Home Blog Page 916

Dukung Petisi Ini Untuk Cegah Kiamat Internet

0

Change.org-BiskomKASUS yang menimpa mantan Direktur Utama Indosat Mega Media (IM2), Indar Atmanto, telah menimbulkan kegelisahan kalangan praktisi di industri telekomunikasi Indonesia. Mereka khawatir, suatu saat bisa saja tersandung kasus yang sama seperti Indar.

Seperti diketahui, Indar dinyatakan bersalah atas kasus tuduhan korupsi pengadaan jaringan 2,1 GHz/3G PT Indosat dan divonis 8 tahun penjara. Ia kemudian dipaksa masuk ke LP Sukamiskin setelah upaya kasasinya ditolak Mahkamah Agung (MA) dan kemudian dieksekusi Kejaksaan Agung (Kejagung).

Selain vonis penjara, Indar juga harus membayar denda Rp. 300 juta subsider kurungan 6 bulan. Dalam putusan kasasi, MA juga menghukum IM2 untuk membayar uang pengganti Rp 1.358.343.346.670. Kejagung selaku eksekutor juga memerintahkan IM2 untuk membayar uang pengganti tersebut

Apa yang dialami Indar, juga turut mengundang empati dari sesama koleganya di industri telekomunikasi.  Sebanyak 300 penyedia jasa internet (ISP) di Indonesia, sepakat untuk mematikan akses internet jika MA tidak memberikan kepastian kepada ISP terkait skema bisnis. Para praktisi ini juga berharap adanya pembebasan Indar dari segala tuduhan.

Malam kemarin (24/9), melalui Change.org, Pakar Internet  Onno W. Purbo, membuat sebuah petisi. Di dalamnya diterangkan bahwa pola bisnis IM2 dengan ratusan ISP di Indonesia sebenarnya sama, yakni  sesuai dengan ketentuan UU Telekomunikasi maupun praktek usaha telekomunikasi yang ada.

“Tidak ada hukum yang dilanggar, apalagi melakukan tindak pidana korupsi. IM2 hanyalah sebuah ISP dan menyewa bandwidth secara legal ke Indosat. Tidak melakukan korupsi apa pun dan tidak perlu mempunyai izin frekuensi,” tulisnya.

Akibat dari keputusan MA yang tidak sesuai dengan UU, atau pola bisnis telekomunikasi ini, lanjut petisi tersebut, maka 300 lebih pimpinan ISP Indonesia juga terancam hukuman pidana. “Yang lebih menyedihkan lagi, industri, atau infrastruktur internet di Indonesia terancam harus shutdown, atau dimatikan karena sebagian besar melanggar hukum,” paparnya.

Petisi yang ditujukan untuk Mahkamah Agung, Badan Pengawas Mahkamah Agung, dan Menkominfo ini mengajukan beberapa tuntutan:

1. Kembali ke UU Telekomunikasi.

2. Membenarkan ISP menyewa bandwidth ke operator seluler tidak perlu izin frekuensi.

3. Pemerintah wajib melindungi ISP yang telah memperoleh lisensi dan menjalankan kewajiban dengan baik dan benar.

4. Bebaskan Indar Atmanto dan IM2 dari vonis / tuduhan.

5. Kembalikan nama baik Indar Atmanto dan IM2.

“Jika ini tidak dipenuhi, sebagian besar ISP Indonesia menjadi ilegal dan mereka tidak mungkin beroperasi. Agar tidak melakukan tindakan melawan hukum ISP Indonesia harus menutup usahanya, dan men-shutdown Internet Indonesia,” terang petisi tersebut.

Onno pun mengajak masyarakat mendukung petisi ini dengan mengklik LINK ini. •

Indonesia Terancam Kiamat Internet!

0

Kasus Indosat-Biskom-1

KASUS yang menimpa Indar Atmanto, dinilai sejumlah kalangan dan komunitas telematika di tanah air akan memicu lahirnya kiamat internet di tanah air. Hal ini disebabkan sejumlah Internet Service Provider (ISP) akan menutup layanannya karena tidak ingin bernasib sama dengan mantan Direktur Utama Indosat Mega Media (IM2) tersebut.

Seperti diketahui, Indar dinyatakan bersalah atas kasus tuduhan korupsi pengadaan jaringan 2,1 GHz/3G Indosat dan divonis 8 tahun penjara. Ia kemudian dipaksa masuk ke LP Sukamiskin setelah upaya kasasinya ditolak Mahkamah Agung (MA) dan kemudian dieksekusi Kejaksaan Agung (Kejagung).

Selain vonis penjara, Indar juga harus membayar denda Rp 300 juta subsider kurungan 6 bulan. Dalam putusan kasasi, MA juga menghukum IM2 untuk membayar uang pengganti Rp 1.358.343.346.670. Kejagung selaku eksekutor juga memerintahkan IM2 untuk membayar uang pengganti tersebut

Prihatin terhadap kasus ini, sejumlah komunitas telematika yang dimotori Pakar Internet Onno W Purbo dan Asosisasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), melakukan pertemuan di Kantor Pusat Indosat Jakarta. Menurut Onno, kegiatan berbagi jaringan yang dilakukan oleh Indosat dan IM2 merupakan hal yang wajar terjadi di dunia bisnis internet dan hal tersebut sudah diatur  dalam UU no 36/1999 tentang telekomunikasi. Bila fatwa Mahkamah Agung (MA) yang mengelompokkan kegiatan berbagi jaringan seperti kasus IM2 dan Indosat merupakan tindakan illegal, maka akan mengakibatkan lebih dari 300 ISP menutup layanannya.

“Ini akan berdampak internet di Indonesia mati total bila IM2 yang memakai jaringan Indosat dinyatakan bersalah, karena semua ISP takut terkena ancaman penjara bila melanjutkan bisnisnya,” papar Onno kepada wartawan (23/9).

Dalam pertemuan ini, Onno dan sejumlah komunitas telematika yang dimotori oleh APJII dan didukung Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) ini pun membuat sebuah petisi online dan bersepakat untuk mengirimi surat kepada Kementerian Komunikasi dan Infomatika (Kemkominfo) dan Mahkamah  Agung (MA) mengenai kejelasan status hukum dalam berbisnis jasa ISP layaknya yang telah dilakukan  oleh IM2.

“Langkah pro aktif ini kami ambil untuk menghindarkan negeri ini dari kiamat internet akibat berhentinya layanan dari banyak ISP karena fatwa MA tersebut. Minggu ini pun kami akan segera mengirimkan surat ke Kemkominfo, untuk menanyakan status lisensi yang diberikan pemerintah kepada kami apakah masih berlaku atau tidak,” tegas Sammy A Pangerapan, Ketua APJII.

Kekhawatiran yang dirasakan kalangan telematika ini memang bukan tanpa alasan, pasalnya apabila  IM2 dinyatakan bersalah, mayoritas ISP pun juga akan dinyatakan ilegal karena mengusung konsep bisnis yang sama. Dengan demikian layanan internet dari ISP pun dapat dinyatakan ilegal dan berujung pada matinya internet Indonesia.

SONY DSC“Kami di sini semua taat hukum, tapi kami terancam dipidanakan. Daripada kami semua masuk penjara, lebih baik kami matikan saja koneksi internetnya, kalau setelah dievaluasi satu-dua minggu dari sekarang hasil dari fatwa MA tetap sama dan berlaku untuk semua,” tandas Sammy.

Sedangkan Chief of Network Security APJII, Irvan Nasrun menyebutkan, bila internet mati, maka hal ini akan berdampak langsung pada industri yang berkaitan dengan transaksi keuangan dan internet.  Seperti perbankan, bursa saham, online trading, dan termasuk juga situs berita, sosial media, instant messaging, kampus, dan masih banyak lagi.

Sementara itu, Ketua Umum Pengelola Nama Domain Indonesia (PANDI), Andi Budimansyah, menyayangkan dengan apa yang terjadi pada kasus IM2. Menurutnya, kalau nanti jawaban MA fatwanya berlaku sama, maka 71 juta pengguna internet di Indonesia akan terancam tidak dapat akses internet karena akan mati total. Dengan demikian, target pemerintah untuk mencapai 110 juta pengguna internet di 2015 pun mustahil tercapai.

Untuk memberikan dukungan moril, sehari sebelumnya, sejumlah penggiat teknologi informasi (TI) juga telah menjenguk mantan Direktur Utama IM2, Indar Atmanto, di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung. •

TI Yang Tak Boleh Terlupakan

0

EditorialDALAM setiap wacana pembangunan sektor  tertentu, pemanfaatan teknologi informasi (TI) tak pernah dikesampingkan, termasuk di bidang kemaritiman. Para praktisi, pengamat, akademis, swasta dan pemerintahan sudah banyak yang melontarkan ide dan pendapatnya tentang betapa strategisnya peran strategis dari TI. Bahkan dalam kemaritiman mungkin bukan hanya untuk pembangunan bangsa tapi juga dari segi pertahanan dan keamanan maritim.

Karena itu pada edisi kali ini kami menyajikan headline topik aktual “Perkuat TI Kemaritiman” guna menekankan dan memperkuat opini bahwa pemanfaatan TI jangan sampai terlewat dalam wacana pembangunan poros maritim yang kini tengah digaungkan pemerintahan Joko Widodo mendatang.

Menurut para pengamat, sesulit apapun realisasinya, namun jika TI dioptimalkan, tentu akan mempercepat pembangunan poros maritim tersebut, apalagi dibarengi dengan optimalisasi infrastruktur, transportasi laut, sumber daya alam dan sumber daya manusia kemaritiman itu sendiri. Misalnya saja, memperbaiki sistem monitoring laut dan perbaikan pelabuhan-pelabuhan di seluruh daerah Indonesia, serta mewujudkan konsep Tol Laut.

Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam, Ridwan Djamaluddin mengatakan, untuk memenuhi gagasan itu ada dua aspek yang perlu diperhatikan seperti teknologi dan tata kelola secara teknis.

Ridwan menambahkan, BPPT sejak dulu sudah membuat tata ruang pemukiman nelayan yang layak huni. Kemudian Vessel Monitoring System (VMS) dan Global Positioning System (GPS) juga sudah puluhan tahun kita kerjakan. Sehingga nelayan tinggal menangkap ikan, tanpa perlu mencari posisi ikan ada dimana saja. Nantinya, pemantauan ini akan berbasis online supaya lebih akurat. Sehingga pencurian ilegal pun akan diketahui.

“Sekarang banyak kapal yang identitasnya disalahgunakan. Sehingga nantinya akan ada digital elektronika, publik pun dapat mengawasi,” terang Ridwan saat sarasehan “Membangun Indonesia sebagai Negara Maritim yang Maju dan Mandiri” di auditorium BPPT, Jakarta, (12/9).

Sesungguhnya lanjut Ridwan BPPT sudah siap teknologi di bidang perikanan ini sejak 11 tahun lalu. Untuk optimalisasi teknologi BPPT sudah mengembangkan electronic log book yang sudah dipatenkan dan dalam proses sosialisasi ke KKP. Melalui teknologi ini pemantauan, pelaporan online terhadap aktivitas penangkapan ikan bisa dilakukan.

Selain berkonsentrasi pada TI, peningkatan kualitas SDM tidak kalah pentingnya. Bukan hanya sekedar mampu memanfaatkan, namun di masa mendatang akan semakin banyak teknologi kemaritiman yang diproduksi anak bangsa. Dengan begitu, visi pemerintahan Joko Widodo untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia bisa terwujud. •

TAITRA Akan Datangkan 19 Delegasi Fasteners ke Indonesia

0

Taiwan FastenerTAIWAN External Trade Development Council (TAITRA) dalam mengkampanyekan industri Taiwan ke pasar Indonesia semakin mengalami perkembangan. Dimulai dari industri teknologi informasi dan komuniaksi (TIK), lalu berlanjut ke machinery, electronic, fashion, home appliance hingga kesehatan, dan kini akan mulai mendatangkan delegasi perdagangan dari industri Fasteners ke tanah air pada 25 September 2014 mendatang, di Hotel Borobudur, Jakarta.

Menurut Direktur TAITRA Jakarta, Tony Lin, akan ada 19 perusahaan fasteners yang akan mengunjungi Indonesia, tetapi sebelumnya pada hari ini, 22 Sepetember lebih dulu ke Malaysia. Setelah Indonesia, baru akan berlanjut ke Australia dan Selandia Baru. “Ini merupakan kunjungan untuk mencari peluang pasar dan membentuk hubungan perdagangan lebih dekat lagi dengan negara-negara di kawasan Asia-Pasifik yang berlangsung mulai 21 September – 8 Oktober 2014,” ujar Tony, di Jakarta (22/9).

Di kesempatan ini, masing-masing delegasi akan menyajikan produk-produk yang paling inovatif dan pengusaha lokal akan diberi kesempatan untuk bertemu delegasi pemasok Taiwan secara pribadi serta mendiskusikan kerjasama bisnis.

“Selama ini Taiwan merupakan pemasok sekrup atau pengencang terbesar di dunia dengan hampir 150 negara memasoknya. Bahkan ekspor tahun lalu saja mencapai US$ 3,86 miliar, atau meningkat 2,6 persen dibanding tahun sebelumnya. Dengan jumlah yang begitu besar, sangat mungkin bahwa sekrup yang digunakan di rumah Anda berasal dari Taiwan,” papar Tony.

Disebutkan, keunggulan produk ini karena bahan-bahan berkualitas tinggi, orang-orang teknis berbakat, pengalaman produksi jangka panjang, pasokan bahan stabil, sistem manufaktur pendukung yang efisien, harga yang wajar, pengiriman yang cepat, dan kemampuan luar biasa lainnya.

Selain itu, The Export-Import Bank of ROC (EXIM Bank) juga akan bergabung di acara tahun ini untuk memberikan petunjuk tentang asuransi kredit ekspor, fasilitas pinjaman ulang dan bentuk-bentuk instrumen pembiayaan. Dalam hal ini, Bank EXIM Taiwan membantu memfasilitasi transaksi keuangan antara eksportir Taiwan dan lembaga keuangan asing, importir, atau individu.

Bagi pengusaha lokal yang berminat untuk menghadiri acara Taiwan Fasteners Industry’s 1st Trade Mission ini bisa mendapatkan informasi lebih lanjutnya di http://www.fasteners.org.tw/Eng/Default.aspx. •

Gatot S. Dewa Broto: Kemenpora Juga Gunakan TI

0

Selama menekuni bidang kehumasan, kedekatannya dengan awak media, industri dan penggiat maupun pakar telematika telah membuatnya menonjol di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo). Bagi media, dirinya adalah  nara sumber berkompeten yang mudah dihubungi dan dimintai keterangan terkait masalah regulasi maupun kebijakan, hingga isu-isu yang berkaitan dengan kementerian yang menaunginya.

Cover Story Biskom Sept 2014

KEPIAWAIANNYA dalam berinteraksi dan berkomunikasi telah membuat Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), KRMT Roy Suryo,  tertarik untuk meminangnya menjadi salah satu deputi di institusinya. Tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, Gatot S Dewa Broto yang masih menjabat Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemkominfo waktu itu, langsung menyatakan kesiapannya untuk menduduki jabatan Deputi V, Bidang Harmonisasi dan Kemitraan di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Menurut Gatot, mandat yang diterimanya tersebut merupakan sesuatu yang baru baginya. Apalagi sejak dilantik 26 Maret 2014 lalu, dirinya tidak hanya dinobatkan sebagai Deputi V yang bertanggung jawab terhadap masalah pembangunan, renovasi dari sejumlah sarana dan prasarana, tetapi juga merangkap Juru Bicara Menpora. “Selama inikan tidak ada istilah namanya juru bicara. Tetapi hal ini menjadi salah satu tugas saya di Kemenpora,” paparnya.

Merasa dirinya bukan mantan atlet ataupun aktivis kepemudaan yang paham dengan dunia olah raga dan pemuda, Gatot pun melakukan pendekatan lebih pada aspek profesional. “Bukan berarti substansi tidak penting. Itu sebabnya saya harus dengan kecepatan tinggi learning by doing. Mulai dari masalah regulasi olahraga dan kepemudaan hingga pengelolaan manajemennya,” ungkap lulusan Hubungan Internasional Fisipol, Universitas Gajah Mada ini, yang mendapatkan gelar MBA dari Central Queensland University, Australia.

Dalam melakukan pendekatan, pria kelahiran Yogyakarta, 31 Oktober 1961, mengikuti pola yang selama ini dilakukannya di Kemkominfo, yaitu berinteraksi langsung tidak hanya pada lingkungan kementerian tetapi juga secara ekternal, seperti dengan Komite Olahraga Nasional (KONI), Komite Olimpiade Indonesia (KOI), serta para pengurus cabang olahraga lainnya agar lebih cepat mengenal dunia olahraga dan pemuda.

“Interaksi ini sudah kami lakukan dengan baik sekali. Banyak masukan yang saya terima, bahkan dalam hitungan hari, saya sudah menjadi penangung jawab untuk penyerahan bonus atlet yang memperoleh mendali pada SEA Games yang berlangsung tahun lalu di Myanmar,” jelas bapak dari satu putra ini.

Tidak hanya itu, warna Kemkominfo pun dibawanya saat Menpora melakukan sosialisasi event Piala Dunia 2014 dengan memfasilitasi nonton bareng (nobar) dengan sarana video converence agar terhubung antara kantor Kemenpora di Jakarta dengan yang menonton dari lapangan Hasanuddin, Makassar.

Di nobar ini,  Menpora tidak hanya menikmati pertandingan Piala Dunia tetapi disamping itu juga berinteraksi dengan sejumlah mantan tim pemain nasional yang di undang untuk membahas mengenai permasalahan persepakbolaan dalam negeri secara video conference.

Gatot S Dewa Broto-Biskom-1“Pengaruh Komkominfo sangat kental sekali dalam kehidupan saya, sehingga bisa diibaratkan sudah khatam dengan dunia telematika. Jadi, tampaknya saya akan banyak membawa warna-warna Teknologi Informasi (TI) kedalam Kemenpora,” jelas penghobi renang dan aerobik ini.

Lebih lanjut, berikut ini wawancara BISKOM dengan Gatot S Dewa Broto yang memulai karirnya di Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi pada pertengahan tahun 1989 dan sempat menduduki beberapa jabatan seperti Kepala Seksi Giro, Kepala Seksi Tarif, Kepala Humas pada 2002-2003 di Ditjen Postel, kemudian 2008 sebagai Kepala Pusat Informasi dan Kemkominfo, hingga akhirnya menjadi Deputi Menpora  di 2014 ini.

Apakah ada kendala selama beberapa bulan ini Anda menjabat sebagai Deputi V di Kemenpora?
Alhamdulillah tidak ada kendala yang berarti, tetapi saya akui di sini memulainya dari nol sekali. Meskipun tadinya tidak tahu dan lingkup pengetahuan yang terbatas tetapi secara manajerial bisa saya kelola dengan baik tugas dan tanggung jawab saya.

Apa saja target Anda berkaitan dengan jabatan sekarang ini di Kemenpora?
Ada 5 hal yang ingin saya lakukan. Pertama pembenahan masalah pemberian bantuan terhadap pembangunan sarana dan prasarana olahraga dan kepemudaan. Kedua, ini lebih banyak kaitannya dengan masalah komunikasi publik. Sejak peristiwa Hambalang 2012, ada semacam esprit de corps di Kemenpora yang agak cenderung turun. Nah saya akan berinteraksi dengan rekan-rekan wartawan, bahwa Kemenpora itu banyak kerjaannya tiap hari.

Ketiga, menyelesaikan sejumlah regulasi terkait dengan standarisasi sarana olahraga seperti ukuran stadium bola maupun kolam renang berdasarakan standar internasional. Keempat, yang tidak kalah pentingnya adalah masalah penghargaan. Karena selama ini banyak peraih medali emas yang hidupnya terlantar. Nah, disini akan ada tradisi pemberian bonus atlet dan hal ini sudah diatur dalam peraturan presiden yang keluar pada bulan Juni.

Kelima, ingin meningkatkan kepedulian pemerintah khususnya pemerintah yang baru saja terpilih agar pemuda dan olahraga menjadi target yang lebih priority. Bila selama ini olahraga diperingkat 14 untuk prioritas pembangunan, inginnya bisa naik keperingkat lebih atas. Bila anggaran naik, maka pembinaan untuk olah raga ini bisa terangkat.

Secara lebih luas, dengan cara apa Anda memperjuangkan perkembangan TI saat ini?
Banyak tentunya. Misalnya saat ini, sistem scoring sudah menggunakan cara digital. Misalnya, pada pertandingan pencak silat  ataupun bela diri lainnya, saat ada pukulan masuk ke lawan secara otomatis akan terbaca sistem dan memberikan nilai. Jadi wasit tidak bisa bermain mata dengan wasit yang di samping. Sebetulnya itu sudah ada beberapa tahun lalu, jadi kami tinggal menyempurnakannya saja. Namun sekarang, kami berfikir agar ini tidak hanya diadakan di pusat saja tetapi juga di daerah.

Selain itu, inginnya media center di Kemenpora modelnya media center yang profesional. Saya pernah menjadi penanggung jawab media center di KTT Asean 2011 dan KTT APEC di Bali 2013. Dimana lebih dari 2500 wartawan di KTT Asean dan 6000 lebih di KTT APEC yang harus saya jamu dengan menyediakan bandwidth yang besar untuk memudahkan para awak media mengirim dan berbagi berita ke negaranya.

Hal ini ingin saya replikasikan pada media center yang ada Kemenpora. Mungkin tidak sebesar pada saat KTT cukup yang ukuran mini agar wartawan bisa dengan cepat mengakses berita dan melakukan video converence.

Banyak kalangan telematika yang menyayangkan kepindahan Anda ke Kemenpora. Apa alasan Anda melakuakan hal ini?
Terus terang, saya juga mendengar hal ini, khususnya menjelang dan paska pelantikan. Bahkan di Twitter sempat menjadi trending topic yang kemudian media-media online ikut mengangkat hal ini. Jujur saya akui, inginnya karir naik tetapi karena di Kemkominfo belum ada kesempatan bagi saya untuk naik ke Eselon 1, sementara Kemenpora menawarkan, tentunya saya mengambil kesempatan ini.

Perlu diketahui, sebetulnya penawaran ini sudah sejak setahun lalu. Tiga hari setelah Pak Roy Suryo dilantik menjadi Menpora, beliau menelpon saya untuk bergabung   dengannya. Tetapi waktu itu Pak Tifatul (Menkominfo -red) belum mengijinkan kepindahan saya dengan alasan belum ada orang yang menggantikan posisi saya.

Pada akhir 2013 Menpora kembali mengajukan surat kepada Pak Tifatul yang akhirnya diproses dan kemudian saya pindah. Jadi perpindahan ini bukan saya yang meminta. Saya memahami banyak kalangan yang menyayangkan kepindahan saya, tetapi di sisi lain ini dilakukan untuk sama-sama memajukan republik ini.

Gatot S Dewa Broto-Biskom-2Lalu, apa tanggapan Anda terkait munculnya nama Anda sebagai calon Menkominfo untuk kabinet Presiden terpilih saat ini, Joko Widodo?
Sebetulnya isu tersebut sudah berkembang sejak bulan Juni. Kalau tidak salah, sebuah media online mengangkat nama saya yang kemudian diikuti media-media lain. Saya siap saja menerima amanat tersebut, karena sudah tahu persis permasalahan di Kemkominfo itu seperti apa, istilahnya kalau Al Quran sudah khatam. Tapi bukan berarti saya yang terbaik, mungkin teman-teman yang ada disana seperti Dirjen-nya lebih pintar dari saya.

Meski demikian, perkembangan komunitas kan bukan semata-mata karena pintarnya tetapi mungkin mereka punya pertimbangan lain. Seperti diketahui, di Kemkominfo banyak pekerjaan rumah yang selama ini belum terselesaikan, seperti telepon masuk pedesaan dan mengenai industri kreatif. Saya tahu persis bagaimana cara mengatasinya.

Ada satu hal baru dari Jokowi yang menjadi trend yaitu istilah e-Blusukan. Untuk mendukung ini, sebetulnya di tempat Presiden SBY ada yang namanya situation room seperti Pentagon di White House. Presiden dalam hitungan detik atau menit bisa mengetahui komoditi atau cuaca di suatu daerah hanya dengan sekali klik. Dengan hal ini, Presiden bisa menentukan atau memutuskan hal-hal tertentu terkait pengembangan desa ataupun hal lainnya. Permasalahannya, bagaimana bila presiden melakukan kunjungan keluar kota? Tentunya perlu dibuat seperti mini situation room yang bisa digunakan pada mobil kepresidenan, ataupun di pesawat kepresidenan. Jadi meskipun sedang berpergian tetap bisa dipantau atau dikontrol oleh presiden.

Jika jadi Menkominfo, apakah Anda akan melanjutkan tradisi pemblokiran?
Pemblokiran harus dilihat terlebih dahulu konteknya. Selama Undang-undang (UU) masih menyatakan hal itu dilarang  berarti harus dilaksanakan tetapi jangan by request, seperti kasus Vimeo dan ISIS.

Setelah kasus ini ramai kepermukaan baru dilakukan pemblokiran. Seharusnya itu bisa by design dan roadmap-nya sudah tahu kira-kira yang mau difilter itu apa saja, karena kalau bebas-bebas sekali juga tidak bagus. Perlu diperhatikan juga masalah regulasinya yang semakin banyak out of date. Sebut saja UU Telekomunikasi produk 1999 dan UU ITE produk 2008, masalah penyiaran juga begitu. Jadi sudah tidak sesuai lagi dengan jaman dan harus diselesaikan dengan cepat.

Jika bisa memilih, di posisi mana Anda berharap dapat ikut berkontribusi untuk negara yang lebih baik?  
Sekali lagi, saya menikmati jabatan sekarang ini. Tetapi kalau saya harus memilih dan merupakan keinginan komunitas dan masyarakat untuk di Kemkominfo, maka saya akan menjalankan amanat tersebut. Tidak harus menjadi Menteri, menjabat sebagai Dirjen pun saya siap.

biskom-sept-14.inddBapak Jokowi menyatakan komitmennya untuk menggunakan TI buatan anak bangsa di pemerintahannya kelak. Bagaimana Anda melihat kemampuan dan karya anak Indonesia dalam hal ini?
Karya-karyanya sudah sangat bagus. Kita sudah sering mendengar bahwa anak-anak kita dapat medali emas di olimpiade Fisika, Matematika maupun penghargaan di bidang TI dan robot. Itu sebetulnya dasarnya satu, tinggal ngelink saja dengan bidang TI. Dan harusnya  Menkominfo di sini tidak sendiri, tetapi ada lintas menteri, yaitu misalnya dengan Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan untuk mengangkat karya anak bangsa ini.

Potensinya sudah ada, tinggal kita taruh mereka-mereka itu di perusahaan-perusahaan. Kalau tidak, maka jangan kaget kalau nanti diambil perusahaan asing. Sudah banyak kejadiannya, contohnya pembuat film anak Upin dan Ipin yang diambil Malaysia.

Apa saja kendala dan tantangan terbesar bagi Indonesia agar nantinya menjadi negara produsen, dan tidak lagi hanya menjadi negara konsumen TI?
Sebetulnya tergantung pada niat dan kemauan pemerintah itu sendiri. Peraturannya sudah ada tetapi tidak di-breakdown pada anak-anak peraturan. Misalnya, masalah Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). Pada saat tender 3G di tahun 2006 sudah diatur TKDN. Seharusnya setiap tahun ada peningkatan untuk penggunaan TKDN tetapi faktanya, kontrolnya saja lemah.

Memang laporan dari operator mereka sudah menggunakan TKDN sesuai aturan. Tapi siapa melakukan kontrol tersebut. Jadi kembali ke awal, kalau pemerintah ada kemauan maka harus duduk bareng dengan lintas kementerian dan mitra kerja. Setelah itu membentuk tim kecil membahas apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah. Leading sector-nya tetap di Kemkominfo. Kalau sudah, maka nanti akan ketahuan kira-kira apa saja yang perlu dilakukan dan mindframe-nya harus ketat juga.

Jangan sampai tertunda-tunda hanya untuk membuat peraturan menteri. Pola lama juga harus dilakukan, yaitu uji publik dan sosialisasi ke masyarakat. Operator juga harus dipaksa karena selama ini sudah merasa keenakan membeli barang murah dari luar. Berapa rupiah uang kita harus lari keluar, capital flight kita? Besar sekali.

Anda baru saja meluncurkan buku “The PR 2”, sebagai lanjutan dari suksesor “The PR 1”. Bisa diceritakan mengenai buku ini?
Buku ini merupakan kelanjutan dari buku pertama dengan isi yang berbeda tetapi tetap terkait dengan masalah public relation (PR). Rencana sebetulnya saat selesai ditulis pada bulan Maret 2013 ingin dijadikan satu. Namun terlihat terlalu tebal dengan lebih dari 900 halaman dan dibawanya pun tidak akan nyaman. Akhirnya dibuat dua edisi, buku pertama diterbitkan oleh Gramedia di awal tahun ini dan buku kedua diterbitkan oleh Media Bisnis Telematika di bulan Juni.

Buku pertama The PR lebih mengedepankan berbagai masalah benturan-benturan implementasi regulasi dan kebijakan telekomunikasi domestik yang harus dikomunikasikan pada media. Sedangkan buku ke dua atau The PR2, lebih mengedepankan persoalan benturan asing versus domestik, kegalauan pelaksanaan UU Keterbukaan Informasi Publik, strategi menghadapi tekanan, dan sikap apresiasinya pada media.

Hal-hal apa saja yang bisa dipetik oleh para Public Relation di dunia dengan membaca buku ini?
Ada tiga hal, pertama agar pandangan mereka lebih luas lagi. Sebagai Public Relation atau Humas itu tidak semata-mata hanya membantu Menteri atau Dirjen untuk protokoler dan mengadakan jumpa pers maupun membagi siaran pers. Tetapi terkadang bisa berada di tempat berbahaya dan menantang. Seperti yang saya alami, saya membuat siaran pers di wilayah Gunung Merapi.
Kedua, orang Humas itu seperti tentara yang harus bisa mengendalikan kerjaan dari tempat yang kadang-kadang remove. Seperti yang saya lakukan saat mengatur pelaksanaan video converence Presiden terkait peristiwa Merapi, hanya dari gerbong kereta yang berhenti total di daerah Subang karena ada kereta anjlok sebelumnya. Ketiga, jangan menjadi Humas jika hanya sebatas dari anggaran saja. Tetapi harus ada niatan untuk menjalin hubungan baik dengan siapapun.

Apa saja hal yang harus dipersiapkan untuk menjadi Public Relation yang tangguh?
Kompetensi nomor 1. Saya bukan seorang sarjana komunikasi, tetapi Hubungan Internasional (HI). Saya sadar bahwa bahwa teori ilmu komunikasi saya masih lemah, makanya saya selalu belajar dan membaca buku tentang ilmu komunikasi dan sebagainya. Kedua, jujur. Seorang Humas tidak boleh berbicara bohong. Ketiga, seorang Humas harus seperti sebuah iklan softdrink jaman dulu: kapan saja dimana saja bisa dihubungi.

Apa cita-cita Anda yang saat ini belum terwujud?
Dulu inginnya menjadi seorang Diplomat. Kebetulan ada basic HI dan menguasai tiga bahasa, yaitu Inggris, Jerman dan Perancis. Saya juga sudah mengunjungi banyak negara, yaitu 30 negara. Tapi takdir mengharuskan saya jadi seorang Humas, dan saya mensyukuri semua ini. •ANDRI/M. TAUFIK (foto)

1300 Peserta Padati GalowIT Ke 27

0

GalowIT-1

ADA yang beda di BSI Convention Center, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (21/9), pagi ini. Tak kurang dari 1300 anak muda memadati lantai 2 gedung itu. Hari ini hajatan GalowIT yang ditunggu-tunggu akhirnya diadakan untuk ke 27 kalinya.

Sejatinya, GalowIT adalah singkatan dari “Gaul Ama Onno W. Purbo seputar dunia IT”. Konsep acara ini adalah mengumpulkan siswa SMK, mahasiswa dan komunitas-komunitas anak muda yang menyukai dunia teknologi informasi (TI) dalam jumlah banyak, agar bisa berkumpul dan mendapatkan ilmu dari Pakar Internet, Onno W.Purbo.

GalowIT yang mengusung tema “Menuju Kota Bekasi yang Berpatriot dan Informatif” ini diselenggarakan oleh Raihan Teknologi dan Relawan TIK, serta melibatkan SMKN 2 Kota Bekasi dan Onno Center untuk ikut mempersiapkan acara ini.

Pada kesempatan ini, Onno menggelar workshop Membuat Sistem Operasi Android Sendiri. Menurutnya, “Dengan Android yang memiliki sumber kode terbuka, semua orang bisa membuat kebutuhan aplikasi sesuai yang dibutuhkan, untuk peralatan komputer maupun gadget.”

GalowIT-2

Selain Onno, Septriana Tangkary (Direktur Pemberdayaan Informatika, Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Kemkominfo) dan Arrival Dwi Santosa  (Pembuat Anti Virus ARTAV) juga menjadi pembicara utama dalam GalowIT.

Dalam paparannya, Septriana mengatakan, pengguna internet di Indonesia hingga saat ini telah mencapai 82 juta orang. Dengan capaian tersebut, Indonesia berada pada peringkat ke-8 di dunia. Dari jumlah pengguna internet tersebut, 80 persen di antaranya adalah remaja berusia 15-19 tahun. Sementara utuk pengguna Facebook, Indonesia di peringkat ke-4 besar dunia.

Namun, tambah Septriana, perkembangan teknologi bagaikan dua mata pisau yang perlu mendapatkan perhatian khusus dari semua elemen. Di balik manfaat internet, internet juga menimbulkan banyak dampak yang mengkhawatirkan, mulai dari pornografi, kasus penipuan, kekerasan dan lain sebagainya.

“Karenanya, pemerintah mencanangkan Program Internet Sehat dan Aman (INSAN) agar masyarakat mengetahui cara menggunakan internet, pemanfaatannya dan dampak yang ditimbulkan,” jelasnya.

Selanjutnya, saat presentasi produk anti virus buatannya, Arrival Dwi Santosa menyampaikan, ARTAV merupakan anti virus berbasis visual basic yang cukup mumpuni dalam melawan virus lokal ataupun global.  Tampilan grafis yang sederhana serta dukungan data base virus yang terus terbarui membuat ARTAV banyak diunduh.

Siswa SMK di Bandung ini sendiri membuat ARTAV sejak tiga tahun lalu saat dirinya masih menjadi siswa SMP, bersama sang kakak yang duduk di kelas 2 SMA Negeri 25 Bandung.

GalowIT-3

Onno Center, sebuah yayasan yang diprakarsai oleh para penggiat TI Indonesia juga berkesempatan menyampaikan presentasi singkatnya mengenai Onno Center. Pada kesempatan itu, salah satu pengurus Onno Center, Dedi Yudiant, memotivasi para pelajar untuk mempersiapkan diri terjun menjadi seorang cyberpreneur.

“Dengan ilmu TI yang kini semakin mudah didapatkan, para pelajar setelah lulus SMK bisa langsung menjadi seorang cyberpreneur yang handal, ataupun melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi, agar memiliki nilai lebih saat terjun ke dunia bisnis. Di sinilah tugas Onno Center, yakni memberikan bimbingan dan pembelajaran seluas-luasnya di bidang TI kepada siswa dan masyarakat supaya siap terjun ke dunia usaha TI,” jelas Dedi.

Dalam rangkaian acara GalowIT ke 27 juga dilaksanakan pengukuhan Relawan TI kota Bekasi serta serah terima server yang diberikan Asus untuk kegiatan streaming Relawan TI.

GalowIT ke 27 didukung pula antara lain oleh Kemkominfo, Universitas Surya dan TAITRA Taiwan Excellence, serta  BISKOM sebagai media partner. •

Smartfren Andromax V3s Dilengkapi Flashlight Kamera Depan

0

smartfrenUNTUK memenuhi kebutuhan perangkat ponsel untuk selfie, Smartfren yang dikenal dengan brand Andromax telah menyiapkan produk terbarunya bernama Andromax V3s yang dilengkapi flashlight tidak hanya pada bagian belakang saja, tetapi juga pada bagian depan ponsel.

Menurut Head of Smartphone Smartfren, Sukaca Purwokardjono, tren selfie telah menginisiasinya untuk mengeluarkan segera ponsel yang dapat mendukung aktivitas tersebut. Sayangnya, ponsel yang ada kebanyakan hanya mengandalkan resolusi kamera depan yang tinggi tanpa didukung flash untuk berselfie diruangan gelap. “Pengguna tidak perlu khawatir lagi untuk selfie di ruangan gelap karena V3s sudah dilengkapi flashlight pada kamera depannya,” ujar Sukaca, di Jakarta, (19/9).

Karena dikhususkan untuk berselfie ria, penggunaan huruf “s” pada seri ini sendiri berasal dari kata selfie dengan memiliki resolusi 8 megapiksel auto LED Flash untuk kamera belakangnya. Menariknya lagi, handset dengan luas layar 5 inci ini memiliki fitur Audio+ yang menyediakan berbagai settingan equalizer, mulai dari standar, dolby, maupun secara custom sesuai keinginan.

Untuk menunjang kinerja, Andromax V3s telah ditingkatkan performanya dibandingkan seri sebelumnya, yakni dengan menggunakan chipset Qualcomm Snapdragon terbaru MSM8612 Quad Core 1,2 GHz dan Graphic Adreno 302 GPU yang dilengkapi RAM 1 GB dan ROM 8GB. Untuk spesifikasi yang cukup tinggi ini, Sukaca belum memberikan rincian harganya secara detail. Tetapi dijanjikan, harga Andromax V3s tidak akan mencapai  Rp. 2 juta dan akan tersedia dengan tiga warna, yaitu black, dark blue dan white.

Tidak sendirian, Smartfren juga menghadirkan Smartfren untuk pengguna pemula, yakni Andromax C3 yang juga sudah menggunakan operating sistem tekini, Android 4.4 KitKat. Dibandrol dengan harga tidak lebih dari Rp.600 ribu, Andromax C3 menggunakan layar berukuran 4.0-inci resolusi WVGA (480 x 800 piksel) dengan  prosesor Dual-core 1.2GHz, GPU Adreno 302, RAM 512MB, ROM 4GB. Tersedia dengan warna black, white dan grey. •ANDRI

Sapa Manado, Onno Center Gelar Seminar Cloud Computing

0

SONY DSCPERTUKARAN data berukuran besar yang begitu cepat telah mempopulerkan teknologi Cloud Computing. Berbeda dengan server biasa yang dibatasi keterbatasan fisik seperti  jumlah core processor, harddisk dan memori,  maka Cloud Computing berbentuk kumpulan hardware atau server yang tersambung dalam sebuah jaringan (LAN / WAN). Yang menarik ternyata, sebenarnya kita bisa membuat server Cloud Computing sendiri dengan langkah yang relatif singkat dan murah.

Langkah-langkah pembuatan server Cloud Computing tersebut dibahas oleh Pakar Internet, Onno W. Purbo di hadapan peserta seminar dan workshop “Cloud Computing dan TV Internet” di Hotel Aryaduta, Manado, Sulawesi Utara  (16/9).

Acara yang diadakan oleh pengurus Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) Sulawesi Utara ini diikuti oleh anggota Apkomindo di Manado dan sekitarnya, dan terbuka bagi masyarakat umum.

Ketua Apkomindo Sulawesi Utara, Rival Hendrik mengatakan, “Masyarakat Sulawesi Utara menaruh perhatian besar terhadap perkembangan teknologi. Karenanya kami sangat senang bisa memfasilitasi masyarakat Sulawesi Utara dengan nara sumber yang sangat berkompeten, yakni Pak Onno. Kedepan, kami akan terus mengadakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.”

2. Foto bersama Workshop di Manado

Microsoft yang turut mensponsori acara ini mendapatkan kesempatan memaparkan layanan Cloud Computing yang disediakan perusahaan tersebut. Gerardo Andri, Cloud Sales Manager, Small and MidMarket Solutions & Partner Group Microsoft menyampaikan, Microsoft membuka layanan Cloud untuk banyak segmen, diantaranya untuk pendidikan, Usaha Kecil Menengah dengan layanan Azure in Open dan untuk pribadi maupun perusahaan.

“Penyimpanan awan milik Microsoft lainnya, OneDrive, belum lama ini juga melakukan peningkatan  batasan ukuran file yang bisa diupload,  dari sebelumnya berukuran maksimal 2 Gb menjadi 10 Gb untuk meningkatkan kepuasan pelanggan. Selain itu kami juga menjamin proteksi dan privacy penuh bagi pelanggan,” papar Gerardo.

Pada kesempatan ini, Onno W. Purbo sekaligus memperkenalkan Onno Center, sebuah yayasan pendidikan dan penelitian teknologi yang digagas oleh sejumlah Praktisi Teknologi Informasi (TI), kepada masyarakat Sulawesi Utara.

Soegiharto Santoso, salah satu Pendiri Onno Center menyampaikan, “Onno Center baru saja  melakukan soft launching, namun sambutan masyarakat begitu luar biasa. Suatu kebanggaan bagi Onno Center karena Apkomindo Sulawesi Utara berkenan mengundang kami untuk saling berbagi informasi seputar TI. Hal ini sejalan dengan misi Onno Center, yakni sebanyak mungkin bisa menyebarkan ilmu TI yang dimiliki Pak Onno, kepada masyarakat di seluruh Indonesia.”

Selain Cloud Computing, dalam seminar sehari ini juga diangkat tema lain, yaitu TV Internet. Tema ini dipilih setelah melihat perkembangan teknologi  telekomunikasi dan pertelevisian yang begitu luar biasa.

Seminar Cloud Computing dan TV Internet ini didukung oleh BISKOM sebagai media partner. •

200 Peserta Ikuti IT Camp 2014

0

SONY DSCBELAJAR teknologi informasi (TI) tidak perlu harus berada dalam kelas yang serius. Santai di bawah rimbunan pohon pun bisa. Suasana inilah yang berhasil dibawa oleh IT Camp, sebuah kegiatan workshop TI yang dipadukan dengan kegiatan kemping bersama.

Melibatkan lebih dari 200 peserta, IT Camp yang digelar setahun sekali ini telah terselenggara untuk kelima kalinya. ‘Do it Yourself with Android’ menjadi tagline dari acara rutin yang digawangi oleh ODC (one Destination Center) dengan KeRMIT (Kelompok Remaja Melek IT), yang pada tahun ini juga melibatkan Onno Center, sebuah yayasan pembelajaran TI yang didirikan oleh penggiat TI Indonesia.

Acara yang dilaksanakan di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur pada 13-14 September 2014 ini menghadirkan Onno W. Purbo, Pakar Internet, sebagai nara sumber workshop cara membuat sistem operasi Android sendiri. Tema lain yang tak kalah menarik dibawakan oleh para ahli, diantaranya pembuatan streaming server oleh Andri Johandri, Studio Streaming oleh Ian Keikai, Open BTS oleh Direktorat Perhubungan TNI Angkatan Darat, serta VoIP di Android oleh Anton Raharja.

SONY DSC“Peserta IT Camp 2014 sebagian besar anak sekolah, terutama SMK bidang TI. Bukan hanya dari Jakarta, peserta juga datang dari daerah lain seperti Pontianak dan Papua,” kata Nurlina Purbo, Ketua Pelaksana IT Camp.

IT Camp telah dimulai sejak tahun 2009. Pada saat itu peserta baru memperoleh pelatihan dasar seperti pengenalan komputer, jaringan, merakit komputer server, pembuatan jaringan internet, jaringan wireless maupun internet telepon (VoIP).

Tahun 2010, IT Camp memberi pelatihan berupa hacking karena banyaknya tuntutan dari peserta yang ingin mendalami ilmu tentang hacking. Sementara tahun 2011 materi yang diberikan tentang Open BTS dan Cloud Computing dan di tahun 2012, fokus materi pada TV Internet (Streaming), Radio Internet, Home Teater PC, Media Server, UPnP, OpenBTS new version (Multi BTS). “Tema yang dibawakan setiap tahun terus berubah mengikuti tren teknologi terkini,” tutup Nurlina.

IT Camp 2014 disponsori antara lain oleh TAITRA, Lenovo dan Canon (PT. Datascrip), serta BISKOM sebagai media partner. •

 

EPSON SURELAB SL-D700, Mesin Foto Dry-Lab Berbasis Inkjet

0

Epson SureLab SL-D700-1PARA pemilik usaha percetakan digital tentu senang mendengar kabar bahwa Epson Indonesia telah meluncurkan Epson SureLab SL-D700 secara resmi di tanah air. Mesin foto dry-lab berbasis inkjet ini mampu mencetak dengan kualitas tinggi hingga ukuran standar.

Epson SureLab SL-D700 didesain khusus untuk cetakan profesional seperti foto, kartu ucapan, undangan, brosur, pamflet promosi, dan lanskap panorama berkualitas tinggi. Kualitas cetak yang ditawarkan sangat tinggi namun tetap mampu menghadirkan biaya cetak yang terjangkau, fleksibilitas tinggi, dan pemeliharaan yang lebih mudah kepada pemilik usaha pencetakan foto khususnya lab foto.

Untuk menghasilkan cetakan premium digunakan tinta 6-warna Epson UltraChrome D6-S dengan cartridge ukuran 200ml yang mampu mencapai gamut warna yang luas serta hasil cetak yang tajam dengan densitas warna hitam yang tinggi. Gradasi warna yang tinggi ini dicapai melalui engine pemrosesan image berteknologi tinggi yang bisa menghasilkan citra optimal seperti biru langit yang cerah, corak kulit manusia, hingga latar belakang abu-abu yang halus.

“Dalam industri foto professional, Epson telah dikenal dapat memberikan kualitas tertinggi dalam mencetak foto premium. Oleh karena itu, kami sangat bangga dapat menghadirkan printer foto dry-lab Epson Surelab SL-D700 yang menghasilkan cetakan berkualitas tinggi sesuai dengan kebutuhan konsumen,” jelas M. Husni Nurdin, Deputy Country Manager PT Epson Indonesia.

Printer SureLab SL-D700 memiliki kemampuan mencetak pada media berukuran lebar 8 inci dan kecepatan hingga 360 lembar 4R per jam. Aktivitas printer pun mengkonsumsi tenaga lebih rendah dibandingkan wet-lab dan tidak memerlukan air, saringan udara, maupun bahan kimia. Hal ini mampu mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan sekaligus menawarkan total biaya kepemilikan (TCO) yang rendah.

Rol presisi pada SL-D700 juga memastikan penanganan kertas dengan akurat dan sistem nozzle check otomatis memastikan konsistensi hasil cetak berkualitas tinggi. SL-D700 pun mendukung cetak panorama pada media Glossy, Luster, dan Matte. Salah satu keunggulan printer yang kompatibel dengan sistem Windows dan Mac ini adalah kemampuan aktivasi yang cepat tanpa proses pemanasan bahan kimia terlebih dahulu dan dapat secara otomatis menyortir hasil cetak A4.

Epson Surelab SL-D700 sudah mulai dipasarkan di Indonesia dengan harga Rp. 85 juta, termasuk pajak dan berlaku untuk wilayah Jakarta. Paket ini termasuk 2 set tinta Epson UltraChrome D6-S, 2 Roll Paper 6 inci, dan 2 Roll Paper Epson 8 inci. •