Home Blog Page 941

Menkominfo Setujui Merger XL dan Axis

0

MERGER antara dua operator selular yakni PT XL Axiata dengan PT. Axis Telekom Indonesia sedang ramai diperbincangkan. Pada  November lalu, Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Tifatul Sembiring, akhirnya memberikan persetujuan terhadap permohonan merger – akuisisi yang dilakukan oleh XL dengan Axis. Persetujuan tersebut tertuang dalam surat Menteri Kominfo No. 1147/M.KOMINFO/UM.01.01/11/2013 tertanggal 28 November 2013 yang juga ditembuskan kepada Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Tifatul beralasan, Axis hampir gulung tikar. Apabila hal tersebut terjadi, maka negara akan merugi sebanyak Rp. 1 triliun. Dengan adanya merger, diharapkan XL bisa menanggung Biaya Hak Penggunaan (BHP) Axis yang tertunggak.

“Sudah jarang pelanggan yang menggunakan Axis. Ini tidak bagus. Jangankan di Indonesia, di dunia internasional bisnis operator seluler juga sedang down. Ada yang hidup dan ada yang mati,” ujar Tifatul di Jakarta (11/12).

Keputusan Menkominfo ini diambil sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kementerian Kominfo bisa memastikan bahwa proses merger antara XL dengan Axis akan sangat menguntungkan negara, baik dari aspek peningkatan perolehan penerimaan negara bukan pajak (PNBP), BHP spektrum frekuensi radio secara maksimal, dan juga dari aspek pemanfaatan Spektrum Frekuensi Radio dari kemungkinan kondisi yang idle.

Yang terpenting, bukan hanya negara yang diuntungkan dari merger tersebut, para konsumen juga akan mendapatkan imbas positif nya, karena konsumen dari Axis nantinya juga akan mendapatkan pelayanan di XL Center, dan mendapatkan jangkauan layanan yang lebih luas hingga ke sebagian Sumatera dan Surabaya dengan bantuan jaringan dari XL.

Ia juga menambahkan tidak khawatir bila harus dipanggil untuk menjelaskan alasan keputusannya di Gedung DPR karena langkahnya sudah tepat.

“Menurut hitungan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), dari 5 Mhz saja negara berpotensi dapat pemasukkan sekitar Rp 4 triliun. Apalagi kalau 10 Mhz, tentu lebih besar lagi,” ungkap Tifatul.

Angka Rp 4 triliun yang diperkirakan BRTI tersebut berasal dari sewa spektrum sebesar 5 Mhz dari tahun 2014 hingga tahun 2023. Pemasukkan dari sewa frekuensi itu diakui Tifatul masuk dalam kas negara sebagai PNBP.

Tifatul juga mengatakan jumlah operator seluler di Indonesia juga sudah terlalu banyak. Jumlah operator seluler yang ideal di Indonesia menurutnya tidak lebih dari tujuh operator, agar semua operator bisa bertahan. •ARIE/TAUFIK (foto)

2016, Indonesia Produksi Massal Mobil Listrik

1

Mobil listrik tengah naik daun. Berbagai negara maju maupun berkembang sudah mulai mengembangkaan kendaraan listrik yang notabene ramah lingkungan ini. Indonesia tak mau ketinggalan. Penelitian terhadap mobil listrik telah dilakukan sejak tahun 2000 silam, dan kini pemerintah mulai memproduksi mobil listrik agar mampu bersaing di dunia otomotif internasional.  Pada 2016, pemerintah menargetkan  mobil listrik nasional bisa diproduksi secara massal.

MENTERI Negara Riset dan Teknologi (Menristek), Gusti Muhammad Hatta  berharap, tahun 2015 nanti mobil listrik berbagai model sudah bisa diproduksi meski jumlahnya terbatas. Sehingga, target pemerintah untuk memproduksi mobil listrik secara massal pada 2016 bisa terwujud lebih awal.

“Katakanlah untuk kebutuhan kabupaten dan beberapa kementerian dulu. Sambil diperbaiki terus, nanti kami bisa tambah produksi terus tiap tahun. Syukur-syukur target 2016 bisa mencapai 10.000 unit,” tegas Gusti yang pernah menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup ini.

Untuk mencapai target-target  tersebut, Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek)  gencar  melakukan road show ke lima kota untuk memamerkan kendaraan massal berbasis listrik kepada masyarakat sebagai kendaraan yang ramah lingkungan. Selain Jakarta,  kota-kota yang telah dikunjungi antara lain Yogyakarta, Bandung, Solo, dan Surabaya.

Walikota Bandung, Ridwan Kamil, adalah pemesan pertama bus listrik untuk transportasi massal sebanyak 100 unit.  “Bukan mengada-ngada, tapi respon kepala daerah yang sudah kami datangi memang sangat baik. Mereka seperti tidak sabar untuk bisa segera memiliki mobil listrik ini,” ujar Gusti.

Sedangkan Kota Solo, menurut  Wali Kota FX Hadi Rudyatmo, telah  siap menjadi daerah pelaksanaan proyek percontohan pengembangan mobil listrik  angkutan massal  tersebut. Walikota mengatakan, pengembangan angkutan massal dengan kendaraan listrik itu sesuai dengan program yang dicanangkan Pemerintah Kota Solo, yaitu mewujudkan kota bebas polusi udara.

Uji coba yang dilakukan Kemenristek  di berbagai kota tersebut  diharapkan juga dapat menggairahkan para peneliti dan perekayasa di daerah, khsusunya kaum muda. Masyarakat juga diminta berperan aktif dalam menyikapi persoalan energi dan lingkungan akibat persediaan bahan bakar minyak yang kian terbatas jumlahnya.

Adapun tujuan dalam jangka menengah dan jangka panjang, mobil listrik ini dipakai secara massal oleh bangsa Indonesia. Terlebih penting, moda tersebut adalah hasil karya anak negeri di lingkup industri lokal.

Tahapan Ujicoba

Dipaparkan Menristek Gusti, ada sembilan level tingkatan yang harus dilalui agar harapan banyak kalangan itu bisa terwujud. “Baik spesifikasi, teknologi dari mobil prototipe ini sudah berada pada tingkat kesiapan teknologi TRL-7 atau level 7, tinggal dua langkah lagi.  Setelah sampai level 9 dan uji coba di area sebenarnya (jalan raya), kita akan produksi secara massal. Jadi,  kalau bicara mobil listrik, ada sembilan tingkatan yang harus dilalui agar target memproduksi mobil listrik bisa terwujud,” kata Gusti.

Salah satunya, jelas Gusti, adalah tahapan koordinasi  dengan menggandeng kementerian lain. “Dalam produksi massal, mau tidak mau harus ada keterkaitan dengan kementerian lain, misalnya Perindustrian, Perhubungan, dan lainnya. Kami berharap proses administrasi nantinya tidak terlalu rumit,” jelasnya.

Dia mengaku terus berkoordinasi dengan banyak pihak, termasuk menggandeng akademisi dari civitas kampus di negeri ini maupun pengusaha agar target pemerintah untuk memproduksi mobil listrik massal bisa secepatnya terwujud. Meski sebenarnya, tugas Kemenristek hanya sebatas menghadirkan barangnya saja, tapi Kemenristek berinisiatif merangkul Kementerian lain yang terkait untuk mendorong realisasiproduksi massal mobil listrik ini bisa lebih cepat.

Lebih lanjut Hatta  menambahkan,  pengembangan mobil listrik di Indonesia nantinya ke arah angkutan massal berbasis tenaga listrik. Hal itu sesuai dengan arahan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika peringatan Hari Teknologi Nasional (Harteknas) beberapa waktu lalu. Presiden  menekankan pada sektor angkutan massal dan angkutan pedesaan yang berbasis listrik dan ramah lingkungan.

Sementara itu, penggiat transportasi yang tergabung dalam Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menyambut baik roadshow dan uji coba mobil listrik Kemenristek. Hal itu karena informasi mobil listrik kepada masyarakat masih sangat minim.

Ketua MTI, Muslich Zainal Asikin mengatakan, masyarakat perlu mengetahui mobil listrik, apa dan bagaimana itu mobil listrik. Jadi perlu diperkenalkan atau dikampanyekan.

“Karena minim-nya informasi dan pengetahuan, mobil hemat ramah lingkungan dan hemat energi itu selalu menjadi kontroversi di masyarakat. Khususnya untuk angkutan massal, Kemenristek harus mampu menjadi pelopor dan ‘provokator’. Keberadaan mobil listrik ini harus segera diperkenalkan,” lanjut Muslich.

Keunggulan dan Kekurangan

Staf Khusus Menristek, Zulkifli Halim mengatakan, mobil hasil karya anak bangsa itu diciptakan peneliti Kemenristek bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Menurutnya, mobil listrik tersebut lebih hemat dibanding mobil konvensional berbahan bakar minyak. Sebab, dia mengklaim untuk jarak tempuh 1 km, kendaraan berbasis listrik ini hanya membutuhkan biaya Rp 200. Sedangkan mobil konvensional berbahan bakar minyak memerlukan Rp 1.000 untuk jarak tempuh yang sama.

Satu liter premium pada mobil konvensional menempuh jarak rat-rata sekitar 10 km. Dengan harga BBM non subsidi per liter Rp. 10.000, ongkos setiap km mobil konvensional Rp. 1.000 jarak 120 km yang ditempuh mobil listrik sejenis sedan Hevina menghabiskan daya listrik sekitar 200 kwt. Setiap 1 kwt mobil listrik dapat menempuh 6 km. Maka jika harga listrik non subsidi per kilosatt sekitar Rp. 1200, maka setiap 1 km yang ditempuh mobil listrik hanya membutuhkan Rp. 200. Dengan demikian, biaya operasional mobil listrik hanya 20% dibandingkan mobil konvensional.

Selain itu, menurutnya mobil listrik lebih ramah lingkungan karena tidak memerlukan pembakaran. Halim pun mengklaim mobil tersebut memiliki suara yang lebih halus dibanding mobil konvensional. •

Kemkominfo Kembangkan Pemberdayaan Industri TIK

0

DIREKTORAT Pemberdayaan Industri Informatika (PII) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menggelar forum diskusi  “Pengembangan Distro Pemerintah Dalam Rangka Pemberdayaan Industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).”

Diselengarakan di Hotel Morrissey Jakarta (9/12),  pertemuan yang menghadirkan wakil dari sejumlah perusahan TI, termasuk Microsoft Indonesia dan IBM Indonesia ini menyimpulkan tekad bersama untuk melakukan perubahan dari “Negara Konsumen ke Negara Produsen.”

Ashwin Sasongko S., Dirjen Aplikasi Telematika Kemkominfo mengatakan,  “Untuk mewujudkan hal itu, diperlukan tidak hanya semangat yang bulat, namun kebersamaan untuk mendorong terciptanya produk-produk yang dibuat oleh anak bangsa, baik berupa produk fisik (hardware) maupun virtual, berupa layanan, termasuk software dan kombinasi berupa perangkat device yang dapat dijadikan bagian dari industri TIK.”

Sebagai contoh, software bebas dan open source (F/OSS) telah menawarkan sebuah platform legal dengan biaya rendah, serta kode sumber yang terbuka memiliki “entry barrier” rendah. Hal ini memungkinkan perusahaan “start-up” lebih mudah untuk memulai sebuah bisnis di dalam ekosistem industri TIK. Keunggulan teknologi dan standarisasi yang dimilikinya, juga mempermudah para pengusaha muda untuk bersaing di pasar Internasional.

Kendati demikian, diperlukan pemahaman terhadap beberapa model bisnis open source, yang secara nature sangat berbeda dengan model bisnis yang lazim dikenal masyarakat pada saat ini. “Hal ini menjadi sangat penting, untuk memberikan ide inspiratif, dan membantu wiraswasta mendapatkan peluang untuk menciptakan model bisnis yang lebih baik, lebih tepat dengan kemampuan dan sesuai dengan kondisi lingkungan masing-masing,” papar penggiat open source, Rusmanto Maryanto.

Diskusi  juga menghadirkan nara sumber yang berkompeten di bidang ini diantaranya I Made Wiryana, Dwi Nugroho, Widjaja Mulia, Mohammad Anwari, Utian Ayuba, Ainul Hakim dan Sokhibi.

Disamping banyak peluang yang ditawarkan dari serangkaian sisi positif yang dimiliki oleh F/OSS, seperti kebebasan, penghematan, fleksibilitas, keamanan, faktor mendidik, dan lainnya, juga perlu mendapatkan perhatian adanya beberapa risiko dalam pendayagunaan F/OSS. Secara organik, sistem “open source” dan sistem “closed source” semakin saling terkait. Keduanya bersaing dan berinteraksi, namun saling memberikan manfaat satu sama lainnya.

Disadari, bahwa ekosistem bisnis di lingkungan F/OSS yang produktif, sebenarnya belum terbangun dengan baik. Hal ini, disamping menjadi sebuah tantangan bersama, namun sekaligus memberikan banyak peluang. Peluang tersebut, dapat dijadikan sebuah momentum untuk bergotong-royong membangun ekosistem industri TIK, dalam rangka melepaskan Indonesia dari belenggu konsumen menjadi produsen. Sebagai acuan awal, dipetakan kondisi pada saat ini, untuk mendapatkan gambaran dan materi kajian lebih lanjut, terutama dalam merumuskan daftar tindakan, agar ekosistem bisnis F/OSS dapat bergulir lebih baik.

Pemahaman yang lebih baik tentang motiviasi pengembang dan pengguna F/OSS perlu dikedepankan untuk memungkinkan kerja sama yang baik. Dalam konteks ini, “filosofi meritrokrasi,” sebagai salah satu faktor penting yang meyakinkan para pengembang F/OSS, memberikan kontribusinya membuat output terbaik, membina rasa memiliki, tanpa perlu berbicara banyak soal finansial. Motivasi yang sama tidak hanya dimiliki oleh kontributor F/OSS perorangan, namun juga sudah menjadi lazim bagi kontributor F/OSS yang datang dari perusahaan maupun pemerintah.

Dari sisi formal, diperlukan tanggung jawab pemerintah dalam menyikapi permasalahan terkait, seperti yang telah dilakukan di mancanegara, seperti Jerman, Perancis dan China, dalam penerapan F/OSS menggunakan distro pilihan mereka mulai dari LiMux, GendBuntu, UbuntuKylin dan lain sebagainya.

Selanjutnya, dibahas lebih rinci mengenai proses pembuatan sebuah distro lokal yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Tanpa dukungan yang berkelanjutan, sebuah distro memiliki nilai yang tidak lebih dari sebuah cakram plastik, demikian juga tanpa tindakan lebih lanjut, nilai sebuah dokumen kajian sama dengan setumpuk kertas.

Herry Abdul Aziz, Direktur PII Kemkominfo menyampaikan, “Pengembangan penggunaan piranti lunak sistem terbuka perlu didukung oleh kementerian lain dan para vendor TIK. Bentuk dukungannya bisa bermacam-macam,  antara lain saya berharap, para produsen peralatan TIK, seperti printer dan lain-lain, menyediakan driver pada setiap produk baru yang masuk di Indonesia. Dengan demikian nantinya tidak ada lagi keluhan karena kesulitan dalam mencetak dokumen. Di samping itu, dukungan komunitas, akademisi dan praktisi TIK  juga sangat penting. Direktorat PII tidak bisa berjalan sendiri, komitmen semua pihak membuat kami lebih yakin dalam memberdayakan potensi lokal TIK.”

Diskusi ini juga dihadiri Selliane H. Ishak (Kasubdit Industri Perangkat Lunak Kemkominfo),  Anton Raharja (ITMN) dan Soegihato Santoso (BISKOM). •

Gandeng Huawei & Telkomsel, Pengguna Taksi Express Bisa Ber-WiFi Gratis

0

PARA pengguna taksi Express kini bisa memanfaatkan waktu dengan hal yang bermanfaat di tengah kemacetan. Sebab kini,  para pengguna taksi Express bisa mengakses internet secara gratis.

Peluncuran fasilitas WiFi gratis di taksi Express ini telah dilakukan di Gado-Gado Bolplo Menteng, Jakarta (10/12),  berkat kerja sama dengan Huawei, Intertec dan Telkomsel.  Acara penandatanganan MoU dan peresmian program WiFi gratis Express juga telah dilakukan pada kesempatan tersebut.

Program WiFi gratis di Taksi Express ini akan berlangsung selama 6 bulan untuk 400 unit taksi di area Jabodetabek. Pengguna Taksi Express bertanda khusus dapat menikmati fasilitas berselancar internet secara gratis selama melakukan perjalanan.

“Saya berterima kasih kepada Huawei, Intertec dan Telkomsel dan senang sekali dengan berjalannya kerjasama ini. Mereka membantu menjalankan visi kami yang ingin terus memberikan nilai lebih untuk kepuasan pelanggan kami,” kata David Santoso, Direktur Keuangan Express Group. Program WiFi di taksi Express sendiri menurut David dimaksudkan untuk memberikan nilai lebih kepada pelanggan.

Venusiana Papasi dari Telkomsel berujar jika layanan ini merupakan jawaban atas kebutuhan masyarakat di zaman digital mobile. Kapanpun dan dimanapun ditengah kesibukan mereka bahkan di tengah kemacetan sekalipun, masyarakat tetap bisa nyaman dalam akses berkomunikasi khususnya di layanan data.

Akses WiFi ini, kata Venusiana, didukung oleh jaringan terluas Telkomsel dimanapun. Di Jabotabek telah diprioritaskan network enhancement untuk 1905 High Rise Building dan 113 Industrial Park.

WiFi gratis Express didukung oleh perangkat canggih Huawei Mobile WiFi E5220 yang merupakan mobile WiFi router terkecil di dunia. Perangkat ini mendukung HSDPA dan banyak operating system lainnya, dapat langsung beroperasi hanya dalam waktu 5 detik, dan juga dilengkapi dengan indikator LED untuk menunjukkan status penggunaan. Selain itu Mobile WiFi Huawei juga dapat berbagi sinyal WiFi dengan berbagai perangkat berkemampuan WiFi hingga 10 macam dalam waktu bersamaan.

“Huawei berkomitmen untuk terus berinovasi dalam mendukung kehidupan masyarakat umum dengan memberikan kemudahan-kemudahan dalam bidang TIK. Kami sadar bahwa kebutuhan masyarakat umum akan akses mobile internet saat ini dan di masa yang akan datang merupakan kebutuhan yang nyata dan tidak sekedar mengikuti tren, namun sudah menjadi bagian dari rutinitas kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Oleh karena itu, sejalan dengan posisi taksi Express sebagai salah satu penyedia transportasi umum terdepan saat ini, kami optimis bahwa kerjasama yang terjalin melalui penyediaan Huawei Mobile Wifi E5220 di tiap armada Express taksi akan menjadi salah satu kontribusi Huawei yang paling inovatif bagi masyarakat Indonesia,” kata Simon Sun, Account Director Huawei.

Sayangnya, program ini bersifat uji coba. Pun demikian, jika respon masyarakat bagus maka kerjasama ini mungkin dapat dilanjutkan dengan jumlah dan periode yang lama.

“Semoga bermanfaat bagi pelanggan setia kami, dan selamat menikmati layanan WiFi Gratis Taksi Express!” pungkas David. •ANDRI/TAUFIK (foto)

Frost & Sullivan Beri Penghargaan Pada Industri Indonesia

0

PERUSAHAAN konsultan, Frost and Sullivan, menganugerahkan penghargaan kepada perusahaan-perusahaan terbaik dalam industri teknologi informasi dan komunikasi (TIK), Otomotif, Transportasi dan Logistik, serta Makanan dan Energi pada acara malam penganugerahaan 2013 Frost & Sullivan Indonesia Excellence Awards.

Eugene Van De Weerd, Country Director Frost and  Sullivan Indonesia, dalam sambutannya mengatakan, para nominator penghargaan dinilai dari berbagai indikator kinerja pasar aktual yang meliputi pertumbuhan pendapatan, pangsa pasar dan pertumbuhan pangsa pasar, keunggulan dalam inovasi produk, strategi pemasaran dan pengembangan bisnis.

“Kami sangat bahagia dan bangga dapat menggelar kembali acara Indonesia Excellence Awards untuk yang keenam kalinya dan merayakan best practices perusahaan-perusahaan Indonesia. Saya percaya bahwa para penerima penghargaan ini akan terus berkontribusi dalam upaya penempatan perusahaan-perusahaan Indonesia dalam peta keunggulan global,” ungkap Eugene di Jakarta (9/12).

Sebanyak 24 penghargaan diberikan kepada perusahaan-perusahaan terkemuka Indonesia, baik perusahaan lokal maupun multinasional. Perusahaan-perusahaan yang berhasil meraih beberapa kategori penghargaan di sektor otomotif antara lain PT Suzuki Indomobil Sales dan PT Toyota Astra Motor. Sementara untuk sektor TIK  antara lain PT Telekomunikasi Indonesia dan PT Telekomunikasi Selular.

Perusahaan-perusahaan lain yang juga menerima penghargaan adalah PT Huawei Tech Investment, PT Indofood Sukses Makmur, dan CKB Logistics.

Penerima penghargaan  Frost and Sullivan Indonesia Excellence Awards 2013 dipilih oleh para analis industri Frost and  Sullivan yang membandingkan para pemain pasar dan menilai kinerja mereka melalui wawancara mendalam, analisa, dan riset sekunder secara ekstensif. •ARIE/TAUFIK (foto)

JAMES GWEE: Motivator Tumbuhkan Entrepreneur Muda

0

Indonesia sebagai negara besar dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa telah diprediksi banyak pengamat akan menjadi salah satu negara maju dalam beberapa tahun mendatang. Disebut-sebut, salah satu pendorong kemajuan tersebut adalah dengan menumbuhkan entrepreneur muda, yang nantinya mampu menyerap banyak tenaga kerja, dan secara tidak langsung dapat menurunkan tingkat pengangguran serta meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia secara umum.

BUKAN hal yang mudah mendorong generasi muda untuk maju membuka peluang usaha. Saat ini saja, jumlah entrepreneur di tanah air masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya, seperti Malaysia dan Singapura. Sehingga dibutuhkan peran lembaga pendidikan yang dapat memotivasi dan mengubah pola pikir seseorang agar memiliki keinginan berwirausaha atau entrepreneurship.

Melihat hal ini, James Gwee, Director Academia Education & Training yang dikenal sebagai Indonesia’s Favourite Trainer and Seminar Speaker ini pun terdorong untuk membuat program bernama “Champions Teens” yang diperuntukkan bagi anak-anak dan remaja diusia 9 hingga 17 tahun. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan jiwa juara pada diri mereka.

Menurut James, program yang dimulai 6 tahun silam ini, berawal dari permintaan para eksekutif yang mengikuti kegiatan seminar dari dirinya agar diselenggarakan juga training untuk anak-anaknya. Mereka mengharapkan dengan pelatihan yang diberikan pada anaknya bisa menumbuhkan kedisiplinan, kemandirian dan membangun mental juara sejak dini pada anaknya. Sehingga nantinya bisa menjadi seorang entrepreneur yang tangguh dan sukses seperti orang tuanya.

“Champions Teens sebenarnya adalah program yang berisi tentang seminar-seminar motivasi, mindset sukses dan skills set yang biasa diadakan untuk para eksekutif. Namun untuk menyentuh jiwa yang masih muda ini, maka pelatihan dikemas dalam konteks yang lebih fun dengan penyampaian yang mudah dipahami,” ujar pria yang dijuluki Indonesia’s Favourite Trainer and Speaker, karena prestasinya pada profesi yang dijalani.

Awalnya, program ini dijalankan untuk golongan menengah keatas yang dikenakan biaya untuk mengikuti kelas selama dua hari. Pelatihan yang diberikan meliputi money management dengan cash flow games, business planning, dan bahkan para remaja diajarkan teknik presentasi yang memukau audiens.

Seiring waktu, trainer berkebangsaan Singapura ini mulai berfikir untuk memberikan pelatihan tidak hanya sebatas dari kelas menengah keatas saja. “Ini ironis sekali, kami kasih training yang begitu bagus kepada anak-anak kalangan menengah atas yang notabene kalau dia santai-santai pun orang tuanya bisa menghidupkannya. Sedangkan ada jutaan anak-anak dari kalangan kurang mampu yang justru lebih membutuhkan tapi tidak punya akses ke pelatihan-pelatihan seperti ini. Maka sejak 2010 lalu, kami lahirkan konsep yang bernama CARE For The Nation,” terang James, yang menuangkan keahliannya dan kesuksesannya pada bidang Penjualan, Motivasi, Service Excellence, Leadership, Ketrampilan Manajerial, Team Building, dan Pengembangan Pribadi pada 13 buku yang diterbitkannya.

Kepeduliannya untuk meningkatkan semangat dan kompetensi para eksekutif sukses, tidak hanya dilakukannya melalui seminar ataupun in-house training saja, tetapi juga dituangkan ke dalam sebuah website untuk pembelajaran secara online.

Dengan latar belakang pendidikan tenologi informasi (TI), James memang expert dalam memanfaatkan internet sebagai media edukasinya. Terbukti situs yang dibuatnya, yaitu www.SeminarSeumurHidup.com menjadi e-learning pertama di Indonesia yang berisikan materi berupa ratusan video, kliping audio seminarnya dan artikel yang ditulisnya sendiri, serta e-book gratis.

Tidak hanya itu, sebagai seseorang yang memiliki jiwa sales yang ini, sejak dua tahun lalu ia dipercaya menjadi Ketua Dewan Pembina di Komunitas Sales Indonesia (KOMISI) yang bertujuan membangun citra profesi sales sebagai profesi terbaik.

Lebih lanjut, berikut petikan wawancara BISKOM dengan peraih dua penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) yang telah menyebarkan motivasinya kebeberapa penjuru dunia, seperti India, Afrika, Rusia maupun Ukraina ini.

Bagaimana Anda bisa tertarik untuk menetap di Jakarta dan mulai melakukan bisnis di sini. Apakah itu cita-cita Anda?
Kalau bisa dibilang, saat lulus SMA dan menyelesaikan wajib militer selama 2,5 tahun, saya belum mempunyai cita-cita. Jadi saya menuruti saja keinginan orang tua agar saya kuliah di bidang TI, karena melihat pada waktu itu di Singapura baru mulai komputerisasi. Jadi kedepannya profesi komputer akan high demand dan computer akan menjadi bidang unggulan.

Ternyata, meskipun saya lulus kuliah sebagai 10 besar terbaik di Fakultas Computer Science, tetapi justru mulai memperlihatkan minat sebagai pembicara. Diawali setiap melakukan tugas kelompok membuat program, selalu saya yang diandalkan oleh teman-teman untuk mempresentasikan program tersebut.

Di saat tugas akhir, saya mendapatkan tugas untuk membantu mengkomputerisasikan database pasien di sebuah klinik. Di situ, kami berhasil menarik minat pihak klinik untuk membeli program yang kami buat. Padahal hasil kerja kami masih setengah matang, tetapi menjadi terlihat bagus karena presentasi yang saya berikan. Bahkan saya yang satu-satunya mendapat nilai A1 dalam presentasi. Jadi dari dulu arahnya sudah ke presentasi dibandingkan ke programming-nya.

Kemudian setelah lulus kuliah, saya dihadapi dua pilihan, yaitu diterima di BUMN-nya Singapura yang career-path-nya sudah jelas atau menerima ajakan teman untuk membuka lembaga kursus computer dengan nama Microskills Training Centre. Akhirnya mengikuti insting saya untuk membuka sekolah kursus komputer, dan ternyata sukses menjadi yang terbesar kedua sekolah komputer di Singapura. Pada tahun 1986, kami mempunyai tujuh cabang dengan total 4000 anak didik setiap minggunya.

Nah, suatu hari ada businessman dari Jakarta yang mengajak kerjasama untuk franchise. Ini menjadi the first franchise in Indonesia (Jakarta dan Surabaya) pada tahun 1988, dan bertambah  satu lagi franchaise Microskills Training Centre di Medan. Namun di tahun 1992 franchising di Jakarta dan Surabaya tidak lanjut. Tapi saya melihat Jakarta cukup menjanjikan dan memiliki banyak kesempatan untuk sukses. Jadinya saya memutuskan untuk tetap tinggal dan mulai menjual saham saya di Singapura untuk memulai bisnis dari nol lagi di sini.

Lalu kapan Anda mulai memfokuskan diri sebagai speaker?
Saya melihat lembaga-lembaga kursus komputer di Jakarta saat itu masih mengeluarkan sertifikat sendiri. Berbeda dengan sekolah di Singapura yang sudah link dengan Inggris, dan D1-nya dikeluarkan dari universitas-universitas di Inggris. Lulusan D1 kami  bisa lanjut ke Universitas di Inggris.

Di sanalah saya mulai membantu lembaga kursus komputer di Jakarta untuk terakreditasi ke Inggris. Syukurnya, ada beberapa lembaga yang mau dan saya menjadi konsultan di sana. Lalu, di lembaga kursus tersebut saya melihat pelayanan resepsionis dan karyawan sales yang kurang meyakinkan dalam menjawab telepon masuk. Atas inisiatif sendiri, saya ajak mereka berkumpul dan melakukan training bagaimana tata cara bertelepon yang baik dan bagaiman menjawab enquiries dengan benar sehingga penelpon berminat mengikuti kursus. Pada saat itu, teman saya melihat dan mengajak untuk mengadakan training untuk publik yang pada saat itu di Jakarta belum ada jenis training yang seperti saya lakukan.

Awal membuka training publik hanya diikuti 8-10 peserta. Seiring waktu, akhirnya saya melangkah sendiri. Saya memfokuskan diri untuk hidup dengan mengandalkan publik seminar, meskipun hanya sedikit yang ikut dan hanya 1-2 topik saja dalam satu bulan. Tapi bisa dilihat kan, Puji Tuhan, ternyata itu rupakan keputusan yang tepat.

Dipenghujung 2013 ini, apa saja kesibukan Anda?  
Sebenernya dari segi publik seminar sudah selesai. Dari 6 seminar publik yang ditargetkan dari perusahaan sudah selesai semua. Tinggal menyelesaikan beberapa in house training di penghujung tahun ini.  Banyak perusahaan yang mulai genjot training untuk orang sales mereka agar bisa mencapai target di bulan-bulan terakhir ini dan banyak pula perusahaan yang sudah mulai persiapan untuk tahun depan. Maka kesibukan saya lebih banyak ke in house training, termasuk dua hari workshop untuk Champions Teens pada tanggal 14-15 Desember.

Sejauh ini sudah berapa jumlah anak yang Anda latih di program CARE For The Nation?
Dari 2011 hingga hari ini sudah 78.000 yang kami latih gratis di 13 kota di Indonesia dengan success rate berkisar 7-10%. Training yang kami berikan selama 8 minggu berfokus pada anak-anak SMK dari kalangan kurang mampu. Pelatihan yang diberikan, pertama semangat, motivasi terus kita lanjutkan 8 minggu berikutnya dengan tugas. Kami bimbing mereka dalam delapan minggu  sudah mempunyai usaha yang nyata dengan modal yang kami pinjamkan sekitar Rp. 200 ribu sampai Rp. 500 ribu. Hasilnya, mereka bisa mendapatkan Rp. 1,5 juta sampai Rp. 4 juta per bulannya sambil bersekolah! Desember ini, anak-anak yang usahanya bagus kami undang ke Jakarta untuk ikut Champions Teens.

Apa yang menjadi tujuan utama Anda dengan menjadi seorang Motivator?
Saya tidak pernah punya tujuan sebagai motivator. Ketika pasca kerusuhan tahun 1998, dimana orang sales sudah drop kondisinya, tentunya mereka butuh training. Mau mencari trainer dari luar negeri kan mahal, dan kebetulan waktu itu saya ada talkshow di Radio Pas FM, sehingga melalui talkshow tersebut orang kenal saya dan undang saya untuk kasih salesmanship training kepada orang salesnya. Dan di setiap seminar saya ada unsur semangatnya. Karena ikut workshop saya, sales-nya jadi semangat dan termotivasi. Dari sana mulailah saya dikenal sebagai motivator.

Bagaimana pula Anda menilai pertumbuhan TI di Indonesia dalam mendukung perkembangan bisnis? Bisnis apa saja yang akan terus berkembang di tahun 2014?  
Perkembangan TI sudah cukup bagus tetapi masih jauh dari cukup. Selama 10 tahun terakhir sudah ada pengembangan, tetapi dari segi infrastruktur masih jauh dari cukup. Sebagai contoh ketika kita bertelepon lintas Jakarta saja, blank spot-nya masih banyak, apalagi di daerah. Jadi kalau mau ada pengembangan dan optimalisasi SDM, maka Infrastuktur harus dibangun.

Semua bisnis TI akan berkembang, IT is a way of  life now, dan bukan tren lagi, melainkan sebuah kebutuhan primer. Tren untuk perkembangan TI sangat tinggi di Indonesia, karena masyarakatnya sangat maniak gadget dan teknologi baru. Jadi kalau kita bicara TI, trennya pasti ada orang yang pakai dan beli.

Di luar kegiatan yang padat, Anda masih menyempatkan diri untuk bergabung dengan KOMISI sebagai Ketua Dewan Pembina. Apa harapan Anda terhadap KOMISI?
Setiap pembina dan pengurus yang ada di KOMISI adalah orang sibuk semua, tetapi kami melakukan apa yang bisa kami lakukan. Karena kami ini semua adalah orang sales, dan harapan untuk KOMISIi adalah harus menjadi ‘rumah’ buat orang sales.

Selain itu, orang-orang yang bergabung di KOMISI harus ada manfaatnya, harus menunjukan ada kemajuan dalam hal prestasi dan kualitas hidup sehingga citra orang sales Indonesia dan KOMISI bisa terangkat.

Apa saja yang harus dikuasai agar menjadi seorang salesman yang handal?
Belajar terus, belajar terus, dan belajar terus. Salah satu kendala di Indonesia ketika orang sudah wisuda dengan selembar ijasah di tangan, maka sudah selesai lah sekolahnya. Mereka tidak sadar, itu sekolah dasar dan dunia kerja adalah sekolah hidup.  Dan telah menjadi persepsi yang salah di masyarakat Indonesia, bahwa setelah wisuda maka selesai sudah belajarnya.

Apa saja kendala dan tantangan terbesar bagi Indonesia agar nantinya bisa mandiri di bidang TI?
Infrastruktur menjadi kendala bagi Indonesia, dan sebenarnya dunia sudah mulai akui kemampuan orang Indonesia di bidang TI. Akan tetapi ironisnya, banyak orang Indonesia yang tidak sadar. Sehingga persepsi kita masih ketinggalan.

Apa prinsip hidup Anda hingga bisa sesukses ini?
Ada dua. Pertama adalah apapun yang kita lakukan, lakukanlah yang terbaik. Dan yang kedua adalah apapun yang terjadi selalu berfikir what next? Karena filosofi saya, tidak maju berarti mundur.

Apa saja target pribadi Anda di tahun 2014?
Public Seminar saya lebih inovatif, in house training saya lebih merangkul tim Associate Trainer saya, CARE for the Nation melayani lebih banyak anak-anak melalui kepala daerah yang pro-active dan Champions Teens tetap berkembang. Saya mau lihat lulusan dari Champions Teens ini jadi pemuda-pemuda yang sukses dan apapun yang saya kerjakan harus ada terobosan-terobosan dan manfaat untuk orang lain.  •ARIE & ANDRI / M. Taufik (foto)

Raih MURI, DEMIT Gelar Video Conference Dengan 360 Desa

0

GERAKAN Desa Membangun (GDM) membuat gebrakan spektakuler. Dalam upaya menyosialisasikan RUU Desa, melalui gagasan yang ditelurkannya yakni Desa Melek Informasi dan Teknologi (DEMIT). GDM menggelar video conference dengan 360 desa dari 36 titik yang berbeda di seluruh Indonesia.

Kegiatan yang baru pertama kali dilakukan di Indonesia ini, memecahkan Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai video conference dengan titik lokasi terbanyak. Pesertanya mulai dari kepala desa, perangkat desa, dan warga desa mulai dari Aceh hingga Papua.

Wakil Ketua Pansus RUU Desa dan Pembina GDM, Budiman Sudjatmiko, didapuk menjadi pembicara untuk berinteraksi langsung melalui teknologi video conference tersebut. Menurutnya, kegiatan tersebut dimaksudkan untuk membuktikan kesiapan desa mengambil bagian dalam kemajuan teknologi dan memanfaatkannya untuk kemajuan desa masing-masing.

“’Utamanya dalam menyambut RUU Desa yang akan segera disahkan,’’ ungkap Budiman di sela-sela acara yang digelar di Plaza Bapindo, Jakarta (9/12).

Budiman menambahkan, UU Desa dan DEMIT adalah dua perangkat penting untuk menuju nol kemiskinan di Indonesia. “Saya punya visi ke depan Indonesia nol kemiskinan, yaitu cukup sandang, pangan dan papan. UU Desa adalah jalan untuk mencapai nol kemiskinan, melalui strategi membangun daulat desa. Pembangunan harus bertumpu dari bawah yaitu pada kemampuan 73.000 desa untuk menyangga kemajuan republik ini. Sedangkan DEMIT hadir sebagai salah satu wujud kesiapan desa untuk menjalankan UU Desa,” urainya.

RUU Desa yang akan segera disahkan menjadi sangat bermakna bagi bangsa Indonesia karena akan menggalakkan ekonomi dari basis terkecil bangsa Indonesia. RUU Desa akan memberikan kesempatan bagi desa-desa untuk membangun dan berkembang atas dasar kebutuhan dan potensi sumber daya yang tersedia di wilayah masing-masing.

Salah satu aspek yang menumbuhkan potensi kemajuan desa nantinya adalah diaturnya hak penganggaran Desa dari APBN dan APBD. ’’Setelah RUU disahkan, Desa akan mendapat anggaran langsung dari negara. Dari anggaran tersebut, Desa dapat merumuskan sendiri kebutuhan prioritas pembangunan, tanpa harus tergantung oleh kekuatan dari luar desa” ujar politisi PDIP yang dikenal sebagai penggagas dan pejuang UU Desa ini.

Dalam kesempatan yang sama, Irman Meilandi, penggiat GDM mengatakan, kegiatan ini merupakan terobosan bagi pelaku di Desa dalam membuktikan kesiapan Desa menyambut pintu pembangunan yang dibuka oleh UU Desa.

“Metode video conference ini memungkinkan efisiensi komunikasi aparatur negara dengan unit terkecilnya. Metode seperti ini nantinya dapat menjadi metode komunikasi politik pemimpin dengan rakyatnya,’’ katanya.

Selanjutnya, GDM juga akan membangun dan mengembangkan fasilitas video conference seperti ini. “Tidak akan berhenti di sini saja, nantinya akan ada situation room GDM dengan basis video conference yang siap sedia untuk berkomunikasi secara intensif dengan para perangakat desa di berbagai wilayah di Indonesia sebagai fasilitator pemberdayaan,” ungkap Irman.

Sekadar informasi, GDM adalah sebuah gerakan yang berangkat dari inisiatif kolektif desa-desa di Indonesia untuk mengelola sumber daya desa dan tata pemerintahan yang baik. GDM tercetus pada 24 Desember 2011 di Desa Melung, Kedungbanteng, Banyumas.

Gerakan ini lahir sebagai kritik atas praktik pembangunan perdesaan yang cenderung dari atas ke bawah (top down) dibanding dari bawah ke atas (bottom up). Akibatnya, desa sekadar menjadi objek pembangunan, bukan sebagai subjek pembangunan. Desa tidak kurang diberi kewenangan dalam mengelola sumber daya yang ada di wilayahnya. (Hoky, Arie & Taufik foto)

Arikel Terkait:
– Budiman Sudjatmiko: UU Desa dan DeMIT, Wujudkan Indonesia Nol Kemiskinan
– IeSPA: Menuju Ekonomi Rakyat Berbasis Industri Kreatif
– ONNO W. PURBO: Cerdaskan Rakyat, Agar Merdeka di Bidang TI
– Dicalonkan Jadi Menkominfo, Onno Raih Polling Tertinggi
– Inilah 41 Calon Menteri Terpilih Versi Kabinet Rakyat
– Onno W. Purbo Masuk Dalam Calon Menteri Kabinet Jokowi
– ONNO W. PURBO: Lebih Baik Jadi Guru, Demi Cerdaskan Bangsa

LENOVO FLEX 14, Notebook Multi Mode

0

PERUSAHAAN asal China, Lenovo, di tahun ini sangat gencar memperkenalkan produk-produk barunya di Indonesia.  Satu lagi yang baru dari Lenovo adalah Flex 14, sebuah notebook yang mengusung konsep Multi-Mode.

Hadir dengan desain yang serupa dengan pendahulunya yakni Lenovo Yoga 13, Flex 14 menawarkan solusi komputasi mobile yang ringkas dan cerdas. Pengguna dapat memutar layarnya hingga 300° untuk beralih dari mode notebook menjadi mode stand. Dalam mode stand, keyboard akan menghadap ke bawah sehingga pengguna hanya akan berinteraksi dengan layar sentuhnya. Sesuai namanya, Lenovo Flex 14 telah dilengkapi sentuh 14 inci multi-touch 10 jari.

Meski dapat diatur sedemikian rupa, Lenovo berpesan hendaknya ketika diubah posisinya, pengaturan dilakukan secara wajar untuk menghindari benturan, agar perangkat bisa tahan lama.

Berbeda dengan Yoga 13 yang mendukung 4 mode penggunaan, Flex 14 hanya mendukung 2 mode karena menggunakan desain engsel yang berbeda.   Engsel Flex 14 tidak dapat diputar hingga 360° sehingga tidak dapat dijadikan tablet.

Flex 14 yang tampil minimalis ini memiliki ketebalan sekitar 21,5 milimeter dengan berat 2 kilogram. Layarnya dilengkapi teknologi multi-touch yang bisa diakses lebih dari satu pengguna, sehingga bisa memainkan game bersama-sama pada notebook ini.

Sementara secara kemampuan, Flex 14 telah didukung dengan prosesor Intel generasi keempat, dengan dua varian yang dapat dipilih sesuai kebutuhan. Perbedaan mendasar dari kedua varian ini hanya terletak pada penggunaan prosesor dan kartu grafisnya saja. Spesifikasi yang berbeda ini menyebabkan harga keduanya juga menjadi berbeda.

Konfigurasi terendah Lenovo Flex 14 meliputi prosesor Intel Core i3 1.7GHz dan kartu grafis Intel HD4400, sedangkan konfigurasi kedua dilengkapi prosesor Intel Core i5 1.6GHz dan kartu grafis Nvidia GeForce GT720M. Kendati demikian dari segi fisik, tidak ada yang berbeda dari kedua varian tersebut, baik dari sisi ukuran, bobot hingga spesifikasi lainnya.

Selain mobilitas yang mempuni, Lenovo mengklaim Flex 14 sebagai notebook dengan ketahanan baterai yang tinggi. Notebook yang ditujukan untuk profesional muda ini dapat dioperasikan seharian tanpa takut kehabisan daya. Ini dikarenakan Lenovo melengkapinya dengan baterai 4 Cell Lithium-Ion. Untuk penggunaan normal, daya tahannya bisa mencapai sembilan jam. Sedangkan jika digunakan untuk menonton video dengan kualitas high definition (HD) dapat bertahan sepanjang enam jam.

Lenovo Flex 14 ini akan dipasarkan di Indonesia mulai bulan Desember 2013. Untuk konfigurasi dengan prosesor Intel Core i3, Lenovo membandrolnya seharga Rp.7.999.000, sedangkan konfigurasi dengan prosesor Intel Core i5 dipasarkan seharga Rp.8.999.000. •

TELAH TERBIT BISKOM EDISI DESEMBER 2013

0

MAJALAH BISKOM kali ini menampilkan James Gwee, Director Academia Education & Training (Terima kasih kepada  Academia Education & Training yang turut mendukung Majalah BISKOM).

Dalam kesempatan ini, kami sekaligus menawarkan kepada seluruh pembaca untuk bekerjasama saling menguntungkan dengan Majalah BISKOM, baik berupa pengiriman artikel Teknologi Informasi (TI), mengadakan seminar, workshop dan pameran serta kegiatan-kegiatan lainnya yang berkaitan dengan dunia TI.

Topik menarik Majalah BISKOM Edisi Desember 2013 diantaranya:

• COVER STORY: James Gwee, Director Academia Education & Training: Motivator Tumbuhkan Entrepreneur Muda

• HEADLINE:
–    Primadona Baru: Wearable Gadget
–    Wearable Gadget: Dari Kacamata Hingga Pencegah Stroke
–    Ditekuk, Dilipat & Digulung

• FIGURE:
–    Augustinus Haryawirasma, Presiden Director PT Buana Media Teknologi: Industri Kreatif Digital Mulai Bangkit
–    HM Harris, Bupati Pelalawan, Riau: Teknopolitan, Aktivitas Transfer Teknologi
–    Francis Han, General Manager Oracle Business Analytics, ASEAN: Oracle Berikan Solusi Analytic Terlengkap

• FOCUS:
–    Prediksi TI  2014
–    5 Prediksi Keamanan 2014
–    Badai Penguin Landa Iklan Online?
–    Big Data: Janjikan Keuntungan Meski Adopsinya Lambat
–    Big Data  Bantu Industri Kembangkan Bisnis
–    Pemilu 2014, Gunakan TIK Atau Tidak?
–    Kemenristek Genjot Produksi Massal Mobil Listrik

• REVIEW & CELLULAR:
–    Lenovo Flex 14
–    HP EliteBook 840 G1
–    Samsung Galaxy Note 3
–    Fujifilm X-E2
–    Lenovo Vibe Z
–    Nikon Df
–    Olympus Stylus 1
–    Motorola Moto G
–    Epson EB-S200 dan EB-X200

• SNAP:
–    Mikrotik User Meeting 2013 Kembali Digelar
–    Ufoakses Meriahkan Anex Passion Week
–    Megawaty Khie Pimpin SAP Indonesia
–    AMD Luncurkan Radeon R7 dan R9 Series
–    Dell Luncurkan Rangkaian Notebook Tipis dan Ringan
–    Smartfren Siap Penuhi Kebutuhan Aplikasi Corporate
–    Universitas Bakrie dan SAS Bangun UB-SAS Center
–    Cegah Kemacetan, Pemprov DKI Jakarta Kerjasama Dengan Waze
–    Selebriti Agni Pratistha, Rencanakan Liburan Bersama Gadget Taiwan
–    KOMISI Rayakan Hari Jadi Kedua

Dapatkan Majalah BISKOM di Toko Buku Gramedia dan Gunung Agung atau berlangganan melalui Bagian Sirkulasi Majalah BISKOM. Untuk review, ujicoba, update harga produk dan kegiatan perusahaan Anda, hubungi redaksi[at]biskom.web.id •

Kemenpora Ajak Generasi Muda Bijak Sikapi Penyadapan

0

TERKUAKNYA kasus penyadapan yang dilakukan oleh pemerintah Australia kepada Indonesia menimbulkan sebuah kehebohan dalam masyarakat di Indonesia, tidak terkecuali para pemuda yang menekuni dunia teknologi informasi (TI).

Menyikapi masalah tersebut,  Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menggelar acara Pemuda dan Telekomunikasi bertema Generasi Muda Bangsa Menyikapi Penyadapan di Jakarta (6/12).

Pada sambutannya, Menpora KRMT Roy Suryo, mengajak kepada pemuda Indonesia yang khususnya bergelut dalam dunia TI untuk menyikapi masalah penyadapan tersebut dengan bijak dan serius.

“Kasus penyadapan terhadap Indonesia sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Kita masih ingat ketika dulu masih memiliki Satelit Palapa, satelit kebanggaan Indonesia, namun berjalannya waktu satelit itu akhirnya dijual ke pihak atau negara lain. Sejak hilangnya Satelit Palapa itu maka penyadapan terhadap Indonesia sering terjadi,” kata Menpora.

Direktur Eksekutif Indonesia ICT, Heru Sutadi mengatakan,”Dewasa ini penyadapan dapat dilakukan melalui telepon tetap (fixedline), telepon seluler, telepon satelit maupun aktivitas internet. Bahkan semua teknologi sudah bisa disadap, termasuk jaringan selular GSM dan CDMA”.

Oleh karena itu dia juga berharap dari diskusi ini bisa menghasilkan solusi agar penyadapan seperti ini tidak kembali terjadi di Indonesia. Dari Kemenpora ikut hadir   Yuli Mumpuni Widarso (Seskemenpora), Alfitra Salamm (Deputi I Bidang Pemberdayaan Pemuda), dan Heru Nugroho (Staf Khusus Kemenpora). •ARIE/TAUFIK (foto)