Home Blog Page 955

FORTIGATE 3600C, Generasi Terbaru Fortinet

0

FORTINET, perusahaan penyedia perangkat jaringan keamanan, mengumumkan seri terbaru jajaran produk next-generation firewall (NGFW), yang diklaim paling cerdas dan terkuat di kelasnya. FortiGate 3600C menawarkan berbagai fitur perangkat keamanan jaringan yang paling canggih untuk perusahaan-perusahaan besar.

Sebagai perangkat firewall generasi terbaru, FortiGate 3600C dapat digunakan sebagai firewall dengan latensi super rendah untuk jaringan perusahaan, pusat data, kampus dan jaringan nirkabel. Managed Security Service Provider (MSSP) atau jaringan perusahaan memiliki pilihan untuk menggunakan FortiGate 3600C, dengan lebih banyak layanan keamanan difungsikan sebagai perangkat manajemen ancaman terpadu atau unified threat management (UTM).

Perangkat ini sepenuhnya terintegrasi dengan FortiManager dan FortiAnalyzer dari Fortinet, yang akan menjadi  pusat kebijakan dan pelaporan jaringan. “Dengan semakin canggih dan beragamnya ancaman terhadap suatu jaringan, aplikasi keamanan ke perangkat multi-fungsi menjadi semakin penting guna memastikan visibilitas lengkap di semua lalu lintas jaringan,” kata John Grady, Research Manager di IDC.

Namun, sambung Grady, perusahaan juga perlu mempertimbangkan perangkat yang tidak hanya menyediakan fungsi keamanan yang dibutuhkan, tetapi juga mendukung kinerja tinggi dengan biaya yang sesuai.

FortiGate 3600C menggunakan FortiOS 5, sistem operasi keamanan jaringan canggih yang mencakup kemampuan seperti kendali yang lebih baik terhadap jaringan, pengguna, kebijakan perangkat, sistem keamanan yang terintegrasi dengan firewall, IPS, kontrol aplikasi dan fungsi VPN dengan sistem deteksi yang lebih canggih terhadap ancaman, serta peningkatan kinerja untuk setiap kebutuhan pelanggan.

FortiGate dipersenjatai prosesor FortiASIC, yang mampu meningkatkan kinerja firewall hingga 60 Gbps, 28 juta concurrent sessions per second (css), 17 Gbps IPSec VPN dan pencegahan intrusi (IPS) hingga 14 Gbps, guna melindungi kinerja perusahaan dari berbagai ancaman yang semakin canggih. Selain itu, FortiGate 3600C juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan, perangkat ini menggunakan port GbE 12X 10, port GbE 16X dan port manajemen copper 2X GbE untuk memberikan fleksibilitas penyebaran yang maksimal bagi perusahaan. •

Heboh Harlem Shake!

0

 INGAT Gangnam Style yang fenomenal? Setelah tarian kocak asal Korea itu, dunia kini kembali dihebohkan dengan Harlem Shake.

Harlem Shake adalah tarian yang awalnya dipopulerkan di Harlem, New York, pada tahun 1981. Mengutip Wikipedia, tarian ini terinspirasi tarian Ethiopia yang disebut Eskista, dan menyebar ke daerah perkotaan lainnya di

Namun, tren Harlem Shake yang mewabah saat ini diawali ketika Baauer, seorang produser Amerika dari Brooklyn, New York, mengupload video musiknya ke YouTube pada tanggal 10 Mei tahun lalu. Tak disangka, single Harlem Shake tersebut kini menjadi nomor satu di iTunes Amerika dan nomor dua di Inggris dan Australia.

Harlem Shake juga membuat kehebohan baru di ranah YouTube. Di tahun 2013 ini, lagu tersebut mulai digunakan orang-orang untuk membuat video yang bisa membuat penonton tertawa saat melihatnya. Di seluruh dunia, orang beramai-ramai mengupload video tarian versinya sendiri dengan lagu tersebut. Bayangkan, seperti dilansir Timeslive, dalam sehari ada sekitar 4.000 video Harlem Shake yang diupload ke YouTube.

Dalam Harlem Shake, orang bebas menggerakan tubuhnyatanpa harus memperhatikan gerakan baku sebagai  ciri khas. Penari dapat bergerak sesuka hati, tanpa harus menyeragamkan gerakan dengan personil lainnya. Tarian Harlem Shake biasanya dimulai dengan seseorang yang bergoyang tanpa dipedulikan siapa pun, yang kemudian diikuti oleh orang-orang di sekitarnya dengan bergoyang sesuka hati.

Menurut pengakuan Al B, sosok yang juga dianggap sebagai penemu Harlem Shake, tarian ini pertama kali dipertontonkan ke publik dalam sebuah event Entertainer’s Basketball Classic atau EBC. Ketenaran Harlem Shake kian meroket ketika tarian ini menjadi mainstream pada tahun 2001. Ketika itu G. Dep,  seorang rapper Amerika, menampilkan Harlem Shake dalam video musiknya yang berjudul Let’s Get It.

Sementara, tarian Harlem Shake pertama yang diupload ke YouTube dibuat oleh lima orang remaja dari Queensland, Australia. Dalam video berdurasi 0:31 menit tersebut para remaja itu sedang duduk bersantai dalam sebuah kamar. Seorang diantara mereka berjoget mengenakan helm di tengah ruangan. Setelah setengah lagu, tiba-tiba semua berjoget dengan tarian yang tak beraturan. Video ini telah ditonton sebanyak 11,4 juta orang.

Mengutip Detikinet,  pencarian kata kunci “Harlem Shake” di YouTube sampai Senin (18/2) lalu telah mencapai 67 ribu video. Di Indonesia, sudah ada sekitar 400 video yang eksis di YouTube. Video berjudul UGA Men’s Swim & Dive Harlem Shake, misalnya,  bahkan sudah ditonton hingga 19.790.074 kali.

Penasaran dengan Harlem Shake yang kocak ini? •

DJOKO TATA IBRAHIM: Device Jadi Motor Penggerak Brand

0

Meskipun pasar Indonesia begitu besar dan menggairahkan, namun bagi industri telekomunikasi ternyata bukan hal yang mudah untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat untuk menggunakan layanannya.

 

BAGI pemain baru di tengah dominasi operator besar yang lebih dulu hadir, keberadaaanya di pasar telekomunikasi tentunya tak mudah. Bila tidak punya strategi jitu,  jangan harap bisa mendapatkan tempat di pasar Indonesia yang banyak dilirik oleh industri asing ini.

Seperti halnya Smartfren, penyedia layanan telekomunikasi berbasis CDMA yang mulai menapakkan bisnisnya 7 tahun lalu, bisa dikatakan sebagai operator baru dan paling bontot menerapkan layanan CDMA. Namun kenyataannya, saat ini pelanggan Smartfren sudah menuju ke angka 10 juta. Hal ini tentunya suatu pencapaian yang luar biasa, mengingat pasar GSM sudah lebih akrab ke pengguna ponsel.

Menurut Deputy CEO Commercial, Djoko Tata Ibrahim, apa yang sudah diraih oleh Smartfren merupakan berkat kerjasama tim yang baik. “Di tim kami ada namanya Senior Leadership Team (SLT) yang merancang board of directors untuk menentukan kebijakan, strategi maupun misi-misi perusahaan baik itu jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam seminggu sekali SLT yang terdiri dari deputi dan director ini mengadakan meeting untuk merumuskan apa saja yang perlu dilakukan operasional dalam memperkenalkan produk Smartfren,” ujar pria kelahiran Lampung, yang bergabung sejak awal berdirinya Smartfren ini.

Maka itu, berbeda dengan operator telekomunikasi lainnya, Smartfren mempunyai strategi bisnis untuk membuat produk yang cukup bervariasi, seperti modem, router, ponsel, smartphone dan tablet. Dikatakan Djoko, produk bundling tersebut merupakan motor penggerak berkibarnya brand Smartfren. “Ini merupakan salah satu strategi bisnis kami dengan melakukan sendiri penyediaan devicenya, sehingga pelanggan bisa langsung merasakan jaringan kami,” ungkap lulusan Universitas Atmajaya ini.

Tidak hanya itu beragam program kegiatan juga dilakukan untuk mendekatkan Smartfren kepada pelanggan, salah satunya program Rezeki Smartfren yang menyediakan hadiah miliaran rupiah bagi pelanggan. Program yang akan berakhir pada bulan Desember ini sudah memasuki periode kedua dengan pengundian yang dilakukan secara bertahap untuk memberikan peluang pemenang yang lebih banyak lagi.

Di tangan pria yang murah senyum ini, Smartfren selalu melakukan inovasi-inovasi untuk semakin dikenal masyarakat. Berikut petikan wawancara BISKOM dengan Djoko Tata Ibrahim yang selalu aktif turun langsung ke lapangan untuk menyemangati anak buahnya dalam mencapai target.

Selaku Deputi CEO Smartfren, apa saja ruang lingkup kerja Anda?
Saya banyak bertanggung jawab terhadap lingkup pemasaran dan distribusi produk-produk Smartfren, termasuk channel management dimana kami saat ini mempunyai beberapa channel seperti tradisional telko yang menerapkan sistem cluster distribution concept. Dengan cara ini kita membagi wilayah dalam 83 cluster dimana masing-masing ditunjuk distributornya untuk bertanggung jawab terhadap area tersebut. Selain itu juga ada modern channel, seperti organize outlet dan toko-toko gadget. Tidak ketinggalan di modern consumer goods seperti di Carrefour dan dan Alfamart produk kami juga sudah tersedia di sana. Kemudian lingkup kerja saya juga membawahi customer care yang menangani call center.

Sejak awal Smartfren hadir sudah menghadirkan produk-produk yang mendukung penggunaan data. Apakah ini  memang merupakan strategi dari Smartfren untuk bermain dilayanan data?  
Sebetulnya pada saat itu GSM sangat dominan sekali dalam memberikan layanan voice, kami tidak mungkin mengikuti mereka yang sudah mendapat pasar tersebut. Lalu kami melihat teknologi kami sangat mendukung untuk layanan data maka kami perkuat layanan ini. Apalagi sejak Fren dan Smart bergabung menjadikan jumlah BTS yang ada bertambah jumlahnya dua kali lipat. Saat ini sekitar 4500 BTS dan akan menuju ke 5000 BTS yang tentunya area jangkauan kami menjadi semakin bagus.

Apa kelebihan teknologi CDMA sehingga bisa memberikan layanan data yang baik?
Sekarang ini kami mengalami suatu penerimaan yang luar biasa dari konsumen terhadap jaringan kami. Mereka menyadari, dimanapun ada BTS CDMA ternyata mampu memberikan layanan 3G. Artinya, pelanggan yang di daerah terpencilpun kalau memakai device dan jaringan kami itu bisa menggunakan layanan data yang high speed sehingga bisa buka Youtube tanpa buffering. Dari sisi teknologinya sendiri untuk melakukan penambahan coverage ataupun kapasitas layanan sangat mudah dilakukan cukup dengan menambahkan carrier dalam BTS kami. Untuk data kami memberikan 7 carrier dalam satu BTS yang kapasitasnya hampir sama dengan 5-6 BTS biasa. Tentunya ini membuat kami lebih efisien dan mampu melayani lebih banyak pelanggan di lokasi yang sama.

Apakah ada kendala dalam memberikan layanan data di daerah?
Mungkin kalau bicara 3 tahun yang lalu masih banyak kendala karena coverage daripada network masih belum maksimal dan kepercayaan masyarakat terhadap CDMA masih kurang. Tetapi sekarang ini mereka bisa menikmati layanan 3G berbasis CDMA yang high speed, teknologi yang seharusnya di daerah belum bisa rasakan tetapi Smartfren justru bisa menghadirkan teknologi ini ke daerah. Terbukti mereka sangat puas dengan network kami dengan semakin banyaknya pengguna Blackberry CDMA Smartfren yang saat ini pertumbuhannya mulai naik 30 kali lipat pelanggan perharinya. Apalagi Blackberry yang kami jual tersebut harganya sangat terjangkau dan paketnya juga murah.

Smartfren saat ini banyak sekali mengeluarkan berbagai macam device. Apakah ini tidak melenceng dari bisnis utama Smartfren sebagai penyedia jaringan?
Sebetulnya device yang kami keluarkan, baik itu modem ataupun smartphone merupakan sarana kami agar pelanggan bisa menggunakan layanan dari Smartfren. Seperti kita ketahui perangkat untuk CDMA saat ini sangat sedikit dipasaran dan andaipun ada teknologi maupun speaknya sudah ketinggalan. Oleh sebab itu kami mencoba menghadirkannya sendiri bekerjasama dengan vendor luar untuk membuat produk baru dengan teknologi baru dengan speak tinggi pula, tetapi tentunya kita jual dengan harga murah. Jadi core-nya adalah pulsa dan untuk membangun ekosistemnya melalui device yang kami ciptakan.

Saat ini LTE disebut-sebut sebagai jalan keluar untuk memberikan layanan data yang cepat, bahkan beberapa device sudah mendukung LTE ini. Bagaimana Anda menyikapi hal ini?
LTE saat ini menjadi isu yang cukup populer saat ini, dimana semua operator akan menuju kesana nantinya. Disini 2 teknologi, baik itu CDMA maupun GSM akan menjadi sejalur dalam penyediakan layanan data sehingga tidak lagi ada perbedaan. Namun dengan banyaknya operator yang ada saat ini justru bandwidth yang tersedia akan terbagi makin banyak sehingga masing-masing operator akan kebagian sedikit. Tentunya hal ini tidak menjadi efisien untuk menjalan LTE. Tetapi hal inikan masih digodok, jadi kami berharap saja LTE bisa menjadi solusi tanpa masalah.

Apa rahasia sukses dari Smartfren? Dan apalagi yang dicapai oleh Smartfren?
Masih banyak yang ingin kami capai, tentunya kita ingin memiliki customer base yang lebih luas lagi dan meningkatkan pelanggan data. Sekarang boleh didominasi oleh modem tetapi kita akan mulai meningkatkan produk smartphone dengan pemakaiannya bandwidth yang lebih efisien. Selain itu, mengembangkan voice sector kami ke tingkat yang lebih tinggi lagi dan meningkatkan brand image Smartfren “I Hate Slow” dengan iklan-iklan kita yang cukup mencuri perhatian.

Sedangkan ada empat rahasia sukses kami, yaitu pertama, network kami hebat karena didukung oleh teknologi CDMA yang mampu memberikan highspeed data dengan kapasitas data yang cukup cepat. Kedua, kita mampu menyediakan tarif data yang sangat efisien bagi konsumen dan bagi pemula sekalipun tidak beratkan kantong mereka. Ketiga, didukung dengan device yang berteknologi mutakhir yang mungkin dua tahun kedepan sudah kita bawa sekarang dengan harga yang murah. Dan keempat, kami sangat serius memberikan consumer experience yang berbeda dengan pendekatan-pendekatan yang kami lakukan, seperti contact point kami di galeri agar pelanggan bisa melihat dan mencoba langsung produk kami. •ANDRI

Popularitas Twitter vs Pinterest Bersaing Sengit

0

STUDI yang dilakukan Pew, sebuah organisasi Amerika Serikat (AS) menunjukkan Pinterest memiliki tingkat popularitas yang hampir sama dengan Twitter. Popularitas situs sosial berbagai file dengan gaya “pinboard” atau papan pin virtual itu hanya berselisih 1% dengan Twitter.

Dilansir dari Mashable (17/2), berdasarkan studi Pew, pada tahun lalu Twitter berhasil memikat 16% pengguna media sosial, diikuti oleh Pinterest dengan 15%. Sedangkan posisi pertama sebagai media sosial terpopuler masih diduduki Facebook.

Dari seluruh media sosial yang diteliti, popularitas Tumblr berada di urutan terkhir dengan kontribusi 6%. Laporan ini juga mengungkapkan, situs seperti Instagram ternyata memiliki daya pikat untuk menarik perhatian wanita Latin dan Afrika-Amerika.

Fakta lain, Pinterest diketahui memikat orang dewasa berusia di bawah 50 tahun, sementara pengguna Twitter cenderung merupakan penduduk kota. Tidak seperti jejaring sosial lain, Pinterest memiliki kriteria umur yang berbeda karena 19% penggunanya merupakan anak muda dan yang berumur antara 30 hingga 49 tahun. Namun meski Pinterest berhasil meraih popularitas, tapi persentasi pengguna Twitter dalam dua tahun terakhir ini meningkat dua kali lipat. •

M. HUSNI NURDIN: Epson, Dari Indonesia Untuk Dunia

0

Dari sekian banyak produsen teknologi informasi (TI) bertaraf internasional, Epson menjadi perusahaan penyedia kebutuhan printer dan projektor yang produknya dirancang secara khusus untuk memenuhi kebutuhan market di Indonesia. Hal ini merupakan strategi Epson Indonesia, yakni dengan memperhatikan kebutuhan atau keinginan konsumen sehingga mengeluarkan produk berlabel “Untuk Indonesia” yang telah berhasil memikat pasar nasional, bahkan global.

 DEPUTY Country Manager PT Epson Indonesia, M. Husni Nurdin mengatakan, produk berlabel “Untuk Indonesia” dimulai dari printer L100 dan L200, yang diluncurkan pada 2010 lalu. Keduanya memiliki keistimewaan pada teknologinya, yaitu Ink Tank System. Teknologi ini khusus dikembangkan oleh divisi riset Epson berdasarkan kebiasaan mencetak masyarakat di Indonesia. Kemudian juga ada Large  Format Printer iCTP/iCTF (inkjet Computer to Plate/inkjet Computer to Film) yang merupakan solusi untuk dunia percetakan dalam membuat plate atau film. Selain itu juga ada projector seri EB-X100 dan EB-S100 yang hadir dengan menu berbahasa Indonesia.

“Produk ini hadir berkat analisis yang dilakukan oleh teman-teman di Epson Indonesia sesuai kebutuhan yang diinginkan masyarakat di tanah air,” ujar lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, yang juga sempat mengajar di kampus tersebut.

Kehadiran produk ini menjadikan Indonesia sebagai pelopor bagi group Epson dimana proses marketing, pembuatan produk ataupun pemberian solusinya dimulai dari identifikasi kebutuhan unik market Indonesia. “Jika umumnya dulu terfokus kepada developed country tapi sekarang ke emerging country Indonesia,” jelas pria yang gemar bermusik dan mengarang lagu ini.

Berikut petikan wawancara BISKOM dengan M. Husni Nurdin yang lebih dari sepuluh tahun menjabat sebagai Deputy Country Manager PT Epson Indonesia ini.

Mengapa produk printer berlabel “Untuk Indonesia” bisa laris manis di pasaran?
Ada beberapa pertimbangan yang kami lakukan dalam memenuhi kebutuhan pasar, yaitu produk harus dibutuhkan oleh market. Bila sudah tahu apa yang dibutuhkan, harus bisa memberikan solusi yang melebihi ekspektasi market, dan speed ke market juga harus cepat. Contohnya, sebelum membuat L100 dan L200 terlebih dahulu melakukan survei dengan cara mendengarkan yang diinginkan konsumen. Dalam hal ini, rata-rata menginginkan printer yang dapat mencetak banyak kertas tetapi hemat tinta, maka kami berfikiran untuk membuat sistem ink tank.

Dalam satu botolnya mereka menginginkan bisa mencetak sekitar 2000-2500 lembar kertas, tetapi kami buat yang bisa mencetak hingga 4000 lembar sehingga melebihi ekpektasi mereka. Prosesnya sendiri mulai dari research hingga produk dipasarkan dilakukan dengan cepat, hanya memakan waktu enam bulan, sehingga bisa segera memenuhi kebutuhan konsumen.

Belakangan mereka menginginkan speed cetak yang 2 kali lebih cepat lagi, maka belum lama ini kami luncurkan L series terbaru yaitu L110, L210, L300 dan L350 yang kecepatan cetaknya mencapai 3 kali lebih cepat dari seri pertama.

 Apakah di negara lain juga melakukan hal yang sama dengan membuat produk khusus seperti ini?
Untuk emerging country pertamakali di Indonesia, tetapi setelah itu saya kira ada produk-produk lain yang diproses sama. Yang terpenting, L series telah menjadi contoh sukses sehingga idenya ini juga dijual ke negara-negara lain, seperti Eropa Timur, Amerika Latin dan Asia Pasifik, termasuk negara-negara maju dalam waktu dekat. Melihat kondisi ini, mulai dari peluncuran 4 produk L series terbaru yaitu L110, L210, L300 dan L350, kami telah merubah label atau slogan “Untuk Indonesia” menjadi “Dari Indonesia Untuk Dunia”. Karena idenya dari Indonesia sekarang disebarkan ke seluruh dunia. Jadi untuk printer L series terbaru akan menggunakan label baru ini.

Apakah ini berarti produk berlabel khusus lebih diminati daripada produk lainnya?
Tentu saja. Sesuai kenyataan memang lebih baik produk berlabel khusus yang kita buat ini. Pembuatannya sendirikan sudah melalui proses survei dan segala macamnya yang disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan dari konsumen. Dari hasil research yang kita dapati saja menyatakan bahwa masyarakat Indonesia sangat senang sekali nge-print, namun bila volume printingnya banyak tentu kendalanya dibiaya. Oleh sebab itu produk ink tank system ini sangat cocok untuk nge-print karena biaya cetak per lembarnya sangat murah berkisar Rp. 25 perhalaman hitam dan Rp. 35 perhalaman warna.

Produk dan teknologi apa saja yang tengah dipersiapkan Epson untuk diperkenalkan tahun ini?
Saya pikir Epson Indonesia selama 5-6 tahun belakangan ini memang basis pengembangan produknya itu berbasis pada apa yang diingkan masyarakat. Sehingga, tentunya akan banyak produk yang dibuat seperti L series ataupun projector X100 dan S100 yang telah mendapat sambutan dari masyarakat karena mudah digunakan dan satu-satunya projector dengan tampilan menunya berbahasa Indonesia.

Diantara line up produk Epson, mana yang berkontribusi besar terhadap pendapatan Epson?
Sekarang ini kami mempunyai tiga portfolio yang besar, yiatu inkjet, dot matrix dan projector. Kalau dikomposisikan perbandingannya itu 2:2:1. Jadi nomor satu itu inkjet, kedua dot matrix dan terakhir projector. Kalau digambarkan 40% – 40% – 20%, tetapi di luar itu kami juga punya large format printer, scanner serta POS printer.

Ultrabook, tablet dan hybrid gadget lainnya menjadi piranti yang populer di masyarakat dunia saat ini. Apakah Epson akan terjun pula di segmen ini?
Kalau kita bicara strategi kedepan kelihatannya Epson lebih konsentrasi ke core technology. Untuk printer kami menyebutnya Micro Piezo, kemudian projector 3LCD (Liquid Cristal Display) juga mau kami kembangkan core technology-nya, termasuk teknologi presisi/kinetik. Jadi dengan basis seperti itu Epson tidak akan pergi atau main ke pasar smartphone, notebook ataupun tablet.

Tetapi balik lagi pendekatannya adalah pendekatan end-user. Kalau end-user mau sesuatu yang bisa dikoneksikan ke core technology Epson, itu akan kami lakukan. Saat ini saja printer-printer Epson sudah banyak yang bisa terkoneksi dengan tablet, begitu pula projector-nya. Kami membangun itu karena perkembangan tablet ataupun wireless sangat cepat sehingga konsumen menginginkan kami punya solusi yang bisa dikaitkan atau terhubung dengan perangkat gadget atau tablet.

Tahun ini Epson mengadakan Colour Imaging Contest Indonesia, apa tujuan penyelenggaraan ini?
Kontes ini untuk mengapresiasi komunitas fotografer di tanah air dan sebagai jembatan kami dengan komunitas fotografer. Melalui kegiatan rutin yang sudah memasuki tahun ke tujuh ini menjadikan kami selalu mendapatkan input dari para fotografer mengenai kualitas cetak. Diakui, selama ini Epson dijadikan standar fotografer untuk printing karena keunikan teknologi Micro Piezo yang bisa memastikan keakuratan warna, kestabilan warna dan juga cakupan warna yang mampu menghasilkan cetak semirip warna aslinya.

Bagaimana pandangan Anda terhadap bisnis TI di 2013?
Menurut saya masih prospektif dengan segala issue yang tidak favorable seperti kemungkinan-kemungkinan inflasi yang disebabkan adanya kenaikan upah minimum provinsi (UMP) ataupun adanya kemungkinan dicabutnya subsidi dan segala macamnya. Apalagi saya mendapatkan informasi alokasi dana TI di perusahaan-perusahaan dan pemerintah naik, ini saya asumsikan bisnis TI akan growing. Jadi tidak ada alasan bahwa bisnis akan sepi.

Apa target yang ingin dicapai Epson di tahun 2013 ini?
Secara finansial atau sales, kami ingin growing seperti tahun-tahun sebelumnya terutama 5 tahun belakangan ini, yaitu sekitar 20%. Tapi yang paling penting bukan hanya dari sisi revenue saja tetapi bagaimana Epson lebih menguatkan bisnis model atau solusi yang ditawarkan kepada masyarakat.

Printer berteknologi ink tank system yang selama 2 tahun ini hasilnya menggembirakan, inginnya lebih solid lagi bisa dimengerti teknologinya oleh beragam masyarakat. Ini sangat penting karena kalau kita bisa mematenkan atau membuat bisnis model ini solid, maka efeknya ke jangka panjang, tidak hanya tahun ini tetapi ke tahun-tahun berikutnya hingga 2015-2016. Sedangkan projector inginnya tidak hanya yang sifatnya low-end saja, tetapi juga mid-high yang cocok di semua segmen pengguna projector, misalnya mulai dari 3000 hingga10.000 lumen. Kami berharap, tahun 2013 bisa menjadi momentum yang menggembirakan bagi dunia bisnis dan juga perekonomian Indonesia. •ANDRI 

INAICTA 2013 Tambah Kategori Baru

0

  AJANG Penghargaan Teknologi Komunikasi dan Informasi Indonesia atau Indonesia Information and Communications Technology Award (INAICTA) 2013 resmi dibuka. Beda dengan tahun-tahun sebelumnya, INAICTA  2013 lebih fokus pada pengembang game dan media interaktif Indonesia dengan membuka beberapa kategori baru sehingga total menjadi 21 kategori.

Kategori baru pada ajang INAICTA tahun ketujuh ini antara lain e-Health, Ttourism & Hospitality, e-Ccommerce, serta Robot Aplikatif untuk kategori umum/mahasiswa dan pelajar.

Andreas Surya,  Ketua Pelaksana INAICTA 2013 saat pembukaan kompetisi TIK Indonesia di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta (14/2) mengatakan, “Kami fokus pada pembentukan kategori-kategori baru dimana teknokreator Indonesia dapat bersaing secara global dan menampilkan produk yang layak secara bisnis dan pasar.”

“Kami juga menampung para alumni INAICTA tahun sebelumnya untuk membentuk ekosistem dan komunitas agar tercipta para pengusaha di bidang teknologi digital,” kata Andreas.

Anggota komite juri INAICTA 2013, Raymond Kosala menambahkan, kategori games menjadi perhatian utama karena dibedakan menjadi tiga yaitu games, edugames, dan advergames. “Potensi teknokreator Indonesia pada kategori itu besar dengan kualitas karya yang tidak kalah dengan karya internasional,” kata Raymond.

Dia mengatakan, bisnis di sektor-sektor tersebut tumbuh pesat beberapa waktu terakhir. Industri game, media interaktif dan e-tourism akan terus berkembang di Indonesia. Menurut data yang dia dapat, pasar game di ASEAN telah mencapai US$1 miliar. Adapun jumlah penggemar game di kawasan tersebut telah mencapai 55 juta orang.

Sementara untuk mendorong pertumbuhan industri berbasis TI di Indonesia, pihaknya akan menggandeng sejumlah inkubator bisnis “Sekarang sudah banyak inkubator, kami akan jajaki kerjasama untuk memfasilitasi startup ke industri,” paparnya.

INAICTA 2013 menargetkan 1500 karya untuk mengikuti  21 kategori perlombaan yang dibuka mulai 21 Februari hingga 31 Juli 2013. •

SURYANI S. MOTIK: Industri Kreatif Untungkan Pengusaha Pribumi

0

Industri kreatif disebut-sebut sebagai industri unggulan yang mampu menopang perekonomian bangsa dalam memasuki era globalisasi. Juga, diyakini sebagai kekuatan baru dalam menciptakan produktivitas yang mampu bersaing dengan produk asing, karena dari sisi SDM (Sumber Daya Manusia), Indonesia sudah mampu menciptakan karya-karya yang luar biasa.

KETUA Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI), Suryani Sidik Motik, tengah berusaha mendorong pengusaha pribumi untuk bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri yang mampu bersaing dalam kancah pasar nasional maupun global.

“Potensi industri kreatif cukup besar, namun disayangkan masih kurang disentuh oleh pemerintah. Kami sebagai organisasi tidak bisa jalan sendiri mengembangkan itu, diperlukan support dan keberpihakan pemerintah sebagai pengambil kebijakan untuk mendukung industri lokal,” ujar lulusan Maryland University, Amerika Serikat ini.

Memiliki latar belakang sebagai pengusaha, pengajar dan pengalaman di berbagai kepengurusan organisasi, ibu dari dua anak berkelahiran Jakarta 17 Juli 1961 ini berkeyakinan bila industri kreatif dikembangkan dengan baik akan meningkatkan peran pengusaha pribumi yang sebagian besar berskala Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi dalam pembangunan ekonomi nasional.

Oleh sebab itu bersama HIPPI, organisasi yang dinaunginya, ia berusaha menjalankan fungsinya sebagai wadah kesatuan berhimpunnya Pengusaha Pribumi, Warga Negara Indonesia guna memperoleh Informasi, Konsultasi, dan Advokasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan seluruh kegiatan perekonomian secara Nasional maupun Global dalam rangka mewujudkan iklim usaha dan sinergi potensi ekonomi nasional demi peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia.

“Caranya adalah dengan melaksanakan apa yang sudah menjadi tujuan, visi dan misi dari organisasi yang berlandaskan kerja Lima Pro, yaitu, Proreformasi, Profesional, Proaktif, Progresif dan Produktif,” ujar Suryani.

Berikut petikan wawancara BISKOM dengan Suryani Sidik Motik yang selalu sempat menulis buku dan blog di sela kesibukannya memimpin perusahaan.

Dalam menghadapi 2013, apa saja yang akan dilakukan guna meningkatkan kegiatan ekonomi pengusaha pribumi ?
Meningkatkan peran pengusaha pribumi merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai Warga Negara Indonesia yang sadar akan hak dan kewajiban untuk membangun perekonomian bangsa ini guna terciptanya ketahanan nasional dan perekonomian nasional yang sehat, kuat dan dinamis. Beberapa hal bisa kami lakukan antara lain, membina dan mengembangkan kemampuan para anggota, baik kualitas maupun kuantitas.

Bekerjasama dengan Pemerintah Pusat maupun Daerah dalam arti yang seluas-luasnya seperti KADIN, Himpunan-Himpunan, Asosiasi-Asosiasi organisasi ekonomi di Indonesia dan luar negeri termasuk bekerjasama dengan Perusahaan Swasta, Nasional, Besar/Menengah/Kecil, Koperasi, BUMN/BUMD, Lembaga Pendidikan, serta Lembaga Riset dan Teknologi. Juga membantu dan melaksanakan kebijaksanaan Pemerintah yang bersifat menunjang peningkatan dan pengembangan usaha para anggota.

 Bagaimana Anda melihat peluang industri kreatif di tanah air berbasiskan teknologi informasi (TI)?
Peluangnya luar biasa. Saat ini saja, banyak SDM kita terutama anak-anak muda yang mempunyai kemampuan di bidang TI dalam men-design software yang handal. Buktinya, bisa ditelusuri dan di data dari banyaknya SDM kita yang dipakai oleh perusahaan-perusahaan besar di bidang TI seperti Microsoft, Facebook, Intel dan berbagai perusahaan animasi dunia lainnya. Namun, pemerintah kita kurang memberi dan menghargai SDM kita sendiri sehingga industri kreatif di bidang TI tersendat. Padahal bila didukung dan dikembangkan hasil karyanya tentu bisa dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan di tanah air yang saat ini lebih banyak memakai sistem dan design dari luar yang sebenarnya belum tentu cocok dengan kondisi kita, serta dengan biaya yang sangat mahal.

Lalu, apa yang perlu dilakukan agar industri kreatif di bidang TI bisa maju?
Pemerintah perlu mendorong dan merangsang dengan mengutamakan dan memberikan prioritas kepada perusahaan-perusahaan atau SDM bangsa sendiri agar mereka dapat memperoleh kesempatan memberikan hasil terbaik serta membuktikan bahwa mereka bisa disetarakan bahkan melebihi design atau system yang ditawarkan oleh bangsa lain. Langkah awal pemerintah dengan menginstruksikan kepada BUMN, BUMD dan segenap kantor pemerintah untuk memakai dan melindungi produk TI bangsa sendiri yang tentunya sudah proven kehandalannya.

Dari HIPPI sendiri, sejauhmana menumbuhkembangkan industri kreatif dan merangsang tumbuhnya pengusaha baru?
Industri kreatif merupakan salah satu prioritas untuk diangkat, saat ini kami sedang membuat terobosan dengan membentuk lembaga keuangan modal ventura. Dimana lima tahun kedepan diharapkan bisa menciptakan 600 wirausaha baru, dan meningkatkan kemampuan managerial maupun khusus bagi anggota. Rencananya tahun ini sudah running dengan menyiapkan anggaran dana minimal sebesar Rp. 20 Miliar, tapi mudah-mudahan bisa mencapai Rp. 100 Miliar.

Pendanaannya sendiri didapatkan darimana?
Kami sudah mendapatkan komitmen dan dukungan dari senior-senior HIPPI yang telah menjadi pengusaha besar. Yang terpenting, kita running dahulu dan bisa survive tahun ini. Selanjutnya bila ini berjalan tentunya dengan sendirinya akan menarik yang lain untuk melibatkan diri membantu. Selain itu, ada juga beberapa yang juga sudah di-approve, misalnya dananya BUMN yang dialokasikan untuk Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) bisa kita kelola.

Akan seperti apa model bisnisnya?
Berbeda dengan bank, modal ventura ini tidak menetapkan bunga tetapi menggunakan sistem bagi hasil. Dengan model ventura ini kita juga melakukan pendampingan kepada anggota yang mempunyai potensi untuk dikembangan usahanya. Jadi tidak hanya berupa modal uang yang kita berikan tetapi dari sisi managemen juga dibantu.

Bagaimana Anda melihat dukungan pemerintah terhadap pengusaha pribumi dalam pengembangkan bisnisnya?
Pemerintah belum memiliki blue print yang jelas untuk pengusaha pribumi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pengusaha pribumi mempunyai kelemahan dalam hal pendanaan dan sumber daya manusia untuk keuangan, produksi (termasuk kemasan, teknis produksi, peningkatan mutu, jumlah dan lain-lain) serta pemasaran (menembus pasar modern, regional, international). Kelemahan tersebut tidak dituntaskan dengan seksama, baik dari segi peraturan, pelaksanaan di lapangan, dan perbaikan atau dukungan pemerintah yang nyata.

Kami menginginkan nantinya pemerintah bisa fokus pada empat hal. Pertama, sumber pendanaan bagi pengusaha dengan tidak hanya memberdayakan lembaga keuangan yang ada dan menata dunia perbankan saja, tetapi mulai memaksimalkan dukungan seperti subsidi bunga untuk industri tertentu. Kedua, sumber daya manusia yang memiliki kualitas dan kuantitas memadai serta siap bersaing dengan negara international. Ketiga, melakukan pemetaan industri yang mempunyai nilai tambah bagi pengusaha pribumi. Karena Indonesia luas, maka sebaiknya dibagi berdasarkan provinsi, sehingga pembeli manapun akan tahu jelas, kalau untuk industri x datangnya ke provinsi 1, industri yang datangnya ke provinsi 2 dan seterusnya. Dan keempat, pemberian insentif pajak bagi pengusaha pribumi yang dapat memberikan nilai tambah, karena bukan sebagai industri yang konsumtif tapi yang produktif.

Apa harapan Anda kedepannya bersama dengan HIPPI?
Saya ingin model ventura ini bisa jalan dan melahirkan pengusaha-pengusaha baru yang mampu bersaing secara global. Karena kedepannya, persaingan bukan masalah pribumi dan non pribumi lagi tetapi dengan dunia luar. Apalagi ASEAN Community 2015 semakin dekat akan memunculkan persaingan dengan Malaysia, Singapura dan Bangkok. Inilah saatnya, kita bersama-sama bersatu  menghadapi globalisasi dengan kekuatan industri yang kita punya.  Selain itu, saya ingin HIPPI menjadi organisasi profesional yang bisa bermanfaat untuk orang banyak dan menjadi solusi bagi anggota dalam menghadapi persoalan-persoalan yang muncul.  •ANDRI

2013, BlackBerry 10 Belum Tersedia Untuk Entry Level

0

 KEHADIRAN smartphone berbasis BlackBerry 10 pada 30 Januari lalu disebut-sebut sebagai awal kebangkitan perusahaan BlackBerry (dulu RIM), yang sebelumnya diprediksi mengalami kebangkrutan. Lewat Z10, Blackberry mulai menampakkan kesuksesannya. Permintaan smartphone full touchscreen pertama dari BlackBerry 10 ini sudah banyak, setidaknya telah mencatatkan rekor penjualan di Kanada dan Inggris, menyusul di Uni Emirat Arab.

Dilansir dari Softpedia (12/2), menurut situs Crackberry, konsumen Australia bisa menggunakan Z10 pada awal Maret  depan.  Z10 kabarnya bisa dibeli via operator Telstra dan Optus. Akan tetapi, tidak semua negara dan operator akan bisa menikmati ponsel itu pada saat yang bersamaan.

Kesuksesan penjualan BlackBerry Z10 ini pun tak membuat perusahaan terburu-buru untuk mengeluarkan smartphone berbasis BlackBerry 10 dengan harga ekonomis, seperti yang diharapkan banyak pihak.

Menurut Managing Director BlackBerry Eropa, Stephen Bates, perangkat entry level BB 10 belum akan hadir pada tahun ini.  “Kami telah mengeluarkan perangkat kategori high-end untuk menunjukan perangkat anyar BlackBerry. Tapi kami tidak akan mengeluarkan perangkat entry level pada tahun ini,” ungkapnya seperti dikutip dari Ubergizmo (13/2).

Bates juga mengungkapkan bahwa perusahaan masih memfokuskan perangkat BlackBerry 7 dan 7.1. Sehingga ke depannya perangkat entry level BlackBerry berbasis OS7.

Seorang pengamat mengatakan, dengan meluncurkan perangkat BlackBerry kelas menengah serta entry level sebenarnya perusahaan dapat memikat lebih banyak konsumen sekaligus menunjang perusahaan untuk bertarung dengan Android, iOS, dan Windows Phone.

Lenovo Produksi Notebook Chrome Untuk Pelajar

0

 BANYAK cara yang ditunjukkan perusahaan sebagai bukti kepeduliannya terhadap dunia pendidikan. Perusahaan asal China, Lenovo, baru saja  meluncurkan notebook terbaru yang diperuntukkan bagi para pelajar dan  sekolah.

Dikutip dari Mashable, Sabtu (19/1), sesuai namanya, ThinkPad  X131e Chromebook, perangkat ini menggunakan sistem operasi Google Chrome. Berkat bantuan sistem awan, X131e akan dengan mudah menjalankan ribuan aplikasi pendidikan.

Sebelumnya, Lenovo  membuat ThinkPad X131e berbasis sistem operasi Windows, yang ternyata mampu terjual habis di kalangan pendidikan. Tapi pada produksi kedua, perusahaan beralih menggunakan Chrome guna mengambil keuntungan dari aplikasi Google untuk pendidikan dan toko Web Chrome.

“Mengingat perangkat ini  begitu ideal karena hemat biaya, dan lebih mudah perawatannya dibandingkan notebook atau tablet pada umumnya,  saat ini ChromeBooks telah digunakan lebih dari 1000 sekolah,” ungkap Direktur Manajemen Produk Google Chrome OS, Caesar Sengupta.

ThinkPad Chromebook memiliki berat 3,9 pon dan dibekali layar 11 inch anti silau dengan resolusi 1366 x 786. Fitur-fitur tambahan lainnya meliputi  webcam, tiga buah port USB, port HDMI dan VGA. Perangkat ini dirancang untuk menahan kerusakan sehingga dipersenjatai dengan bumper karet, penguatan pada sudut notebook, dan engsel yang telah diuji mampu menjalani gerakan buka tutup sebanyak 50.000 kali.

Sejauh ini pihak Lenovo belum mengumumkan harga ThinkPad ChromeBook, tapi dipastikan, penawaran khusus untuk pihak sekolah akan dimulai pada 26 Februari. •

2013, ‘Banjir’ Teknologi

0

 TAK TERASA, kita sudah memasuki bulan kedua tahun 2013. Awal tahun ular air ini dihiasi dengan tingginya curah hujan hingga menyebabkan musibah banjir yang mengganggu kehidupan masyarakat ibukota Jakarta,  bahkan sempat melumpuhkan perekonomian selama beberapa hari. Permasalahan banjir ditambah kompleksnya masalah lain di Jakarta seperti kemacetan dan lain sebagainya, memang menimbulkan banyak sekali spekulan.  Ada kekhawatiran investor akan ragu menanamkan modal  di masa mendatang di Jakarta atau di Indonesia. Melihat masalah ini, apakah  bisnis di bidang teknologi informasi (TI) masih menjadi investasi menarik? Jawabannya, tentu saja semakin menarik!

Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) DKI Jakarta, Nana Osay mengatakan, pertumbuhan bisnis dan teknologi di 2013 akan luar biasa. “Pemerintah saat ini sedang menggelar fiber optic untuk menggantikan tembaga. Kabel bawah laut juga akan ada intekoneksi. Jadi kalau itu sudah terjadi, akan luar biasa. Biaya koneksi jadi murah dan WiFi dimana-mana.”

Hal ini, sambung Nana, akan membuat semua orang menjadikan internet sebagai sebuah kebutuhan wajib, sehingga berimbas pada peningkatan kebutuhan hardware. “Tahun ini, sudah pasti ada banyak permintaan akan hardware, data center dan infrastruktur broadband.”

Prediksi Nana yang juga seorang pengusaha sukses ini memang tidak berlebihan dan sesuai dengan perkiraan lembaga riset International Data Center (IDC), dimana pada 2013 akan ada beberapa tren teknologi yang bakal menghasilkan uang miliaran Dollar. Diantaranya adalah maraknya perangkat elektronik makin mobile, dipacu dengan kehadiran PC tablet, ultrabook, phablet atau phonelet, yang sebenarnya sudah hadir sejak beberapa tahun lalu. Phablet adalah perangkat yang menggabungkan fungsi ponsel pintar dengan komputer tablet.

IDC juga memprediksi ramainya pertarungan di layanan Cloud Computing sehingga semua orang akan berorientasi pada TI. Diantara semuanya, yang paling menarik adalah poin yang juga dikemukakan IDC yakni teknologi bakal tumbuh di negara berkembang. Di saat Eropa dan Amerika mengalami krisis, pertumbuhan ekonomi China, India, dan Brasil, negara-negara di Asia Tenggara malah melambung. Negara berkembang bakal menyediakan pasar sekaligus sumber daya yang sangat besar untuk berbagai sektor, terutama TI. Nilai belanja TI negara berkembang bakal mencapai US$ 730 miliar.

Nyatanya, di tengah bencana yang mengawali 2013 ini, investor masih mempercayakan Indonesia sebagai negara yang potensial. Buktinya, The New Taipei City dan The Taiwan External Trade Development Council (TAITRA), organisasi yang berbasis di Taiwan, beberapa hari setelah banjir surut di Jakarta, justru mendatangkan sekitar 30 delegasi perdagangannya ke Indonesia untuk dipertemukan dengan pelaku bisnis di dalam negeri.

Chief Secretary New Taipei City Government, Feng-Yuan Chang menyampaikan, “Melalui kunjungan ini diharapkan bisa menambah kesempatan bisnis yang lebih besar lagi antara kami dan Indonesia. Nantinya kami juga akan mengajak delegasi yang lainnya sehingga akan lebih banyak lagi kerjasama yang bisa terjalin.”

Dengan indikasi yang baik ini, apakah kita masih meragukan bisnis TI di 2013?  Semoga tidak… •