Home Blog Page 1018

Dewi Shinta Tersesat di Masa Depan

0

dewi sintaCerita pewayangan memang sering menginspirasi kehidupan manusia saat ini. Salah satunya cerita Dewi Shinta. Cerita pewayangan yang fenomenal ini juga menginspirasi salah seorang remaja bernama Wandah Kurniawan (16). Pelajar SMA Negeri 4 Malang ini mengadopsi tokoh Dewi Shinta dalam sebuah gambar. Computer Generated Imagery (CGI), salah satu kategori dalam ajang Indonesian ICT Award (INAICTA) 2009 ini menarik perhatian Wandah. Siswa asal Malang ini kemudian membuat sebuah cerita yang ia ilustrasikan dalam sebuah gambar. Cerita tersebut bertajuk ’Dewi Shinta Tersesat di Masa Depan’.

”Cerita ini berkisah tentang perjalanan Shinta yang tersesat di sebuah portal waktu masa depan. Dia (Dewi Shinta) terjebak sampai ke masa sekarang,” tutur Wandah. Kisah yang ia sampaikan lewat goresan gambar komputer ini ia garap dalam waktu tiga minggu. Cerita mendeskripsikan perjalanan Dewi Shinta yang terkejut karena melihat masa depan yang sudah sedemikian berbeda dengan masanya. Polusi menjadi salah satu aspek yang ditunjukkan dalam gambar Wandah.

Menurut Wandah, idenya ini bermula dari keidentikkan Indonesia dengan tokoh pewayangan. Namun, karyanya ini tak luput dari kekurangan. Beberapa masukan datang dari juri INAICTA 2009.  Menurutnya, beberapa ekspresi masih kurang tajam. Tapi, bagi Wandah, itu semua adalah masukan sekaligus tambahan pelajaran bagi  karyanya ke depan. ”Sebenarnya saya ingin sekali ikut lomba dan kompetisi semacam ini. Namun, informasi cukup sulit didapatkan. Ajang INAICTA kali ini cukup memberi pelajaran penting bagi saya,” ujarnya saat penjurian tahap II INAICTA 2009 di FX Style, Jakarta.

Kemampuannya menggambar ini sebenarnya telah ia tekuni sejak lama. Sejak kecil, ia sudah hobi menggambar dan sering mengikuti kompetisi menggambar. Kegemarannya tersebut ia salurkan di dunia komputer. Berkat dorongan kakaknya pula, yang notabene seorang programmer, Wandah memulai debutnya di dunia komputer. Ajang INAICTA 2009 ini adalah kompetisi kedua yang ia ikuti di bidang digital komputer.

Saat ini, Wandah ingin terfokus pada dunia pendidikannya terlebih dahulu. Setelah lulus sekolah, rencananya ia akan terus menambah kemampuannya tersebut. Harapannya, dengan mengikuti ajang INAICTA 2009, dia bisa menambah pergaulan dan pengetahuannya di bidang digital dan komputer.

Kelola SDM dengan Baik Bersama ARMES

0

armesBisnis tak hanya berkutat pada modal dan usaha, tetapi juga sumber daya manusia. SDM merupakan elemen penting dalam bisnis, namun terkadang pengelolaannya sering terlupakan oleh perusahaan. Peluang ini sengaja dibidik oleh Erlan Yolansyah dan rekan-rekanya dengan menciptakan aplikasi ARMES.

ARMES (Advance Human Resources Management System) merupakan alat bantu manajemen usaha yang dirancang untuk menyediakan solusi manajemen sumber daya manusia. Menurut Erlan, sistem SDM di Indonesia saat ini hanya dilihat dari sudut renumerasi (penggajian). Padahal proses SDM tak hanya berhenti sampai di situ, harus ada penghargaan, hukuman, pendidikan, dan pengembangan SDM.

”Seharusnya sebuah sistem SDM jauh lebih besar dan kompleks dari sekedar sistem penggajian. Seperti cara memilih calon karyawan, pengelolaan data administrasi karyawan, pengelolaan hak cuti, sampai dengan sistem imbal jasa yang berdasarkan Merit System. Dan semua proses tersebut harus terintegrasi,” ujar Erlan.

ARMES ini mulai digarap akhir 1990 an. Awalnya, mereka membangun sistem SDM yang kemudian dikembangkan dengan mengintegrasikan berbagai proses. Tak hanya proses, tetapi juga prosedur operasi ketenagakerjaan di Indonesia. Sistem ini berfokus pada perancangan arsitektur sistem yang mencakup proses bisnis, management system, dan integrasi dari logika program. Sistem operasinya mengunakan Windows, UNIX, LINUX, OS/400, dan Mainframe. Oleh karenanya, ARMES menjadi fleksibel dan mudah dikembangkan.

Erlan sendiri belum bersedia menyebutkan besar biaya pengembangan aplikasi ini. Menurutnya, investasi terbesar bukan pada uang atau modal, tetapi pada kreativitas dan waktu. ”Setiap orang lahir dengan bakat melukis atau memahat, begitu juga dalam membangun aplikasi, tidak setiap orang mampu, walaupun lulusan jurusan IT. Ada sentuhan khusus dalam membangun aplikasi,” tuturnya.

Sentuhan aplikasi buatan Erlan dan rekan-rekannya ini telah digunakan di lebih dari 30 perusahaan. Sebagian perusahaan yang memakai adalah perusahaan multinasional. Bila dilihat dari penggunanya, dapat dikatakan ARMES banyak diterima dengan baik pada perusahaan yang ‘mature’, dimana melihat karyawannya sebagai aset perusahaan yang harus dikelola dengan baik. ”Kendala utama dalam proses pembangunan ini adalah  integrasi dari semua proses yang modular. Integrasi ini harus bisa bekerja sama secara sistematik dalam memenuhi kebutuhan pemakai,” papar Erlan.

Dalam aplikasi ini, telah tersimpan semua model bisnis SDM yang berlaku di Indonesia. Bahkan, bagi perusahaan yang belum memiliki standar operasi dan prosedur inipun dapat mengakomodasi aplikasi ini. Selain itu, model yang ada, bisa dijadikan referensi oleh para konsultan bidang SDM untuk menerapkan pola bisnis SDM yang cocok untuk perusahaannya.

Saat ini, ARMES tengah bertanding dalam ajang Indonesia ICT Award 2009. Dua tahap penjurian telah dilaluinya. Sebagai finalis Inaicta 2009, Erlan dan kawan-kawannya berhara bisa bertukar pengetahuan dengan peserta lain. Selain itu, bisa meningkatkan motivasi untuk menciptakan aplikasi yang tentunya bernilai guna tinggi bagi dunia usaha di Indonesia.

Investasi TI di Tengah Hangatnya Kondisi Politik

1

editorial-1Tiap ganti pimpinan, berganti pula kebijakannya. Tiap ada hajatan demokrasi atau kondisi politik yang menghangat, berimbas pula pada iklim usaha atau investasi. Dengan terpilihnya Presiden dan Wakil Presiden yang baru, apakah kondisi industri teknologi informasi (TI) kita akan membaik atau malah sebaliknya?

Hal ini menggelitik kami menyajikan topik investasi di edisi Juli, seiring kehadiran Presiden dan Wapres RI yang baru. Kiranya hal apa saja yang bisa dijadikan catatan untuk nantinya disodorkan kepada pemimpin yang baru guna meningkatkan perkembangan dan kemajuan industri TI. Sebab kita tahu, untuk memajukan industri TI di Indonesia, tak cukup hanya didukung kebijakan pemerintah saja, tapi juga diperlukan dukungan lain seperti pendanaan keuangan untuk mencapai peningkatan dari segi investasi.

Hal aktual lainnya yang turut kami soroti belakangan ini adalah gencarnya sosialisasi  Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) oleh pemerintah. Bermunculannya kasus yang diduga melanggar UU yang kontroversial itu membuktikan bahwa sebagai negara hukum, Indonesia belum  sempurna benar dalam hal penegakan hukum.

Kisah Prita Mulyasari dan Iwan Pilliang beberapa waktu lalu misalnya, dinilai sebagai korban dari kebijakan dan perundang-undangan yang menakutkan dan membungkam kebebasan berpendapat. Kisah Prita memberikan pelajaran berharga sekaligus cermin bagaimana negeri ini mengelola layanan publik. Bahwa layanan kesehatan yang baik, murah, terjangkau bagi masyarakat, masih menjadi “utang” pemerintah yang belum terbayarkan.

Lantas tidak bolehkah kita mempertanyakan layanan yang mengecewakan baik dari institusi pemerintah maupun swasta? Dengan tanpa mengesampingkan negara ini negara hukum, tidak tergerakkah pemerintah kita untuk lebih bijak dan menggunakan hati nurani, saat menghadapi rakyat biasa yang menyampaikan kekecewaannya?
Semoga melalui pemaparan dan apa yang disuarakan masyarakat TI terkait kasus-kasus yang tersandung UU-ITE beberapa waktu lalu, membawa angin segar bagi proses demokratisasi di negara ini. Semoga para pemimpin kita yang baru terpilih Juli ini membawa bangsa Indonesia lebih baik hingga lima tahun ke depan dan seterusnya. Selamat membaca.

Salam,
Redaksi

Majalah BISKOM Edisi Juli 2009

0

Majalah BISKOM kali ini menampilkan Presiden Direktur Mobile-8, Merza Fachys (Terima kasih kepada PT. Mobile-8 Tbk  yang turut mendukung Majalah BISKOM). Dalam kesempatan ini, kami sekaligus menawarkan kepada seluruh pembaca untuk bekerjasama saling menguntungkan dengan Majalah BISKOM, baik berupa pengiriman artikel TI, mengadakan seminar, workshop dan pameran serta kegiatan-kegiatan lainnya yang berkaitan dengan dunia TI.

Topik menarik Majalah BISKOM Edisi Juli 2009 diantaranya:

• COVER STORY: Merza Fachys, Presiden Direktur Mobile-8, “Telekomunikasi, Investasi Jangka Panjang”

• FIGURE:
– Koordinator Pelaksana ICT Watch, Donny BU, Internet Sehat Diakui Internasional
– Kepala Divisi Pengaduan dan Hukum YLKI, Sularsi, Internet Negatif Bukan Pornografi Semata
– Head of IT Marketing PT LGEIN, Albert Susilo, Krisis Global, LG Tak Merevisi Target
– Rektor Unikom, Eddy Soeryanto Soegoto, Smart Community of The Champions
– Pemenang Lomba Jingle Internet Sehat, Adistya Rian Pratama, Raih Dunia Dengan Internet
– Pemenang Lomba Logo Internet Sehat, Iregha Kadireja,  Konten Negatif Bisa Merusak Moral

• HEADLINE: Pacu Daya Saing Dengan Investasi TI

• FOCUS:
– Investasi TI Dorong Pertumbuhan Ekonomi
– Membangun Nation Branding, Kembangkan Ekonomi Kreatif
– Memulai e-Office 5
– 2015, WSIS Bangun Masyarakat Informasi
– SIAK Untuk e-Voting Pemilu
– Wajib Set Top Box Untuk Siaran Digital

• BROWSING:
– Ilmuwan Rancang Software Anti Jet Lag
– Dell Raih Untung Berkat Twitter
– Mozilla Umumkan Kelebihan Firefox 3.5 RC2
– Michael Jackson Bintang Game Dance
– Nokia Segera Pasarkan Netbook

• INSPIRATION:

– Muhamad Jafar Elly : Menanti Presiden Yang Peduli TI
– Dirgayuza Setiawan : “Revolusi Twitter” di Iran
– Bob Julius Onggo : FACEBOOK – Bakal Punahkah?
– Prakoso Bhairawa Putera S. : DMO, Paradigma Baru E-Tourism
– Cicilia Lusiani : Daftar Sekolah Lewat Sistem RTO

• REVIEW & CELLULAR:

– Samsung Jet
– Motorola Motosurf A3100
– Sony Ericsson W395
– Eee Videophone Touch
– Toshiba Satellite M500
– TDK Life on Record
– Canon Legria 27

Dapatkan Majalah BISKOM di Toko Buku Gramedia dan Gunung Agung atau berlangganan melalui Bagian Sirkulasi Majalah BISKOM. Untuk review, ujicoba, update harga produk dan kegiatan perusahaan Anda, hubungi redaksi[at]biskom.web.id

Mobile-8 Dukung Pilpres 2009

0

img_0073 ResSetelah sukses ikut menyelenggarakan pelaksanaan perhitungan cepat (quick count) pemilihan anggota legislatif bulan April 2009, PT Mobile-8 Telecom Tbk (Mobile-8) kembali menyiapkan infrastruktur layanan data untuk hasil quick count PILPRES 2009 yang diselenggarakan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) dan akan disiarkan langsung oleh RCTI.

“Diharapkan dengan kehandalan teknologi dan layanan telekomunikasi akses data yang dimiliki oleh Mobile-8 akan dapat mendukung pesta demokrasi bangsa Indonesia. Melalui acara ini kami mengharapkan dapat membantu memberikan gambaran hasil pemilu presiden melalui perhitungan secara cepat yang hasilnya akan ditampilkan secara realtime kepada masyarakat dengan menggunakan layanan akses data untuk menghubungkan server LP3ES dengan server RCTI” ujar Lukas A. Heryanto, Direktur Teknik PT Mobile-8 Telecom Tbk.

Ditambahkan oleh Lukas A. Heryanto, “Selain itu Mobile-8 juga ikut secara aktif mengirimkan pesan singkat (SMS) untuk mengajak para pelanggannya untuk berpartisipasi di acara pesta demokrasi ini dengan menggunakan hak pilihnya pada tanggal 8 Juli 2009 besok. Kerjasama ini merupakan tanggung jawab bersama antar ketiga perusahaan yang ditanggapi secara serius, sehingga menjadi komitmen untuk selalu mendukung proses demokrasi bangsa Indonesia”.

Dalam kerjasama ini, Direktur LP3ES, Suhardi Suryadi, mengatakan bahwa tantangan bagi lembaga penyelenggara quick count adalah bagaimana ribuan relawan yang tersebar di seluruh Indonesia dapat mengkomunikasikan data hasil pemantauan secara cepat dan aman, sehingga secara keseluruhan prediksi hasil secara nasional juga dapat disajikan secara cepat dan akurat. “Untuk itulah keberadaan Mobile-8 sebagai selular provider sangat membantu proses quick count LP3ES.” Dengan dukungan Mobile-8, LP3ES berharap proses pemantauan dan penghitungan hasil Pemilu Presiden dapat disampaikan secara cepat, tepat dan akurat; sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap pelaksanaan Pemilu yang jujur, adil dan transparan.

“Data hasil quick count kami rencana akan diumumkan paling lambat pada pukul 16.00 WIB atau tiga jam setelah TPS ditutup,” lanjut Suhardi.

Selain itu, Arief Suditomo selaku Pemimpin Redaksi RCTI mengatakan, “Ini adalah kerjasama yang melambangkan gabungan berbagai kekuatan seperti pengalaman, integritas, infrastruktur dan tenaga kerja berkualitas. Kombinasi inilah yang akan kami dedikasikan kepada publik Indonesia, bukan hanya sekedar menyajikan yang tercepat dan eksklusif tetapi juga untuk pendidikan politik bangsa ini”.

Pelaksanaan quick count bertujuan untuk memprediksi perolehan hasil suara pemilu yang disertai survei preferensi pemilih untuk menganalisis pola dan pergeseran pilihan pemilih. Setiap kegiatan didasarkan pada data yang diperoleh dari TPS yang dipilih secara acak yang tersebar di seluruh Indonesia. Berdasarkan pengalaman yang dimiliki LP3ES saat Pemilu Legistatif 2009 kemarin membuktikan dapat diumumkannya hasil quick count  dengan tingkat akurasi yang cukup tinggi.

Boediono: Teknologi Mempersatukan Kebhinekaan

0

boediono-resizeKehadiran teknologi informasi tak pelak membuat para calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) lebih dekat dengan para pendukungnya. Tak terkecuali Boediono yang menjadi cawapres dari capres, Susilo Bambang Yudhoyono.

Boediono beberapa waktu lalu membangun blog http://boedionomendengar.com/ yang sesuai namanya, diharapkan bisa menjadi sarana bagi cawapres untuk mendengar aspirasi rakyat Indonesia.

Selain blog, Boediono juga memanfaatkan layanan microblogging Twitter. Berbeda dengan aplikasi  internet lainnya, Twitter lebih unggul karena menawarkan informasi teraktual. Apalagi  account tweet@boediono dikendalikan langsung oleh Boediono, maka berbagai tweet-nya terasa berkepribadian dan menawarkan insider perspective ke kehidupan sang cawapres.

Sebagai mantan guru, banyak pihak menilai Boediono memiliki karakter Timur yang asli. Kesan ini makin terasa ketika Boediono menghadiri acara “Dialog Dengan Cawapres Boediono” yang diselenggarakan oleh perhimpunan  Indonesia Tionghoa (INTI) di Sun City Grand Ballroom, Jakarta (24/6).

boediono-hoky-resizeBoediono mengatakan, “Indonesia memiliki keaneka ragaman budaya. Dengan menghayati kebhinekaan, maka kita akan bisa memperkokoh persatuan.”  Dikaitkan dengan teknologi, lanjutnya, tentunya kebhinekaan bisa semakin mudah dipersatukan.

Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan INTI, Rahman Hakim mengatakan, “Keaneka ragaman adalah  modal dasar yang nantinya bisa terus kita kembangkan untuk membangun negara dan bangsa yang modern, kokoh, bersatu, adil, makmur dan bermartabat,” ujarnya. Karenanya, Rahman Hakim mengajak seluruh keluarga besar INTI untuk berkontribusi secara optimal sesuai keahlian masing-masing.

Hadir dalam acara tersebut antara lain Murdaya Widyawimarta Poo (Anggota DPR RI),  Cristianto Wibisono (Pengamat Ekonomi Pusat Data Bisnis Indonesia) dan Soegiharto Santoso, (Pimpinan Umum Biskom).

Pemenang Lomba Jingle Internet Sehat: Adistya Rian Pratama – Raih Dunia Dengan Internet

0

figur1Hey generasi muda, tunjukkan kreatifmu. Membuka jendela dunia tanpa batas, untuk semua.  Internet sehat menambah ilmu kita, wawasan luas bermakna.  Internet sehat semua jadi dekat, menuju keajaiban dunia. Membuka, melihat, membawa… Gunakan internet untuk kita meraih dunia.

Kalimat tersebut merupakan lirik jingle berjudul “Internet Sehat Meraih Dunia” yang berhasil meraih juara pertama dalam lomba Jingle yang diadakan oleh Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) pada bulan lalu. Jingle yang diaransemen dengan peralatan musik yang lengkap ini adalah karya pemuda kelahiran 23 Maret 1985 bernama Adistya Rian Pratama. Melalui lirik ini diharapkan, generasi muda tergugah untuk mulai mengakses konten-konten positif yang berguna bagi pengembangan kreatifitas mereka.

Adistya yang masih kuliah di Universitas Gajah Mada Yogyakarta menga­takan, “Sebagai generasi muda yang berakal dan memiliki amanat untuk memajukan bangsa, kita berkewajiban menggunakan internet secara bijak. Bukan itu saja, kalau bisa kita harus mencoba memperkaya konten dengan karya-karya orisinil yang positif.” Simak petikan wawancara BISKOM dengan Adistya yang telah meraih hadiah sebesar Rp. 15 juta plus sebuah handset dari keikutsertaannya dalam lomba tersebut.

Siapa saja yang terlibat dalam pembuatan jingle “Internet Sehat Meraih Dunia”, dan apa makna yang terkandung dalam jingle tersebut?
Saya dibantu beberapa teman dalam memainkan instrumen musik, karenanya jingle tersebut terdengar lengkap dan hidup karena ini adalah hasil kerja sama dengan teman-teman.  Sedangkan makna jingle itu adalah mengajak masyarakat untuk menggunakan dan memanfaatkan internet dengan sebaik-baiknya, karena dengan internet, banyak sekali menfaat dan keuntungan yang bisa kita peroleh. Singkatnya, apapun yang ingin kita ketahui, sudah tersedia di internet.

Sebagai seorang juara, apakah Anda tergugah untuk turut mengkampanyekan program Internet Sehat di lingkungan Anda? Dengan cara apa?
Tergugah sekali, dan terus terang kompetisi ini menginspirasi saya untuk berbuat lebih terhadap perkembangan internet. Cara paling sederhana yang akan saya lakukan  adalah dengan merubah kebiasaan dalam mengakses konten internet, kemudian menular­kannya ke teman-teman dan lingkunagn terdekat. Syukur-syukur dalam waktu dekat, saya akan mencoba membuat blog yang isinya seputar musik yang menjadi hobi saya.

Apakah Anda bisa melihat penggunaan internet yang tidak sehat di lingkungan Anda? Seperti apa contohnya?
Yang terbanyak adalah hacker, teror email, atau yang paling marak adalah akses ke situs-situs porno dan kekerasan.

Sebagai seorang pelajar, menurut Anda apakah program Internet Sehat merupakan langkah yang tepat untuk menyelamatkan generasi muda dari kerusakan?
Program Internet Sehat memang bagus, tapi itu  semua kembali lagi kepada kemauan masyarakat untuk memahami pentingnya konten-konten yang positif dan berguna. Untuk itu menurut saya, program ini tidak cukup hanya sekedar diperkenalkan, tetapi harus disosialisasikan secara terus-menerus dan didukung oleh semua pihak termasuk media dan swasta.

Apa yang kamu harapkan dari jingle tersebut?
Harapan saya yang paling besar adalah jingle Internet Sehat dapat mewakili dan menyampaikan seluruh pesan yang terkandung dalam program Internet Sehat kepada seluruh masyarakat. Mungkin hal itu juga bisa dilakukan dengan menjadikan jingle ini sebagai ringback tone atau nada dering agar bisa menggugah lebih banyak orang untuk menggunakan internet secara sehat. Sesuai jingle saya, marilah kita raih dan taklukan dunia melalui akses internet seluas-luasnya

01-internet-sehat-meraih-dunia-adistya

Pemenang Lomba Logo Internet Sehat: Iregha Kadireja – Konten Negatif Bisa Merusak Moral

1

figure-2Banyak orang tua khawatir dan bertanya-tanya apa yang diakses oleh anaknya ketika berselancar di internet. Apakah sesuatu yang baik atau malah situs-situs yang mampu merusak moral. Kekhawatiran ini pula yang sekarang hinggap di benak para pembuat kebijakan di Indonesia. Karenanya, Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo mensosialisasikan program Internet Sehat. Program yang  didukung Masyarakat Industri Kreatif TIK Indonesia (MIKTI) ini dilaksanakan untuk membangun budaya dan perilaku penggunaan internet secara sehat dan aman. Sebagai langkah awal mensosialisasikan Internet Sehat kepada generasi muda, Depkominfo mengadakan lomba Pembuatan Logo dan Maskot Internet Sehat yang terbuka untuk umum.

Lomba ini berhasil dimenangi oleh Iregha Kadireja Maulana Putra, seorang desainer grafis dari kota Depok. “Logo dan maskot yang saya ciptakan berjudul Bola Dunia / Dokter dan Detektif. Panitia berpendapat, logo dan maskot saya mudah diingat dan bersahabat, sehingga sesuai dengan semangat kampanye Internet Sehat,” kata Iregha yang kelahiran Bandung 23 Maret 1984 ini.

Apa filosofi  dibalik logo dan maskot Bola Dunia / Dokter dan Detektif?
Dalam maskot tersebut, saya menggunakan tokoh seorang ibu dokter bernama Ines (Internet Sehat) dan Iman (Internet Aman). Ibu dokter diartikan bertanggung jawab dalam masalah kesehatan, sedangkan detektif dikaitkan dengan kemanan. Secara subjektif, pemilihan sosok manusia dimaksudkan agar terlihat lebih masuk akal, dibandingkan memilih maskot yang menggunakan item-item komputer dan teknologi. Logo dan mascot tersebut bernuansa biru dan hijau. Warna biru berarti kepercayaan, keamanan, teknologi dan komunikasi, sedangkan warna hijau menggambarkan kondisi yang sehat dan sejuk.

Anda sendiri secara pribadi mendukung program Internet Sehat?

Sebenernya program semacam ini sudah lama saya lakukan, meski baru sebatas lingkungan kecil.. Dulu saya pernah membuat blog yang isinya semacam direktori yang berisi link-link berkualitas yang ada di internet, dan dalam waktu dekat saya akan mengupdate blog saya.

Konsep dasar blog saya sangat sederhana. Saya melihat para pengguna internet tidak tahu ingin melakukan apa dengan internet. Untuk itu terciptalah konsep untuk membuat blog ini, yaitu mengumpulkan daftar link-link yang sekiranya dibutuhkan dan berkualitas dengan disertai penjelasannya masing-masing.

01Apakah di lingkungan Anda banyak orang yang menggunakan internet untuk hal-hal tidak bermanfaat? Seperti apa misalnya?
Ya, seperti mengakses situs porno atau mendownload film-film porno. Coba saja bayangkan berapa lama waktu untuk mendownload film 100Mb? Bukankah itu pemborosan waktu? Sebenarnya mungkin situs-situs semacam itu ada gunanya, tapi kalau diakses secara berlebihan, jadi malah merusak moral. Termasuk Facebook pun, kalau sampai mengganggu kerja dan belajar, itu menjadi tidak sehat.

Sejauh mana Anda tahu tentang program Internet Sehat?
Sejauh ini saya belum terlalu dalam mengetahui apa rencana yang akan dijalankan dari program Internet Sehat ini. Setau saya, mereka menyiapkan sebuah software yang dapat membatasi penggunaan komputer dan internet sesuai dengan kebutuhan pemakainya. Seperti bagi anak-anak, waktu penggunaan komputer bisa diatur sesuai keinginan orang tua. Selain itu, konten yang bisa diakses sesuai usia anak-anak bisa diatur dengan software tertentu.

Apa yang Anda harapkan dari logo dan maskot ciptaan Anda?
Saya harap maskot tersebut dapat mengkomunikasikan program Internet Sehat ini dengan baik. Namun lebih dari itu, ajang kompetisi seperyi ini adalah cara yang baik untuk menggali kreatifitas anak muda. Dan yang menarik, panitia menyediakan award yang pantas untuk para pemenang.

7 Tahun Silam, Kini Internet Sehat Rakyat Diakui Internasional

2

internetsehat-dalamPengakuan dan pujian diberikan oleh sejumlah peneliti dan aktifis bidang ICT (Information and Communication Technology) sesaat ketika saya usai memaparkan presentasi tentang penelitian perkembangan pemanfaatan media baru (Internet) dan kaitannya dengan kebebasan berekspresi di Indonesia. Salah satu poin yang saya paparkan adalah gerakan advokasi Internet Sehat versi rakyat (www.internetsehat.org) yang pro pada kebebasan berekspresi di Internet secara aman dan bijak, dengan pendekatan self-censorship dan pemberdayaan masyarakat.

Pengakuan dari internasional tersebut terjadi belum lama berselang, ketika saya mengikuti workshop khusus bagi para peneliti dan aktifis ICT se-Asia dalam lingkup OpenNet Initiative (http://en.wikipedia.org/wiki/OpenNet_Initiative) di Wawasan Open University, Penang, Malaysia, pada Senin (15/5/2009) hingga Rabu (17/6/2009). Ini adalah workshop putaran yang ketiga, setelah  pada pertengahan tahun lalu putaran keduanya juga saya ikuti di Chiang Mai, Thailand.

Khusus pada putaran ketiga ini, Indonesian ICT for Partnership (ICT Watch) bersinergi dengan dunia akademis dengan mengundang Akbar Marwan dari Universitas Gunadarma (http://www.gunadarma.ac.id) yang turut aktif berperan menyuarakan kepentingan dan keberhasilan Indonesia dalam workshop tersebut.

Menurut para wakil dari negara sahabat tersebut, program Internet Sehat versi rakyat tersebut adalah contoh yang unik dan inspiratif tentang bagaimana program advokasi kepada publik dilakukan dengan menggunakan sejumlah media baru (facebook, blog, crowdvine) digabungkan dengan kegiatan-kegiatan offline seperti workshop dan seminar, dan juga dilengkapi dengan ketersediaan booklet panduan dalam bentuk hardcopy maupun softcopy, merchandise hingga lomba blog sehat untuk meningkatkan awareness publik.

Blessing in disguise, Indonesia mendapatkan jadwal sesi paling akhir bersama Filipina, pada hari terakhir, setelah dua hari sebelumnya sejumlah peneliti dari negara lain di Asia memaparkan presentasinya. “Your presentation is the most interesting one so far,” demikian  pujian yang disampaikan oleh India.

Usai presentasi, sejumlah peneliti langsung meminta dikirimkan via e-mail materi presentasi Indonesia tersebut. “Saya akan coba kembangkan cara-caranya menjalankan advokasi (ala Internet Sehat) di negara saya,” cetus salah satu wakil dari negara lain.

Workshop OpenNet Initiative itu sendiri dihadiri oleh peneliti dan aktivis ICT dari Universitas Toronto Kanada, Sekolah Hukum Harvard Amerika, Universitas Oxford Inggris dan Universitas Cambridge Inggris. Keempat perguruan tinggi kenamaan tersebut adalah penggagas kegiatan OpenNet Initiative yang didanai oleh negara Kanada melalui lembaga International Development Research Centre (IDRC).

Tujuh Tahun

Pada tulisan ini sengaja saya tekankan kata “rakyat” hanyalah sekedar untuk memberikan garis tegas yang membedakan program advokasi Internet Sehat yang berbasiskan pemberdayaan masyarakat dengan program dengan nama sejenis yang kini mulai marak digulirkan baik oleh swasta maupun pemerintah. Pasalnya, kini mulai banyak yang bertanya, apa bedanya Internet Sehat yang satu dengan yang lainnya.

Sekedar menyampaikan catatan sejarah, istilah Internet Sehat pada awalnya saya cetuskan pada sekitar 7 tahun silam, tepatnya pada 2002. Salah satu kegiatan awal memperkenalkan program Internet Sehat ke publik secara luas adalah pada 29 April 2002, dengan meluncurkan situs resmi dan brosur hardcopy Internet Sehat edisi perdana (baca: http://www.mail-archive.com/komunitas@sekolah2000.org/msg00703.html).

Bahkan sebulan sebelum peluncuruan tersebut, ICT Watch telah memulai gerakan ber-Internet Sehat dengan bentuk advokasi offline kepada Majelis Ulama Indonesia pada 13 Maret 2002 (baca: http://www.mail-archive.com/komunitas@sekolah2000.org/msg00563.html). Sebelumnya, pada 10 Maret 2002, untuk kali pertama saya meluncurkan draft ide/gagasan tentang 5 (lima) langkah program advokasi Internet Sehat (baca: http://www.mail-archive.com/komunitas@sekolah2000.org/msg00552.html).

Dari arsip diskusi di atas, dapatlah menjadi gambaran bagaimana sebenarnya visi-misi dari program advokasi Internet Sehat versi rakyat yang pertama kali dicanangkan dan dijalankan oleh ICT Watch sejak 2002 silam. Jelas bahwa program advokasi Internet Sehat yang diusung oleh ICT Watch adalah “mengedepankan kebebasan berekspresi di Internet secara aman (safely) dan bijak (wisely), dengan pendekatan self-censorship dan pemberdayaan masyarakat”.

Bottom-Up

Jadi ketika ada program atau kegiatan yang mengusung nama Internet Sehat” tetapi pendekatannya adalah mutlak melulu soal filtering total di level ISP atau bersifat top-down (perintah/kewajiban), atau sekedar membuat acara/program seremonial belaka, maka sudah jelas program atau kegiatan tersebut “mendurhakai” atau “menciderai” semangat awal Internet Sehat tahun 2002. Atau setidaknya, dapat dkatakan bahwa program atau kegiatan tersebut bukanlah Internet Sehat dengan pendekatan bottom-up yang merakyat.

Ini bukan berarti ICT Watch ingin mengklaim sepenuhnya gerakan advokasi Internet Sehat. Justru sebaliknya, ICT Watch tidak ingin Internet Sehat diklaim oleh segelintir orang atau golongan saja sebagai hasil karyanya atau keberhasilannya. Sebab tanpa adanya semangat dan partisipasi dari masyarakat luas, program Internet Sehat hanyalah slogan semata sejak 2002 silam. Dalam kegiatannya, khususnya Internet Sehat, ICT Watch selalu melibatkan sebanyak mungkin pihak-pihak terkait, entah itu dari pemerintah, swasta ataupun masyarakat sendiri.

ICT Watch sendiri sudah menganggap bahwa istilah Internet Sehat sudah cukup popular di masyarakat dan sudah saatnya menjadi public domain. Keberhasilan atas awareness yang dibangun sejak 7 tahun silam tersebut tentu lantaran peran aktif seluruh pemangku kepentingan (stakeholders).

Setelah Internet Sehat kini menjadi populer dan dikenal cukup luas, maka peran ICT Watch berikutnya adalah menjaga agar kemurnian semangat (spirit) dan jiwa (soul) Internet Sehat tetap tegak terjaga sebagaimana dilahirkan 7 tahun lalu, dengan meminimalisir kemungkinan di-“manfaatkan” atau disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu. Salah satu penyalahgunaan tersebut misalnya untuk keperluan sekedar mendapatkan proyek ini-itu berkedok sosialisasi, untuk kepentingan pribadi atau segelintir kelompok tertentu, dengan seolah-olah peduli dan paham semangat mendasar dari Internet Sehat.

Dilindungi
Untuk menjaga kemurnian Internet Sehat itulah, maka ICT Watch sebagai pencetus awal nama, konsep dan ide Internet Sehat,  telah mendaftarkan secara resmi hak cipta dan hak paten atas penggunaan “Internet Sehat” ke Direktorat Jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual (Ditjen HaKI). Meskipun demikian, untuk berbagai bentuk penggunaan kata, istilah ataupun konten Internet Sehat bagi kegiatan sosialiasi dan advokasi oleh siapapun, ICT Watch akan menggunakan pendekatan “Creative Common License” (baca: http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0), dengan lisensi Rp 0,- (nol rupiah), alias tidak berbayar sepeserpun untuk lisensi penggunaannya.

Intinya, kata, istilah maupun konten Internet Sehat dapat digunakan oleh siapapun secara luas tanpa terkecuali asalkan: 1). tetap menyebutkan sumber asalnya (ICT Watch) secara jelas dan proporsinal dalam setiap penggunaan, serta 2). setiap penggunaan harus tetap mengacu pada semangat dan jiwa Internet Sehat yang dicanangkan pada 2002. Jika salah satu atau kedua hal tersebut tidak dipenuhi syaratnya, maka Creative Common License tadi tidak dapat diberlakukan. Pastinya hak atas kekayaan intelektual atas “Internet Sehat” dilindungi oleh undang-undang.

Posisi dan sikap ICT Watch atas Internet Sehat tersebut di atas sudah didiskusikan langsung kepada Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), sebagai salah satu pihak yang juga menggulirkan program dengan nama serupa, “Internet Sehat” berlandaskan pada SK Menkominfo No. 28/KEP/M/Kominfo/1/2009 tentang Tim Sosialisasi Internet Sehat.

Risalah diskusi antara ICT Watch dan pihak Depkominfo tersebut dapat dibaca di http://ictwatch.com/internetsehat/2009/02/16/internet-sehat-antara-ict-watch-dan-depkominfo-notulen-diskusi.

Relawan Sehat
Jadi, kini tak perlu ragu lagi untuk menggunakan ataupun menjalankan program Internet Sehat secara swadaya masyarakat. Seluruh konten Internet Sehat dapat diunduh di http://ictwatch.com/internetsehat/download-materi-internet-sehat dan silakan digunakan sesuai dengan semangat Internet Sehat 2002 silam, yakni: “mengedepankan kebebasan berekspresi di Internet secara aman (safely) dan bijak (wisely), dengan pendekatan self-censorship dan pemberdayaan masyarakat”.

Untuk mendukung kegiatan Internet Sehat tersebut, kini ICT Watch tengah membangun “Lab Komputer Sehat”, lagi-lagi dengan mengedepankan semangat dari-oleh-untuk masyarakat. Pembangunan Lab Sehat ini juga menjadi salah satu poin yang saya presentasikan di Penang.

Lab tersebut diberi nama Lab Komputer Sehat, karena:

* Sehat sistem operasi dan aplikasinya, karena menggunakan sistem operasi ataupun piranti lunak yang legal (bukan bajakan)
* Sehat (rencana) program pelatihannya, karena diharapkan materinya mendorong kebebasan berekspresi yang aman dan nyaman di Internet
* Sehat semangatnya, karena didorong pada keinginan untuk berbagi pengetahuan yang aplikatif secara non-profit dari-oleh-bagi masyarakat

Jika sudah berjalan, sejumlah kegiatan-kegiatan nantinya akan mengusung tema “Open Community for Open Knowledge”, melibatkan siapapun yang ingin menjadi relawan “sehat” (pengajar, pengembang program/komunitas, dll), sponsor ataupun aneka bentuk dukungan lainnya. Jika ingin lebih tahu tentang lab tersebut atau ingin turut berpartisipasi dalam mengembangkannya melalui berbagai jenis pemikiran dan karya, silakan baca informasinya di http://ictwatch.com/internetsehat/2009/04/01/pembangunan-lab-komputer-sehat.

Untuk itu, segeralah bergabung dengan komunitas Internet Sehat di Facebook (http://www.facebook.com/group.php?gid=51509636319) ataupun di CrowdVine (http://internetsehat.crowdvine.com), dan kumandangkan semangat “wise while online, think before you posting!”.

*) Donny B.U. adalah penggiat Internet Sehat. Dapat dihubungi melalui blognya di http://www.donnybu.com

Keterangan foto:
– Atas: Sejumlah brosur dan booklet Internet Sehat dari masa ke masa, dari edisi 2002 (kiri atas) hingga edisi 2008 (tengah bawah)
– Tengah: Mahasiswa D3 Teknik Komputer Universitas Gunadarma sedang menyiapkan komputer layak pakai sumbangan PT Petrosea Tbk. di garasi ICT Watch untuk Lab Komputer Sehat
– Bawah: Salah satu acara talkshow Internet Sehat didukung oleh Majalah Biskom, XL-CSR dan detikINET menghadirkan Onno Purbo (Pakar Internet), Febriati Nadira (XL) dan Lola Amaria (Pekerja Seni dan Film)

Advan & Mobile-8 Luncurkan Vanbook-Mobi

0

Fren AdvanVendor komputer Advan bersama mobile-8 Telecom, operator layanan CDMA, meluncurkan Paket Bundling Vanbook-Mobi di Festival Komputer Indonesia 2009. Program ini merupakan wujud apresiasi dan bakti Advan untuk Indonesia, khususnya kepada generasi penerus bangsa, agar dapat memperoleh informasi tanpa batas, tanpa adanya keterbatasan.

Teddy Tjan, Marketing Director PT. Intech Surya Abadi sebagai distributor Advan mengatakan, “Program Vanbook dengan Mobi ini menunjukkan niat baik dari kedua brand untuk memberikan penawaran dan layanan terbaik bagi konsumen, dimana baik konsumen Advan maupun Mobile 8 akan dapat merasakan kualitas kecepatan akses produk Mobi, namun juga menikmati penawaran terbaik dari Advan, dengan harga yang sangat terjangkau.”

Sementara Pahala Sinaga, Division Head of EVDO Product Marketing PT. Mobile-8 Telecom mengatakan, “Mobi adalah layanan Internet 3.5G (EVDO CDMA) termurah di Indonesia. Cocok digunakan oleh kalangan pelajar dan Mahasiswa maupun eksekutif. Program ini benar-benar menawarkan kegembiraan lain bagi konsumen Advan maupun Mobile 8.”

Dedi Irawan, Project Leader data Solution PT. Mobile-8 Telecom menambahkan,  persamaan visi antara Advan dan Mobi telah membuahkan kerjasama antara Advan dan Mobi. “Dengan program bundling ini harapan kami pengguna internet yang termasuk dalam kategori new entry ataupun konsumen kelas midle low, dapat mengakses internet tanpa dibebani dengan harga yang mahal,” katanya.

Untuk dapat menikmati program ini, konsumen hanya perlu membeli Vanbook seharga Rp 3.899.000, langsung mendapatkan bonus Modem Mobi (Mobile Broadband Internet) berisi pulsa 50.000 plus 1 Gb data yang setara dengan pulsa Rp.100.000.