Home Blog Page 865

KPK Gelar Serangkaian Acara Peringati Hari Anti Korupsi Sedunia

0

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar peringatan hari anti korupsi sedunia (Hakordia) pada 4-5 Desember 2018 di Hotel Bidakara, Jakarta. Presiden Jokowi turut hadir dan membuka Hakordia 2018 ini. Dalam kesempatan tersebut, Jokowi menegaskan bahwa upaya pemberantasan korupsi harus menjadi gerakan bersama yang dilakukan oleh KPK, pemerintah dan masyarakat. “Selamat hari anti korupsi sedunia. Gerakan ini harus menjadi sebuah gerakan bangsa, gerakan kita bersama-sama. Baik yang dilakukan institusi negara, ‘civil society’, maupun masyarakat luas,” kata Presiden Jokowi.

Hakordia diisi dengan berbagai rangkaian acara yakni Konferensi Nasional Pemberantasan Korupsi (KNPK) yang mengusung tema “Mewujudkan Sistem Integritas Partai Politik Indonesia”. Tema tersebut diangkat dalam rangka mewujudkan pesta demokrasi yang berintegritas melalui pelaksanaan Pemilu Presiden dan Legislatif serentak tahun 2019. “Dalam acara ini, ketua dan pimpinan partai politik akan berjanji dan berkomitmen demi kebaikan Indonesia,” ungkap Ketua KPK, Agus Rahardjo.

Konferensi Nasional ini menghadirkan pembicara Ketua KPK Agus Raharjo, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo dan Menteri dalam Negeri Tjahjo Kumolo. Selain itu, hadir pula ketua umum/sekjen dari 16 partai politik peserta pemilu 2019 yang menandatangani komitmen implementasi sistem integritas di partai politik.

Kemudian juga digelar International Business Integrity Conference (IBIC) yang mengundang juga para pelaku usaha di negeri ini. Konferensi tahunan ini menampilkan diskusi tentang bagaimana program kepatuhan internal, inisiatif antikorupsi, dan langkah-langkah integritas lainnya yang dapat melindungi aset dan reputasi perusahaan. IBIC terbagi ke dalam beberapa sesi yang menyuguhkan tema-tema menarik seputar dunia usaha, yakni Political Donation and Funding: How The Business Deal with it?”, “Anticorruption Measurement in Business (CPI, Survey Transparency in Corporate Reporting, Lesson Learned)”, “Anticorruption Guideline for Business: From Voluntary to Mandatory”, Improving of Ease of Doing Business Through Public Engagement”, Digital Start-up Contribution to Build Public Integrity”, dan “Improving Indonesia’s Investment Climate Through Beneficial Ownership Transparency”.

Selain itu, KPK juga meluncurkan buku “Panduan Pencegahan Korupsi untuk Dunia Usaha”. Panduan ini dirancang bersifat sederhana dan praktis sehingga dapat menjadi acuan dan pedoman minimum bagi korporasi yang dapat diadopsi serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan korporasi. Buku ini diharapkan dapat mendorong berjalannya upaya pencegahan korupsi di sektor swasta sehingga tercipta iklim usaha yang berintegritas, adil, dan berdaya saing tinggi.

Disampaikan oleh Wakil Ketua KPK Laode M Syarief bahwa pentingnya buku tersebut diluncurkan karena dunia usaha atau korporasi sekarang ini banyak digunakan untuk menyembunyikan hasil korupsi.

“Banyak sekali korporasi digunakan untuk menyembunyikan hasil korupsi, Sebagai contoh dua terpidana korupsi yang diduga menggunakan korporasi untuk menyembunyikan hasil korupsinya adalah Nazaruddin dan Akil Mochtar, bahkan Nazaruddin itu sempat membuat 38 korporasi untuk menyembunyikan kasus korupsinya, termasuk Akil Mochtar juga banyak menyembunyikannya dalam bentuk perusahaan,” ungkapnya.

Atas banyaknya korporasi yang digunakan sebagai alat untuk menampung dana hasil korupsi, maka KPK telah melakukan penindakan terhadap beberapa korporsi dan salah satu diantaranya telah memasuki tahap penuntutan.

Oleh karena itu Laode berharap dengan diluncurkannya buku tersebut, maka perusahan-perusahaan nantinya tidak lagi masuk dalam lingkaran tindak pidana korupsi.

“Buku tersebut akan menjadi Panduan dan tidak hanya diambil alih sebagai program pencegahan tapi juga dilaksanakan.” ungkapnya.

Seperti pada tahun lalu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional atau APTIKNAS Soegiharto Santoso alias Hoky hadir memenuhi undangan dari KPK dan sangat mendukung program pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh KPK.

Dalam kesempatan tersebut, Hoky yang didampingi oleh Vincent Suriadinata SH selaku Kabid Hukum DPD APTIKNAS DKI Jakarta menyatakan; “Buku Panduan Pencegahan Korupsi untuk Dunia Usaha ini sangat berguna bagi korporasi untuk terhindar ataupun mencegah terjadinya kasus-kasus korupsi yang mungkin awalnya tidak disadari, tentu saja lebih baik mencegah dari pada kita terjerumus kedalam kasus korupsi, saya pribadi sangat mengapresiasi pihak KPK atas peluncuran buku tersebut” ucapnya.

Beberapa agenda lain yang dilaksanakan sebagai rangkaian Hakordia 2018 adalah lelang barang rampasan negara dan gratifikasi, talkshow “Saya, Perempuan Antikorupsi” (SPAK), Festival Digital Media Pemerintah dan penghargaan lembaga dengan sistem pengendalian gratifikasi terbaik serta pelaporan LHKPN terbaik 2018. Juga terdapat pameran hari anti korupsi di booth-booth pameran inovasi anti korupsi dari berbagai kementerian, lembaga, aparat penegak hukum, dan BUMN antara lain Mahkamah Agung, Kejaksaan RI, POLRI, dan masih banyak lagi. (Red)

Ketua DRN Harap UU Sisnas-Iptek Ditambah kata ‘Inovasi’

0

Jakarta, Biskom – Dewan Riset Inovasi Nasional (DRN)  telah menyumbangkan beberapa pemikiran dan masukan dalam revisi UU No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (UU Sisnas-Iptek). Salah satunya adalah harus ada penambahan kata ‘inovasi’ sehingga menjadi Sisnas Iptekin.

“Isinya adalah harus dibangun Dewan Riset Inovasi Nasional dan Dewan Riset Inovasi Daerah. Selain itu juga harus ditegaskan bahwa inovasi adalah pemacu kemajuan selain ilmu pengetahuan,” ungkap  Ketua Bambang Setiadi di sela acara Sidang Paripurna II DRN dan Seminar Nasional bertema ‘Pembangunan Berbasis Inovasi di Era Industri 4.0,’ di Jakarta, Selasa (4/12).

Namun sayangnya, kata inovasi tersebut ditarik. “Saya kemudian lapor ke Pak Luhut  Panjaitan (Menko Kemaritiman) karena program inovasi sejalan dengan visi beliau,” kata Bambang.

Bambang mengutarakan inovasi dengan memanfaatkan resource yang telah ada di bumi Nusantara akan memberi nilai tambah. Sebut saja misalnya, beberapa ilmuwan yang mengembangkan rumput laut menjadi teh. Atau pengembangan buah pace/mengkudu menjadi jus yang dapat memberi nilai ekonomi jauh lebih besar dibandingkan dengan buah mengkudu yang belum mendapat sentuhan inovasi.

Dia mengatakan DRN memahami inovasi dengan mempelajari dua skema yaitu pertama, inovasi merupakan bagian dari mengayomi ilmu pengetahuan dan teknologi tapi juga merupakan bagian dari pembangunan berbasis ekonomi. Kedua, inovasi adalah semua temuan dan riset yang jika gagal dipasarkan maka tidak berhak disebut sebagai inovasi.

Bambang mengatakan pihaknya telah melakukan komersialiasi terhadap invensi Indonesia yang berbasis sumber daya alam ke luar negeri, dan akan terus mendorong lebih banyak inovasi dikomersialisasikan.

DRN mengatakan berdasarkan Undang-undang Dasar Pasal 31 Ayat 5, ada perintah untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan itu ditujukan pada pemerintah. Sementara, dalam program nawacita Presiden Joko Widodo, tidak ada kata ilmu pengetahuan dan teknologi serta riset tapi di dalamnya ada kata daya saing, yang kemudian diterjemahkan menjadi pendidikan bermutu dan inovasi.

“Semua negara sudah membuktikan inovasi adalah bagian dari skenario strategi ekonomi pembangunan setiap pemerintahan,” ujarnya.

Lebih lanjut Bambang mengatakan. pihaknya telah melakukan kajian yang mendalam selama 2 tahun terakhir ini. “Kemudian muncullah gagasan bahwa kita harus move ke inovasi. Sebagai ilustrasi, negara Korea telah berhasil melakukan inovasi dibidang alat komunikasi, yaitu handphone,” kata Bambang.

Menurut Bambang, pada tahun 90-an ilmuwan di negara tersebut telah menemukan teknologi android. Padahal alat komunikasi handhpone yang berkembang saat itu hanya terbatas sebagai alat komunikasi saja dengan beragam merek.

“Peran pemerintah di Korea sangat aktif dengan mengalokasikan anggaran untuk bidang inovasi dalam jangka waktu panjang. Melalui Dewan Riset Inovasi, anggaran tersebut diberikan,” kata Bambang. Selain itu, ada Undang-undang yang mendukung inovasi di Korea. (red)

 

City of Light Pamerkan Teknologi Pencahayaan Inovatif Signify

0

Jakarta, Biskom- Signify secara resmi membuka pameran “City of Light” di Main Atrium Senayan City di Jakarta. “City of Light” memamerkan teknologi pencahayaan inovatif Signify yang canggih bagi para profesional dan konsumen. Terdepan di antara teknologi inovatif yang ditampilkan perusahaan adalah Interact IoT platform, yang sekarang diperkenalkan di Indonesia setelah sukses diluncurkan secara global pada awal tahun ini. Pameran ini menampilkan aplikasi platform IoT Interact secara khusus, termasuk Interact Office, Interact Industry, Interact Landmark, Interact City, Interact Retail, dan Interact Hospitality.

Tepat di tengah-tengah Main Atrium berdiri “Gaze of Light” yang ikonik, menara setinggi 16 meter yang akan memproyeksikan pertunjukan cahaya (light show) dekoratif oleh Signify menggunakan aplikasi pencahayaan terkoneksi Interact Landmark. Acara ini diselenggarakan berkolaborasi dengan Senayan City sebagai bagian dari perayaan FSTVE Season yang berlangsung mulai 1 Desember 2018 hingga 13 Januari 2019.

Sebagai salah satu tempat tujuan belanja di Jakarta, Senayan City berhias untuk merayakan kemeriahan akhir tahun dan tahun baru, dengan menunjukkan kegembiraannya melalui pencahayaan ikonik yang menjadi pusat perhatian di Main Atrium mereka selama FSTVE Season. “City of Light merupakan pusat atraksi dari instalasi Main Atrium tahun ini. Dengan menggunakan suara dan efek pencahayaan yang menarik, menara ‘Gaze of Light’ dan elemen lain di ‘City of Light’ akan memberikan pengalaman yang menyenangkan dan menghibur bagi para pengunjung dan keluarga mereka,” kata Halina Ng, Leasing & Marketing Communications Director Senayan City.

Pencahayaan rumah terkoneksi Signify, Philips Hue, juga ditampilkan, tak ketinggalan inovasi bohlam LED terbaru dari Signify, Philips MyCare dengan Interlaced Optics, yang menyebarkan cahaya melalui pola yang terinspirasi dari biji-biji bunga matahari.

“Di Signify, kami menggunakan teknologi untuk menerjemahkan cahaya menjadi bahasa cerdas yang menghubungkan dan menyampaikan makna. Dengan menghubungkan pencahayaan ke dan melalui jaringan, perangkat lunak, sensor, dan platform IoT, kami membuka potensi cahaya yang luar biasa,” kata Rami Hajjar, Country Leader untuk operasi/bisnis Signify di Indonesia. “Pameran kami di sini, City of Light, memungkinkan kami untuk menunjukkan bagaimana IoT dan sistem pencahayaan jaringan dapat mengubah dan meningkatkan cara hidup dan bekerja sehingga hidup kita menjadi lebih cerah di dunia yang lebih baik; lebih aman, lebih pintar, dan lebih produktif.”

Di City of Light, berbagai aplikasi pencahayaan yang berbeda untuk gedung dan kota, kantor, industri, ritel dan rumah yang mengedepankan sistem pencahayaan terkoneksi berbasis LED ditampilkan untuk menginspirasi pengunjung. Dengan fokus pada kualitas pencahayaan, peningkatan efisiensi dan pemahaman berbasis data, pencahayaan terkoneksi menyatukan pencahayaan LED dan teknologi informasi mejadikan cahaya lebih dari sekedar penerangan. Hasilnya mendorong penghematan energi lebih lanjut, mengelola produktivitas dan lingkungan kerja, menjadikan kota lebih aman dan lebih responsif serta menciptakan pengalaman baru di rumah.

Interact adalah platform IoT dari Signify. Platform ini sangat aman, terukur, berbasis awan (cloud), yang menggunakan manajemen data dan kemampuan pemrosesan data yang modern dan canggih, termasuk pembelajaran mesin, untuk menghadirkan pemahaman bagi segala jenis data – menyampaikan wawasan, manfaat dan layanan baru bagi pelanggan.

“Interact IoT platform mengubah sistem pencahayaan dari titik-titik pencahayaan individu menjadi titik-titik data yang terintegrasi. Dengan menggunakan Interact, yang mengumpulkan data dari semakin banyak titik lampu, perangkat sensor dan sistem yang terhubung, pelanggan kami mendapatkan akses ke informasi dan layanan yang memberikan nilai yang jauh melampaui penerangan sederhana,” tambah Rami.

Sebagai bagian dari stan Interact Office & Interact Industry, Signify juga memperkenalkan luminer yang dapat mengaktifkan LiFi. Light Fidelity atau “LiFi” merupakan teknologi nirkabel dua arah berkecepatan tinggi yang serupa dengan WiFi namun menggunakan gelombang cahaya sebagai pengganti gelombang radio untuk mengirimkan data dengan cara yang sangat aman. Luminer kantor milik Signify yang diaktifkan dengan teknologi LiFi memberikan koneksi internet pita lebar (broadband) dengan kecepatan 30Mb per detik (Mb/s), tanpa mengorbankan kualitas pencahayaan. (red)

Signify Rampungkan program Kampung Terang Hemat Energi

0

Jakarta, Biskom – Signify telah menyelesaikan program Kampung Terang Hemat Energi (KTHE) 2017-2018, dengan membawa akses pencahayaan bagi masyarakat yang sebelumnya tinggal dalam “kegelapan” di Sumatra Utara, Bali Timur, Kalimantan Tengah dan Maluku. Secara total, tercipta lebih dari 2.850 titik penerangan baru menggunakan Philips Solar Home Lighting System dan Road Lighting System untuk menerangi rumah-rumah dan berbagai fasilitas umum di sana.

“Tinggal di kota di mana akses ke pencahayaan diperoleh hanya dengan sekali klik, sering membuat kita menganggap pencahayaan sebagai hal yang sepele. Kita gagal untuk menyadari bahwa ada orang lain yang masih hidup dalam kegelapan karena tinggal di daerah terpencil atau tidak mampu membeli listrik,” kata Rami Hajjar, Country Leader untuk operasi/bisnis Signify di Indonesia.

Dia melanjutkan bahwa pihaknya mendorong upaya-upaya untuk menyediakan akses pencahayaan bagi kelompok masyarakat ini dengan menggunakan sistem Philips LED bertenaga surya. “Kami senang melihat bagaimana mereka sekarang dapat hidup, bekerja dan bepergian dengan lebih aman, mencapai hasil pendidikan yang lebih baik, dan meningkatkan kesehatan serta aktivitas ekonomi mereka,” tambahnya.

Program Kampung Terang Hemat Energi 2017-2018 memberikan kepada setiap desa terpilih paket pencahayaan Philips LED tenaga surya yang inovatif, yang mencakup Solar Indoor Lighting System, untuk mendukung kegiatan di dalam rumah dan pekerjaan rumah tangga; Philips Lifelight yang 10 kali lebih terang dari lampu minyak tanah, untuk penggunaan di luar rumah/area publik; dan Solar LED Road Light System untuk menerangi jalan, jembatan atau dermaga desa.

Selama program berjalan, dari 2017 hingga 2018, Signify mendistribusikan hampir 1.200 Philips Solar Lighting Systems bagi sekitar 20 desa terpencil, dengan jumlah populasi gabungan lebih dari 15.000 orang yang memperoleh manfaat dari desa-desa yang kini lebih terang. Memiliki akses ke sumber pencahayaan yang baik sangat penting untuk meningkatkan kehidupan masyarakat karena hal tersebut berdampak pada aspek sosial dan ekonomi.

Tiga bulan setelah perusahaan mendistribusikan lebih dari 500 Philips Solar Lighting Systems ke lima desa dan tiga dusun di Kalimantan Tengah, dengan populasi gabungan sebanyak 8.000 orang, setiap keluarga mampu menghemat rata-rata Rp204.000 per bulan yang sebelumnya digunakan untuk membeli bahan bakar atau minyak tanah. Sekitar tiga perempat dari penduduk (76%) mengungkapkan bahwa mereka melakukan setidaknya satu aktivitas baru di malam hari berkat penggunaan pencahayaan tenaga surya di rumah. Selain itu, terdapat penurunan laporan masalah pernapasan (oleh 13% penduduk) dan iritasi mata (4% dari penduduk).

Di Maluku, melalui mitra kami Kopernik, kami bekerjasama dengan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). Banyak desa di wilayah ini dikategorikan sebagai desa tertinggal, sehingga TNP2K membantu Signify untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan 10% rumah tangga paling miskin.

Dengan memanfaatkan sumber cahaya yang berlimpah dari matahari, kita dapat menjembatani kesenjangan dalam kemiskinan pencahayaan dengan solusi terbaik untuk meningkatkan kehidupan masyarakat, tidak hanya bagi penduduk kota, tetapi juga untuk masyarakat yang tinggal di luar jaringan listrik. Pencahayaan Philips LED tenaga surya kami memiliki konsumsi daya yang sangat rendah dan benar-benar fleksibel untuk dipasang di daerah terpencil tanpa akses listrik.

Program Kampung Terang Hemat Energi dimulai tahun 2015. Sejak itu, Signify telah menciptakan lebih dari 3.000 titik penerangan baru di lebih dari 30 desa di Sumatra Utara, Sulawesi Selatan, Bali Timur, Kalimantan Tengah dan Maluku, dan menerangi kehidupan lebih dari 30.000 orang. (red)

Optic Marine Bangun Konektivitas Dengan Fiber Optik

0

Jakarta, Biskom – Optic Marine mewujudkan jaringan telekomunikasi dengan fasilitas ‘Cable Orchestra’ dan ‘Cable Empowered’ yaitu kapal yang dibangun khusus untuk instalasi kabel akhir pantai dan pekerjaan pendukung kelautan dengan mengutamakan standar keselamatan terbaik serta ramah lingkungan.

Dilengkapi dengan Dragon Sledge, J-Sledge dan HAS Trenchers, salah satu yang menjadi keunggulan dari Optic Marine terletak pada akurasi dan kecepatan pemasangan kabel secara efektif. Dengan fasilitas dan sumber daya yang berkualitas, Optic Marine juga telah menunjukkan keberhasilannya dalam pembangunan instalasi dan perbaikan proyek listrik sebesar 132KV di Malaysia serta survey dan konsultasi pada proyek kabel listrik Brunei 66KV & 132KV.

Capt Djonia A. Algamar selaku Direktur PT Optic Marine Indonesia. mengatakan, kenyamanan dan standar keamanan menjadi prioritas kami selama mengerjakan pembangunan infrastruktur jaringan komunikasi terutama di wilayah Indonesia.

“Seluruh kapal-kapal yang kami miliki sudah memenuhi klasifikasi dan tersertifikasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, didukung pula dengan kemampuan sumber daya manusia yang cakap dan berkualitas. Kami sangat mengutamakan keselamatan dan selalu beroperasi berlandaskan regulasi yang tepat,  ujar Capt Djonia A. Algamar selaku Direktur PT Optic Marine Indonesia. (red)

Ristekdikti : Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang  berinovasi 

0

Jakarta, Biskom – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bersama Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenko Maritim) kembali menyelenggarakan kegiatan Program Penguatan Kapasitas Pemimpin Indonesia dalam rangka Making Indonesia 4.0 dengan menghadirkan senior lecturer dari Massachusetts Institute of Technology(MIT) Penemu Theory U, Prof. Otto Scharmer di Hotel Bidakara. Jakarta, Senin (3/12).

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir selaku Ketua Program “Making Indonesia 4.0” mengungkapkan esensi dari Program Making Indonesia 4.0 adalah revolusi budaya, revolusi manusia dalam berbagai aspek kehidupannya, bukan sekedar revolusi teknologi.

Revolusi yang membawa nilai dan norma baru dalam kehidupan sehari-hari, dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. Ia mengungkapkan Program Making Indonesia 4.0merupakan bagian dari Revolusi Mental yang menjadi agenda nasional.

“Jadikan Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang bagi Indonesia berkreasi dan berinovasi dengan pikiran dan hati terbuka untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik. Presiden Jokowi mengatakan perlu adanya upaya untuk mengubah mindset negatif dan ketakutan menghadapi Revolusi Industri 4.0, sehingga Indonesia dapat berkembang menjadi 10 negara terkuat secara ekonomi di tahun 2050,” ucapnya.

Menristekdikti mengungkapkan, program ini merupakan upaya dan cita-cita pemerintah menciptakan kolaborasi dan sinergitas calon pemimpin digital yang bertanggung jawab terhadap integrasi bangsa, sumber daya manusia dan teknologi digital, terbuka dan transparan, serta memiliki budaya kreatif dan inovatif yang adaptif dan lincah dapat menembus perubahan dan perkembangan untuk pembangunan nasional.

Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan berharap program penguatan kapasitas pemimpin Indonesia dalam rangka Making Indonesia 4.0 dapat dilaksanakan secara berkelanjutan, untuk mencetak calon pemimpin masa menjadi pemimpin yang memiliki pemikiran terbuka (open mind), keterbukaan hati (open heart), dan keberanian yang berwujud keinginan untuk menolong (open will) sehingga dapat memberikan pandangan dan solusi konkrit terhadap tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini, untuk Indonesia lebih baik.

Sementara itu, Prof. Otto Scharmer selain seorang senior lecturer di MIT, ia juga merupakan salah satu pendiri Presencing Institute. Konsep presencing dikenalkan Otto Scharmer dalam bukunya Theory U: Leading from the Future as It Emerges, merupakan pemahaman untuk melihat apa yang ada di masa lalu, masa kini, serta merasakan di masa depan.

Theory U merupakan metode manajemen perubahan, bergerak ke bawah untuk mendapatkan dorongan kuat dari arus bawah untuk bergerak semakin ke atas. Teori U mengajak untuk melakukan perombakan (transformasi) dalam diri individu atau sebagai leader yang ada di organisasi.

Schrarmer menyebutkan, prinsip-prinsip “Theory U” disarankan bagi pemimpin organisasi pemerintah dah politik untuk melakukan metode manajemen perubahan, merubah prilaku tidak produktif agar tidak terjebak ke dalam pola pengambilan keputusan yang tidak efektif, dengan gaya kepemimpinan “Open mind, open heart, open will,” dengan menyerap langsung aspirasi masyarakat, membuka hati mendengarkan suara rakyat. (red)

Peringati HUT ke-60, BATAN Usung tagline WE60UP

0

Jakarta, Biskom – Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) merayakan ulang tahun ke-60 dengan menggelar kegiatan Gelar Teknologi yang mengusung tagline We60up. Pada HUT kali yang dipusatkan di Perumahan Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan, Minggu (02/12), melibatkan masyarakat luas di sektar kawasan Puspiptek, dimana fasilitas nuklir BATAN berada.

Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan, ulang tahun kali ini, BATAN mengusung tagline WE60UP (We Go Up) yang berarti BATAN harus selalu menjadi lebih baik. “We go up memiliki arti yang penting bagi BATAN, di usia yang ke-60 tahun ini BATAN harus mampu menunjukkan bahwa dengan keterbatasan yang dimiliki, namun masih mampu berpreatasi,” paparnya.

Disebutkan, Gelar Teknologi ini menjadi bagian dari ulang tahun BATAN yang ke-60. “Kegiatan Gelar Teknologi ini merupakan rangkaian dari kegiatan ulang tahun BATAN yang ke-60. Puncak peringatan ulang tahun ini nanti pada 5 Desember mendatang,” terangnya.
Menurutnya, Gelar teknologi kali ini melibatkan masyarakat umum yang berada di sekitar kawasan Puspiptek, Tangerang Selatan. Ketelibatan masyarakat ini merupakan bagian upaya BATAN dalam mengenalkan produk litbangnya kepada masyarakat luas.

Selain itu, masyarakat di sekitar kawasan Puspiptek harus mengetahui bahwa di sekitar mereka terdapat fasilitas nuklir BATAN. “Pada intinya kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa BATAN mampu mengelola fasilitas nuklir dengan aman dan tidak menakutkan,” lanjutnya.

Perayaan ulang tahun ke-60 ini bertepatan dengan tahun keempat pekaksanaan Rencana Strategis BATAN, maka menurut Djarot yang akan dilakukan BATAN adalah menyusunan rencana strategis untuk lima tahun mendatang dan mengevaluasi seluruh kegiatan yang telah dilakukan. “Ada banyak kegiatan yang harus dilakukan BATAN ke depan, terutama berusaha semakin mendekatkan teknologi nuklir kepada masyarakat,” ujarnya.

Djarot mencontohkan beberapa upaya mendekatkan diri kepada masyarakat di bidang pertanian yakni dengan meningkatkan prosentase peningkatan jumlah luasan lahan pertanian di Indonesia yang ditanami varietas padi unggul produk penelitian BATAN. Di bidang kesehatan, produk radioisotop dan radiofarmaka yang telah dikerjasamakan dengan PT. Kimia Farma dan PT. INUKI dapat termanfaatkan dan terdistribusikan ke seluruh wilayah Indonesia untuk kesehatan.

Djarot berharap, BATAN kedepan harus lebih dikenal oleh masyarakat, bukan hanya produk litbangnya saja, melainkan juga dampak yang diperoleh masyarakat terhadap pemanfaatan hasil litbang nuklir. (red)

Bapeten Gelar Rakornas Keselamatan Radiasi

0

Jakarta, Biskom -Meningkatnya jumlah rumah sakit yang mengoperasikan peralatan radioterapi dalam satu sisi perlu disyukuri, karena ini berarti terjadi peningkatan kuantitas dan kualitas layanan radioterapi di Indonesia sehingga antrian pasien menjadi berkurang.

Namun di sisi lain ada hal-hal yang menjadi perhatian khusus, yaitu terkait keselamatan radiasi bagi operator peralatan radioterapi (pekerja radiasi), pasien (masyarakat), lingkungan hidup, dan aspek keamanan sumber radioaktif.

Pengembangan radioterapi di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, misalnya perkembangan teknologi radioterapi semakin pesat, keterbatasan fasilitas dan sumber daya manusia, isu mengenai radiasi neutron, keterbatasan lembaga kalibrasi, isu pelimbahan sumber radioaktif, serta kemampuan personil radioterapi dalam memberikan akurasi dosis pasien radioterapi.

Hingga tahun 2018, berdasarkan data Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) tercatat sudah ada 37 rumah sakit di Indonesia yang menggunakan modalitas teknologi radioterapi seperti Akselerator Linier (Linac), Teleterapi Co-60, Gamma Knife, Tomoterapi dan Brakhiterapi untuk mengobati pasien kanker serta sekitar 10 rumah sakit yang saat ini sedang membangun fasilitas radioterapi.

Rakornas  Bapeten bertujuan  ini antara lain tercapainya kesepahaman dalam pengajuan izin operasional radioterapi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dan izin operasi pemanfaatan radioterapi dari Bapeten.

Selain itu pelatihan personil yang terlibat instalasi radioterapi, baik dokter spesialis onkologi radiasi dan fisikawan medik; diseminasi temuan signifikan dari hasil verifikasi perizinan pada fasilitas radioterapi, diseminasi dalam kalibrasi alat ukur dan output radioterapi, dan penanganan sumber radioaktif antara Bapeten, Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) Batan, RS dan Importir.
Bertempat di Denpasar, Bali, Selasa (27/11).

Sekretaris Utama Bapeten  Hendriyanto HadiTjahyono, didampingi oleh Direktur Perizinan Fasilitas Radiasi dan Zat Radiaoktif Ishak, membuka Rakoras Keselamatan Radiasi pada Fasilitas Radioterapi dengan tema Bersama Menumbuhkembangkan Budaya Keselamatan Radiasi dalam Meningkatkan Mutu Layanan Radioterapi.

Diharapkan dengan adanya Rapat Koordinasi Nasional Radioterapi 2018 ini dapat tercapai solusi dan kesepahaman yang saling menguntungkan, sehingga proses bisnis menjadi lebih lancar. Komitmen Bapeten adalah menjamin keselamatan radiasi bagi pekerja, masyarakat (termasuk pasien) dan lingkungan yang ada di fasilitas radioterapi. (red)

Kolaborasi dan Inovasi Hasilkan Produk Atsiri Skala Industri

0
?
?

Jakarta, Biskom – Minyak atsiri yang memiliki sebutan essential oils, etherial oils, atau volatile oils, intensif dikembangkan dengan melibatkan kalangan kampus seperti Universitas Brawijaya yang bekerja sama dengan Pemkab Blitar dan Trenggalek di Jawa Timur.

Mereka berhasil mengembangkan penyulingan minyak atsiri dengan metode ekstraksi. Sedangkan bahan baku tanaman atsiri bisa dibudidayakan dengan memanfaatkan lahan kosong di antara tegakan tanaman hutan dan pekarangan.

Dari berbagai riset yang selama ini dilakukan mulai mampu membawa komoditi minyak atisiri menjadi produk hilir yang memberi nilai ekonomi lebih tinggi. Jika dikembangkan dalam skala besar, inovasi ini mampu memberi nilai tambah bagi petani pembudidaya.

“Karena itu, kami akan terus mendorong lembaga-lembaga litbang dan pergurun tinggi agar lebih fokus mengembangkan bibitnya sampai teknologi pengolahannya sehingga menjadi minyak tunggal. Apalagi, Indonesia saat ini menjadi negara nomor 4 penghasil minyak atsiri,” kata Direktur Inovasi Industri, Dirjen Penguatan Inovasi, Kemenristekdikti, Santosa Yudo Warsono pada acara FGD tersebut di Rumah Bali Kampoeng Djamoe Organik Martha Tilaar, Cikarang, Bekasi, Jumat (30/11).

FGD tersebut dihadiri sekitar 50 peserta dari berbagai industri dan institusi terkait, antara lain Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dewan Atsiri Indonesia, dan lain-lain. FGD bertujuan untuk melakukan pemetaan potensi dan koordinasi dengan para stakeholder dalam pengembangan minyak atsiri secara nasional.

Diketahui, Indonesia memiliki potensi pasar dalam negeri yang cukup besar untuk membangun industri flavour dan fragrance, sehingga pasar minyak atsiri tidak mutlak tergantung dengan pasar ekspor, tetapi tercipta melalui kebutuhan dalam negeri. Dengan begitu maka lambat laun dimulai dari yang sederhana kebutuhan flavour dan fragrance di dalam negeri akan dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri, ketimbang impor produk jadi yang menguras banyak devisa.

Masih menurut Santoso, FGD tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi, sehingga perguruan tinggi atau lembaga litbang, mampu mengembangkan pilot-pilot skala yang ekonomi, sehingga dengan skala ekonomi ini hubungan antara lembaga litbang, masyarakat, dan indsutri bisa berlangsung secara kontinyu. “Nah, melalui FGD ini, kami ingin memetakan, agar lembaga-lembaga litbang dan perguruan tinggi yang sudah mempunyai minyak tunggal, untuk dikolaborasikan dengan industri,” katanya lagi.

Beberapa jenis tanaman penghasil minyak atsiri yang dapat ditemui di kawasan hutan antara lain kayu putih, kenanga, ylang-ylang, masoi, gaharu, nilam dan seraiwangi. Minyak atsiri atau yang disebut juga dengan essential oils, etherial oils, atau volatile oils adalah komoditi ekstrak alami dari jenis tumbuhan yang berasal dari daun, bunga, kayu, biji-bijian, bahkan putik bunga.

“Setidaknya ada 150 jenis minyak atsiri yang selama ini diperdagangkan di pasar internasional, dan 40 jenis di antaranya dapat dipoduksi di Indonesia. Meskipun banyak jenis minyak atsiri yang bisa diproduksi di Indonesia, baru sebagian kecil jenis minyak atsiri yang sedang dikembangkan di Indonesia,” terangnya.

Sementara itu, Martha Tilaar Foundation, Kilala Tilaar, menambahkan, kegunaan minyak atsiri sangat banyak, tergantung dari jenis tumbuhan yang diambil hasil sulingannya. Minyak atsiri digunakan sebagai bahan baku dalam perisa (penyedap rasa/flavour) maupun pewangi. ‘Saat ini membina 400-an petani dari berbagai daerah seperti Poinorogo dan Sukabumi. Mereka sudah dididik tentang metode budidaya tanaman bahan baku atsiri,” kata Kilala.

Industri kosmetik dan parfum menggunakan minyak atsiri sebagai bahan pewangi pembuatan sabun, pasta gigi, samphoo, lotion dan partfum. Industri makanan menggunakan minyak atsiri setelah mengalami pengolahan sebagai perasa atau menambah cita rasa. Industri farmasi menggunakannya sebagai obat anti nyeri, anti infeksi, dan pembunuh bakteri.

Fungsi minyak atsiri sebagai fragrance juga digunakan untuk menutupi bau tak sedap bahan-bahan lain seperti obat pembasmi serangga yang diperlukan oleh industri bahan pengawet dan bahan insektisida. “Di Indonesia, kebutuhan minyak atsiri oleh industri sangat tinggi. Tercatat, sebanyak 45 persen kebutuhan minyak atsiri masih impor,” ujarnya. (red)

BIG Perbaharui Situs Web & JDIH

0

Jakarta, Biskom – Badan Informasi Geospasial (BIG)  sukses  menyelesaikan desain terbaru dari situs utama dan Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) sebagai bagian dari layanan informasi publik.

Meski terlihat sederhana namun jauh lebih menarik dibanding situs sebelumnya. Sengaja memang didesain tanpa ribet karena BIG ingin masyarakat akan lebih mudah mengakses dokumentasi dan informasi hukum di BIG. Masyarakat juga akan lebih leluasa bertanya karena ada kolom tersendiri.

“Kami telah memperbaharui situs web baik dari segi konten dan penambahan fitur-fitur. Bahkan untuk pengajuan kunjungan dari setiap sekolah, universitas, instansi dan swasta bila dilakukan lewat online,” ujar Sekretaris Utama BIG Muhtadi Ganda Sutrisna pada Peluncuran Situs Web dan JDIH BIG, di Cibinong City Mall, Bogor, Jumat (30/11).

Selain itu terdapat ikon Goverment Public Relation (GPR) sebagai bentuk dukungan BIG terhadap berbagai kegiatan kehumasan yang dilaksanakan pemerintah. Sebagai bagian dari kesatuan jaringan situs BIG, Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) menyediakan seluruh dokumen dan informasi mengenai peraturan perundang-undangan, informasi geospasial hingga keputusan pimpinan BIG.

Kini JDIH telah terintegrasi dengan sistem single sign on sehingga seluruh pegawai BIG dapat mengakses seluruh dokumen hukum. Bahkan informasi yang dikecualikan meliputi informasi-informasi yang patut dirahasiakan dan memiliki tingkat urgensitas tinggi dapat diakses pegawai BIG.

Untuk situs utama BIG dapat diakses melalui alamat www.big.go.id, sedang JDIH BIG dapat diakses melalui www.jdih.big.go.id. Pembaruan kedua media informasi tersebut menjadi bukti keseriusan BIG dalam meningkatkan mutu layanan informasi publik dalam penyelenggaraan informasi geospasial

Direktur Tata Kelola dan Kemitraan Komunikasi Publik Kominfo Selamatta Sembiring mengatakan, saat ini di Indonesia ada sekitar 143,3 juta orang pengguna internet. Dari jumlah tersebut, 120 juta bermain di media sosial (medsos) seperti Facebook, Instagram, Line dan sebagainya. Dan sebagian besar didominasi anak-anak muda usia 14-32 tahun.

“BIG meluncurkan kembali Web, ini merupakan langkah yang tepat untuk meningkatkan pelayanan maksimal kepada masyarakat,” ujarnya. Lebih jauh Selamatta mengatakan, perkembangan teknologi berimplikasi perkembangan pola komunikasi.

Memasuki era revolusi industri 4.0, situs suatu lembaga pemerintahan menjadi wajah institusi di dunia maya. Situs tersebut merupakan pesona yang mewakili lembaga untuk melayani kebutuhan informasi publik. Untuk itu, desain situs harus dibuat menarik mengikuti perkembangan di bidang teknologi informasi. (red/)