Home Blog Page 818

Dalam 5 Tahun, Riset dan Inovasi Meningkat

0

Jakarta, Biskom- Kemenristekdikti mencatat dalam lima tahun terakhir, riset dan inovasi mengalami peningkatan pesat. Hal  itu ditandai dengan capaian publikasi ilmiah internasional dan paten Indonesia yang menempati posisi pertama di ASEAN. Inovasi dalam bentuk perusahaan startup juga mengalami pertumbuhan signifikan

“Tahun 2013 publikasi riset  dan paten  ada di no. 4 di ASEAN, namun  di tahun 2018 paten  sudah bercokol  no. 1 di ASEAN. Dan di tahun 2019 publikasi ilmiah internasional  juga peringkat pertama di ASEAN, ” ujar Menristekdikti  M. Nasir dalam  Dialog dengan para Peneliti Ahli Utama, Perekayasa Ahli Utama dan Perekayasa Ahli Madya di Jakarta,  (14/10).

Menristekdikti menambahkan pertumbuhan startup binaan Kemenristekdikti juga luar biasa. Tahun 2015 ada 54 startup, namun pada 2019 sudah ada 1.307 startup. Pekerjaan besar selanjutnya adalah bagaimana inovasi bisa dihilirisasikan ke industri dan memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional.

“Jangan sampai jumlah publikasi, paten dan inovasi berhenti pada angka-angka semata. Namun harus dihilirisasikan ke industri dan masyarakat agar menjadi faktor penggerak ekonomi nasional. Peneliti dan perekayasa baik dari LPNK dan perguruan tinggi memiliki peran yang sangat besar,” tutur Menristekdikti.

Menteri Nasir menambahkan pendekatan riset harus diarahkan pada “market driven” dan “demand driven”. Ekosistem riset dan inovasi harus dibangun dengan baik, hubungan antara pemerintah, industri dan akademisi (Triple-Helix) haruslah sinergis.

“Masalah kita adalah riset kita belum mempunyai ekosistem yang baik, harus ada hubungan baik antara peneliti, industri, dan pemerintah. Peneliti bingung hasil risetnya mau dipakai siapa, industri bingung siapa yang mau jalani riset,” tegasnya.

Karena itu, perlu ada perbaikan kebijakan supaya riset terarah dengan baik dan juga riset perlu dikawal yaitu Perpres 38/2018 RIRN 2017-2045, Kemenristekdikti membuat 9 fokus litbangjirap di Pangan Pertanian, EBT, Kesehatan Obat, Transportasi, Nanotech dan ICT, Hankam, Kemaritiman, Sosial Humaniora Budaya Pendidikan, dan bidang riset lainnya.

“Setiap fokus riset harus jelas target dan capaiannya. Semua harus punya bayangan terkait “supply chain”- nya. Ada integrasi, seperti dengan klaster inovasi, klaster pangan fungsional. Semua digarap dari hulu hingga hilir,” ujarnya.

Menteri Nasir mengatakan tahun 2019 melahirkan capaian khusus bagi peneliti dan perekayasa Indonesia dengan disahkannya UU No.11/ 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sisnas Iptek). Kehadiran UU ini diharapkan menjadi momentum bagi pengembangan riset dan inovasi Indonesia.

“Embrio dari UU ini adalah Peraturan Presiden mengenai rencana induk riset nasional. Harapannya ke depan UU Sisnas Iptek ini akan mendorong terintegrasinya riset yang ada di berbagai kelembagaan riset,” terangnya.

Menristekdikti berharap kehadiran UU Sisnas Iptek dan adanya Perpres RIRN Indonesia akan mempunyai banyak produk unggulan (flagship) yang dapat bersaing di tingkat global. Saat ini Indonesia telah memiliki beberapa produk inovasi unggulan, contohnya motor listrik Gesits yang saat ini telah diproduksi oleh industri. Produk unggulan lain harus terus dikembangkan.

Pada kesempatan sama, Dirjen  Penguatan Riset dan Pengembangan Muhammad Dimyati mengatakan saat ini Indonesia memiliki sekitar 20.800 Peneliti Ahli utama, Perekayasa Ahli Utama dan Perekayasa Ahli Madya. Mereka merupakan aset bangsa untuk membawa riset dan inovasi Indonesia memiliki manfaat untuk bangsa dan negara serta membawa riset dan inovasi Indonesia disegani di tingkat dunia. (red)

Menristekdikti Apresiasi Capaian Realisasi Anggaran Tertinggi

0

Jakarta, Biskom-  Kementerian dengan realisasi anggaran tertinggi,Kemenristekdikti masuk lima besar. Hal tersebut tertuang  dalam evaluasi triwulan ketiga tahun 2019, Menristekdikti Mohamad Nasir mengapresiasi capaian tersebut dan mendorong rektor maupun direktur perguruan tinggi negeri (PTN) serta kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) untuk mengejar realisasi anggaran di tiga bulan terakhir 2019.

“Dalam realisasi minggu kedua bulan Oktober tahun 2019 kita sudah mencapai di angka 65,51 persen. Ini cukup besar. Apabila kita bandingkan pada tahun 2018, dimana di minggu ketiga bulan Oktober itu serapannya adalah 62,34 persen,” ungkap Menristekdikti saat Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan Program Kegiatan dan Anggaran Triwulan III Tahun 2019 di Jakarta, (14/10).

Apabila dibandingkan dengan kementerian lain, Kemenristekdikti masuk dalam lima besar dengan realisasi tertinggi pada triwulan hingga Oktober 2019.

“Kalau kita lihat dari kementerian dan lembaga, Kemenristekdikti ini berada di urutan tujuh, tetapi kalau hanya di kementerian, kita di nomor lima. Pertama Kementerian Sosial. Kedua Kementerian Kesehatan. Ketiga Kemenkumhan. Empat Kementerian Agama. Lima di Kememnristekdikti. Hal yang cukup menarik. Selama ini dalam sejarah Kemenristekdikti, dalam realiasi anggaran melebihi Kementerian Keuangan baru selama ini. Selama ini Kementerian Keuangan di atas,” ungkap Menristekdikti.

Di sisi lain Menristekdikti terus mendorong rektor maupun direktur PTN serta kepala LLDIKTI untuk merealisasikan anggaran yang sudah diberikan kepada mereka.

“Para rektor perlu mengevaluasi anggaran. Mohon maaf biasanya anggaran yang disusun universitas tidak pernah diperhatikan secara detail pada tingkat lebih rendah. Biasanya di tingkat rektorat hanya terjadi kompilasi, hanya mengumpulkan dari unit terkecil. Akibatnya saat realisasi ini bermasalah. Akan memunculkan variasi yang tinggi. Tolong kalau memang (anggaran yang dibutuhkan) rendah, jangan diberikan anggaran besar. Tolong digeser ke yang lebih penting, apakah untuk publikasi atau yang lainnya,” ungkap Menristekdikti di hadapan ratusan pimpinan PTN dari seluruh Indonesia.

Dalam evaluasi triwulan ini, dilaksanakan pencanangan Gerakan Nasional Sadar Tertib Arsip (GNSTA) di Lingkungan Kemenristekdikti. Untuk itu, Menristekdikti mengundang Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Muhammad Taufik untuk turut mengevaluasi kearsipan di Kemenristekdikti.

“Bagaimana dokumen-dokumen ke depan kita tidak lagi menggunakan data hard copy, yang perlu mendapatkan apresiasi yang baik. Kearsipan yang ada di Kemenristekdikti di tahun 2016, kita ranking 31 dari 99 kementerian dan lembaga. Rendah kita pada tahun 2016. Alhamdulillah di tahun 2018 kita meningkat drastis dari 31 menjadi ranking 13,” ungkap Menteri Nasir.

Menteri Nasir juga mendorong PTN dan LLDikti untuk turut melaksanakan integrasi arsip berjalan ke dalam database digital agar mereka mudah melihat data untuk mengambil keputusan.

“Para rektor, para direktur yang dalam hal ini mengelola lembaga, ini harus diintegrasikan di tingkat universitas supaya data universitas akan menjadi baik. Contoh, rektor ingin melihat data mahasiswa, secara otomatis bisa melihat berapa mahasiswa dari universitas A. Katakan ada 30 ribu. 30 ribu ini yang sudah bayar biaya pendidikan berapa. Masing-masing mahasiswa dikenakan biaya berapa, rektor itu tahu. Melihat status ekonomi mahasiswa, rektor langsung bisa tahu,” papar Menteri Nasir.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Muhammad Taufik mendukung PTN untuk mengintegrasikan arsipnya ke dalam database karena arsip tersebut dapat mendukung daya saing perguruan tinggi.

“Tidak terlalu berlebihan (saya sampaikan) bahwa arsip mendukung daya saing dan juga arsip akan memberikan jawaban dari good governance dan arsip juga mendukung world class university yang dicita-citakan bersama,” ungkap Muhammad Taufik.

Kepala ANRI mengungkapkan lembaganya akan terus mendampingi PTN dan LLDIKTI untuk mengumpulkan arsip secara digital.

“Di undang-undang kami ada yang namanya wajib menyerahkan arsip-arsip negara itu yang Bapak Ibu lakukan pengolahannya. Yang ujungnya nanti adalah harus dibentuk lembaga di lingkungan perguruan tinggi, menurut amanah undang-undang, yaitu lembaga kearsipan di lingkungan perguruan tinggi. Kami sudah melakukan, sudah ada kurang lebih 23 perguruan tinggi yang sudah melakukan itu. Masih ada PR kita ke depan,” ungkapnya.

Dalam pidatonya Menristekdikti juga mengucapkan terima kasih kepada para pimpinan PTN (PTNBH, BLU, Satker) dan LLDIKTI atas semua pencapaian dan kerja sama dalam lima tahun terakhir, sehingga indikator kinerja dan capaian Kemenristekdikti di tingkat nasional selalu meningkat.

Untuk itu Menristekdikti mengingatkan agar setiap program baik di PTN selalu inovatif dan dinamis mengikuti perkembangan revolusi industri keempat, dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan Inovasi, serta secara optimum menerapkannya di masyarakat (industri dan umum).-Red

Jakarta AV Week 2019 Dukung Industri Audio Visual

0

Jakarta, Biskom-  Jakarta AV Week 2019, sebagai pameran teknologi B2B and B2C terintegrasi hasil kerja sama V2 Indonesia, AlcorMICE dan RajaMICE sukses digelar  di The Kasablanka Hall, Jakarta,

Event tersebut bertujuan untuk membawa teknologi informasi dalam hal tren dan solusi bisnis serta aspek pendidikan di Indonesia.

Jakarta AV Week 2019 dirancang untuk menjadi pusat kolaborasi profesional, informasi, dan pembangunan komunitas dan sumber daya utama untuk standar AV, pelatihan, pasar industri baik domestik maupun regional.

Tak hanya itu, Jakarta AV Week 2019 memiliki misi meningkatkan pengetahuan pelaku industri Audio Visual serta pengalaman yang baik serta perspektif baru mengenai teknologi di masa mendatang.

Panca R Sarungu, Ketua Panitia Jakarta AV Week 2019 menyampaikan bahwa ada 20 pembicara nasional dan internasional yang diundang sebagai narasumber pada acara tersebut.

“Mereka berbagi wawasan dan pengalaman mereka dalam dunia audio visual dan teknologi, teknologi presentasi, pembangunan smart city dan sistem keamanan. Untuk event pertama ini, kami beruntung dapat menghadirkan lebih dari 50 brand dari dalam dan luar negeri,” tutur Panca.

Yah, selama lima bulan persiapan, Jakarta AV Week mampu mengajak puluhan  brand yang berhubungan dengan teknologi audio visual untuk bergabung di dalamnya. Brand yang bergabung berasal dari dalam maupun luar negeri, korporasi, asosiasi, dan pemerintah. Untuk masuk ke Jakarta AV Week 2019 tidak dipungut biaya. Oleh karenanya, Jim menargetkan akan dapat mendatangi 1.000 pengunjung setiap harinya dan berharap acara ini dapat digelar dua tahun sekali.

Direktur Eksekutif Asosiasi Kominfo Seluruh Indonesia (Apkomsi) Eddy Santoso mengucapkan apresiasinya terhadap kegiatan ini. Menurutnya, Jakarta AV Week 2019 ini dapat memenuhi kebutuhan daerah dalam rangka pembangunan smart city.

“Jakarta AV Week 2019 adalah event yang sangat penting dan dapat memenuhi kebutuhan daerah dalam rangka pembangunan smart city dan sistem pemerintahan berbasis teknologi. Apkomsi pada acara ini, kami mengundang 34 gubernur, 514 bupati dan walikota atau pejabat penting serta 548 kepala daerah dari seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Andi Tan, Regional Director AVIXA untuk Asia dalam sambutanya saat Pembukaan Jakarta AV Week 2019 kemarin menyatakan bahwa pasar Audio Visual saat ini baru 187 miliar dollar, diperkirakan 2023 menjadi 229 milyar dollar. “Kami menyambut baik event ini dan mendukung untuk pelatihan untuk para pelaku audio visual di Indonesia,” ujar Andi Tan.

AVIXA adalah Asosiasi Perdagangan Internasional yang mewakili industri audiovisual . Didirikan pada 1939, AVIXA memiliki lebih dari 11.400 perusahaan dan anggota individu profesional multimedia dari lebih dari 80 negara.

Rudi Hidayat CEO V2 Indonesia mengatakan,  teknologi audio visual menunjukkan tren yang positif, bahkan pertumbuhannya mencapai lebih dari 20 persen, terutama teknologi LED. “Audio visual memang terus terang beberapa produk sangat signifikan kadang-kadang meloncat sampai lebih 20 persen pertumbuhannya,” ujar Rudi.

 

(red)

 

Edutech Expo: Menuju Teknologi Pendidikan 4.0

0

Jakarta, Biskom- Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom) Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) bekerja sama dengan PT Wahyu Promo Citra mengadakan seminar pendidikan dengan tema’Impelementasi Teknologi Pendidikan 4,0 Menuju Digitalisasi Sekolah di Indonesia’.

Tema besar seminar pendidikan ini dilaksanakan dalam pameran 2 Th Indonesia Edutech Expo 2020 yang penyelenggarannya bersamaan dengan pameran Indonesia Int’l Education & Training Expo ke-29 di Jakarta Convention Center (JCC) pada 6-9 Februari 2020.

Acara ini juga didukung oleh Kemendikbud, Dinas Pendidikan Prov. DKI Jakarta, Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional, Asosiasi Pengusaha TIK Nasional (APTIKNAS), Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) dan Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) . Seminar dengan tema ‘’Impelementasi Teknologi Pendidikan 4,0 Menuju Digitalisasi Sekolah di Indonesia’ dapat menjadi jawaban bagi dunia pendidikan dalam memasuki era digital yang akan merubah sistem pendidikan dari pendekatan parsial menjadi holistik.

Direktur PT Wahyu Promo Citra, Sukur Sakka, mengatakan penyelengraan 2 Th Indonesia Edutech Expo bertujuan menjadi forum bagi guru untuk mengenal, mengetahui dan dapat memanfaatkan produk teknologi pendidikan baik dalam bentuk hardware maupun software. “ Disamping menjadi forum bagi guru untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya seiring dengan kemajuan teknologi bidang pendidikan yang berkembang pesat,” ujar Sukur di Jakarta, (10/10).

Sukur Sakka menambahkan, pameran ini juga dapat menjadi barometer tentang perkembangan produk teknologi pendidikan di Indonesia. Serta referensi bagi stakeholder bidang pendidikan dalam menentukan kebijakan pemenuhan sarana prasarana sekolah dan meningkatkan kualitas belajar mengajar yang menyenangkan bagi peserta didik.

Kepala Pustekkom Kemendikbud, Gogot Suharwoto, mengatakan, dalam menghadapi revolusi industri 4.0 perlu adanya perubahan dalam kurikulum, siswa, guru, dan juga sekolah. “Keempat sisi ini, harus kita siapkan. Dari sisi kurikulum, bagaimana menyiapkan anak-anak kita familiar dengan big data,” katanya seraya mencontohkan bagaimana menggunakan ponsel pintar dan aplikasi lainnya.

Kapus Pustekkom Kemendikbud juga menambahkan agar para guru juga harus bisa menginspirasi siswanya untuk mampu berbagi dengan siswa-siswa lain, supaya bisa berbagi terobosan dalam memahami materi pelajaran di sekolah.

BPPT Masih Cari Kandidat Senyawa Baru Obat Anti Malaria

0

Jakarta, Biskom- BPPT bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) menggelar  symposium  bertajuk “The 2nd International Symposium on Natural Resources-based Drug Development”. Simposium ini merupakan  bagian dari pelaksanaan kerjasama penelitian antara Intistusi Jepang dan Indonesia dalam kerangka Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (Satreps)

Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB-BPPT)  Soni Solistia Wirawan mengatakan, melalui simposium ini, diharapkan dapat terjadi pertukaran informasi serta penguatan jejaring dan kolaborasi riset, sehingga  kerjasama riset bidang kesehatan yang melibatkan berbagai lembaga riset Jepang-Indonesia segera terwujud.

“Selain itu, strategi untuk mewujudkan implementasi hasil riset kesehatan tersebut dapat direkomendasikan kepada Kementerian terkait. Simposium ini juga merupakan bagian dari program flagship Bahan Baku Obat (BBO) BPPT, ” katanya di Jakarta, (9/10).

Dilanjutkan Soni, BPPT mendapatkan banyak manfaat dari Satreps. Tidak hanya meningkatkan kapasitas lab berupa peralatan, program ini juga membantu meningkatkan kualitas SDM, terutama dalam kemampuan mendesign dan mengembangkan penelitian dari penemuan obat.

“Jadi program Satreps untuk lima tahun ini arah utamanya adalah capacity building. Pertama fasilitas risetnya dilengkapi, beberapa peralatan kita dapatkan dari JICA dan AMED. SDM dilatih dan disiapkan bagaimana mampu meng-handle resources kemudian memanfaatkan melakukan isolasi senyawa,” tuturnya.

Diketahui dalam symposium tersebut, perwakilan dari beberapa institusi kunci dalam bidang regulasi dan riset akan memaparkan hasil riset dan kebijakan terkait. Peneliti-peneliti kompeten dari Jepang dan Inonesia dalam bidang pengembangan bahan baku obat juga akan menyampaikan hasil inovasi dan teknologi terbaru di bidang kesehatan, khususnya penanganan penyakit menular.

Dilanjutkan Soni,  saat ini, penelitian dalam bidang kesehatan  telah mengalami kemajuan yang pesat. Capaian Iptek  telah banyak diaplikasikan untuk meningkatkan inovasi dalam bidang kesehatan. Sumber daya hayati yang melimpah di Indonesia adalah pertimbangan utama dan sumber daya dalam pengembangan teknologi produksi bahan baku obat-obatan dan obat tradisional.

“Diharapkan inovasi teknologi  dapat mempercepat proses transformasi dari keunggulan komparatif menjadi produk kompetitif,” tambahnya.  BPPT juga telah melakukan implementasi teknologi untuk produksi bahan baku farmasi berdasarkan sumber daya hayati seperti pengembangan teknologi untuk produksi bahan baku obat antibiotik beta-laktam, termasuk amoksisilin dan sefalosporin, permen karet xanthan, garam farmasi dan dekstrosa monohidrat.

Sementara itu, Kepala Balai Bioteknologi BPPT Agung Eru Wibowo menjelaskan, melalui proyek SATREPS, BPPT bersama dengan mitra telah melakukan penemuan obat untuk mencari kandidat obat antimalaria. Hal ini dilakukan karena obat yang ada sekarang dianggap sudah memiliki resistensi yaitu  keadaan di mana kuman tidak dapat lagi dibunuh dengan antibiotik. Proyek ini dimulai pada 2015 hingga April 2020 mendatang.

Dalam program ini, terdapat sekitar 25 ribu mikroba yang dimanfaatkan sebagai sumber bahan obat-obatan yang melimpah. Dalam lima tahun ini terdapat beberapa senyawa yang sudah terkarakterisasi. Salah satunya yakni penemuan obat untuk mencari kandidat obat antimalaria atau Searching Lead Compound of Anti-Malarial and Anti-Amoebic Agents by Utilizing Diversity of Indonesian Bio-resources (SleCAMA project). Dari 20 senyawa sudah diisolasi, sebanyak 10 potensinya sudah cukup kuat.

“Kita harapkan acara ini,  terjadi pertukaran informasi hasil-hasil riset yang telah dilakukan dalam mengatasi penyakit infeksi di Asia,” jelas Agung seraya menampaikan  hasil-hasil yang telah dicapai selama tahun 2018, diantaranya beberapa senyawa aktif anti malaria  telah didapat, baik dari mikroba maupun tanaman asli Indonesia. sedangkan koleksi mikroba  yang dimiliki BPPT menjadi aset penting dalam pengembangan obat, khususnya obat penyakit menular yang dibutuhkan Indonesia.

Terkait peran BPPT Agung menyebut, bahwa salah satuh prioritasnya adalah ketersediaan bahan baku obat. Sekarang BPPT juga sudah mencanangkan program prioritas nasional melalui program flaghship untuk pengembangan bahan baku obat.

Kolaborasi riset SATREP adalah bagian dari penguatan flagship, selain pengembangan bahan baku obat yang seperti antibiotik kita juga mengembangkan bahan baku obat yang lain untuk mendukung farmasi, seperti pengembangan obat penyakit infeksi berbasis sumberdaya hayati. (red/ju)

Gobear Ikuti DRIM 2019 di Bali

0

Jakarta, Biskom- Perkembangan yang begitu pesat membuat masyarakat kini lebih suka menghabiskan waktu di dunia digital daripada konvensional. Digitalisasi menjadikan masyarakat terbiasa untuk mendapatkan kemudahan akses tentang apapun. Contohnya saja; transportasi, belanja, bayar tagihan hingga pesan makanan.

Kemudahan yang sama pun diharapkan masyarakat terjadi, ketika mengakses segala informasi yang berhubungan dengan produk dari jasa keuangan seperti asuransi. Pasalnya, ketika penetrasi internet dilaporkan meningkat sebesar 10,1% dari 54,7% menjadi 64,8% di tahun 2018 oleh “Laporan Survei Penetrasi dan Profil Perilaku Pengguna Internet di Indonesia” dari Asosiasi Penyedia Layanan Internet Indonesia (APJII), penetrasi asuransi di Indonesia justru masih relatif rendah.

Hal tersebut menjadi tantangan sendiri bagi para pemain di industri keuangan. Penting untuk terus mencari cara guna memberikan konsumen pengalaman terbaik saat mengakses produk agar penetrasi asuransi meningkat.

“Meningkatnya penetrasi internet di Indonesia dan masih relatif rendahnya penetrasi asuransi, sebenarnya bisa dijadikan kesempatan besar bagi kita untuk berkembang dan merangkul konsumen.” Ungkap Marnix Zwart selaku CCO dan Co-Founder dari GoBear yang saat itu menjadi pembicara.

Pada kegiatan Digital and Risk Management in Insurance (DRIM) 2019, 25 – 27 September 2019 lalu di Bali, Marnix menerangkan bagaimana GoBear, sebagai supermarket keuangan terkemuka di Asia yang mempunyai misi untuk meningkatkan kesehatan finansial para penggunanya, berinovasi dan memanfaatkan internet melalui sesi diskusi bertajuk “Digital Innovation and Transformation to Tap into Digital Millennials” di DRIM 2019.

DRIM 2019 adalah acara yang diselenggarakan oleh Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) sebagai wadah untuk para perusahaan di industri berbagi dan belajar tentang cara memanfaatkan teknologi, sehingga dapat membantu tingkatkan penetrasi asuransi di Indonesia.

“Ada lebih banyak konsumen online daripada produk keuangan itu sendiri. Melalui sumber data yang komprehensif dan transparan serta teknologi inovatif dan eksklusif yang kami miliki, GoBear percaya mampu membantu masyarakat Indonesia untuk mudah mengakses produk finansial yang sesuai dengan cara yang sederhana dan transparan.” Lanjut Marnix.

Lewat GoBear konsumen tidak perlu susah-susah pergi ke jasa keuangan konvensional untuk mengakses produk yang dicari.

“Para pengguna hanya perlu memasukkan profil mereka di situs web GoBear dan nanti akan keluar rekomendasi produk finansial yang paling tepat serta sesuai dengan profilnya.” jelas Tris Rasika selaku Country Director GoBear Indonesia di acara DRIM 2019.

GoBear Indonesia sendiri telah terdaftar secara resmi di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai salah satu penyelenggara Inovasi Keuangan Digital sejak Maret 2019 dan berkomitmen untuk membantu pemerintah menjangkau kalangan yang tidak dapat dijangkau oleh perbankan konvensional. (red/ju)

BPPT: Operasi TMC Penanggulangan Karhutla Terus Berlanjut

0

Jakarta, Biskom- Menindaklanjuti arahan Presiden Jokowi  pada rapat terbatas untuk membahas pengendalian kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan, maka Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) didukung TNI, BNPB dan BMKG bekerja sama untuk melakukan TMC dalam mengendalikan kebakaran hutan dan lahan di provinsi Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar dan Kalteng yang dimulai secara  serentak pada 17 September 2019 dan masih berlangsung hingga saat ini.

Sejak saat itu pelaksanaan TMC di wilayah Riau, Jambi, Sumsel , Kalbar dan Kalteng, hampir setiap hari terjadi hujan, yang mampu membasahi lahan dan memadamkan api. Hal ini tampak bahwa setelah tanggal itu, bencana kabut asap karhutla telah mengalami eskalasi penurunan secara signifikan.  Terukur lebih dari 3 Milyar m3 volume hujan telah turun di seluruh daerah operasi TMC.

Menurut Tri Handoko Seto, Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC-BPPT),  operasi TMC Penanggulangan Karhutla masih akan tetap dilanjutkan. “Strategi kami membasahi lahan selama musim kekeringan agar lahan tidak mudah terbakar. Selain tetap menekan jumlah hotspot,” ujarnya disela MoU antara BPPT dan BMKG terkait Pemanfaatan Big Data Cuaca dan Model Prediksi Cuaca untuk Peningkatan Efektivitas TMC Berbasis Artificial Intellegence (AI), di Kantor BPPT, Jakarta, Jumat (4/10).

Secara umum kondisi wilayah Kalbar  hingga kemarin sudah kembali pulih. Hujan merata terjadi tiap hari. Jarak pandang sudah diatas  10 km, udara sudah bersih dari asap, dan kualitas udara di kota Pontianak  dalam kategori sehat, serta aktifitas penerbangan di Bandara Supadio juga kembali normal.

Sementara kondisi di Kalteng, berdasarkan pantauan radar, hujan hingga Selasa kemarin terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Kapuas, Kabupaten Katingan, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Sampit, Mendawai, dan Kabupaten Seruyan. Kondisi cuaca di wilayah Kalteng pada pagi hingga sore hari tampak cerah. Secara visual pada  penerbangan pertama ke arah Barat dan Barat Daya Kalteng terlihat ketinggian lapisan asap selama penerbangan penyemaian terpantau hingga ketinggian 7000 kaki.

Nurhadi, Koordinator Posko TMC Pekanbaru melaporkan pada penerbangan penyemaian kemarin sudah tidak terpantau ada lapisan  asap di wilayah Riau. Jarak pandang sudah kembali normal sekitar  3.000 m hingga 10.000 m. Laporan hujan setelah operasi TMC pada Rabu (2/10) dengan intensitas ringan hingga sedang dilaporkan terjadi di Dumai, Bengkalis, Sedinginan, Batang cinaku, Kuala kampar , Pekanbaru, dan Minas.

Sedangkan di Sumsel,  pada  pagi hari kemarin masih sedikit berkabut, namun pada siang hari cerah berawan dan terpantau pertumbuhan awan potensial di wilayah Timur, Tenggara dan Utara, Timur Laut, Selatan dan Baratdaya Provinsi Sumatera Selatan. Hujan terjadi di Posmet Kayu Agung, ARG Muara Padang, Sekayu, Ogan Komering Ulu, Prabumulih, Tanjung Lago , dan Babattoman.

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan  keberhasilan operasi TMC Karhutla ini adalah hasil kerjasama yang baik antara BPPT, TNI, BNPB, BMKG dan pihak-pihak terkait yang telah mendukung penuh pelaksanaan TMC BPPT.

Untuk lebih memperkuat TMC agar lebih berdaya guna bagi upaya pecegahan karhutla, Hammam  mengusulkan agar pelaksanaan TMC  Karhutla dilakukan lebih awal sebelum terjadi karhutla. “TMC mampu menghasilkan air dalam jumlah yang sangat banyak sampai jutaan m3 perhari dengan cakupan wilayah hujan sangat luas jika dilakukan pada saat yang tepat dan bergantung  ketersediaan awan.

Selain itu  diperlukan kontrol pengendalian  terhadap kandungan air lahan gambut baik berupa kelembaban gambut maupun tinggi muka air gambut (melalui sistem informasi, penyebaran sensor IOT, dan integrasi big data lahan gambut). Data tersebut bersama modifikasi cuaca harus dilakukan secara sistemik secara optimal.

Selain itu, perlu dilakukan penelitan, pengembangan, pengkajian, dan penerapan (Litbangjirap) TMC lebih masif dikerjakan oleh BPPT bersama kementerian lembaga lainnya termasuk perguruan tinggi.  Peranan TMC untuk mitigasi bencana kebakaran lahan dan hutan telah tertuang dalam Inpres RI No.11/2015 tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, mengamanatkan Menristekdikti untuk melaksanakan hujan buatan dan teknologi pembukaan lahan tanpa bakar.

Hammam Riza juga mengusulkan agar BPPT diberikan penugasan nasional dan memiliki independensi melakukan operasi TMC yang berkelanjutan yang didukung oleh anggaran, peralatan (pesawat) dan SDM. Selain itu, dalam rangka efisiensi proses dan langkah kedepan serta masih maraknya kasus kebakaran hutan di tahun-tahun mendatang, Hammam Riza juga mengusulkan pengadaan armada pesawat modifikasi cuaca seperti pesawat King Air, Casa 212 dan CN 295.

Diketahui, awal minggu ini, TNI AU menarik armada Hercules C130 dari Posko TMC Pekanbaru untuk misi baru. Sehingga penanganan di Jambi akan dibagi dua, yaitu untuk penanganan Jambi bagian tenggara dan selatan ditangani Posko TMC Palembang. Sedangkan Jambi bagian utara akan ditangani Posko TMC Pekanbaru. Demikian pula, CN 295 yang perkuat kegiatan TMC di Kalteng juga dialihkan ke Kalbar, sehingga tertinggal 1 armada di Posko TMC Kalbar, yaitu CN212-200.

Hal senada disampaikan  Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam BPPT Yudi Anantasena. “Armada pesawat memegang peran penting dalam operasi TMC. Minimal kegiatan TMC menggunakan pesawat sekelas King Air dan Cassa untuk metode penyemaian berbeda, baik flare atau semai powder,” ujarnya.

Menurut Yudi, pihaknya saat ini hanya memiliki  dua armada pesawat, dan dalam kondisi  perbaikan.  Keduanya masih unserviceable dan dalam proses perbaikan. Jadi, memang kami hanya mengandalkan pesawat milik TNI AU untuk melaksanakan TMC saat ini, “ujarnya.

BBTMC-BPPT memiliki 1 unit pesawat Cassa 212-200 PK-TMA untuk semai berbasis powder dan 1 unit pesawat Piper Cheyenne II PK TMC untuk semai berbasis flare. “Untuk bahan semai flare, kemarin kami pakai sekitar 1 bulan karhutla di Riau dengan menggunakan pesawat Pipper Chaynne. Namun karena memang sudah tua umurnya, pesawat Piper Chaynne terpaksa masuk perbaikan. Sehingga seluruh operasi TMC menggunakan bahan semai powder,” ungkap Yudi. (red/ju)

 

Penentuan Pimpinan MPR-RI,  GERINDRA LEBIH MEMILIH MUSYAWARAH

0
Emrus Sihombing saat bersama Soegiharto Santoso selaku Ketua Panitia Kongres Pers Indonesia 2019, bertempat di Gedung Serba Guna Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, 06 Maret 2019.

Jakarta, BISKOM – Penentuan pimpinan MPR RI periode 2019-2024 telah berlangsung dengan musyawarah yang sangat berkualitas. Sebelumnya ada dua nama diajukan menduduki jabatan Ketua MPR, yaitu Bambang Soesatyo dari Golkar dan Ahmad Muzani dari Gerindra. Saat itu, muncul spekulasi akan terjadi voting seperti 2014 yang lalu. Ketika menjelang penentuan, saya mengatakan di berbagai media, jangan sampai penentuan pimpinan MPR-RI dilakukan dengan voting. Harus dengan musyawarah sebagai marwahnya dari lembaga MPR-RI itu sendiri yaitu musyawarah. Akhirnya benar-benar musayawarah.

Ketika menjelang penentuan, Ketua Fraksi Partai Gerindra di parlemen, Ahmad Riza Patria mengungkapkan,  Fraksi Partai Gerindra sepakat mengusung Bambang Soesatyo sebagai calon Ketua MPR RI periode 2019-2024. Semua peserta paripurna bertepuk tangan memberikan apresiasi luar biasa kepada Gerindra.

“Kami mengedepankan musyawarah-mufakat dan hasil konsultasi Bapak Prabowo Subianto dengan Ibu Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 RI, maka Bapak Prabowo dan Ibu Megawati bersepakat, untuk kepentingan yang lebih besar, kami bersepakat untuk terus menjaga lembaga MPR ini dalam forum-forum musyawarah, dalam memutuskan berbagai kebijakan penting dalam membangun bangsa dan negara,” tegas Riza, sebagaimana dimuat dalam Kompas.com (03/10/2019).

Keputusan Gerindra tersebut sangat bagus bagi perjalanan demokrasi di Indonesia dan sekaligus sangat baik bagi gerak politik Gerindra lima tahun ke depan. Setidaknya ada tiga sisi yang saling sinergi, menurut saya, baik bagi Gerindra.

Pertama, Gerindra sebagai partai yang menunjukkan kematangan bermusyawarah di lembaga permusyawaratan. Tentu ini akan mendapat penilaian positif dari kalangan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan demokrasi musyawarah. Karena itu tidak berlebihan bila ada kalangan memberi pijian kepada seluruh anggota MPR-RI dari Gerindra yang telah mengawali tugas dengan bermusyawarah di MPR-RI dalam penentuan pimpinan. Tentu harapan rakyat ke depan, Gerindra harus terus menjaga lembaga MPR-RI ini tetap menjadi forum-forum musyawarah yang elegan dan berkualitas prima untuk Indonesia jaya.

Kedua, dengan melalui proses musyawarah penentuan pimpinan MPR-RI tersebut, terbuka luas bagi kader Gerindra mengambil peran menjadi ketua di beberapa komisi di lembaga legislatif. Tentu, Gerindra akan berbahagia bila kadernya memimpin komisi di legislatif yang linear dengan janji politik ketika kampanye pemilu 2019. Misalnya menjadi ketua komisi yang membidangi pertanian, sumberdaya dan lain sebagainya.

Ketiga, juga semakin terbuka lebar bagi Gerinda bagian dari koalisi pemerintahan Joko Widodo-Maruf Amin lima tahun ke depan bersama-sama dengan sejumlah partai pengusung, utamanya PDI-P,  Golkar,  PKB dan PPP.  Bisa saja beberapa kader Gerindra, dua atau paling tidak satu orang menjadi anggota kabinet di kementerian yang juga linear dengan visi, misi dan program kampanye ketika Pilpres 2019. Inilah yang saya sebut sebagai koalisi gotong royong. Semoga.

Penulis: Emrus Sihombing, selaku Direktur Eksekutif dari Lembaga EmrusCorner.

PIF 2019 Usung Tema Innovations Without Limits

0

Jakarta, Biskom- Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) kembali menggelar Puspiptek Innovation Festival (PIF) 2019, yang merupakan ajang untuk memperkenalkan teknologi, menanamkan dan membudayakan kecintaan terhadap iptek serta inovasi di masyarakat.

Kegiatan ini digelar selama 4 hari, mulai 3-6 Oktober 2019, serta  menjadi agenda tahunan  Puspiptek sebagai peringatan hari jadi Puspiptek pada  1 Oktober, dan pada 2019 sudah menjadi tahun ke-3 acara ini dilaksanakan.

PIF 2019 dibuka oleh Sekjen Kemenristekdikti, Ainun Naim di Graha Widya Bhakti, Puspiptek, Kamis (3/10). Mengusung tema Innovations Without Limits  sebagai tema besar, kemudian dikerucutkan menjadi sub tema yaitu Perempuan Bicara Inovasi dan Perempuan yang Menginspirasi.

Dalam sambutannya, Ainun Naim  mengatakan, PIF 2019 bertujuan meningkatkan kapasitas Iptek dan inovasi di Indonesia, mensosialisasikan produk iptek yang dihasilkan oleh berbagai institusi, serta memperluas jaringan kolaborasi antar lembaga penelitian, universitas, pemerintah, industri dan masyarakat.

“Selain itu, PIF 2019 juga bertujuan untuk mengumpulkan ide, berbagi dan bertukar pengalaman tentang bagaimana sains, teknologi, dan inovasi dapat berkontribusi pada pembentukan komunitas cerdas dan mendorong generasi muda dan perempuan dalam iptek dan inovasi,” kata Ainun Naim

Tak hanya itu, PIF 2019 juga untuk mengakomodasi berbagai workshop yang berkaitan dengan penelitian, pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dan inovasi. Sedangkan pameran Produk Inovasi diikuti 34 Peserta dari Pusat Penelitian di  Puspiptek,  Startup dan Proyek Sains Mahasiswa.

“Kami berharap masyarakat mengenal dan mencari tahu lebih lanjut tentang Puspiptek dan pengembangan Iptek di Indonesia, mendorong antusiasme masyarakat umum, khususnya perempuan dan generasi muda, dalam sains, teknologi, inovasi dan kewirausahaan berbasis teknologi, meningkatkan kontribusi perempuan dan generasi muda dalam pengembangan iptek, dan inovasi,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Puspiptek Sri Setiawati mengatakan Puspiptek sebagai pusat penelitian terpadu dan National Science and Technology Park, memiliki berbagai fasilitas riset, dengan didukung oleh tenaga-tenaga peneliti dan perekayasa yang mumpuni di bidangnya.

“Telah banyak banyak produk-produk hasil riset yang dihasilkan, bahkan telah masuk ke dalam tahap komersialisasi,” katanya.

Dalam kesempatan ajang PIF 2019  tersebut, dilaunching dua startup baru yakni   MHomecare dan Bitlabs, yang diharapkan  bisa meningkatkan kesuksesan para  startup  lainnya di Indonesia, dalam rangka untuk membangun ekosistem inovasi guna mendorong perekonomian.

Mhomecare  merupakan startup pertama di Indonesia yang berbasis layanan dan penyedia tenaga kesehatan. Aplikasi Mhomecare ini bisa mencari tenaga kesehatan berbasis lokasi. Sedangkan  Bitlabs merupakan platform yang memberi peluang segala usia dalam  mempelajari khusus bidang informasi teknologi.

Masih menurut Sri Setiawati, dua  startup baru tersebut  merupakan binaan Puspiptek. Setiap tahunnya sejak tahun 2016, Puspiptek memberikan 20 insentif kepada calon startup. Masing-masing diberikan insentif sekaligus pendampingan. “Insentif dimaksud mulai Rp 150 juta hingga Rp 250 juta,” tutupnya. (red/ju)

Dalam Empat Tahun, Jumlah Startup Naik Tiga Kali Lipat

0

Jakarta, Biskom – Startup binaan Ditjen Penguatan Inovasi, Kemenristekdikti mulai Kamis, 3 Oktober hingga Minggu, 6 Oktober 2019 akan dipamerkan pada Inovasi Inovator Indonesia Expo (I3E) 2019 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan.

Menristekdikti Mohamad Nasir mengatakan, banyak hasil penelitian dari lembaga riset maupun perguruan tinggi hanya berakhir di perpustakaan lantaran kurangnya nilai jual di pasar. Untuk itu, perlu adanya inovasi untuk mendorong agar bisa dihilirisasi dan diserap oleh pelaku industri dan investor. Dalam sambutannya, Menristekdikti Mohamad Nasir menargetkan lima tahun lagi, startup binaan Kemenristekdikti akan mencapai 4.900 tenants.

“Tahun 2020 sampai 2024 ini harus sampai tiga kali lipat. Kalau sekarang 1.307, berarti di tahun 2024 di angka sampai 4.900,” papar Menristekdikti didampingi Dirjen Penguatan Inovasi, Jumain Appe, saat membuka acara I3E 2019, di Jakarta, Kamis (03/10).

Untuk dapat mencapai target tersebut, Kemenristekdikti akan menyalurkan anggaran paling tidak senilai 64 miliar Rupiah per tahun untuk tiga program pembiayaan dan pembinaan, yaitu Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT), Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT), dan Inovasi Industri.

Nasir melanjutkan, sebanyak Rp 280 miliar hanya untuk PPBT saja dalam lima tahun. Tahun ini, Rp 64 miliar Ke depan harus kita tingkatkan. Harapannya pada tahun 2020 hingga 2024 bisa meningkat tiga kali lipat karena direncanakan Presiden RI akan mengintegrasikan semua riset menjadi satu koordinasi lembaga riset, yaitu Badan Riset Inovasi Nasional.”

Senada dengan Nasir, Dirjen Penguatan Inovasi, Jumain Appe mengatakan, melalui I3E pemerintah mencoba untuk memperkenalkan dan memasyarakatkan hasil-hasil inveksi dan inovasi dari anak-anak bangsa sehingga bisa dijadikan sebuah industri yang memiliki nilai pasar.

“Kami mempromosikan pencapaian hasil-hasil inovasi teknologi dari para wirausahan atau startup dan hasil penelitian dan pengembangan dari perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang diharapkan masuk di dalam pengembangan industry,” katanya.

Namun, lanjut Jumain, I3E yang kelima ini berbeda dengan pameran-pameran inovasi yang setiap tahun diadakan di daerah berbeda. Pasalnya, ajang yang berlangsung di Jakarta tersebut juga menghadirkan produk-produk inovasi industry.

“Penyelanggaraan I3E tahun ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana pada tahun ini selain kita menyaksikan produk inovasi berbagai perusahaan berbasis teknologi, juga melaksanakan pameran yang dihasilkan oleh inovasi industri yang skalanya lebih besar daripada PBBT dan CBBT yang diharapkan lahir startup yang memiliki skala yang lebih tinggi,” ujarnya.

Selain itu, kata Jumain, pengunjung juga tak hanya dari masyarakat umum dan mashasiswa, melainkan para investor juga hadir dalam pameran tersebut. “Tak hanya komunitas startup serta generasi milenial yang tertarik dengan penemuan hasil inovasi namun juga dihadiri para investor serta pelaku pembiayaan pimtek, sehingga memberikan kesempatan kepada startup dalam mengembangkan bisnisnya di masa yang akan dating,” tuturnya.

Pada peran I3E pada tahun ini menampilkan sebanyak 404 inovasi yang terdiri dari 249 hasil produk inovasi dari BPPT, 132 produk inovasi dari program pendanaan CPBT dan 23 produk inovasi dari pendanaan inovasi industri yang semuanya adalah hasil karya anak bangsa sendiri. (red/moc)