Home Blog Page 951

BLACKBERRY Q5, Smartphone Kelas Menengah

0

 BLACKBERRY baru saja memperkenalkan ponsel pintar seri Q5 yang ditujukan untuk pasar menengah ke bawah. Meski dibanderol dengan harga murah, Q5 punya fitur serupa dengan Z10 yang diperuntukkan bagi kelas premium. Hal ini dikarenakan keduanya menggunakan sistem operasi yang sama, BlackBerry 10.

Ponsel yang dibalut materi plastik ini tidak lagi dibekali trackpad. Untuk melakukan navigasi, layar Q5 mendukung sentuhan jari dengan respon yang cukup peka. Ukuran layarnya 3,1 inci dan resolusinya 720 x 720 piksel.

Performa Q5 ditopang oleh prosesor dual-core 1,2 GHz, RAM 2 Gb, dan memori internal 8 Gb yang dapat diperluas dengan tambahan kartu memori eksternal MicroSD. Kamera utamanya menggunakan sensor 5 megapiksel dengan lampu kilat LED, dan sensor 2 megapiksel untuk kamera depan. Sementara itu, daya hidup ponsel ini ditopang oleh baterai berkapasitas 2.100mAh.

Sama seperti Z10, layanan pesan instan BlackBerry Messenger (BBM) di ponsel Q5 juga mendukung komunikasi video BBM Video dan Screen Share yang memungkinkan pengguna berbagi layar ponsel secara virtual dengan pengguna lain.

Bukan itu saja, Q5 juga memiliki fitur yang sama dengan Z10 dari sisi kamera. Keduanya sama-sama memiliki fitur Time Shift yang bekerja seperti mesin waktu untuk mengembalikan dan memajukan beberapa mili detik frame foto yang dipotret. Ada pula aplikasi Story Maker untuk mengedit video dari ponsel berbasis BlackBerry 10.

Dengan BlackBerry Hub, pengguna Q5 bisa melihat semua pesan dan notifikasi layanan komunikasi dalam satu ruang. BlackBerry Hub merupakan sebuah kotak masuk dan notifikasi terpadu untuk layanan SMS, email, jejaring sosial seperti Facebook, Twitter sampai LinkedIn.

Q5 yang tampak tebal dengan dimensi 120 x 66 x 10,8mm ini tersedia dalam pilihan warna merah, hitam, putih, dan merah muda. Kabarnya, Blackberry Q5 akan mulai dipasarkan bulan Juli, termasuk ke kawasan Asia Pasifik. Namun, perusahaan asal Kanada ini belum mengungkap informasi mengenai harganya. •

 

YIH-JYH KANG: Meet Taiwan Ajak Indonesia Ikut Pameran Taiwan

0

Upaya yang dikoordinasi oleh pemerintahan Taiwan melalui Taiwan External Trade Development Council (TAITRA) dalam mengembangkan pemasaran berbagai industrinya ke Indonesia telah berdampak pada semakin banyaknya brand-brand Taiwan yang dikenal dan digunakan di pasar Indonesia.

 ACER dan Asus merupakan produk teknologi informasi (TI) yang sebelumnya dianggap oleh konsumen di Indonesia sebagai produk buatan Amerika atau Jepang. Kini, setelah dilakukan kampanye Taiwan Excellence yang dimulai tiga tahun lalu sebagai upaya memperkenalkan brand-brand Taiwan, akhirnya Taiwan berhasil menyadarkan masyarakat bahwa produk tersebut merupakan  buatan negaranya. Hal ini tentunya menumbuhkan kepercayaan konsumen di tanah air untuk menggunakan produk Taiwan yang sudah terbukti kualitasnya. Bahkan banyak masyarakat yang telah lama menggunakan brand Acer dan Asus, secara tak sengaja ikut mengkampanyekan produk Taiwan di Indonesia.

Keberhasilan program yang digelar TAITRA dengan Taiwan Excellence-nya yang dimulai dengan memperkenalkan brand-brand TI pun lalu berkembang ke brand-brand kebutuhan rumah tangga. Dan kini organisasi yang berada di bawah naungan Bureau of Foreign Trade (BOFT) dari Ministry of Economic Affairs (MOEA) Taiwan kembali memperkenalkan industri jasa atau pamerannya melalui program Meet Taiwan.

Dikatakan Executive Director Exhibition Departement TAITRA, Yih-Jyh Kang, Meet Taiwan merupakan proyek empat tahun (2013-2016) yang bertujuan untuk memajukan industri MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition) Taiwan.

“Indonesia adalah negara tujuan pertama kami dalam roadshow Meet Taiwan karena selama ini telah merasakan terjalinnya hubungan yang kuat antara Taiwan dan Indonesia, terutama dalam industri dan perdagangan,” ujar Yih, saat membuka seminar Meet Taiwan di Shangrila Hotel, Jakarta beberapa waktu lalu  yang sehari sebelumnya berlangsung di Surabaya.

Diakunya, besarnya bisnis MICE Industri Taiwan telah menempati posisi 6 secara global untuk exhibition space sales di Asia tahun 2011 (UFI) dan ditahun yang sama menduduki peringkat keempat untuk the meeting market  di Asia Pacifik (ICCA).

“Industri pameran menjadi industri yang sangat penting di Taiwan. Perkembangannya telah mendorong terjadinya transaksi jual beli yang tercatat sebesar US$1 Milyar,” tambah lululsan Mechanical Enginering, di Tatung University, Taipei ini.

Berikut petikan wawancara BISKOM dengan Yih-Jyh Kang yang mulai bergabung ke TAITRA di tahun 1983 dan sebelumnya pernah menjabat sebagai Executive Director of Taipei International Convention Center.

Sebagai Executive Director Exhibition Departement di TAITRA, apa saja tugas-tugas Anda?
Saat ini saya mempunyai tiga tugas utama yang harus dijalankan, pertama bertanggung jawab akan keberhasilan penyelenggaraan pameran tahun ini di Taiwan yang berjumlah 31 pemeran internasional yang harus dilakukan dengan baik.

Kedua,  saya harus mencari tahu industri apalagi yang akan berkembang kedepannya selain pameran yang ada sekarang ini. Jadi bukan hanya industri ICT atau machinery saja tetapi harus bisa menggali kemungkinan-kemungkinan apalagi industri yang bisa diangkat. Dan ketiga, karena rata-rata 85% pameran di Taiwan diselenggarakan oleh TAITRA maka setiap negara yang datang ke Taiwan harus bisa memberikan masukan devisa negara dan bisa terjadinya pertukaran budaya.

Meet Taiwan adalah bagian dari program Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) antara Taiwan dan Indonesia. Apa tujuan dari terselenggaranya program ini?
Industri MICE yang kami soroti kali ini adalah sektor “E” (exhibition). Sehingga kami mefokuskan untuk mengajak pebisnis dan industri Indonesia untuk menghadiri pameran yang digelar oleh Taiwan. Bila mereka hadir dalam roadshow Meet Taiwan ini akan melihat prospek besar yang kami tunjukkan di Taipei Trades Shows yang menghadirkan sejumlah industri yang menjadi sumber daya utama, seperti industri TI, suku cadang dan aksesorisnya, serta bahan bangunan.

Mengapa Indonesia menjadi tujuan utama dari Meet Taiwan ini?  
Indonesia adalah pasar yang penting bagi Taiwan yang menempati peringkat sebagai pasar ekspor ke-11 terbesar di Taiwan dengan perdagangan bilateral tahun 2012 melebihi US$ 12.5 milyar. Dimana  nilai ekspor Indonesia ke Taiwan sebesar US$7,5 Milyar dan Taiwan ke Indonesia senilai US$5 Milyar. Sebab itu, untuk menjalin kerjasama dan hubungan yang lebih erat lagi, Taiwan memperkenalkan industry MICE  dengan penandatanganan MOU bersama Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (ASPERAPI).

Kenapa kunjungan roadshow Meet Taiwan hanya ke Surabaya dan Jakarta saja?
Indonesia merupakan negara Asean Free Trade Area (AFTA) yang perekonomiannya sedang berkembang pesat dengan kekayaan alam yang sangat berlimpah. Dimana setiap daerahnya juga sedang melakukan berbagai pembangunan. Inginnya saya bisa lebih banyak mengunjungi wilayah yang ada, tetapi saya merasa Surabaya dan Jakarta bisa mewakili untuk Indonesia karena keduanya merupakan kota terbesar di Indonesia.

Mengapa kali ini Taiwan lebih banyak melibatkan asosiasi?
Karena inikan pertemuan bilateral antara Indonesia dengan Taiwan. Kami merasa kalau lewat asosiasi untuk mengembangkan itu lebih cepat lagi efeknya. Sebenarnya kali ini TAITRA tidak sendirian tetapi juga membawa asosiasi Taiwan yang lain, seperti Taiwan Electrical and Electronic Manufactures Assosiation (TEEMA) dan  Chan Chao International.

Selain itu, dengan kerjasama dengan assosiasi yang ada di Indonesia akan memudahkan kita dalam mengurus berbagai perijinan, bea cukai maupun lainnya bila mengadakan pameran karena mereka lebih mengerti kondisi di dalamnya. Jadi kami merasa lebih baik bekerjasa sama dengan asosiasi yang ada di Indonesia.

 Bekerjasama dengan asosiasi mana saja dalam industri pameran ini?
Sebelumnya kami belum ada penandatanganan kerjasama sampai hari ini. Tetapi pada dasarnya kami sudah melakukan berbagai kerjasama sebelum MoU ini. Seperti yang dikatakan ketua ASPERAPI, Effi Setiabudi bahwa sebelumnya telah melakukan penandatangan kerjasama dengan China dan beberapa hari lagi juga akan melakukannya dengan Korea. Jadi memang mereka juga telah merasakan bahwa kerjasama antar asosiasi dengan asosiasi itu lebih bagus untuk memajukan industri pameran ini.

Bagaimana dengan Taiwan Excellence sendiri. Apakah masih akan berjalan?
Taiwan Excellence masih akan tetap ada dengan penambahan pada produk machinery. Tetapi belum bisa kami sebutkan jumlah penambahan brand yang akan ikutan dalam kampanye Taiwan Excellence karena saat ini masih dalam proses persiapan. Pastinya akan ada panambahan dan peningkatan yang lebih banyak lagi. Tetapi tetap brand TI akan menjadi fokus utama dalam kampanye ini.

Seberapa besar target yang ingin dicapai Taiwan tahun ini?  
Pemerintahan Taiwan berharap kerjasama ini semakin tumbuh dan berkembang pesat dengan peningkatan mencapai lebih dari 10%. Terpenting, kerjasama ini bisa memajukan produk-produk Taiwan di Indonesia. Kami juga sangat welcome untuk pebisnis dan industri Indonesia bisa mengikuti pemeran di Taiwan sehingga bisa juga dikenal brand dan produk Indonesia di Taiwan. • ANDRI

SONY CYBERSHOT RX1, Kamera Saku Full Frame

0

 SONY membawa banyak tren baru bagi dunia kamera saku belakangan ini. Salah satunya, perusahaan asal Jepang tersebut menawarkan kamera saku pertama di dunia yang menggunakan sensor berukuran penuh atau full-frame. Seri yang dimaksud adalah Cybershot RX-1.

RX1 tampak cukup besar, tapi terbilang lebih kecil dibandingkan beberapa kamera prosumer yang mengandalkan lensa dengan jangkauan zoom panjang. Bodinya dibalut dari bahan logam membuatnya kokoh dan mantap dibandingkan kamera saku kebanyakan.  Kamera ini dilengkapi dengan layar TFT 3 inci resolusi tinggi dengan 1,2 juta piksel. Tidak banyak tombol yang tersedia sehingga membuatnya tampil dengan kesan minimalis. Terdapat kenop putar yang mengatur mode pemotretan di bagian atas dan satu kenop tambahan untuk mengatur exposure compensation. Selain itu, terdapat tombol C yang dapat diatur sebagai tombol pintas (shortcut) untuk fungsi tertentu seperti mengatur ISO dan sebagainya.

Sony juga menyediakan tiga setting custom untuk mempercepat proses mengatur setting saat hendak menjepret. Anda bisa mengatur setting dari 27 fungsi di RX1 lalu menyimpannya di salah satu mode tersebut. Misalnya, Anda dapat mengatur Drive Mode, ISO, White Balance, dan setting lainnya, lalu menyimpannya sebagai satu dari tiga pengaturan khusus tersebut.

Sony RX1 menggunakan sensor berukuran penuh dengan resolusi 24 megapixel, sama seperti sensor Sony Alpha SLT-A99. Dipadukan dengan lensa Carl Zeiss Sonnar T* (T Star) 35mm f/2.0, RX1 mampu menghasilkan foto yang menakjubkan. Lensanya dapat menemukan fokus dengan cepat dan nyaris tanpa suara.

Sony menambahkan satu fitur yang dapat mengurangi noise pada hasil bidikan, yaitu Multi NR Auto. Dengan fitur ini, RX1 mengambil beberapa gambar yang lalu digabungkan menjadi satu gambar dengan tingkat noise lebih rendah. Dengan performa ISO yang mantap, pengguna dapat memotret di malam hari atau suasana remang-remang tanpa bantuan tripod. Sony juga menawarkan pilihan format RAW yang dapat diproses lebih baik di komputer.

Bukan hanya fitur canggih yang diperuntukkan bagi fotografer profesional, Sony juga menyediakan berbagai fitur untuk pemula, antara lain adalah Auto HDR (High Dynamic Range), DRO (Dynamic Range Optimizer), Auto Portrait Framing, Creative Style, Picture Effect, dan dukungan perekaman video Full HD.

Karena semua kecanggihannya, Sony Cybershot RX1 dijual seharga Rp. 28.999.000. Wow! •

Taiwan Excellence Dimeriahkan Industri Mesin

0

KAMPANYE Taiwan Excellence sebagai upaya memperkenalkan brand-brand Taiwan yang dimulai sejak tiga tahun lalu di Indonesia telah berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia akan merk-merk global Taiwan.

Dengan keberhasilan program yang diorganisasikan oleh Bureau of Foreign Trade (BOFT) dari Ministry of Economic Affairs (MOEA) Taiwan, dan diimplementasikan oleh Taiwan External Trade and Development Council (TAITRA), Taiwan Excellence telah membawa brand-brand lainnya untuk bergabung. Ini terlihat dengan semakin banyaknya brand yang diperkenalkan di dalam Taiwan Excellence, mulai dari kategori produk teknologi informasi (TI), hingga home appliance, dan kini giliran produk permesin ikutan bergabung.

Dalam memperkenalkan industri mesin ini, Taiwan Excellence menggelarnya di ajang Machine Tools Exhibition & Conference (MTT Expo 2013) yang berlangsung di JIExpo Kemayaron Jakarta, selama tiga hari dengan memperkenalkan 20 brand di industri permesinan.

“Ini merupakan yang pertamakali industri permesinan dipamerkan di Indonesia melalui Taiwan Excellence yang saat ini dikombinasikan dengan MTT. Mereka hadir disini untuk memperkenalkan produknya sekaligus untuk mendapatkan distributor yang cocok untuk menjual produknya,” ujar April Lin, Project Manager IMC Section, Strategic Marketing Departement, Taitra, di Jakarta (22/5).

Dijelaskannya, saat ini perkakas mesin adalah ekspor permesinan Taiwan terbesar yang menduduki peringkat tiga di dunia dengan perkiraan nilai ekspor total sebesar US$ 7 miliar pada 2015, yang memperlihatkan kenaikan dari US$ 4,23 miliar pada 2012.

Direktur TAITRA Jakarta, Tony Lin mengatakan, “Dengan keikutsertaan industri permesinan Taiwan dalam kampanye Taiwan Excellence tahun ini dapat memberikan sarana bagi sejumlah besar pemain di industri permesinan Taiwan untuk menampilkan produk-produk mesin yang berkinerja tinggi namun dengan harga bersaing untuk memenuhi permintaan dari Indonesia yang semakin meningkat.” Lanjutnya, dengan menggunakan produk-produk peralatan mesin Taiwan yang dipadukan dengan tenaga kerja yang berkompetensi serta inisiatif bisnis yang taktis, pabrik-pabrik di Indonesia akan memiliki produktivitas dan efisiensi tinggi yang dapat mengurangi biaya.”

Saat ini, lima produk ekspor permesinan Taiwan yang terbesar adalah perkakas mesin, kemudian peralatan mesin untuk plastic dan karet, bearing, gir, ball screw, mesin khusus lain, dan klep serta berbagai suku cadang. Brand-brand yang diperkenalkan meliputi, Aurotek, Autowell, Chin Fong, CGM, CHMER, Chum Power, FCS, Feeler, Hiwin, Kent, Lih Song, Mars, ProArc, Rich Sou, Seyi, Shintek, Tongtai, WELE dan Wexten.

Sebeumnya, TAITRA juga mengadakan Trade Mission to the Southeast Asia di Hotel JW Marriot Surabaya pada 21 Mei 2013 lalu. Sama seperti tahun sebelumnya, acara ini dimaksudkan untuk membuka peluang investasi dan kerjasama bisnis di bidang  kebutuhan konsumen, produk kesehatan, dan peralatan industri antara Indonesia dan Taiwan. ANDRI

DELL LATITUDE 3330, Notebook 13 Inci Untuk Pelajar dan UKM

0

 DELL menyasar target para pelajar dan sekolah serta bisnis kecil yang beranggaran ketat, untuk notebook terbaru mereka,  Dell Latitude 3330. Kendati akan dijual dengan harga yang relatif terjangkau, Latitude 3330 tetap dirancang elegan, ringan dan kokoh, serta dengan baterai yang tahan lama.

Memiliki layar 13.3 inci HD (1366×768 piksel), Dell Latitude 3330 juga mendukung Wireless Display (WiDi), perangkat ini juga telah menyediakan VGA dan HDMI video output yang berguna menghubungkan layar eksternal atau proyektor untuk keperluan presentasi.

Dell Latitude 3330  didukung oleh pilihan prosesor Intel hingga Core i5-3337U, grafis yang terintegrasi dan RAM 2Gb (dari kapasitas maksimum 8Gb), membuat perangkat ini cukup dapat diandalkan untuk membantu kinerja para siswa dan usaha kecil.

Notebook ini dilengkapi dengan solid state hybrid drive 500Gb, hardisk 320Gb ataupun SSD 128Gb untuk ruang penyimpan data. Sederet fitur lain yang dimiliki notebook ini terdiri dari WiFi 802.11n, Bluetooth 4.0, webcam HD 720p, port USB 3.0, card reader, GPS opsional, dukungan mobile broadband dan baterei 6-sel yang sanggup menyediakan masa pengoperasian yang tahan lama.

Dell Latitude 3330 dibanderol sekitar US$ 419 atau setara dengan Rp. 4 jutaan. •

ZAIN ADNAN: Software Berlisensi, Bisnis Pasti

0

Dengan alasan murah, penggunaan software bajakan telah menjadi jalan keluar bagi pengguna yang ingin menikmati software atau program tertentu dalam mendukung aktivitas komputasinya.  Peminatnya pun semakin bertambah tiap tahunnya, yang mempengaruhi semakin bertumbuhnya pula penyedia kebutuhan produk bajakan tersebut di pasaran dengan beragam bentuk dan cara.

 MARAKNYA penggunaan software bajakan menimbulkan keprihatinan banyak pihak, terutama pengembang software yang merasa dirugikan karena hak kekayaan intelektualnya (HKI) merasa tidak terlindungi. Padahal di negara hukum seperti Indonesia ini sudah mengatur secara jelas bahwa pelanggaran HKI dapat ditindak secara hokum, tetapi tetap saja penggunaan dan penyebaran software ilegal semakin tinggi. Bahkan penggunaannya tidak hanya secara personal tetapi di lingkungan perusahaan juga sudah banyak menggunakan produk bajakan.

Memperhatikan keadaan ini, The Software Alliance  (BSA) yang merupakan badan advokasi global terkemuka untuk industri software ini segera menunjuk Kepala Perwakilan BSA yang baru di Indonesia belum lama ini, yaitu Zain Adnan, untuk memimpin BSA menjalankan upaya organisasi mencakup kebijakan, edukasi, pemasaran, komunikasi serta upaya penegakan hukumnya.

“Dengan memajukan perlindungan hak cipta software, kita mempunyai kesempatan bukan hanya untuk mendukung pertumbuhan industri software lokal, tetapi juga mendukung investasi lokal dan mancanegara untuk inovasi TI yang akan menumbuhkan kualitas penciptaan lapangan pekerjaan,” ucap Zain, yang mendapatkan gelar Master di bidang Hak Kekayaan Intelektual dari University of New Hampshire School of Law, Amerika Serikat.

Diharapkan, keberadaan ayah tiga anak ini dapat mendorong pertumbuhan industri software lokal. Ia pun menerangkan prioritas utamanya sebagai Kepala Perwakilan BSA adalah mengupayakan membantu kebijakan-kebijakan member company, mensosialisasikan kepada stakeholder dan pemerintah agar penggunaan software legal dapat segera dilaksanakan, serta membantu kepolisian dalam penegakan hukumnya.

Dalam upaya memberikan informasi terkait masalah HKI, khususnya tentang software kepada masyarakat, bertepatan dengan pengangakatannya di awal tahun, juga diluncurkan komik edukasi mengenai hak cipta software dan situs baru www.pakaisoftwareasli.com. Bila informasi dirasakan masih kurang, BSA juga menyediakan hotline BSA di 0800-1-272-272.

“Peluncuran ini merupakan salah satu upaya kami untuk memberikan edukasi dan sosialisasi agar kesadaran menggunakan software legal makin tinggi di masyarakat,” jelas pria kelahiran Solo yang gemar traveling, membaca dan menulis ini.

Berikut petikan wawancara BISKOM dengan Zain Adnan yang memiliki beragam pengalaman dan pendidikan di bidang HKI.

Sebenarnya apa saja keuntungan menggunakan software asli?
Tentunya bisa meminimalisasi resiko virus atau trojan, dapat mengakses update dan software support, leluasa memakai semua fitur di piranti lunak, menjaga produktifitas dan efisiensi kerja, menjaga kemanan dan ketenangan dalam usaha dan beraktifitas, serta memberi kontribusi untuk perkembangan industri dan ekonomi secara keselurahan.

Sudah sejauh mana edukasi dan sosialisasi yang dilakukan berkaitan penggunaan software legal?  
Untuk lebih memfokuskan untuk melegalisasikan software di perusahaan, kami telah memberikan pelatihan-pelatihan bagaimana untuk mengaudit perusahaannya sendiri terkait penggunaaan software. Biasanya kami mengundang perusahaan-perusahaan yang berada di kawasan industri. Bila mereka sudah bisa mengaudit sendiri maka mereka bisa menentukan pilihan software apa saja yang dibutuhkan dan beli. Untuk itu, kami sudah memperkenalkan Software Asset Management (SAM) untuk memudahkan perusahaan-perusahaan menggunakan software-software yang dirasakan perlu saja. Tidak semua software diwajibkan punya, tapi yang terpenting adalah efisien untuk menggunakan software asli atau legal.

Baru-baru ini kami juga mengeluarkan komik mengenai hak cipta software, berjudul “Software Berlisensi Bisnis Pasti” untuk memberikan ilustrasi yang lebih mudah untuk dimengerti pesan yang ingin kami sampaikan. Rencanya, komik ini akan kami bagikan secara gratis ke sekolah, universitas, perusahaan dan asosiasi.

Apa motivasi yang ingin dicapai dengan peluncuran komik tersebut?
Komik ini sebenarnya untuk memudahkan mengetahui apa saja yang bisa dilakukan bila menggunakan software berlisensi atau asli. Serta resiko hukum dan resiko bisnis yang dihadapi bila menggunakan software bajakan. Seperti salah satu ilustrasi yang digambarkan, seorang pemimpin perusahaan menghadapi kendala saat memberikan presentasi kepada investor karena laptopnya menggunakan software bajakan sehingga file presentasinya terganggu. Tentunya dimata investor, perusahaan itu dianggap tidak bonafit sehingga menimbulkan citra buruk perusahaan yang menggagalkan kerjasama bernilai jutaan dolar. Jadi sebenarnya kami ingin memberi gambaran bahwa kerugian yang dihadapi menggunakan software bajakan itu lebih besar resikonya. Sehingga bisa menimbulkan pemikiran untuk beralih menggunakan software yang berlisensi atau asli.

Seperti apa bantuan yang diberikan BSA dalam upaya penegakan hukum?
Kami membantu memberikan saksi ahli. Misalkan, Kepolisian ada kecurigaan pada sebuah perusahaan menggunakan software bajakan. Saat Polisi melakukan tindakan, biasanya meminta bantuan BSA untuk menyediakan perusahaan IT Independent sebagai auditor untuk mengecek penggunaan software di dalam perusahaan tersebut.

Sebelum kepemimpinan saya, sebenarnya BSA juga sudah melakukan kerjasama MoU dengan Kepolisian untuk memberikan pelatihan investigasi bagaimana menemukan software yang ilegal itu seperti apa. Dengan pelatihan tersebut maka Polisi juga inisiatif untuk bisa melakukan tindakan di lapangan.

Belakangan ini pemerintah dan kepolisian melakukan razia dan penangkapan terhadap pengedar software bajakan. Apakah yang dilakukan pemerintah dan kepolisian ini sudah sesuai harapan?
Apa yang dilakukan pemerintah dan kepolisian sudah bagus, tetapi pastinya masih ada ruang untuk tumbuh lebih baik lagi. Mungkin perlu lebih sering lagi melakukan hal tersebut dan mengedukasi masyarakat dengan melakukan konferensi pers bahwa telah dilakukan penegakan hukum. Sehingga pebisnis software tertarik untuk berinvestasi di Indonesia karena menganggap penegakan hukum HKI berjalan baik dan pebisnis akan lebih berani untuk berjualan di Indonesia. Jadi dari segi perkembangan ekonomi bisa berkembang lebih maju lagi.

Dari data yang dimiliki BSA, seberapa besar peredaran produk software bajakan di Indonesia?
Kami merujuk kepada studi IDC tahun 2011, dimana tingkat pembajakan software di Indonesia mencapai 86% dengan nilai US$ 1,47 Milyar setara Rp.12 Trilyun. Kalau saja nilai ini dimasukkan kepada pajak yang dibayarkan tentunya mempunyai nilai yang cukup besar.

Berarti di sini, pemerintah juga dirugikan karena tidak masuknya pajak. Tidak hanya itu dengan tingginya pembajakan, kini Indonesia masuk daftar priority watch list yang mempengaruhi preferential treatment dari General System of Preferences (GSP). Jadi keringanan bea masuk untuk produk-produk Indonesia ke Amerika itu bisa dikurangi, dimana nilainya mencapai milyaran dolar.

Apakah presentasi ini bisa turun?
Kemungkinan bisa, selama kita melakukan tindakan hukum, memaksimalkan edukasi dan sosialisasi, serta melakukan konferensi bila ada tindakan. Kalau ini dilakukan lebih gencar maka orang akan lebih aware sehingga dengan sendirinya pelaku bisnis akan melegalisasikan software-nya. Dengan begitu akan ada penurunan. Bila ini terjadi, kemungkinan Indonesia bisa dilihat oleh negara-negara maju sehingga bisa keluar dari priority watch list.

Apakah hukum yang mengatur tentang pembajakan software HKI sudah tepat?   
UU hak cipta no. 19 tahun 2002 saya rasa sudah bagus. Saya dengar ada kemungkinan UU hak cipta mau dirubah supaya ada tambahan mengenai recording untuk film. Jadi tinggal penegakan hukumnya yang perlu dijalankan dengan baik, serta melakukan sosialisasi lebih gencar ke masyarakat agar mengetahui kalau mendownload atau instal software ilegal itu melanggar hukum. •ANDRI

EDIMAX AC1200, Router & USB 3.0 Adapter Pack Ganda

0

 EDIMAX Technology, perusahaan yang bergerak dalam bidang IT Network Solution berkomitmen untuk mengakomodasi kebutuhan koneksi jaringan di Indonesia. Belum lama ini, Edimax menghadirkan dua perangkat terbarunya yang mampu memberikan solusi akses jaringan cepat untuk mentransfer file video high definition (HD) ataupun streaming konten secara lokal. Kedua perangkat tersebut adalah AC1200 Router dan AC 1200 USB 3.0 Adapter Pack Ganda.

AC1200 Router dan AC 1200 USB 3.0 Adapter Pack Ganda menawarkan kemudahan menggunakan bandwidth untuk dapat digunakan di beberapa perangkat sekaligus, baik digunakan di dalam lingkungan kantor atau pun rumah.

Kedua perangkat terbaru keluaran Edimax ini dilengkapi dengan wireless router 802.11ac dan USB 3.0 adapter USB untuk koneksi ke perangkat PC. Protokol jaringan 802.11ac menawarkan kecepatan jaringan nirkabel hingga 3x lipat dibanding jaringan 802.11n.

Dengan protokol nirkabel 802.11ac memungkinkan kecepatan hingga 867Mbps. Sedangkan USB 3.0 adaptor hadir dengan bandwidth 5GHz dan 2,4GHz, untuk mengatasi gangguan streaming bebas serta transfer video full HD dengan kecepatan tinggi. Konektivitas 2,4 GHz digunakan untuk layanan yang tidak memerlukan banyak bandwidth chatting, browsing, ataupun mendownload file kecil. Sedangkan dengan menggunakan port USB 3.0 memberikan akses full bandwidth dengan transfer data hingga 5Gbps.

Kedua produk ini hadir dalam 1 paket penjualan yang dibanderol dengan harga US$ 149,99 atau sekitar Rp. 1,4 juta-an. •

Ribuan WiFi Gratis Terpasang di 2013!

0

 TEKNOLOGI informasi (TI) dipercaya dapat mendongkrak perekonomian suatu negara. Secara mendasar, informasi juga menjadi bagian dari Hak Azasi Manusia (HAM) dan keterbukaan informasi merupakan salah satu ciri penting sebuah negara demokratis yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat.

Demi memfasilitasi masyarakat dengan sarana informasi yang memadai, pemerintah belakangan ini gencar membangun fasilitas hotspot di sejumlah kawasan publik. Dengan teknologi Wireless Fidelity (WiFi), masyarakat  dapat membuka website, browsing, berkirim email, ngobrol, atau membuka situs jejaring sosial di titik hotspot melalui gadget berfasilitas WiFi yang mereka punya.

Pemerintah, melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika, pada 2013 ini berencana  membangun 700 titik WiFi gratis. Menkominfo, Tifatul Sembiring mengatakan, fasilitas free WiFi ini untuk mewujudkan 50% masyarakat Indonesia agar bisa mengakses internet gratis.

Pembangunan WiFi ini adalah kelanjutan dari 300 titik free WiFi yang terpasang di tahun sebelumnya, yang ditempatkan pada kawasan publik, seperti rumah sakit, terminal, dan lembaga pendidikan. “Dengan penambahan WiFi gratis, ekonomi berbasis TI dapat semakin maju,” katanya (4/5).

Menkominfo mencatat, pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 50% dari jumlah penduduk. Bukan hanya sekadar mengakses, tapi juga memanfaatkannya untuk bisnis usaha yang total keseluruhan industri bisa menembus angka Rp. 400 triliun per tahunnya. “Jumlah telepon seluler, hampir menyamai banyaknya penduduk Indonesia,” ungkap Tifatul.

Bukan hanya di Jakarta sebagai ibukota negara, pemasangan WiFi sebagai bagian dari  program Indonesia Connected ini juga mencakup seluruh wilayah di Indonesia. “Layanan internet kecamatan juga sudah jalan. Ini memberikan kemudahan masyarakat di pelosok negeri saat membutuhkan internet,” tutur Tifatul. Tahun ini saja, sebanyak 30 ribu titik fasilitas WiFi terpasang di wilayah Banyuwangi dan Bandung, 40 ribu akses WiFi di daerah Yogyakarta, dan tentunya di daerah-daerah lainnya.

Sebelumnya, seluruh taman kota yang ada di Jakarta juga direncanakan akan dilengkapi dengan fasilitas internet nirkabel gratis, termasuk di  7000 sekolah di Jakarta. Pemasangan internet WiFi ini sejalan dengan konsep Jakarta Smart City yang dicanangkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo.

Sekali lagi, tak perlu menunggu terlalu lama, pemerintah menargetkan pembangunan ribuan titik WiFi seluruhnya rampung di 2013. Padahal, tahun ini tinggal tersisa 8 bulan saja. Mampukah pemerintah mewujudkan fasilitas publik ini? Mari kita awasi bersama. •

TELAH TERBIT BISKOM EDISI MEI 2013

0

MAJALAH BISKOM kali ini menampilkan Ketua Umum Federasi Teknologi Informasi Indonesia (FTII), Sylvia W. Sumarlin (Terima kasih kepada  FTII yang turut mendukung Majalah BISKOM).

Dalam kesempatan ini, kami sekaligus menawarkan kepada seluruh pembaca untuk bekerjasama saling menguntungkan dengan Majalah BISKOM, baik berupa pengiriman artikel Teknologi Informasi (TI), mengadakan seminar, workshop dan pameran serta kegiatan-kegiatan lainnya yang berkaitan dengan dunia TI.

Topik menarik Majalah BISKOM Edisi Mei 2013 diantaranya:

• COVER STORY: Sylvia W. Sumarlin, Ketua Umum FTII, “Cyber Defence Pertahankan Kedaulatan Negara”

• HEADLINE:
–    Menanti WiFi Publik
–    WiFi Jangkau Area Lebih Luas
–    9 Cara Aman Gunakan WiFi Publik

• FIGURE:
–    Dony Koesmandarin, Manajer Pengembangan Bisnis, Kaspersky Lab: “Ribuan Virus Baru Menyebar di Smartphone”
–    David Hall, Regional Consumer Product Marketing Manager Symantec: “Spamhaus DDoS, Cyberattacks Terbesar Dunia”
–    Ruslan Rustam, Direktur Utama MD Media: “Digitalisasi Kian Berkembang”

• FOCUS:
–    Yuk, Internet-an di Pesawat!
–    OSS Makin Mendominasi
–    Kacamata Pintar: Google Glass
–    Bila Kecanggihan Google Jadi Bumerang
–    2013, Spam Masih Marak
–    Mendesak: Big Data

• REVIEW & CELLULAR:
–    Samsung Galaxy S4
–    Acer Aspire P3
–    Fujitsu M10
–    Edimax AC1200 Router
–    Sony Cybershot RX-1
–    Lenovo IdeaPhone S720
–    Sandisk Cruzer Orbit
–    Samsung ATIV Book 5
–    Advan Deskbook

• SNAP:
–    Andal Software Andalkan Produk
–    OPPO Resmi Masuk Indonesia
–    Dell Perkenalkan Brand Influencer XPS 12
–    IDBYTE 2013 Bangun Perusahaan Digital Kelas Dunia
–    Oracle SPARC Terbaru Gunakan Mikroprosesor Tercepat Dunia
–    Epson Proyektor Berhasil Pecahkan Record Baru
–    Sony, 2013 Fokus di Video dan Sound
–    ICrOSS Untuk Kemajuan OSS di Indonesia

Dapatkan Majalah BISKOM di Toko Buku Gramedia dan Gunung Agung atau berlangganan melalui Bagian Sirkulasi Majalah BISKOM. Untuk review, ujicoba, update harga produk dan kegiatan perusahaan Anda, hubungi redaksi[at]biskom.web.id •

ICrOSS Untuk Kemajuan OSS di Indonesia

0

 SEBAGAI upaya dan komitmen untuk terus menumbuhkan pengguna open source software (OSS) di tanah air, Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI) menggelar Indonesia Creative Open Source Software.

Indonesia Creative Open Source Software (ICrOSS)  adalah sebuah konferensi tahunan OSS yang dilaksanakan untuk  memperluas wawasan bagi industri maupun regulator untuk lebih terlibat dalam rangka menumbuh kembangkan industri berbasis teknologi OSS sekaligus membuka wawasan bagi industri dan regulator untuk mengkaji dan memahami tantangan penerapan OSS.

“Kami ingin ICroSS dapat menyatukan dan memperkuat serta meningkatkan skill komunitas open source. Selain itu, dengan berkumpulnya komunitas yang terdiri dari praktisi dan regulator, harapannya adalah agar dapat bersama-sama mempersiapkan solusi bagi perkembangan OSS di Indonesia,” ujar Ifik Arifin, Ketua Panitia ICroSS 2013, di Jakarta (24/4).

Berlangsung sejak 24-25 April 2013 di Balai Kartini, Jakarta, konferensi terbesar OSS ini dihadiri lebih dari seribu praktisi, baik dari industri maupun regulator OSS dengan menyoroti empat materi utama, yaitu Digital Content Creative, Green ICT and Sustainability, Cloud and Internet of Things, and Cyber Security. Dimana acaranya dirangkai dalam bentuk seminar, workshop, lomba, pertemuan komunitas open source, dan pameran produk-produk open source.

 Ketua Umum AOSI, Betti Alisjahbana, dalam presentasi pembuka yang berjudul, “Open Source: Kepeloporan dalam Inovasi dan Pemberdayaan” menyampaikan optimismenya pada OSS yang mampu membawa Indonesia sebagai negara berkembang dapat setara dengan negara-negara maju lainnya. Betti menjelaskan bahwa OSS telah menjadi pionir inovasi teknologi yang membuka peluang kolaborasi. Dengan ketersedian software yang ada tidak perlu untuk membangun sistem yang baru, cukup dengan kolaborasi dari sistem yang sudah ada. Secara otomatis Indonesia tidak perlu lagi membangun sistem sehingga tertinggal langkah, menurut Betti Indonesia bisa memulai dari start yang sama. “OSS dapat menjadi enzim bagi inovasi melalui integrasi komponen yang sudah ada dengan kolaborasi,” ungkap Betti.

Menariknya, di hari kedua event ini digelar kompetisi Cyber Defence yang diikuti oleh 20 tim terdiri dari 5 orang. Dalam kompetisi ini setiap tim mempunyai tugas menjaga server dari serangan-serangan para juri berupa pencurian file maupun mengacak-acak file. Tidak ada batasan tools yang digunakan oleh peserta hanya setiap peserta diwajibkan menggunakan perangkat open source dalam mempertahankan servernya.
Di kesempatan ini tim dari Departemen Pertahanan Republik Indonesia menurunkan beberapa timnya sebagai peserta. Setelah mengikuti hampir selama sehari kompetisi, akhirnya dua Tim Cyber Defence Kementerian Pertahanan dengan nama tim Brahma dan tim Baladewa berhasil merebut Juara 2 dan 3. Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, pun hadir untuk menyerahkan piala bergilir Cyber Defence Competition ICrOSS.

 Dikatakan Ketua Federasi Teknologi Informasi Indonesia (FTII), Sylvia Sumarlin, penyelenggaraan kompetisi ini merupakan salah satu kegiatan yang dirancang untuk mengidentifikasi orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk melakukan cyber defence. “Mengingat critical infrastruktur sudah mulai memanfaatkan TI maka diperlukan keahlian mereka untuk mempertahankan kedaulatan negeri ini. Kebetulan Menteri Pertahanan ingin memberdayakan mereka ini nantinya bisa menjadi salah satu komponen bela negara.”

Sedangkan workshop yang digelar pada seminar ICrOSS kali ini meliputi, Network Security, Participatory Mapping menggunakan GIS, Cloud Management, Internet of Things dan Document Management System. Didukung oleh FTII, PANDI, APJII, Id-SIRTII/CC, BPPTI, Ristek, Inixindo, Kominfo dan Dewan Nasional Perubahan Iklim.

Melalui acara ini diharapkan para praktisi di bidang TI dapat memanfaatkan rangkaian acara seminar, workshop dan kompetisi dalam CroSS ini untuk kemajuan bersama. •ANDRI