Prosesi pemukulan kentongan oleh Kepala LAN RI Muhammad Taufiq dan Wamen PPPA Veronica Tan tanda peresmian Gender Mainstreaming for Women Leaders Academy

BISKOM | Jakarta – Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI resmi meluncurkan Gender Mainstreaming for Women Leaders Academy dalam ajang Women’s Leadership Forum 2026 bertajuk “Breaking Barriers, Building Impact” di Jakarta, Senin (27/07/2026). 

Inisiatif strategis hasil kolaborasi bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) serta Badan Kepegawaian Negara (BKN) ini dirancang untuk membentuk kader pemimpin perempuan birokrasi secara terstruktur berbasis sistem merit.

Gender Mainstreaming for Women Leaders Academy Dorong Reformasi Birokrasi

Peluncuran akademi kepemimpinan tersebut ditandai dengan pemukulan kentongan sebagai simbol resmi dimulainya era pengarusutamaan gender di lingkungan aparatur sipil negara (ASN). Langkah strategis ini merespons fakta demografi birokrasi, di mana perempuan kini mengisi 54 persen dari total 6,7 juta ASN nasional.

Baca :  Connie Bakrie Ungkap Ancaman Krisis Iklim Terhadap Kedaulatan Negara

Wakil Menteri PPPA, Veronica Tan, menegaskan bahwa program pelatihan ini hadir sebagai gerakan nasional untuk membangun ekosistem kepemimpinan yang inklusif dan berdaya. 

Menurutnya, tolok ukur pemimpin sejati tidak dihitung dari banyaknya pengikut, melainkan dari keberhasilan melahirkan figur-figur pemimpin baru yang berintegritas tinggi.

“Bukan sekadar pelatihan, ini adalah gerakan nasional untuk menciptakan keadilan berbasis kompetensi dan sistem merit yang transparan,” ujar Veronica.

Veronica menambahkan, ekosistem kepemimpinan inklusif bertumpu pada empat pilar utama, yaitu akses setara, partisipasi penuh, kontrol penentuan arah pembangunan, serta manfaat setara bagi seluruh lapisan warga negara.

Penguatan Sistem Merit dan Kepemimpinan Transformasional ASN

Baca :  Meriah Antusias Petani, Mentan SYL Pimpin Langsung Pembuatan Biosaka di Batola

Sementara itu, Kepala LAN RI Muhammad Taufiq menjelaskan bahwa akademi ini menjadi wadah penempaan talenta terbaik bangsa secara berkelanjutan. Paradigma diskusi birokrasi saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan perempuan dalam memimpin, melainkan cara pemerintah mengoptimalkan potensi talenta tersebut.

Merujuk data nasional, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan baru berada di angka 53 persen, padahal populasi perempuan mencakup 49,6 persen dari total 286 juta jiwa penduduk Indonesia. 

Taufiq menilai gaya kepemimpinan perempuan cenderung transformasional, memiliki empati tinggi, serta sangat kolaboratif dalam mempercepat inovasi pelayanan publik.

“Perempuan memang memiliki bakat memimpin secara alamiah, namun kepemimpinan yang berdampak luas perlu dibentuk dan ditempa secara terstruktur,” ujar Taufiq.

Baca :  Tahap II Dalam Perkara BAKTI Kementerian Komunikasi dan Informatika atas nama Tersangka WP

Taufiq mencontohkan rekam jejak Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk yang meniti karier birokrasi dari bawah di Papua hingga menduduki Jabatan Pimpinan Tinggi. 

Pembinaan terstruktur ini diharapkan mampu mempercepat peningkatan Indeks Pembangunan Gender (IPG) sekaligus menekan Indeks Ketimpangan Gender (IKG) birokrasi. Melalui penguatan akademi ini, pemerintah optimistis melahirkan standar pelayanan publik yang lebih responsif dan berkeadilan di seluruh daerah.

Reporter: Lakalim Adalin 

Editor: Arianto 

#LANRI #GenderMainstreaming #WomenLeadersAcademy #VeronicaTan #ASNPerempuan #SistemMerit #BirokrasiInklusif #KemenPPPA #KepemimpinanTransformasional #PelayananPublik