Home Blog Page 793

Pemerintah Bangun Narasi Tunggal Hadapi Covid-19

0
Ilustrasi

Jakarta, BISKOM – Di tengah wabah virus corona, Pemerintah berharap penanganan pencegahan virus corona (Covid-19) harus dilakukan secara sungguh-sungguh bersama dengan masyarakat. “Karena apa? Hanya bisa sukses apabila rakyat mengambil perannya juga dengat tepat, yaitu menjaga dirinya, keluarganya, lingkungannya dari potensi persebarannya,” harap Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate.

Pemerintah sangat serius merespons penanganan dampak penyebaran Virus Corona.  Sesaat setelah informasi virus Corona masuk di Indonesia, Pemerintah mempertegas dan mempercepat perubahan protokol penanganan. “Kan sudah ada protokoler yang disampaikan oleh Kementerian Kesehatan, tapi itu dilakukan harapannya memang hanya untuk mengisolasi agar virus itu tidak tersebar, itulah yang dilakukan, dan ini dilakukan tidak atas respon sesaat, ini dilakukan dalam koordinasi internal pemerintahan, yang barangkali masyarakat lihat satu pernyataan yang direspon oleh yang lain, lalu memberi kesan seolah-olah tidak terkoordinasi,” ungkap Johnny.

Menkominfo menjelaskan, narasi tunggal menjadi salah satu upaya lain untuk mencegah semakin banyaknya penyebaran Covid-19 di Indonesia. Oleh karena itu, narasi tunggal secara hierarkis berada pada pemerintah pusat dan pemerintah daerah.  “Secara hierarki ke bawah pemerintah daerah provinsi, maupun kabupaten dan kota untuk mentransmisikan narasi yang sama,” imbuhnya.

Narasi tunggal di pemerintah pusat, dibagi menjadi dua yakni penanganan secara medis oleh Kementerian Kesehatan dan nonmedis yang terkonsentrasi di Kantor Staf Presiden melalui juru bicara Covid-19. Sedangkan narasi tunggal di pemerintah daerah dikoordinasikan lewat pemerintah provinsi, kota dan kabupaten. 

“Narasi tunggal ini harapannya untuk dilakukan segenap komponen bangsa, termasuk pemerintah daerah. Jangan membangun narasi baru yang mengakibatkan kebingungan, itulah harapan protokolnya,” papar Johnny.

Selain itu, Menkominfo juga merespons baik adanya kritik dan masukan dari masyarakat. Artinya, berbagai kritik dijadikan sebagai koreksi dengan satu tujuan yang sama, yakni mencegah penyebaran Covid-19 agar tidak banyak rakyat yang tertular.

“Itu tujuannya, karena konsen kita bukan cari siapa salah sekarang, kita temukan pun siapa salah kalau tidak bermanfaat pada pencegahan perluasan penyebarannya, tidak bermanfaat juga,” tukasnya. (red)

Pemerintah Siap Kembangkan Strategi AI Nasional

0
Kepala BPPT Hammam Riza saat menyampaikan paparan dalam Penyusunan Kebijakan Stranas Artificial Intelligent, Jakarta (Sumber: bppt.go.id)

Jakarta, BISKOM – Pemerintah sedang gencar untuk menerapkan Artificial Intelligence atau AI di sektor pemerintahan. Beberapa waktu yang lalu Presiden Jokowi sempat mewacanakan untuk menyederhanakan pejabat eselon di lingkungan kementerian dan lembaga kemudian menggantikan jabatan tersebut dengan kecerdasan buatan AI alias robot.

Saat ini pemerintah sedang mengembangkan strategi AI nasional karena implementasi dan penerapan AI di Indonesia masih terbatas dalam beberapa sektor terutama e-commerce, logistik serta perbankan dan finansial. Peraturan Presiden (Perpres) tentang strategi Indonesia dalam menguasai kecerdasan buatan pun direncanakan keluar pada Juli 2020 mendatang.

“Saat ini kita mendapat tugas yang sangat penting dalam menentukan strategi nasional AI untuk Indonesia, dengan mengidentifikasikan seluruh permasalahan strategis jangka pendek, menengah dan panjang,” jelas Kepala BPPT Hammam Riza di acara Penyusunan Kebijakan Stranas Artificial Intelligent, Jakarta (12/03).

Menurut Kepala BPPT, diperlukan sebuah pemikiran terkait dengan kerangka kerja agar dapat dijadikan bahan diskusi dan harus bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari tiga bulan yang nantinya akan diserahakan ke Menteri Riset dan Teknologi /Kepala BRIN kemudian dilanjutkan ke Sekretariat Negara guna pelaksanaan pembuatan Peraturan Presiden.

Hammam berharap, strategi nasional per bidang akan menyertakan roadmap untuk masing-msing area serta target-target yang perlu dicapai secara nasional guna mencapai implementasi AI diberbagai sektor.

“Strategi AI nasional harus memiliki kriteria sebagai berikut, pertama kajian dan analisis kondisi terkini perbidang dengan teknik SWOT atau TOWS analysis. Kemudian lingkup kondisi terkini yang bisa disoroti meliputi isu-isu strategis nasional dan internasional dan bisa merujuk kepada negara lain yang sudah memiliki strategi nasional AI,” ujar Hammam. (red)

Artikel Terkait:

Pejabat Eselon III-IV Akan Digantikan Artificial Intelligence, Pengamat: Harus Mengenal Contextual Intelligence

Penerapan AI Untuk Gantikan Eselon III-IV Masih Panjang

Diversifikasi Bisnis, Telkomsel Mulai Merambah Sektor IoT

0
GM Fleet Management Telkomsel, Arief Teguh Hermawan (Sumber: medcom.id)

Jakarta, BISKOM – Telkomsel sebagai salah satu operator seluler di Indonesia mulai melakukan diversifikasi dengan merambah sektor Internet of Things atau IoT. IoT adalah sebuah konsep dimana objek tertentu memiliki kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan wifi, jadi proses ini tidak memerlukan interaksi dari manusia ke manusia atau manusia ke komputer. Semua sudah dijalankan secara otomatis dengan program. Dan teknologi ini sudah berkembang pesat mulai dari teknologi nirkabel, micro electromechanical systems (MEMS) dan internet.

GM Fleet Management Telkomsel, Arief Teguh Hermawan mengatakan Telkomsel mulai mengembangkan bisnis IoT. Namun, Arief memaparkan sektor IoT masih perlu waktu, sehingga ia menyebutnya sebagai ‘long run business’.

Dirinya menuturkan saat ini sudah ada lebih dari satu juta perangkat IoT yang terkoneksi dengan Telkomsel. Menurut Arief, jumlah itu kemungkinan akan meningkat jika operator pelat merah itu berhasil menguasai infrastruktur pemerintah.

Arief mencontohkan segmen infrastruktur pemerintah yang bisa menggunakan IoT adalah listrik dan PDAM. Dia berkata ke depan pengukuran penggunaan listrik hinggga PDAM menggunakan sensor smart meter yang merupakan bagian dari IoT.

“Kalau government (pemerintah) sudah merunut bahwa, SMART meter PLN, smart meter PDAM, sudah harus pakai smart meter dan bagian dari IoT itu sendiri buat Telkomsel bisa sudah puluhan juta dalam 1 atau 2 tahun. Which is buat kami memang itulah route map (peta jalan) kami,” terang Arief.

Lebih lanjut, diversifikasi bisnis Telkomsel ini terjadi akibat menurunnya pendapatan dari segi sms dan voice. Arief menjelaskan penurunan cukup drastis jika dibandingkan 3-4 tahun lalu, yakni sekitar 70% didapat dari voice dan sms.

Meski tergolong baru, Arief mengungkap sektor IoT yang dimiliki Telkomsel mulai membuahkan hasil. Sayangnya, persentasenya masih kecil dibanding layanan retailnya. Namun, pihaknya sangat yakin dengan pertumbuhan bisnis IoT ke depannya.

“Telkomsel yakin IoT jadi salah satu penggawa diversifikasi. Revenue Telkomsel masih 30 juta USD, masih kecil dari revenue lini bisnis lainnya. Tapi, huge population is potential business it self,” kata Arief.

Sementara itu, Kasubdit Standarisasi Teknologi Informasi Kominfo Andi Faisa Achmad mengaku IoT memiliki potensi yang sangat besar bagi pasar. Berdasarkan data, IoT diprediksi akan memberikan dampak terhadap produktivitas sebesar US$121,4 miliar pada tahun 2025.

Lima perusahaan yang paling mendapat keuntungan pertama dari IoT adalah manufaktur dengan US$34,4 miliar; retail US$24,5 miliar; transportasi US$15,5 miliar; mining US$14,8 miliar; dan pertanian US$11 miliar.

“Jadi bisa dilihat sendiri bahwa pasti jutaan bahkan ratusan juta, untuk Indonesia itu perangkat yang akan terhubung dengan IoT. Jadi potensi pasarnya sangat banyak,” pungkas Andi. (red)

Redam Dampak Virus Corona, Pemerintah Siapkan Stimulus Fiskal

0
Menteri Keuangan Sri Mulyani (Sumber: ajaib.co.id)

Jakarta, BISKOM – Virus Corona yang makin meluas tidak hanya perlu diwaspadai dari segi kesehatan, namun juga dari segi ekonomi. Salah satunya yang akan dilakukan oleh Pemerintah dengan menyiapkan stimulus fiskal jilid kedua dengan fokus pada industri manufaktur dan kemudahan ekspor-impor. Stimulus fiskal jilid kedua ini diluncurkan untuk mengatasi dampak negatif wabah Virus Corona yang menyebar di Indonesia yang juga akan berpengaruh terhadap kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia, kinerja ekspor Indonesia, current account deficit (CAD), kinerja fiskal, dan aliran modal untuk meredam dampak virus corona.

Ada empat alternatif kebijakan dan rekomendasi untuk mengatasi dampak virus corona yakni Relaksasi restitusi PPN dipercepat selama 3 bulan, Relaksasi PPh pasal 22 Impor selama 3 bulan, Pengurangan PPh pasal 25 sebesar 25%-50%, dan Relaksasi PPh pasal 21.

“Stimulus dalam wujud memberikan pajak ditanggung pemerintah, PPh pasal 21, sehingga pekerja itu akan mendapatkan bagian secara penuh,” terang Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Saat ini pembahasan terkait insentif di tataran Kementerian Keuangan sudah mencapai 95 persen. Hingga saat ini, dirinya masih menunggu persetujuan Presiden Joko Widodo untuk merealisasikan insentif tersebut. “Jadi dari sisi pembahasan teknis di Kemenkeu, sudah katakan 95 persen sudah selesai. Ini adalah secara etika policy, kami koordinasi dengan Menko dan kabinet. Kemudian 5 persen sisanya keputusan timing dan harus dipresentasikan dulu dengan Bapak Presiden,” kata Sri Mulyani.

Sementara itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan kebijakan stimulus tersebut berlaku segera setelah payung hukum terbit. “Payung hukum sedang disiapkan, berupa Peraturan Menteri Keuangan (PMK), Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag), Peraturan Menteri Pertanian (Permentan), harus disesuaikan,” ujar Airlangga.

Sebelumnya pada Selasa, 25 Februari 2020 lalu, pemerintah telah menerbitkan paket stimulus jiid I, berupa kucuran dana Rp 10 triliun. Dana ini disalurkan lewat sejumlah kebijakan seperti segera meluncurkan kartu prakerja, meningkatkan dana PKH, insentif perumahan dan pariwisata, hingga menggunakan jasa pemengaruh (influencer).

Adapun stimulus kedua adalah pengurangan lartas (larangan dan pembatasan) agar impor bahan baku menjadi lebih mudah. Nantinya, akan ada beberapa peraturan yang disederhanakan seperti peraturan di Kementerian Perdagangan, hingga Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Nantinya, lartas pada lebih dari 749 HS CODE akan dihilangkan. (red)

Folding E-Bike, Kekuatan Industri Sepeda Taiwan

0

Jakarta, BISKOM – Portabilitas sepeda lipat membuat nyaman dan saling melengkapi untuk bergerak di sekitar kota dan menghubungkan kesenjangan dalam sistem transportasi umum. Hasilnya, sepeda lipat menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat di industri sepeda. Saat ini, satu dari setiap 10 sepeda yang diproduksi di seluruh dunia setiap tahun adalah sepeda lipat.

Pabrikan sepeda lipat juga cepat mengikuti tren terbaru tentang e-bike. Menurut Administrasi Pabean Kementerian Keuangan, ekspor e-bike Taiwan di tahun 2019 mencapai rekor tertinggi 647.860 unit dan mencatatkan pertumbuhan 126,21% dibandingkan dengan 2018. Total jumlah ekspor mencapai US $ 863 juta sementara harga rata-rata unit ekspor naik hingga US $ 1.333. Dalam hal pasar ekspor, Amerika Utara dan Eropa menyumbang lebih dari 90% volume ekspor e-bike Taiwan.

E-bike lipat memiliki dua keunggulan utama yakni bisa beralih ke mode sepeda ketika Anda ingin berolahraga, dan mampu beralih ke mode listrik ketika Anda ingin mengayuh santai. Ini semakin membuka jalan menuju elektrifikasi untuk merek sepeda lipat lainnya.

Pacific Cycles, perusahaan yang dianugerahi Penghargaan Taiwan Excellence, adalah produsen e-bike terkemuka. Merek ini terus mengembangkan sepeda lipat dan velos mini berkinerja tinggi yang memprioritaskan permintaan konsumen. Selama 40 tahun terakhir, Pacific Cycles telah berfokus pada perancangan dan pembuatan produk khusus, dan mereka mulai memasuki sektor e-bike dalam beberapa tahun terakhir.

Produk terbaru mereka antara lain HANDY trike-hand propelled yang dirancang khusus untuk penyandang cacat; sepeda jalan lipat REACH yang cocok untuk perjalanan jarak jauh dan dapat dimuat ke dalam koper 29 inci; dan sepeda lipat IF MOVE untuk perjalanan kota, yang terlipat dalam 2 detik. Cobalah datang ke Museum Siklus Pasifik di Taoyuan untuk mengetahui visi dan misi merek ini.

Kemudian ada Darfon Innovation yang mendirikan BESV, merek smart e-bike terkemuka yang menonjol di antara rekannya sebagai pemenang kebanggaan lainnya dari Taiwan Excellence Silver Award ke-28 dengan PSF1 Folding e-Bike tahun ini. Sebagian besar sepeda lipat di pasaran dirancang dengan baterai eksternal dan motor yang melekat pada struktur sepeda lipat biasa. Namun, produk pemenang penghargaan ini dirancang dari bawah ke atas sebagai e-Bike, yang meningkatkan ketegasan produk, unit kontrol elektronik, dan kinerja keseluruhan.

Pasar sepeda lipat global berjumlah US $ 514,5 juta pada 2018; tingkat pertumbuhan diharapkan untuk mendaftarkan CAGR sebesar 8,8% selama periode perkiraan. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, dan Inggris akan memainkan peran pasar yang penting dalam industri sepeda lipat di tahun-tahun mendatang. Pada saat yang sama, kebangkitan kesadaran lingkungan global juga tercermin dalam pertumbuhan pasar e-bike. Karena itu, elektrifikasi sepeda lipat akan menjadi tren di masa depan.

Untuk memperkenalkan lebih banyak produk yang diberikan Taiwan Excellence dan memamerkan kekuatan industri sepeda Taiwan, Taiwan Excellence akan berpartisipasi dalam pameran Taipei Cycle + yang akan diadakan di Pusat Pameran Taipei Nangang, Hall 2 mulai tanggal 14 hingga 16 Mei 2020. Untuk informasi lebih lanjut tentang Taiwan Excellence, silakan kunjungi situs web resmi (www.taiwanexcellence.org). Anda juga dipersilakan untuk bergabung dengan halaman penggemar Facebook Taiwan Excellence (www.facebook.com/TaiwanExcellence.en). (red)

Pelayanan Publik yang Manfaatkan Teknologi Belum Optimal, Ombudsman Jakarta Raya Luncurkan Nomor Whatsapp Center

0
Kepala Perwakilan Ombudsman RI Jakarta Raya, Teguh P. Nugroho (tengah) saat menyampaikan Laporan Tahunan 2019

Jakarta, BISKOM – Ombudsman RI Perwakilan Jakarta Raya menyampaikan Laporan Tahunan 2019 kepada masyarakat dan awak media pada Rabu (11/3/2020) di Gedung Ombudsman RI, Jakarta. Laporan Tahunan ini disampaikan langsung oleh Kepala Perwakilan Ombudsman RI Jakarta Raya, Teguh P. Nugroho.

Ombudsman sebagai lembaga yang memiliki fungsi mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik yang diselenggarakan oleh Penyelenggara Negara dan pemerintahan baik di pusat maupun di daerah termasuk yang diselenggarakan oleh Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, dan Badan Hukum Milik Negara serta badan swasta atau perseorangan yang diberi tugas menyelenggarakan pelayanan publik tertentu, pada tahun 2019 menerima 635 Laporan Masyarakat (LM). 94 LM selesai pada tahap Penerimaan dan Verifikasi Laporan (PVL) dan 541 LM masuk pada tahap pemeriksaan, serta ditambah 9 Laporan Inisiatif (LI). Hasil pemeriksaan 73 % dinyatakan selesai dan 27 % masih dalam proses.

Teguh mengatakan revolusi industri 4.0 yang mengintegrasikan antara teknologi cyber dan teknologi otomatisasi menjadi sesuatu yang seksi sebagai jargon baru dalam pelayanan publik. Hal yang baik tentunya, ketika pelayanan publik berkesesuaian dengan kebutuhan zaman. Selaras dan seiring dengan tuntutan kebutuhan para penggunanya. Namun masih ada kendala yang dihadapi.

“Sayangnya, hal ini yang kemudian masih menjadi kendala dalam pemberian pelayanan publik di Indonesia. Maladministrasi berulang terus terjadi walaupun sistem informasi di instansi pelayanan publik telah memiliki kemampuan untuk melakukan analisis data dan melakukan prediksi terhadap potensi maladministrasi berulang. Pun, kapasitas untuk terinterkoneksi antar instansi pelayanan publik sekaligus transfer data dalam waktu yang teramat singkat,” ujar Teguh.

Lebih lanjut Teguh menjelaskan, meningkatnya jumlah laporan yang masuk ke Ombudsman RI Perwakilan Jakarta Raya terkait maladministrasi berulang menunjukan masih lemahnya fungsi Complaint Handling System di instansi pelayanan publik atas penyelesaian keluhan publik terhadap layanan mereka walaupun penggunaan teknologi terbarukan telah diadopsi oleh instansi tersebut.

“Hal lain dari fenomena tersebut adalah, lemahnya inovasi perbaikan pelayanan publik walaupun data yang dimiliki para instansi pelayanan publik tersebut telah memandu mereka terkait maladministrasi berulang dan sepatutnya inovasi layanan sebagai bagian dari upaya pencegahan maladministrasi berulang bisa segera diterapkan,” kata Teguh.

Pada tahun 2019, laporan terkait Agraria/Pertanahan menempati jumlah laporan masyarakat terbanyak, urutan kedua laporan kepolisian dan urutan ketiga laporan Layanan Pemasyarakatan (Lapas). “Lebih dari setengah (56,01%) Laporan Masyarakat berada di Provinsi DKI Jakarta. Presentase menurun (69,3 % di Tahun 2018) tetapi jumlah naik sebanyak 76 laporan,” papar Kepala Perwakilan Ombudsman RI Jakarta Raya.

Teguh juga menyampaikan bahwa kini Ombudsman RI Perwakilan Jakarta Raya hadir untuk melayani konsultasi dan pengaduan dugaan maladministrasi dalam penyelenggaraan publik via whatsapp. “Silakan bagi masyarakat untuk memanfaatkan layanan ini dengan kontak ke nomor 08119853737,” pungkas Teguh. (red)

Lagi, Terdakwa Penghina Ketua Apkomindo Diadili

0

Yogyakarta, BISKOM – Terdakwa Ir MSS warga Bogor Jawa Barat yang ikut menghina dan melakukan pencemaran nama baik terhadap Ketua Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo), Ir Soegiharto Santoso alias Hoky kembali diadili di Pengadilan Negeri (PN) Yogya, Selasa (10/3). 

Dalam perkara ini, awalnya terdakwa pada 24 Maret 2017 di rumahnya Jalan Pajajaran Bogor Jawa Barat telah ikut menghina Hoky di akun facebook grup Apkomindo. Namun perbuatan terdakwa baru diketahui saksi korban pada Jumat 24 Maret 2017 pukul 12.31 ketika sedang berada di  Hotel Prawirotaman Yogyakarta.

Perbuatan terdakwa dilakukan dengan mengomentari postingan Ir Faaz Ismail (terdakwa dalam perkara terpisah) yang isinya membicarakan atau mencemarkan nama baik saksi korban di dalam facebook grup Apkomindo yang mengatai dengan sebutan kutu kupret. 

Selama ini, maksud terdakwa memposting  atau berkomentar  di dinding facebook group Apkomindo tersebut untuk menambahkan  postingan Faaz Ismail  atas kelakuan saksi korban terhadap Apkomindo dari tahun  2000, serta Apkomindo  DKI Jakarta yang dinilai cenderung  menghalangi kegiatan yang dilakukan.

Selama ini terdakwa dalam mendistribusikan atau mentransmisikan dan membuat dapat  diaksesnya informasi elektronik atau dokumen elektronik yang memiliki muatan  penghinaan tidak pernah meminta izin. Sehingga saksi korban merasa  dipermalukan dan dilecehkan  nama baiknya oleh terdakwa. Untuk itu pada  20 Juli 2017 saksi korban mengadukan kejadian itu kepada Polda DIY. Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana dalam pasal  45 ayat (3) jo pasal 27 ayat (3) UU RI  No 19 Tahun 2016 tentang  Perubahan atas UU 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronika. (Redaksi)

Sumber: Koran MERAPI, tanggal 11 Maret 2020, pada halaman 5.

AAJI: Total Pendapatan Industri Asuransi Tumbuh Sebesar 18,7%

0
Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon bersama para pengurus AAJI saat Konferensi Pers di Rumah AAJI, Jakarta Pusat, Rabu (11/3/2020).

Jakarta, BISKOM – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melangsungkan konferensi pers kinerja industri asuransi jiwa bertempat di Rumah AAJI, Jakarta Pusat pada Rabu (11/03/2020). Sebagaimana diketahui bahwa AAJI adalah sebuah wadah dan penampungan serta penyalur aspirasi Perusahaan Asuransi Jiwa dan Reasuransi di Indonesia. Sejak didirikan pada tahun 2002, saat ini AAJI beranggotakan 60 perusahaan asuransi jiwa di Indonesia serta 5 perusahaan reasuransi.

AAJI memiliki visi untuk menyatukan arah dan tujuan usaha asuransi jiwa dalam rangka pemberian perlindungan kepada masyarakat khususnya pemegang polis tertanggung, yang merupakan perwujudan peran serta Industri Asuransi Jiwa dalam usaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam konferensi pers ini, AAJI memaparkan kinerja industri asuransi jiwa pada tahun 2019 yang mencatat Pertumbuhan Pendapatan (Income) industri asuransi jiwa meningkat sebesar 18,7% atau dari Rp 204,89 triliun di 2018 menjadi Rp 243,20 triliun di tahun 2019 dengan data dihimpun AAJI dari 59 perusahaan anggota dari total 60 perusahaan.

Menurut Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon, pihaknya mencatat kenaikan positif tahun 2019 dibandingkan dengan kuartal yang sama pada tahun sebelumnya, yang menggambarkan industri asuransi jiwa sebagai industri yang kokoh dengan komitmen tinggi.

“Total Pendapatan (Income) industri asuransi jiwa mencatat pertumbuhan sebesar 18,7%. Sedangkan total pendapatan premi mencatat kenaikan 5,8%. Hasil investasi di tahun 2019 menunjukkan perbaikan yang sangat signifikan yakni sebesar 336,8%. Lalu, klaim reasuransi mengalami peningkatan sebesar 28,3%. Total Pembayaran Klaim dan Manfaat industri asuransi jiwa juga mengalami peningkatan sebesar 16,0%. Kemudian, jumlah agen yang berlisensi meningkat sebesar 9,2% di tahun 2019 sebagai komitmen industri untuk terus meningkatkan kapasitas sumber daya dalam industri asuransi,” papar Budi.

Sejalan dengan komitmen industri asuransi jiwa dalam memberikan pelayanan terbaik kepada nasabah dalam membayar klaim, nilai tunai penyerahan polis dan anuitas serta manfaat lainnya dengan cepat dan akurat, AAJI mengedepankan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik dengan selalu mendorong semua anggota untuk senantiasa patuh dalam membayar klaim dan manfaat sesuai polis.

“Pada di tahun 2019, industri asuransi jiwa mencatat kenaikan klaim dan manfaat yang dibayarkan sebesar 16,0% dibandingkan kuartal yang sama pada tahun sebelumnya. Pada tahun 2019 tercatat Rp 140,28 triliun sedangkan pada tahun 2018 berjumlah Rp 120,93 triliun,” ungkap Budi.

Selain memaparkan pertumbuhan, AAJI juga menyatakan sikapnya dalam mendukung Reformasi Industri Keuangan Non Bank (IKNB), agar industri asuransi selalu dapat bertumbuh serta memberi manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat dengan berpegang pada prinsip tata kelola.

“AAJI berharap bahwa reformasi tersebut akan turut memberikan dukungan terhadap pertumbuhan industri asuransi jiwa yang bisa segera dilakukan dalam bentuk antara lain: percepatan pembentukan Lembaga Penjamin Pemegang Polis (LPPP) Asuransi; Secara konsisten memberi kesempatan industri asuransi untuk tetap bertumbuh, dengan tidak membatasi produk yang ditawarkan di kanal distribusi bancassurance; insentif bagi industri asuransi berupa pemberian keringanan pajak bagi nasabah pemegang polis asuransi; dan reformasi sektor jasa keuangan secara menyeluruh, tidak hanya di IKNB tetapi juga di sektor keuangan lainnya (banking dan pasar modal),” pungkas Budi.

Konferensi pers ini dihadiri pula oleh Ketua Bidang Aktuaria dan Manajemen Risiko AAJI Fauzi Arfan; Ketua Bidang Kerjasama dan Internasional AAJI Elin Waty; Ketua Bidang R&D, Pelaporan, dan IT AAJI Edy Tuhirman; dan Kepala Departemen Komunikasi AAJI Nini Sumohandoyo serta awak media. (red)

Gedung BJ Habibie, Simbol Lompatan Teknologi

0

Jakarta, BISKOM – Menteri Riset Teknologi / Kepala BRIN, Bambang P.S. Brodjonegoro, didampingi Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza, meresmikan penamaan Gedung  I dan II BPPT, menjadi Gedung Soedjono Djoened Poesponegoro untuk Gedung I, dan Gedung B.J. Habibie, untuk Gedung II.

Penamaan gedung baru, dituturkan Kepala BPPT, Hammam Riza, merupakan penghargaan bagi para tokoh bangsa, yang memiliki jasa besar dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi di tanah air.

“Soedjono adalah Menteri Riset Pertama di Indonesia, dan BJ Habibie, adalah Bapak Teknologi Bangsa yang juga Presiden Ketiga RI. Habibie juga lah yang menjadi pendiri BPPT. Keduanya  merupakan tokoh teknologi Indonesia yang memiliki dedikasi tinggi dalam pengkajian dan penerapan Iptek, untuk kemajuan bangsa Indonesia pada eranya masing-masing,” ungkap Hammam Riza di Kantor BPPT, Jakarta, Senin (09/3).

Prof. Dr. Soedjono Djoened Poesponegoro menjabat sebagai menteri riset sejak tahun 1962 sampai tahun 1966, di bawah Kabinet Kerja III, Kerja IV, dan Dwikora I. Adapun pada saat itu, Menristek bernama Menteri Urusan Research Nasional, yang berada dibawah Menteri Koodinator Kompartemen Pembangunan.

Dikatakan Kepala BPPT, Soedjono merupakan tokoh ilmuwan Indonesia terkemuka serta pionir dalam pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia baik di bidang kedokteran serta beberapa cabang ilmu pengetahuan lainnya.

Sementara Prof. B.J. Habibie adalah sosok yang mengabdi selama 20 tahun sejak 26 Maret 1973 hingga 16 Maret 1998, sebagai Menteri Negara Riset, dan Teknologi, merangkap jabatan sebagai Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).  Habibie pun kemudian diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia ketiga, setelah sebelumnya menjadi Wakil Presiden Kabinet Pembangunan VII.

Lebih lanjut dikatakan Kepala BPPT, bahwa pihaknya juga memberi nama Auditorium BPPT sebagai Auditorium Soemitro Djojohadikoesoemo.

Soemitro kata Hammam adalah Menteri Negara Riset RI, pada Kabinet Pembangunan II,  28 Maret 1973 sampai 28 Maret 1978. Kiprah Soemitro sebagai Menristek di era awal masa pembangunan Indonesia pun sangat besar, karena Soemitro merupakan sosok pendorong awal mula tumbuhkembangnya pengusaha lokal di Indonesia ini.

Simbol Lompatan Teknologi

Lebih rinci dalam urusan penggantian nama Gedung dan Auditorium BPPT itupun, Hammam menyatakan hal tersebut merupakan simbol dari lompatan teknologi, yang memiliki tujuan penting untuk mewujudkan cita Indonesia Maju.

Penamaan ketiga tokoh tersebut imbuhnya, juga merupakan penghormatan atas kiprah mereka di bidang Iptek dalam pembangunan nasional, yang dirintis oleh ketiga tokoh bangsa tersebut.

“Kami di BPPT berharap, dengan penamaan gedung BPPT dengan nama tokoh bangsa itu, dapat menjadi tonggak, dan penyemangat pembangunan yang tengah dilakukan pemerintah Indonesia saat ini,” ujarnya.

Hammam lalu menegaskan bahwa Soedjono, Habibie, dan Soemitro, memiliki konsep besar dalam menapaki pembangunan nasional bangsa ini. Soemitro urainya, dikenal dengan ide besarnya dalam membangun institusi riset di Indonesia secara Solid, kemudian BJ Habibie dikenal dengan keberhasilannya melakukan pengkajian dan penerapan teknologi untuk membangun sumberdaya manusia, hingga membangun pesawat terbang secara Smart, kemudian Pak Soemitro kita tahu bahwa ide dan gagasannya dapat membawa pembangunan ekonomi dengan Speed yang cepat di awal-awal era pembangunan nasional kala itu.

Konsep besar pembangunan dari ketiga tokoh bangsa itu menurut Hammam masih relevan hingga kini. Hammam pun mengaku bahwa sejak dirinya diamanatkan menjadi Kepala BPPT pada awal 2019 lalu, Tagline BPPT Solid, Smart, Speed terus digaungkannya untuk menjadi budaya kerja di seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) BPPT.

Budaya kerja tersebut dikatakan Hammam  ditujukan agar peran BPPT dalam melahirkan inovasi dan teknologi yang tepat guna dalam pembangunan, semakin banyak jumlahnya. Produk inovasi teknologi BPPT itupun sambun Hammam, pemanfaatannya ditujukan untuk pemangku kepentingan strategis sebagai solusi permasalahan nasional, untuk industri nasional agar daya saingnya terus meningkat, serta untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia, sesuai Visi Indonesia yang maju, mandiri, adil dan makmur.

“Kami ingin peran dan kontribusi BPPT dalam era pembangunan di Kabinet Pak Jokowi ini juga semakin meningkat. Seperti Drone Kombatan atau PUNA MALE Elang Hitam untuk kedaulatan bangsa, kemudian  pembangunan pabrik garam terintegrasi, untuk subtitusi impor, inovasi bahan bakar nabati B-50 untuk kemandirian BBM dan daya saing industry nasional, serta inovasi lain di bidang pangan dan kesehatan seperti pangan pencegah stunting untuk kesejahteraan rakyat Indonesia, hingga melakukan audit teknologi untuk kenyamanan dan keamanan LRT Jabodetabek. Semua hal itu, kami tujukan untuk bukti nyata bahwa BPPT siap mendorong cita Indonesia yang maju, mandiri, adil dan makmur,” pungkas Hammam.

Tantangan Penerapan Inovasi

Senada dengan Hammam,  Menteri Riset Teknologi/Kepala BRIN Bambang PS Brojonegoro, mengatakan bahwa dirinya sepakat dengan penamaan Gedung dan Auditorium dari tiga tokoh tersebut.

Dikatakan Menristek, ketiganya punya latar belakang yang berbeda yakni adalah dokter, engineering dan ekonom. 

“Ini menunjukan bahwa aspek riset teknologi dan inovasi di Indonesia memang membutuhkan pendekatan lintas bidang,” terangnya.

Jika kita lihat sekarang dari kuantitasnya memang dibidang kesehatan dan farmasi luar biasa banyaknya. Kemudian pertanian dan engineering, tentunya menghadapi tantangan kedepan kita harus bisa memanfaatkan advance teknologi di engineering, IT guna mendukung kesehatan, pangan dan lain sebagainya. 

“Jadi untuk BPPT sudah saatnya meninggalkan individualisme, artinya harus ada kerjasama. Contohnya untuk pengembangan smart farming, yang mana ahli agriculture menunjukan apa yang dibutuhkan, sementara ahli IT menerjemahkan kebutuhan tersebut dengan penerapan IT dan AI misalnya,” papar Menristek. 

Lebih lanjut Menristek juga menegaskan bahwa saat ini, kita semua dihadapkan dengan berbagai tantangan maupun permasalahan yang luar biasa, di berbagai aspek kehidupan. 

Salah satunya, bagaimana teknologi bisa memecahkan masalah kesehatan. Karena itu agar BPPT, Eijkman dan LIPI, dapat bekerja bersama guna mencari solusi cepat dan harus ada quick win dari ketiga lembaga tersebut.

“Harus ada upaya dan kerjasama, dan BPPT harus terlibat. BPPT yang punya spesialisasi bidang kesehatan untuk ikut berpartisipasi. Saya berharap pemberian nama Gedung ini akan membuat kita semua menjadi semakin produktif dalam melakukan kegiatan riset litbangjirap, sehingga bisa menghasilkan invensi dan inovasi yang mendukung dan menjawab kebutuhan masyarakat dan bangsa. Itulah esensi inovasi di Indonesia,” lugas Menristek. (red)

Heru Sutadi : Implementasi 5G Tergantung Ekosistem

0

Jakarta, BISKOM – Berkembangnya teknologi 5G sebagai bagian dari evolusi teknologi seluler telah diadopsi di banyak negara. Berdasrkan laporan GSA (Global Supplier Association), hingga akhir Februari 2020, tercatat 63 operator di 35 negara telah mengkomersialkan 5G.

Bila dihitung secara keseluruhan operator telekomunikasi, termasuk yang sudah berinvestasi dengan melakukan uji coba dan sedang melakukan pembangunan, maka secara total sudah ada 359 operator yang berhasrat untuk memanfaatkan teknologi baru disebut dapat memberikan kecepatan akses yang lebih cepat dengan latency (delay) yang lebih rendah.

Di Indonesia, ada beberapa operator telah pula melakukan serangkaian uji coba pemanfaatan teknologi 5G. Namun untuk adopsi dan implementasi teknologi, ada beberapa hal yang harus didiskusikan secara bersama dengan semua stakeholders (pemangku kepentingan) di sektor telekomunikasi.

Karena itu, Indonesia ICT Institute bersama seluruh pemangku kepentingan menggelar “Indonesia 5G Ecosystems Forum 2020” di Jakarta, (10/3). Heru Sutadi (Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute) sebagai penggagas forum, diskusi bersama dengan seluruh kepentingan ini penting mengingat adopsi dan implementasi 5G tidak bisa berjalan sendiri dan masing-masing.

“Dalam adopsi teknologi, ada tiga hal utama yang perlu dikedepankan, yaitu bisnis, teknis dan aturan. Lewat forum ini semua hal tersebut coba didiskusikan. Tujuannya, sebelum adopsi dilakukan dan 5G diimplementasi, kita siap. Kesiapan di sini terutama adalah terbangunnya ekosistem,” kata Heru.

Sedangkan Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Ismail mengatakan implementasi jaringan 5G berbeda ketika evolusi berjalan dr 2G ke 3G ke 4G.

“5G agak lompat karena tdk melulu satu hal karena yang sebelumnya fokusnya itu adalah user experience atau speed dari internet. User mendapatkan yang istimewa ketika pindah interaksi di 5G,” ujarnya.

Salah satu elemen penting dalam adopsi 5G adalah alokasi spektrum frekuensi. Direktur National ICT Strategi dan Marketing Huawei Mohamad Rosidi, memaparkan potensi spektrum yang dapat digunakan untuk 5G, dari benchmark yang didapatkan dari seluruh dunia. Dalam kesempatan itu, Rosidi menyampaikan bahwa adopsi 5G di banyak negara kian cepat dibanding adopsi teknologi seluler sebelumnya.

“Percepatan dapat dilakukan jika ekosistem mendukung. Semua pihak harus bahu-membahu untuk bersama membangun ekosistem 5G agar manfaat 5G untuk pembangunan dan peningkatan sumber daya manusia juga makin nyata,” katanya.

Sementara itu, Wakil Walikota Tegal Muhamad Jumadi menyambut baik upaya membangun ekosistem 5G. Dan pihaknya di daerah siap membantu. ”Kami memiliki kepentingan bagaimana teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan kota cerdas.

Kota Tegal saat ini sedang giat membangun dan memberikan layanan pada masyarakat dengan teknologi terkini. Semoga dengan nantinya akan hadir 5G, yang juga didukung teknologi lainnya, Kota Tegal sebagai “The Real Smart City” dapat terwujud,” yakinnya.

Dalam kesempatan tersebut, terbentuk pula ID5G Community yang akan bersama-sama mengkoordinasikan terwujudkan ekosistem 5G sebelum 5G diadopsi dan akan mengawal pemanfaatan 5G untuk peningkatan kecepatan internet di Indonesia, kemajuan ekonomi, pendidikan dan kesejahteraan rakyat. Wira Satyawirawan didapuk sebagai Ketua Umum, dan Heru Sutadi sebagai Pembina.

Acara “Indonesia 5G Ecosystem Forum” dihadiri pula oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia sebagai regulator di sektor telekomunikasi, Badan Aksesbilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) yang telah menyelesaikan pembangunan Palapa Ring, asosiasi operator telekomunikasi, asosiasi IoT dan juga akademisi. (red)