Home Blog Page 869

Mengelola Big Data Analytic di era Industry 4.0

0

Jakarta, Biskom – Pentingnya penanganan big data (data besar), termasuk data analytic, kian disadari leh para pelaku usaha, industri, hingga institusi kepemerintahan.

Di era teknologi digital yang makin berkembang pesat dan penggunaan Internet of Tings (IoT) di berbagai kalangan yang kian massif, Big data (data besar) menjadi keniscayaan yang tak terhindarkan. Setiap harinya, baik dunia bisnis, industri, institusi goverment maupun masyarakat, menyumbangkan jutaan dat, baik unstructured data atau data tidak terstruktur (data-data acak seperti teks, suara, video, dan lain sebagainya), hingga data yang terstruktur.

Hal ini tidak terlepas dari perkembangan media sosial dan berbagai aplikasi yang mereka gunakan sehari-hari, yang menjadi faktor penunjang terjadinya ledakan data dan meroketnya beragam informasi.

Banyak peluang dan juga tantangan dari adanya ledakan data besar ini. Beberapa faktor yang mempengaruhi ledakan data (explosion of data), mulai dari berkembangnya digital life style, maraknya penggunaan perangkat digital dan internet, smart concept (smart city, smart building, dan lainnya).

Ledakan data akan makin kompleks, baik yang terstruktur maupun tidak yang juga membutuhkan metode penanganan yang lebih baik, hingga proses metode analisa (advancements in analytics method). Big data, juga membutuhkan adanya perubahan dalam komponen teknologi penyimpanan (change in technology stack), hingga perlindungan aspek keamanannya (security system).

“Di era digital, ledakan data akan semakin tak terbendung. Ini tantangan, tapi juga ada peluang, karena ke depan data akan makin memegang peran penting untuk meningkatkan daya saing, baik bagi dunia usaha, industri atau institusi apa pun. Artinya data memegang peran strategis masa depan karena dapat meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan. Pengelolaan big data dengan baik, sangat relevan dalam rangka memasuki era industry 4.0,” ungkap Chairman Asosiasi Big Data & AI (ABDI) Rudi Rusdiah.

Big data memiliki sifat high-volume, high-variety, dan high-velocity. Artinya, ke depan data digital akan sangat melimpah, ragamnya sangat banyak, yang bisa didapatkan secara real-time dari berbavgai peprangkat dan jaringan digital. Banyak informasi yang bisa didapat dari sana, di mana dengan pengolahan data yang baik dan efisien, bisa membantu meningkatkan kinerja untuk berbagai aktivitas maupun dunia bisnis.

“Kita mendorong perusahaan berinovasi dengan penggunaan big data. Ini sesuatu yang sangat relevan memasuki industri 4.0, di mana harus terkoneksi ke teknologi dengan baik. ?Makanya dalam kegaitan ini, kita berikan penghargaan kepada perusahaan atas pencapaiannya. Tahun ini merupakan pertama kalinya diadakan, kita harapkan ke depan bisa lebih banyak lagi partisipan dalam kegiatan ini,” ungkap Rudi.(red)

 

Cybersecurity Forecast 2019: Apa saja yang perlu diwaspadai?’

0

Jakarta, Biskom – Palo Alto Networks, pemimpin global di kancah keamanan siber, hari ini menyampaikan ‘Cybersecurity Forecast 2019,’ sekaligus merinci potensi-potensi munculnya sejumlah ancaman keamanan yang kini mengemuka, serta bagaimana dapat menggugah kewaspadaan semua pihak sepanjang tahun 2019 yang akan datang. Dalam kesempatan yang sama, Palo Alto Networks juga menyampaikan beragam pendekatan keamanan strategis yang dirangkai secara khusus sebagai langkah antisipatif terhadap dinamika keamanan di tahun depan.

Tahun lalu, kita telah menyaksikan maraknya serangan siber yang berakibat fatal pada dibobolnya data substansial milik sejumlah perusahaan maupun lembaga organisasi, dan lebih jauh lagi, hal tersebut telah mengakibatkan kerugian finansial yang tak ternilai, serta jatuhnya reputasi perusahaan dan loyalitas pelanggan mereka. Setiap pemimpin bisnis perlu menjadikan potensi sekaligus risikokeamanan sebagai bahan pertimbangan dalam menerapkan strategi keamanan siber di lingkungan IT mereka.

Makin terkoneksinya lingkungan IT masa kini menjadi pembuka jalan bagi masuknya beragam ancaman keamanan siber yang membidik melalui titik-titikrentan di lingkungan yang menganga lebar, dari yang berupaya menjebak melalui situs-situs palsu yang mirip dengan situs asli sebuah perusahaan, hingga yang langsung mengarahkan serangan ke akun-akun personal pengguna media sosial guna menyuntikkan exploits.

Di tengah ketidakpastian yang menggelayuti lanskap masa depan keamanan siber, banyak hal tak terduga yang terjadi di industri keamanan siber. Palo Alto Networks menyoroti lima hal penting yang diprediksikan akan ramai di kancah keamanan siber tahun depan. Perumusan prediksi keamanan siber ini merupakan bentuk komitmen Palo Alto Networks dalam menyediakan informasi yang cukup bagi perusahaan maupun lembaga agar lebih matang dalam menyusun keputusan-keputusan strategis terkait keamanan.

Prediksi No. 1: Makin maraknya email-email bisnis yang disisipi lampiran jahat

Prediksi No. 2: Rantai suplai menjadi titik lemah baru di lini keamanan

Prediksi No. 3: Proteksi data dijadikan sebagai agenda utama di Asia Pasifik

Prediksi No. 4: Saatnya bagi Cloud Provider-Enterprise lebih serius dalam membangun fondasi IT yang aman

Prediksi No. 5: Makna penting membangun keamanan siber pada infrastruktur krusial

 

(red)

ANKER Sodorkan Duo Match Perangkat Pengisi Daya

0

Jakarta, Biskom –  Dibalut dengan cangkang yang menawan dan ukuran desain kecil sehingga sangat nyaman digenggam. Kali ini ANKER mengusung produk portable yang nyaman untuk disimpan dan dibawa kemana saja. Power Bank keluaran ANKER ini memiliki kapasitas 10.000 mAh.

Produsen perangkat pengisi daya asal Amerika ini menyodorkan dua produk yang masing masing memiliki keunggulan dalam pengisian perangkat bergerak. PowerCore Speed 10000 dan PowerCore II 10000. Daya yang dimiliki oleh masing-masing perangkat terlihat dari angka yang disematkan pada nama tipe dari dua produk ini, sedangkan keunggulannya disematkan dengan penambahan kata ‘speed’ dan angka dua romawi ‘II’.

Angka dua romawi merupakan pengembangan dari generasi sebelumnya yang tentu saja telah banyak disempurnakan dari produk pendahulunya, kata ‘Speed’ disematkan pada produk ini karena kecepatannya dalam pengisiannya yang dibubuhi teknologi Power IQ terbaru yaitu versi 2.0.

1,5 Jam Pengisian untuk Galaxy S8

Dari uji test produk ini, PowerCore II 10000 QC mampu mengisi daya untuk sebuah Galaxy S8 hanya dengan waktu 1,5 jam lebih cepat 2,5 jam dengan power bank biasa yang tanpa dilengkapi teknologi Power IQ 2.0 – teknologi dari ANKER dalam pengenalan daya arus lisrtik yang dibutuhkan perangkat, sehingga arus yang dibutuhkan oleh perangkat telah dideteksi dan mempunyai daya pengisian yang maksimal – pada perangkat pengisi daya. Sedangkan untuk pengisian perangkat tablet seperti iPad mini, power bank ini mampu mengisi daya dalam waktu 130 menit yang biasanya untuk pengisian normal sebuah power bank mampu mengisi daya dengan membutuhkan waktu 400 menit.

Bukan berarti PowerCore Speed 10000 juga tidak memiliki kehandalan dalam kecepatan pengisian daya. PowerCore Speed 10000 mampu mengisi daya walaupun memang lebih cepat dibandingkan dengan saudaranya yang telah dibubuhi teknologi Power IQ 2.0. Selisih sekitar 20-30% dalam kecepatannya.

Ringan dan Mungil

ANKER menyebutkan bahwa produknya mempunyai ukuran yang mungil dikelasnya. Bukan tidak ada yang menyamainya dalam hal ukuran, akan tetapi dibandingkan dengan kapasitas yang riil dimiliki sebuah perangakat penyimpan daya yaitu 10000 mAh dan juga teknologi yang dimilikinya. Produk ini mempunyai ukuran yang dapat dibilang kecil. Dengan lebar 6 cm Panjang 10 cm dan ketebalan 2 cm, PowerCore II 10000 QC menjadi nyaman digenggam dan dimasukkan kedalam tas untuk dibawa bepergian. Selain itu beratnya pun juga ringan hanya 195 gr.

Sedangkan untuk PowerCore Speed 10000 terpaut 3 gr dengan saudaranya. Sedangkan untuk lebarnya, power bank ini mempunyai lebar 6,2 cm dan Panjang lebih pendek dari PowerCore II 10000 yaitu 9,5 cm terpaut 0,5 cm dan 0,2 mm untuk tebalnya.

Duo Power Bank ini sudah dapat dengan mudah didapatkan di jaringan retail di Indonesia baik online maupun offline, Sudah lebih dari tiga tahun produk dari negara Presiden Donald Trumph ini telah meramaikan pasar aksesoris gadget kelas premium di Indonesia sejak akhir tahun 2016 lalu.

Untuk memiliki salah satu atau kedua perangkat ini, Anda harus menyiapakan dana yang bisa dibilang terjangkau untuk keunggulan dan teknologi yang dimiliki oleh sebuah power bank. Untuk PowerCore II 10000 dibandrol dengan harga IDR. 630.000 sedangkan untuk PowerCore Speed 10000 QC dilepas dengan harga IDR. 799.000. (red)

Selamat! 56 Penerap SNI Raih SNI Award 2018

0

Jakarta, Biskom – Badan Standardisasi Nasional (BSN) memberikan penghargaan SNI Award 2018 kepada 56 organisasi dan perusahaan penerap Standar Nasional Indonesia (SNI). SNI Award merupakan penghargaan tertinggi dari pemerintah Indonesia kepada perusahaan/organisasi yang dinilai telah menjalankan sistem manajemen operasional yang baik dan telah menerapkan SNI secara konsisten.

Pemberian SNI Award 2018 merupakan penghargaan ke-14 kalinya yang digelar BSN sejak tahun 2005. Pada 2017 SNI Award dianugerahkan kepada 50 organisasi dan perusahaan yang berkinerja baik dan konsisten dalam menerapkan dan mempromosikan SNI.

Kepala BSN, Bambang Prasetya mengatakan organisasi/perusahaan yang mendaftar SNI Award dari tahun ke tahun mengalami perubahan. Pada tahun 2015, sebanyak 151 organisasi yang mendaftar. Pada tahun 2016, sebanyak 108 organisasi/perusahaan. Pada tahun 2017, sebanyak 126 organisasi/perusahaan.

“Pada tahun ini, sebanyak 208 organisasi/perusahaan yang mendaftar. Dari jumlah tersebut lolos sampai tahap onsite atau kunjungan lapangan sebanyak 71 organisasi/perusahaan. Pada tahap berikutnya, penilaian oleh dewan juri, ditetapkan 56 organisasi/perusahaan sebagai penerima,” jelas Bambang pada Malam Penganugerahan SNI Award 2018 di Hotel Intercontinental, Jakarta pada Rabu (21/11).

Proses penilaian SNI Award, terang Bambang, dilakukan secara ketat oleh tim juri yang diketuai pakar ekonomi Rhenald Khasali. Tim Juri beranggotakan 19 orang yang ahli di bidang standardisasi dan penilaian kesesuaian. Para juri berasal dari industri, pemerintah, perguruan tinggi, asosiasi maupun pakar manajemen, good goverment, sosial ekonomi, dan finansial.

Penerima SNI Award tahun 2018 terbagi menjadi 12 kategori. Pada tahun sebelumnya SNI Award diberikan kepada 10 kategori yaitu Organisasi Kecil Barang; Organisasi Kecil Jasa; Organisasi Menengah Barang Sektor Pangan, Pertanian dan Kesehatan; Organisasi Menengah Barang Sektor Elektroteknika, Logam dan Produk Logam; Organisasi Menengah Barang Sektor Kimia dan Serba Aneka; Organisasi Menengah Jasa; Organisasi Besar Barang Sektor Pangan, Pertanian dan Kesehatan; Organisasi Besar Barang Sektor Elektro teknika, Logam dan Produk Logam; Organisasi Besar Barang Sektor Kimia dan Serba Aneka; dan Organisasi Besar Jasa.

“Ada 2 kategori tambahan, yaitu kategori organisasi pendidikan menengah dan organisasi pendidikan tinggi yang telah terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional, dan berlaku sekurang-kurangnya 2 tahun atau sejak tanggal 1 Maret 2016,” jelas Bambang.

Selain itu, pada tahun ini diserahkan penghargaan khusus berupa Grand Platinum yakni penghargaan yang diberikan kepada organisasi yang tiga kali berturut-turut mampu mempertahankan peringkat platinum. Penghargaan ini diberikan sebagai apresiasi atas komitmen yang tinggi dalam menerapkan SNI secara konsisten dan berkelanjutan, berkinerja baik dan mampu menginternalisasi aspek sosial ekonomi dan lingkungan dalam organisasinya. Penghargaan Grand Platinum diberikan kepada PT Pupuk Kaltim.

“Diharapkan SNI Award dapat menjadi acuan organisasi untuk meningkatkan kinerja organisasi, karena SNI Award menilai berbagai aspek yang dapat mendorong kemajuan organisasi dalam mewujudkan kinerja yang lebih baik, termasuk manajemen dan kepemimpinan, fokus pada pelanggan, pengembangan sumberdaya, pengelolaan/realisasi produk, dan hasil bisnis,” pungkasnya. (red)

Harapan Taman Pintar Akan Rakornas ASCI 2018

0

Jakarta, Biskom – Pelaksanaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) ke-V Asosiasi Science Center Indonesia (ASCI) menjadi ajang berbagi pengalaman atau sharing antar anggota yang merupakan para pimpinan Science Center.

“Melalui Rakornas ini, kita bisa mengetahui apa yang sedang dikembangkan Science Center lain dan saling bertukar pikiran apa yang bisa dikembangkan di Taman Pintar. Begitu juga sebaliknya, apa yang bisa diberikan Taman Pintar ke Science Center lain,” kata Kepala Bidang Pengelolaan Taman Pintar Yogykarta Afia Rosdiana di sela Rakornas ASCI ke-V di Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-Iptek), TMII, Jakarta, Kamis (22/11).

Rakornas hari kedua menghadirkan dua nara sumber yakni Elidjen dari MinfoCommTech, Universitas Bina Nusantara membahas materi Revolusi Perguruan Tinggi di Era Revolusi Industri 4.0. Sedangkan nara sumber lainnya Naveem Nandan dari PT Amzon Web Services Indonesia. Dalam paparan berdurasi 10 menit, Naveem Nandan menyampaikan tentang Artificial Intelligence/AI atau Kecerdasan Buatan yang merupakan salah satu teknologi utama yang akan mendukung implementasi Industri 4.0 . Selain itu, Naveem berbicara mengenai cloud computing dalam sebuah industri.

“Dengan PP-Iptek kami sering bertukar pikiran untuk pengembangan Science Center ke depan serta berpartisipasi dalam kegiatan lomba berjenjang,” tutur Afia. Hal senada juga dikatakan Kepala UPT Pusat Iptek dan Bahasa Pontianak Teguh Sapto Prijadi. Ia berharap dengan mengikuti Rakornas ASCI ke-V ini, perkembangan science center di daerah lebih bagus lagi dan dapat meningkatkan perannya dalam menghadapi era era Revolusi Industri 4.0 “Hasil Rakornas ini nanti akan kami bawa ke pimpinan daerah. Saya berharap dukungan dari pusat semakin besar, terutama kepada kepala daerah setempat,” ungkapnya.

Lebih lanjut Afia menambahkan bahwa pada 16 Desember 2018, Taman Pintar genap berusia 10 tahun. Tema peringatan ulang tahun kali ini adalah Stay in Science atau Tetaplah dalam Sains. “Sekarang kan era Revolusi Industri 4.0, fungsi Taman Pintar sebagai Science Center adalah bagaimana memotivasi masyarakat untuk mencintai sains atau peduli dengan ilmu pengetahuan. Kalau bahasa kerennya literasi sains masyarakat, sehingga ketika orang bertindak itu punya dasar keilmuan,” pungkasnya.

Secara umum, kata Afia, layanan Taman Pintar dibagi menjadi tiga yaitu displai pameran, program kegiatan, dan pertunjukan seperti planetarium dan teater 4 dimensi. Taman Pintar milik Pemerintah Kota Yogyakarta telah menerapkan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Saat ini, pengunjung Taman Pintar sudah mencapai 1 juta orang per tahun. “Dalam pengelolaan dan pengembangan Taman Pintar, kita punya dua kata kunci yaitu semakin banyak ilmu pengetahuan yang kita berikan ke masyarakat, maka akan semakin banyak masyarakat yang memperoleh ilmu pengetahuan,” terangnya.

Pada lapis lain Teguh menambahkan, Pusat Iptek dan Bahasa di Pontianak, yang berdiri sejak 23 Oktober 2014, sampai sekarang baru memiliki 36 alat peraga iptek. Setiap tahunnya, direncanakan akan ditambah 10 alat peraga. “Jadi target kita paling tidak 150 unit alat peraga untuk lima tahun ke depan,” katanya

Menurutnya, yang menjadi daya tarik para pengunjung, selain alat peraga iptek, seperti halilintar, jembatan lengkung, teleskop bintang, mikroskop multi media, simulasi tsunami, dan lain sebagainya, juga ada demo sain, pemutaran film, dan sebagai seperti science center lainnya. Selain itu, di Pusat Iptek dan Bahasa ini juga diadakan kursus bahasa asing untuk masyarakat secara gratis. Terkait pengunjung, per tahun sekitar 6.000-an pengunjung. Selama berdiri sampai saat ini, kendala yang dihadapi, terutama dari segi sumber daya manusia (SDM) yang masih terbatas yakni baru 9 orang.

‘Belum ke Yogyakarta kalau belum ke Taman Pintar’

Menurut Afia, tagline tersebut menggambarkan keberadaan Taman Pintar sudah menjadi salah satu ikon kota Yogyakarta. Tercatat ada tiga ikon besar kota Yogyakarta yaitu kota pendidikan, kota budaya dan kota tujuan wisata. Ketiga ikon Yogyakarta tersebut diramu dalam Taman Pintar.

Sebagai ikon kota pendidikan, Taman Pintar merupakan Science Center yang sarat dengan nuansa pendidikan. Karena Yogyakarta juga punya ikon kota budaya, Taman Pintar juga menampilkan pengetahuan tentang budaya misalnya dalam zona Indonesiaku dan Zona Memorabilia. Yang menarik menurut Afia, Taman Pintar sangat kental dengan momen lokal yang ada di Yogyakarta untuk konten-konten pendidikan. “Sebagai kota wisata, kita sangat berupaya untuk menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di kota Yogyakarta,” kata Afia

Agar Taman Pintar menjadi destinasi wisata unggulan, selain melalui berbagai cara promosi, tutur Afia, yang paling penting adalah layanan ke masyarakat. “Sebenarnya orang kan butuh dilayani dengan baik. Nah, layanan di Taman Pintar tidak hanya bagaimana melayani masyarakat saja tapi juga memenuhi keingintahuan dari masyarakat,” lanjutnya.

Saat ini, Taman Pintar yang berdiri di lahan seluas 1,2 hektare memiliki 54 zona dengan sekitar 1.300 alat peraga. Untuk menarik pengunjung, Taman Pintar senantiasa me-refresh atau memperbarui zona-zona yang ada. “Kita punya strategi tiap tahun minimal ada 3 zona yang baru baik itu secara muatannya, maupun zona lama yang sudah tidak menarik lagi dan keilmuannya out of date (kadaluarsa) kita ganti dengan yang baru. Jika pengunjung ke Taman Pintar tahun ini, tahun depan ke sini lagi ada yang baru,” terang Afia.

Tak hanya zona yang terkait sains, Taman Pintar juga memiliki Zona Sahabat Pemberani KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), Zona SNI (Standar Nasional Indonesia), dan zona-zona menarik lainnya. Bahkan di tahun politik, Taman Pintar bekerjasama dengan KPU meluncurkan Zona Demokrasi dan Pemilu. Meskipun semua zona di Taman Pintar menarik, ada zona yang menjadi favorit pengunjung. Pertama, Zona Sains yang dikembangkan sendiri berdasarkan ilmu pengetahuan alam murni, fisika, dan kimia. Kedua, Zona Cuaca, Iklim dan Gempa Bumi hasil kerjasama Taman Pintar dengan BMKG. (red)

Ristekdikti Uji Coba Kapal berteknologi Pelat Datar

0

Jakarta, Biskom – Menristekdikti Mohamad Nasir bersama Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo dan Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Jumain Appe menggelar uji coba kapal penangkap cumi berteknologi Pelat Datar di pesisir pantai Paku Haji Tangerang (20/11).

Mereka merasa puas dengan hasil uji coba Kapal Penangkap Cumi Teknologi Pelat Datar ini. Uji coba berlangsung lancar di bawah cuaca cerah berawan di wilayah pesisir pantai Paku Haji Tangerang. Waktu tempuh uji coba kapal dari muara ke Pulau Untung Jawa pulang pergi sekitar 90 menit dengan kecepatan maksimal 10 knot.

Menteri Nasir berharap kedepannya kapal pelat datar bisa diproduksi massal dan dapat digunakan secara luas oleh nelayan Indonesia, sehingga dapat meningkatkan daya saing para nelayan dan memperkuat sektor maritim Indonesia.

Teknologi kapal pelat datar ini merupakan produk hasil dari riset, pengembangan dan inovasi serta rekayasa desain dari Universitas Indonesia (UI) untuk memberikan alternatif kapal nelayan yang unggul. Kapal penangkap cumi teknologi pelat datar ini diproduksi PT. Juragan Kapal Indonesia, sebuah perusahaan startup yang bergerak di bidang produksi perkapalan, dibawah binaan Kemenristekdikti dan berkolaborasi dengan jurusan Teknik Perkapalan UI.

Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Jumain Appe menjelaskan pengujian kapal penangkap cumi ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan dari kapal saat bermanuver dengan kecepatan tertentu dan efisiensi bahan bakar.

“Secara teknologi kapal pelat datar ini sudah memenuhi beberapa kriteria yang sudah dimutakhirkan. Dengan upgrade kapal yang saat ini menjadi dalam kesatuan tiga lambung kapal, maka kapal ini sudah teruji dari segi manuver dalam kecepatan rendah maupun tinggi dan efisien penggunaan bahan bakar,” ujar Jumain.

Adi Lingson selaku CEO PT. Juragan Kapal menyebutkan keunggulan dari kapal penangkap cuma teknologi pelat datar antara lain sisi material yang lebih baik karena berbahan baja, umur pakai yang lebih lama, ramah lingkungan, 30 persen tenaga lebih cepat dari kapal biasa berbahan fiber, dan lebih efisien bahan bakar.

“Kapal penangkap cumi dengan teknologi pelat datar ini memiliki beberapa keunggulan dari kapal lain. Diantaranya bahan yang terbuat dari baja akan lebih tahan lama dan ramah lingkungan, lalu umur pakai kapal yang lebih lama dari kapal jenis fiber, tenaga kapal 30 persen karena bentuk lambung bawah seperti sayap yang dapat menimbulkan dynamic lift, dan irit bahan bakar,” ujar Lingson.

Kapal pelat datar merupakan teknologi kapal inovatif yang menggunakan baja sebagai material utama. Kapal ini dikonstruksi dengan pelat-pelat baja datar dan tidak melewati proses pelengkungan pelat. Teknologi ini menghasilkan produk yang diproduksi lebih cepat dan ekonomis. Material baja yang dipakai juga akan memudahkan nelayan-nelayan kecil bisa melaut lebih jauh dengan ukuran kapal yang lebih besar.

Uji coba kapal pelat datar ini juga dihadiri Staf Ahli Bidang Infrastruktur Hari Purwanto, Sesjen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Nilanto Perbowo, Direktur Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) Retno Sumekar, Direktur Inovasi Industri Santosa Yudo Warsono, dan Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) KKP Syarif Wijaya. (red)

SIDA, Fokus Hilirisasi Hasil Litbang

0

Jakarta, Biskom – Rapat Koordinasi Sistem Inovasi Daerah (SIDA) Se-Jawa Barat di Gedung UPTD Perbenihan Tanaman Hutan Jatinagor, Sumedang, Jawa Barat, menyebut bahwa Inovasi dalam pelayanan kepada masyarakat pada akhirnya akan mendorong peningkatan pendapatan kepada daerah.

Hadir dalam rakor tersebut, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi Jawa Barat, serta perwakilan dari Litbang maupun Bappeda Kabupaten/Kota se-Jawa Barat. Sekda Provisi Jawa Barat, Iwa Karniwa dalam amanatnya berpesan agar menjadikan inovasi pelayanan kepada masyarakat sebagai upaya untuk menyejahterakan seluruh masyarakat di Jawa Barat.

Beliau mencontohkan program aplikasi e-samsat yang telah digagasnya sejak 2009 hingga akhirnya berhasil meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dari Rp9 trilium menjadi Rp15 triliun.

“Dengan anggaran ini banyak fasilitas dapat dibangun termasuk juga beberapa bandara di Jawa Barat yang di bangun dengan APBD. Berkahnya bagi pribadi adalah mendapat kenaikan pangkat istimewa dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada waktu itu. Dengan kekuatan SDM dan anggaran yang ada, selayaknya Jawa Barat menjadi provinsi terdepan dalam bidang inovas,” katanya dalam kata sambutan seraya mencanangkan slogan “Jawa Barat Juara”.

Sementara itu, Asrori, peneliti utama Badan Litbang Kementerian Dalam Negeri dalam paparannya mengutarakan, isi Peraturan Pemerintah (PP) No 38 Tahun 2017 tentang Inovasi Daerah, menekankan pada inovasi dalam pelayanan kepada masyarakat. Sekaligus untuk melindungi inisiatornya bila sebuah inovasi gagal. “Program IGA (Innovation Government Award) tahun ini sudah memasuki tahap Fact Finding dan Jawa Barat tetap menjadi nominator juaranya,” kata Asrori.

Kepala Subdirektorat Pengembangan Sistem dan Jaringan Inovasi dari Kemenristekdikti Wihatmoko Waskitoaji mengungkapkan, perlunya inovasi pelayanan seperti diatur dalam PP yang sama dilaksanakan dalam suatu kerangka sistematis yang disebut Sistem Inovasi Daerah.

Adapun Kemenristekdikti telah dan sedang melaksanakan berbagai strategi kebijakan agar sistem inovasi daerah ini dapat di topang oleh hilirisasi hasil litbang perguruan tinggi setempat atau badan litbang/LPNK lainnya.

“Perguruan tinggi (PT) sedang didorong untuk menghasilkan produk inovasi yang terukur (yang dapat diukur kesiapannya dengan Katsinov) dan kinerja inovasinya akan menjadi elemen pemeringkatan dan akreditasi PT. Sedangkan keberhasilan suatu daerah nantinya dapat di ukur dengan menggunakan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD). Untuk melaksankan kegiatan ini, Kementerian Ristek Dikti telah menyiapkan berbagai insentif yang dapat diakses baik oleh Perguruan Tinggi maupun oleh Pemerintah Daerah,” paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BP2D Jawa Barat, Lukman Shalahuddin, mengajak, agar para pelaku inovasi di seluruh Jabar tidak dibingungkan oleh bebagai macam program di pusat. Yakni, dengan cara mempelajari maksud, target, dan capaian dari setiap program tersebut.  (red)

Optimalisasi NEOnet –BPPT Dukung Revolusi Industri 4.0

0

Jakarta, Biskom – Komitmen menjaga kelestarian harmonisasi bumi dan lingkungan hidup, bisa lebih dioptimalkan melalui pemanfaatan teknologi informasi berbasis solusi Internet of Things (IoT) melalui Nusantara Earth Observation Network (NEOnet) – Kedeputian Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) – BPP Teknologi. Optimalisasi adopsi Konsep Industri 4.0 untuk Kebumian (Bumi 4.0) untuk pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam (SDA) sesuai dengan prinsip kelestarian alam, berpotensi besar mendukung upaya pemerintah menuju Revolusi Industri 4.0.

Saat ini dunia sedang menghadapi Revolusi Industri 4.0 atau The Fourth Industrial Revolution, era dimana teknologi digitalisasi dan otomatisasi, kian memainkan peran penting dalam berbagai kegiatan ekonomi, terutama di sektor kegiatan industri manufaktur. Ada beberapa teknologi kunci yang mewarnai era ini, seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence), Internet of Things (IoT), super komputer, rekayasa genetika, teknologi otomatisasi, dan beberapa teknologi lain berbasis digital.

Konvergensi digital di era Revolusi Industri 4.0, kian membuat batas antara dunia digital, fisik, dan biologis semakin tipis, bahkan hilang. Dengan teknologi digital, semua elemen dalam kehidupan manusia kian mudah terhubung. Bahkan peran manusia akan semakin tergantikan oleh kehadiran teknologi ini.

Tak hanya negara maju, negara berkembang tak terkecuali Indonesia, juga tengah bersiap menghadapinya. Presiden RI, Joko Widodo bahkan juga telah secara resmi meluncurkan peta jalan “Making Indonesia 4.0” pada 4 April lalu di sela-sela Indonesia Industrial Summit 2018. Making Indonesia 4.0 merupakan peta jalan yang ditujukan untuk mengupayakan revitalisasi industri nasional secara komprehensif sebagai strategi Indonesia dalam memasuki Industri 4.0. Dalam kaitan ini, Presiden juga meminta semuanya kalangan untuk ikut aktif mendukung upaya pemerintah menuju Revolusi Industri 4.0 ini, termasuk dari kalangan yang berkecimpung dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), riset (penelitian), serta dunia pendidikan.

“Tantangan Revolusi Industri 4.0 harus direspons secara cepat dan tepat oleh seluruh pemangku kepentingan untuk bersama saling melengkapi dalam upaya meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di tengah persaingan global. Kedeputian Bidang TPSA BPPT memiliki semboyan #Hanya Satu Bumi yang memiliki makna, bahwa selain menjaga lingkungan, kita juga berupaya memanfaatkan semua sumberdaya alam yang ada di bumi ini untuk kemaslahatan umat manusia, termasuk dalam konteks menuju Revolusi Industri 4.0,” ungkap DR. Ir. Hammam Riza MSC., Deputi Kepala Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) – BPP Teknologi, di Kantor BPPT, Jakarta, belum lama ini.

Di jajaran institusi kepemerintahan, terdapat beberapa bidang yang cukup menonjol dan menjadi banyak sorotan, salah satuya bidang iptek, riset dan inovasi teknologi, mengingat upaya menuju era Revolusi Industri 4.0, sangat membutuhkan inovasi baru berbasis teknologi digital dengan pendaya gunaan komputasi dan data yang tidak terbatas (unlimited). Hal ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan adopsi teknologi internet dan inovasi teknologi digital yang masif sebagai tulang punggung pergerakan dan konektivitas manusia dan mesin. Era ini juga akan mendisrupsi berbagai aktivitas manusia.

“Dalam kaitan Industri 4.0, kami mencanangkan konsep Bumi 4.0, yakni sebuah konsep yang akan kita bangun sesuai dengan perkembangan era Revolusi Industri 4.0. Memahami konsep Revolusi Industri 4.0 sebagai suatu terminologi, kita bicara tentang penerapan teknologi informasi terkini, seperti big data, internet of things, cloud computing dan bahkan kecerdasan buatan (artificial intelligence) di bidang industri manufaktur. ” ujarnya.

NEOnet merupakan sarana teknologi informasi komputasi terintegrasi di bawah Kedeputian Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam (TPSA) BPP Teknologi yang memiliki fokus pada jaringan dan interoperabilitas data teknologi observasi kebumian dan sumberdaya alam. (red)

Darman Mappangara : Bancakan Industri Navigasi

0

Jakarta, Biskom – Banyak fakta menarik muncul di industri penerbangan nasional. Beberapa di antaranya menunjukkan data soal masifnya Indonesia dalam merespon perkembangan transportasi modern. Dilansir dari data Kementerian Perhubungan, Indonesia tercatat memiliki 277 rute penerbangan yang menghubungkan 116 kota, membentang dari Sabang hingga Merauke. Bahkan, Indonesia disebut memiliki 129 rute internasional yang menghubungkan 51 kota, tersebar di 27 negara.

Bukankah hal ini fakta menarik? Tak ada lagi gelar developing country yang bisa disematkan pada Indonesia jika data pertumbuhan industri penerbangan sebesar 15-16 persen per tahun tersaji dalam jurnal internasional. Apalagi, dalam lingkup global, Indonesia masuk ke dalam daftar delapan besar negara berpenumpang pesawat terbang terbanyak di dunia pada periode 2011-2015 dengan jumlah sebesar 94,5 juta orang, versi World Bank Data. Dan, angka tersebut kini diperkirakan melonjak hingga 140 juta orang pada akhir 2018, atau peningkatan 11 persen dari pencapaian 2017 sebesar 130 juta penumpang. Sekali lagi, bukankah ini menarik?

Pesatnya pertumbuhan penumpang transportasi udara di Indonesia ini tak lepas dari sejumlah faktor. Di antaranya, bisnis low cost carrier (LCC) yang diusung maskapai penerbangan murah. Geliat industri inipun diperkuat dengan makin kecilnya gap antara pendapatan masyarakat dengan harga tiket pesawat. Alhasil, everybody can fly.

Masifnya pergerakan transportasi udara inipun mendatangkan persoalan baru. Bagaimana caranya agar “everybody can fly” dengan sarana prasarana keselamatan yang mumpuni?
Berbagai institusi pun ikut berpikir untuk sumbang saran dan inovasi untuk sektor transportasi ini. Melihat peluang ini, PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero), atau biasa dikenal dengan nama INTI pun ikut urun rembug. Bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), INTI pun membidani lahirnya sebuah inovasi bernama Automatic Dependent Surveillance-Broadcast (ADS-B) INTI AGS-216.

Sebuah perangkat sistem yang didesain untuk menggantikan fungsi radar dalam pengelolaan ruang udara bagi transportasi sipil. Inovasi ini dibuat sebagai sebuah jawaban atas rekomendasi International Civil Aviation Organization (ICAO), sebuah organisasi penerbangan sipil internasional, yang menilai bahwa ADS-B ini berkemampuan deteksi lebih akurat dan konsisten dibanding sistem radar, yang tidak mampu mendeteksi pesawat yang terhalang awan.

Lalu, terjadilah serangkaian pengembangan perangkat sistem tersebut. Mulai dari pengembangan perangkat sistem ini secara bersama sejak 2008, penyempurnaan perangkat sistem, serta uji coba di berbagai lokasi, yaitu Semarang pada 2012 dan Bandung pada 2014. Beberapa periode kemudian, tepatnya pada 15 Maret 2017, ADS-B INTI AGS-216 meraih Sertifikat Tipe Peralatan Automatic Dependent Surveillance-Broadcast (ADS-B) dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, sebagai hasil rapat evaluasi persiapan sertifikasi yang digelar pada 3 Maret 2017.

Usaha pun tak berhenti ketika sertifikat sudah ada di tangan. Duet INTI dan BPPT ini lalu melakukan berbagai hal untuk menunjukkan tingkat kesiapan teknologi yang diusung. Sebut saja, pengurusan hak cipta software ADS-B Elang Flight Tracker, serta pendaftaran paten ADS-B Receiver dan trademark ADS-B INTI AGS-216.

Saking seriusnya, kedua institusi inipun terus berupaya meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri ADS-B INTI AGS-216 yang saat ini tercatat sebesar 40,63 persen, agar layak ditempatkan sebagai satu-satunya produk navigasi penerbangan karya anak bangsa, pertama di Indonesia.

Hal ini mungkin salah satu upaya INTI dan BPPT menjadi penggerak kemandirian industri navigasi di negeri sendiri.
Sebab, jika kita melihat kepada sejarah implementasi perangkat navigasi penerbangan di Indonesia, semua merupakan keterlibatan institusi asing.

Sejak diujicobakan pada 2006, melalui bantuan banyak pihak seperti perusahaan penyedia layanan navigasi penerbangan Airservices Australia, spesialis komunikasi transportasi udara Société Internationale de Telekomunikasi Aéronautiques (SITA), dan perusahaan sistem elektronik dunia Thales Group, navigasi penerbangan di Indonesia masih jadi bancakan perusahaan asing. Setidaknya, ada 31 Stasiun Darat ADS-B dengan komposisi 10 lokasi terintegrasi dengan Jakarta Air Traffic Service Center (JATSC) dan 21 lainnya terintegrasi dengan Makassar Air Traffic Service Center (MATSC). Namun, ADS-B yang terpasang tersebut merupakan produk impor.

Padahal, Indonesia memiliki 295 bandara yang tersebar di seluruh Indonesia meliputi 13 bandara di bawah pengelolaan PT Angkasa Pura I, 14 bandara di bawah PT Angkasa Pura II, dua bandara di bawah pengelolaan TNI, 239 bandara di bawah Unit Penyelenggara Bandar Udara, dan 27 bandara di bawah Unit Pelayanan Teknis (UPT) Daerah. Dari total 295 yang ada, sekitar 255 bandara non-radar di antaranya berpotensi membutuhkan perangkat ADS-B untuk Mini ATC dan Surface Movement Monitoring, serta penambahan Ground Station di lokasi lain.

Di sinilah, produk navigasi penerbangan buatan anak negeri seharusnya bisa unjuk gigi. Toh, dari serangkaian tahapan pengetesan di bandara, serta Laboratorium Navigasi BPPT dan stasiun darat di Menara Navigasi BPPT yang berlokasi di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong selama kurang lebih satu tahun telah membuktikan pemenuhan standar perangkat dan sistem dalam dunia navigasi penerbangan secara internasional. Artinya, ADS-B INTI AGS-216 ini layak tampil dan berkontribusi dalam bancakan navigasi penerbangan.

Semua pencapaian itu tak lepas dari perhatian pemerintah, dalam hal ini dijalankan melalui Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) yang mendukung penuh pengembangan perangkat sistem ADS-B INTI AGS-216 ini lewat pendanaan inovasi industri. Dan, pintu itu makin terbuka lebar, saat ADS-B INTI AGS-216 meraih kontrak Pengadaan dan Pemasangan ADS-B di Enam Lokasi di Papua serta Pengadaan dan Pemasangan ADS-B di Jayapura untuk menggarap navigasi penerbangan di bandara yang berada dalam wilayah pengelolaan Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia alias AirNav Indonesia, pada 09 Mei 2018.

Tak lama berselang, produk inovasi inipun meraih penghargaan prestise dalam Lomba Inovasi Produk Nasional dalam rangka Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas), tepat satu tahun delapan bulan setelah perolehan Sertifikat Tipe Peralatan dari regulator.

Kelak, kita tak hanya bicara soal keunggulan “barang luar”, tapi juga keberpihakan terhadap produk “made in Indonesia” yang memiliki kualitas sama dengan perangkat buatan luar negeri. Dan, kelak, kita juga bisa membayangkan betapa Indonesia bisa berjaya menjadi tuan rumah di negerinya sendiri serta khususnya misi INTI untuk menjadi penggerak utama bangkitnya industri dalam negeri . *** (red)

Making Indonesia 4.0 Conference, Menyiapkan Industri Indonesia di Era Industri 4.0

0

Jakarta, Biskom – Kementerian Perindustrian dan Asosiasi Cloud Computing Indonesia (ACCI) serta didukung oleh Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi (APTIKNAS)  mengadakan acara “Making Indonesia 4.0 Conference” yang diselenggarakan di Ruang Garuda Lantai 2, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. Jalan Gatot Subroto Kav 52 – 53, Kuningan Timur, Jakarta Selatan. Tema yang diangkat adalah “Menyiapkan Industri Indonesia di Era Industri 4.0” Acara dilaksanakan pada hari ini, Rabu tanggal 24 Oktober 2018.

Acara  diawali dengan pembukaan dan sambutan oleh Gati Wibawaningsih selaku Dirjen IKM Kementerian Perindustrian Republik Indonesia,  dalam sambutannya Gati mengemukakan, beberapa program telah digulirkan untuk mendorong IKM nasional melakukan transformasi digital menuju era revolusi industri 4.0. “Selain menggelar seminar ini, sebelumnya kami meluncurkan kompetisi Making Indonesia 4.0 Startup untuk menumbuhkan inovasi startup berbasis teknologi industri 4.0 dalam upaya mengatasi permasalahan dunia industri saat ini,” ucapnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto yang mengatakan  “Teknologi baru yang muncul bersamaan dengan datangnya era revolusi industri 4.0, salah satunya adalah cloud computing,” kata Menteri Perindustrian ketika membuka secara resmi seminar Making Indonesia 4.0 dengan tema “Menyiapkan Industri Indonesia di Era Industri 4.0” di Jakarta.

Menurut Menperin, revolusi industri 4.0 merupakan era terjadinya konektivitas secara nyata antara manusia, mesin, dan data. Bahkan, era ini telah mulai memasuki lini kehidupan masyarakat melalui teknologi-teknologi baru seperti komputasi awan yang sehari-hari telah digunakan oleh masyarakat.

“Penggunaan cloud computing dalam kehidupan sehari-hari seperti google drive, dropbox, dan office 365 akan perlahan menggantikan teknologi lama yang menyimpan dokumen pada hard drive,” tuturnya. Teknologi komputasi awan ini memungkinkan pengguna mengakses sumber daya komputasi dari mana saja, kapan saja dengan biaya yang terjangkau dan hanya membayar sesuai penggunaan.

“Teknologi cloud computing akan menyokong layanan lain seperti big data analysis, internet of things, artificial intelligence, machine learning, dan blockchain. Oleh karena itu, teknologi komputasi awan merupakan salah satu infrastruktur digital yang penting dalam mendukung implementasi industri 4.0.”

Airlangga meyakini, upaya mengadopsi teknologi digital memberikan peluang untuk merevitalisasi sektor manufaktur Indonesia dan menjadi salah satu cara mempercepat pencapaian visi Indonesia menjadi 10 ekonomi terbesar dunia pada tahun 2030 sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0.

“Jadi, kami ingin industri nasional termasuk IKM dapat mengenal teknologi komputasi awan ini dan mengambil manfaatnya untuk mendorong mereka melakukan transformasi digital,” ujarnya. Apalagi, sejumlah perusahaan rintisan (startup) di dalam negeri, yang menawarkan produk Internet as a Services (IaaS) seperti Gojek, Traveloka, dan Tokopedia telah menggunakan cloud computing guna meningkatkan efisiensi di bidang informasi teknologi.

Acara dilanjutkan dengan penandatanganan MoU antara ACCI dan  IPKIN (Ikatan Profesi Komputer dan Informatika Indonesia), kemudian dilanjutkan dengan pemaparan  oleh Prof. Dr. Eng Ilham Akbar Habibie yang membawakan materi tentang “Arah Indonesia 4.0 dari Wantiknas”.

Ketua Umum APTIKNAS Soegiharto Santoso alias Hoky  yang mempunyai jaringan 29 DPD APTIKNAS dari Aceh hingga Papua mengatakan, “Penyelenggaraan seminar ini sejalan dengan adanya transformasi digital menuju era revolusi industri 4.0 yang menjadi salah satu program di APTIKNAS untuk mendukung dunia usaha dan pemerintah, selain dari itu kegiatan ini juga bertujuan untuk turut mendukung kelancaran serta kesuksesan rencana diselenggarakannya kegiatan DIGITECH Indonesia pada tanggal 28 November 2018 di JCC nanti.” ungkapnya.

Sementara Ketua Umum ACCI Alex Budiyanto menyampaikan, melalui penyelenggaraan seminar ini, pihaknya ingin memberikan edukasi mengenai teknologi komputasi awan dan perannya sebagai infrastruktur digital yang utama di era industri 4.0. “Kami siap bersama pemerintah mendukung Making Indonesia 4.0 melalui penerapan teknologi cloud computing dan juga pengembangan sumber daya manusia untuk menguasai teknologi ini,” jelasnya.

Seminar sehari ini, diikuti lebih dari 300 perserta yang meliputi para pelaku industri baik skala kecil, menengah, dan besar, aparatur pemerintah, serta masyarakat umum. Adapun narasumber yang hadir, di antaranya dari Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Wantiknas), Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (APTIKNAS), serta anggota ACCI seperti Lintasarta, Datacomm, Microsoft Indonesia, Telkomtelstra, DesktopIP, Zettagrid, dan Trend Micro. (Red)

Berita Terkait:

APTIKNAS Mendukung Event APKASI Smart Regency Expo & Forum 2019 di Bali

APTIKNAS Mendukung Event APKASI Smart Regency Expo & Forum 2019 di Bali

BISKOM dan APTIKNAS Gelar ‘Indonesia Innovation Award 2019’

BISKOM dan APTIKNAS Gelar ‘Indonesia Innovation Award 2019’

Soegiharto Santoso (Hoky), APTIKNAS Dukung Percepatan Revolusi Industri 4.0

Soegiharto Santoso (Hoky), APTIKNAS Dukung Percepatan Revolusi Industri 4.0

Jakarta Fair Kemayoran dibuka oleh Anies Baswedan dan Darmin Nasution, APTIKNAS hadir kembali dalam Anjungan Pemprov DKI

Jakarta Fair Kemayoran dibuka oleh Anies Baswedan dan Darmin Nasution, APTIKNAS hadir kembali dalam Anjungan Pemprov DKI

APTIKNAS berkomitmen mendorong Kesetaraan Pemanfaatan Teknologi di seluruh Indonesia melalui kegiatan Roadshow INDUSTRI 4.0

APTIKNAS berkomitmen mendorong Kesetaraan Pemanfaatan Teknologi di seluruh Indonesia melalui kegiatan Roadshow INDUSTRI 4.0

APTIKNAS dukung Pameran GEM Indonesia di JIExpo Kemayoran, 4 – 6 April 2019.

APTIKNAS dukung Pameran GEM Indonesia di JIExpo Kemayoran, 4 – 6 April 2019.

Soroti Polemik Hi-Tech Mall Surabaya, APTIKNAS JATIM Siap Berkontribusi

Soroti Polemik Hi-Tech Mall Surabaya, APTIKNAS JATIM Siap Berkontribusi

APTIKNAS Dukung Event Public Safety Indonesia 2019

APTIKNAS Dukung Event Public Safety Indonesia 2019

Hadiri Pameran dan Konferensi Public Safety Indonesia 2019 di Assembly Hall JCC 27 Feb – 03 Mar 2019

Hadiri Pameran dan Konferensi Public Safety Indonesia 2019 di Assembly Hall JCC 27 Feb – 03 Mar 2019

Digitech 2018 : Jadikan Industri TI Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Digitech 2018 : Jadikan Industri TI Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Resmi Dibuka, Digitech Indonesia Sambut Revolusi Industri 4.0

Resmi Dibuka, Digitech Indonesia Sambut Revolusi Industri 4.0

Peranan Smart Home+City Indonesia wujudkan 100 Smart Cities Indonesia

Peranan Smart Home+City Indonesia wujudkan 100 Smart Cities Indonesia

APKOMINDO dan JERU serta CP PLUS dukung JSC untuk ciptakan Smart Citizen

APKOMINDO dan JERU serta CP PLUS dukung JSC untuk ciptakan Smart Citizen

APKOMINDO Hadir dan Dukung Jakarta Smart City di PRJ 2016

APKOMINDO Hadir dan Dukung Jakarta Smart City di PRJ 2016