pembicara utama di IT Camp mengatakan, “Sangat penting untuk mengenal ilmu hacking dengan tujuan yang benar, agar imej tentang hacker yang selama ini buruk bisa menjadi baik.”

Sementara IT Camp 2011 mengupas topik seputar Cloud Computing dan Open BTS. Melanjutkan topik yang lebih mendalam dibanding tahun lalu, tahun 2012 ini materi yang akan diberikan berfokus pada  TV Internet (Streaming), Radio Internet, Home Teater PC, Media Server, UPnP, dan Open BTS new version (Multi BTS). Semua materi ini dirangkum dalam satu tema utama: “New Open BTS and Internet TV, make your dream is possible.”

“TV Internet adalah salah satu media dimana kita dapat menikmati segala bentuk fasilitas hiburan dengan satu alat seperti menikmati musik, menonton koleksi film yang kita punya, mendengarkan radio, hanya dengan mengakses melalui server, hardisk, ataupun internet,” papar Onno.

Dalam topik bahasan Open BTS, lanjutnya, akan diajarkan bagaimana membangun Multi BTS Seluler dan menjadi operator sendiri, sehingga bisa memberikan solusi hemat dalam berkomunikasi. Open BTS yang sekarang ini adalah versi terbaru, sehingga lebih stabil dan dapat digunakan untuk Multi BTS.

IT Camp 2012 yang menargetkan sekitar 200 peserta, terbuka bagi mereka yang mempunyai keingintahuan tinggi terhadap dunia TI, terutama pelajar dan mahasiswa.

Selain Praktisi TI, Onno W. Purbo, pembicara pada IT Camp 2012 diantaranya Heru Catur dan Ian Keikai (ICT Watch)

IT Camp 2012 didukung oleh Metro TV dan Majalah BISKOM sebagai media partner.

Siaga Bencana dengan TI

0

Ketika bencana alam belum terjadi, teknologi informasi (TI) bisa memperingati lebih dini. Pasca bencana, TI bisa berperan untuk mempercepat penanggulangannya.

Sesaat setelah tsunami melanda, terjadi kepanikan luar biasa di 12 negara Asia yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Gempa bumi dahsyat yang terjadi di kedalaman lautan antara Sumatera dan Andaman pada 26 Desember 2004 itu telah menyebabkan sekitar 230.000 jiwa menjadi korban. Hampir 200.000 korban berasal dari Indonesia. Lebih dari lima juta orang kehilangan tempat tinggal, serta akses terhadap makanan dan air. Upaya tanggap bencana hingga proses pemulihan berlangsung di setiap negara yang terkena dampak bencana. Dampak kerusakan dan kerugian luar biasa yang terjadi tentu saja menyebabkan penanganan korban dan upaya pertolongan tidak bisa dengan mudah dilakukan.

Di Aceh, sekelompok anak muda bergegas membongkar muatan satu mobil SUV double cabin tetap penuh semangat meski baru menempuh perjalanan berat belasan jam. Suasana sekitar lokasi kejadian luluh lantak dan mencekam akibat sapuan gelombang tsunami dahsyat dua hari sebelumnya. Sedikit di kejauhan sejumlah survivor tampak memperhatikan.

Ada dua orang dengan kaos berlabel “Relawan TI” yang cekatan merakit tenda knockdown. Lainnya sibuk dengan gadget berfasilitas Global Position System (GPS) dan sebuah laptop di atas bak SUV melakukan pointing VSAT. Sekitar dua jam kemudian portable mast setinggi 15 meter telah tegak berdiri. Di atasnya terpasang tiga vertical antenna; untuk radio komunikasi all band, WiFi dan GSM. Di samping tenda terbentang modul solar panel kapasitas 1 KVA dan backup genset 5KVA sebagai andalan pasokan daya listrik.

Di dalam tenda, server rakitan barebone berbasis Linux dengan jeroan prosesor quadcore, 8 Gb RAM dan harddrive SSD 128 Gb yang hemat energi siap menjalankan sejumlah fungsi vital: aplikasi GNU Radio, Asterisk (SIP) dan Jabber (XMPP). Sekaligus sebagai router dan VPN IP yang akan terhubung via VSAT ke simpul terminasi dan interkoneksi operator GSM di National Internet Exchange di Jakarta. Tim Relawan TI ini tak sabar segera menyambungkan perangkat USRP dan mini amplifier ke sistem. Selang 30 menit, konfigurasi dan final check, call out GSM pertama dari ground zero dapat berlangsung.

Begitulah. Dengan bermodal kemampuan di bidang TI, tim relawan TI dari Yayasan Air Putih membantu menyebarluaskan kejadian bencana alam dan mempercepat datangnya bantuan.

Lembaga ini sebenarnya terbentuk secara tak sengaja. Pemicunya tak lain, gempa dan tsunami yang menghantam Aceh pada 26 Desember 2004. Seperti orang Indonesia pada umumnya, pendiri Air Putih merasa berduka mendengar kejadian itu. Mereka, yang terdiri dari tujuh orang: Ahmad Suwandi, Eduardo Rusfi D, Anjar Ari Nugroho, Jusron Faizal, Rahman Hidayat, Sugeng Wibowo dan Budi Santoso pun berusaha mencari jalan untuk membantu korban bencana. Karena status mereka masih mahasiswa, yang artinya tak memiliki cukup dana, maka yang terpikir adalah membantu menyebarluaskan informasi soal bencana tersebut.

Dua hari setelah gempa dan tsunami menghantam Aceh, Suwandi dan timnya langsung terbang dari Malang ke lokasi bencana. Di provinsi Serambi Mekah ini mereka mulai menjalankan misinya, antara lain dengan membangun infrastruktur informasi. Infrastruktur berupa pemasangan antena VSAT yang berfungsi menghubungkan internet dengan internet melalui satelit.

Tak hanya itu, tim Suwandi juga menyediakan acces point guna memungkinkan orang-orang di wilayah bencana terhubung dengan internet, juga telepon satelit cuma-cuma untuk relawan dan wartawan. Inilah yang kemudian membuat berita bencana tsunami Aceh mendunia dan akhirnya mendatangkan banyak bantuan. Juru warta, baik lokal maupun asing, dan relawan ramai-ramai menggunakan pusat informasi yang dibangun Air Putih untuk mengabarkan bencana terbesar yang pernah melanda Indonesia dalam satu dekade terakhir. Guna melancarkan misi ini Air Putih bekerjasama dengan Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII).

Melihat usaha mereka tidak sia-sia, Suwandi dan timnya pun sepakat membentuk Yayasan Air Putih. “Air Putih mendorong masyarakat agar melek TI dan menjadikannya sebagai alat untuk mewujudkan masyarakat yang kuat,” kata Suwandi belum lama ini seperti dikutip Prioritas.

Dia membeberkan, lembaganya bisa menyebarluaskan informasi dari daerah bencana karena menggunakan TI dan komunikasi berbasis open source software atau ‘kode sumber terbuka’. “Open source sebagai kunci pembuka akses yang murah dan mudah,” lanjut Suwandi sambil menyebutkan open source yang dikembangkan lembaganya bernama Orca. Selain di Aceh, Air Putih juga memperlihatkan dedikasi mereka dengan membuat bantuan serupa di Yogyakarta, Wasior, Mentawai, Bengkulu, dan sejumlah daerah lain. Dalam perkembangannya, organisasi ini tak hanya membantu menyebarkan informasi. Mereka juga membuat aplikasi peringatan dini gempa dan tsunami yang digarap bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Suwandi menjelaskan, Indonesia merupakan daerah rawan bencana karena letaknya di jalur The Pacific Ring of Fire (Cincin Api Pasifik). Karena itu harus siap, sebab bencana bisa datang kapan saja. “Dalam situasi seperti ini diperlukan sistem koordinasi yang baik agar proses pertolongan bisa dilakukan dengan cepat dan tepat. Guna mempercepat proses koordinasi, pendataan dan pelaporan perlu sarana telekomunikasi yang tepat,” tandasnya.

Belakangan untuk memperlancar misi, Air Putih meningkatkan kemampuan penggunaan TI bagi pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat dalam penanganan bencana. Tim cepat tanggapnya siap berangkat ke lokasi bencana kapan saja.

Peran Open BTS

Pembina di Yayasan Air Putih, M. Salahuddien mengatakan, apa yang dialami tim relawan Air Putih tadi merupakan contoh ilustrasi bagaimana teknologi Open BTS, WiFi, VSAT dan radio komunikasi dapat menjadi sebuah solusi mini yang dinanti oleh mereka yang menunggu harapan tak pasti di lokasi sulit terjangkau infrastruktur normal.  “Dalam kenyataannya, penggelaran sistem darurat ini bersama dengan sistem manajemen kebencanaan berbasis TI dan internet, dalam waktu secepatnya terbukti menurunkan tensi kepanikan di luar lokasi bencana serta meningkatkan efisiensi dan akurasi misi kemanusian. Ditambah bonus aliran informasi aktivis media sosial alternatif, relawan, jurnalis serta survivor membuka keterisoliran suatu daerah yang tertimpa bencana alam hebat,” ungkap Didin, sapaan Salahuddien.

Berbeda dengan gelaran teknologi internet yang membutuhkan perangkat akses tambahan rumit seperti laptop dan keterampilan menggunakannya, Open BTS melayani ponsel biasa yang seketika dapat memenuhi kebutuhan telekomunikasi dasar (voice, SMS). Orang awam sekalipun hanya perlu beberapa menit untuk menguasai teknologi ini. Apalagi penetrasi seluler telah merakyat. Komunikasi yang mudah dan murah.

“Namun demikian, Open BTS dapat ditingkatkan kapasitas dan fitur layanannya tak hanya telepon dan SMS tapi juga komunikasi data. Walau lebih praktis bila smartphone, gadget, tablet, laptop yang membutuhkan akses internet dapat terhubung ke WiFi HotSpot yang dalam ilustrasi di atas juga selalu disediakan,” papar Didin.

Berita baiknya, imbuh Didin, Open BTS bersifat modular. Bisa ditambahkan power dan antena ukuran besar agar dapat menjangkau wilayah lebih luas. Atau menambah unit USRP jika ingin melayani jumlah pengguna yang lebih banyak dan atau ingin bekerja pada spektrum frekuensi yang beragam. Model standar bekerja di 900 Mhz dengan standar 2G, namun tersedia juga model 1800, 1900 dan 2100 Mhz yang mendukung 3G. Tentu saja konsekuensinya perlu investasi lebih besar dan perangkat yang berat meski untuk skala non profit dan tujuan semi permanen solusi Open BTS tentu saja masih tetap sangat murah dibandingkan BTS normal.

Deteksi Gempa Berbasis Cloud

Bencana alam, seperti gempa terjadi tanpa terduga dan tak pernah bisa ditolak. Namun bencana alam tersebut dapat diantisipasi jika dapat diprediksi sebelumnya. Sebagai negara yang sering diguncang gempa dan banjir, Indonesia dipandang perlu untuk memiliki alat pendeteksi bencana alam.

Pada kasus lain, pendeteksi bencana alam memang tetap tak akan bisa menunjukkan kapan bencana tersebut akan betul-betul terjadi. Namun, gejala-gejala yang terdeteksi bisa membuat manusia bisa lebih waspada dan bersiap ketika bencana alam akhirnya terjadi. Hal inilah yang melatarbelakangi mahasiswa Kelompok Keahlian Teknologi Informasi STEI ITB membuat sistem monitoring keadaan lingkungan dan deteksi dini bencana alam menggunakan komputasi awan (cloud computing).

Prototipe sistem ini diperkenalkan di acara International Conference on Cloud Computing and Social Networking 26-27 April 2012 di Hotel Preanger Bandung, yang merupakan bagian dari e-Indonesia Initiative (eII) Forum kedelapan.

“Selama ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mungkin telah memiliki sistem pendeteksi bencana alam yang serupa. Alat-alat yang digunakan pun tidak jauh berbeda, namun, di sini kami menawarkan sistem baru, yakni memanfaatkan komputasi awan,” ungkap Sinung Sukanto, salah satu tim yang membangun sistem ini seperti dikutip Kompas.com, (29/4).

Sistem monitoring keadaan lingkungan dan deteksi dini bencana memiliki tiga peralatan utama, antara lain sensor yang berfungsi mendeteksi kondisi udara seperti kandungan CO2, LPG, Carbon Monoxide, dan menjadi pengontrol kualitas udara. Selain itu, sensor ini juga bisa digunakan untuk mendeteksi kualitas air seperti kadar pH, oksigen, hingga menentukan tinggi-rendahnya gelombang air. Kedua, Remote Terminal Unit (RTU) yang akan menyimpan data analog maupun digital yang tertangkap oleh sensor dan diteruskan ke server komputasi Awan. Alat ini akan selalu berdampingan dengan alat sensor dan bertugas meneruskan informasi sampai ke server. Ketiga yakni server komputasi Awan dimana data yang dikirim oleh RTU akan disimpan di server komputasi Awan.

“Selama ini, sistem pendeteksi bencana belum mengadopsi komputasi awan sehingga masing-masing wilayah harus memiliki server sendiri. Setelah adopsi komputasi Awan, maka server yang diperlukan hanya berpusat di satu tempat, meski alat sensor dan RTU berada di seluruh wilayah Indonesia,” jelas Sinung.

Sistem yang dibangun oleh tim yang terdiri atas tiga orang ini dibimbing oleh Suhono H. Supangkat (Ketua Forum EII) dan Suhardi. Sedangkan anggota tim terdiri dari Sinung Sukanto (mengurusi aplikasi), Tunggul Arief Nugoroho (mengurusi hardware), dan I Gusti Bagus Baskara Nugraha (mengurusi jaringan). Studi tentang sistem ini masih akan dikembangkan, namun prototipe yang ada, sudah mulai diperkenalkan ke berbagai pihak yang terkait penanggulangan bencana.

Untuk konteks Indonesia, yang baru saja memiliki undang-undang Penanggulangan Bencana dan Rencana Aksi Nasional  Penanggulangan Bencana, penerapan sistem berbasis open source tentu saja akan mendukung upaya untuk mengubah paradigma penanganan bencana yang selama ini masih bersifat reaktif dan responsif menjadi suatu kegiatan yang lebih bersifat preventif.

TI Siaga Bencana

Dalam rangka penyelenggaraan penanggulangan bencana, penggunaan TI memang menjadi sangat penting. Kemampuan TI dalam rangka menyimpan dan mengelola data dan informasi bencana menjadi suatu kebutuhan dan memperoleh perhatian secara khusus. Kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan dokumentasi dan inventarisasi sumberdaya maupun informasi kejadian bencana yang dituntut untuk selalu siaga. Manfaat lain adalah untuk menggambarkan kondisi wilayah setempat, sehingga diketahui kesiapan dan keperluan serta support kebutuhan dalam penanggulangan bencana. Oleh sebab itu dalam keadaan darurat, hal-hal yang bersifat data harus sudah tersedia dan dapat dijadikan masukan dalam pengambilan keputusan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah merintis dan melakukan kegiatan inventarisasi data dan informasi kebencanaan seluruh Indonesia. Namun data tersebut sudah semestinya untuk dapat dikelola dan dalam rangka pemutakhiran data sehingga pada tahun ini BNPB dengan dukungan UNDP melakukan penguatan kelembagaan BPBD provinsi terutama untuk fasilitasi penyusunan Data dan Informasi Bencana (DIBI) nasional ke dalam konteks lokal (provinsi).

Penyusunan DIBI bertujuan untuk mengembangkan sistem informasi yang dibutuhkan untuk melacak kerugian jiwa, materi, sarana dan prasarana akibat berbagai jenis bencana. Informasi yang diperoleh kemudian dapat diakses di seluruh Indonesia, bahkan dunia melalui internet. Untuk mewujudkan sistem tersebut dibutuhkan data yang lengkap mengenai jumlah penduduk di suatu daerah, jumlah rumah, data sarana-prasarana dan data kawasan yang ada di daerah tersebut. Data tersebut nantinya akan dicocokkan dengan data setelah terjadinya bencana, bahkan dapat ditampilkan secara geografis untuk memperlihatkan informasi sebelum dan sesudah terjadi bencana. Dari sini dapat diketahui secara detail jumlah kerugian jiwa, materi dan sarana-prasarana di daerah yang terjadi bencana dari suatu wilayah.

Dalam hal ini TI memang menjadi wadah yang dapat membantu dalam berbagai masalah. Bencana alam merupakan masalah yang cukup rumit jika di tangani dengan cara manual. Prosedur penanganan bencana saat ini banyak yang tidak efektif atau bahkan salah sasaran semua itu disebabkan informasi yang terlambat masuk terlebih tidak akurat. Dengan adanya TI saat ini, sangat membantu dalam proses pengambilan keputusan pada saat bencana akan terjadi.

Meski TI memang tidak dapat mencegah terjadinya bencana secara keseluruhan, tapi dengan adanya TI, kita dapat meminimalkan segala bentuk kerugian, korban jiwa, dan memberikan tindakan-tindakan yang efektif dan efisien, bahkan dapat meminimalkan dampak dari bencana tersebut.

Manajemen TI Bencana

  • Deteksi dini atau yang dikenal dengan early warning system. Manusia tidak dapat mendeteksi kapan terjadinya bencana, dengan adanya peringatan-peringatan dini manusia dapat menghindar atau menjauh dari sumber bencana untuk bisa menyelamatkan diri.
  • Pemetaan. Gejala alam bisa juga diketahui dari tren yang berlangsung. Pola yang terjadi dalam rentang sekian tahun. TI bisa membantu memetakan hal tersebut.
  • Koordinasi. Ketika bencana telah terjadi peran TI sangat vital dalam hal koordinasi.

Sistem Peringatan Dini

Sistem peringatan dini dalam menghadapi bencana sangat penting, mengingat secara geologis dan klimatologis wilayah Indonesia termasuk daerah rawan bencana alam. Dengan ini diharapkan mengurangi terjadinya dampak bencana alam bagi masyarakat. Keterlambatan dalam menangani bencana dapat menimbulkan kerugian yang besar bagi masyarakat. Dalam siklus manajemen penanggulangan bencana, sistem peringatan dini bencana alam mutlak sangat diperlukan dalam tahap kesiagaan, sistem peringatan dini untuk setiap jenis data, metode pendekatan maupun instrumentasinya. Tujuan akhir dari peringatan dini ini adalah masyarakat dapat tinggal dan beraktivitas dengan aman pada suatu daerah serta tertatanya suatu kawasan. TI amat dibutuhkan menginat pentingnya penanganan bencana yang sangat cepat. Di Indonesia sendiri, Sistem Peringatan Dini Tsunami teah dirancang dan dibangun melalui jaringan VPN Polri dan media SMS pada tahun 2006, untuk mendapatkan informasi peringatan dini dari Badan Metreologi dan Geofisika (BMG) yang kemudian didistribusikan ke area yang diprediksikan akan kena bencana alam ini untuk mencegah jatuhnya banyak korban.

Pusat Informasi Bencana ASEAN

Indonesia dipercaya oleh 10 negara ASEAN untuk menjadi negara pusat informasi bencana. Hal ini desepakati dengan dibentuknya ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistane (AHA Centre) oleh 10 negara ASEAN, sejak 10 November 2011.

“AHA Centre dibentuk dengan tujuan untuk mengantisipasi bahaya bencana di setiap wilayah di negara-negara ASEAN. Hal Ini terkait dengan regional respon untuk mengkoordinasi kegiatan penanganan bencana,” kata Executive Director AHA Centre, Said Faisal, (3/5).

Said berharap, dengan adanya AHA Centre ini, dapat membantu menyalurkan sebanyak mungkin informasi tentang bencana ke berbagai wilayah di negara-negara ASEAN. “Tentunya kami tidak bekerja sendirian. Kami bekerja sama dengan lembaga-lembaga penanganan bencana di berbagai wilayah di negara-negara ASEAN tersebut,” ujar Said.
Said mengatakan, sejak awal berdirinya, AHA Centre banyak mendapat dukungan dari negara-negara besar terutama Jepang. “Mereka sangat mendukung kita dan pendonor utama dalam bidang Information and Communications Technology (ICT),” ujar Said.

Said berharap, ke depannya makin banyak informasi yang diberikan kepada masyarakat agar mereka bisa lebih siap bila terjadi bencana. “Sekarang kita lakukan monitoring tentang bencana-bencana di negara ASEAN dan memberikan informasi kembali ke negara-negara tersebut,” kata dia.

Karena itu, untuk mengetahui status terkini dari sistem informasi dan teknologi yang dimiliki National Disaster Management Organitation (NDMO), AHA Centre menyelenggarakan lokakarya “ICT User Workshop”  di Jakarta pada 22-24 Mei 2012 dan diikuti oleh NDMO masing-masing negara ASEAN, AHA Centre, Sekretariat ASEAN, pemerintah Jepang dan perwakilan dari Amerika Serikat.

Lokakarya ini juga untuk mengetahui kesenjangan dan mencari solusi guna peningkatan hubungan di antara NDMO. Selain itu, lokakarya juga dimaksudkan untuk memberikan pemahaman apa saja perangkat TI yang sudah terpasang di AHA Centre. Dalam lokakarya juga diperkenalkan Disaster Monitoring and Response System (DRMS) yang akan dipasang di AHA Centre. DRMS ini akan diimplementasikan oleh ASEAN-US Technical Assistance and Training Facility (USTATF) yang menggandeng mitra dari Pasific Disaster Center (PDC).

Di Sekretariat AHA Centre, peserta bisa melihat apa saja peralatan yang sudah terpasang. Sekretariat AHA Centre saat ini adalah bantuan dari pemerintah Indonesia yang menempati Gedung BPPT I Lantai 17. Di dalam sekretariat telah terpasang berbagai peralatan TI sebagai hasil kegiatan ICT tahap I. Dalam ICT tahap I, berisi pembangungan dan peningkatan kapasitas TI di AHA Centre yang didanai oleh Japan-ASEAN Integrated Fund (JAIF). Selain perangkat keras TI yang ada di AHA Centre, peserta juga ditunjukkan beberapa perangkat lunak yang akan mendukung tugas AHA-Centre dalam menjalin koordinasi di antara-negara anggota ASEAN, yaitu DRMS dan WebEOC.

Setelah kunjungan ke AHA Centre, lokakarya berlanjut dengan paparan dan demonstrasi mengenai DRMS yang disampaikan oleh Ray Shirkodai dan Chris Chiesa dari PDC. DRMS adalah sebuah aplikasi untuk pantauan bencana yang dikembangkan oleh PDC dan dapat digunakan oleh NDMO.

Saat ini begitu banyak sumber informasi yang bisa diakses oleh pengguna. Di antara begitu beragamnya sumber informasi tersebut, diperlukan sebuah sistem yang dapat menggabungkan dan memberi kemudahan kepada pengguna. DRMS akan menyediakan informasi terkini dari berbagai sumber selama 24 jam 7 hari. Di sisi lain, DRMS juga dilengkapi dengan pemodelan, misalnya untuk bencana angin topan. DRMS sendiri adalah sistem yang berbasis web, bekerja berdasarkan sistem informasi geografis dan keanggotaan. DRMS diperlukan karena sistem ini bisa menjawab sebuah pertanyaan sederhana: “Bagaimana menampilkan informasi yang beragam dalam satu sistem berbasis web yang mudah digunakan?”

Sistem TI lain yang diperkenalkan adalah WebEOC. merupakan sebuah sistem yang dapat membantu AHA Centre untuk melakukan koordinasi di antara negara-negara anggota ASEAN. Administrator WebEOC Texas, Eric Ehley memaparkan, di Texas sendiri WebEOC sudah digunakan 10 tahun untuk membantu tugas-tugas kedaruratan. “WebEOC membantu menginformasikan kejadian bencana, update informasi bencana, pengorganisasian personil, transportasi, kondisi logistik sampai dengan permintaan bantuan penanganan bencana,” ungkap Eric di tengah forum. Menurutnya, WebEOC terbukti mampu memudahkan pekerjaan institusi penanggulangan bencana di Texas.

Informasi mengenai WebEOC ini kemudian dilanjutkan dengan simulasi dan demonstrasi penggunaannya. WebEOC di AHA-Centre digunakan sebagai aplikasi untuk menerjemahkan Standard Operating Procedure for Regional Standby Arrangements and Coordination of Joint Disaster Relief and Emergency Response Operations (SASOP). WebEOC digunakan untuk mengisi berbagai formulir yang ada di dalam SASOP mulai dari saat terjadi bencana sampai dengan permintaan bantuan dari negara terdampak dan formulir pelaporan.

Hindari Korban Dengan TI

TI menyediakan berbagai perangkat dan piranti lunak yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan penanggulangan bencana. Perkembangan jaringan komunikasi, pengembangan aplikasi online, ketersediaan data spasial, perangkat penginderaan jarak jauh serta pemindai aktivasi gejala alam dapat disinergikan menjadi sebuah Sistem Informasi Penanggulangan Bencana yang akan sangat membantu kegiatan penanggulangan bencana Sebuah sistem kesiagaan dan penanganan bencana yang benar yakni jika tersedia informasi yang cepat dan akurat, dan atas informasi itu sistem kedaruratan bekerja. Aspek kecepatan dan keakuratan informasi akan sangat membantu dalam proses pemulihan daerah dari satu bencana.

Aspek penting lain namun sering terabaikan dalam sistem penanggulangan bencana adalah sistem peringatan dini yang menjadi garda terdepan dari sebuah kegiatan penanggulangan bencana. Sistem peringatan dini semestinya mendapat perhatian serius agar bisa beroperasi dengan sempurna dikarenakan pada sistem ini bergantung tidak hanya keselamatan materi, tapi juga nyawa manusia.

Dalam hal ini, setidaknya TI bisa meminimalisir dampak dari bencana alam yang kerap menghantui Indonesia.

23 Vendor Ramaikan NICE 2012 di Solo

0

National Computer Expo (NICE) 2012 secara serial mulai diselenggarakan di 15 kota besar di Indonesia, sejak April lalu. Memasuki bulan ini, tepatnya 13 hingga 17 Juni 2012, NICE tengah berlangsung di Diamond Solo Convention Center, Solo.

NICE 2012 di Solo berlangsung meriah. Sebanyak 23 vendor produk Teknologi Informasi (TI) melakukan promosi di pameran ini. Ke-23 vendor tersebut meliputi Acer, Advan, Asus, Axioo, BenQ, Canon, Dell, Epson, Fujitsu, HP, Lenovo, MSI, Philips, Samsung, Sony, Toshiba, Viewsonic, Zyrex, Telkomsel, Smartfren, Cyrus, Tabulet dan Ipad. Pameran komputer yang mengangkat tema Reach The Cloud tersebut juga menargetkan nilai transaksi Rp. 10 miliar dengan total 50.000 pengunjung.

Kabid Perdagangan Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) Solo, Okky Isnanto menyampaikan, banyak program menarik yang ditawarkan setiap vendor, diantaranya diskon besar-besaran, cashback, serta hadiah-hadiah yang menarik. Program yang ditawarkan baik oleh vendor maupun oleh dealer, menurut Okky, dimanfaatkan pengusaha untuk mengejar target penjualan produk TI sepanjang kuartal II.

“Bukan hanya promo yang biasa ditawarkan pameran TI lainnya, beberapa perusahaan juga membuka layanan servis semacam IT Service atau IT Clinic saat pameran. Ini adalah nilai lebih yang bisa didapatkan pengunjung NICE 2012 di kota Solo, karena mereka bisa datang ke pameran bukan hanya untuk membeli produk, tapi juga melakukan servis atau semacamnya,” imbuh Okky.

Pameran juga menjadi ajang bagi dealer untuk memperkenalkan produk-produk yang baru saja dirilis.

Ketua Panitia, Gaibbi Satya Yudhaka mengatakan, pameran komputer ini menghadirkan program kupon berhadiah bagi pembeli minimal Rp 100.000, dengan hadiah utama dua unit sepeda motor. Sementara bagi pengunjung juga berkesempatan mendapatkan hadiah laptop dan printer.

Sumanto Haryadi, Koordinator Pameran NICE 2012 di Solo menambahkan, ultrabook dan tablet PC adalah dua ‘primadona’ dalam NICE 2012. “Ketersediaan ultrabook di pasaran saat ini masih terbatas, mengingat harganya yang masih cukup tinggi, yakni di atas Rp. 8 juta per unit. Sedangkan, produk tablet kini sudah makin variatif, baik dari sisi merek maupun harga. Bahkan kini sudah banyak beredar tablet dengan harga kisaran Rp. 900.000 hingga Rp. 1 juta per unit,” paparnya.

Sebagai informasi, NICE adalah event nasional yang merupakan lanjutan dari pameran National IT Expo (NIX). NICE yang dibentuk oleh Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) ini diselenggarakan di 15 kota besar di Indonesia, yang terbagi dalam dua cluster.

Penyelenggara NICE cluster pertama diadakan di Botani Square Bogor (25 April – 2 Mei 2012), Makassar di Celebes Convention Center (25-29 April 2012), Bandung di Landmark Convention Center (2-6 Mei 2012), Banjarmasin di Duta Mall (3-7 Mei 2012), Surabaya di JX International Convex (4-8 Mei 2012), Yogyakarta di Jogja Expo Center (5-9 Mei 2012), dan Semarang di Java Supermall (16-21 Mei 2012).

Kota lain yang masuk ke dalam cluster ke dua penyelenggaraan NICE adalah Pontianak di Pontianak Convention Center (30 Mei – 4 Juni 2012), Banda Aceh di Gedung Cik Ditiro (1-5 Juni 2012), Malang di Graha Cakrawala UM (6-10 Juni 2012), Palembang  di Palembang Square (6-10 Juni 2012), Pekanbaru  di Mall SKA (6-10 Juni 2012), Solo di Diamond Solo Convention Center (13-17 Juni 2012), Jakarta di Arena Pekan Raya Jakarta (14 Juni – 15 Juli 2012), dan Bali di Mall Galleria (18-22 Juli 2012).

NICE 2012 didukung oleh BISKOM sebagai media partner.

Peran TI Dalam Bencana

0

Tanpa kita sadari, teknologi informasi (TI) sangat berperan vital dalam kehidupan manusia sehari-hari. Bukan saja untuk meningkatkan kesejahteraan, memudahkan hidup, lebih dari itu juga untuk menyelamatkan korban bencana dan menghindari banyaknya korban jiwa. Begitu banyak manfaat TI bagi kemaslahatan manusia, jangan dilihat sisi negatifnya saja.

Begitu banyak pula bencana alam yang terjadi di negeri ini, tsunami, banjir, longsor, angin puting beliung dan bencana lainnya. Lalu apa yang TI bisa lakukan untuk menanggulangi berbagai bencana alam yang terjadi?

TI memiliki peran yang tidak kecil dalam proses penanggulangan bencana alam, seperti halnya pada saat bencana gempa dan tsunami yang melanda Aceh di akhir tahun 2004 dimana seluruh sarana komunikasi terputus pada waktu itu. TI, terutama internet menjadi media yang pertama kali menghubungkan Aceh dengan dunia luar, sehingga beragam informasi dari Aceh bisa dipublikasikan ke luar Aceh hingga mendunia.

Internet bisa dimanfaatkan sebagai media untuk berkomunikasi, baik melalui email, chatting, dan forum publik bahkan bertelponan. Seperti pada saat terjadi bencana tsunami di Aceh, dengan internet, relawan-relawan kemanusiaan bisa berkomunikasi via email ataupun ngobrol dengan menggunakan internet messenger seperti Yahoo Messenger ataupun MSN Messenger dengan induk organisasinya untuk berkoordinasi terkait kebutuhan logistik, laporan kondisi dan info penting lainnya, begitu pula jurnalis bisa mengirimkan berita ke kantornya yang berada di kota lainnya dalam waktu singkat.

Internet bisa dimanfaatkan untuk menjadi media publikasi informasi, baik melalui website ataupun mailinglist. Seperti pada saat bencana banjir di Sinjai, Sulawesi Selatan, tim relawan mengirimkan data foto kondisi daerah Sinjai yang rusak parah terkena banjir melalui email dan kemudian foto-foto tersebut dipublikasikan tim AirPutih melalui website www.mediacenter.or.id sehingga masyarakat di seluruh dunia bisa melihat kondisi di Sinjai. Berita-berita terkini pun bisa diakses dengan cepat melalui website. Catatlah beberapa media online seperti detik.com, media-indonesia.com yang menyajikan informasi ketika terjadi bencana di sebuah tempat.

Penggalangan dana bantuan pun bisa dilakukan melalui internet. Tim AirPutih pernah berhasil menggalang bantuan dari berbagai pihak melalui website. Alhasil, komunitas TI tergerak dan memberikan berbagai macam bantuan baik berupa peralatan telekomunikasi, komputer, dan lain sebagainya yang digunakan untuk proses penanggulangan bencana. Begitu juga Situs MediaCenter AirPutih, memungkinkan seseorang yang berada di Kuala Lumpur untuk melacak keluarganya yang berada di Aceh sehingga bisa mengetahui keberadaannya di posko tim relawan INTI dan bisa menemuinya di posko tersebut. Melalui internet juga kita bisa senantiasa mengikuti perkembangan-perkembangan terkini seperti halnya gejala-gejala alam.

Sengaja kami tampilkan headline pada edisi Juni 2012 ini untuk mengingatkan pentingnya siaga bencana di negara Cincin Api Pasifik seperti Indonesia. Salah satu kesiagaan yang perlu diutamakan yakni dengan pemanfaatan TI, baik untuk antisiapasi, maupun dalam penanggulangan bencana alam.

Semoga bermanfaat bagi para pembaca agar terhindar dari bencana yang mengancam.

Salam,
REDAKSI

TELAH TERBIT BISKOM EDISI JUNI 2012

0

Majalah BISKOM kali ini menampilkan Marketing Manager LG Indonesia, Sejin Park (Terima kasih kepada  LG Indonesia yang turut mendukung Majalah BISKOM).

Dalam kesempatan ini, kami sekaligus menawarkan kepada seluruh pembaca untuk bekerjasama saling menguntungkan dengan Majalah BISKOM, baik berupa pengiriman artikel TI, mengadakan seminar, workshop dan pameran serta kegiatan-kegiatan lainnya yang berkaitan dengan dunia TI.

Topik menarik Majalah BISKOM Edisi Juni 2012 diantaranya:
• COVER STORY: Sejin Park, Marketing Manager LG Indonesia: Kepuasan Konsumen Jadikan LG Besar

• HEADLINE:  Siaga Bencana Dengan TI

• FIGURE:
– Filipus Suwarno, Kepala Divisi TI Bank OCBC NISP: Lewat Virtualisasi, Efisiensi Capai 60%
– Marihot BS Sibarani,  Finance and Information Technology Director  PT Infomedia Nusantara: Infomedia Kembangkan Bisnis Baru
– Singgih Wandojo, Managing Director SAP Indonesia: Tiga Pilar Bisnis Baru, Tantangan Baru

• FOCUS:
– Flame Ancam Cyberwar Global
– TV Lokal, Kontent Lokal
– Siapkah TV Pintar di Indonesia?

• REVIEW & CELLULAR:
– LG Optimus L7
– LG Cinema 3D Smart TV
– Sony Alpha SLT-A55V
– Lenovo ThinkCentre Edge 91Z
– Acer Iconia A551
– Epson EB-1775W
– Yamaha NS-P150
– Fuji Xerox Docuprint 3105
– Dell XPS 8500 & Vostro 470

• SNAP:
– Dell Gelar IT Klinik
– Rumah.com Permudah Cari Properti
– Rejeki Smartfren Lebih Besar Hadiahnya
– Walikota Bogor Resmikan Taman Tekno Go WiFi
– Edimax dan Telkom Kawinkan Router dan Modem Kecepatan Tinggi
– Jaga Kekompakan, HMCC Gelar Futsal Bareng
– IT Camp 2012 Segera Digelar
– KOMISI Adakan Seminar Increase Your Sales Skill di Semarang

Dapatkan Majalah BISKOM di Toko Buku Gramedia dan Gunung Agung atau berlangganan melalui Bagian Sirkulasi Majalah BISKOM. Untuk review, ujicoba, update harga produk dan kegiatan perusahaan Anda, hubungi redaksibiskom@gmail.com

Marketing Manager LG Indonesia, SEJIN PARK, Kepuasan Konsumen Jadikan LG Besar

3

Bila tahun 90-an produk elektronik didominasi oleh Jepang, beberapa tahun belakangan ini mulai diramaikan oleh produk asal Korea Selatan. Padahal di tahun 50-an, Korea Selatan sempat menyandang sebagai salah satu negara miskin di dunia. Awalnya hanya bergantung pada sektor pertanian, kini berbagai industri termasuk elektronik dan teknologi informasi (TI) di Korea Selatan tumbuh menjadi brand internasional.

Berdiri dengan nama Gold Star yang awalnya memproduksi radio, kulkas, mesin cuci dan pendingin udara, perusahaan asal Korea Selatan ini mulai berganti nama menjadi LG Electronic setelah bergabung dengan perusahaan chemical. Dalam perkembangannya, LG kemudian menambah beberapa unit bisnis: Home Entertainment, Home Appliances, Business Solution, Air Conditioning dan Mobile Communication.

Sejak berganti nama, LG pun mulai meningkatkan eksistensi dengan cara memaksimalkan pertumbuhan yang menguntungkan dan berkelanjutan dengan terus berinovasi mengeluarkan produk-produk unggulan yang dibutuhkan pasar, sehingga LG dalam beberapa tahun terakhir ini telah meraih keberhasilan yang berarti. Bagi pasar Indonesia, nama LG tentu tak asing lagi, bahkan telah menjadi sebuah jaminan kualitas.

Marketing Manager PT. LG Electronics Indonesia, Sejin Park mengatakan, prestasi yang didapat selama ini berakar dari falsafah bisnis LG, yakni menciptakan nilai nyata bagi pelanggan serta memperlakukan kolega serta karyawan dengan hormat.

“Untuk menjamin keberhasilan di waktu mendatang, kami harus mengukuhkan komitmen terhadap nilai-nilai inti ini,” tambah lulusan University of Massachusetts ini.

Mengutamakan konsumen sebagai kata kunci untuk sukses, konsumen dijadikan sumber inspirasi oleh LG dalam merancang perangkat elektronik terdepan yang mereka butuhkan. Karenanya, LG berupaya untuk terus menciptakan pengalaman baru dan melengkapi hidup konsumen di setiap produk yang dihadirkan.

“Sebuah produk baru menarik perhatian karena rancangannya yang berkualitas. Jadi kami berupaya keras untuk menciptakan nilai nyata bagi konsumen dengan selalu mempertimbangkan perspektif konsumen dan mewujudkan harapannya yang tinggi dalam semua aktifitas bisnis kami,” ujar Park yang selama lebih tiga tahun terakhir ini menetap di Indonesia.

Dengan pengalaman selama sepuluh tahun di LG dengan berbagai posisi, saat ini Park banyak menangani masalah pemasaran dengan tanggung jawab di tiga posisi sekaligus, yaitu sebagai Marketing Autovision, Marketing Manager dan IT Marketing Manager.

Berikut ini petikan wawancara BISKOM dengan Sejin Park di tempat kerjanya, April lalu.

LG sudah sangat lama dikenal di pasar Indonesia. Peningkatan apa saja yang sudah dicapai LG hingga hari ini?

Ini adalah hal yang membanggakan buat kami, dimana selama enam tahun berturut-turut, LG sebagai perusahaan elektronik berdasarkan lembagai riset Growth from Riset (GfK) telah berhasil mendapatkan penghargaan penjualan tertinggi untuk 11 produknya, antara lain LCD Monitor, LCD TV, Plasma TV, LED TV, Air Conditioner, Home Theater System, Refrigerator, dan Washing Machine. GfK sendiri merupakan sebuah institusi riset berskala internasional yang berpusat di Jerman, berfokus pada kajian yang salah satunya pada pasar retail dan teknologi.

Penghargaan sebagai produk nomor 1 yang diberikan ini merupakan bukti prestasi kami dalam membuat suatu produk yang dapat memberikan kepuasan pada konsumen.

Tetapi tidak hanya berhenti sampai disini, LG akan terus berupaya meningkatkan kualitas hidup konsumen melalui inovasi-inovasi yang kami kembangkan guna menjawab tantangan dalam memberikan solusi yang lebih baik dan tepat guna.

Apa upaya yang Anda lakukan untuk mencapai target tersebut?

Kami akan terus meningkatkan hubungan baik dengan dealer maupun channel partner kami. Tidak hanya berfokus pada kota-kota besar, saat ini kami telah memiliki sekitar 24 channel yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Di samping itu, kami juga mencoba memperkenalkan lebih banyak produk dengan teknologi terdepan.

Teknologi dan produk apa yang akan diperkenalkan LG hingga akhir 2012?

Di tahun ini akan banyak produk terbaru yang akan kami perkenalkan,  seperti LED Monitor untuk Home Entertainment, LED Projector, External Hard Disk Drive, Scanner Mouse dan berbagai aksesoris LG.

Produk LED Monitor yang belum lama ini kami luncurkan adalah jajaran baru keluarga Super LED Monitor dengan seri LG E42 dan LG E11 yang hadir dengan empat varian ukuran dimensi layar.

Tidak hanya terjangkau dari segi harga, monitor ini juga memiliki teknologi LG Super Energy Saving yang dapat menghemat penggunaan energi listrik. Selain itu, juga ada seri monitor 3D dengan teknologi Film Patterned Reader (FPR) yang memperbaiki kelemahan teknologi ‘shutter glass’.

Bagaimana dengan LED Proyektor, apakah ini merupakan produk pertama  dari LG?

Sebenarnya kami sudah lama bermain di proyektor. Dan LED proyektor yang baru diperkenalkan merupakan generasi ketiga dari teknologi terbaru kami dengan ansi lumen lebih tinggi dari produk yang telah ada.

Kami melihat pasar proyektor untuk home entertainment di Indonesia sangat bagus, sehingga kami mulai mencoba memenuhi kebutuhan ini dengan teknologi terbaru dari LG.

Sejauh ini minat pasar Indonesia terhadap LED Proyektor?

Kami melihat pangsa pasar proyektor masih terus berkembang di tengah ketatnya kompetisi antar vendor. Target produk proyektor LG lebih ke high end atau kalangan eksekutif seperti desainer atau bisnis eksekutif. Di kelas ini lumayan bagus minatnya, hanya saja kami selama ini masih kurang gencar mempromosikan. Di tahun ini kami akan lebih fokuskan lagi untuk kelas ini agar bisa mencapai target yang kami inginkan. Meski demikian, kami tetap memasarkan produk untuk pasar entry level dan medium.

Sepanjang 2012 LG optimis dapat meraih peningkatan penjualan sekitar 43% dibandingkan dengan penjualan tahun lalu.

Diantara banyaknya jenis produk LG, mana yang berkontribusi besar dalam pendapat LG?

Di Indonesia yang memberikan kontribusi besar untuk produk TI adalah monitor yang setiap tahunnya mengalami peningkatan penjualan hingga 80%. Sedangkan untuk keseluruhan produk LG yang memberikan kontribusi besar adalah LCD dan LED TV.

Kabarnya di tahun ini pula LG mulai memasuki pasar memori eksternal (HDD eksternal). Seri apa yang dipersiapkan LG dan bagaimana target penjualannya?

LG mulai masuk dengan XD5, tipe produk berkapasitas 500Gb dengan kecepatan transfer interface USB 3.0, lebih cepat 10 kali lipat dibandingkan dengan perangkat berbekal interface USB 2.0.

Mengapa kami memperkenalkan produk 500 Gb, padahal 1 Tb mulai populer karena penjualan di pasar menunjukkan 71% pasar HDD eksternal adalah produk berkapasitas 500 Gb, sisanya sebesar 25% baru yang 1 Terabyte.

Berbeda dengan optimistis penjualan proyektor, LG tidak menetapkan target tinggi di segmen HDD eksternal, hanya 5% dari total pangsa pasar yang diprediksi mencapai 550.000 unit tahun ini. Naik dibandingkan dengan pasar tahun lalu sebanyak 390.000 unit.

Mengapa LG di tahun ini sangat berkonsentrasi pada smartphone bersistem operasi Android?

Kami melihat Android sebagai sistem operasi terbaik yang paling banyak dicari saat ini dan pertumbuhannya kian hari semakin pesat. Kami percaya Android mampu meningkatkan penjualan smartphone LG.

Optimus 2X adalah ponsel Android yang baru saja diperkenalkan LG, sekaligus menjadi ponsel Android pertama di dunia yang menggunakan prosesor dual core NVidia Tegra 2 yang berjalan pada kecepatan 1 GHz. Dengan prosesor dual-core, maka Optimus 2X menawarkan web browsing yang lebih cepat, aplikasi yang lebih lancar serta memungkinkan penggunaan multitask.

Keunggulan apa yang ditawarkan LG sehingga berbeda dengan produk lainnya?

LG memiliki keunggulan seperti desain yang minimalis, harga terjangkau dan kualitas yang bisa kompetitif dengan produk bermerk lain. Kami memiliki teknologi dan spesifikasi yang berbeda dalam memenuhi kebutuhan konsumen dalam menikmati gaya hidup masa kini dan banyak produk kami yang sudah mendukung teknologi saving energy yang mampu menghemat penggunaan daya listrik.

Apakah LG juga memproduksi ultrabook?

Ya, kami mempunyai produk ultrabook tetapi saat ini hanya tersedia di negara tertentu saja. Di Indonesia sendiri memang belum tersedia, karena produk ini ditujukan untuk negara tertentu dengan harga yang cukup tinggi. Sekarang ini masih dalam proses memperkenalkan produk ke pasar terlebih dahulu, dan melihat bagaimana prospek kedepannya dari ultrabook ini.

Apa rahasia kesuksesan LG hingga bisa menjadi brand internasional?

Kami memiliki teknologi, human resource dan networking yang bagus. Kebutuhan pelanggan sebagai landasan dari semua aktivitas bisnis kami manjadikan LG sebagai perusahaan internasional. Dengan selalu melihat potensi growth untuk sepuluh tahun kedepan, menjadikan kami terus berinovasi tanpa henti untuk menciptakan teknologi terdepan dan terjangkau.

Menjadi yang terdepan berarti memikul tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik bagi konsumen setia. Inilah yang menjadi semangat LG untuk memperkenalkan berbagai produk dengan inovasi dan teknologi tinggi.

Apa yang Anda lihat dari pasar Indonesia? Karakter seperti apa yang membedakan konsumen Indonesia dibanding negara lain?

Market tumbuh sangat cepat dan kami melihat channel partner kami sangat mengerti tentang manufaktur sehingga mereka dapat membantu mengembangkan bisnis LG di sini. Apalagi mereka juga sangat aware terhadap berbagai fitur yang ada, juga sangat perduli dalam memberikan ataupun berbagi ide serta mengembangkan berbagai program yang saling menguntungkan.

Sedangkan untuk karakter, konsumen Indonesia sangat memperhatikan brand. Mereka lebih dulu melihat brand-nya, baru fitur dan harganya dibandingkan negara lain yang lebih memperhatikan dari sisi harga, baru fitur dan brand. Masyarakat Indonesia sangat mengerti bagaimana memanfaatkan produk dan keuntungan apa saja yang didapat bila menggunakan produk tersebut.

Bagaimana LG memanfaakan sumber daya manusia Indonesia?

Kami berusaha mencoba membangun keahlian mereka sehingga saat mereka bergabung bersama LG menjadi tenaga yang professional. Dalam mengedukasi, terkadang kami juga mengirim  mereka ke negara lain agar mendapatkan pengetahuan lebih tentang LG sehingga mereka bisa sukses berkarir dan mengembangkan potensi mereka.
Saat ini saja pekerja asal Indonesia sudah menduduki berbagai posisi jabatan di berbagai sektor. Mereka bekerja dengan penuh dedikasi dan kerja keras. Yang kami suka dari pekerja Indonesia adalah mereka selalu tersenyum sepanjang waktu dan mereka begitu menikmati bekerja dengan kami.

Bagaimana perhatian LG terhadap dunia pendidikan?

Kepedulian kami terhadap dunia pendidikan tertuang dalam program Corporate Social Responbility (CSR) yang kami beri nama LG Love School, dimana kami memberikan bantuan berupa pembuatan ruang lab komputer maupun pemberian unit komputer kepada sekolah negeri yang belum memiliki fasilitas tersebut. Kami mensuport itu semua untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.

Apa pula kontribusi LG terhadap teknologi hijau?

Kami sangat konsen terhadap penghematan energi, sebab itu produk-produk yang ada memiliki fitur energy saving yang dapat menekan biaya penggunaan listrik. Salah satunya adalah produk LG Air Conditioner (AC) yang mampu menghemat penggunaan listrik hingga 60%. Ini merupakan bukti keseriusan kami dalam menciptakan inovasi-inovasi green technology untuk mengurangi terjadinya pemanasan global, dengan mengefisiensikan penggunaan listrik dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana pendapat Anda tentang iklim usaha di Indonesia? Hal apa saja yang masih kurang?

Indonesia merupakan negara yang memberikan peluang besar untuk perkembangan bisnis kami. Dengan perekonomian yang stabil dan pasar yang terus tumbuh, kami yakin Indonesia merupakan negara terbaik untuk berbisnis.

Tidak salah bila banyak negara dengan berbagai industri mulai berinvestasi disini untuk mengembangkan bisnis mereka. Sementara kekurangan dari negara ini adalah lambatnya pembangunan infrastruktur, seperti logistik maupun network. Namun, sebagai pebisnis yang cukup lama bergelut di Indonesia, saya percaya kekurangan tersebut akan cepat diantisipasi oleh pemerintah dan stakeholder.