BISKOM,Jakarta – Baik kepribadian introvert maupun ekstrovert, gaya komunikasi hakim di ruang sidang sama-sama bertujuan mewujudkan keadilan yang agung.

Bayangkan jika seorang pembawa acara game show sekelas Eat Bulaga! yang meriah tampil kaku seperti sedang membaca teks pidato kenegaraan.

Penonton akan merasa awkward, peserta kehilangan semangat dan acara akan terasa hambar.

Sekarang bayangkan situasi terbalik,Bagaimana jika dalam suatu upacara yang khidmat, pembawa acara justru melempar lelucon dan tertawa lepas.

Hadirin akan merasa ada yang tidak tepat.

Dua ilustrasi itu tampak jauh dari ruang sidang pengadilan, tapi keduanya punya satu benang merah yang sama.

Sebuah acara, apapun bentuknya, membutuhkan sosok yang mampu membaca suasana dan mengatur ritme jalannya acara tersebut agar berjalan lancar.

Di ruang sidang, peran itu dipegang oleh hakim.

Hakim, berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, adalah pejabat peradilan negara yang diberi kewenangan untuk menerima, memeriksa, mengadili, dan memutus perkara pidana.

Hakim dibekali pendidikan dan pengetahuan hukum yang setara sehingga menjadi orang yang memiliki kapabilitas dalam urusan hukum.

Tapi yang patut disadari, setiap hakim memiliki kepribadian yang berbeda.

Ada hakim yang aktif memancing dialog dengan saksi dan terdakwa, mengajukan pertanyaan susulan begitu jawaban selesai diucapkan.

Baca :  Depkominfo Siapkan Teknologi Anti Spekulan

Ada pula yang lebih banyak diam, mencatat, dan baru bertanya setelah menimbang beberapa saat.

Pertanyaannya kemudian berkembang, apakah perbedaan kepribadian ini memengaruhi cara hakim memimpin persidangan, dan apakah salah satu gaya lebih unggul dari yang lain?

Membaca Jung di Ruang Sidang

Pada tahun 1921, psikiater asal Swiss yang bernama Carl Gustav Jung memperkenalkan konsep introvert dan ekstrovert, lewat karyanya yang berjudul Psychological Types.

Jung membedakan keduanya dari arah orientasi seseorang terhadap dunia di sekitarnya.

Orang introvert cenderung memproses pengalaman melalui dunia internal, mengamati dan menimbang sebelum merespons.

Orang ekstrovert lebih cepat mengarahkan perhatian ke luar dan memperoleh energi dari interaksi dengan lingkungan.

Ini bukan klasifikasi kaku,setiap orang memiliki kedua kecenderungan sekaligus, hanya saja salah satunya biasanya lebih dominan.

Introvert bukan berarti pendiam, dan ekstrovert bukan berarti tidak bisa berhenti bicara.

Keduanya sama-sama dapat berkomunikasi hanya dengan gaya yang berbeda.

Perbedaan introvert dan ekstrovert akan terlihat jelas begitu dibawa ke ruang sidang.

Misalnya pada agenda pemeriksaan saksi perkara pidana.

Hakim yang cenderung introvert biasanya lebih nyaman melakukan pengamatan terhadap fakta hukum yang terjadi, menyusun pertanyaan secara runtut, dan mengambil waktu sesaat sebelum pemeriksaan diakhiri.

Di sisi lain, hakim yang cenderung ekstrovert lebih sering melontarkan pertanyaan kepada para saksi begitu pertanyaan muncul di pikirannya, mengejar detail begitu ada celah mencurigakan, dan membangun interaksi secara spontan.

Baca :  Membayangkan Setelah Corona?

Keduanya sama-sama sedang bertugas menggali kebenaran materiil, hanya lewat jalan yang berbeda,Dua Wajah, Satu Kecermatan

Masalahnya, ketenangan sering dibaca keliru.

Hakim yang tidak banyak bicara atau butuh waktu untuk memproses keterangan kerap dianggap kurang menonjol dan tidak berinisiatif dibanding hakim yang komunikatif dan cepat merespons.

Padahal jeda sebelum bertanya bukan tanda kurang kapabel.

Jeda itu bisa menjadi ruang bagi hakim untuk menimbang keterangan lebih cermat dan tepat sebelum melontarkan pertanyaan yang tepat sasaran.

Sebaliknya, hakim yang ekspresif dan cepat merespons juga bukan berarti kurang hati-hati.

Spontanitas semacam itu justru bisa menjadi kekuatan ketika persidangan membutuhkan klarifikasi cepat, misalnya saat keterangan saksi mulai berbelit atau muncul indikasi keterangan yang saling bertentangan.

Kesimpulannya, tidak ada hakim yang lebih unggul hanya karena lebih banyak bicara atau lebih nyaman dalam diam.

Tujuan mereka sama, memeriksa dan mengadili perkara seadil-adilnya. Yang membedakan hanyalah rute dalam menuju tujuan itu.

Bagi hakim, komunikasi bukan sekadar kemampuan berbicara di depan umum. Komunikasi adalah alat untuk menjelaskan proses dan hukum kepada para pencari keadilan, sekaligus alat untuk menggali informasi dari saksi dan terdakwa.

Karena itu, hakim yang baik bukan hakim yang memaksakan diri berubah menjadi ekstrovert atau berusaha tampil tenang di luar karakter aslinya.

Baca :  29 Mobil Patroli Polisi Dipasangi GPS

Hakim yang baik adalah hakim yang mampu menyesuaikan gaya komunikasinya untuk menjalankan tugas sebaik-baiknya, tanpa kehilangan kendali atas jalannya proses.

Kembali ke pembawa acara Eat Bulaga! tadi,Gaya interaktif dan penuh energi memang pas untuk panggung hiburan, tapi akan terasa janggal jika dibawa ke upacara kenegaraan.

Bukan acaranya yang harus menyesuaikan diri dengan gaya pembawa acara, melainkan pembawa acara yang harus membaca situasi di depannya.

Akhirnya, ruang sidang juga sedang menjalankan acaranya sendiri.

Hanya saja taruhannya bukan rating atau tepuk tangan penonton, melainkan nasib orang yang tengah mencari keadilan.

Di situlah letak beda paling mendasar antara panggung hiburan dan ruang sidang,Introvert atau ekstrovert hanyalah cara.

Tujuan seorang hakim tetap satu, mewujudkan peradilan yang agung.

Daftar Referensi

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2025.

Fadhilah, Hanny Nur, dan Mahandis Yoanata Thamrin.

“Memaknai Sejarah Psikologi Kepribadian Carl Jung, Introvert-Ekstrovert.

“National Geographic Indonesia, 22 Mei 2023. https://nationalgeographic.grid.id/read/133791428/memaknai-sejarah-psikologi-kepribadian-carl-jung-introvert-ekstrovert?page=all Society of Analytical Psychology. “Jung’s Model of the Psyche.

” Diakses 16 Juli 2026. https://www.thesap.org.uk/articles-on-jungian-psychology-2/carl-gustav-jung/jungs-model-psyche/

Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya.

“PSYQUICK: Stereotipe Introvert sebagai Pribadi Pendiam dan Ekstrovert sebagai Pribadi Ramah.” 13 Maret 2026.

https://psikologi.unesa.ac.id/post/psyquick-stereotipe-introvert-sebagai-pribadi-pendiam-dan-ekstrovert-sebagai-pribadi-ramah.(Surame)