BISKOM | Jakarta – PT Indonesia Digital Pos (Indoposco) bekerja sama dengan Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Jakarta menggelar Seminar Nasional bertema “Strategi Komunikasi Krisis di Lingkungan Pendidikan dalam Menghadapi Bencana Alam” di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Forum ini diselenggarakan guna merumuskan tata kelola informasi dan mitigasi risiko krisis di sektor pendidikan menyusul maraknya bencana alam serta ancaman disinformasi di tanah air.
Urgensi Mitigasi dan Data Bencana Sekolah
Direktur Utama PT Indonesia Digital Pos, Juni Armanto, menyampaikan bahwa potensi bencana di Indonesia terjadi secara berkesinambungan dan berdampak langsung pada keberlangsung dunia pendidikan.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, tercatat lebih dari 4.000 dampak bencana alam menimpa lingkungan pendidikan sepanjang tahun 2025.
Peristiwa bencana di kawasan Sumatra—seperti Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat—turut melumpuhkan aktivitas dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.
“Pendidikan adalah modal utama untuk membangun sebuah bangsa. Ketika pendidikan mengalami masalah atau kemunduran, itu akan berdampak pada perkembangan bangsa tersebut,” ujar Juni Armanto.
Ia menegaskan bahwa seminar ini menjadi langkah konkret pencegahan agar institusi pendidikan memiliki kesiapan komunikasi krisis.
Strategi Komunikasi Krisis Bencana di Lingkungan Pendidikan
Hadir via online sebagai keynote speaker, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., menyoroti bahaya bencana informasi yang kerap menyertai peristiwa bencana fisik.
Menurutnya, kepanikan publik serta rumor yang beredar cepat di media sosial sering kali lebih merusak ketimbang dampak material bencana itu sendiri.
“Bencana tidak selalu dimulai ketika bumi berguncang. Bencana sering kali dimulai ketika komunikasi berhenti bekerja,” ujar Prof. Dr. Fauzan.
Peran Perguruan Tinggi Menjaga Kepercayaan Publik
Prof. Fauzan mendorong perguruan tinggi untuk mengambil peran strategis sebagai produsen kepercayaan publik.
Menurutnya, akademisi dan mahasiswa ilmu komunikasi harus mampu mengolah data riset menjadi kebijakan konkret serta komunikasi yang menenangkan masyarakat.
“Alam memang tidak selalu bisa kita hentikan ketika membawa bencana, tetapi kepanikan selalu bisa kita cegah ketika komunikasi bekerja dengan benar,” tegas Prof. Fauzan menutup paparan.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto









