
Pertumbuhan ekonomi Indonesia Triwulan II-2026 sebesar 5,29 persen menurut BPS.
BISKOM | Jakarta – Ekonomi Indonesia pada Triwulan II-2026 mencatatkan pertumbuhan solid sebesar 5,29% secara tahunan (year-on-year/y-on-y) di tengah lonjakan ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga komoditas global. Kinerja ini ditopang oleh kuatnya konsumsi rumah tangga, akselerasi investasi, serta lonjakan signifikan belanja pemerintah.
Secara kuartalan, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada Triwulan II-2026 tumbuh 3,73% (quarter-to-quarter/q-to-q), sehingga akumulasi pertumbuhan ekonomi Semester I-2026 mencapai 5,45% (cumulative-to-cumulative/c-to-c). Atas dasar harga berlaku (ADHB), nilai PDB nasional menembus Rp6.552,1 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan (ADHK) 2010 mencapai Rp3.576,2 triliun.
Dari pilar pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi kontributor utama dengan porsi 53,32% terhadap PDB. Sektor ini tumbuh 5,06% (y-on-y) dan menyumbang 2,67 poin persentase terhadap pertumbuhan nasional, terutama didorong pengeluaran restoran dan hotel (+6,47%) serta transportasi dan komunikasi (+5,71%).
Lonjakan terbesar dicatatkan oleh konsumsi pemerintah yang tumbuh pesat 15,97% (y-on-y). Kenaikan ini dipicu oleh realisasi pembayaran gaji ke-13 ASN/TNI/Polri, tunjangan guru non-PNS, ekspansi belanja barang dan jasa, serta realisasi program Makan Bergizi Gratis.
Sementara itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi tumbuh 6,87% dengan kontribusi 29,36% terhadap PDB. Penguatan investasi terutama disokong pembelian kendaraan yang melonjak 26,03% dan peralatan lainnya sebesar 16,18%, sejajar dengan peningkatan realisasi investasi BKPM sebesar 7,14%.
Dari sisi lapangan usaha, Industri Pengolahan bertahan sebagai tulang punggung utama dengan kontribusi 18,50% terhadap PDB dan pertumbuhan 4,52%. Sektor Akomodasi dan Makan-Minum mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 10,60%, disusul Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 11,81%. Sebaliknya, sektor Pertambangan dan Penggalian menjadi satu-satunya sektor yang terkontraksi sebesar -1,64%.
Secara spasial, seluruh kawasan mencatat pertumbuhan positif. Bali dan Nusa Tenggara meraih pertumbuhan tertinggi sebesar 6,10%, disusul Jawa (5,65%), Sulawesi (5,53%), Sumatera (5,06%), dan Kalimantan (4,10%). Namun, kawasan Maluku dan Papua tumbuh paling lambat sebesar 1,36%, di mana Provinsi Papua Tengah bahkan mengalami kontraksi sebesar -3,93%.
Kendati angka 5,29% menunjukkan daya tahan ekonomi yang kuat, tantangan mendatang adalah memastikan momentum ini terkonversi menjadi lapangan kerja berkualitas, peningkatan produktivitas, serta pemerataan pembangunan antardaerah.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto
#EkonomiIndonesia #PDBTriwulanII2026 #PertumbuhanEkonomi #KonsumsiMasyarakat #InvestasiPMTB #MakanBergiziGratis #EkonomiDaerah #BeritaEkonomi
