Home Blog Page 972

APKOMNAS, Plan B Hasil Kesepakatan Bersama

1
SONY DSC

BISKOM – Sebuah asosiasi idealnya didirikan secara sukarela oleh anggotanya untuk mencapai tujuan bersama. Dalam wadah tersebut, para anggota dan pengurusnya saling mendukung untuk mengembangkan dan meningkatkan lingkungan usaha yang sama-sama digeluti.

Hanya saja, tidak jarang, dengan alasan tertentu seperti kurangnya komunikasi antara anggota dan pengurus, sebuah asosiasi menghadapi beberapa kemelut. Hal ini lah yang tengah terjadi di tubuh Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (APKOMINDO).

Sejak 2007, Apkomindo seolah makin tenggelam dari hingar bingar teknologi informasi (TI) di Indonesia. Perannya sebagai motor penggerak industri peranti keras PC makin tak terdengar seiring dengan konflik berkepanjangan yang melibatkan anggota, pengurus, dan Dewan Pertimbangan Apkomindo (DPA) Pusat (baca berita di Bisnis Indonesia: Bola panas Apkomindo meledak di Indocomtech 2011, Apkomindo yang tak pernah lepas dari kekisruhan, Asosiasi Pengusaha Komputer akhirnya pecah, DPP Apkomindo desak percepat Munaslub, Apa kata mereka soal perpecahan Apkomindo dan Kemelut di Apkomindo, salah siapa?)

Singkatnya, dalam usaha penyelesaian masalah, terselenggaralah Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) pada 28-30 Oktober 2011 di Gedung Kadin, Surabaya, Jawa Timur. Namun demikian, penyelenggaraan Munaslub tersebut tidak berjalan lancar, sehingga terjadilah kesepakatan bersama yang diistilahkan dengan Plan B yaitu akan dideklarasi Asosiasi Perusahaan Komputer Nasional (APKOMNAS) apabila Plan A yaitu penyelenggaraan Musyawarah Nasional (Munas) untuk perubahan AD/ART Apkomindo dan pemilihan Ketua Umum, Sekjen serta Bendahara baru (2011-2014), tidak dapat dilaksanakan dengan baik.

Nama Apkomnas sendiri dipilih melalui voting pada Sabtu, 29 Oktober 2011 dan yang melakukan voting diantaranya Suhanda Wijaya, Setyo Handoyo, Agustinus Sutandar, Sutiono Gunadi, Faaz Ismail, Hendra Widya, Soegiharto Santoso, Andy Ho, Kris Anggioni, Lim Hansen, Rudy D. Muliadi, Usman Gani, M. Ranu A dan Srianto Handoko (Jakarta) kemudian Selamat Tjia, Ferry (Aceh), Andianto Kok, NS Louis (Medan), Yudistira Law, Hartawan Wijaya (Riau), Wudi Hamdani (Padang), Chandra Lesmana, Cicin Wijaya, Yuli Setiawan (Palembang), Djodjo Herwanta, Taufik (Lampung), Ridwan Dharmasetya, Joesanto, Adrie Taniwidjaja, Lilik Aryono, Ferie Moeljadi (Bandung), Sahala, Gunawan (Bogor), Rachmawaty, Made Robet Arsana  (Depok), Robertus Onggiarto, Dwi Pramono, Lukas Lukmana, Eddy Joko Kiswanto (Semarang), Gideon (Magelang), Simon Purba (Solo), Hadi Santono, Faridl Ahmad, Agus Nazaruddin, Bambang Supriyanto, Willy Sudjono, Paul Kuntadi (Yogya), Chandra Prayogo, Edy Sutanto, Eddy Suwanto, Tecky Tanardi, Tritan Saputra, Kho Bambang Purnomo, Agus Halim, Peter (Surabaya), Cornelis Sutiono, Dedi Susilo, Willy Aprilianto,  Yusni Hermawan, Yulianto Yusuf, Naftaly Baloly  (Malang), Lindryan Sunardy,  Ahmad Djazuli (Pontianak), Sukandar, Saridi Salimin (Banjarmasin), Peter Tjan (Manado),  Maxi Toto Kurniawan, Syamsul Qadar (Makassar),  Komang Purnama (Denpasar), serta Yan Sigar dan Djemi Lassa (Kupang).

Bahkan pada Minggu, 30 Oktober 2011, sebagian pengusaha komputer sempat melakukan sesi foto bersama sebagai bukti kesepakatan untuk melakukan deklarasi Apkomnas sebagai Plan B diantaranya Setyo Handoyo, Agustinus Sutandar, Sutiono Gunadi, Soegiharto Santoso, Andy Ho, Kris Anggioni, Lim Hansen, Rudy D. Muliadi (Jakarta), Selamat Tjia, Ferry (Aceh), Andianto Kok (Medan), Yusditira Law, Hartawan Wijaya (Riau), Sahala (Bogor), Rachmawaty, Made Robet Arsana  (Depok), Dwi Pramono (Semarang), Gideon (Magelang), Simon Purba (Solo), Chandra Prayogo, Tritan Saputra, Kho Bambang Purnomo (Surabaya), Cornelis Sutiono, Dedi Susilo, Willy Aprilianto,  Yusni Hermawan (Malang), Ahmad Djazuli (Pontianak), Maxi Toto Kurniawan, Syamsul Qadar (Makassar) dan Yan Sigar (Kupang).

Ketua Umum Apkomnas Terbuka Bagi Pengusaha Jakarta Atau Daerah.
Meskipun Apkomnas telah disepakati bersama dan sangat jelas fakta-faktanya, namun pada kenyataannya ada saja pihak-pihak yang ingin menganulir kesepakatan tersebut.

Meluruskan kabar miring ini, Saridi Salimin, DPA Apkomindo Kalimantan Selatan menjelaskan kepada BISKOM hari ini (3/1), “Untuk mencapai kesepakatan tersebut telah melalui berbagai tahapan, mulai dari usulan nama-nama Asosiasi, sampai dilakukan voting pemilihan nama Asosiasinya. Bahkan telah terpilih nama Agustinus Sutandar, Andy Ho, Sutiono Gunadi, Soegiharto Santoso dan Willy Sudjono sebagai Presidium Apkomnas. Artinya jelas, Apkomnas terbentuk atas kesepakatan bersama dan bukan atas dasar ide perorangan, sehingga  kita wajib mendukung kesepakatan bersama Plan B ini.”

Lebih lanjut  Saridi memaparkan, untuk mempersiapkan pendirian Apkomnas secara sah, atas inisiatif Soegiharto Santoso, salah satu Presidium Apkomnas, telah disiapkan persyaratan pembuatan akta pendirian asosiasi ini termasuk mendaftarkan ke Depkumham serta pembelian nama domain www.apkomnas.com dan www.apkomnas.org, serta pembuatan 23 milis Apkomnas.

“Namun sampai saat ini semuanya belum digunakan, karena masih menantikan hasil Munas Apkomindo atau Plan A yang akan segera dilaksanakan pada 12 – 14 Januari 2012, di Hotel Kusuma Sahid Prince Surakarta,” jelas Saridi.

Soegiharto yang juga calon Ketua Umum Apkomindo 2011-1014 menjelaskan, “Apkomnas memang telah saya persiapkan sebagai bentuk amanah Plan B yang dipercayakan kepada saya sebagai salah satu Presidium Apkomnas.  Namun, kendati saya menjadi orang di balik persiapan Apkomnas, dalam kesempatan yang baik ini saya menyatakan ketidak sediaan saya untuk mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Apkomnas.”

Soegiharto yang akrab disapa Hoky mengusulkan, sebaiknya calon Ketua Umum Apkomnas terbuka bagi para pengusaha Jakarta maupun dari daerah, agar tercipta peluang kepemimpinan yang adil dan setara antara pusat dan daerah.

“Seperti kita ketahui, banyak pengusaha komputer di daerah yang cakap dan berpotensi untuk memimpin asosiasi yang ideal bagi para pengusaha komputer untuk mencapai kemajuan bisnis bersama. Saya juga berharap agar bukan hanya penyelenggaraan pameran yang difokuskan, akan tetapi kita harus mampu untuk meningkatkan peran serta asosiasi sebagai wadah primer penggerak pertumbuhan ekonomi nasional, serta memelihara dan meningkatkan iklim bisnis. Selain itu, asosiasi juga harus mampu menampung, meneruskan dan mewujudkan aspirasi anggota,” papar Hoky yang juga menjabat sebagai Pemred BISKOM.

“Saya masih berharap Plan A yang menjadi keputusan Munaslub, dapat terselenggara dengan baik dengan hasil yang bisa mewakili harapan bersama, sehingga tidak perlu repot mendirikan asosiasi baru lagi, kita nantikan hasilnya pada tanggal 14 Januari 2012 mendatang,” tutup Hoky.

Arikel terkait:
BISNIS INDONESIA:
Bola Panas Apkomindo Meledak Di Indocomtech 2011
Apkomindo Yang Tak Pernah Lepas Dari Kekisruhan
DPP Apkomindo desak percepat Munaslub
Kemelut Di Apkomindo, Salah Siapa?
Asosiasi Pengusaha Komputer Akhirnya Pecah
Apa Kata Mereka Soal Perpecahan Apkomindo
Apkomindo Dapat Nahkoda Baru
KEMELUT APKOMINDO : Caretaker tuding Munas Solo ilegal

BISKOM:
APKOMNAS, Plan B Hasil Kesepakatan Bersama
Hakim Sarankan Jalan Damai Untuk Perselisihan Apkomindo
Munas Apkomindo Resmi Digelar
Apkomindo Pilih Soegiharto Sebagai Ketum Baru
Apkomindo Lantik Pengurus DPP Masa Bhakti 2015-2018
Kisruh Apkomindo: Gugatan Penggugat Tidak Dapat Diterima
Menkominfo: Apkomindo Harus Fokus Pada Bisnis Ekosistem

Jelang MEA di Krisis Ekonomi, Apkomindo Bangun Investasi SDM TI dan Lirik e-Commerce

Apkomindo Dukung Pemerintah Bangun Iklim Usaha Yang Sehat

INDOTELKO:
Apkomindo Gandeng Dyandra untuk Bazaar 2016

DETIK:
3 Cara Pemerintah Katrol SDM di Bidang ICT

APKOMINDO:
KILAS BALIK SINGKAT TENTANG SEJARAH INDOCOMTECH
Sidang Gugatan SK Kemenkumham RI, SAKSI PENGGUGAT TIDAK MAMPU BERIKAN PENJELASAN
Sidang Gugatan SK Kemenkumham RI, Hoky Yakin Kebenaran Akan Terungkap

Video terkait:
Video-video Munas Apkomindo 2015 dan Pelantikan Pengurus DPP Apkomindo

Sales Indonesia Bentuk KOMISI

15

Business without sales is a junk. Kalimat ini pernah dipopulerkan oleh Pendiri Datascrip, perusahaan yang bergelut dalam pemasaran produk teknologi infomasi (TI) terdepan di Indonesia. Sang pendiri, Joe Kamdani, menyiratkan bahwa sebuah bisnis tanpa adanya penjualan sama halnya dengan rongsokan. Artinya jelas, betapa signifikannya peran seorang sales dalam perusahaan.

Tapi ironisnya, pandangan masyarakat terhadap sales sangatlah tidak bagus. Akibatnya, banyak lulusan sekolah ataupun universitas yang tidak tertarik menjadi sales, dan sales pun menjadi alternatif profesi pilihan terakhir. Ujung-ujungnya, hal ini berdampak banyak perusahaan yang kesulitan dalam mencari kandidat sales, karena sangat sedikit orang yang mau menjadi sales.

Belum lagi, ada banyak permasalahan yang dihadapi oleh sales people dalam menjalankan pekerjaannya. Kebanyakan sales yang hebat belajar secara otodidak dan berdasarkan pengalaman yang mereka dapat di lapangan. Kondisi ini diperparah dengan masih sangat sedikitnya perusahaan yang peduli untuk memberikan pelatihan kepada tim sales mereka.

Berdasarkan hal itu, para sales people di Indonesia, mulai dari sales rumah, TI, baju, peralatan rumah tangga dan sebagainya, berinistaitif untuk membentuk sebuah komunitas bernama Komunitas Sales Indonesia (KOMISI), yang bisa menjadi wadah untuk saling men-support sesama sales.

Dedy Budiman, Founder KOMISI saat grand launching KOMISI di Jakarta (28/12) mengatakan, “Berdasarkan pengalaman sejak menjadi sales di 1990’an hingga saat ini, saya tidak pernah mendengar ataupun menemukan adanya sebuah wadah ataupun perkumpulan sales yang cukup besar dan bisa menjadi “rumah” bersama bagi para sales. Padahal sales adalah salah satu profesi yang penting dan memberikan kontribusi yang sangat besar bagi perusahaan. Hingga akhirnya, saya mengajak sales-sales yang saya kenal untuk mendirikan KOMISI.”

KOMISI, ujar Dedy yang juga dikenal dengan ‘The Champion Sales Trainer’, memiliki misi untuk memberikan informasi kepada masyarakat Indonesia tentang profesi sales sebagai pilihan terbaik. Secara berkala, nantinya komunitas ini juga akan memberikan pelatihan tentang salesmanship, pembekalan tentang sales ethic dan profesionalisme sales kepada para anggota.

Badan Pembina KOMISI, Soegiharto Santoso menambahkan, kedepan ada beberapa project yang harus dikerjakan KOMISI. “Bersama Dedy Budiman, di awal tahun 2012 akan ada banyak roadshow training, diantaranya di Malang, Lampung, Pontianak, Kendari, Palu, Manado dan Bandung. Agenda yang tak kalah penting adalah Kopi darat dan training dengan tema “From Sales with Love” pada bulan Februari 2012 yang menargetkan peserta 1.000 orang sales dari seluruh Indonesia. Pada kesempatan ini juga direncanakan untuk membentuk chapter-chapter KOMISI di seluruh pelosok Indonesia,” papar Soegiharto yang biasa disapa Hoky ini.

Thomas Sugiarto yang juga menjabat sebagai Badan Pembina KOMISI berharap, “Melalui KOMISI, kami berharap dapat membangun Profesi Sales yang telah ada dengan lebih sempurna dan penuh kebanggaan. Para anggota juga bisa mendapatkan pelatihan-pelatihan melalui seminar dan forum dari pembicara yang terpercaya maupun pakar sales secara cuma-cuma ataupun dengan biaya yang sangat terjangkau. Dengan begitu, para sales bisa memperluas hubungan dan jaringan dengan sales person dari berbagai peringkat terutama dengan para senior di seluruh Indonesia.”

Pada kesempatan yang sama, Aster Theresia Sitohang, Ketua Badan Pengurus Harian KOMISI memaparkan, dengan rasa optimisme yang tinggi dan kesatuan hati untuk mencapai visi bersama, maka dalam acara soft launching KOMISI juga telah terbentuk kepengurusan KOMISI Pusat. Kendati baru berdiri, KOMISI telah memiliki koordinator daerah yang meliputi Jabodetabek, Yogyakarta, Semarang, Malang, Surabaya, Palembang, Riau, Medan dan Makassar.

Di hari yang sama, tambah Aster, juga telah terlaksana agenda awal yaitu Sales Gathering atau Kopi Darat serta sales training bertema “Sales Resolution 2012” dengan peserta lebih dari 100 orang sales dari Jakarta dan dari berbagai kota lainnya.

Untuk menjadi bagian dari KOMISI, para sales di seluruh Indonesia dapat bergabung dengan mengirimkan email ke komunitassalesindonesia-subscribe@yahoogroups.com dan di cc-kan data pribadinya ke komunitassalesindonesia-owner@yahoogroups.com atau ke Fanpage www.facebook.com/komunitassalesindonesia atau Twitter @KOMISI_Crew.

Soft launching KOMISI dan Sales Gathering didukung oleh Datascrip, Dell, Galeri Elektronik, Forceum, Olympic, Canonserta, Bantex office stationery dan Majalah BISKOM sebagai media partner.

Sales & Marketing Forum adakan seminar “The Social Media Sales Revolution”

0

KEHADIRAN LinkedIn, Twitter, Facebook dan media jejaring sosial lainnya telah merevolusi dunia bisnis. Para profesional, konsumen dan calon pembeli lainnya berbondong-bondong menggunakan media jejaring sosial ini.

Dan sebagai seorang sales, Anda wajib menggunakannya untuk menjemput para calon pembeli. Hal tersebut dikatakan Dedy Budiman, The Champion Sales Trainer, pada acara Sales and Marketing Forum yang menghadirkan seminar bertema “The Social Media Sales Revolution” di Hotel Atlet Century Park, Jakarta (15/12/2011).

“Setelah media jejaring sosial muncul, penjualan tradisional yang mengandalkan penawaran melalui telepon menjadi terasa kuno. Platform media sosial sekarang adalah alat terbaik Anda. Internet merupakan sebuah terobosan untuk mendominasi pasar,” ujar Dedy.

Di kesempatan yang sama, Willy Hendrajudo, Consumer Marketing Manager Dell mengatakan, “Tahukah Anda bahwa @Delloutlet mempunyai 1,5 juta follower dan mendapatkan income penjualan US$ 3 juta dalam 2 tahun? Kemudian @Dellnobrasil mendapatkan US$ 800.000 dalam waktu 8 bulan? Kenyataan ini membuat perusahaan dan para sales tidak dapat lagi mengabaikan keberadaan media jejaring sosial.”

Dell sebagai perusahaan teknologi informasi yang besar menaruh perhatian lebih terhadap sistem penjualan di perusahaannya. Selain mengandalkan media jejaring sosial, Dell memiliki layanan 24 jam dimana pelanggan bisa dengan cepat dilayani dari setiap masalah yang mereka temui pada solusi maupun produk yang ditawarkan Dell.

Acara Sales & Marketing Forum ini akan di selenggarakan secara berkala dan disupport penuh oleh James Gwee Success Center serta Biskom sebagai media partnernya.

South East Asia Managing Director Edimax: KENNETH TEH, Edimax Berikan Layanan Tepat Waktu

0

Edimax memang terbilang baru memasuki pasar Indonesia, meski telah didirikan di Taiwan sejak 1986. Menyusul brandbrand Taiwan lain yang sudah terkenal, Edimax siap bertarung meraih market seluas-luasnya di bidang teknologi jaringan dan CCTV.

EDIMAX Technology mulai dikenal di tanah air terutama sejak pemerintah Taiwan melalui organisasi nirlaba bernama Taiwan External Trade Development Council (TAITRA), mulai gencar memperkenalkan brand-brand Taiwan ke banyak negara, setidaknya mulai tiga tahun lalu. Sedianya, Edimax merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang desain, pengembangan, manufaktur dan pemasaran beraneka ragam IT Network Solution yang berkantor pusat di Taiwan dan China. Perusahaan tersebut memiliki kantor-kantor cabang di seluruh dunia serta memiliki Tim Penelitian dan Pengembangan (Engineering Edimax Technology) yang profesional.

Pengalaman yang panjang juga memberikan kontribusi yang besar pada keberhasilan Edimax dalam mengembangkan produk–produk baru berkualitas guna memenuhi kebutuhan pasar dengan cepat. Manajer Direktur Edimax Asia Tenggara, Kenneth Teh menjelaskan, Edimax secara global meliputi beberapa anak perusahaan di Amerika Serikat, Asia dan Eropa. Kenneth mengatakan, kehadiran Edimax di Indonesia adalah untuk memperkenalkan produk-produk Edimax yang
pastinya sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas di Indonesia.

“Dengan kantor–kantor cabang di seluruh dunia, kini perusahaan kami sanggup melayani lebih dari 70 negara melalui saluran distribusi, termasuk di Indonesia dengan layanan logistik tepat waktu serta dukungan purna jual kepada para pelanggan,” ujar pria muda kelahiran 19 Mei 1977 ini kepada BISKOM saat kunjungannya ke pameran Indocomtech 2011 di Jakarta (4/11).

Sebagai langkah awal memperkenalkan Edimax ke pasar Indonesia, pertengahan Agustus lalu, Edimax telah mengumumkan penunjukkan PT Global Master Technology sebagai distributor resmi Indonesia untuk platform product Edimax Technology, antara lain produk jaringan dan IP Surveillance.

Dipilihnya PT Global Master Technology lantaran dianggap memiliki komitmen yang sama dan keselarasan dalam mengembangkan penjualan lokal dan untuk meningkatkan pangsa pasar Edimax di Indonesia.

Kepada BISKOM pula, Kenneth yang meraih gelar Bachelor bidang Accounting dan Finance serta Master di bidang IT Management, memaparkan lebih jauh tentang keandalan teknologi IP surveillance dan solusi jaringan bagi perusahaan besar, pengguna rumahan serta Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang meliputi switch PoE, server video, jaringan video perekam, solusi nirkabel, perangkat lunak pusat manajemen, dan kamera jaringan. Simak petikan wawancara kami dengan Kenneth yang mempunyai hobi bermain sulap, travel dan olah raga ini.

Bagaimana deskripsi pekerjaan Anda selaku Direktur Managing Asia Tenggara di Edimax?
Sebelumnya, perlu diketahui bahwa Edimax sudah berdiri selama 26 tahun sejak 1986. Saat ini kami menjadi top 5 atau lima besar produsen jaringan di dunia. Sementara saya sendiri telah bekerja di perusahaan ini selama sembilan tahun. Sebelumnya saya juga sempat menjabat Direktur Utama Edimax di Inggris.

Sebagai Direktur Managing Asia Tenggara, saya bertanggung jawab untuk mengelola dan membangun bisnis di wilayah ini dan saya harus membentuk tim anggota yang dapat diandalkan.

Edimax adalah merek baru di Indonesia. Bagaimana Edimax memperkenalkan produk-produknya di Indonesia?
Sebagai sebuah merek baru di Indonesia, kami sangat fokus untuk membangun jaringan ritel bersama dengan mitra distribusi kami, PT Global Master Technology. Tujuan kami adalah untuk menawarkan berbagai merek dengan kualitas handal, yang didukung struktur layanan dan harga yang konsisten. Kami ingin semua mitra ritel kami mendapatkan win win solution dalam penjualan produk Edimax.

Bagaimana pendapatan Edimax secara global?
Pendapatan bersih kami pada 2010 mencapai US$ 110 juta. Sebagai informasi, kami masuk dalam daftar “100 Pertumbuhan Tercepat Taiwan” di Majalah Common Wealth, sehingga kedepan kami optimis dapat mencapai pendapatan yang lebih tinggi.

Apa saja kendala ketika Edimax saat memperkenalkan produknya ke beberapa negara, khususnya di Indonesia?
Pertama adalah kendala harga, lalu kesadaran akan merek dan teknologi terbaru yang telah kami kembangkan. Namun kendala seperti ini juga dialami oleh pesaing kami.

Edimax memiliki banyak jenis produk. Produk mana yang akan diperkenalkan di Indonesia?
Produk-produk kami sangat banyak. Terdapat lebih dari 200 stock keeping unit (SKU). Kami mengklaim Edimax sebagai satu penyedia solusi jaringan one stop services untuk pasar usaha kecil menengah dan perkantoran (SMB SoHo). Dalam jangkauan kami, kami telah memperkenalkan banyak produk untuk berbagai kalangan yang membantu kami untuk menguasai kalangan mikro. Kami juga memperkenalkan seri router dengan cakupan yang luas, serta USB untuk memanjangkau klien baru.

Apa teknologi CCTV terbaru yang diperkenalkan Edimax?
Edimax telah bertahun-tahun berpengalaman di bidang teknologi informasi dan CCTV sehingga dapat mengetahui bagaimana menghasilkan serangkaian solusi IP Surveillance yang dapat masuk ke pasar rumahan dan perusahaan Saya menyebut ini dengan “Solusi Jaringan Pemantauan”. Saya kira Surveillance IP akan tumbuh drastis dalam beberapa tahun mendatang, melebihi CCTV. Alasannya karena dapat menghasilkan kualitas gambar yang lebih baik yang berteknologi full high definition (HD), manajemen jarak jauh yang lebih baik juga dilengkapi platform Central Monitoring Software (CMS) yang terpercaya. Selain itu, solusi kami juga datang dengan 64 saluran Viewer dapat bertindak sebagai perangkat lunak Network Video Recording (NVR), yang mampu membantu untuk menghemat biaya
operasional perusahaan.

IP Camera Surveillance dan Networking Solutions sangat penting sekali untuk pengawasan usaha. Berbeda dengan CCTV biasa yang jika terjadi perampokan atau pembobolan, maka servernya bisa sekalian dibawa oleh perampok atau pembobolnya, sedangkan IP Camera Surveillance dan Networking Solutions, menggunakan NVR yang dapat disimpan di tempat yang aman, bahkan di tempat yang berbeda dengan lokasi CCTV-nya, sehingga tidak mungkin dibawa perampok.

Untuk membawa industri video surveillance ke era jaringan digital, Edimax mengintegrasikan berbagai keunggulan pada produk network camera seperti fitur HD dan full HD, kecepatan yang lebih baik, serta rasio gambar terbaik yang menghasilkan image lebih jernih dibandingkan kamera analog, meski tidak menggunakan bandwidth atau jaringan infrastruktur yang sempurna.

Apa rencana Edimax di tahun depan? Apa target yang diharapkan?
Kami ingin mendirikan dan mendukung reseller portal jejaring yang baik, yang mampu mendukung stabilitas harga dengan kualitas pelayanan purna jual yang prima. Target kami meraih penetrasi sepenuhnya dalam saluran ritel dan berharap menjadi top 5 merek jaringan di Indonesia.

Selain Indonesia, negara mana yang akan Edimax harapkan di tahun depan?
Saya sendiri memimpin cakupan daerah lain yang meliputi Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, Myanmar dan Kamboja. Saat ini, kami berada di top 3 merek ritel di Taiwan dan Asia Tenggara.

Bagaimana dengan router terbaru dari Edimax?
Ada dua seri, antara lain BR-6258N: router N150 yang merupakan router terkecil di dunia untuk perangkat mobile. Edimax telah menciptakan solusi jaringan lengkap dan terjangkau dengan BR-6258n ini.

Sebagai sebuah access point, router ini unggul di jaringan 802.11n dengan kecepatan downlink dan uplink masingmasing 56Mbps dan 64Mbps. Keunggulan lain dari BR- 6258n diantaranya bentuk yang kecil, bergaya, dan hemat energi. Ia juga menjadi perangkat Wi-Fi 3-in-1 (router nirkabel, Wi-Fi extender dan adaptor nirkabel) yang sempurna, kompatibel dengan 802.11n standar (maksimal 150Mbps data rate) dan dilengkapi dengan tombol Wi-Fi Protected Setup (WPS).

Yang kedua, kami juga tengah merilis router terbaru yakni BR-6675ND tipe N450 yang menjadi router droadbandnirkabel dual band. Perlu dicatat, banyak dari router broadband kami yang segera hadir dengan fitur-fitur baru seperti iQsetup untuk pengaturan CDless, setup koneksi internet dan keamanan nirkabel dalam tiga langkah. Juga ada fitur iQos.

Apa itu iQ Setup?
iQ Setup memungkinkan pengguna untuk mengatur router Edimax dengan iPhone atau komputer secara cepat dan mudah. Dengan pengaturan iQ, sebagian besar proses setup dilakukan secara otomatis. Pengguna tidak perlu melakukan dan tidak diperlukan CD instalasi. iQ Setup dapat diimplementasikan mulai kuartal-4 2011 pada router Edimax BR-6228nS, BR-6228nC, BR-6258n, dan BR-6428nS. iQ Setup dirancang dengan teknologi cerdas yang mampu mendeteksi jenis koneksi Internet Anda secara otomatis dan menyelesaikan sebagian besar konfigurasi untuk Anda.

Setelah sambungan kabel yang diperlukan selesai, hal yang perlu Anda lakukan adalah membuka iPhone, iPad, iPod atau web browser komputer, kemudian iQ Setup akan mulai mendeteksi jenis koneksi Internet Anda secara otomatis. Tidak perlu melakukan log in atau konfigurasi router dengan alamat IP dan tidak diperlukan CD instalasi. iQ Setup akan menentukan apakah jenis koneksi Anda adalah IP dinamis, PPPoE atau yang lainnya, dan meminta informasi lainnya bila diperlukan. iQ Setup akan menyelesaikan proses setup dan membantu Anda membangun jaringan Wi-Fi yang aman. Dengan Edimax iQ, semua bagian yang paling penting dalam mendirikan sebuah router dapat dilakukan dengan cepat, mudah, dan secara otomatis.

Bisa dijelaskan kondisi ekonomi di Taiwan, terkait dukungan pemerintah bagi perusahaan Taiwan untuk berkembang secara global?
Taiwan terus bermigrasi ke arah negara maju dengan tingkat pertumbuhan PDB 4% pertahun, ini sangat luar biasa. Dengan hampir 30 tahun pengalaman di industri manufakturi TI dan inovasi, pemerintah Taiwan telah menjalankan program “Taiwan Excellence Awards” selama lebih dari 20 tahun serta Taiwan Trade Centre di seluruh dunia untuk mendukung branding Taiwan yang berbasis perusahaan TI agar mampu berkembang secara global.

Selain itu, pemerintah Taiwan terus bekerjasama untuk bertemu dengan industri TI dengan mensponsori beasiswa universitas. Ini adalah momentum yang terus berkelanjutan untuk mendukung perusahaan Taiwan mau berkembang secara global.

Apa keuntungan bagi Edimax sebagai anggota Taiwan External Trade Development Council (TAITRA)?
Banyak sekali keuntungan yang bisa kami peroleh, diantaranya dapat mempromosikan produk Edimax di seluruh Indonesia. Edimax juga telah memenangkan sejumlah penghargaan, antara lain kami telah merancang router terkecil di dunia.

Selain itu, kami telah mempromosikan server, proyektor dan serangkaian produk rumahan lainnya ke banyak negara. Berkat kerjasama dengan TAITRA, kini Edimax memiliki banyak mitra bisnis di Indonesia, yang kami harapkan dapat terus meningkat dan saling menguntungkan bagi kedua negara.

IOSA Anugerahkan Award Bagi Jawara OSS

0

Rangkaian kegiatan Indonesia Open Source Award (IOSA) 2011 baru saja berakhir. Selaku pemrakarsa,  Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika kemarin (8/12) menyerahkan penghargaan kepada 9 finalis, yang terdiri dari instansi pemerintah, baik di  tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten atau kota yang telah melaksanakan proses migrasi dan implementasi open source software (OSS) di instansinya masing-masing.

Direktur Jendral Aplikasi Informatika Kemenkominfo, Ashwin Sasongko saat memberikan penghargaan di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, mengatakan, penghargaan ini diberikan setelah melalui serangkaian penilaian dan  pengamatan di berbagai instansi mengenai sejauh mana tingkat pemanfaatan dan pengimplementasian OSS dalam aktivitas organisasi.

“Salah satu keuntungan pemanfaatan OSS adalah adanya efisiensi penggunaan anggaran pemerintah karena OSS memiliki sumber kode terbuka, sehingga siapapun dapat mengembangkan piranti lunak tersebut,” papar Ashwin.

Selain itu, tambahnya, negara berharap ketergantungan masyarakat pada suatu perusahaan pembuat piranti lunak tertentu ataupun penggunaan software bajakan, dapat dihilangkan. Dengan demikian diharapkan industri piranti lunak dalam negeri dapat mengembangkan piranti lunak tersebut sehingga mampu menumbuhkan industri informatika dalam negeri.

“Pemerintah telah berupaya untuk terus mempromosikan pemanfaatan OSS khususnya di instansi pemerintah. Tetapi pemanfaatan OSS di instansi pemerintah masih belum merata. Untuk itulah perlu dilakukan berbagai bentuk sosialisasi betapa pentingnya penggunaaan OSS untuk memberikan layanan publik yang prima,” kata Ashwin.

Di tahun ini, Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Kementerian Kehutanan serta Kementerian Pemuda dan Olah Raga berturut-turut memenangkan penghargaan dalam Kategori Kementerian dan Lembaga Pemerintah non Kementerian.

Untuk kategori Pemerintah Provinsi dan Kabupaten, penghargaan diberikan kepada Kota Pekalongan, Jembrana dan Surabaya.

Sementara Penghargaan Khusus diberikan antara lain kepada Bank Indonesia, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Pemkot Balikpapan, Pemkab Kebumen, Pemkab Banyuasin, Pemkot Denpasar, Pemkab Lamongan, Pemkab Batanghari dan Pemkab Aceh Tengah.

Kategori SMA/MA, penghargaan diraih oleh  SMA Muhammadiyah 1 Waleri, Madrasah Aliyah Al-Hikmah 2 dan SMK IT Smart Informatika Surakarta. Dan tak ketinggalan, penghargaan khusus juga dianugerahkan kepada SMK PGRI 3 Malang, SMK Negeri Pasirian, SMA IT Ummul Quro Bogor dan SMAN 39 Jakarta.

Selain acara penganugerahan, juga digelar dua talkshow yang membahas tentang  pemanfaatan OSS untuk penyediaan pelayanan publik yang prima bagi Instansi Pemerintah dan peran OSS dalam pengembangan industri dan kesempatan kerja.

Acara ini juga diramaikan dengan pameran yang diikuti oleh berbagai vendor dan developer dengan memfokuskan pada solusi, bukan sekedar teknologi atau program. Pengunjung dapat melakukan konsultasi singkat berkaitan dengan permasalahan yang ditemui pada penggunaan OSS.

Solusi yang ditawarkan pada pameran kali ini diantaranya solusi perkantoran, digital library, eGoverment, mobile telecommunication, jaringan, animasi dan multimedia, serta distro dan diramaikan juga oleh komunitas open source serta anggota Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI).

MATT BENNETT, Hemat Bandwidth Dengan Teknologi Caching

2

Jumlah pengguna internet di tanah air semakin meningkat. Hal ini mempengaruhi permintaan akan peningkatkan kinerja dan kapasitas bandwidth untuk memudahkan pengguna mengakses berbagai konten yang diinginkan.

Sayangnya, masih mahalnya harga bandwidth dan kurang bagusnya infrastruktur menjadi kendala dalam memenuhi kebutuhan akses internet tersebut. Beruntung, setiap persoalan ada jalan keluarnya. Berbagai perusahaan penyedia layanan atau service provider internet telah memberikan solusi yang terbaik kepada pelanggannya.

Dalam memenuhi kebutuhan bandwidth yang murah dengan akses cepat, belum lama ini dalam kunjungannya ke Jakarta, Vice President, Cares Sales, Asia Pacific & Middle East, Blue Coat, Matt Bennett, memperkenalkan teknologi Caching yang mampu menekan harga bandwidth sekaligus mempercepat akses internet.
penggunaan bandwith dengan teknologi Caching “Blue Coat CacheFlow Appliance 5000 Series” yang merupakan solusi baru untuk bisnis perusahaan penyedia layanan internet dengan meyiasati penggunaan bandwith dgn teknologi Caching,” ucap Bennet yang telah tergabung di Blue Coat sejak 2003.

Apalagi lulusan Cardiff University ini melihat, penggunaan internet saat ini telah menuju era web 2.0, serta meningkatnya aktivitas mendownload data berukuran besar dan video-video yang memberikan tantangan bagi semua perusahaan penyedia layanan internet untuk memberikan jaringan terbaiknya.

“Bila penyedia layanan mampu memberikan perbedaan harga yang lebih kompetitif dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan lainnya, tentunya ini akan menambah minat pengguna layanan tersebut,” tambahnya.

Blue Coat merupakan Perusahaan TI global dari Sunnyvale, California, yang berdiri sejak sepuluh tahun lalu. Saat ini sudah melayani 15,000 customer global yang diantaranya adalah perusahaan-perusahaan dalam list Fortune Global 500 seperti Alcatel Lucent, TNT dan service provider lain diseluruh dunia, seperti Nebula Solutions Group, Twin Valley Telephone, Telecom New Zealand serta perusahaan-perusahaan dari beragam industri seperti ACE Insurance, Makro, Tenneco,  Texas Children Hospital, Thomson Reuters, dan masih banyak lagi.

Berikut petikan wawancara Biskom dengan Matt Bannett di sela kunjungannya ke Jakarta.

Apa keunggulan dari teknologi CacheFlow?
Blue Coat CacheFlow adalah kinerja tinggi dari solusi web caching yang dirancang untuk membantu penyedia layanan menghemat bandwidth secara signifikan dan mempercepat pengiriman konten sepert Web 2.0, termasuk video. CacheFlow dan  memberikan kemudahan untuk mendukung lebih banyak pengguna dan volume lalu lintas yang lebih besar dari waktu ke waktu.

Selain itu juga tersedia built-in tools untuk pelaporan lalu lintas web dan penyaringan untuk melindungi pengguna. Dengan CacheFlow,  Anda tidak harus membeli bandwidth yang mahal untuk memenuhi tujuan kinerja. Menggunakan CacheFlow, Anda dapat secara dramatis mengurangi biaya infrastruktur dan memberikan pengalaman web yang lebih responsif.

Bagaimana CacheFlow ini mampu menekan bandwidth tetapi bisa meningkatkan akses lebih cepat lagi?
Banyak konten internet popular host-nya berada di Amerika maupun Eropa seperti video-video yang membutuhkan bandwith cukup besar. Tidak hanya satu orang saja tetapi banyak orang yang akan melihat video tersebut, tentunya ini akan memperlambat akses internet.

Biasanya perusahaan Telko atau service provider menyambungkan link ke negara-negara luar tersebut melalui kabel laut atau satelit. Nah, dengan solusi Blue Coat ini bisa di-recall, jadi kalau ada teman-teman lain akan mengakses video tidak perlu lagi jauh-jauh ke link yang ada di luar karena di lokal sudah ada kontennya dan aksesnya akan lebih cepat. Jadi lebih cepat dan menghemat bandwidth dan kontennya sendiri kalau ada perubahan langsung otomatis update di lokal cache-nya.

Bagaimana dengan security-nya?
Kami melihat, potensi virus yang masuk itu tidak hanya dari webpage seperti malware ataupun spam. Jadi tidak cukup kalau proteksinya itu hanya dari anti virus di desktop saja. Kami melakukannya proteksi itu dari gateway yang mampu mendeteksi web yang berbahaya, seperti sekarang ini modelnya ada email yang dikirim masuk ke email kita dengan mengundang masuk kesuatu social network tertentu.

Kita harus mengklik URL itu untuk melihat link yang ditampilkan, saat diklik maka virusnya akan masuk dari sana. Blue Coat sangat mengerti internet, bahwa tiap hari itu kami menganalisa milyaran URL baru, jadi kami tahu persis ERL itu beneran atau tidak. Ini akan menghalangi kita dari terkena virus karena terproteksi terlebih dahulu.

Di Indonesia untuk layanan ini Blue Coat sudah melakukan kerjasama dengan siapa saja?
Saat ini kami sedang melakukan kerjasama dengan beberapa perusahan, tetapi belum bisa disebutkan karena masih dalam proses. Kami melihat, sebetulnya Indonesia mempunyai persoalan yang sama dengan negara lainnya.

Seperti  New Zealand Telecom salah satu klien kami yang banyak mengakses konten dari Amerika dan Eropa, sebelumnya merupakan provider terterjelek di negaranya, tetapi setelah mengimplementasikan teknologi dari Blue Coat bisa menjadi provider nomor satu. Kami juga menginginkan hal ini terjadi di Indonesia.

Apa yang membuat Anda yakin teknologi ini akan bermanfaat di Indonesia?
Salah satu alasannya adalah mengenai komponen bahwa Indonesia sejak Bapak Tifatul Sembiring menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika, mereka menerbitkan sekitar 4 juta link yang perlu diblok. Pemblokiran ini tentunya dilakukan di sisi service provider-nya, untuk melakukan itu sebetulnya solusi ini ada di belakangnya.

Dan lagi-lagi dari sisi provider sendiri mereka harus beli bandwidth ke internasional. Dengan adanya solusi Cache ini banyak orang yang mengakses tidak perlu langsung ke internasional tetapi ke box lokal yang secara otomatis juga akan terfilter link yang tidak diingkan dan itu bisa mempercepat dan menghemat biaya dan bandwidth

Cyberoam CCNSP Ciptakan Profesional Security

0

Cyberoam, perusahaan terkemuka di bidang keamanan yang berbasis identitas Unified Threat Management (UTM) menggelar pelatihan Cyberoam Certified Network & Security Professional (CCNSP) di Jakarta selama dua hari, 5 hingga 6 Desember 2011.

Pelatihan ini memberikan pengetahuan dan keterampilan tentang security serta up-to-date tren terbaru ancaman kemanan agar peserta bisa menjadi seorang ahli dalam bidang security.

Menghadirkan trainer asal India, Vivek Abhani dengan pengalaman 2 tahun sebagai PreSales Engineer di Cyberoam, peserta diberikan pengetahuan tentang  Evolution of Enterprise Security dan Implementing Cyberoam devices in the network yang memungkinkan para profesional keamanan untuk menjadi akrab dengan dasar-dasar jaringan dan keamanan UTM serta pengetahuan praktis penyebaran, konfigurasi dan manajemen berbasis identitas Cyberoam UTM device di dalam perusahaan yang kian kompleks.

Pihak penyelenggara, PT. Raditya Mulia Lestari (RML) yang merupakan distributor tunggal untuk produk Cyberoam sudah ketiga kalinya menyelenggarakan event ini sejak masuknya Cyberoam ke Indonesia pada September 2008.

Cyberoam sendiri di negara asalnya Amerika baru berdiri tahun 2004 namun pertumbuhannya sudah begitu cepat. Hal ini terlihat dalam waktu dua tahun saja, produknya telah tersebar di 60 negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Swiss, Republik Ceko, Australia dan lainnya.

“Pelatihan ini merupakan agenda tahunan yang sudah rutin dari Cyberoam pusat. Pastinya semua fitur yang ada dalam Cyberoam akan menjadi materi utama yang kami latih, termasuk bagaimana cara menkonfigurasi dan juga secara singkat problem solving-nya,” ucap Jimmy Hadian, Direktur RML.

Fitur-fitur unggulan Cyberoam sendiri saat ini diantaranya ada Antivirus, Antispam, IPS, Web Content Filtering, Bandwidth Management, VPN dan Reporting. Dengan pengenalan fitur-fitur ini, maka nantinya peserta dapat me-manage secara maksimal perangkat network yang dipasang dari sisi network pengguna jaringan ataupun internet.

Diikuti sekitar 35 peserta yang terdiri dari partner, reseller dan pelanggan Cyberoam, pelatihan kali ini mengalami peningkatan kuota, yang seharusnya hanya 20 orang saja dalam satu sesi.

Menurut Jimmy, peningkatan ini membuktikan semakin banyaknya  minat terhadap teknologi yang diberikan Cyberoam. Kedepannya RML akan membuat dua sesi yang berbeda, dan dari sisi peserta akan mencoba masuk ke perguruan tinggi ataupun institusi yang konsen pada teknologi informasi untuk memperbanyak enginer-enginer yang memahami teknologi Cyberoam.

“Pelatihan CCNSP sangat berguna, karena dari sisi sertifikasi akan memberikan kemudahan bagi lulusannya untuk menerapkan pengetahuan Cyberoam di perusahaanya ataupun di tempat lain. Bahkan bisa diterapkan di produk lain dari CCNSP ini, karena bila berbicara security, konsep-konsep dasarnya sama,” ujar Jimmy seraya menjelaskan bahwa training ini sangat berguna walaupun peserta bukan user dari Cyberoam, karena dia akan mengetahui konsep network itu sama.

Tidak hanya berhenti di CCNSP, papar Jimmy, ada jenjang lain setelah itu yaitu ketingkat Cyberoam Certified Network & Security Expert (CCNSE) dan Cyberoam Certified Trainer (CCT) yang merupakan level paling atas untuk menjadi trainer di Cyberoam. Namun untuk Indonesia, belum hanya ada level CCNSE.

Terus mencoba menghadirkan produk terbaik dengan suport terbaik, RML mendukung 4 mayor segmen dari Cyberoam sendiri. Selain UTM yang mempunyai sekitar 15-16 model, ada namanya Cyberoam End Point Data Protection (EPDP) berupa software yang diinstal pada server untuk melakukan proteksi dan enskripsi data. Kemudian Cyberoam Control Console (CCC) yang berfungsi untuk me-manage semua unit Cyberoam UTM yang dimiliki oleh perusahaan. Terakhir, Cyberoam I-View, adalah reporting appliance untuk menarik report dari Cyberoam dan perangkat security lain. Selanjutnya untuk meningkatkan layanan, Cyberoam akan mengarah ke cloud base computing.

Telah Terbit BISKOM Edisi Desember 2011

0

Majalah BISKOM kali ini menampilkan cover Managing Director Edimax Technology, South East Asia, Kenneth Teh (Terima kasih kepada Edimax Technology yang turut mendukung Majalah BISKOM). Dalam kesempatan ini, kami sekaligus menawarkan kepada seluruh pembaca untuk bekerjasama saling menguntungkan dengan Majalah BISKOM, baik berupa pengiriman artikel TI, mengadakan seminar, workshop dan pameran serta kegiatan-kegiatan lainnya yang berkaitan dengan dunia TI.

Topik menarik Majalah BISKOM Edisi Desember 2011 diantaranya:

• COVER STORY: Managing Director Edimax Technology, South East Asia, Kenneth Teh: Edimax Berikan Layanan Tepat Waktu

• FIGURE:
Walter Yeh,  Executive Vice President for Taiwan External Trade Development Council (TAITRA): Indonesia, Partner Kesepuluh Terbesar Bagi Taiwan
Cathy Sharon, Duta Taiwan Excellence Indonesia: Soal TI, Indonesia Harus Belajar Dari Taiwan
Agus Rahardjo, Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP): Efisiensi e-Proc Capai 14%

• HEADLINE:
TI Lekatkan Indonesia-Taiwan

• FOCUS:
Mampukah e-KTP Capai Target?
Terdakwa Kasus iPad Divonis Bebas

• INSPIRATION:
Richardus Eko Indrajit: Karakteristik SDM di Bidang TI
Bob Julius Onggo: Mengapa Pemasaran Online Tak Berhasil?

• REVIEW & CELLULAR:
Edimax EW-7733UnD N750 dan Edimax BR-6258n
Dell Inspiron One 2330 dan Toshiba Qosmio DX730
Lenovo Ideapad S100 dan Hp Pavilion G4
Canon EOS 1D, Nikon V1 dan Ricoh GR Digital IV
Asus Zenbook dan Kingston SSDNOW V
D-Link DCS-932L dan Trandscend SSD Scope

Dapatkan Majalah BISKOM di Toko Buku Gramedia dan Gunung Agung atau berlangganan melalui Bagian Sirkulasi Majalah BISKOM. Untuk review, ujicoba, update harga produk dan kegiatan perusahaan Anda, hubungi redaksi[at]biskom.web.id

DPR Siap Gunakan TI Secara Tepat

0

Di tengah sorotan publik yang keras terhadap kinerja pemerintah, Dewan Perwakilan  Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) sebagai lembaga yang menjalankan Fungsi  Legislasi, Fungsi Anggaran dan Fungsi Pengawasan negara, bertekad untuk segera melakukan sejumlah perbaikan yang efisien.

“Tanpa perbaikan kinerja di lembaga DPR, akan sulit untuk tetap responsif dalam mengakomodir aspirasi masyarakat,” ujar  Ketua DPR RI, Marzuki Alie disela kesibukannya di Gedung DPR RI Jakarta kepada BISKOM (30/11).

Perbaikan yang dimaksud antara lain adalah telah dilakukannya pembahasan terhadap 23 Rancangan Undang-undang (RUU), baik RUU inisiatif DPR maupun dari Pemerintah. Dari 23 RUU tersebut 10 RUU diantaranya telah disetujui menjadi Undang-undang.

Selama tahun 2011, sebutnya,  “DPR juga berusaha menjalankan fungsi pengawasan, diantaranya Tim Pengawas Century, Tim Khusus DPR terhadap Penanganan tenaga kerja Indonesia (TKI) di Saudi Arabia, Tim Pengawas Otonomi Khusus Aceh dan Papua, juga ada Tim Pengawas DPR terhadap sistem pelayanan kesehatan masyarakat dan lain sebagainya.”

Sementara di bidang teknologi informasi (TI), DPR telah merilis Layanan Informasi Publik, baik melalui  SMS maupun website. “Kami ingin ada perubahan di masyarakat agar melakukan pengaduan melalui sarana teknologi informasi (TI)  sehingga pengaduan dapat ter-record  dengan baik.  Melalui sistem informasi, maka aspirasi masyarakat dapat disampaikan ke satu  pintu tetapi melalui berbagai cara. Bisa melalui surat, datang langsung, SMS maupun melalui website,” kata Marzuki.

Kendati demikian, tambahnya, aspirasi tidak akan bermanfaat jika wakil rakyat di DPR tidak merespon dan merealisasi tuntutan masyarakat. “Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, DPR banyak mendapatkan kritik, namum  semua kritik harus dijawab, tidak hanya dalam bentuk argumentasi pembenaran, tetapi dengan langkah-langkah nyata,” ujar Marzuki.

Dengan memanfaatkan situs resmi dpr.go.id, DPR akan merespon pengaduan dan aspirasi masyarakat dari berbagai daerah. Situs ini, tambah Marzuki, sekaligus  digunakan  untuk memaparkan agenda DPR, termasuk kunjungan kerja anggota DPR ke luar negeri.

“Sistem  informasi yang diharapkan oleh masyarakat adalah yang bisa mengakses informasi dengan cepat serta mampu menjembatani proses penyampaian  tuntutan atau aspirasi mereka dengan mudah kepada pemerintah,”  jelas Marzuki.

Terkait layanan informasi publik, kata Marzuki, hal tersebut merupakan amanat UU KIP dalam rangka memberikan informasi publik sehingga masyarakat dapat melihat secara online prosesnya, tata cara, status permohonan dan dapat segera direspons  sesuai amanat UU yang berlaku.

“Karenanya, kami siap memanfaatkan TI secara tepat demi kesejahteraan bersama,” terangnya.

Bagi masyarakat yang ingin menyampaikan pengaduan, dapat mengakses http://pengaduan.dpr.go.id, atau mengirim SMS aspirasi DPR RI ke 08119443344. Sementara untuk pelayanan informasi publik online DPR RI dapat mengakses http: //ppid.dpr.go.id.

Meski dikenal sebagai politisi, perkembangan TI rupanya tak luput dari perhatian Marzuki. Dirinya pernah dipercaya menjadi Ketua Forum Komunikasi Ahli Komputer BUMN Semen Indonesia (1992- 1996).

Ia pun memiliki banyak ide bagaimana TI dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian bangsa. Apa saja? Simak wawancara kami selengkapnya dengan Marzuki Alie di  Majalah BISKOM edisi Januari 2012 mendatang.

Kemelut di Apkomindo, salah siapa?

0
Kemelut di Apkomindo, salah siapa?, Sumber: Bisnis.com.

Jakarta, BISKOM – Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) terancam makin tenggelam dari hingar bingar teknologi informasi di Indonesia.

Perannya sebagai motor penggerak industri peranti keras PC makin tak terdengar siring dengan konflik berkepanjangan yang melibatkan anggota, pengurus, dan Dewan Pertimbangan Apkomindo (DPA) Pusat.

Konflik tersebut diduga dipicu oleh manuver dari DPA Pusat yang secara sepihak membekukan kepengurusan DPP Apkomindo pada 19 September 2011.

Perlu diketahui, Ketua Apkomindo pertama, yaitu Sonny Franslay (1992-1996, 1996-1999), tapi masih sebatas Jakarta saja, kemudian dilanjutkan oleh Hidayat Tjokrodjojo yang sudah mencakup nasional (1999-2002, 2002-2005), yang kemudian dilanjutkan oleh Henkyanto Tjokroadhiguno pada 2005.

Bibit-bibit konflik antara pengusaha Apkomindo Jakarta dengan daerah mulai terkuak pada saat kepemimpinan Henkyanto Tjokroadhiguno, di mana untuk mengamakan aset Apkomindo Jakarta, maka dibentuklah Yayasan Apkomindo Indonesia (YAI).

YAI mendapat limpahan aset berupa ruko dan pameran-pameran, diantaranya IndoComtech di saat DPP Apkomindo dipimpin Henkyanto Tjokroadhiguno.

Sejak itu lah, DPP Apkomindo tidak memiliki aset sama sekali. Untuk kemudian YAI mengambil alih penyelenggaraan pameran komputer terbesar di Indonesia, Indocomtech sejak 2007 yang dilanjutkan dengan penyelenggaraan pameran serupa di daerah seperti Yogyakarta dan Surabaya.

Sebelum 2007, selama 15 tahun penyelenggaraan Indocomtech dilakukan oleh Apkomindo yang memosisikan diri sebagai asosiasi, tetapi sejak 2007 mereka menyebut sebagai Yayasan Apkomindo Indonesia.

Persoalan kemudian timbul pada saat YAI juga menggelar pameran komputer seperti Indocomtech di daerah yang otomatis mengambil kue dan lahan dari pengusaha lokal.

Sekadar gambaran kue bisnis yang berputar di Indocomtech, berdasarkan catatan Bisnis, setidaknya ada 105.764 orang pengunjung pameran pada 2009. Jumlah pengunjung tersebut lebih tinggi ketimbang gelaran IndoComtech 2008 yang hanya menggaet 96.000 orang pengunjung.

Adapun pada penyelenggaraannya pada 2010 tercatat sekitar 200.000 pengunjung dengan harga tiket masuk Rp5.000 pada hari biasa dan Rp15.000 pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu.

Konflik yang seperti api dalam sekam ini memuncak pada 19 September 2011 pada saat DPP Apkomindo akan menggelar Munas Oktober.

Dewan Pertimbangan Pusat (DPA Pusat) yang juga berisi orang-orang dari YAI pun sampai menyewa kantor pengacara Kailimang & Ponto untuk membekukan DPP Apkomindo beserta semua kegiatannya.

Konon, sejumlah anggota Apkomindo, baik di Jakarta maupun di daerah mengeluhkan kemelut tersebut karena dikhawatirkan sangat merugikan anggota Apkomindo, terutama dalam hal kelangsungan program-program kerja dari DPP seperti pameran nasional NIX (National IT Expo) Apkomindo yang terancam hilang karena persiapannya tidak bisa dilakukan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Apkomindo juga jadi kurang terlibat dalam menentukan regulasi-regulasi pemerintah yang berkaitan dengan teknologi informasi karena ketidakhadiran pengurus Apkomindo yang berkompeten dan lebih banyak diwakili pihak yayasan.

Pengurus Yayasan Apkomindo sendiri berjumlah 20 orang, DPA Pusat 15 orang, dan Caretaker 11 orang yang orangnya hampir seluruhnya sama.

Pengurus Yayasan Apkomindo terdiri dari Efendi Ruslim (Columbia), Hidayat Tjokrodjojo (Realta), Hengky Gunawan, Henkyanto Tjokroadhiguno (Megatronix), Iwan Idris, Suhanda Wijaya, Jimmy Suhalim (Robicomp), John Franco (CPUCOM), Kunarto Mintarno, Nana Osay (Harrisma), Kie Emilly (Astrindo), Sony Franslay, Agus Setiawan, Chris Irwan Japari, Yos Soetanto Theosabrata, Suharto Juwono, Thedy Suyanto, Rudi Rusdiah, Lydiawati Dakhi (Dragon), dan Surya Kencana.

Anggota DPA Pusat meliputi Efendi Ruslim, Hidayat Tjokrodjojo, Hengky Gunawan, Henkyanto Tjokroadhiguno, Iwan Idris, Jackson Ong, Jimmy Suhalim, John Franco, Kunarto Mintarno, Nana Osay, Sony Franslay, Agus Setiawan, Chris Irwan Japari, Wiryadi dan Rudi Rusdiah.

Setali tiga uang, anggota caretaker Apkomindo juga hampir semuanya merupakan pengurus yayasan dan DPA, yaitu Hidayat Tjokrodjojo, Hengky Gunawan, Henkyanto Tjokroadhiguno, Iwan Idris, Jackson Ong, Kunarto Mintarno, Nana Osay, Agus Setiawan, Chris Irwan Japari, Sony Franslay dan Rudi Rusdiah.

Menurut pengurus DPP Apkomindo Agustinus Sutandar, pembekuan ini membuat kegiatan di asosiasi praktis terhenti, dan anggota mempertanyakan alasan pembekuan tersebut.

Agustinus juga menilai langkah DPA Pusat yang membekukan DPP secara sepihak tidak dapat diterima, apalagi disertai ancaman dengan menggunakan jasa pengacara terkenal.

Menanggapi berbagai isu negatif mengenai DPA Pusat Apkomindo, Sekretaris DPA Pusat sekaligus Sekretaris caretaker Apkomindo Rudi Rusdiah mengatakan dinamika asosiasi Apkomindo adalah dibekukannya DPP Apkomindo dan sekarang kegiatan asosiasi memang dijalankan oleh DPA Apkomindo dan sesuai dengan AD/ART maka DPA segera membentuk Caretaker untuk taking care asosiasi DPP.

“Karena yang dibekukan hanya pengurus DPP, maka sebetulnya tidak ada efeknya terhadap bisnis atau kegiatan anggotanya dengan kata lain semua berjalan normal bisnis as usual,” ujarnya.

Rudi mengungkapkan staff Sekretariat asosiasi di tingkat Pusat akan berjalan lagi dengan normal dan bertanggung jawab terhadap Caretaker dan DPA.

Sebagai sikap dan jawaban atas keputusan pembekuan oleh DPA Pusat tertanggal 19 September 2011, maka berdasarkan usulan tertulis dari 26 DPD Apkomindo (dari total 27 DPD) dan usulan tertulis lebih dari 2/3 total suara anggota secara nasional, sejumlah anggota DPP Apkomindo telah mengadakan Munaslub Apkomindo pada 28 Oktober 2011 sampai 30 Oktober 2011, di Gedung Graha Kadin, Surabaya.

Pada dasarnya Munaslub tersebut telah membentuk Tim Koordinasi DPD DPD Apkomindo (TKDDA) sebagai pengganti DPP Apkomindo yang dibekukan dan akan bertugas melanjutkan program nasional yang berpotensi tertunda dengan terlebih dahulu akan memperluas diri dengan menambah anggota TKDDA sehingga lebih meningkatkan persatuan dan kesatuan nasional.

Panitia pengarah dari Munaslub tersebut adalah Agustinus Sutandar, Simon R Purba, Lukas Lukmana, Sutiono Gunadi, A Willy Sudjono, Sandy Kusuma, dan Tritan Saputra.

Hampir semua DPD Apkomindo telah mengeluarkan mosi tidak percaya kepada DPA, sebagai Keputusan Musyawarah Nasional Luar Biasa Apkomindo 2011.

Munaslub juga telah menetapkan bahwa Keputusan Dewan Pertimbangan Apkomindo Pusat No.: 05/SKPB/9/2011, telah mengabaikan kepentingan organisasi dan rasa keadilan (Recths Delict).

Munaslub yang diikuti pengurus Apkomindo daerah di luar Jakarta juga menetapkan bahwa Keputusan DPA Pusat No.: 05/SKPB/9/2011, merupakan pelanggaran terhadap Konstitusi Organisasi dan Kedaulatan Anggota.

Selain itu, kata Tritan Saputra, keputusan itu juga memicu terhentinya proses pemilihan Ketua Umum, Sekretaris Jenderal dan Bendahara Umum yang demokratis untuk periode 2011-2014, terhambatnya program, kegiatan dan aktifitas asosiasi, serta timbulnya potensi tuntutan pidana dari pihak-pihak yang dirugikan.

Ketua Apkomindo Jatim Chandra Prayogo enggan berkomentar lebih jauh mengenai kemelut yang ada di tubuh Apkomindo. “Kebetulan saya agak sibuk beberapa hari ini sehingga kurang mengikuti perkembangan,” katanya.

DPP Apkomindo yang sudah dibekukan mendesak Dewan Pertimbangan Apkomindo (DPA) Pusat untuk segera menggelar Munaslub agar konflik yang ada dalam tubuh asosiasi itu mereda.

Ketua Umum DPP Apkomindo Suhanda Wijaya mengatakan suasana akan menjadi terkontrol manakala agenda munaslub oleh caretaker DPA segera dilakukan.

Mantan Ketua Umum DPP Apkomindo Henkyanto Tjokroadhiguno mengatakan sedang diupayakan untuk mencari solusi mengatasi kisruh internal organisasi.

Adapun, Ketua YAI dan juga DPA Pusat Hidayat Tjokrodjojo mengatakan pihaknya sedang memproses dan menyelesaikan persoalan yang ada dengan caretaker yang sudah dibentuk.

”Akan ada serangkaian pertemuan-pertemuan dengan anggota dan pengurus mulai di DKI Jakarta dan kemudian nasional. Sementara untuk pelayanan anggota dan juga kerja sekretariat dan hubungan kerja dengan semua stakeholder jalan terus seperti biasa,” katanya.

Sementara itu, anggota DPA Pusat yang juga anggota Yayasan Apkomindo sekaligus sebagai caretaker Chris Irwan Japari mengatakan dalam situasi dan kondisi dari suatu organisasi seperti Apkomindo, dinamika demokrasi seperti ini wajar saja terjadi.

“Sambil terus berproses menuju titik keseimbangan yang baru bagi semua pihak yang terlibat. Biar adem-adem saja dulu sambil berproses pak,” pintanya.

Akar utama konflik sebenarnya adalah pembekuan pengurus DPP. Suhanda yang mengaku pernah menjadi Ketua Yayasan Apkomindo Indonesia pertama pada saat pendiriannya hanya bisa mengungkapkan alasan pembekuan adalah karena DPP tidak bersedia menunda pelaksanaan Munas 2011, padahal tanggal pelaksanan Munas telah diputuskan bersama dengan DPA pada saat Rapimnas Apkomindo.

Sementara itu pengurus Apkomindo Sutiono Gunadi menilai kemelut dalam Apkomindo tersebut bukannya pengurus lama masih ingin berkuasa. “Justru kami ingin mempercepat proses pembentukan pengurus baru agar organisasi bisa berjalan dengan sehat,” tegasnya.

Mantan pengurus DPP Apkomindo Michael Sunggiardi menduga pembekuan DPP Apkomindo karena adanya kekhawatiran DPD-DPD akan mengambil kue pameran di daerah.

“Sebenarnya pangkal masalahnya adalah ada pada DPA Pusat dan Yayasan Apkomindo, terutama oleh para pendirinya yang sepertinya post power sindrom,” ketusnya.

Peranan paling penting dalam konflik yang dipicu karena pembekuan, menurut Michael, adalah seorang mantan Ketua Umum Apkomindo yang merasa paling khawatir akan kegiatan yang dilakukan DPD.

“Mereka banyak dapat dana dari pameran IndoComtech, sehingga bisa menyewa pengacara terkenal untuk membekukan asosiasi. Saya sendiri sudah tidak berkepentingan lagi dengan Apkomindo dan sudah hengkang dari asosiasi itu,” ujarnya.

Jadi, kata Michael, nantinya Ketua umum Apkomindo dipastikan merupakan pendukung atau pesanan dari DPA Pusat Apkomindo. Seperti diketahui, terdapat 3 pasangan calon ketua umum Apkomindo, yaitu Agustinus Sutandar (PT Corexindo)-Oscar, Soegiharto Santoso (PT Masterdata)-Andy Ho, dan Nana Osay (PT Harrisma) -Kunarto.

Ketika disinggung mengenai kompetensi calon yang ada, Michael enggan mengungkapkan siapa yang pantas jadi ketua. “Saya enggan mengomentarinya. Tapi yang jelas Soegiharto memiliki perilaku yang hampir sama dengan Rudi Rusdiah, caretaker saat ini.”

Sony Franslay, pendiri DPP Apkomindo yang juga pendiri Yayasan Apkomindo dan sebagai DPA sekaligus sebagai caretaker Apkomindo, membantah bahwa dirinya merupakan penyebab dari adanya kekisruhan dalam tubuh asosiasi. “Tidak benar itu.”

Adapun, Ketua Yayasan Apkomindo Indonesia Hidayat Tjokrodjojo mengatakan pihaknya sama sekali bukan penyebab kekisruhan tersebut. “Justru saya masih tetap ingin Apkomindo semakin bermanfaat bagi anggota, mitra, stakeholder, industri, dan masyarakat luas yang dilayaninya.

“Apkomindo tidak kacau, tapi sedang berproses agar yang diharapkan dari organisasi bisa tercapai,” kata Hidayat.

Ketika dikonfirmasi, calon ketua umum Apkomindo Soegiharto Santoso enggan memberikan tanggapan kepada Bisnis.

Terkait hal tersebut, Michael mengaku pernah memiliki ide yang apabila dijalankan secara benar oleh Apkomindo akan bermanfaat bagi masyarakat.

Sebenarnya, apabila tidak terus berkonflik, sejumlah program yang akan ditelurkan Apkomindo cukup baik untuk masyarakat.

“Seperti misalnya gerakan AUP atau Apkomindo untuk Pendidikan, yang maksudnya mengajak pengusaha komputer Apkomindo untuk memikirkan dan membantu sekolah di masing-masing daerah.”

Menurut dia, kalau sudah ada bisnisnya dan berpotensi untuk perang, maka solusinya adalah koperasi atau kebersamaan. “Konsepnya sama dengan relawan TIK yang dibuat Ibu Marjam Barata di Direktorat Pemberdayaan Informatika Kominfo.”

“Sayangnya, gagasan saya tentang koperasi belum bisa jalan sehingga saya tidak bisa berbuat apa-apa, baik untuk Apkomindo. Semua program tersebut yang jelas bukan Apkomindo yang dibekukan karena saya sudah tidak peduli lagi dengan asosiasi tersebut,” ketusnya.

Tidak jelas siapa yang salah dalam kemelut Apkomindo. Mungkin sudah saatnya pemerintah turun membantu menyelesaikan persoalan.

Sumber: Bisnis.com

Penulis: Lingga Sukatma WianggaLingga Sukatma Wiangga – Bisnis.com

Dituliskan pada: 25 November 2011  |  03:55 WIB

Artikel Terkait:

Terkait Penghinaan Wartawan, Putusan Sela Pengadilan Negeri Yogyakarta Aneh Tapi Nyata

Dua Pelaku Bakal Menyusul Terpidana Kasus Penghina Wartawan