Home Blog Page 828

Lembaga Independen Kelola Dana Abadi Inovasi

0

Jakarta, Biskom –  Ditjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti mengusulkan agar pengalokasian dana abadi untuk inovasi dapat dikelola dengan mengacu pada pola kerangka penggunaan dana untuk pengembangan SDM, yakni LPDP dengan menggunakan lembaga independen.

“Diharapkan dengan kehadiran lembaga independen sebagai pengelola dana abadi untuk inovasi, maka penggunaan dana abadi lebih terarah dan tidak terpaku pada sistem penganggaran negara yang bersifat rigid. Dampak yang diharapkan adalah munculnya produk invensi Perguruan Tinggi menjadi inovasi atau semakin meningkatnya kualitas dan kuantitas produk nasional yang siap bersaing di tataran global,” ungkap  Direktur Sistem Inovasi,Kemenristekdikti, Ophirtus Sumule, dalam Forum Group Discussion/ FGD  bertema Kebijakan Pendanaan Inovasi Nasional di Jakarta, (25/07).

Dikatakan Ophir, pendanaan dana abadi inovasi selain bersumber dari pemerintah juga dapat berasal dari pihak swasta. Karenanya,  melalui FGD  ini diupayakan penyatuan persepsi tentang sebuah sistem yang yang dapat menghimpun seluruh sumber pembiayaan, baik yang berasal dari bisnis (venture capitalist), dan masyarakat (angel investor dan crowd funding). Sumber pembiayaan tersebut dapat bergabung dalam skema pembiayaan dana abadi jika memungkinkan.

“FGD ini dilakukan untuk merumuskan sebuah format alternative kerjasama dan pembiayaan, guna mengakomodir value dari aktor pembiayaan swasta dan melahirkan kebijakan win-win solutions, dan sebagai masukan pada pemerintah. Hasil dari FGD ini akan dibahas lebih lanjut untuk diharmonisasikan dengan berbagai kebijakan terkait penguatan inovasi nasional,” katanya.

Dilanjutkan Ophir, pembangunan daya saing untuk mencapai kemandirian bangsa diperlukan berbagai upaya penguasaan iptek secara terstruktur, sehingga dibutuhkan jembatan antara dunia pendidikan dan dunia industri yang harmonis dengan fokus untuk peningkatan nilai tambah produk.

“Hal ini telah disadari oleh semua pihak, namun pada pelaksanaannya, masih diperlukan terobosan baru guna menumbuhkan bisnis pemula. Hal tersebut dikarenakan situasi bisnis saat ini belum memungkinkan untuk melakukan link and match dengan industri secara optimal, baik karena industrinya belum ada maupun karena principal industry tersebut berada di luar negeri,” ujar Ophir.

Sementara itu, Kasubdit Pengembangan Sistem dan Jaringan Inovasi Kemenristekdikti,Wihatmoko Waskitoaji  mengatakan, inovasi dalam artian menjadikan produk tersebut ada di pasar merupakan hal yang tidak mudah, karena ketika sebuah produk telah selesai pada tahap riset diperlukan investasi yang tidak sedikit ketika mengupayakan invensi tersebut menjadi sebuah inovasi.

“Hal itu berkaitan dengan kebutuhan biaya yang timbul untuk pilot dan commercial, serta tahapan commercial support dan competitive commercial bisa menjadi sangat besar,” ujar Waskitoaji.

Sedangkan Kepala Seksi Kebijakan Inovasi,  Eko Kurniawan,menambahkan pendanaan inovasi perlu ditingkatkan dan diarahkan untuk mendukung pengembangan dan penciptaan nilai tambah, baik melalui aspek ekonomi, maupun sosio-kultural.

“Pada tahun 2019, dana abadi untuk riset sebesar Rp 1 Triliun, sehingga seyogianya pendanaan untuk mendorong hasil riset menjadi inovasi yang masuk ke industri dapat di alokasikan dana yang lebih besar,” lanjut Eko..

FGD yang melibatkan berbagai pihak seperti perwakilan dari Pusat Penerimaan dan Anggaran Belanja Negara (BKF Kemenkeu), perwakilan dari Direktorat Pendidikan Tinggi, IPTEK dan Kebudayaan Bappenas, perwakilan Presiden University, perwakilan dari Direktorat Sistem Inovasi, Direktorat Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi, Direktorat Inovasi Industri dan berbagai stakeholder lainnya. (red)

Audit Teknologi Radar Dukung Transformasi Pertahanan

0

Jakarta, Biskom –  Transformasi pertahanan menempatkan teknologi militer sebagai variabel utama yang akan memungkinkan Indonesia untuk melakukan revolusi teknologi militer.  Dan  untuk melakukan revolusi Teknologi militer, Indonesia harus mampu mengembangkan kapasitas adopsi teknologi militer yang akan meningkatkan komponen-komponen militer secara signifikan.

“Pengembangan kapasitas adopsi teknologi militer ini akan tergantung dari kemampuan Indonesia untuk memperkuat industri-industri pertahanan nasional,” ungkap  Dirjen Penguatan Inovasi Kementerian Ristekdikti,  Jumain Appe dalam rakor  Audit Teknologi Industri Radar di  Gedung  BPPT, Jakarta, (25/7).

Menurut Jumain, untuk dapat menjadi bagian dari revolusi teknologi militer, Indonesia harus segera menginisiasi program transformasi pertahanan. Transformasi pertahanan hanya dapat dilakukan Indonesia jika Indonesia memiliki kapasitas adopsi teknologi militer yang memadai. Berdasar pada tren perkembangan teknologi pertahanan tersebut, maka ditetapkan 7  prioritas Iptek bidang pertahanan yang harus dikembangkan, yaitu pesawat tempur, kapal selam, kapal perang, radar, roket/ rudal, kendaraan tempur dan propelan.

“Pembangunan Industri Radar Nasional adalah sebuah kebutuhan mendesak yang penting dan dapat segera diwujudkan. Keberadaannya penting, di samping untuk meningkatkan deterrent power, juga penting untuk meningkatkan kemampuan operasional dan kemandirian pembinaan peralatan Radar serta menguntungkan perekonomian nasional terkait dengan penghematan devisa dan penyerapan tenaga kerja,” ujar Jumain.

Sementara itu, Direktur PPIMTE-BPPT, Dr. Andhika Prastawa memaparkan bahwa pada saat ini Radar yang sudah beroperasi di Indonesia yaitu Radar Hanud (berjumlah 19 Unit dengan komposisi: 6 unit Radar Thomson TRS 2230 D Radar Generasi Ketiga, 4 unit Radar Plessey AWS II, 3 unit Radar Siemens-Plessey dan 6 unit Radar Master T buatan Thales-Perancis), Radar pesawat tempur dan Radar kapal perang. Radar Hanud, Radar pesawat tempur dan Radar kapal perang sebagian besar merupakan Radar buatan luar negeri karena pada saat ini industri dalam negeri belum mampu membuat Radar jenis tersebut.

“Walau pun demikian beberapa jenis Radar pantai seperti Radar ISRA dan Radar INDRA telah dikembangkan oleh institusi Litbang dan industri swasta nasional. Pengembangan Radar pantai perlu dilakukan untuk memenuhi spesifikasi pengguna antara lain peningkatan jarak jangkauan yang lebih jauh. Bahkan kedepan industri nasional diharapkan mampu membuat Long Range Radar Surveillance 3D melalui produksi bersama maupun bentuk alih teknologi lainnya,” kata Andhika.

Dijelaskan Andhika, ada kebutuhan radar jenis GCI (Ground Control Intercept) untuk menjamin keamanan udara Indonesia. Radar jenis sangat dibutuhkan untuk memperkuat radar pertahanan nasional kita. Radar pertahanan udara nasional adalah sistem kendali radar taktis, berbasis darat, 3D, kontrol udara dan sistem radar surveillance bekerja dalam rentang panjang dengan teknologi antena array slotted waveguide dan teknik pembentukan radiasi dengan cara digital (digital beam performing) dalam sisi penerimaan ini juga bertujuan untuk menentukan ketinggian.

Pada kesempatan yang sama,   Ophirtus Sumule, Direktur Sistem Inovasi Kemenristkdikti mengatakan bahwa Instrumen radar di Indonesia dinilai masih kurang, hal tersebut disebabkan karena teknologi ini masih terbilang mahal. Ketersediaan radar di Indonesia masih terbilang sedikit dibanding dengan luasnya wilayah Indonesia, masih banyak daerah di Indonesia yang tidak terpantau oleh radar yang sudah ada, khususnya didaerah terpencil serta daerah dengan lokasi pegunungan.

“Oleh karena itu, dibutuhkan upaya penguasaan teknologi radar melalui alih teknologi. Kemampuan yang harus disediakan dalam pengembangan radar antara lain adalah kemampuan desain, kemampuan di bidang konstruksi mekanik, Kemampuan di bidang elektronika, kemampuan di bidang IT dan networking, dan kemampuan di bidang teknologi material,” tegas Ophirtus.

Hasil dari pelaksanaan audit teknologi industri radar ini berbentuk rekomendasi. Rekomendasi hasil audit teknologi industri radar ini akan diberikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan sektor ini, yaitu: Kementerian Pertahanan, Kementerian PPN/ Bappenas, Kementerian Perindustrian, Kementerian BUMN, dan Kemenristekdikti.

Acara tersebut dihadiri Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Bondan Tiara Sofyan, Deputi BUMN bidang Pertambangan, Industry Strategis dan Media Kementerian BUMN, Fajar Hari Sampurno, Deputi Polhukam Kementerian PPN/Bappenas, Slamet Soedarsono, perwakilan dari KKIP, Marzan Iskandar dan perwakilan BPPT. (red/ju)

7 Nominator Anugerah Iptek Paparkan Produk Inovasi

0

Jakarta, Biskom- Sebanyak 7 nominator terpilih memaparkan berbagai aspek terkait dengan indikator-indikator yang menjadi objek penilaian, sebagai rangkaian Anugerah Iptek dan Inovasi  Nasional Labdha Kretya 2019.

Ketujuh nominator tersebut, antara lain  pertama, Rekayasa Mesin Serut Bambu Multifungsi 3 in 1 Sebagai Terobosan Untuk Pemenuhan Kebutuhan Industri tusuk sate dan aneka kerajinan bambu (Karanganyar).

Ketiga, Inovasi  Pembenihan Kepiting Bakau (Provinsi Bali). Ketiga, Inovasi  Bending 3 Axis Man-tech (Grobogan). Keempat, Inovasi Minyak Serai Wangi  (Ogan Ilir),  Kelima, inovasi Mas Jawa T-Netra (Money Android Scanner Jawaban Masalah Tunanetra) dengan metode optical character recognition (Pati).  Keenam, inovasi Bioreaktor Kapal Selam  (Pati Energi). Ketujuh,  inovasi Roti Gaplek Inagiri  (Wonogiri).

“Anugerah ini bertujuan mendorong peningkatan kemampuan iptek yang bukan hanya berasal dari kalangan perguruan tinggi atau lembaga litbang. Sebagaimana kita ketahui banyak sekali produk yang hadir dan lahir dari kalangan masyarakat atau akar rumput,” ungkap Kepala Sub Direktorat Kemitraan Strategis dan Wahana Inovasi Kemenristekdikti, Eka Gandara di Jakarta, Kamis (25/7).

Lebih lanjut dikatakan, produk inovasi dari masyarakat berbeda dengan inovasi dari perguruan tinggi dan lembaga litbang karena terkait sumber daya manusia, sarana prasarana maupun metodologinya. Namun, tujuannya sama yaitu bagaimana meningkatkan nilai tambah. Karena itu, alat ukur yang digunakan agak berbeda dari alat ukur untuk menilai tingkat kesiapan teknologi produk inovasi perguruan tinggi dan lembaga litbang.

“Inovasi dari masyarakat biasanya berawal dari masalah yang ada di masyarakat, kearifan lokal, dan lain-lain, tetapi tidak menutup kemungkinan pula produk inovasi ini justru menjadi solusi bagi permasalahan bukan hanya di daerah itu sendiri tapi bisa antar provinsi bahkan permasalahan nasional. Produk inovasi masyarakat yang punya dampak lebih luas akan memiliki penilaian tinggi,” jelas Eka.

Menurut dia, berbeda dengan penyelengaraan sebelumnya, tahun ini pihaknya mewajibkan adanya kehadiran pemerintah daerah melalui Bappeda dan Balitbangda. Bagi setiap inventor yang mengikuti perlombaan ini diwajibkan mendapat surat pengantar dari Pemda. Dengan ketentuan ini diharapkan Pemda hadir di tengah-tengah masyarakat terutama dalam aktivitas pengembangan inovasi di masyarakat.

Pemerintah daerah dilibatkan sebagai pendamping inovator yang mengikuti seleksi anugerah ini. Pada tahap awal seleksi menggunakan tools Sistem Inovasi Kearifan Lokal (SOKA) yang khusus didesain untuk mengukur produk inovasi yang dikembangkan masyarakat.

Selama kurang lebih hampir 1 bulan telah terjaring 41 inovator yang berasal dari 24 kabupaten/kota dari 6 provinsi dengan 8 bidang fokus. Dalam proses penjurian ada 6 komponen aspek yang dinilai, yakni perencanaan, infrastruktur, kapasitas SDM, Sistem informasi, budaya inovasi dan hasil inovasi.

Seperti diketahui, Penyerahan Anugerah Iptek dan Inovasi Nasional Labdha Kretya 2019 kepada para pemenang akan diserahkan pada Malam Apresiasi Anugerah Iptek dan Inovasi pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi (Hakteknas) bersama para pemenang anugerah lainnya yakni: Budhipura, Budhipraja, Prayoga Sala, Abyudaya, Adibrata, Labdha Kretya dan Widya Kridha pada 27 Agustus 2019 di Denpasar, Bali. (red)

Multipolar Tech Hadirkan Solusi VMware Workspace ONE

0

Jakarta, Biskom- Di era digital saat ini, kemudahan, kenyamanan dan keamanan akses terhadap data dan aplikasi perusahaan sangatlah dibutuhkan guna mendukung produktivitas, terlebih bagi pekerja mobile. Di sisi lain, menyiasati tantangan dan ancaman dari sistem kerja modern yang mengakomodir bekerja secara mobile dari mana saja, kapan saja, melalui perangkat apa saja tidaklah mudah.

“Tampilan aplikasi yang sama, baik itu saat diakses melalui desktop maupun perangkat mobile tentu sangat memudahkan penggunanya dan memberikan kenyamanan dalam beraktivitas. Tapi keamanannya juga harus dipikirkan, apalagi saat mengakses data perusahaan untuk keputusan bisnis yang bersifat sensitif. Dan hal ini bisa diakomodir dengan VMware Workspace ONE,” ujar Jip Ivan Sutanto, Direktur Solution & Infrastructure Business Multipolar Technology di sela-sela seminar bertajuk “Empower Employees with an Intelligent-Driven Digital Workspace” di  Jakarta, (25/7).

VMware Workspace ONE adalah platform ruang kerja digital yang terintegrasi, yang sangat membantu dalam men-deploy aplikasi kapanpun di manapun dengan mudah sesuai pengaturan keamanan yang berlaku untuk aplikasi tersebut, tanpa memandang perangkat (desktop, laptop, tablet, handphone), sistem operasi (Android, iOS, Windows) maupun versi aplikasi yang digunakan. Solusi ini berfungsi sebagai ‘perantara’ yang menjembatani aplikasi dengan perangkat atau sistem yang digunakan. Konsepnya seperti membuka web browser untuk mengakses aplikasi kantor.

Pengguna dapat login seperti layaknya bekerja dari kantor dan bisa mengakses semua aplikasi yang biasa digunakannya dari mana saja dan kapan saja dengan aman, sesuai pengaturan otorisasinya. Bahkan jika pengguna memiliki banyak aplikasi internal, tidak perlu login satu per satu ke masing-masing aplikasi dan mengingat login ID serta password-nya. Cukup masuk ke VMware Workspace ONE yang dilengkapi dengan SSO (Single Sign On), maka penggunanya bisa langsung masuk ke semua aplikasi tersebut sesuai otorisasinya.

Dari sisi perusahaan, VMware Workspace ONE memastikan pengaturan dan proteksi data perusahaan hanya bisa diakses oleh pengguna yang bersangkutan, jadi bisa dipastikan bahwa data atau aplikasi yang diakses memang benar sesuai profil pengguna yang berwenang sehingga terjamin keamanannya.

Tentunya hal ini sangat memudahkan perusahaan dalam melakukan proteksi menyeluruh terhadap informasi sensitif yang menyangkut bisnis perusahaan, data dan transaksi dengan klien dan mitra serta data karyawan, yang bisa dimonitor dalam satu konsol terpadu. Tim TI juga dapat membatasi akses ke data perusahaan berdasarkan kepentingan dari departemen atau satuan kerja yang ada, termasuk pembatasan akses untuk bisa mengirimkan data tertentu atau tidak.

Karena VMware Workspace ONE tidak memandang platform atau versi yang digunakan oleh user, dari sisi pengguna tidak perlu kuatir bahwa perangkat yang dipakai tidak up-to-date pada software sehingga aktivitas dapat tetap berjalan seperti biasa. Solusi ini juga memungkinkan penyebaran aplikasi hingga ke area yang terpencil bisa dilakukan dengan cepat dari pusat. (red)

 

Ketum Apkomindo Dukung Kemenristekdikti Gelar ITD Expo di Lippo Mall Puri

0
Muhammad Dimyati, Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti membuka pameran ITD Expo.

Jakarta, BISKOM – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bersama dengan Universitas Pelita Harapan (UPH) serta Lippo Group menyelenggarakan Industrial Technology Development (ITD) Expo Tahun 2019 di Lippo Mall Puri, Jakarta Barat, Rabu (24/7),  ITD Expo merupakan pameran yang bertujuan untuk memperkenalkan 59 purwarupa skala lab dan purwarupa layak industri yang didanai Program Insentif Riset Inovasi Nasional (INSINAS) dan Program Pengembangan Teknologi Industri (PPTI).

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Muhammad Dimyati selaku Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, yang mewakili Menteri Ristekdikti.

Dalam sambutannya, Dimyati mengungkapkan; “Indonesia kini sudah menjadi yang terbanyak dalam hal jumlah publikasi paper penelitian, yakni sebanyak 32.975, lebih tiga paper dibanding Malaysia yang mengumpulkan jumlah 32.972. Selain itu, dalam urusan Paten kita juga menjadi juara di ASEAN. Hal ini membuktikan bahwa para peneliti kita semakin pede untuk menunjukkan potensinya ke masyarakat. Acara ini juga merupakan salah satu bentuk tanggung jawab ilmiah kami, khususnya para penerima bantuan Insinas dan PPTI, untuk menyebarkan informasi sedalam mungkin kepada masyarakat bahwa kita bisa melahirkan inovasi untuk kemanfaatan dan daya saing bersama,”

Muhammad Dimyati sedang mencoba salah satu purwarupa yang didanai Program Insentif Riset Inovasi Nasional (INSINAS).

”Selain itu, kabar gembira juga hadir untuk para peneliti bahwa kini kita telah memiliki UU Sistem Nasionak Iptek, yang mengatur bahwa kini seorang peneliti baru akan memasuki masa pensiun di usia 70 tahun. Selain itu, dengan hadirnya UU ini juga kita akan semakin leluasa untuk melakukan penelitian, pengembangan, maupun penerapan Iptek karena kita nanti akan memililki dana abadi. Pelibatan swasta juga diatur di sana dalam hal pemberian insentif kepada badan usaha yang telah mengeluarkan anggaran riset secara teratur, dunia riset Indonesia kini semakin memberikan kebanggaan bagi negeri ini, melalui ITD Expo saya berharap akan ada inovasi-inovasi yang bisa menembus pasar nasional hingga dunia.”

“Saat ini, PPTI telah menghasilkan sebanyak 158 buah purwarupa selama 2016-2018. Sedangkan untuk purwarupa skala lab yang dihasilkan dari program INSINAS dari tahun 2015-2018 adalah sebanyak 574 buah.” ungkap Dimyati.

Sementara itu, Hotmatua Daulay selaku Direktur Pengembangan Teknologi Industri dan ketua acara juga melaporkan tentang makna dari acara tersebut. Diharapkan dari konsep “goes to mall” ini, para pelaku riset bisa mendapat request dari masyarakat secara langsung mengenai kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat.

“Salah satu indicator keberhasilannya adalah terjadi transaksi dari user ke peneliti. Transaksi di sini tidak harus sudah berupa uang, namun bisa juga dalam bentuk sharing ide dan pengalaman dari masing-masing pihak. Dan dari laporan yang saya terima sejak dimulainya acara sudah ada teknologi yang siap diproduksi secara massal dan siap dikerjasamakan dengan calon mitra,” kata Hotma.

Foto bersama Muhammad Dimyati, Hotmatua Daulay dan Soegiharto Santoso serta para peneliti dan peserta pameran ITD Expo.

Ketum APKOMINDO, Soegiharto Santoso alias Hoky sangat mendukung dan turut hadir dalam acara kegiatan ITD Expo serta mengatakan; “Pameran ITD Expo ini sangat menarik sekali karena diselenggarakan disebuah Mall, sehingga dapat secara langsung mempertemukan masyarakat dengan peneliti maupun dengan pihak pemerintah, oleh karena itu dapat meningkatkan pemahaman serta wawasan masyarakat terhadap kebijakan dan program pemerintah dalam mendukung kegiatan penelitian, sekaligus informasi teknologi yang dihasilkan dari penelitian dapat langsung diketahui oleh masyarakat luas dan akan sangat berdampak positif, baik bagi pihak peneliti maupun bagi masyarakat luas, bahkan dapat terjadi transaksi bisnis, kami dari APKOMINDO sangat mendukung kegiatan ini.” tuturnya.

Acara ITD Expo akan berlangsung selama dua hari, dan diisi oleh talkshow dari beberapa pembicara, antara lain Beno Kunto Pradekso (CEO PT. Solusi 247), Djoko Kuswanto (Institut Teknologi Sepuluh Nopember), Muhammad Yukka Harlanda (CEO PT. Brodo Ganesha Indonesia), Petra Wahjoepramono (Universitas Pelita Harapan), Sigit Puspito Wigati Jarot (Ketua Indonesia 5G Forum), Suhono Harso Supangkat (Institut Teknologi Bandung), Tian Belawati (Universitas Terbuka), Yenny Meliana (Peneliti Puslit Kimia LIPI) dan Yusep Rosmansyah (Institut Teknologi Bandung). (Red)

Sosialisasi Katsinov Dukung Komersialisasi Produk Inovasi

0

Jakarta, Biskom- Dalam rangka mengukur  tingkat kesiapan inovasi melalui penerbitan Permenristekdikti Nomor 29 Tahun 2019 tentang Pengukuran dan Penetapan Tingkat Kesiapan Inovasi (Katsinov),  Dirjen Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) menggelar Sosialisasi Permenristekdikti tersebut  di gedung BPPT Jakarta, (23/7).

Katsinov adalah metode untuk estimasi kesiapan inovasi dari suatu program inovasi di perusahaan, lembaga penelitian dan pengembangan serta perguruan tinggi yang ditinjau dari aspek teknologi, pasar, organisasi, kemitraan, risiko, manufaktur dan investasi.

Acara  yang dibuka oleh Dirjen Penguatan Inovasi Jumain Appe didampingi Direktur Sistem Inovasi Ophirtus Sumule,  bertujuan  untuk mendukung komersialisasi dan keberlanjutan pasar dari produk inovasi yang dibutuhkan masyarakat, bangsa dan industri.  Utamanya,  mendorong kesiapan inovasi ke tahap komersialisasi dan mengurangi risiko kegagalan dalam pemanfaatan produk inovasi.

Menurut Jumain, penentuan kesiapan inovasi perlu pengukuran spesifik untuk memastikan inovasi tersebut memenuhi tiga unsur. yakni pertama inovasi yang memberikan perubahan signifikan, kedua  inovasi yang bisa digunakan dan didesiminisasikan kepada user atau pengguna dan ketiga adalah inovasi  yang memiliki nilai komersial.

“Katsinov merupakan salah satu tool atau alat bantu  yang  dibutuhkan ke depan guna mengukur, menilai bagaimana tingkat kesiapan inovasi yang  dilakukan di perguruan tinggi maupun di lembaga litbang agar  sesuai kebutuhan pasar dan  berdaya saing. Seperti  kita ketahui bersama bahwa inovasi ini penting dalam rangka memajukan Indonesia ke depan,” katanya.

Jumain menambahkan,  selama ini tantangan  yang ditemukan di lapangan antara lain hasil inovasi belum siap dikomersialisasikan secara massal,  karena adanya produk inovasi yang tidak memenuhi standar sehingga terhambat untuk dipasarkan. Belum.lagi, pada saat di pasarkan, produk inovasi yang  dihasilkan tersebut menghadapi  permasalahan izin edar karena tidak memenuhi standar tertentu.

Menurut Jumain, hasil-hasil litbang harus didorong agar tidak hanya menjadi jurnal atau paten, tetapi harus bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan juga harus menghasilkan skill yang sesuai kebutuhan industri atau masyarakat, tidak sekedar meluluskan mahasiswa menjadi sarjana tetapi tidak siap bekerja atau tidak bisa menghasilkan sesuatu pekerjaan.

Sementara itu, Direktur Sistem Inovasi Kemristekdikti, Ophirtus Sumule menjelaskan, peraturan menteri ini merupakan acuan bagian kementerian, lembaga, pemerintah daerah, perguruan tinggi dan industri dalam mengukur dan menetapkan tingkat kesiapan inovasi suatu program atau kegiatan inovasi.

Lebih lanjut Ophir menuturkan, pengukuran dan penetapan tingkat kesiapan inovasi dilakukan dengan melihat status tingkat kesiapan teknologi sebagai prasyarat suatu produk siap memasuki pasar, punya kebaruan dan berkelanjutan.

Dikatakan,  produk litbang dengan tingkat kesiapan teknologi yang tinggi belum menjadi jaminan bisa masuk ke pasar. Tingkat kesiapan teknologi ini menunjukkan bahwa produk tersebut sisi teknologi sudah mapan. “Selanjutnya, kita mulai menganalisis bagaimana prospek pasar, suplai bahan baku, kesiapan jaminan pasar, regulasi dan standar-standarnya,” lanjut Ophirtus.(red)

MSI Pasarkan Laptop Baru Dukung Gaming

0

Jakarta, Biskom – MSI (Micro-Star International), brand teknologi komputasi global,  meluncurkan enam produk terbaru untuk pasar Indonesia. Keenam produk tersebut mencakup empat laptop seri GT76 Titan, GE65 Raider, GS75 Stealth, dan Prestige 15, yang telah diperkenalkan di ajang pameran Computex 2019. Sementara kedua produk lainnya adalah X570 Motherboard Series dan Kartu Grafis NAVI.

“Kami ingin terus menghadirkan produk-produk komputasi terbaru yang mendukung aktivitas gaming, business, dan lifestyle masa kini. Tentunya enam produk yang kami bawa ke Indonesia tetap membawa teknologi dan fitur modern dengan mengedepankan performa tinggi dan kinerja andal sebagai ciri khas dari MSI,“ ujar Jerry Lu, Country Manager, MSI saat peluncuran di Jakarta, (22/7).

Berdasarkan report dari IDC, pertumbuhan Curved Monitor Gaming MSI di Indonesia melaju pesat hingga lebih 300%. “MSI tidak hanya menjadi merek nomor 1 di Indonesia untuk Curved Monitor Gaming melainkan juga untuk Kartu Grafis Gaming. Ini merupakan misi dari MSI bahwa kami akan menyediakan gaming ekstrim terlengkap untuk para gamer,” ujar Michael Liang, General Manager, MSI Indonesia CND/GNP.

Pertumbuhan eSports dan industri kreatif terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Indonesia juga menjadi salah satu pasar video game terbesar di Asia Pasifik, dengan angka mencapai US$941 juta (sekitar Rp13 triliun). Asia Pasifik merupakan wilayah dengan pertumbuhan pasar game paling tinggi di dunia. Keenam produk MSI dari divisi Notebook dan Komponen diharapkan bisa memenuhi kebutuhan dari para konsumen, terutama yang menggeluti gaming atau yang menginginkan perangkat dengan performa andal untuk mendukung kreativitas mereka.

MSI GT76 Titan yang meraih Golden Best Choice Award pada Computex 2019 menjadi seri tertinggi dari laptop gaming MSI yang mengandalkan prosesor Intel Core i9 Generasi ke-9 dengan kecepatan 5.0GHz. Seri ini menyasar true gamer yang mementingkan spesifikasi komponen paling mumpuni untuk menjalankan game-game berat.

Seri berikutnya adalah MSI GE65 Raider yang ditujukan untuk para gamer antusias, memadukan antara desain, estetika dan performa. Produk ketiga, MSI GS75 Stealth juga merupakan laptop gaming yang didesain elegan dan dinamis sehingga cocok untuk pengguna dengan mobilitas tinggi. Sementara itu, laptop MSI Prestige 15 dengan portabililtas tinggi, lebih cocok bagi pengguna yang berkutat di industri kreatif seperti pembuatan konten video, visual, atau grafis 3D.

Dari sisi komponen, MSI membawa X570 Motherboard Series yang membawa fitur baru Frozr Heatsink untuk menghasilkan sistem pendinginan yang lebih baik. Ada beberapa model dari Motherboard X570 antara lain MEG X570 Godlike dan MEG X570 ACE untuk para gamer antusias, MPG X570 Gaming Pro Carbon Wifi, MPG X570 Gaming Edge Wifi, MPG X570 Gaming Plus untuk Performance Gaming, X570-A Pro Prestige dan X570 Creation bagi para creator. Produk terakhir adalah MSI VGA card NAVI berbasis AMD Radeon RX 5700 dan 5700 XT. Kedua kartu grafis ini memiliki kecepatan standar 1.650MHz yang bisa di-overclock hingga1.905MHz serta memenangkan performa yang tinggi untuk gaming 1440P.

Dukungan MSI Bersama Discovery Channel Terhadap eSports

Bersamaan dengan peluncuran ini, MSI menegaskan kembali mengenai kerja sama strategis bersama Discovery Channel meluncurkan program ESPORTS: THE RISE OF THE NEW KING, yang telah ditayangkan pada 23 Juni 2019. Kerja sama berupa tayangan spesial ini merupakan salah satu bentuk dukungan MSI yang kontinyu terhadap perkembangan dan popularitas eSports di berbagai industri dan wilayah di seluruh dunia.

Discovery Channel telah memilih MSI sebagai mitra karena telah konsisten memproduksi perangkat keras yang kompetitif untuk mendukung industri gaming, sekaligus terus aktif dalam berbagai event di dalam ekosistem eSports. Selama ini, MSI telah berpartisipasi dalam lebih dari 130 acara Esports di lebih dari 50 negara. MSI juga menjadi tuan rumah turnamen MGA (MSI Gaming Arena) kelas dunia untuk mempertemukan tim eSports profesional berbakat dari seluruh dunia. Yang terbaru, MSI juga dipercaya untuk menjadi Official Partner ESL Pro League 2019.

“Dengan terus menjalin kerja sama dengan berbagai pihak di industri gaming, MSI ingin terus berkarya dan memiliki andil nyata dalam pertumbuhan dan peningkatan eSports di Indonesia, melalui produk-produk yang berkualitas,“ tambah Jerry Lu. (red)

Inilah Beras Sehat hasil Inovasi BPPT dari Singkong Jagung dan Sagu

0

Jakarta, Biskom – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam rangka mendukung ketahanan pangan Indonesia, meluncurkan  beras sehat dari singkong, jagung dan sagu. Beras analog atau beras tiruan ini memiliki indeks glikemik rendah dan sangat cocok untuk program diet terutama bagi penderita diabetes serta masyarakat yang concern terhadap pola hidup sehat.

Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT, Soni Solistia Wirawan mengatakan saat ini konsumsi beras masyarakat Indonesia sekitar 120 kilogram (kg)/kepala/tahun. Sementara konsumsi protein dan ikan masih rendah sekitar 40 kg/kepala/pertahun. Padahal, beras padi mengandung indeks glikemik tinggi sehingga bisa menimbulkan penyakit diabetes.

Indonesia, lanjutnya, memiliki bahan baku selain padi sebagai sumber karbohidrat seperti singkong/ubi kayu, jagung, dan sagu. “Masalahnya, kita terbiasa makan nasi dari beras. Jadi bukan masalah teknis tapi budaya kita yang terbiasa makan nasi. Karena itu kita berusaha mengolah jagung, singkong dan sagu menjadi bulir-bulir beras,” terang Soni

Beras sehat berbahan baku singkong, jagung dan sagu dikembangkan Balai Besar Teknologi Pati (B2TP) BPPT  dengan menggandeng usaha kecil menengah di kawasan Lampung. Saat ini beras sehat sudah dipasarkan di beberapa minimarket sekitar Lampung. Meskipun harganya lebih mahal dari beras biasa, Soni optimis beras sehat akan dicari orang-orang yang ingin hidup sehat.

Beras sehat yang dikembangkan BPPT terdiri dari Beras Sehatku, Beras Tiwulku, dan Beras Sigerku. Beras Sehatku berbahan baku utama tepung jagung (80%) dan ubi kayu (20%) yang telah diolah sedemikian rupa sehingga mudah dan dapat dimasak dengan cara praktis.

Beras Sehatku diproduksi dengan teknologi ekstrusi melalui serangkaian proses homogenisasi, pengaliran (shearing) dan pembentukan ekstrudat yang keluar dari die sedemikian rupa sehingga akan menghasilkan produk yang memiliki tekstur, densitas, dan sifat-sifat fungsional serupa dengan beras padi.

Beras Sehatku memiliki kandungan karbohidrat (energi) yang setara dengan beras padi dan kaya sarat sarat pangan. Beras Sehatku juga kaya vitamin B1 (Thiamin), B2 (Riboflavin) dan B6 (Pyridoxine) serta kaya mineral seperti kalium, magnesium, zat besi dan fosfor.

Beras sehat praktis dalam pemasakan dan memiliki bentuk dan rasa yang unik sehingga tidak perlu mengubah pola konsumsinya. Produk ini dapat digunakan sebagai bahan makanan pokok pengganti beras bagi konsumen yang ingin menjalankan diet atau mengurangi konsumsi gula. Selain itu, beras sehat dapat juga diolah menjadi nasi goreng, nasi bakar, lemper, dan bubur atau pangan olahan lain yang umumnya berbahan dasar nasi.

Beras Sigerku merupakan produk pangan inovatif berbahan baku singkong segar, sementara Beras Tiwulku berbahan baku gaplek. Kedua bahan tersebut ditepungkan dan dicetak dengan teknologi ekstrusi sehingga menghaslkan produk yang memiliki tekstur, densitas, dan sifat-sifat serupa beras padi.

Beras Sigerku dan Tiwulku memiliki kandungan karbohidrat yang setara beras padi. Beras Sigerku dan Tiwulku lebih kaya serat dibandingkan beras padi sehingga dapat bermanfaat untuk menjaga pencernaan. Beras analog ini aman untuk dikonsusi karena diolah tanpa bahan pengawet, pewarna, dan penyedap.

Beras sehat ini juga praktis dalam pemasakan serta memiliki bentuk dan rasa yang menyerupai beras padi sehingga dapat memenuhi selera konsumen. Saat ini, uji pemasaran beras sehat telah disepakati oleh B2TP – BPPT dengan PT. Indometro Surya Andola. (red)

Technopark Lampung Tengah Hadirkan Pojok Inovasi Cassava Castle

0

Jakarta, Biskom- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menggelar Press Tour 2019 dalam rangka memperkenalkan aneka produk olahan pangan sehat non padi yang merupakan hasil inovasi teknologi yang dikembangkan BPPT,  yakni pangan olahan dari ubi kayu atau singkong di Lampung Tengah.

Kali ini, BPPT meresmikan  Pojok Inovasi Cassava Castle yang berlokasi di Gedung Pusat Informasi Bisnis Teknologi dan Teknopark (PIBTT) di Jalan ZA Pagar Alam 8/36, Gedong Meneng, Bandar Lampung pada Jumat (19/7). Dalam peresmian Pojok Inovasi Cassava Castle, hadir pula Kepala  Balai Besar Teknologi Pati (B2TP) BPPT Aton Yulianto serta perwakilan dari Pemprov Lampung dan Pemkab Lampung Tengah diantaranya Kepala Badan Litbang Pemprov Lampung Prihartono.

Pojok Inovasi Cassava Castle merupakan salah satu hasil kegiatan Technopark Lampung Tengah, yang diinisiasi BPPT bersama Pemkab Lampung Tengah dan Pemprov Lampung. Dalam RPJMN 2015-2019, Pemerintah merencanakan pembangunan 108 technopark, yang dikerjakan oleh kementerian/lembaga. BPPT mendapat penugasan untuk mendampingi pembangunan sebanyak 9 technopark diantaranya Technopark Lampung Tengah.

Sementara Gedung PIBTT – BPPT merupakan tempat  yang digunakan untuk memberikan informasi  kepada masyarakat, dunia industri, perguruan tinggi dan pemerintah berkenaan dengan inovasi teknologi yang dihasilkan oleh lembaga LitBang-Jirap (Penelitian, pengembangan, pengkajian, dan Penerapan Teknologi) manapun, khususnya yang dapat mendukung operasional Technopark Lampung Tengah.

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan, Cassava Castle merupakan Pojok Inovasi untuk mendiseminasikan produk-produk hasil kajian BPPT khususnya pada Kedeputian Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi. Di tempat ini para penyedia maupun pengguna teknologi dapat bertemu dan berdiskusi sambil menikmati aneka produk olahan pangan sehat dan inovatif yang dihasilkan oleh para tenant Technopark Lampung Tengah.

“Pojok Inovasi Cassava Castle ini diharapkan dapat mendorong tumbuhnya usaha-usaha makanan dan minuman sehat yang menggunakan produk-produk hasil kajian teknologi dari bahan baku unggulan lokal di Lampung, seperti ubi kayu, labu kuning, kopi dan lain-lain,” kata Hammam

Selain  itu. Cassava Castle  juga merupakan tempat bertemunya penyedia dan pengguna teknologi yang diwadahi dalam Forum Komunikasi Pelaku Usaha dan Ahli Teknologi Pati (forPATI) di Cassava Castle untuk dapat meningkatkan sinergi positif yang bermuara pada pemanfaatan dan penerapan teknologi pada industri.

Lebih lanjut  Hammam berharap  technopark di Lampung Tengah ini bisa menjadi bagian 9 technopark yang sekarang diendors pemerintah dan menjadi salah satu pusat untuk kita mengembangkan  PPBT maupun teknopreneur  yang merupakan komponen penting di dalam pertumbuhan ekonomi,” kata Hammam.

Menurut Hammam, Provinsi Lampung merupakan produsen tapioka terbesar di Indonesia, yakni terdapat sekitar 74 pabrik tapioka, dengan kapasitas produksi lebih dari 2 juta ton. Aktivitas semua pabrik tersebut membutuhkan bahan baku ubi kayu sebanyak minimal 8 juta ton. Namun, ketersediaan bahan baku di Lampung hanya sekitar 6,5-7 juta ton per tahun.

“Dengan kondisi tersebut, maka industri tapioka di Lampung sangat rentan mengalami kekurangan bahan baku. Hal tersebut karena masa panen ubi kayu tidak merata sepanjang tahun sehingga pabrik-pabrik tapioka tidak dapat beroperasi pada kapasitas terpasangnya secara kontinyu. Sebagai akibatnya, industri tapioka di Lampung memiliki daya saing rendah,” jelasnya.

Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT, Soni Solistia Wirawan mengungkapkan, pembangunan Pojok Inovasi Cassava Castle telah direncanakan pada 2018, mengingat perlu adanya suatu wadah yang tidak hanya dapat digunakan untuk mempromosikan produk-produk inovasi. Cassava Castle juga dapat digunakan untuk mempertemukan para pelaku usaha pati dan ahli teknologi pati agar terjadi sinergi yang bermuara pada penerapan teknologi, hasil inovasi para ahli pati pada lembaga penelitian dan perekaysaan.

Pojok Inovasi Cassava Castle, merupakan salah satu kegiatan dari Technopark Lampung Tengah yang telah dilaksanakan sejak 2015 dan akan berakhir pada 2019. Cassava Caste dibuat sebagai outlet yang menampilkan produk-produk perusahaan pemula berbasis teknologi (PBBT) yang dilahirkan melalui program technopark berupa produk makanan berbasis non beras dari ubi kayu, jagung, sagu dan lain-lain yang telah mendapatkan sentuhan teknologi untuk memberi nilai tambah.

“Dengan adanya Pojok Inovasi Cassava Castle ini, kami berharap bahwa fasilitas ini dapat mempercepat hilirisasi produk inovasi untuk meningkatkan daya saing nasional untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Menurut Soni, juru masak di Cassava Castle dari mahasiswa-mahasiswa dari universitas yang mulai berusaha. “Jika ini berhasil saya berencana akan meng-copy paste Pojok Inovasi Cassava Castle ini beberapa tempat terutama di Yogyakarta, dekat kampus ITS di Surabaya, dan Bali. Kita lihat perkembangannya dalam setahun ini,” lanjutnya.

Karenanya , BPPT  meminta dukungan dari pemerintah daerah untuk menghidupkan Pojok Inovasi ini, misalnya dengan mengadakan rapat-rapat kecil atau kegiatan lain di Cassava Castle sambil menikmati produk-produk pangan sehat dengan harga murah. Universitas juga bisa meramaikan Pojok Inovasi ini dengan menampilkan hasil-hasil inovasinya.

Pada kesempatan tersebut,  Kepala Balitbangda Lampung Prihatono G Zain mengatakan Provinsi Lampung yang merupakan pintu gerbang menuju Pulau Sumatera, menjadi penyangga kebutuhan hidup penduduk Ibukota. Sekitar 40% kebutuhan hidup warga Jakarta dipenuhi dari Provinsi Lampung.

“Sampai saat ini perekonomian Lampung masih bertumpu pada sektor pertanian, meskipun dari tahun ke tahun terjadi pergeseran ke sektor industri, perdagangan serta sektor lainnya. Selain hasil-hasil pertanian tanaman pangan, Lampung juga merupakan produsen ubi kayu terbesar di Indonesia. Produksi ubi kayu tersebut, sebagian besar digunakan untuk industri tapioka,” katanya. (red)

 

GCR Usung Beragam Solusi IoT dukung Smart City

0

Jakarta,  Biskom- Dalam ajang “Indonesia International Smart City Expo & Forum ke-3 di JCC,perusahaan IT berbasis E-commerce, Global Channel Resources (GCR), menghadirkan beragam solusi IoT untuk dukung program smart city, mulai dari solusi bagi dunia pendidikan, konektivitas cloud, smart bulding, smart ritel, hingga layanan publik di Smart City.

Menurut Ceo GCR International, Tony Tsao, sejauh ini, beberapa produk dan solusi GCR  sudah banyak diaplikasi oleh banyak institusi di beberapa negera, seperti Singapura, India, dan lainnya. “Kami optimistis solusi IoT yang kami hadirkan, akan bisa membantu upaya Indonesia dalam mengakselerasi implementasi smart city di berbagai bidang, seperti untuk layanan public, dunia pendidikan, dan juga kalangan industri. Apalagi dunia industri juga tengah bersiap memasuksi era industri 4.0 yang sangat membutuhkan solusi IoT,” papar  Tony Tsao di JCC, Jakarta,  Rabu  (17/7).

Dalam kesempatan itu juga dilakukan kerja sama GCR dengan Onno Center yang didirikan pakar IT, Onno W Purbo. Terutama untuk membantu mendukung dari sisi edukasi dan sosialisasi ke dunia pendidikan atau kalangan akademik tentang smart concept dan IoT.

“Dalam kerja sama ini, keberadaan kami bukan menjadi bagian untuk berjualan, tetapi lebih ke aspek edukasi dan sosialisasi tentang IoT dan konsep smart city kepada masyarakat. Terutama ke dunia pendidikan. Sebab salah satu tantangan dalam akselerasi penerapan smart city adalah keterbatasan SDM. Masih banyak yang tidak faham apa itu IoT. Padahal ini menjadi salah satu kunci dalam penerapan smart city dan juga dan transformasi digital dunia industri menuju era indutri 4.0. GCR ini sebenarnya posisinya sebagai market place B2B. Justru dari edukasi ini kita harapkan muncul, pengembang aplikasi lokal yang bisa dijual melalui GCR, sehingga bisa go global untuk dapat pemasukan dollar AS. ” ujar Onno W Purbo.

Saat jumpa pers, Andy Neo Director CGR juga memaparkan beragam solusi yang dihadirkan dari mitra teknologi GCR yang dapat masuk dalam aplikasi di kota cerdas atau Smart City. Termasuk penggunaan yang relevan dari solusi ini dan strategi implementasi untuk menuju terwujudnya kota Pintar. Di antaranya mencakup empat aspek: konektivitas, venue, layanan publik, dan pendidikan.

Dikatakan, smart City berinteraksi dengan warganya dengan banyak informasi, apakah itu ramalan cuaca, jadwal transportasi, dan panggilan darurat bagi penduduk setempat untuk merencanakan kehidupan sehari-hari mereka menjadi lebih smart. Banyak aspeknya, mulai bidang bangunan (smart buiding), ritel, dan lainnya termasuk untuk media iklankan objek wisata yang bisa dinikmati para wisatawan.

“Berbagai solusi seperti digital signage dari GCR, bersama dengan produk-produk networking GCR, dapat membantu pemerintah kota untuk memasang berbagai tampilan digital, dari banyak layar dalam dan luar ruangan ke kios swalayan hingga dinding interaktif berukuran besar, didukung oleh jaringan wi-fi publik yang solid. Ini akan menciptakan nuansa baru yang kian menarik dan memudahkan warganya,” ujar Andy Neo dalam jumpa pers yang juga dihadiri Ketua Aptiknas DPD DKI, Fangky Christian, dan Country Manager GCR IoT Indonesia, Andi Tanudiredja.

Solusi lain yang menarik yakni, solusi Pendidikan di Smart City dari GCR yang dipaparkan dan didemokan oleh Sales and Product Manager Product GCR Indonesia, Boby Pratama. Dikatakan, solusi TI dalam pendidikan sangat penting untuk mendukung daya saing sebuah kota di masa depan. Dalam hal ini GCR memiliki solusi media pembelajaran untuk mendukung proses belajar mengajar yang lebih smart dengan dukungan IoT. Bahkan juga ada materi pendidikan IoT yang bisa membantu siswa menciptakan solusi untuk mengatasi tantangan perkotaan dengan cara yang inovatif melalui solusi teknologi. Sebagai contoh, kit starter GCR IoT memungkinkan pelajar untuk membangun stasiun cuaca sederhana atau kontrol inframerah mereka untuk rumah pintar yang bermanfaat ketika mereka mulai menangani polusi udara dan masalah keselamatan kota di kemudian hari.

Dalam hal ini GCR menghadirkan solusi dan platform smart edukasi yang selaras dengan kurikulum untuk melatih pemikiran komputasi anak dalam mengenal IoT menjadi sebuah solusi yang berguna dalam membantu mendukung terwujudnya smart city. Seperti merancang solusi kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin, dan big data analytic (analisis data besar).

Solusi lainnya, yakni Building Management System (BMS). Stadion, perpustakaan, balai kota, bersama dengan tempat-tempat di banyak bangunan, memberikan warga dengan olahraga sehari-hari dan hiburan musik, kenikmatan membaca, dan layanan kota lainnya di lingkungan perkotaan. Dengan pertimbangan ruang yang cerdas – dengan jejak energi yang lebih rendah, keselamatan yang lebih tinggi, dan keamanan yang lebih tinggi, untuk kehidupan yang lebih baik di kota yang cerdas, solusi manajemen terpusat GCR melalui BMS (Building Management System) memungkinkan pemantauan keselamatan dan keamanan dan kontrol semua penerangan dan pendingin udara dari satu titik atau dari konsol manajemen pusat untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi.

Sebagai contoh, sensor pencahayaan penginderaan siang hari berbasis gerak secara otomatis menyalakan lampu dan pendingin udara di gang, area public dan tempat parkir hanya ketika kehadiran terdeteksi akan meredupkan lampu ketika pencahayaan cukup di siang hari. Sensor asap dan sensor kebocoran gas membantu menghindari kecelakaan yang tidak diinginkan, dan kamera pengawas jaringan juga dapat diintegrasikan untuk akses jarak jauh, pemantauan waktu nyata, pemberitahuan, dan pemutaran rekaman yang mudah ketika ada insiden. Terakhir, hub transportasi seperti stasiun metro dapat memanfaatkan teknologi AI GCR. Bagi dunia ritel bisa diaplikasikan untuk memahami lalu lintas, hot spot, status antrian, dan rute penumpang dengan cara yang sistematis sehingga meningkatkan efisiensi pengoperasian tempat tersebut.

Beragam solusi IoT yang dihadirkan GCR ini sejalan dengan konsep smart kota untuk meningkatkan mobilitas sektor publik. Solusi pemantauan ujung-ke-ujung GCR menggunakan teknologi nirkabel dan perangkat nirkabel portabel untuk secara proaktif melacak aset kota dan mengelola beragam fungsi layanan kota. Misalnya, sensor yang terhubung ke port OBDII kendaraan mentransmisikan lokasi waktu nyata dan peringatan mengemudi dengan cepat, kecepatan, pengereman, akselerasi, dan belokan tajam, memastikan respons aktif ke pusat komando.

Dengan solusi IoT, sistem dari pemerintah kota bisa bertindak dengan cerdas, dan menyesuaikan diri dengan pola pikir yang cepat dalam era yang terus berubah. Termasuk misalnya Alarm kebakaran dan keselamatan di mana teknologi IoT bisa menjadi solusi di gedung pintar yang terhubung. Sehingga polisi dan pemadam kebakaran dapat tiba tepat di tempat ketika kecelakaan atau kebakaran terdeteksi. “Dengan solusi aplikasi IoT yang disesuaikan, berdasarkan skenario, dan dipersonalisasi dengan hasil yang terukur. Mereka dapat melakukan tugas layanan mereka dengan lebih percaya diri, lebih efisien, dan mengurangi kesalahan,” tandas Andy Neo. (red)