Home Blog Page 969

Taiwan Excellence 2012 Lebih Excellent!

0

Setelah dua tahun hadir di tanah air, Taiwan Excellence kembali menghadirkan beragam produk unggulan yang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup masyarakat Indonesia. Peluncuran Taiwan Excellence 2012 yang diorganisir oleh Bureau of Foreign Trade (BOFT), Ministry of Economic Affairs (MOEA), dan diimplementasikan oleh Taiwan External Trade Development Council (TAITRA) juga dibarengi dengan diumumkannya kembali Cathy Sharonsebagai Duta Selebriti Taiwan Excellence untuk ketiga kalinya.

Artinya nanti, Cathy akan terlibat dalam berbagai kegiatan menarik Taiwan Excellence, seperti Kompetisi SmarTest dan menjadi bintang komersial Taiwan Excellence. “Ini merupakan hal yang menggembirakan buat saya kembali berbagi brand Taiwan yang semakin bertambah jumlahnya. Semakin banyaknya brand Taiwan yang dikenalkan menjadikan Taiwan Excellence lebih excellent,” ujar Cathy di Jakarta (5/6).

Memasuki tahun ketiga ini, Taiwan Excellence memang mengalami panambahan jumlah anggotanya menjadi 40 brand yang sebelumnya hanya 30 brand. Kali ini, dengan mengusung tema @work, @home, @play, Taiwan Excellence tidak hanya mengetengahkan produk-produk Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saja tetapi juga beragam kebutuhan rumah tangga, kesehatan serta transportasi juga dihadirkan.

Brand tersebut diantaranya Acer, Adata, Asus, BenQ, D-Link dan Edimax, sedangkan perangkat rekreasi dan gaya hidup ada Merida, Microlife, Pacific Cycles, WATOTEC, HEC dan Yensun.

Menurut Director TAITRA, Tony Lin, hadirnya 40 merek Taiwan ini merupakan kelanjutan usaha TAITRA untuk berbagi ragam produk unggulan Taiwan kepada konsumen di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan saat bekerja, bersama keluarga, maupun saat bermain.

“Sebenarnya produk Taiwan banyak yang sudah digunakan oleh konsumen Indonesia, hanya saja mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya itu merupakan produk buatan Taiwan. Karenanya, kampanye ini akan terus berkelanjutan untuk mengedukasi masyarakat bahwa brand Taiwan bisa diandalkan, inovatif dan terjangkau,” jelasnya.

Sedangkan untuk lebih mendekatkan produk Taiwan dengan konsumen di tanah air,  berbagai pameran akan digelar oleh Taiwan Excellence. Termasuk Festival Komputer Indonesia (FKI) pada 6 – 10 Juni lalu.

Tidak hanya di FKI, sepanjang tahun ini konsumen secara langsung juga bisa mencoba produk dari merek-merek Taiwan pada acara Taiwan Excellence-Home and Leisure Experience Zones di Lippo Karawaci Mall (27 Juni-1 Juli), Living World Mall (20-29 Juli) dan di Central Park Mall (19-23 September) serta di Mangga Dua Mall (10-14 Oktober).

Saat ini Taiwan Excellence sudah memiliki gerai yang bisa ditemukan di Jakarta, tepatnya di Mangga Dua Mall Lantai 2 No 38B, Mall Ambassador Lantai 3 No 62, dan Mall Ratu Plaza Lantai 3 No 42.

Edimax dan Telkom Kawinkan Router dan Modem Kecepatan Tinggi

0

Perusahaan IT Network Solution, Edimax Technology dan PT Telkom melakukan kerjasama untuk memasarkan router 3G-6200N dari Edimax yang dipaketkan dengan modem Flexi CDMA EVDO dari Telkom Flexi.

Dengan USB modem Flexi yang berjalan di jaringan 3G/3,5G/EVDO dan router Edimax 3G-6200n, pengguna bukan saja dapat melakukan browsing internet berkecepatan tinggi namun juga berbagi koneksi internet dengan 15 orang secara bersamaan. Pengguna juga bisa menghubungkan perangkat lainnya ke router tersebut kemudian berkomunikasi satu sama lain, melakukan pertukaran data atau kebutuhan komunikasi lainnya.

Dengan cara seperti ini, pengguna  bisa menghemat biaya koneksi internet di rumah ataupun di kantor, sehingga sangat cocok digunakan oleh small office home office (SOHO) ataupun kantor dengan mobilitas tinggi, seperti kontraktor, outdoor training dan lain sebagainya. Bahkan juga bagi usaha rental komputer atau notebook yang dilengkapi dengan akses internet.

Sujito, GM Commerce Regional 2 Jakarta Divisi Telkom Flexi berkomentar, “Flexi Mobile SOHO adalah solusi yang tepat bagi kantor atau rumah yang tidak dapat dilayani internet cable, tetapi menginginkan pemakaian bersama.”

Edimax 3G-6200n yang kompatibel dengan perangkat wireless standar IEEE802.11b/g/n ini menawarkan kecepatan transmisi data wireless hingga mencapai 150Mbps dengan jangkauan sinyal 3 kali lebih baik dari router 802.11g/b.

Selain sebagai 3G router, alat ini memiliki fungsi lainnya yaitu broadband router dan print server sehingga pengguna tidak perlu bersusah payah memindahkan printer untuk dipakai bersama-sama dalam satu jaringan.

Yang menyenangkan, Edimax dan Telkom memasarkan kedua perangkat ini hanya seharga Rp. 999.000 termasuk free internet unlimited selama 1 tahun.

Andi Tanudiredja dari Edimax mengatakan, “Kerjasama ini adalah sebuah bukti bahwa produk-produk Edimax memiliki kompabiltas yang sangat baik dengan teknologi Telkom. Saat ini kami terus melakukan ujicoba dengan pusat riset Telkom untuk mengembangkan perangkat lain yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen akan jaringan internet berkecepatan tinggi.”

Edimax dan Telkom mulai memasarkan perangkat ini pada Festival Komputer Indonesia di Jakarta Convention Center, 6 hingga 10 Juni 2012 pada stand TELKOM (A2) dan stand TAITRA (H).

Walikota Bogor Meresmikan Taman Tekno Go Wifi

0

Taman Kencana di Kota Bogor kini, sebagai fasilitas publik, telah dapat digunakan oleh masyarakat umum untuk mengakses internet secara gratis, karena telah dilengkapi fasilitas wifi.

“Saya harapkan fasilitas ini dapat dimanfaatkan warga dengan sebaik-baiknya,” ucap WaliKota Bogor, Diani Budiarto, dalam acara peresmian fasitas wifi di Taman Kencana Bogor, Sabtu (26/5).

Menurut Diani, warga Kota Bogor harus “melek teknologi informasi” agar tidak ketinggalan dengan warga di daerah lainnya. Ia menjanjikan akan memberi fasilitas akses internet gratis tersebut di ruang-ruang publik lainnya di Kota Bogor. “Selain Taman Kencana yang terletak di Jalan Ciremai Kota Bogor, terdapat juga beberapa taman yang kemungkinan bisa dilengkapi dengan fasilitas wifi, di antaranya Taman Topi dan Taman Perangin Angin,” tambahnya.

Namun, Diani juga mengingatkan bahwa penambahan fasilitas ini harus dibarengi dengan peningkatan moral, khususnya di kalangan pelajar. “Bukan berprasangka buruk, tapi kami harapkan fasilitas ini bisa benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan kompetensi para pelajar kini, dan jangan sampai lebih banyak mudharatnya,” kata Diani.

Sementara itu, Direktur Pemberdayaan Informatika Kemenkominfo Mariam Barata yang hadir dalam acara “Taman Tekno Go WiFi” itu mengatakan, penambahan fasilitas di Taman Kencana Bogor tersebut turut mendukung upaya Pemerintah yang menargetkan separuh penduduk Indonesia dapat mengakses internet. “Kami targetkan setidaknya 100 juta orang di Indonesia dapat mengakses internet, sekarang baru 55 juta,” kata Mariam.

“Diharapkan masalah-masalah bangsa yang berkaitan dengan kurangnya sosialisasi dan informasi, akan dapat dipecahkan dengan makin banyaknya warga yang terakses internet,” tambah Mariam.

Peresmian Taman Tekno Go Wifi ini dilakukan dalam rangkaian peringatan ulang tahun kota Bogor ke 530 yang jatuh pada tanggal 3 Juni 2012. Acara ini didukung oleh Bonet, Biznet, Edimax, Groovia TV,  MGS TV, Moratelindo, mCoin, Madu Nusantara, PapaRons Pizza, Radio Lesmana, Smartfren, Salak Heritage Hotel, Taro, Telkomsel dan Vaksin.com.

Jaga Kekompakan, HMCC Gelar Futsal Bareng

0

Menyadari pentingnya kesehatan, Asosiasi Harco Mangga Dua (HMCC) mengadakan “Futsal Bareng HMCC 2012”, yang diperuntukkan bagi anggota HMCC serta seluruh karyawan dan pemilik toko di Kompleks Harco Mangga Dua, Jakarta.

Rekreasi olahraga yang melibatkan 32 tim, dimana tiap tim terdiri dari 10 orang ini didakan di Lapangan Galaxy, Ancol.

Futsal Bareng HMCC 2012 terbagi dalam beberapa babak yang nantinya akan memperebutkan total hadiah sebesar Rp. 15 juta. Babak pertama diselenggarakan sejak 25 Mei, Babak dua dan perempat final pada 26 Mei, dan Babak Semifinal dan final akan diadakan 2 Juni mendatang.

Yudi Chandra, Panitia Futsal Bareng HMCC 2012 mengatakan, “Sesuai pepatah bahwa di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat, maka kami mengadakan acara ini demi mengembangkan budaya hidup sehat diantara anggota HMCC. Dengan kondisi tubuh yang prima, kami berharap dapat menjalin hubungan persaudaraan yang erat dan membangun persaingan usaha yang sehat.”

Selain itu, ujar Yudi, kegiatan ini juga menjadi bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan, mengingat rekreasi olahraga seperti ini menjadi pemenuh fungsi sosial, mengembangkan rasa menghargai dan mencintai lingkungan, serta menggugah kesadaran manusia akan pentingnya membina hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya.

“Futsal Bareng HMCC 2012 juga menjadi pelepas lelah dan kepenatan yang sangat efektif, sekaligus mampu meningkatkan keterampilan dalam berorganisasi,” papar Yudi.

Sebelumnya, HMCC juga menggelar rekreasi olahraga sepeda santai dengan tema “Fun and Sporty Day” pada 24 Juli 2011 lalu.

Seperti diketahui, HMCC yang merupakan asosiasi komputer ini telah lama dikenal sebagai wadah dimana para anggota dan pengurus telah membuktikan keseriusan dalam menjaga kekompakan. Dalam satu tahun, HMCC memiliki agenda rutin seperti pameran sebanyak 3 kali setahun termasuk pameran di internal Harco.

Ketua HMCC, Taufresdian menambahkan, “Selain yang bertema bisnis dan komputer, dalam satu tahun HMCC mengadakan bakti sosial dan acara keagamaan, seperti Natal bersama, Sincia bareng dan bazaar amal Cap Go Meh. Dan tentunya, sebentar lagi untuk menyambut hari raya Lebaran, kami mengadakan acara Mudik Bareng seperti tahun lalu.”

Di sela acara, Taufresdian yang biasa disapa Afat ini juga menyampaikan terima kasih kepada pengelola gedung Harco Mangga Dua yang selalu mendukung setiap kegiatan sosial yang diadakan HMCC.

Solihin Efendi, pengelola gedung Harco Mangga Dua berkomentar, pihaknya memang memiliki komitmen untuk mendukung HMCC, demi terciptanya hubungan yang harmonis diantara pengelola, pemilik toko dan seluruh karyawan. Menurutnya, dengan kebersamaan, segala permasalahan yang timbul saat melakukan kegiatan bisnis akan mudah teratasi. Akibatnya, konsumen pun merasakan kenyamanan untuk bertransaksi di Harco Mangga Dua.

Selain Badan Pengelola Harco Mangga Dua, Futsal Bareng HMCC 2012 disponsori oleh BNI 46, LG, Axioo, Agung Sedayu Grup, Advance, Venom RX, Sonic Gear, iRobot, Digital Alliance, V-Gen, Polo, Kaspersky dan BISKOM sebagai media partner.

Open BTS, Solusi Komunikasi Gratis!

3

Ada alternatif menarik dari sekelumit permasalahan perang tarif telepon seluler atau pulsa yang masih dianggap masih mahal: Open Base Transceiver Station (Open BTS).

Bisnis telekomunikasi adalah bisnis yang menguntungkan. Orang tidak segan membelanjakan uang untuk beli pulsa. Tarif pulsa yang ada sekarang ini sudah tergolong murah. Namun, ternyata biaya itu masih bisa lebih murah lagi.

“Dengan menggunakan software open source dan sebuah hardware yang tidak terlalu besar, kita bisa membuat BTS sendiri,” ungkap Penggiat Teknologi Informasi (TI), Onno W Purbo, yang pertama mengembangkan Open BTS ini di Indonesia.

Namun bukan buat alternatif tersebut saja, Open BTS ini juga ditujukan untuk bisa menjadi solusi membantu daerah terpencil yang tidak tersentuh operator seluler, seperti misalnya pedalaman Papua. “Orang Papua punya ponsel, tapi biasanya mereka menggunakannya untuk mendengarkan musik. Beli pulsa juga percuma, karena tidak ada BTS-nya. Tidak ada operator seluler yang berani masuk ke kawasan pedalaman, karena biaya pasang BTS sangat mahal, dan mereka tidak melihat ada potensi konsumen di sana, sehingga mereka akan rugi,” kata Onno.

Karena itulah, Open BTS akan sangat bermanfaat untuk membangun infrastruktur telekomunikasi di daerah seperti itu. Sepertinya memang logis, melihat operator telekomunikasi selalu memberikan layanan hanya kepada yang mampu bayar. Tapi di sisi lain, orang-orang di wilayah pedalaman yang terpencil akan makin terkucil tanpa komunikasi dengan dunia luar.

Selain area terpencil, Onno juga mengatakan bahwa Open BTS ini sangat baik didirikan di kawasan paska bencana yang infrastrukturnya rusak parah, serta di daerah perbatasan. Cara membuatnya mudah. “Lagipula protokol yang digunakan adalah protokol asterisk, yakni protokol yang persis sama dengan yang digunakan Telkomsel misalnya,” ungkap Onno.

Tapi belum ada yang mengimplementasikan teknologi ini secara nyata di Indonesia. Banyak kendala yang dihadapi Open BTS ini untuk dikembangkan. Selain keterbatasan alatnya atau perangkat hardware, lagi-lagi regulator enggan memberikan kesempatan untuk mengembangkan aplikasi Open BTS ini lebih jauh lantaran dicap bisa mengancam keberlangsungan dan keuntungan para operator seluler. Bahkan disebut-sebut penggunaan Open BTS ini ilegal.

Ilegal?
Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) menilai penggunaan teknologi Open BTS masih terlarang karena belum ada regulasi yang mengaturnya secara detail. “Sebelum regulasi detilnya ada, ya semuanya masih terlarang. Sesuai amanat Undang-undang No.36/1999 tentang telekomunikasi,” kata anggota BRTI, M Ridwan Effendi, beberapa waktu lalu.

“Yang jelas, open BTS itu pasti menggunakan frekuensi seluler. Lisensi frekuensinya kan kepunyaan operator yang ada sekarang. Setiap pemancaran frekuensi harus ada izinnya kecuali untuk yang class license seperti Wi-Fi dan remote control,” lanjut dia.

Menurut Ridwan, teknologi ini sebenarnya cukup bagus untuk dikembangkan sebagai infrastruktur tanggap darurat bencana karena mudah dan cepat membangunnya. Sementara interkoneksinya ke jaringan telepon bisa melalui jaringan berbasis internet protocol (IP).

“Bisa juga buat mengisi daerah blank spot, atau iseng saja bikin BTS sendiri biar tidak perlu beli pulsa. Namun masalahnya, setiap pemancaran harus berijin. Apalagi pemegang lisensi frekuensi sudah membayar BHP frekuensi selular yang cukup besar, jadi harus ada proteksi,” jelasnya lagi.

Menurut Ridwan, produk Open BTS semacam ini pernah juga dibuat dengan nama Femto Cell. “Namun harus dicermati juga, dengan Femto Cell orang bisa bikin BTS independen terhadap operator. Jadi turis asing yang datang ke Indonesia, kalau nakal, dia bisa pasang itu Femto Cell dan interkoneksikan pakai Wi-Fi hotel, kemudian dia bisa telepon-teleponan internasional gratis, cuma bayar biaya internet di hotel saja,” jelas Ridwan.

Dijamin Undang-undang
Menanggapi hal ini, Onno mengaku heran jika sebuah teknologi yang sifatnya netral disebut sebagai barang ilegal. “Ibarat pisau, apakah pisau ilegal? Jelas pisau bukan barang ilegal kan? Hal yang sama dengan Open BTS, ini adalah sebuah teknologi bahkan bisa digunakan oleh operator selular biasa. Mengapa disebut ilegal?” selorohnya.  Akibat pernyataan seperti itu, kata dia, lumayan fatal dan membuat miris, seperti mahasiswa takut tugas akhir Open BTS. Dosen pun melarang mahasiswanya untuk tugas akhir Open BTS. Bisa jadi kalau kebablasan ini dibiarkan, kata Onno, bukan mustahil lama kelamaan bangsa ini jadi bodoh karena teknologi “break through” mungkin akan dianggap haram.

Yang lebih mengerikan lagi, menurut Onno, regulator di Indonesia seringkali melihat “aturan” seperti sesuatu yang fix, aturan adalah harga mati, tidak bisa ditawar dengan alasan ini diatur secara internasional. Kerap regulator bersembunyi di balik aturan, ini terutama terjadi saat debat publik. Padahal kenyataannya, aturan bisa berubah dan diubah oleh kita. Onno lantas menunjuk contoh kisah pembebasan frekuensi 2.4GHz di Indonesia.

Ia menegaskan, penggunaan Open BTS di operator selular di Indonesia tidak masalah secara teknologi. Yang perlu dilakukan minimal Open BTS berbicara menggunakan protokol SIP, yang digunakan di softswitch. Interkoneksi softswitch Open BTS ke softswitch selular. Skenario ini, jika Open BTS menggunakan softswitch lokal. Open BTS secara langsung menggunakan softswitch operator selular. Open BTS menggunakan teknologi Telephone Number Mapping (ENUM) untuk penomoran, teknologi ini merupakan bagian dari teknologi 4G yang mungkin belum diimplementasikan dengan baik oleh operator telekomunikasi di Indonesia saat ini.

Dari sisi regulasi, kata Onno, kemungkinan hanya harus type approval peralatan Open BTS sesuai peraturan yang ada. ”Jelas disini bahwa untuk keperluan operator selular, Open BTS secara prinsip hanya masalah interkoneksi antara jaringan konvensional dengan jaringan Open BTS yang agak beda sedikit arsitekturnya,” tukas Onno. Apakah Open BTS ilegal untuk komunitas dan masyarakat? Padahal jelas-jelas menurut Universal Declaration of Human Rights, pasal 19 dan 26 tertulis dengan jelas bahwa akses pada informasi dan pengetahuan merupakan salah satu hak asasi manusia yang paling mendasar. Jika ada negara yang tidak memenuhi hak tersebut pada rakyatnya, maka sebetulnya negara tersebut telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).

Jika mengacu ke Undang Undang Telekomunikasi No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi pasal 3; telekomunikasi diselenggarakan dengan tujuan untuk mendukung persatuan dan kesatuan bangsa,meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata, mendukung kehidupan ekonomi dan kegiatan pemerintahan, serta meningkatkan hubungan antar bangsa. Termasuk dari Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 21 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Jasa Telekomunikasi Pasal 6. Dari pembeberan pasal-pasal dari regulasi di atas, jelas bahwa penyelenggara jasa teleponi dasar dapat dilakukan oleh non-operator asal ada ijin menteri. “Jadi secara prinsip rakyat Indonesia bisa mengoperasikan Open BTS, meski memang yang agak rewel harus pakai ijin menteri untuk memperoleh ijin penyelenggaraan jasa teleponi dasar,” jelas Onno.

Kesalahan fatal pemerintah adalah, seluruh alokasi frekuensi GSM sudah dialokasikan ke operator untuk memberikan layanan ke seluruh Republik Indonesia. Konsekuensinya, operator selular wajib memberi sinyal sampai ke desa-desa terpencil maupun puncak-puncak gunung yang secara ekonomis tidak menguntungkan. Masalahnya jelas terjadi pada wilayah yang tidak ada sinyal seperti di daerah pedesaan, daerah rural, daerah pegunungan, daerah perbatasan dan daerah yang terkena bencana alam.

Beberapa alternatif solusi yang Onno tawarkan, operator dituntut membangun infrastruktur di wilayah yang tidak menguntungkan. Rakyat juga bisa membangun di wilayah yang tidak ada sinyal, sesuai dengan peluang yang diberikan oleh UU Telekomunikasi maupun KEPMEN 21/2001. Diantara pilihan yang ada, Open BTS bisa menjadi solusi utama bagi berbagai alternatif yang ada. Jika pemerintah tidak sanggup atau tidak mau pusing, lebih baik berikan ijin pada rakyat untuk membangun sendiri.

Menurut Onno, tidak banyak negara di dunia yang mengadopsi teknologi Open BTS untuk memberdayakan rakyat kecil agar dapat membangun jaringan telekomunikasi sendiri.

Solusi ini jelas-jelas memungkinkan dikembangkannya jaringan selular yang sangat merakyat yang memenuhi HAM terutama di negara berkembang. “Bukan mustahil jika suatu hari ini konsep Open BTS dapat diterima, kita akan melihat banyak sekali operator kecil di pedesan dan Indonesia akan menjadi panutan dunia dalam mengembangkan Telkom Rakyat atau People’s Telco,” katanya.

Melihat perjuangan Onno dan ICT Watch serta Yayasan Air Putih, juga komunitas pada pergerakan Open BTS ini, kita kembali diingatkan tentang pengalaman Onno dalam perjuangan pembebasan frekuensi 2.4GHz yang memakan waktu belasan tahun. Karena itu Onno dan ICT Watch pun tampaknya tak gentar jika pergerakan mereka menuai kecaman, khususnya dari regulator dan tentunya operator yang bakal merasa dirugikan dengan kehadiran Open BTS.

Padahal tujuannya pengembangan Open BTS ini, bukan untuk menyaingi vendor telekomunikasi yang sudah ada, meski Onno mengakui hal itu juga sangat bisa dilakukan. “Saat ini vendor telekomunikasi umumnya belum tahu tentang teknologi Open BTS. Kalau mereka tahu, bahwa ada alternatif sarana telekomunikasi yang lebih murah, yang dapat digunakan banyak orang tanpa perlu bayar pulsa mahal, dapat dirakit dan di-install sendiri, bisa jadi vendor-vendor yang gencar perang tarif pulsa akan gulung tikar,” tandas Onno.

Karena itu penyebaran ilmu pengetahuan dan TI, khususnya alternatif telekomunikasi ini terus dilakukan hingga akhirnya sejak April tahun lalu, Workshop Open BTS pertama di Indonesia digelar di Universitas Gajah Putih Takengon Aceh Tengah.

“Membuat Tower Handphone dengan peralatan BTS Open Source. Kala itu, secara kebetulan presentasinya disaksikan oleh Pemerintah Daerah Istimewa Aceh. Di luar dugaan, tanggapan mereka sangat positif. “Mereka sebenarnya mau yang begituan. Tujuannya, untuk mempermudah komunikasi lokal daerah mereka,” kata dia.

Onno sudah mengimplementasikan teknologi ini. Ia pun terus bergerak mengajarkan dan menyebarkan ihwal Open BTS ini ke kalangan kampus, sekolah dan masyarakat umum, Kemenristek, termasuk militer hingga terakhir pada 29 April 2012 ia tampil di hadapan ratusan peserta di Festival TIK untuk Rakyat di Politeknik Telkom Bandung. Akan tetapi di samping kendala minimnya dukungan teknologi telekomunikasi yang murah ini, dalam implementasinya Open BTS ini pun tetap menghadapi kendala biaya, sebab tetap memerlukan infrastruktur atau perangkat keras yang menyokongnya, meski terbilang masih bisa dijangkau. Onno mengestimasi paling tidak untuk membangun infrastruktur Open BTS ini membutuhkan dana Rp200 juta. Bandingkan dengan BTS operator seluler yang menelan dana miliaran rupiah. Satu menara BTS biasanya terdiri atas tiga pemancar, dan satu pemancar harganya Rp 3 miliar. Operator tentu dapat membangunnya berkat konsumen operator seluler.

Nah, sementara hardware yang dibutuhkan Open BTS ini bernama Universal Software Radio Peripheral (USRP) dan software terbuka asterisk. Sebab USRP lah yang menghubungkan Open BTS dengan jaringan standar telepon seluler (GSM). Sedangkan asterisk berfungsi menginterkoneksikan dengan jaringan telepon lainnya seperti Public Switched Telephone Network (PSTN) atau operator telekomunikasi lain dengan menggunakan Voice over IP (VoIP).

“Alat USRP-nya ini yang agak mahal, karena ada di Amerika. Kalau ada yang berani beli, harganya sekitar Rp10 juta. Mahasiswa Indonesia bisa beli satu dan mengoprek alat itu supaya nanti bisa bikin sendiri. Biaya membangun BTS mahal sekali. Tapi jika kita bisa membuat sendiri, biaya telekomunikasi akan makin murah,”  kata Onno meyakinkan.

Selain ketidakadaan hardware, kendala lain juga masalah frekuensi. Di Indonesia kedua hal itu diatur undang-undang. “Karena frekuensi radio itu adalah sumber daya alam yang dikuasai negara. Jadi kita nggak bisa sembarangan menggunakannya. Menggunakan frekuensi tanpa izin akan melanggar hukum,” kata dia.

Onno sendiri mengaku sebenarnya pernah mengusulkan pemanfaatan teknologi Open BTS ini kepada Kementrian Komunikasi dan Informatika. Jawabannya, UU mengatakan bahwa di wilayah yang tidak beroperator, rakyat boleh membuat sarana komunikasi sendiri. Tapi karena untuk melaksanakannya butuh peraturan, dan pemerintah kesulitan membuat peraturannya, maka pemerintah memberi alternatif lain: masyarakat di daerah paska bencana, yang infrastruktur komunikasinya rusak, boleh mendirikan sarana komunikasi dengan meminta operator resmi sebagai payungnya, tapi dengan harga nego.

Sedangkan untuk software menggunakan open source yang dapat diperoleh gratis. Dengan pembuatan Open BTS yang biayanya hanya sekitar Rp. 200 juta, sarana ini tentunya akan membantu proses komunikasi antara kawasan yang dilanda bencana dengan wilayah luar. “Di Indonesia sarana ini sangat bisa diterapkan. Orang Indonesia pintar-pintar, tapi alatnya belum ada. Padahal ini sangat menguntungkan dan sangat dibutuhkan,” tegas Onno.

Bagaimana Open BTS Bekerja?
Dalam sejarahnya pun, proyek ini mulai dijalankan pada 2009 oleh Harvind Samra dan David A. Burgess dengan tujuan untuk mengurangi biaya layanan GSM di wilayah rural di negara berkembang agar bisa menjadi di bawah USD1/bulan/pelanggan. Open BTS mengganti tradisional infrastruktur operator GSM, dari Base Transceiver Station ke belakangnya. Dari yang biasanya trafik diteruskan ke Mobile Switching Center (MSC), namun pada Open BTS trafik diterminasi pada box yang sama dengan cara mem-forward data ke Asterisk PBX melalui SIP dan VoIP.

Test lapangan dilakukan di Nevada dan California Utara, Amerika Serikat. Lisensi radio temporary untuk perioda yang sangat pendek diperoleh melalui Kestrel Signal Processing (KSP) – perusahaan konsultan dari pembuat Open BTS. Di 2010, sebuah sistem Open BTS dipasang secara permanen di Nieu dan merupakan instalasi pertama yang tersambung dan dicoba oleh perusahaan telekomunikasi di sana. Niue adalah sebuah negara yang sangat kecil dengan penduduk sekitar 1.700 orang yang tidak menarik bagi penyelenggara telekomunikasi mobile. Struktur biaya Open BTS sangat cocok untuk Niue yang sangat mendambakan layanan selular tapi tidak bisa membeli sistem base station GSM konvensional.

Jadi, Open BTS adalah sebuah BTS GSM berbasis software open source, yang memungkinkan handphone GSM untuk menelpon tanpa menggunakan jaringan operator selular yang ada. Open BTS dikenal sebagai implementasi open source pertama dari protokol standard industri GSM. Dengan Open BTS, maka komunitas, akademisi, peneliti maupun masyarakat luas dapat mengembangkan penelitian hingga penyediaan sarana telekomunikasi GSM secara mandiri.

Bermodalkan Open BTS ini, pengguna dimungkinkan untuk menelepon dan SMS secara gratis, dengan investasi yang relatif murah. Soal kualitas suara atau kecepatan pengiriman SMS dinyatakan sama baiknya dengan telekomunikasi melalui operator telekomunikasi. Telekomunikasi melalui Open BTS bisa dilakukan dengan telepon seluler biasa, yang murah sekalipun. Kartu SIM yang dimasukkan juga tidak perlu yang masih aktif, yang sudah mati pun bisa dimanfaatkan, Perangkat Open BTS memungkinkan pengguna menelepon dan SMS selama masih berada dalam jangkauan.

Membangun Open BTS ibaratnya membangun operator seluler sendiri. Pengguna bisa melakukan telepon dan SMS tanpa butuh pulsa, Secara sederhana, cara kerja Open BTS antara lain telepon (sender) diterima oleh server kemudian diteruskan ke BTS lalu diterima oleh receiver. Semua pengguna yang tergabung (join) dalam BTS ini akan dapat menikmati layanan telepon dan SMS gratis. Hanya saja jangkuan sinyalnya terbatas, dan hanya bisa berkomunikasi dengan ponsel lain yang terkoneksi dengan jaringan Open BTS. Berikut dasar-dasar perangkat dan piranti lunak yang dibutuhkan untuk menggunakan teknologi ini.

Hardware; Tentu saja hal yang paling dasar adalah seperangkat komputer, bisa desktop ataupun notebook. Kemudian, untuk Open BTS versi minimal, dibutuhkan hardware untuk memancarkan sinyal radio bernama USRP dan dua jenis antena, yakni antena transmitter dan receiver. USRP inilah yang menggantikan peran pemancar pada BTS operator seluler komersil. USRP versi minimal bisa didapatkan dengan harga Rp10 sampai 20 juta. Lewat kabel USB, sambungkan komputer ke USRP. Setelah itu, dua kabel yang ada di USRP disambungkan ke dua antena tersebut.

Software; Sebelumnya, komputer yang digunakan harus bersistem operasi Linux. Sistem operasi lain seperti Windows atau Mac tidak bisa digunakan untuk menjalankan Open BTS. Semua software yang digunakan untuk Open BTS ini bisa di-download secara gratis, dan semuanya merupakan software open source. Gunakan software GNU Radio, untuk mengendalikan USRP. Kemudian software Open BTS, untuk mengontrol operasi BTS. Ada juga software sentral telepon bernama Asterisk. Software ini biasa digunakan untuk teknologi sentral telepon generasi 4G. Protokol yang digunakan oleh sentral telepon Asterisk adalah Session Initiation Protocol (SIP). Protokol macam ini juga dipakai oleh operator seluler komersil seperti Indosat, Telkomsel, XL, Axis, dan lain-lain.

Logika USRP; Logika berpikir USRP dalam Open BTS ini kira-kira seperti soundcard pada komputer. Sebuah soundcard harus diprogram agar mengeluarkan sinyal audio. Nah, begitu juga dengan USRP yang diprogram agar mengeluarkan sinyal radio. Bukan hanya sinyal radio, USRP ini bisa diatur untuk mengeluarkan sinyal AM, FM, ataupun sinyal TV. Semua sinyal itu diprogram melalui software.

Inilah yang menyebabkan Open BTS bisa dirakit dengan harga yang murah. Karena pemancarnya diatur lewat software. Jika pemancarnya berupa hardware pasti membutuhkan biaya miliaran rupiah. Jangkauan Open BTS versi minimal ini hanya 5 sampai 10 meter saja. Karena, konsumsi listriknya hanya 100 mili watt. Jika power amplifier-nya diganti menjadi 10 watt, seharga Rp120 juta rupiah (belum termasuk ongkos kirim), jangkauannya bisa mencapai lebih dari lima kilometer. Intinya, Open BTS lebih mudah dan lebih murah dibangun dibandingkan dengan operator seluler yang konvensional.

Teknologi Open BTS ini belum banyak diterapkan di dunia, Indonesia pun diharapkan suatu saat bisa jadi pelopor Open BTS dunia. Namun sampai sekarang, Open BTS belum banyak diimplementasikan. Di Indonesia sendiri, masih sangat sedikit yang bisa membangunnya. Onno bersama ICT Watch dan Yayasan Air Putih punya misi menyebarluaskan teknologi Open BTS ke Tanah Air. Jadi diharapkan makin banyak orang Indonesia yang bisa membuatnya.

ICT Watch pun siap memfasilitasi para mahasiswa yang ingin mempelajari seperti apa Open BTS. Mereka bisa menghubungi ICT Watch untuk belajar langsung atau mengundang untuk menggelar workshop. Adapun tujuan jangka panjangnya adalah menjadikan Open BTS sebagai solusi murah telekomunikasi.

“Bayangkan juga kalau sudah banyak orang di sini yang tahu dan Open BTS jadi industri, maka nanti kita bisa ekspor. Negara di Afrika atau Amerika Selatan kan menginginkannya. Indonesia bisa menjadi yang pertama menguasainya,” pungkas Onno.

Manfaat Bagi Pendidikan
Dunia pendidikan dituntut untuk selalu senantiasa menyesuaikan perkembangan teknologi terhadap usaha dalam peningkatan mutu pendidikan, terutama penyesuaian penggunaan TI bagi dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Globalisasi telah memicu kecenderungan pergeseran dan inovasi dalam dunia pendidikan dari pendidikan yang konvensional kearah pendidikan yang lebih modern, dari teacher centered menuju student centered. Perubahan akan tuntutan itulah yang menjadikan dunia pendidikan memerlukan inovasi dan kreatifitas dalam proses pembelajarannya karena banyak orang mengusulkan pembaharuan pendidikan dan pengajaran, tapi sedikit sekali orang yang berbicara tentang solusi pemecahan masalah tentang proses belajar yang sesuai dengan tuntutan global saat ini.

Salah satu pemecahan masalah tersebut diantaranya adalah pemanfaatan media pendidikan. Media yang berkembang saat ini selain komputer adalah handphone. Bagi dunia pendidikan, meluasnya pemanfaatan ponsel merupakan suatu potensi dan solusi untuk pengembangan pembelajaran dengan sistem baru yang dapat memenuhi kebutuhan dari mobilitas yang tinggi agar tuntutan global akan dunia pendidikan dapat terpenuhi.

Penelitian Mobile School Service oleh Zoran Vucetic melansir,  teknologi ponsel dimanfaatkan sebagai sarana media pembelajaran pada mahasiswa di University of Novi Sad, Zrenjanin, Serbia. Di samping itu teknologi HP juga dimanfaatkan dalam pendidikan dan sudah diterapkan di Open University Malaysia yang berbasis SMS gateway dengan metode blended. Telah terbukti dengan munculnya sistem pendidikan baru yang dikenal dengan sebutan Mobile Learning (m-Learning) yang merupakan paradigma pembelajaran yang memanfaatkan teknologi dan perangkat mobile yang mengalami perkembangan pesat

Dengan adanya mobile learning sangat memungkinkan untuk meningkatkan proses belajar khususnya untuk perkembanganTIK. M-Learning pun banyak dimanfaatkan untuk keperluan pendidikan khususnya pembelajaran jarak jauh, karena dengan  mobile learning pembelajaran jarak jauh di rasa lebih efektif dan lebih efisien dalam hal penyebaran informasi dan proses pembelajaran. Setidaknya itu yang dirasakan oleh Universitas Terbuka Malaysia yang menggunakan M-Learning berbasis SMS gateway sebagai salah satu metode pembelajarannya.

Karena itu, Open BTS menjadi potensi yang sangat besar dalam pengembangan M-Learning, karena untuk keperluan pendidikan khususnya di daerah terpencil , dibutuhkan penyebaran informasi yang cepat serta pembelajaran yang merata, Open BTS. Dunia pendidikan harusnya aware dan siap siaga dalam pengembangan teknologi seperti Open BTS ini, terlepas dari regulasi yang ada. Bahkan sebenarnya, pihak operator pun bisa memakai solusi Open BTS untuk masyarakat di pedalaman yang belum mendapat akses telekomunikasi. Namun jika mereka tidak mau membangunnya dengan berbagai alasan, masyarakat bisa berinisiatif sendiri.

ICT Watch dan Yayasan AirPutih telah memulai melakukan riset implementasi Open BTS sejak awal tahun 2011. Tim AirPutih telah berhasil mengoperasikan Open BTS dan saat ini sedang mengembangkan Open BTS untuk diimplementasikan saat kondisi darurat sebagai dukungan teknologi komunikasi. Telekomunikasi murah dan hemat, serta pulsa gratis melalui Open BTS sementara ini memang sangat bermanfaat untuk daerah-daerah terpencil dan bencana alam. Semoga di masa depan Open BTS bisa diimplementasikan sebagai sarana komunikasi masyarakat.

Tony Lin Li Kai: Brand Taiwan Siap Go Internasional

0

Pemerintah sebagai pembuat kebijakan memegang peranan penting dalam menentukan strategi-strategi yang dibutuhkan untuk mensejahterakan dan memajukan bangsanya. Dukungan Pemerintah telah membuat Taiwan maju di sektor teknologi informasi dan telekomunikasi

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk membuat sebuah negara sejahtera, salah satunya dengan memajukan industri dalam negeri.  Seperti yang dilakukan pemerintah Taiwan melalui Kementerian Ekonomi yang menggandeng Taiwan External Trade Development Council (TAITRA) untuk mempromosikan industri Taiwan secara global.

Dibawah pengawasan Bureau of Foreign Trade (BOFT), TAITRA memiliki tugas mempromosikan perdagangan internasional dan membantu memperluas bisnis manufaktur Taiwan ke pasar luar negeri. Di Indonesia sendiri, TAITRA membangun Taiwan Trade Center (TTC) guna lebih menjalin hubungan perdagangan antara Taiwan dan Indonesia.

Menurut Director Taiwan Trade Center Jakarta, Tony Lin Li Kai, di sela pembukaan pameran ICT EXPO yang berlangsung di Jakarta Convention Center (3/5), hadirnya TTC di Indonesia merupakan bentuk komitmen pemerintah Taiwan dalam menjalin hubungan bisnis dan perdagangan ke berbagai negara untuk mempromosikan brand-brand Taiwan ke pasar internasional termasuk Indonesia.

“Untuk mengakomodir perusahaan-perusahaan Taiwan agar dikenal di pasar internasional,  TAITRA telah memiliki lebih dari 50 kantor cabang yang tersebar ke pelosok negeri untuk memudahkan jangkauan dalam memberikan layanan yang dibutuhkan,” ujar pria yang suka membaca dan traveling ini.

Secara umum, TTC membantu merekomendasikan segala hal yang berkaitan dengan perdagangan Taiwan.  Termasuk membantu pengolahan inquiry perdagangan, menyediakan up-to-date informasi perusahaan dan rincian kontak pembeli, menjalin hubungan dengan organisasi perdagangan dan industri di Indonesia, menyediakan akses informasi yang luas tentang perusahaan Taiwan, mengadakan berbagai kegiatan, seperti pengorganisasian delegasi perdagangan untuk mengunjungi Taiwan maupun acara pameran produk Taiwan, serta menganalisis trend dan menyusun laporan riset pasar.

Sedangkan untuk produk yang coba dikenalkan ke  pasar oleh Taiwan meliputi kategori mesin, tekstil, suku cadang mobil, produk logam dan produk-produk elektronik. Untuk bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), TAITRA telah menggelar kampanye Taiwan Excellence yang diadakan untuk menunjukkan usaha berkesinambungan dari para produsen perangkat TI Taiwan dalam menyediakan produk teknologi terbaik bagi konsumen di Indonesia.

“Kampanye ini merupakan upaya pemerintah Taiwan untuk mendukung industri TIK go internasional,” jelas lulusan National Taipei Technology University dengan gelar Electronic Engineering ini.

Terfokus pada tiga negara, yaitu Indonesia, India dan Vietnam, dengan program Taiwan Excellence, TAITRA juga mencoba menyadarkan masyarakat Indonesia tentang merek-merek TI terkemuka yang sudah mereka kenal ataupun gunakan sebelumnya, seperti Acer, Asus, BenQ, MSI, D-Link maupun Transcend. “Brand-brand itu merupakan produk buatan Taiwan, bukan produk Amerika maupun Jepang yang selama ini mereka kira,” sebut Tony.

Berikut ini petikan wawancara BISKOM dengan pria yang telah bergabung dengan TAITRA sejak dua belas tahun lalu.

Bisa dijelaskan tugas Anda di TAITRA?

Sejak financial tsunami dan krisis utang Eropa yang mempengaruhi pasar global, mayoritas pertumbuhan ekonomi dunia telah datang dari pasar negara berkembang. Indonesia menjadi salah satu sumber ekonomi dunia yang paling penting dan merupakan tempat awal yang paling ideal untuk perusahaan Taiwan masuk ke pasar ASEAN. Sebab itu, Ketua TAITRA, Chih-Kang Wang, mengarahkan agar TTC bertanggung jawab dalam pengorganisasian delegasi perdagangan ke Taiwan sehingga kami menjadi gerbang bagi perusahaan Indonesia untuk menjalin perdagangan dengan Taiwan.

Sejauh mana keberhasilan yang telah dicapai TAITRA melalui pameran yang seringkali diselenggarakan?

Pada tahun 2011, TAITRA menyelenggarakan 29 pameran dagang internasional yang menarik total 10.667 peserta pameran (naik 3,6% dari 2010) dan 74.667 pembeli di luar negeri (sampai 7,9% dari 2010). Ada lebih dari 4000 pembeli untuk mengunjungi Pameran dagang di Taiwan pada tahun 2012.

Tambahan lagi, Taipei International Convention Center (TICC) adalah tempat pilihan untuk 849 acara. Selain itu, TICC membantu organisasi non-pemerintah untuk memenangkan tawaran dan menjadi tuan rumah di sepuluh kongres internasional utama antara 2012 dan 2017.

Seberapa besar pertumbuhan bisnis yang telah dicapai TAITRA?

Tahun 2011, perdagangan Taiwan secara global telah mencapai titik tertinggi baru sebesar US$ 589.9 milyar, meningkat sebesar 12,18% dari 2010. Dari angka ini, ekspor tumbuh sebesar 12,3% (US$ 33.7 milyar). Menurut Direktorat Jenderal Anggaran, Akuntansi dan Statistik (DGBAS) dari Taiwan Eksekutif Yuan, 66,52% tahun 2011 pertumbuhan ekonomi Taiwan yang dihasilkan melalui perdagangan eksternal.

Berkat bimbingan dari Kementerian Perekonomian (MOEA) dan upaya dari semua staf TAITRA, di 2011 ekspor Taiwan melampaui angka target pertumbuhan 10%. Berarti selama 2011, TAITRA telah membantu perusahaan Taiwan menghasilkan lebih dari US$ 34.1 milyar.

Brand Taiwan apa yang berhasil mencetak pertumbuhan terbesar di Indonesia tahun lalu?

TAITRA telah melaksanakan “Branding Taiwan Plan” dengan menawarkan dukungan kepada perusahaan Taiwan yang ingin mengembangkan merek mereka secara global.

Di 2011, survei menilai brand Taiwan menunjukkan kinerja terbaik yang pernah ada. Dari sejumlah merek yang ada , 20 top merek global Taiwan tumbuh 40% dari tahun ke tahun menjadi US$13.10 Miliar. Selain itu, sejumlah 10 merek global teratas tumbuh 43,9% dari tahun ke tahun menjadi US$11.56 Miliar. Pembuat smartphone HTC juga menduduki peringkat teratas dan terdaftar di Interbrand sebagai “Best Global Brands 2011”, peringkat 98 dengan brand bernilai US$3.6 Miliar.

Apa program TAITRA di tahun 2012 ini?

Kami mencanangkan Taiwan-Indonesia Business Day 2012. Dimana akan ada lebih 80 delegasi dari 60 perusahaaan Taiwan untuk dipertemukan dengan lebih dari 1000 perusahaan Indonesia. Lalu mengundang pengusaha-pengusaha Indonesia untuk mengunjungi Taipei Trade Show yang diperkirakan akan menarik minat lebih dari 4000 pembeli untuk mengunjungi Pameran dagang di Taiwan tahun ini.

Dengan Proyek Integrated Marketing & Communications (IMC), di 2012 kami telah menyiapkan 4 lokasi sebagai  Home & Leisure Experiential Pavilions yang akan berlangsung selama 5 – 9 hari di pusat perbelanjaan terpilih di Jakarta, yaitu pada tanggal 27 Juni – 1 Juli di Lipppo Karawaci Mall, 20 – 29 Juli di Living World Mall, 19 – 23 September di Central Park Mall dan 10 – 14 Oktober di Mangga Dua Mall.

Selain itu, kami mengundang pengusaha-pengusaha Taiwan untuk menghadiri pameran dagang di Indonesia. Kami akan hadir lebih dari 20 pameran dagang lokal untuk membantu koneksi bisnis kedua Negara. Dengan apa yang kami lakukan ini, kami percaya bahwa perdagangan dan hubungan ekonomi antara dua negara kita akan terus tumbuh dan sejahtera. Kita akan menciptakan win-win solution kemitraan untuk Indonesia dan Taiwan.

Seberapa besar penetrasi pasar di Indonesia untuk merk Taiwan?

Perusahaan Taiwan termasuk Acer, Asus, MSI, Gigabyte, D-Link, Transcend, A-Data, Trend Micro, dan BenQ sudah aktif mengembangkan pasar Indonesia. Indonesia adalah pasar yang paling penting di Asia Tenggara untuk Acer, dan Acer adalah merek yang paling favorit untuk komputer pribadi selama 6 tahun berturut-turut.

MSI, Transcend dan BenQ Proyektor dan D-Link router nirkabel sudah menjadi nomor 1 pilihan bagi konsumen Indonesia. Sementara Asus, MSI, Transcend dan Adata serta Edimax juga cukup populer di Indonesia.

Apa target TAITRA di tahun 2012?

Taiwan Trade Center, Jakarta akan tetap berkomitmen untuk mempromosikan perdagangan eksternal Taiwan dengan Indonesia. Untuk pasar Indonesia, TAITRA merencanakan promosi dengan dua langkah, yaitu  business to business (B2B) dan business to consumer (B2C).

Kami juga akan hosting lebih dari tiga puluh pameran Perdagangan Internasional Taipei di Taiwan. Khususnya, skala Informasi Teknologi Internasional Taipei Show (Computex Taipei) yang akan terus dikembangkan. Selanjutnya, semua pameran dagang akan menyediakan layanan secara mobile melalui Taiwantrade Mobile App, tersedia dalam bahasa China dan Inggris pada Android dan perangkat iOS. Aplikasi ini akan memberikan informasi terbaru daftar peserta pameran, katalog produk, peta petunjuk, denah dan lainnya. Ini adalah media komunikasi yang memperkuat hubungan antara pembeli dan peserta pameran, sehingga bisa menciptakan  peluang bisnis kapanpun dan dimanapun mereka berada.

Kami akan terus melengkapi kebijakan ekonomi pemerintah Taiwan dan membantu perusahaan Taiwan untuk mencapai hubungan yang lebih dekat lagi dengan semua mitra bisnis termasuk di Indonesia.

Pada tahun 2011, TAITRA sukses mengadakan event TI bernama IT Travel Go!  Selanjutnya event apalagi yang akan diselenggarakan pada tahun 2012?

Selama dua tahun terakhir, BOFT telah melibatkan TAITRA dalam melakukan inisiatif untuk lebih memperkenalkan merek-merek produk Taiwan ke pasar dunia, termasuk Indonesia. Penyelenggaran IT Travel Go! Tahun lalu telah mendorong konusmen menggunakan produk Taiwan dalam meningkatkan gaya hidup mereka. Melanjuti kesuksesan tahun lalu, kami mempunyai gagasan di tahun ini akan membuat event yang diberi nama “The SmarTEST” yang akan diselenggarakan di empat lokasi pemasaran kami, yaitu Indonesia, India, Vietnam dan China Daratan.

Kampanye ini akan di mulai pada tanggal 1 Juni secara bertahap dan akan final pada 11 Oktober, tim nasional dari ke-empat negara tersebut akan bertanding di Taipei memperebutkan uang tunai sebesar US$ 50.000 dan hadiah lainnya.

Bagaimana persiapan TAITRA dalam menghadapi perhelatan akbar, Computex 2012, 5-9 Juni mendatang di Taiwan?

Computex 2012 akan menggunakan 2 hall di Taipei International Convention Center (TICC), Taiwan untuk menampung sekurangnya 1.800 peserta pameran dari dalam dan luar negeri, yang akan menggunakan 5400 booth.

Computex 2012 menargetkan sekitar 36.000 pembeli dan pengunjung internasional dalam pameran ini. Target ini naik 2% dibanding tahun lalu. Pameran ini juga memproyeksikan dapat membukukan penghasilan sebesar US$ 28 milyar, yang merupakan 25% dari nilai total ekspor produk teknologi informasi dan telekomunikasi (TIK) Taiwan di 2011.

Tahun ini Computex memiliki empat tema area, yaitu Ultrabook, Smart Handheld Devices, Cloud Technology dan Services. Ultrabook juga akan menjadi tema yang digemari mengingat menurut forcast Suppli IHS, pangsa pasar ultrabook akan terus bertambah, dari 2% pada 2011 menjadi 40% pada 2015.

Secara keseluruhan persiapan Computex 2012 sudah sangat matang dan kami berharap akan menuai kesuksesan seperti tahun-tahun sebelumnya

Pertanyaan terakhir, bagaimana kontribusi Taiwan dalam mendukung teknologi hijau?

Kita semua tahu pertumbuhan ekonomi sangat penting. Kami juga tahu bahwa kita ingin anak-anak kita memiliki lingkungan yang baik untuk hidup, itulah sebabnya kita perlu pertumbuhan secara berkelanjutan dengan membuat keseimbangan antara pertumbuhan dan dampaknya.

Di tahun-tahun mendatang, green energy akan menjadi salah satu perkembangan penting di seluruh negara manapun. Taiwan merupakan industri TIK yang kuat, dan kami mampu mengkombinasikan TIK dengan kontruksi bahan yang dibuat secara cerdas untuk menciptakan lingkungan hijau.

Industri-industri ini telah dikembangkan di Taiwan, tidak peduli produk jadi, related part atau peralatan pabrik. Kami dapat mempromosikan mereka ke pasar lokal dan secara cepat menurunkan biaya energi hijau.

EPSON EB-X11, Performa Terbaik Untuk Pendidikan

0

Anda yang membutuhkan proyektor untuk digunakan sebagai alat presentasi tetapi dengan harga yang terjangkau, seri EB-X11 layak jadi dipilih. Diciptakan terutama untuk mendukung dunia pendidikan, Epson EB-X11 menawarkan performa terbaik di kelasnya.

Proyektor terbaru ini menggabungkan sejumlah fitur-fitur yang berguna,  mudah dioperasikan, serta didesain menawan dan begitu ringkas.

Fitur-fitur utama pada EB-X11 diantaranya telah dikemas dengan teknologi Epson 3LCD (Liquid Crystal Display) yang memungkinkan proyektor mempertajam dan memperjelas proyeksi. Model ini menggunakan mesin optikal tiga chip 3LCD yang solid, dimana tiap chip LCD membawa sinyal elektrik, menerima, dan membentuk gambar liquid crystal.

Warna RGB disinarkan melalui chip LCD masing-masing, dan disatukan kembali menggunakan dichroric prism sebelum diproyeksikan ke layar melalui lensa proyeksi, sehingga menghasilkan gambar-gambar bergerak yang halus, kaya dan penuh warna, karena di setiap piksel gambar yang diproyeksikan mengandung 3 warna dasar RGB.

Proyektor Epson ini juga hanya membutuhkan konsumsi daya listrik yang rendah. Jika dibandingkan dengan teknologi lain, maka pemakaian daya listrik dari proyektor 3LCD sekitar 25% lebih rendah. Tentunya hal ini menjadikannya lebih ramah lingkungan.

Tidak seperti pada teknologi lain dimana ada cahaya yang terbuang mengakibatkan adanya penambahan panas, pada teknologi 3LCD seluruh cahaya terpakai sehingga panas yang terbuang menjadi lebih rendah.

Bukan itu saja,  proyektor 3LCD menggunakan penyaring udara untuk menyaring debu yang masuk ke dalam projector, sehingga dapat memperpanjang usia pemakaian dari projektor tersebut.

Proyektor EB-X11 memiliki tingkat kecerahan (brightness) mencapai 2600 lumens. Tingkat Colour Light Output (CLO) yang terdapat pada projektor ini sama dengan tingkat White Light Output, menghasilkan warna-warna yang akurat, jelas, dan alami saat menampilkan hasil proyeksi.

Fitur lain yang tak kalah menarik diantaranya dikemasnya penggunaan Epson-Twin Optimized Reflection Lamp (E-TORL) yang 20% lebih efisien dibandingkan dengan lampu proyektor konvensional.

Seri ini juga dilengkapi dengan tampilan menu default berbahasa Indonesia pada layar proyeksi (on screen display).

Dengan Auto Vertical Keystone, proyektor Epson mampu secara otomatis mempertahankan tampilan gambar tetap proporsional pada waktu projector diletakkan dengan berbagai sudut kemiringan.

Yang menyenangkan, proyektor dengan kabel USB ini juga dapat dimatikan langsung secara instan. Kemampuan ini memungkinkan pengguna untuk mengurangi waktu tunggu atau waktu pendinginan yang biasanya diperlukan oleh projektor merek lain.

TELAH TERBIT BISKOM EDISI MEI 2012

0

Majalah BISKOM kali ini menampilkan Director Taiwan Trade Center Jakarta, Mr. Tony Lin Li Kai (Terima kasih kepada  Taiwan External Trade Development Council (TAITRA) yang turut mendukung Majalah BISKOM).

Dalam kesempatan ini, kami sekaligus menawarkan kepada seluruh pembaca untuk bekerjasama saling menguntungkan dengan Majalah BISKOM, baik berupa pengiriman artikel TI, mengadakan seminar, workshop dan pameran serta kegiatan-kegiatan lainnya yang berkaitan dengan dunia TI.

Topik menarik Majalah BISKOM Edisi Mei 2012 diantaranya:
• COVER STORY: Director Taiwan Trade Center Jakarta, Tony Lin Li Kai, Brand Taiwan Siap Go Internasional

• HEADLINE:  Open BTS, Solusi Komunikasi Gratis!

• FIGURE:
–Indra Sosrodjojo, Direktur Utama PT. Andal Software: Andal Ubah Model Bisnis
–Jenny Lee, Chief Operationg Officer (COO) & Director Education Programs Internasional Test Center (ITC): Sertifikasi TIK Dimulai Dengan IC3
–Amar Mehta, Manager-Business Development, Asia Pacific Cyberoam: Investasi Besar Perkuat Bisnis Cyberoam

• FOCUS:
-E-Money, Efisien & Aman
-Bisnis Data Tersandung OTT
-Heboh Situs Pembunuh Bayaran!
-Berbagi Link Dengan Pinterest

• REVIEW & CELLULAR:
-Canon Ixus 510 HS
-Sony Xperia Sola
-Relion Realpad Bunaken
-Genius Widecam 1050
-Viewsonic PJD5226
-Fujitsu Livebook LH531
-Dell XPS 13
-Kingston Mobilelite G3
-Panasonic Lumix TZ20
-Sony Alpha 57
-Epson EB-X11
-Nvidia Geforce GTX 680

• SNAP:
-ICT EXPO 2012, Kenalkan Masyarakat Manfaat TIK
-Dell Perkenalkan Jajaran PowerEdge Terbaru
–Thomas Sugiarto Tawarkan Bonus 2 Milyar
-Akhir 2012, Perekaman Sidik Jari e-KTP Rampung
-QNAP Penuhi Kebutuhan Penyimpanan Data
-UKSW Gelar Seminar Time For is Build Your Own Business
-Bogor dan Makassar Gelar NiCE 2012
-Sony VAIO Shop Hadir di Jambi

Dapatkan Majalah BISKOM di Toko Buku Gramedia dan Gunung Agung atau berlangganan melalui Bagian Sirkulasi Majalah BISKOM. Untuk review, ujicoba, update harga produk dan kegiatan perusahaan Anda, hubungi redaksibiskom@gmail.com

Kontroversi Open BTS

0

KEMBALI kami menampilkan kontroversi yang terjadi di kancah TI nasional pada edisi BISKOM Mei tahun ini. Bagi kami cukup beralasan menampilkan wacana TI soal Open Base Transceiver Station (BTS) sebagai Headline karena memang teknologi karya putra bangsa ini butuh dukungan agar Open BTS makin berkembang dan tepat guna. Salah satu bentuk dukungannya antara lain dengan menyebarkan informasi ihwal teknologi Open BTS ini agar khalayak pembaca dan masyaraat luas tidak salah kaprah menanggapi tentang Open BTS dan kontroversinya.

Seperti dikatakan salah seorang pembina di Yayasan AirPutih, M. Salahuddien yang menyatakan memperdebatkan aspek legalitas implementasi Open BTS adalah sangat tak beralasan mengingat tujuannya yang non komersial, penelitian, pengetahuan, pembelajaran, akses daerah bencana dan terpencil, guna memenuhi hak publik yang sesungguhnya justru dijamin UUD bahkan merupakan Hak Asasi menurut PBB.

Dalam kenyataannya, kata Salahuddien, penggelaran sistem darurat bersama dengan sistem manajemen kebencanaan berbasis teknologi informasi (TI0 dan internet seperti Open BTS, dalam waktu secepatnya, terbukti menurunkan tensi kepanikan di luar lokasi bencana serta meningkatkan efisiensi dan akurasi misi kemanusian. Ditambah bonus aliran informasi aktivis media sosial alternatif, relawan, jurnalis serta survivor membuka keterisoliran.

Apakah teknologi ini hanya untuk kedaruratan atau di lokasi bencana? Lebih dari itu, potensi memenuhi hak mendapatkan dan mengakses informasi bagi masyarakat perbatasan, boleh jadi menjadi salah satu aplikasi yang juga telah lama dinanti. Demikian juga para nelayan tradisional di perkampungan garis pantai yang terpencil barangkali bisa mendapatkan manfaat tersendiri dari gelaran teknologi ini. Misalnya relay SMS gateway broadcast, informasi klimatologi dan siapa tahu ada yang menyediakan tambahan berita jadwal pelelangan serta harga komoditas kelautan.

Bentuk implementasi lainnya, bayangkan wilayah timur Indonesia yang jauh tertinggal, tidak mungkin memenuhi skala ekonomi layanan komersial dan jumlah penduduk yang sedikit namun tersebar sangat luas serta sesungguhnya memiliki hak yang sama sebagai warga negara untuk menikmati infrastuktur telekomunikasi yang mendorong kemajuan ekonomi dan peradaban.

“Manakala kita melihat sebuah teknologi tidak hanya sekedar sebagai alat untuk menghasilkan keuntungan para pemilik modal di industri telekomunikasi semata dan regulasi yang 100% hanya memihak kepada pemilik modal, mungkin kita akan dapat melihat potensi besar yang lain: menjembatani harapan mereka yang terlupakan,” ungkap Didin

Yang jelas, imbuh Didin, secara formal kegiatan penyelenggaraan telekomunikasi untuk tujuan kedaruratan dalam berbagai interpretasinya belumlah diatur di dalam peraturan perundangan yang manapun. Maka UU 36/1999 Tentang Telekomunikasi yang hanya mengatur pelaku usaha dengan tujuan ekonomi semata, tidak tepat untuk digunakan mensikapi misalnya implementasi Open BTS untuk tujuan sosial. “Dan di atas segalanya, eksplorasi teknologi tepat guna Open BTS yang masih langka ini dipelopori, diminati dan dibanggakan oleh anak muda bangsa sendiri,” ucap Didin.

Inilah alasan kami mengangkat seputar Open BTS, selanjutnya selamat membaca, maju terus TI Indonesia!

Salam,
REDAKSI

ICT EXPO 2012, Kenalkan Masyarakat Manfaat TIK

0

Berbagai aspek kehidupan saat ini tidak bisa lepas dari penggunaan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) yang semakin berperan dalam mendorong tumbuhnya taraf hidup dan kualitas suatu bangsa. Karenanya, tidak salah bila berbagai kegiatan TIK saat ini sangat sering diselenggarakan di tanah air guna menumbuh kembangkan pemanfaatan TIK itu sendiri di dalam kehidupan masyarakat.

Seperti yang dilakukan pameran Information and Communication Technology (ICT) Expo-IT Indocomm 2012 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan yang mencoba memberikan edukasi dan informasi kepada masyarakat mengenai TIK mulai dari produk hingga layanannya.

Pameran yang diadakan pada 3 – 5  Mei 2012 ini berkonsentrasi mendukung dunia usaha dan pemerintahan. Menurut Dirjen Aplikasi dan Telematika Kementerian Komunikasi Informasi (Kemkominfo), Ashwin Sasongko, melalui pameran ini masyarakat bisa lebih tahu tentang produk-produk TIK terkini dan kegunaannya.

”Pemanfaatan TIK dapat mengakomodir berbagai kegiatan sehari-hari dan meningkatkan  performance di berbagai sektor kemasyarakatan, baik itu pendidikan, kesehatan maupun sosial.” ujar Ashwin, di Jakarta (3/5).

ICT EXPO ini diikuti sekitar 300 perusahaan, baik dari luar maupun dalam negeri. Kemkominfo  ikut berpartisipasi dengan membuka stand yang bertujuan untuk mensosialisasikan berbagai program, seperti Program Internet Sehat, Penghargaan Indonesia ICT Award (INAICTA) dan Indonesia Open Source Award (IOSA).

Di sela-sela pembukaan ICT Expo-Indocomm 2012, Kemkominfo juga meresmikan pembentukan Indonesian Cloud Forum (ICF). ICF yang didirikan oleh praktisi senior telematika, Teguh Prasetya bersama dengan Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) sejak 2010 ini  merupakan lembaga independen dan profesional yang berkomitmen untuk terus melakukan edukasi ke masyarakat dan para stakeholder tentang pentingnya implementasi Cloud Computing di Indonesia.

Sedangkan, PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom)  memanfaatkan ICT Expo-Indocomm 2012 untuk memperkenalkan berbagai layanan barunya seperti Groovia Lite, English Bean, e-Radio, e-Health, Telkom Market, Finpay dan PlasaMSN.

“Kehadiran Telkom pada event ini tidak hanya memperkenalkan produk dan layanan TIK sebagai unggulan, tetapi dimaksudkan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bagaimana memanfaatkan berbagai layanan TIK untuk kegiatan yang lebih produktif,” ujar Direktur IT Solution & Strategic Portfolio Telkom, Indra Utoyo.

Sementara pada Pavilion Nasional, pemerintah China, Korea, Singapura dan Taiwan juga ikut serta dalam pameran yang ditargetkan dapat melibatkan 15.000 pengusaha, calon pembeli dan pelanggan,  profesional, serta pengambil kebijakan ini.
Sebanyak 13 perusahaan dari Taiwan yang tergabung dalam Taiwan External Trade Development Council  (TAITRA) menampilkan berbagai macam produk unggulan, termasuk Smart Phones, PC Tablet, Kamera WiFi, Professional Video Walls, Media Player, Mini PC, Memory Card, WLAN Komunikasi Devices, Extenders AV dan teknologi lainnya.

Kegiatan yang menargetkan sekitar 10.000 ribu pengunjung ini didukung oleh BISKOM sebagai media partner.