PEMERINTAH RI melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) akan terus mendorong pemanfaatan internet oleh pesantren. Demikian disampaikan Menteri Kominfo, Rudiantara, dalam peringatan Nuzulul Quran di Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat (11/7).
Dalam kesempatan ini, Rudiantara bersama Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), M. Hanif Dhakiri, meluncurkan Santri Skill Center (SSC) yang beralamat di ssc.or.id. SSC merupakan portal lowongan kerja khusus santri yang dikembangkan bersama oleh Pondok Pesantren Al-Mizan, Gedhe Foundation, Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI), Domain Pesantren (Dompet) Pemalang, dan Relawan TIK Majalengka.
Selain SSC, Menkominfo bersama Menaker juga meluncurkan domain ponpes.id untuk pondok pesantren di Indonesia. Rudiantara mengatakan, peluncuran ini merupakan bentuk kecintaan semua pihak pada pondok pesantren. “Pemerintah sangat mendukung pengembangan teknologi informasi di Internet,” ujarnya.
Sebagai pelengkap ekosistem internet di pondok pesantren, dilakukan juga pre-launching DNS Kelompok Terbatas yang merupakan model DNS white list. DNS yang dikembangkan oleh PANDI ini merupakan bagian dari program DNS Nasional yang dimotori oleh Kementerian Kominfo dan didukung oleh berbagai pemangku kepentingan, seperti PANDI, Nawala, ID-SIRTII, dan ISOC Indonesia.
Ketua PANDI, Andi Budimansyah mengatakan, DNS Kelompok Terbatas ini akan melindungi kelompok-kelompok terbatas dalam masyarakat, seperti pesantren dan sekolah-sekolah dari konten-konten negatif di Internet. “Konten negatif yang terus tumbuh di Internet membuat beberapa kalangan seperti pesantren khawatir menyediakan akses internet bagi santri-santrinya. Dengan menggunakan DNS white list, pesantren atau sekolah bisa menentukan konten-konten mana saja yang boleh diakses,” jelas Andi.
Rudiantara berharap aplikasi-aplikasi yang sudah dikembangkan akan meningkatkan penggunaan internet oleh pesantren. “Semoga yang sudah dilakukan di sini bisa menjadi role model untuk pesantren lain,” ujar Rudiantara.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan, K.H. Maman Imanulhaq mengatakan, penggunaan teknologi untuk dakwah rahmatan-lil-alamin merupakan keharusan yang mendesak. “Karena di satu sisi ada pihak yang menggunakan teknologi untuk menyebarkan paham intoleransi dan radikal. Sementara di sisi lain, banyak pihak yang belum memakai teknologi sebagai alat dakwah, seperti pondok pesantren,” ujar Anggota Komisi VIII DPR-RI ini
Maman menyatakan sangat mengapresiasi peluncuran ponpes.id, SSC, dan DNS Kelompok Terbatas. “Ini merupakan sebuah jawaban dari harapan munculnya sebuah sistem teknologi yang menjadikan dakwah sebagai spirit untuk perubahan, persaudaraan, dan perdamaian,” pungkasnya. •
SEBELUM menuju Jakarta, kini giliran Bali yang terlebih dahulu menjadi sasaran penyelenggaraan Taiwan Excellence Experiencing Zone yang mendekatkan produk-produk Taiwan dengan masyarakat di Indonesia. Berlangsung di Atrium Discovery Shopping Mall Bali, acara yang digelar Biro Perdagangan Luar Negeri, MOEA, Taiwan, akan berlangsung mulai tanggal 10-12 Juli 2015 dengan memamerkan 74 brand ternama Taiwan.
Pameran kali ini, juga tidak hanya menghadirkan brand ternama dari jajaran produk teknologi informasi (TI) saja, seperti Acer, Asus, BenQ, CyberPower, Edimax, Sakura, Transcend dan banyak lagi. Tetapi acara ini juga dimeriahkan dengan kehadiran Mozbii, sebuah stylus pertama di dunia yang dapat menangkap warna dari setiap objek yang ada, seperti warna merah pada apel, hitam dari rambut dan kuning pada pakaian. Selain itu, yang tidak kalah menakjubkan adalah Cooling Smartphone Case dari Sunion untuk iPhone.
Dalam pameran yang berlangsung selama tiga hari ini juga menampilkan sebuah lampu dengan “magical colour” bernama Gunilamp Freedom. Lampu ini memilki 16 juta variasi warna yang bisa disesuaikan dengan aplikasinya. Juga ada produk terbaru dari Taiwan untuk perlengkapan bayi bernama Baby Tableware Gift set.
Di kesempatan ini, tidak ketinggalan tentunya sebagai negara yang juga dikenal sebagai top produsen sepeda motor, memperkenalkan Merida Reacto adalah sepeda tercepat yang menjuarai Rui Costa dunia dan Motor SYM-GTS adalah model cruiser yang menggabungkan teknologi dengan kemewahan.
Manager Taiwan Trade Center Indonesia, Mr. Wayne mengatakan, “Kami sangat senang dapat hadir di sini di tahun ke-6 kampanye Taiwan Excellence di Indonesia, dan kami berterima kasih kepada masyarakat Indonesia yang telah mendukung produk-produk Taiwan Excellence. Tahun ini kami mendatangkan kembali produk-produk inovatif yang telah mendapatkan penghargaan Taiwan Excellence Award seperti ICT, Transportation & Leisure, Home & Living, Living Appliances dan produk kesehatan. Kami berharap konsumen di Indonesia mendapat kenyamanan, desain yang cantik dan “comfort of living” dengan menggunakan produk Taiwan Excellence”.
Untuk lebih memeriahkan pagelaraan ini, pengunjung akan dimanjakan dengan live jazz music dengan fusion tradisional music, dan pertunjukan lainnya. Dalam acara ini pengunjung tidak hanya dapat menikmati tarian tradisional Bali tetapi juga dapat mengikuti Body Pump Dance menggunakan dumbel yang menjadi pemenang penghargaan dari Taiwan Excellence. Lalu ada pertunjukan sand art yang menarik dari seniman lokal Bali yang sangat terkenal. Pengunjung juga dapat mendapatkan sempatan untuk memenangkan hadiah menarik dengan mengikuti undian lucky draw, kuis dan games interaktif.
Selanjutnya, setelah Bali, kota lainnya yang akan dikunjungi Taiwan Excellence Experiencing Zone adalah Studio Mall Makassar di tanggal 14-16 Agustus 2015 dan tanggal 2-4 Oktober di Senayan City Mall Jakarta. Akan ada juga Taiwan IT pavilion dalam Jogja Expo Center pada tanggal 5-9 September 2015 dan event amal yang besar yaitu Taiwan Happy Run pada tanggal 4 Oktober 2015 di Plaza Barat, Gelora Bung Karno Jakarta. •ANDRI
Jakarta, BISKOM – Teknologi Informasi (TI) yang terus berkembang telah mendorong pertumbuhan industri digital kreatif di Indonesia. Berbagai perusahaan startup pun mulai bermunculan dan menunjukkan eksistensinya dalam industri digital yang membutuhkan kreativitas tinggi ini. Namun tak hanya mengandalkan kreativitas saja, untuk semakin bertumbuh kembang industri ini memerlukan investasi atau pembiayaan yang tidak sedikit. Oleh sebab itu diperlukan perhatian khusus agar industri yang terbilang baru ini mampu berdiri dan berpotensi meningkatkan perekonomian dalam negeri.
Saat ini perkembangan bisnis startup digital Indonesia seperti aplikasi, games dan animasi belum maksimal, meskipun para kreator startup yang ada sangat beragam dan unik. Banyak pelaku startup yang berguguran di tengah perjalanan mengembangkan bisnisnya. Dari berbagai persoalan yang ada, salah satu yang membuat kreativitas ini terhenti di tengah jalan adalah faktor keuangan yang tidak memadai.
Wakil Ketua Umum, Bidang Perbankan dan Keuangan, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan P. Roeslani mengakui, tidak hanya pada industri TI yang mengalami permasalahan modal, tetapi industri kreatif lainnya juga mengalami hal yang sama. Oleh sebab itu, pihaknya bersama Otoritas Jasa Keuangan (OKJ) mencoba merevitalisasi modal ventura.
“Modal ventura dulu sempat berkembang, namun sekarang ini mengalami penurunan yang bisa dilihat dari segi aset maupun jumlah perusahaannya. Hal ini yang sekarang kami konsultasikan bersama OJK untuk membangkitkan dan menggairahkan lagi modal ventura agar bisa mendorong perkembangan wirausaha,” ujar pemegang gelar Master of Business Administration dari University of Antwerp, Belgia ini.
Pria yang memiliki keahlian dalam menganalisis dan mengembangkan investasi dan diversifikasi portofolio, serta restrukturisasi keuangan ini melihat modal ventura adalah sarana yang tepat untuk melakukan pendampingan agar industri kreatif di dalam negeri bisa berkembang. Apalagi, masih banyak pihak yang tak percaya dengan potensi bisnis industri kreatif digital ini, sehingga akan kesulitan bila melakukan peminjaman ke bank dan belum lagi bunga bank yang cukup besar.
“Penyaluran modal saat ini memang masih didominasi oleh perbankan, yang pola pembiayaannya harus prudent dan cenderung melihat aspek jaminan dan melihat riwayat ke belakang. Akibatnya, perbankan akan cenderung membiayai usaha-usaha yang sudah berjalan lancar, sedangkan wirausaha-wirausaha baru dengan ide-ide bisnis dan inovasi baru sulit untuk mendapat akses permodalan karena masih sebatas potensial dan belum feasible apalagi bankable,” sambungnya.
Ia pun sangat menyayangkan hal ini, padahal keberadaan kreatif-kreatif digital ini sangat penting mengingat perputaran kemajuan TI sangat-sangat cepat sekarang ini dan kemampuan yang dimiliki para kreator yang bisa mendorong kemajuan TI tersebut malah terkendala perkembangannya hanya karena keterbatasan modal.
“Padahal nantinya mereka tidak hanya mengembangkan perekonomian saja tetapi juga dapat memajukan masyarakat melalui inovasi-inovasi yang dibuatnya. Tentunya untuk menuju kesana, mereka perlu ditunjang dengan riset dan development yang handal, yang akhirnya ujung-ujungnya kembali pada masalah modal,” tandas Rosan, yang hingga kini telah banyak memimpin perusahaan bertaraf internasional, seperti Recapital.
Oleh sebab itu, keberadaan Perusahaan Modal Ventura sangat strategis karena akan memberi alternatif sumber pembiayaan untuk jangka waktu tertentu dalam bentuk penyertaan modal, penyertaan melalui pembelian obligasi konversi, atau pembiayaan berdasarkan bagi hasil usaha, yang tentunya memudahkan pelaku usaha industri kreatif ataupun startup untuk mengembangkan bisnisnya.
Namun, mengingat pertumbuhan perusahaan modal ventura yang relatif masih rendah serta pertumbuhan aset permodalan yang masih relatif rendah juga, maka peran organisasi dunia usaha sangat diperlukan untuk menjembatani antara pemerintah, investor, dan wirausaha.
Lebih lanjut, berikut ini petikan wawancara BISKOM dengan Rosan P. Roeslani yang mengaku dirinya terjun sebagai pengusaha karena kecelakaan. Sedikit bergurau, disebutkan alasan dirinya tidak pernah bercita-cita sebagai pengusaha, tetapi sudah merencanakannya untuk bekerja di pemerintahan yaitu Bank Indonesia. Tetapi takdir berkata lain, setelah lulus kuliah justru bertemu dengan temannya yang mengajak untuk membangun sebuah perusahaan. Disinilah karir bisnisnya dimulai, hingga menjabat Komisaris untuk beberapa perusahaan. Antara lain, PT Visi Media Asia Tbk., Saratoga Investama Sedaya, dan Mahaka Media tbk Non-executive Director di Bumi Plc. Founder dan Chairman Amanah Recapital Foundation ini juga menjabat Chairman serta Dewan Pengawas Yayasan Losari.
Apa saja tugas dan kewajiban Anda selaku Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perbankan dan Finansial? Sesuai dengan amanah yang saya terima di bidang perbankan dan financial, maka cakupan tugas saya memfokuskan pada bidang perbankan, asuransi, pasar modal, alternatif pembiayaaan dan modal ventura. Jadi 5 bidang ini adalah tanggung jawab saya untuk bisa dikonsultasikan kepada pemerintah, yakni Bank Indonesia, OJK dan Menteri Keuangan agar kebijakan-kebijakan yang dilahirkan pemerintah bisa menggairahkan bidang usaha dan juga bisa membantu mensosialisasikan kebijakan pemerintah tersebut kepada Kadin-kadin di seluruh daerah.
Misalnya, beberapa waktu lalu dari OJK ada kebijakan yang istilahnya melek financial. Nah, ini kami bantu mensosialisasikan ke seluruh Kadin yang ada di daerah dengan cara memanggil mereka dan secara bersama-sama dengan OJK mensosialisasikan hal tersebut ke dunia usaha. Pada intinya kami banyak melakukan kerjasama dengan pemerintah dan juga memberikan masukan, kritikan serta saran.
Rosan P. Roeslani foto bersama Soegiharto Santoso alias Hoky selaku Pimpinan Umum Majalah Biskom dan tim Biskom.
Sejak kapan pembiayaan modal ventura ini diwacanakan untuk industri kreatif digital? Sebenarnya tidak spesifik industri TI saja tetapi industri kreatif lainnya juga termasuk, karena keberadaan industri modal ventura sangat penting bagi pengusaha usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dan tentunya pengusaha start up.
Terkait dengan startup, kira-kira sebulan lalu yang kami mencoba merumuskan masalah pemberian modalnya. Biasanya kan dari 100 startup yang dibiayai kemungkinan jadi hanya 5 atau 10 saja, itu sudah bagus. Sedangkan kalau di OJK itu peraturannya modal ventura yang banyak terkait dengan hal-hal lainnya. Jadi kami coba menyelaraskan dengan perkembangan bisnis saat ini.
Start up memang resikonya sangat besar, namun kalau bisa berhasilkan investasi-investasi di bidang-bidang lain yang tak berjalan akan tertutup dengan investasi tersebut. Kita tidak usah melihat yang besar-besar di luar sana, seperti Softbank dan lainnya. Seperti Alibaba saja saya rasa sudah cukup. Nah, ini yang coba dipertajam lagi oleh OJK dan Kadin untuk membangkitkan dan menggairahkan lagi modal ventura yang tentunya disesuaikan dengan perkembangan-perkembangan teknologi ke depannya.
Berarti Kadin memprioritaskan juga pembiayaan untuk industri kreatif ini? Iya, itu baru dibicarakan dalam forum diskusi yang berlangsung akhir April lalu. Nantinya, akan kami lanjutkan lagi forum diskusi selanjutnya dengan OJK dan Kadin, serta juga melibatkan pelaku industrinya. Tetapi di sana saya berbicara dari segi pembiayaan saja, bahwa ini tidak bisa dihitung hanya satu persatu tetapi dihitung secara keseluruhannya.
Siapa saja pelaku industri yang nantinya dilibatkan dalam menggairahkan modal ventura? Saat ini kami sedang mengajak para asosiasi atau pun himpunan untuk memberikan masukan juga. Agar ini tidak hanya menjadi wacana saja tetapi harus bisa diimplementasikan. Itu yang terpenting! Buat apa kita berbicara wacana tetapi implementasinya tidak berjalan? Jadi bersama-sama kita coba melihat dan menganalisa kenapa modal ventura yang dulu belum berkembang kemudian lambat laun juga tidak berjalan. Ini coba dihidupkan lagi, tapi memang fokusnya adalah di industri kreatif dan startup.
Dari mana nantinya pemodal ventura ini, apakah cukup dari perusahaan lokal saja? Justru, sekarang modal ventura ini mau diperluas agar bentuk pemodalnya tidak hanya dari dalam negeri tetapi dari luar negeri juga. Tapikan selama ini perusahaan modal ventura harus berbentuk PT (persero) yang berbadan hukum di Indonesia. Nah, ini yang sedang kami bicarakan, apakah nantinya ini tetap PT.
Karena apabila masih harus PT, maka kalau ada modal masuk harus merubah anggaran dasar lagi yang tentunya ini merepotkan. Permasalahan-permasalahan seperti ini yang masih kami diskusikan dan coba dibuat strukturnya seperti apa tepatnya. Selain itu dari sisi perpajakannya juga kami bicarakan agar nantinya bisa menarik investor untuk berinvestasi di modal ventura ini.
Seperti apakah modal ventura yang nantinya digulirkan kepada para start up? Investasi kepada para start up ini tidak dikenakan bunga, sifatnya nanti lebih kepada profit sharing atau bagi hasil. Karena kalau dikenakan bunga tidak bisa berkembang, jadi tidak ada gunanya sama saja dengan perbankan. Tetapi memang karena resikonya cukup tinggi, maka akan mempunyai batasan-batasan juga. Misalnya, dana yang masuk Rp 100 miliar tetapi batasan untuk investasi di satu company maksimum 10%, seperti itu.
Hal ini dilakukan untuk menjaga resiko juga. Jadi lebih banyak seperti kita menyebar padi, mungkin yang tumbuh tidak banyak tetapi bisa menutup investasi lainnya. Selain itu, dari masa investasinya juga tidak selamanya. Sementara ini yang kami bicarakan batasan maksimumnya adalah 5 tahun. Setelah itu investasi yang sudah diinvestasikan tersebut ditawarkan kembali kepada pemiliknya atau dijual ke pihak lain. Bisa juga kalau sudah berkembang melakukan penawaran saham Initial Public Offering (IPO) di listing bursa.
Lalu, siapa nantinya yang mengelola dana tersebut? Nantinya dibentuk badan atau perusahaannya yang berisi para professional, dimana ada Kadin dan beberapa asosiasi di dalamnya. Tetapi aturan mainnya sedang disempurnakan terlebih dahulu oleh OJK. Pastinya pihak yang mengelola dan menerima modal ventura ini akan memberikan laporan pertanggungjawaban secara berkala.
Seperti apa startup-startup yang bisa mendapatkan modal ventura ini? Kami belum berbicara parametar-parameternya, jadi saya belum berani bilang paramater seperti apa. Intinya pasti dari tim yang menganalisanya nanti harus mengerti dunia TI juga. Kalau hanya mengerti keuangan saya rasa tidak akan jalan juga. Tetapi kembali lagi, startup itu akan berkembang dan besar seperti apa kita belum tahu. Start up kita banyak sekali, tetapi kita sudah tahu yang besar-besar dan berkembang ada beberapa. Intinya, kehadiran modal ventura ini untuk lebih menggairahkan para start up di Indonesia terlebih dahulu. Karena salah satu kendala mereka bekembang adalah masalah keuangan.
Apakah ini berarti persyaratan untuk menerima modal ini dipermudah untuk para start up? Namanya juga pembiayaan untuk pemula yang fleksibilitasnya tinggi maka tidak dipakai aturan-aturan yang ketat. Tapi pastinya, nanti ada parameter-parameter dan tidak semua akan diberikan pembiayaan, terlebih dahulu dilakukan seleksi. Terpenting dipahami dahulu bahwa ini resikonya tinggi dan diharapkan dari start up melakukan sharing juga kepada pemodal. Jadi yang satu punya ide dan satu lagi punya pembiayaaan. Sehingga perlu ada pengertian antara kedua belah pihak.
Kapan program ini akan berjalan? Menurut saya implementasinya akan lebih cepat, karena lembaga yang sedang dilihat tidak perlu memakai lembaga yang baru tetapi memanfaatkan lembaga yang ada. Selain itu juga ada arah pembicaraan agar pemerintah membangun ‘Bank Industri’ yang tentunya bisa membantu para startup. Karena UU-nya baru maka aturannya sedang dibicarakan. Mudah-mudahan tidak lama, paling tidak payung hukumnya sudah ada terlebih dahulu.
Apa harapan yang bisa dikembangkan dan dimunculkan oleh para start up ini nantinya? Ya, sebetulnya kalau yang dibicarakan adalah yang lebih berhubungan dengan pariwisata. Potensi-potensi pariwisata di kitakan sangat signifikan tetapi pemanfaatan pariwisata kita melalui teknologi masih sangat kurang.
Padahal pariwisata ‘it’s given’ pemberian dari Tuhan kepada bangsa ini dengan memiliki lokasi-lokasi alam yang indah dan budaya yang beragam. Industrinya sudah ada tinggal dikembangkan lagi dari sisi aplikasinya untuk mendorong pariwisata berkembang bersama-sama. Jadi kita tidak harus membangun industri baru lagi yang tentunya membutuhkan waktu.
Lalu, apa yang harus diperhatikan dunia usaha untuk berkembang? Komitmen! Harus komitmen dalam melakukan apapun, harus benar-benar dijalankan. Banyak deal-deal bisnis dan kesepakatan yang tidak jalan, salah satunya penyebabnya adalah tidak dijalankannya komitmen. Kalau kita mau mau sama-sama, maka yang pertama adalah komitmen dari semua pihak, baik itu pemerintah maupun pelaku usaha itu sendiri. Saya melihatnya dalam semua hal harus adanya komitmen, kalau tidak jangan harap bisa maju.
Saat ini telah banyak perusahaan yang telah bapak pimpin. Lalu apa yang membuat bapak terjun dalam kepengurusan Kadin? Alhamdulillah kita kan sudah dapat rezeki dari usaha yang sudah dibangun. Nah tinggal kita berkontribusi, bisa dalam bentuk Kadin, CSR dan lainnya. Paling tidak selain material, tapi waktu dan pikiran ini kita coba sama-sama di Kadin. Awalnya seperti itu. Senangnya di Kadin bisa menambah banyak teman dan ilmu, paling tidak kita bisa berkontribusi ke dunia usaha.
Sebagai seorang profesional, sejauhmana Anda memanfaatkan TI? Pastinya teknologi mempermudah segala sesuatunya. Bisa dibilang banyak membantu pekerjaan saya, misalnya sekarang ini saya tidak perlu secara fisik berada di suatu tempat untuk mengambil kebijakan-kebijakan di dalam perusahaan. Cukup melakukan conference call dengan seluruh tim dan bersama anak perusahaan yang ada di daerah-daerah melakukan video call setiap seminggu sekali. Ini sangat-sangat membantu sekali, sangat efektif dan efisien.
TI memang mempermudah dan tidak bisa ditahan atau dicegah pergerakannya yang terus maju. Jadi, sejauh ini pemanfaatan TI lebih kepada untuk mendukung pekerjaan. (Hoky & Andri, Fotografer: M. Taufik)
BERKEMBANGNYA jaringan 4G di Indonesia menjadikan banyak vendor smartphone berlomba-lomba menghadirkan smartphone berteknologi 4G dengan harga murah. Tak terkecuali dengan provider jaringan Bolt!, yang juga menghadirkan smartphone 4G pertama mereka yang di namai Powerphone E.
Larry Ridwan, Chief Commercial Officer Bolt!Super 4G mengungkapkan, “Di era konektivitas 4G saat ini, koneksi internet yang super cepat didukung dengan perangkat mobile dengan performa terbaik menjadi faktor yang sangat penting . Dalam perjalanannya kami melihat minat konsumen pada smartphine 4G dengan harga terjangkau terus bertumbuh dan Bolt! 4G Powerphone E1 hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut.”
Bolt juga menyasar kalangan entry-level dengan menghadirkan ponsel ini seharga Rp. 999.000,- Powerphone E1 sendiri menggunakan sistem Operasi Android Lollipop 5.0 dan telah ditenagai dengan prosesor Quallcom Snapdragon Quad Core dengan kecepatan 1.2 Ghz serta RAM 1GB.
Dengan Powerphone E1 , sebenarnya pelanggan dapat menikmati layanan 4G pada smartphone mereka dengan harga terjangkau. Powerphone E1 menghadirkan dual SIM card. Satu untuk SIM card Bolt!, sementara untuk SIM card kedua pengguna dapat menggunakan sim card GSM milik pengguna.
Fitur lain yang hadir adalah adanya fitur Advance SIM Management yang memudahkan penggunanya untuk bebas memilih satu dari dua slot kartu sim yang dapat mengakses jaringan 4G hanya dari menu setting.
Bolt! membenamkan smartphone ini dengan kamera sebesar 5 megapiksel untuk bagian depan dan belakang nya.
Bolt! Mengaku,saat ini juga sudah memperluas dan mengoptimalkan jaringan 4G LTE di wilayah Jabodetabek dan Medan. Mereka juga telahbmengembangkan kecepatan dan kapasitas hingga 50% yang memberikan kecepatan akses internet lebih dari 150 Mbps bagi pelanggan. •ARIE
PERJALANAN industri teknologi informasi (TI) semakin hari semakin mengalami percepatan, yang tidak hanya dari sisi hardware tetapi dari sisi aplikasi dan software pun semakin beragam kemajuannya. Tidak mengherankan bila banyak pihak menyebutkan industri ini sebagai pendorong perekonomian di setiap negara. Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Industri TI tampaknya masih didominasi oleh pihak asing, sementara industri maupun pengusaha lokal hanya menjadi pemain kecil di negeri sendiri.
Memperhatikan hal ini, Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) yang selama 24 tahun ini telah mewadahi para pengusaha komputer di Tanah Air ini, mulai melakukan pendekatan dan komunikasi dengan berbagai organisasi, asosiasi, maupun pemerintah untuk menerima masukan dan menyelaraskan program-program yang dapat memajukan industri lokal secara bersama-sama.
Hal ini tertuang dalam pertemuan diskusi bersama Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, yang didampingi didampingi Dirjen Aptika, Bambang Heru Tjahyono di Kementerian Kominfo, pada tanggal 19 Juni 2015.
Di kesempatan audiensi ini, Ketua Umum Apkomindo, Soegiharto Santoso, menyampaikan visi dan misinya, serta beberapa agenda dan permasalahan di industri TI, baik industri perdagangan maupun teknologi baru yang sedang berkembang dan terkini.
“Apkomindo saat ini, selain fokus di bidang penjualan hardware (peralatan komputer, gadget dan asesorisnya) dan pameran, juga sedang menjajaki pelatihan dan sertifikasi tenaga ahli dibidang TI, baik untuk internal anggota Apkomindo maupun masyarakat luas yang kemungkinan akan bekerjasama dengan asosiasi/lembaga lain. Hal ini penting dilakukan untuk meningkatkan keprofesionalan SDM TI dalam negeri,” ujar Soegiharto yang akrab disapa Hoky.
Hal ini pun disambut baik Menkominfo, dimana pada dasarnya pemerintah akan membantu asosiasi yang saling mendukung dengan program pemerintah, misalnya produk TI dengan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sehingga akan mendorong perkembangan ekonomi dan keuntungan bersama serta membuka berbagai kemudahan bagi para Vendor yang ingin berinvestasi dengan membuka pabriknya di Indonesia.
Menurut Rudiantara, sektor TI merupakan penghasil PNBP ke-2 terbesar setelah migas, sehingga bisa dijadikan peluang bisnis di bidang TI ini yang masih besar porsinya, walaupun masih terkendala dengan exchange rate.
“Sebaiknya Apkomindo jangan hanya berjualan hardware tetapi ke arah aplikasi dan local content yang bersifat bisnis eksositem seperti jaringan dan aplikasi. Walaupun ini mungkin sedikit bertabrakan dengan asosiasi lain, namun sebaiknya bisa dijadikan mitra bersama sesama asosiasi,” pungkas Rudiantara.
Pertemuan yang dibawa tidak terlalu formil oleh Bapak Menteri ini menyebabkan diskusi bisa lebih mengalir dengan beragam pertanyaan dan masukan. Seperti, Kabid Sosbud, Apkomindo, Marimar, yang mempertanyakan akan terancamnya pengusaha maupun tenaga TI lokal dengan adanya tenaga ahli dari negara lain dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di akhir tahun ini.
Menanggapi hal ini, Kemkominfo fokus kepada sistem sertifikasi bagi tenaga kerja industri bidang Kominfo, baik tenaga kerja Indonesia maupun tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia. Sertifikasi tersebut diharapkan meningkatkan daya saing tenaga kerja, terutama dalam penetrasi ke pasar global. Melanjuti tanggapan Kominfo, Taufan, memberikan masukan kalau memungkin ada proteksi untuk tenaga yang berkaitan dengan produk TKDN dan kerjasama dengan lingkup dunia pendidikan.
Sementara itu, Puguh Kuswanto dari DPD Apkomindo Bogor, mengeluhkan permasalahan project TI di Pemda yang lebih banyak dikerjakan oleh bukan pemain TI, sehingga hasilnya tidak optimal dan cenderung bermasalah, sementara Apkomindo hanya sebagai subs kontraktor yang akan berimplikasi ke harga. Dirinya juga menyoroti sertifikasi tenaga TI di Bapenas, di mana tenaga TI asing dan lokal sangat jauh berbeda. “Kami mohon ada proteksi dalam hal ini,” tandas Puguh.
Mengenai permasalahan ini, Kemkominfo mengakui secara regulasi masih sulit untuk memproteksi hal seperti ini, selama aturan seperti lelang dan pengadaan sesuai dengan UU dan PP yang berlaku. Namun demikian, pihaknya akan mensosialisasikan ke Dinas-dinas di daerah dalam pertemuan Kementerian Kominfo dengan Dinas, supaya pengadaan dan lelang tidak menjadi kasus besar, seperti UPS di DKI.
Berlanjut, Sekjen DPP Apkomindo, Muzakkir, ikut mempertanyakan kemungkinan diadakannya sertifikasi atau akreditasi untuk peserta lelang dan pengadaan barang TI, agar projek sesuai dengan kapasitasnya.
“Memungkinkan sekali untuk diadakan akreditasi atau sertifikasi, tetapi aturannya harus dibuat terlebih dulu,” tanggap Menkominfo menjawab pertanyaan Muzakkir.
Dikesempatan yang sama, Kabid Perpajakan Apkomindo, Sarki, memohon bantuan untuk mempermudah dalam hal pembuatan sertifikasi Postel dan akan mengundang CEO dari perusahaan di China dan Taiwan untuk membangun pabrik di Indonesia.
Menutup pertemuaan ini, pihak Apkomindo juga menyampaikaan agenda kegiatan yang berlangsung dalam waktu dekat ini, yaitu Pameran Yogyakomtek 2015 di Yogyakarta pada tanggal 5 – 9 September 2015, dimana pameran ini adalah pameran Komputer terbesar kedua setelah pameran di JCC Jakarta. “Nantinya, Pak Menteri berencana untuk membuka pameran tersebut apabila tidak ada halangan,” ungkap Hoky.
Sedangkan untuk agenda-agenda lain yang belum pasti tanggalnya akan ditindak lanjuti kemudian, misalnya Apkomindo mengadakan sertifikasi kepada tenaga ahli TI dalam rangka menyongsong MEA. Kemudian ada pertemuan Kepala Dinas Kominfo se-Indonesia dengan Kominfo pusat, yang akan memberikan kesempatan kepada Apkomindo untuk berdialog tentang perangkat teknologi terkini dan sistem pengadaannya.
“Semoga saja pertemuan ini menjadi momen awal bagi pengusaha lokal di bidang TI untuk bisa memenangkan pasar di negeri sendiri dan Apkomindo berkenan menjadi jembatan bagai para Vendor yang ingin berinvestasi membangun pabriknya di Indonesia,” tandas Soegiharto yang baru 5 bulan ini menjabat sebagai Ketum DPP Apkomindo hasil pilihan 23 DPD yang ada secara Nasional. •Hoky & ANDRI
SEIRING perkembangannya, internet telah menjadi salah satu faktor infrastruktur terpenting seperti air dan listrik. Apalagi berbagai layanan masyarakat sekarang ini mulai dijalankan secara online, sehingga apabila infrastruktur internet tidak dibangun dengan baik maka pelayanan yang diberikan juga menjadi terhambat, belum lagi dampak terhadap bisnis dan banyak transaksi yang tak berjalan bila internet mengalami down.
Disampaikan Vice President Marketing Biznet Network, Yudie Haryanto, sadar pentingnya infrastruktur internet sekarang ini untuk menunjang kehidupan masyarakat yang lebih baik lagi, Biznet telah menambah total jaringan fiber optic yang tadinya hanya 1.700 km menjadi 13.000 km. Pembangunan infrastruktur yang dilakukan dari jalur utara ke sepanjang jalur selatan Jawa dan Bali ini telah berhasil diselesaikan bulan Juni lalu.
“Tahap awal yang kami bangun ini telah menjangkau 70 kota di Pulau Jawa, Bali dan Sumatera. Alasan kami pilih jalur ini lebih dulu dibangun, agar bisa memberikan service internet di kota-kota kecil di Jawa yang akhirnya dapat memberikan dampak ekonomi yang baik pada warga di daerah tersebut. Karena dengan tersedianya internet, maka masyarkat pedesaan bisa menjual hasil kebun atau pertaniannya secara online, serta bisa mendapatkan berbagai informasi penting untuk mengembangkan usahanya dengan mudah hanya melalui internet,” ujar Yudie, di Jakarta (3/7).
Sementara itu, Brand Manager Biznet Network, Gitanissa Laprina, menyebutkan dengan semakin luasnya jaringan internet yang dibangun, maka semakin banyak pula layanan internet yang bisa diberikan oleh Biznet saat ini. “Bila sebelumnya Biznet hanya melayani pasar B2B (business-to-business), kini B2C (business-to-consumer) juga menjadi pasar yang kami garap karena potensi ini sangat besar, mengingat setiap orang mulai membutuhkan internet dan menginginkan layanan internet yang cepat, berkualitas dan handal,” papar Gita.
Untuk segmen Usaha Kecil Menengah (UKM), Biznet melengkapinya dengan Biznet MetroNet, layanan internet super cepat dengan kapasitas 1,5 Mbps hingga 75 Mbps, dikemas dalam enam paket yang dapat dipilih dengan harga mulai Rp. 600 ribu/bulan. Selain itu ada Biznet GioCloud, berupa layanan Cloud Computing dengan infrastruktur as-a-service.
Sedangkan untuk segmen consumer, Biznet menawarkan Biznet Home yang awalnya bernama Max3. Internet untuk rumahan ini tersedia dua pilihan, pertama Home Internet yang menyediakan layanan internet saja dengan biaya Rp.200 ribu/perbulan bisa mendapatkan kecepatan 4 Mbps, dan kedua Home Combo, berupa paket internet yang dilengkapi TV Kabel yang dihargai Rp.300 ribu bisa merasakan kecepatan internet 6 Mbps dan 40 chanel TV.
Selain itu, juga ada Biznet WiFi untuk menikmati internet di outdoor menggunakan smartphone atau pun tablet. Tersedia harga Rp 10 ribu untuk kuota internet 500 MB selama 10 hari dan harga Rp 90 ribu untuk kuota 10 GB selama 90 hari. Untuk pengisian pulsa bisa dilakukan di Alfamart maupun ATM BCA.
Terkait rencana perluasan jaringan, perusahaan yang ber-tagline “Connecting Indonesia” ini, dijadwalkan pada bulan Agustus 2015 mempunyai line jaringan yang terhubung ke Singapura. Dengan demikian, Biznet akan mempunyai diferensiasi produk dengan operator yang ada di tanah air karena mempunyai jaringan internasional sendiri yang terkoneksi langsung ke pusat internet di seluruh dunia. •ANDRI
DINILAI dapat mematikan industri lokal dan hanya menguntungkan pemain besar, Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) menyampaikan pandangannya terkait susunan matrik RPP (Rancangan Peraturan Pemerintah) yang mengatur transaksi jual beli online (e-commerce) yang digulirkan oleh Kementerian Perdagangan RI.
Bila selama ini idEA sebagai asosiasi yang mewadahi e-commerce di tanah air selalu dilibatkan dalam merumuskan rancangan RPP tersebut, namun tampaknya masukan-masukan yang diberikan tidak ditanggapi oleh pemerintah. Terlihat tidak adanya kesesuaian dari isi draft dengan apa yang didiskusikan selama ini.
Menurut Ketua Umum idEA, Daniel Tumiwa, draft yang diterimanya tidak sesuai dengan perbincangan yang selama ini dilakukan. Banyak terdapat di dalamnya pasal-pasal yang tidak pernah dilihat sebelumnya. “Kami hanya diberi waktu selama 7 hari untuk memberikan tanggapan terhadap draft RPP tersebut. Padahal ada sekitar 70 pasal yang tertera dan harus kami kaji secara mendalam. Oleh sebab itu, kami meminta perpanjangan waktu selama 30 hari. Namun hingga detik ini, asosiasi belum menerima jawaban dari Kemendag apakah permohonan perpanjangan waktu tersebut dikabulkan,” ujar Daniel, di Jakarta (1/7).
Sebelumnya, pihak asosiasi telah berulangkali mengajukan keluhan kepada Kemendag yang dinilai tidak transparan dalam menyusun RPP tersebut. Selama 2 tahun bergulir, asosiasi tidak pernah diberikan akses terhadap draft dokumen. Matriks yang diberikan pun dirasa tidak cukup komperhensif. Padahal sangat penting untuk mengevaluasi keseluruhan dokumen secara utuh
Dari matrik yang diterima, pihak idEA menggaris bawahi beberapa point yang perlu dikaji ulang oleh Kemendag. Pertama, diperlukannya kejelasan batasan tanggung jawab pelaku usaha yang terlibat dalam bisnis e-commerce, karena di sini ada pedagang, penyelenggara transaksi perdagangan melalui sistem elektronik (PTMSE), dan penyelenggara sarana perantara.
“Bisnis e-commerce memiliki tingkatan tersendiri, di sini idEA membaginya menjadi tiga model bisnis. Ada retail, seperti yang dilakukan Blibli, Lazada dan Tiket. Lalu marketplace, seperti Tokopedia dan Bukalapak. Selanjutnya, adalah classified seperti Kaskus dan OLX. Jadinya, dengan perbedaan ini maka tanggung jawabnya juga perlu dibedakan sesuai dengan model bisnisnya,” papar Budi Gandasoebrata, Wakil Kepala Bagian Kebijakan Publik idEA.
Kedua, adalah mengenai kesetaraan penegakan aturan terhadap pelaku usaha yang berkedudukan di dalam wilayah Indonesia dan luar negeri. Apabila pemerintah tidak dapat melakukan enforcement yang seimbang kepada pelaku usaha asing yang berada di luar wilayah Indonesia, pengguna internet tentunya dapat menggunakan solusi lain yang tidak diatur oleh hukum Indonesia.
Dan ketiga, adalah perihal kewajiban untuk memiliki, mencantumkan dan menyampaikan identitas subjek hukum (KTP, Izin Usaha, Nomor SK Pengesahan Badan Hukum) atau yang dikenal sebagai KYC. Dalam hal ini, asosiasi mengusulkan KYC hanya dengan data nomor telepon, karena regulasi pada bidang telekomunikasi telah mewajibkan dan menerapkan KYC terhadap para pengguna nomor telepon. Selain itu, hingga saat ini belum terdapat sarana yang disediakan pemerintah agar PTPMSE dapat melakukan verifikasi identitas (KTP) pedagang dan konsumen.
“Kami berharap Kemendag bisa kembali berdiskusi terkait perumusan draf RPP e-commerce dan berpihak pada indutri lokal. Sebab, peraturan ini sangat menentukan masa depan industri online. Dimana ke depannya e-commerce lokal sangat berpotensi mendongkrak pertumbuhan ekonomi Negara,” tutup Daniel. •ANDRI
MESKIPUN perangkat gadget yang kita beli sudah dilengkapi dengan garansi resmi dari produsen maupun distributor, ternyata tidak membuat kita nyaman sebagai pembeli dalam mengajukan klaim perbaikan atau penggantian bila perangkat mengalami kerusakan. Mulai dari proses perbaikan yang memakan waktu berbulan-bulan, hingga adanya biaya yang harus dikeluarkan bila kerusakan terjadi pada bagian tertentu yang ternyata tidak dicover garansi.
Nah, sekarang ini hadir sebuah layanan Easy Cover yang memberikan proteksi bagi perangkat smartphone, tablet dan laptop dari kerusakan atau terkena cairan. Namun, layanan ini hanya dapat dinikmati bagi mereka yang melakukan pembelian gadget secara kredit di Home Credit.
Menurut CEO PT Home Credit Indonesia, Jaroslav Gaisler, untuk menghadirkan program Easy Cover, pihaknya menggandeng TecProtec yang telah berpengalaman menyediakan layanan garansi dan proteksi di pasar Asia. “Easy Cover akan menjamin semua kerusakan yang diakibatkan terjatuh maupun tersiram air. Bahkan, jika perangkat sudah benar-benar tidak dapat diperbaiki akan diganti unit baru,” ujar Gaisler, di Jakarta (1/7).
Untuk pengajuan klaim, disebutkan Group Chief Finacial Officer TecProtec, Julian Wong, caranya cukup mudah. Konsumen cukup menelpon customer service dan tidak perlu membuang-buang waktu untuk mengantarkan gadget atau perangkat yang rusak tersebut, karena akan ada teknisi yang menjemput atau mengambilnya dari tempat pelanggan berada untuk diperbaiki.
“Kami akan menjemput ke kantor atau pun tempat tinggal pelanggan. Hanya dalam waktu 7 hari, kami akan mengirim kembali ke pelanggan dengan kondisi sudah diperbaiki ataupun diganti baru kalau memang tidak bisa diperbaik lagi,” papar Wong.
Easy Cover juga memberikan 3 bulan garansi pasca perbaikan. “Jadi bila setelah diperbaiki ternyata dalam rentang 3 bulan mengalami masalah, maka kami akan kembali menanganinya,” lanjut Wong.
Proteksi ini hanya berlaku selama masa cicilan pinjaman di Home Credit di lebih dari 1000 mitra yang ada, seperti Oke Shop, Global Teleshop, Hypermart, Electronic Solution, Pazia, Oppo, dan lain sebagainya.
Perlu diketahui, Home Credit merupakan penyedia layanan pembiayaan multi-cahnnel internasional yang didirikan tahun 1997 dan telah beroperasi di 10 negara. Di Indonesia sendiri, keberadaannya sejak 2012 dengan mengawali bisnisnya di wilayah Jakarta diikuti dengan Bandung, dan rencananya akan ekspansi ke kota-kota lainnya di tanah air. •ANDRI
PT Synnex Metrodata Indonesia (SMI), perusahaan yang bergerak pada pendistribusian produk-produk teknologi informasi dan komunikasi (TIK), kembali memperkaya lini produknya untuk kategori perangkat lunak. Kali ini, software business analytics dari Qlik yang ikut menambah daftar solusi dari perusahaan yang telah memilki pusat distribusi secara nasional ini.
Kesepakatan kerjasama pun ditandai dengan penandatanganan MoU antara Agus Honggo Widodo, selaku President Director, SMI dengan Terry Smagh selaku Vice President & Managing Director Asia, Qlik. “Kami sangat senang dan bangga dipercaya Qlik sebagai Elite Partner untuk mendistribusikan piranti lunak QlikView dan Qlik Sense untuk pasar SMB (small medium business) dan enterprise di Indonesia,” ujar Agus, di Jakarta (1/7).
Qlik sebagai perusahaan yang berfokus dalam bidang analitik visual, menurut Agus, akan memudahkan pelaku bisnis di tanah air dalam mengelola dan menganalisa data informasi yang dimiliki menjadi bahan untuk mengambil keputusan dengan cepat.
Karena solusi ini ditujukan juga untuk SMB, tentunya harga yang ditawarkan juga kompetitif dan ada model license agreement yang hitung-hitungan pembayarannya berdasarkan jumlah user yang menggunakan. “Ya, jadi perusahaan tidak perlu membayar mahal, karena bisa membelinya berdasarkan pemakaian dari user saja. Menariknya, solusi analitik ini bisa dicoba terlebih dahulu produk demonya sebelum benar-benar diimplementasikan,”papar Agus.
Sementara itu, Terry Smagh menyampaikan kehandalan dan kemudahaan penggunaan dari platform analitik yang dikembangkannya. Disebutkan, QlikView menyediakan kemampuan organisasi dengan sebuah out-of-the-box untuk menciptakan aplikasi data visualization dan business intelligence. Sedangkan qlik Sense merupakan visualisasi data revolusioner yang mandiri dan penemuan aplikasi yang dirancang untuk individu, kelompok dan organisasi. Qlik Sense memungkinkan menciptakan visualisasi dengan cepat, menelusuri data sedalam mungkin, koneksi yang cepat, dan dapat melihat peluang dari berbagai sudut.
“Software ini mempunyai dashboard dengan interface yang memudahkan user men-select segala informasi yang dibutuhan secara detail dan specifik. Sehingga tanpa bantuan orang IT pun bisa dengan mudah dan cepat menganalis data. Dengan demikian, diharapkan perusahaan bisa mengambil keputusan lebih akurat dan cepat,” jelas Terry.
Melalui kerjasama yang dilakukan ini, keduanya akan bersama-sama menawarkan solusi Qlik melalui channel SMI yang sangat kuat di seluruh Indonesia. Ditargetkan porsi pasar SMB dan Enterprise akan berimbang, yakni 50:50. •ANDRI
SALAH satu perusahaan penyedia jasa transportasi yang sedang booming di kalangan masyarakat, Go-Jek, kembali memberikan program khusus bagi para armada mereka. Program yang diberi nama Go-Jek Street Smart Program ini bertujuan untuk memberikan dan meningkatkan kualitas mengemudi dan juga pelayanan terhadap para pengguna aplikasi Go-Jek di indonesia.
Pihak Go-Jek menyebutkan dengan pesat nya populasi kendaraan roda dua di Jalan dapat mengakibatkan ketidaktertiban yang terjadi di Jalan dan Go-jek melakukan antisipasi terhadap hal tersebut dengan meluncurkan program ini.
Mereka tidak sendirian dalam menggarap program ini, karena pihak Go-Jek bekerja sama dengan salah satu konsultan keselamatan yang cukup terkenal yaitu Rifat Driver Labs.
Rifat Sungkar, Founder Rifat Drive Labs (RDL) yang juga sebagai duta safety driving Indonesia mengungkapkan (30/6), “Tugas kami di sini adalah mengajarkan ilmu safety dan defensive riding bagi para pengendara ojek agar bisa memberikan kontribusi rasa aman bagi para pengguna aplikasi Go-Jek dengan meningkatkan sumber daya pengetahuan para bikers tentang pelatihan bermanuver serta etika berlalu lintas.”
RDL atau Rifat Drive Labs sendiri adalah konsultan keselanatan berkendara yang berdiri pada 1 Novenber 2014 yang berfokus pada pelatihan mengemudi secara aman.
Nadiem Makarim, CEO dan Founder Go-Jek mengatakan, “Setiap armada Go-jek diwajibkan mengkuti program ini, karena keamanan berkendara jauh lebih penting dari penghasilan satu hari yang terlewatkan akibat mengikuti kegiatan ini.”
Nadiem juga menyebutkan bahwa sejak beroperasi pada Januari 2015, sampai dengan saat ini armada go-jek sudah mencapai 10 ribu Bikers yang kesemua nya tersebar di empat wilayah di Indonesia yaitu Jabodetabek. Bandung, Bali dan Surabaya.
Gojek bakal diposisikan sebagai kendaraan penghubung (feeder) dari rumah atau kantor menuju stasiun kereta atau terminal bus. Nadiem yakin Gojek tidak bersaing langsung dengan transportasi umum karena tarifnya yang terbilang premium, seperti taksi. “Kami bukan lawan transportasi publik. Gojek akan menjadi feeder,” ucap Nadiem.
Gojek, yang merilis aplikasi untuk Android dan iPhone pada Januari 2015, diakui Nadiem belum menikmati keuntungan. Mereka saat ini masih dalam tahap edukasi dan memberi subsidi kepada pengemudi. •ARIE