ISTILAH blusukan memang sudah menjadi ‘trade mark’ Presiden terpilih, Joko Widodo (Jokowi) sejak menjadi Walikota Solo hingga menjabat Gubernur DKI Jakarta. Setelah resmi menjadi Presiden RI nantinya, Jokowi berjanji akan tetap melakukan kegiatan mengunjungi masyarakat secara langsung yang menjadi kegemarannya tersebut. Tetapi mengingat begitu luasnya wilayah Indonesia, Jokowi menyadari tidak mungkin untuk blusukan keliling Indonesia dalam waktu singkat. Oleh karena itu, ia pun membuat gebrakan baru dengan menghadirkan e-Blusukan.
Sejauh ini, program itu masih akan terus dibahas. Jokowi pun mengundang para pegiat media sosial untuk menciptakan program blusukan ini. “Saya kalau blusukan ke seluruh provinsi kabupaten dan kota kan tidak memungkinkan. Namun, masih dalam penggodokan, pengolahan,” paparnya beberapa waktu lalu.
Untuk bentuk programnya, Jokowi masih belum tahu. Bisa saja program blusukan itu seperti konferensi video. Yang pasti, Jokowi ingin bisa mendengar masukan dari seluruh rakyat Indonesia. “Ya, media sosial nanti akan betul-betul kita gunakan untuk mendengarkan suara rakyat. Tidak harus ketemu langsung, bisa lewat Twitter dan Facebook,” tegas Jokowi.
Beda Jokowi, beda pula dengan Onno W. Purbo. Ditemui saat soft launching Onno Center di studio webinar Kementerian Pendidkan dan Kebudayaan, Jakarta (28/8), Pakar Internet ini mempraktekkan webinar (seminar berbasis web) yang melibatkan banyak peserta di berbagai penjuru Indonesia untuk bersama-sama melakukan seminar interaktif secara online.
Pengembangan webinar ini dilakukan bekerjasama dengan organisasi bernama Genta Foundation Cyberpreuneur. Dedi Yudianto, Pendiri Genta Foundation Cyberpreuneur mengatakan, karena konsepnya sama dengan blusukan nyata yang dilakukan Jokowi, maka kami menamakan webinar ini dengan Blusukan Online.
“Namun berbeda dengan webinar pada umumnya, Blusukan Online mampu melibatkan banyak orang. Kami telah mencoba sistem ini selama setahun, dan telah berhasil melibatkan lebih dari 500 peserta. Jika server yang kita gunakan lebih besar lagi, kemungkinan bisa melibatkan 1000 peserta sekaligus,” pungkas Dedi yang juga Pendiri Cyber Park Indonesia ini.
Kedepan, Blusukan Online akan semakin dikembangkan bersama Onno Center. Onno berencana menggabungkan Blusukan Online dengan web crawler alias software bot yang menelusuri internet untuk mencari kata kunci tertentu. Hasil pencarian kemudian diindeks secara otomatis sehingga tren terkini bisa dengan cepat terlihat.
“Jadi misalnya kalau memantau Twitter, bisa kelihatan isu apa yang sedang banyak dibicarakan,” jelas Onno.
Onno mencontohkan kemungkinan memakai web crawler untuk melihat respon publik terhadap suatu kebijakan pemerintah secara real time. Begitu kebijakan diresmikan, saat itu juga web crawler bisa langsung menggali opini yang berkembang terhadap kebijakan yang bersangkutan, apakah didukung atau ditentang.
Metode macam ini, menurut Onno, sebenarnya sudah banyak diterapkan di seluruh dunia. Hanya saja, tujuannya berbeda. Kebanyakan digunakan untuk keperluan pemasaran lewat media sosial. Ia sendiri mengaku sudah mulai melakukan crawling secara manual, memakai aplikasi Hootsuite.
“Tapi yang paling ideal menggunakan sistem otomatis yang ada statistiknya, agar kelihatan seperti apa urgensi dari sebuah isu. Kalau sudah diterapkan, kita bisa memberi masukan ke pemerintah tentang apa yang dibutuhkan masyarakat,” papar Onno.
Kendati teknologi bisa mewakili kehadiran fisik seseorang, Onno mengaku bahwa dirinya lebih suka menjalin komunikasi secara langsung untuk aktifitas yang paling digemarinya, yakni mengajar.
Sementara Soegiharto Santoso alias Hoky selaku Pemred Majalah dan Media Online BISKOM yang diberi amanah sebagai salah satu Juri Cyberpreuneur Competition menyatakan, “BISKOM bersama Genta Foundation Cyberpreuneur dan Onno Center, kedepannya akan tetap melakukan roadshow ke daerah-daerah. Rencananya, setiap kali mengunjungi satu daerah, akan menggunakan pula program Blusukan Online ini, agar supaya efek pembelajaran yang dilakukan oleh Kang Onno akan terasa manfaatnya secara lebih masif,” Pungkasnya. •ANDRI/M. TAUFIK(foto)
ONNO Center dibangun bukan untuk memanfaatkan nama Onno W.Purbo, Pakar Internet, yang saat ini digadang-gadang menjadi calon Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo).
“Ide Onno Center sebetulnya sudah dibicarakan sejak lama. Cita-cita mencerdaskan bangsa pun telah menjadi visi Onno sejak lama,” papar Soegiharto Santoso, salah satu pendiri Onno Center pada saat soft launching yayasan tersebut di Jakarta (28/8).
Soegiharto menegaskan, Onno Center tidak ada hubungannya dengan pencalonan Onno sebagai Menkominfo dan bukan ‘kendaraan’ untuk mempromosikan Onno. “Namun memang harus diakui, saat ini adalah momen yang tepat untuk segera merealisasikan Onno Center, dimana pemerintahan yang baru terpilih mempunyai program utama yakni revolusi mental. Program tersebut tidak jauh berbeda dengan kami, yakni ingin sebanyak mungkin membangun sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, terutama di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Ini akan menjadi dukungan terhadap program pemerintah dan yang bisa kami berikan untuk rakyat Indonesia,” paparnya.
Saat peresmian Onno Center yang mengundang sekitar 20 wartawan tersebut, kepada BISKOM Onno mengatakan, “Menteri itu urusan presiden sepenuhnya. Terpilih atau tidak jadi menteri, visi saya dari dulu tetap sama yaitu mencerdaskan bangsa. Daripada sibuk memberi komentar tentang pencalonan tersebut, saya memilih untuk terus berkarya. Mengajar itu hobi saya. Kalau jadi menteri, saya khawatir tidak bisa ngajar. Tapi kalau nanti terpilih jadi menteri pun, ya anggap saja bonus,” ujarnya berseloroh.
Onno Center adalah pusat kegiatan pengembangan riset dan teknologi serta penulisan, terutama untuk teknologi internet, dengan Onno W. Purbo, sebagai icon-nya. Kegiatan Onno Center akan berupa seminar dan workshop, ujicoba produk, memfasilitasi inkubasi startup, diskusi dan pembahasan terkait bidang TIK, roadshow ke daerah-daerah untuk mewujudkan internet masuk desa (#internetrakyat), menjalin hubungan baik dengan pemerintah, industri, asosiasi, media dan institusi pendidikan untuk mengadakan kegiatan lain yang tujuannya mencerdaskan bangsa.
Selain mempunyai basis lokasi fisik, opersional riset dan kegiatan Onno Center akan banyak dilakukan lewat media internet seperti Twitter dan Facebook serta webinar yang dinamai Blusukan Online.
Selama masa sosialisasi, Onno Center akan terus mengajak berbagai pihak untuk mendukung dan bergabung ke dalam semua aktifitas yang sudah direncanakan. •
TAK mau ketinggalan dalam memeriahkan hari Kemerdekaan Indonesia ke-69, Taiwan External Trade Development Council (TAITRA), dibawah pengawasan Biro Perdagangan Luar Negeri (BOFT), Kementerian Ekonomi (MOEA) Taiwan, menggelar Kompetisi Batik Taiwan Excellence yang bisa diikuti oleh seluruh masyarakat Indonesia.
Kegiatan yang menjadi salah satu bagian dari kampanye Taiwan Excellence di tahun ini ingin mengundang bakat-bakat kreatif yang ada untuk mewujudkan filosofi bernilai, andal dan inovatif dari Taiwan Excellence serta berpartisipasi dalam merayakan warisan budaya kebanggan bangsa melalui rancangan batik.
Tony Lin, Direktur TAITRA Jakarta mengatakan, kompetisi batik ini diselenggarakan sebagai bentuk dukungan Taiwan Excellence dalam pelestarian warisan budaya Indonesia. “Sejak Kampanye Taiwan Excellence diluncurkan pertama kali pada tahun 2010, kami senang sekali mengetahui bahwa semakin banyak konsumen Indonesia yang mencintai merek-merek dari Taiwan dan menjadikannya bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari mereka. Kami sangat mengapresiasi hal ini dan akan terus melakukan berbagai kegiatan yang dapat membantu konsumen Indonesia menghasilkan karya-karya kreatif berkualitas,” ujar Tony, di Jakarta (27/8).
Sementara itu, Celebrity Endorser kampanye Taiwan Excellence 2014, Whulandary Herman, merasa senang menjadi bagian dari Taiwan Excellence yang mengangkat Batik untuk dikompetisikan. Menurutnya, Batik telah menjadi kebudayaan bangsa yang dikenal dunia dan dirinya selalu bangga mengenakan batik disaat acara formal maupun informal. “Batik adalah bagian yang penting dalam hidup saya, begitu juga dengan produk-produk berkelas dunia dari Taiwan Excellence. Keduanya telah mendukung saya untuk menjalani gaya hidup yang aktif dan dinamis serta mencapai hal-hal terbaik dalam hidup saya,” ungkap Whulandari.
Ia pun mengajak semua bakat kreatif di Indonesia untuk mengikuti kompetisi batik Taiwan Excellence dengan menggunakan produk-produk berkualitas Taiwan dalam membantu menghasilkan karya kreatif, serta berpartisipasi dalam upaya pelestarian budaya Indonesia dengan Taiwan Excellence.
Produk-produk yang dimaksud, meliputi 55 merek terkenal Taiwan yang dibawa ke Indonesia, seperti Acer, Adata, Asus, HTC, Transcend, Lien Cheng, Strida, Tern dan Puli Paper.
Bagi masyarakat yang ingin turut serta dalam Kompetisi Batik Taiwan Excellence bisa mendaftarkan diri hingga 29 September 2014. Untuk informasi lebih lanjut terkait kompetisi ini bisa langsung mengunjungi situs INI. •ARIE/M. TAUFIK(foto)
DENGAN niat bersama untuk mencerdaskan bangsa di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), sejumlah penggiat TIK yang terdiri dari praktisi, pebisnis, profesional TIK dan akademisi meluncurkan Onno Center, hari ini (28/8) di Gedung E, Direktorat Pembinaan SMK, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta.
Onno Center adalah pusat kegiatan pengembangan riset dan teknologi serta penulisan, terutama untuk teknologi internet, dengan Pakar Internet, Onno W. Purbo, sebagai central-nya. Beberapa penggiat TIK yang menggagas pendirian Onno Center melihat Onno sebagai tokoh nasional yang secara konsisten terus berkreasi dan berinovasi untuk kepentingan rakyat banyak.
Disebutkan Onno, para penggiat TIK menilai bahwa perjuangan yang dilakukannya dalam mencerdaskan bangsa selama ini masih dalam skala kecil. “Dengan Onno Center yang dibantu dan didukung banyak ahli, tentunya skala penelitian yang telah saya lakukan akan menjadi jauh lebih besar dan dampaknya juga akan jauh lebih masif bermanfaat untuk rakyat,” ujar Onno,
Onno berharap, dengan adanya Onno Center akan mengentasi masalah kurang handalnya SDM TIK, dan akses internet yang terbatas. “Saya ingin agar produk-produk TIK lokal yang masih kurang dipercaya akan semakin ditingkatkan kualitasnya. Langkah ini dilakukan untuk menekan banyaknya solusi TIK asing yang diimplementasikan di Indonesia, sehingga menyebabkan semakin tingginya ketergantungan bangsa Indonesia pada bangsa asing. Hal ini juga yang menyebabkan adanya jurang perbedaan penguasaan teknologi Indonesia terhadap negara lain yang semakin sulit dikejar,” paparnya.
Di kesempatan yang sama, Soegiharto Santoso, Pebisnis TIK yang menjadi salah satu penggagas Onno Center menyebutkan, Onno Center dibangun atas keprihatinan terhadap terbatasnya ketersediaan sumber daya manusia (SDM) terampil yang memadai di bidang TIK.
Bidang-bidang yang akan diprioritaskan oleh Onno Center adalah pengembangan internet desa, percepatan implementasi internet sekolah, pengembangan sistem operasi berbasis open source seperti Linux dan Android, pengembangan server video streaming, eksplorasi untuk peningkatan kualitas eLearning, pengembangan OpenBTS dan lain sebagainya, yang merupakan riset-riset yang sempat dilakukan Onno. Dengan penambahan ide-ide baru terkait teknologi internet nantinya, diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi rakyat Indonesia.
Kegiatan Onno Center akan berupa seminar dan workshop, ujicoba produk, memfasilitasi inkubasi startup, diskusi dan pembahasan terkait bidang TIK, roadshow ke daerah-daerah untuk mewujudkan internet masuk desa (#internetrakyat), menjalin hubungan baik dengan pemerintah, industri, asosiasi, media dan institusi pendidikan untuk mengadakan kegiatan lain yang tujuannya mencerdaskan bangsa.
Soft launching Onno Center dan Cyberpreneur Competition 2014 merupakan awal dari rangkaian kegiatan roadshow yang dilakukan oleh Onno Center. Turut hadir pada acara ini adalah para praktisi TIK yang menjadi pendiri Onno Center diantaranya Dedi Yudianto, Nurlina Purbo, Ashari Abidin dan Haryadi Handoko. Sementara Agung Budi Santoso, Kasubdit Pembelajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menjadi salah satu nara sumber dalam peluncuran Onno Center.
Setelah diluncurkan, Onno Center telah menjadwalkan beberapa event roadshow lanjutan, diantaranya Paparan Onno Center di acara Taiwan – Indonesia ICT Roadshow (2 September 2014), membangun toko online, Android Apps di mobile device menjadi engineer system dan network engineer yg handal (4 September 2014), IT Camp (13-14 September di Cibubur), Cloud Computing dan TV Internet (15-16 September 2014 di Manado), Membuat sistem operasi Android, meng-compile dari sourcode (18 September 2014), Membuat server untuk TV streaming (29 September 2014), TIK Untuk Kawula Muda (6 Oktober 2014 di Bandung) dan Internet Rakyat: Implementasi IP6 dan Enum (16 Oktober 2014).
Sebagai catatan tambahan, Onno W. Purbo merupakan lulusan terbaik teknik elektro 1987 dan telah memperoleh penghargaan di level nasional maupun internasional antara lain adalah Ashoka Senior Fellow dari Ashoka (2005 – Amerika Serikat), Sabbatical Award (2003 – Kanada), Eishonhower Fellow ( 2002 – Amerika Serikat) dan masih beberapa lagi dan juga beberapa perhargaan nasional.
Onno W. Purbo telah menjadi ikon TIK di Indonesia. Beliau telah memberikan sumbangsih yang besar bagi kemajuan TIK di tanah air. Karya-karyanya seperti RT/RWnet, Wajanbolik dan juga OpenBTS telah menunjukan kepeduliannya kepada kesuksesan penerapan TIK di Indonesia.
Selain mempunyai basis lokasi fisik, opersional riset dan kegiatan Onno Center akan banyak dilakukan lewat media internet seperti Twitter dan Facebook serta webinar yang dinamai Blusukan Online, sehingga semua pihak yang terlibat dalam Onno Center dapat terus saling berkoordinasi untuk mendapatkan saran, masukan, koreksi, pengkayaan dan pengawasan langsung dari Onno. •ANDRI/TAUFIK(foto)
SOFT launching Onno Center bertepatan dengan peluncuran Cyberpreneur Competition 2014 yang digelar Genta Foundation Cyberpreneur bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Dalam kesempatan tersebut, sosialisasi kegiatan Cyberpreneur Competion 2014 dan Onno Center dilakukan langsung kepada 510 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang tersebar di wilayah Indonesia melalui fasilitas web seminar (webinar) atau video conference.
Cyberpreneur Competition merupakan bagian dari kegiatan Cyberpreneur yang berupa pelatihan di bidang TIK untuk SMK dengan mengunakan fasilitas webinar. Pelatihan yang diikuti ratusan sekolah dari berbagai daerah ini digelar setiap minggu dan telah berlangsung selama satu tahun.
Bertujuan meningkatkan kompetensi siswa, dalam kompetisi ini akan mengangkat materi-materi lomba di bidang TIK yang memang dibutuhkan pasar saat ini, antara lain WLAN, System Network Admin, Aplikasi Mobile Android, Toko Online, Web Portal Daerah, Membuat Rencana Bisnis dan Web Desain Statis.
“Program Cyberpreneur dalam kegiatannya tidak hanya mendorong pelajar SMK untuk meningkatkan kompetensinya di bidang TIK, tetapi juga menjadi jembatan penghubung antara SMK dengan industri. Oleh sebab itu kami membuat materi lomba yang disesuikan dengan kebutuhan industri,” ungkap Dedi Yudianto, Ketua Pembina Genta yang juga masuk dalam tim Onno Center.
Terkait dengan peresmian Onno Center, Dedi merasa kegiatan-kegiatan ini adalah yang dibutuhkan bangsa saat ini agar tidak tertinggal di bidang TIK. “Bersinergi dengan Onno Center akan menambah kekuatan bagi Cyberpreneur dalam pembinaan pendidikan internet dan produk-produk turunannya, karena di dalamnya berkumpul para ahli di bidang TIK,” lanjut Dedi.
Oleh sebab itu, pihaknya juga menyertakan tim yang ada di Onno Center untuk menjadi juri dalam kompetisi yang diadakannya, antara lain Onno W Purbo (Pakar Internet), Soegiharto Santoso (Pebisnis TIK), Ranu Arifudin (Praktisi Infrastruktur Jaringan Wireless), dan Chairul Anwar (Akademisi dari IBM ASMI). Sedangkan dari pemerintahan ada Mustaghfirin Amin (Direktur Pembinaan SMK), yang selama ini mendukung kegiatan Cyberpreneur untuk diselenggarakan di instasinya.
Mustaghfirin mengatakan, “Cyberpreneur Competition yang akan berlangsung selama satu semester ini bervisi untuk menciptakan wirausahawan dan profesional muda Indonesia dalam bidang TIK yang berdaya saing global. Nantinya peserta didik tidak hanya sekedar lulus tapi mempunyai kompetensi.”
Onno sendiri melihat, apa yang dilakukan Cyberpreneur sangat mendukung penciptaan SDM yang berkualitas di bidang TIK. Namun saat kegiatan webinar berlangsung, masih terlihat keterbatasan akses internet yang menyebabkan sering terputusnya komunikasi di beberapa daerah. “Keterbatasan internet ini lah yang harus menjadi perhatian bersama untuk mengupayakan prioritas percepatan implementasi internet sekolah, terutama di daerah-daerah,” papar Onno.
Sementara Soegiharto Santoso alias Hoky selaku Pemred Majalah dan Media Online BISKOM yang juga sebagai pendiri Onno Center menyampaikan, “Penyediaan akses internet untuk pendidikan yang merata di seluruh Indonesia menjadi tugas semua pihak. Karenanya Onno Center bertekad untuk menjalin hubungan baik dengan pemerintah, industri, asosiasi, media dan institusi pendidikan yang tujuan utamanya adalah untuk mencerdaskan bangsa.” Pungkasnya. •ANDRI/M. TAUFIK(foto)
MELIHAT pasar smartphone tanah air yang begitu besar, membuat penyedia layanan 4G LTE yaitu Bolt tergiur untuk merambah pasar smartphone. Hal ini dapat terlihat dengan diluncurkannya smartphone terbarunya BOLT! Powerphone.
Bila sebelumnya memberikan layanan 4G melalui modem router, kali ini Bolt ingin memberikan pengalaman baru bagi masyarakat untuk merasakan jaringan 4G melalui smartphone BOLT! Powerphone yang tersedia dengan dua pilihan perangkat, yaitu ZTE V9820 dan IVO V5.
Memilki layar besar berukuran 5 inci, kedua smartphone ini sudah didukung Android KitKat yang diperkuat prosesor QuadCore 1,2 GHz dari Qualcom Snapdragon. Namun demikian dari sisi kamera dan RAM, ZTE V9820 memiliki memiliki spesifikasi lebih tinggi yaitu 13 MP dan RAM 2GB. Dibandingkan IVO V5 yang hanya memiliki kamera 8 megapiksel dan RAM 1 GB. Dari sisi harga ZTE V9820 juga lebih mahal yaitu Rp.3.099 ribu dan IVO V5 hanya Rp.2.099 ribu. Keduanya sudah mendapatkan bonus kuota 8GB secara gratis.
“Melalui kehadiran BOLT! 4G Powerphone, konsumen dapat menikmati mobile internet 10x lebih cepat dan kuota data 70% lebih hemat, sehingga lebih banyak lagi impian dan kesuksesan yang dapat diraih setiap saat dengan memanfaatkan internet yang cepat,” ujar Liryawati, Chief Marketing Officer Bolt Super 4G LTE, di Jakarta (21/8).
Ia juga menyebutkan, untuk memberikan kenyaman bagi pengguna Bolt dalam mengakses jaringannya, saat ini BTS yang dibangun sudah mencapai 2.200 BTS untuk wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek). Direncanakannya hingga akhir 2014 ini akan mencapai 3.600 BTS untuk meningkatkan kapasitas layanannya. •ANDRI/M. TAUFIK (foto)
Dengan kekayaan alam dan potensi daerah yang besar, tidak ada alasan bagi Indonesia untuk kalah di bidang industri kreatif. Untuk mewujudkan hal tersebut, warga desa butuh teknologi yang mandiri, seperti open source yang tidak membangun ketergantungan baru.
BERBICARA mengenai desa, salah satu putra terbaik dan politisi kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, pada 10 Maret 1970 ini bisa dibilang mempunyai perhatian khusus untuk melakukan perubahan menjadikan desa sebagai garda depan pertumbuhan ekonomi nasional.
Keinginannya untuk melakukan perubahan mulai dapat direalisasikannya saat menjabat sebagai anggota Komisi II DPR RI untuk periode 2009-2014 dengan mengawal Rancangan Undang-undang (RUU Desa) hingga akhirnya disyahkan menjadi Undang-undang Desa No.6 Tahun 2014 tentang Desa yang mendorong anggaran bagi rakyat kecil di wilayah pedesaan.
Budiman Sudjatmiko, politisi tersebut, merupakan tokoh yang selama ini juga dikenal sebagai aktivis dan penulis. Ia menaruh perhatian yang besar terhadap pembangunan desa. Budiman juga terlibat dalam Gerakan Desa Membangun (GDM) yang menelurkan gagasan Desa Melek Informasi dan Teknologi (DeMIT), sehingga dirinya manyandang predikat baru sebagai praktisi Teknologi Informasi (TI). Sejalan waktu, perhatiannya pun semakin besar. Bukan hanya menggerakan TI untuk sarana membangun desa, namun juga menggali potensi daerah hingga mewujudkan industri kreatif.
Menurut Budiman, UU Desa dan DeMIT menjadi dua perangkat penting untuk menuju Nol Kemiskinan di Indonesia. UU Desa dianggap memiliki strategi membangun kedaulatan desa, sementara DeMIT hadir sebagai salah satu wujud kesiapan desa untuk menjalankan UU Desa.
“Pembangunan harus bertumpu dari bawah yaitu pada kemampuan 73.000 desa untuk menyangga kemajuan Republik ini. Sehingga visi saya kedepan, yakni Indonesia nol kemiskinan dapat terwujud. Cukup sandang, pangan dan papan,” ujar lulusan Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada yang bergelar Master Hubungan Internasional dari Universitas Cambridge, Inggris ini.
Dijelaskannya, GDM yang awalnya terkonsentrasi di Banyumas telah diikuti langkahnya oleh ribuan desa lainnya mulai dari Pidie hingga Raja Ampat. “Kini ada 1.002 desa yang melakukan inisiatif serupa di Indonesia. Perbedaan gerakan ini dengan inisiatif serupa lainnya terletak pada kemampuan mereka memanfaatkan TI untuk bekerja sama, berbagi informasi, penguatan diri hingga advokasi,” papar Budiman, yang juga aktif di pengurusan Steering Committee dari Social-Democracy Network in Asia (Jaringan Sosial-Demokrasi Asia) dan Pembina Utama di Dewan Pimpinan Nasional organisasi Parade Nusantara.
GDM sendiri digagas oleh para Kepala Desa dan warga desa yang menguasai isu rural, sekaligus mengkomunikasinya dengan beragam pihak dengan cara-cara baru, misalnya internet, sosial media, termasuk merancang sistem aplikasi piranti lunak. Budiman sendiri di GDM lebih banyak terlibat sebagai penghubung dalam mengerjakan kerja-kerja kolaborasi banyak pihak.
Selanjutnya, berikut ini petikan wawancara BISKOM dengan Budiman Sudjatmiko yang berhasil terpilih kembali menjadi anggota dewan periode 2014-2019 melalui Pemilu Legislatif beberapa waktu lalu.
Diantara banyaknya desakan terhadap pembangunan desa yang maju secara merata, mengapa Anda memilih TI menjadi fokus pembangunan? Saya sadar dukungan TI di desa memang ide yang melompat. Namun, untuk mengurangi kesenjangan kota-desa, kita butuh strategi “abnormal”. Strategi abnormal memungkinkan desa melakukan lompatan cerdas untuk menumbuhkan sentra-sentra ekonomi baru.
Bisa kita lihat perkembangan masyarakat modern di Eropa mengikuti alur agraris ke industrial lalu post-industrial. Alur itu banyak diadopsi oleh berbagai negara dalam perencanaan pembangunannya. Hasilnya, desa justru semakin sulit menyalip masyarakat perkotaan dan ini berbuah kegagalan.
Saat merancang UU Desa, misalnya, saya terinspirasi dari gerakan DeMIT. Warga desa tak perlu meninggalkan tradisi agrarisnya untuk meraih jalan kemakmuran, namun mereka harus berani melompat ke fase post-industrial untuk mendayagunakan potensi desa secara maksimal. Untuk itu warga desa butuh teknologi, baik TI ataupun nano teknologi, yang mandiri, seperti open source yang tidak membangun ketergantungan baru.
Desa akan memenangkan persaingan berbekal kecepatan dan ketepatan dalam mengelola informasi. Bayangkan, bila pengetahuan bercorak agraris dikawinkan dengan nano TI, maka dalam 5-10 tahun mendatang akan tumbuh sentra-sentra industri baru di wilayah perdesaan.
Apakah desa mempunyai kemampuan tersebut? Awalnya akan terasa lucu, terlebih bila gagasan ini diusung oleh desa-desa yang lokasinya di pelosok-pelosok. Tapi mitos itu sudah dipatahkan oleh GDM dengan program DeMIT-nya. Minimnya infrastruktur telekomunikasi di desa memang tak mampu hentikan gerakan mereka, tapi justru GDM mampu melahirkan inovasi dan kreativitas dalam pemanfaatan TI. Pandangan publik yang selama ini menilai desa sebagai komunitas terbelakang, pemalas, dan miskin itu betul-betul sesat.
Dukungan TI memungkinan tata kelola pemerintahan makin mengakomodasi dan mendengar aspirasi rakyat. Strategi pembangunan di desa harus menempatkan desa sebagai subjek pembangunan. Saatnya kita terapkan konsep desa membangun, bukan membangun desa, supaya akselerasi pembangunan desa makin meningkat.
Sejauh ini bagaimana hasil yang diperoleh DeMIT? Sudahkah dijalankan dan desa manakah yang tengah menjalankan program ini? Pada pertengah 2014, jumlah desa yang mampu memanfaatkan TI sudah di atas angka 1000. Angka ini cukup fantastis karena sebagian besar desa mampu mengelola web justru berasal dari daerah yang tidak memiliki akses internet yang bagus. Untuk sekadar mengunggah konten, mereka susah payah mencari titik akses di kota terdekat. Dahsyatnya, desa-desa itu justru mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi warganya berkat promosi dan pemasaran produk unggulan desa secara online.
Budiman Sudjatmiko bersama Angki Trijaka dan Soegiharto Santoso, Pemimpin Redaksi BISKOM.
Sebutlah Karangnangka, sebuah desa di lereng Gunung Slamet di Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas. Lewat websitenya http://karangnangka.desa.id beragam produk unggulan desa dipublikasikan secara rutin. Ada benih ikan, susu segar, mebeler, es cream, peternakan, dan lainnya. Dampaknya, komoditas desa itu tak sekadar diketahui oleh warga setempat tapi juga para pelaku ekonomi di daerah lainnya. Sekarang penjualan benih ikan gurami warga Desa Karangnangka sudah berlangsung antarkota sehingga setiap hari total omzet benih yang terjual mencapai Rp. 2-3 juta rupiah.
Perekonomian desa tumbuh akibat para pelaku ekonomi desa mampu mengemas gagasan dan kreativitasnya menjadi gagasan kolektif publik. Bila tren di sejumlah desa itu mampu direplikasi oleh desa-desa lainnya, maka bukan hal yang mustahil apabila 5-10 tahun ke depan, desa akan menjadi garda depan pertumbuhan ekonomi nasional.
Anda adalah Wakil Ketua Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Desa (Pansus RUU Desa) yang memiliki tujuan mulia, yakni pengentasan kemiskinan di perdesaan. Kongkritnya, apa yang dilakukan setelah UU itu disahkan? Keberadaan Undang-Undang (UU) tentang Desa memberi harapan baru bagi warga yang tinggal di wilayah perdesaan. UU ini memberikan hak perencanaan, penganggaran, dan evaluasi pembangunan. Tak berlebihan bila tujuan UU Desa tak sekadar untuk pengentasan warga dari kemiskinan, juga memberikan harapan akan munculnya kelas menengah baru di kawasan perdesaan.
Kemunculan kelas menengah baru di dunia perdesaan muncul akibat kucuran dana pembangunan yang cukup besar untuk desa. Bila dirata-rata, ada kucuran Rp. 1,4 Milyar untuk desa dari Pemerintah Daerah (APBD) dan Pemerintah Pusat (APBN). Dengan anggaran ini warga desa bisa merencanakan pembangunan di wilayahnya tanpa harus risau alokasi pembiayaannya dan menumbuhkan usaha-usaha produktif di wilayah desa sehingga memunculkan sentra-sentra pertumbuhan ekonomi yang kuat.
Angka urbanisasi juga akan menurun sehingga persoalan di kota juga berkurang. Selain itu, UU Desa mendorong setiap desa bisa memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang kuat. BUMDes merupakan badan usaha desa yang dikelola secara kolektif dari, oleh, dan untuk masyarakat desa.
Anda akhir-akhir ini terlibat aktif bersama komunitas industri kreatif, bagaimana bayangan Anda industri kreatif Indonesia akan berkembang? Industri Kreatif akan menjadi salah satu unggulan Indonesia. Karena Industri kreatif adalah industri konten, sementara konten sangat membutuhkan bahan bakar utama yaitu inspirasi. Inspirasi bisa kita dapatkan kapan saja, di mana saja. Tetapi salah satu potensi yang hampir tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain adalah kekayaan budaya tradisional Indonesia.
Bangsa ini dilimpahi begitu banyak warisan kebudayaan, dan bukan main pula tingkat kejeniusan leluhur dalam berkreasi. Simak saja hasil penelitian Bandung Fe Institute yang banyak sekali memaparkan kebudayaan tradisional kita dengan pendekatan sains terkini. Hasil penelitian tersebut selain menguak kejeniusan leluhur, juga memberikan peluang cara kita memanfaatkan warisan budaya tradisional kita. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi kita untuk kalah di bidang industri kreatif jika kita bisa memanfaatkan potensi tersebut.
Seberapa besar industri kreatif berperan terhadap perekonomian rakyat? Harusnya sangat besar. Dan kita bisa sangat kompetitif di level internasional. Seandainya kita bisa memanfaatkan warisan kebudayaan ini dengan optimal, misalnya saja dengan melakukan diversifikasi produk, kita bisa tembus di angka Rp. 318 triliun sumbangsih industri kreatif. Dan menariknya lagi, industri kreatif adalah industri yang kebal krisis, sehingga ini menjadi sangat penting khususnya bagi negara berkembang seperti Indonesia.
Apa solusi yang Anda tawarkan terhadap pertumbuhan industri kreatif? Saya pikir, sebagai anggota legislatif, saya hanya bisa mendukung aksi-aksi masyarakat yang mempunya misi untuk membangun pondasi dari industri kreatif ini. Misalnya inspirasi tadi, maka dibutuhkan sumber data bagi kebudayaan Indonesia.
Saat ini saya juga terlibat di Gerakan Sejuta Data Budaya, dan membantu sebatas kemampuan saya. Gerakan ini mengajak publik untuk membangun sebuah pusat data partisipatif tentang kebudayaan tradisional Indonesia. Lalu, dengan lahirnya UU Desa, desa akan terstimulasi untuk membangun usaha-usaha berbasis desa. Dan saya pikir, Desa dan budaya tradisional sangat lah dekat. Karenanya, sebagai anggota legislatif, saya akan aktif mengawasi pelaksanaan UU Desa ini.
Secara umum, bagaimana Anda melihat pertumbuhan TI saat ini? Menurut Anda pula, seperti apa sosok ideal yang mampu membawa TI Indonesia bisa lebih maju? Perkembangan TI sangat maju. Sayang, sebagian besar kemajuan itu hasil dari impor, pelaku dan pengembang TI lokal masih sangat sedikit. Saya menaruh harapan besar pada komunitas-komunitas pengembang teknologi yang bergerak pada platform open source. Gerakan mereka telah menembus dunia perdesaan. Sejumlah desa, seperti Desa Mandalamekar dan Desa Melung, secara terbuka mengibarkan gerakan Goes Open Source. Kunci keberhasilan pengembangan TI berbasis open source sendiri adalah komunalisme dan kolektivitas. Sistem dikembangkan secara bersama-sama oleh para penggunanya sendiri. Mereka saling berbagi catatan, baik saat menemui kelemahan sistem (bugs) maupun persoalan kenyamanan saat menggunakannya. Cara kerja inilah yang membuat sejumlah piranti lunak open source, seperti Mozilla Firefox, Libre Office, Filezilla, Chrome, dan WordPress melejit melampaui piranti-piranti lunak sumber tertutup dan berbayar.
Sosok intelektual seperti Onno W. Purbo, saya kira tepat untuk membawa TI kita lebih maju. Dia mengembangkan TI untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kerakyatan tanpa membangun ketergantungan baru pada impor teknologi. Namun, kuncinya bukan di sosok tapi pada gagasan dan gerakan kolektif banyak pihak. Keberadaan komunitas-komunitas pengembang teknologi mutlak diperlukan.
BISKOM adalah salah satu penggemar blog Anda, budimansudjatmiko.net, dimana di situ Anda berjanji beberapa hal pada rakyat di Dapil Anda 5 tahun lalu. Sudahkah Anda mewujudkannya? Saya telah mengabdikan diri sebagai manusia politik. Tiga hari usai pengumuman lolosnya Budiman Sudjatmiko ke senayan dalam Pemilihan Umum 2009, saya meresmikan Rumah Aspirasi Budiman (RAB) di dapil saya. RAB berfungsi untuk menjembatani aspirasi konstituen supaya tidak terputus. Setiap hari RAB didatangi warga, umumnya warga mengadu masalah-masalahnya mereka seperti konflik agraria dan peningkatan kapasitas masyarakat.
Selama empat tahun lebih saya bekerja keras untuk mewujudkan janji saya pada Pemilu 2009, yaitu mendirikan Rumah Aspirasi Budiman, menyelesaikan sengketa tanah warga, dan mengegolkan UU Desa. Alhamdullilah tiga janji saya sudah saya bayar lunas. Warga tahu karena sebagian besar dari mereka terlibat aktif dalam mewujudkan janji itu.
Masyarakat kebanyakan mengalami kesulitan berkomunikasi dengan wakilnya di pemerintahan. Bagaimana cara Anda menjalin komunikasi dengan masyarakat? Tentu saja yang paling utama adalah turun langsung ke lapangan. Meskipun saya sudah membuka kantor Rumah Aspirasi Budiman sebagai kantor perwakilan di Purwokerto untuk dapil asal saya Kabupaten Banyumas – Kabupaten Cilacap, namun tentu saja untuk komunikasi yang intens kehadiran rumah aspirasi bisa juga dianggap masih kurang.
Karenanya dimasa reses saya kembali ke dapil, dan memanfaatkannya untuk berbaur dengan masyarakat agar bisa mendapatkan keluh kesah mereka. Misalnya saja untuk UU desa kemarin, saya berkunjung ke berbagai daerah untuk mendapatkan formula yang pas yang bisa menaungi seluruh desa di Indonesia. Seperti kita ketahui, dengan kondisi kita yang kepulauan dan diversitas tinggi budaya, tentu saja tidak bisa dengan mudah memformulasikan satu undang-undang. Akan tetapi, jarak dan waktu pula yang kadang membuat turun ke lapangan terkadang menjadi tidak efektif. Oleh sebab itu, peran TI menjadi penting. Misalnya saja, saya menggunakan Twitter sebagai alat alternatif untuk bisa berkomunikasi dengan masyarakat. Meski terbatas oleh jumlah karakter, tapi hal tersebut melatih kita untuk semakin efektif dalam berkomunikasi.
Pun demikian, di beberapa kesempatan saya melakukan video conference untuk bisa berdiskusi dengan desa-desa. Ini lebih untuk membahas suatu masalah, kemudian berbagi ide dan saran. Saya berharap dengan cara-cara ini masyarakat bisa menyampaikan harapannya kepada pemerintah atau mencari solusi untuk setiap persoalan. (Hoky)
SETELAH meluncurkan notebook gaming GS60 Ghost Pro pada Maret lalu, Agustus ini MSI memperkenalkan produk baru yang dinamakan WS60. MSI WS60 merupakan mobile workstation yang desainnya tipis dan ringan. Melihat fisiknya ini, WS60 tampak seperti ultrabook.
MSI WS60 menggunakan bahan aluminium yang tampak mewah. Memiliki ketebalan 19,9 mm dan berat 1,9 kg, MSI WS60 menjadi salah satu workstation paling tipis dan paling ringan di dunia setelah Dell Precision M3800 yang diperkenalkan pada September tahun lalu dengan ketebalan hanya 18 mm dan berat 1,88 kg.
Notebook ini memiliki layar besar berukuran 15,6 inci. Layarnya tersebut tersedia dalam 2 pilihan resolusi, yaitu layar Full HD 1920 x 1080 pixel dan layar IPS WQHD 2880 x 1620 piksel.
Selain tipis dan ringan, MSI WS60 menawarkan performa yang sangat menawan. MSI WS60 tetap dipersenjatai dengan spesifikasi tinggi. Notebook ini telah mengemas paduan prosesor Intel Haswell Intel Core i7-4710HQ, 2 slot RAM dengan kapasitas memori RAM maksimum 16Gb, serta kartu grafis Nvidia Quadro K2100M dengan VRAM GDDR5 2Gb. Tidak ketinggalan, MSI juga melengkapinya dengan sistem pendingin 2 kipas berteknologi MSI Cooler Boost 2 yang dijamin tidak berisik dan mampu mendinginkan notebook dengan optimal.
Untuk penyimpanan data, MSI membekali WS60 dengan media penyimpanan Hybrid dengan konfigurasi SuperRAID. Ruang penyimpanannya ini menggabungkan 2 SSD berkapasitas 128GB dan 1 HDD berkapasitas 1Tb.
Di fisiknya yang langsing, MSI tetap menyediakan konektivitas yang cukup lengkap dengan bekal 3 buah port USB 3.0, HDMI 1.4, dan port Thunderbolt 2 untuk transfer data super cepat. Dengan spesifikasinya tersebut, WS60 dapat dihubungkan ke 2 layar monitor tambahan jika diinginkan.
Keyboard backlit dari pabrikan SteelSeries yang bisa memancarkan cahaya dalam gelap, mungkin akan menjadi daya tarik tersendiri. Pengguna bisa menyesuaikan fungsi tombol keyboard notebook ini menggunakan MSI Shortcut Manager. Dengan fitur ini, pengguna bisa mengatur fungsi tombol untuk menjalankan perintah tertentu pada aplikasi yang digunakan atau untuk membuka aplikasi. Bagi mereka yang mendambakan kualitas suara yang mumpuni dari sebuah notebook, jangan khawatir. MSI WS60 telah menggunakan tata suara surround 7.1 dari Dynaudio dan teknologi Audio Boost dari Creative Sound Blaster Cinema 2.
MSI WS60 akan tersedia dalam waktu dekat dengan harga sekitar US$ 2.299 untuk versi layar Full HD dan US$ 2600 untuk versi layar 3K. Sampai saat ini belum ada kabar mengenai jadwal ketersediaannya di Indonesia. •
Pemilu telah selesai dan pemerintahan baru pun akan segera terbentuk. Tidak dapat dipungkiri, terlepas dari pencapaian-pencapaiannya, pemerintahan yang lalu beserta kabinetnya masih menyisakan masalah-masalah yang belum terselesaikan. Termasuk di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang pemanfaatannya terasa belum optimal.
TIK yang perkembangannya di Indonesia menjadi tanggung jawab Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) masih menyisakan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Seperti internet yang relatif masih mahal, penggunaan internet yang belum merata, Sumber Daya Manusia (SDM) TIK yang belum mencukupi, produk TIK dalam negeri yang masih terbatas dan banyaknya produk TIK asing yang banyak mendominasi sistem dan solusi teknologi di pemerintahan maupun di BUMN.
Menurut Director PT Quantum Business Internasional, Ashari Abidin, presiden yang baru saja terpilih dapat memperbaiki hal tersebut dengan menempatkan sosok figur Menkominfo yang bisa menjadi Chief Information Officer (CIO) bangsa serta mampu mengkoordinir dan menyelesaikan dengan cepat permasalahan-permasalahan TIK nasional.
“Pejabat Menkominfo yang tepat seharusnya adalah orang yang sangat ahli di bidang TIK dan dengan latar belakang pendidikan TIK yang kuat, namun di sisi lain juga harus mempunyai banyak pengalaman di lapangan sebagai praktisi. Menkominfo berikutnya juga sebaiknya adalah orang yang sangat concern dengan usaha-usaha pengingkatan kualitas pendidikan di tanah air. Hal ini sangat diperlukan, mengingat masih sangat sedikitnya jumlah lulusan bidang TIK di Indonesia.” papar Ashari yang mengawali karirnya sebagai IT Business Development & Trainer di PT. SSCOM.
Selama belasan tahun terjun di dunia TI, lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini melihat kriteria yang disebutkannya tersebut terdapat pada sosok Onno W. Purbo yang selama ini dikenal sebagai pakar internet yang mempunyai kepedulian terhadap rakyat kecil.
“Karyanya yang pro rakyat terlihat dengan digagasnya program RT/RW Net dan penerapan Open Base Transceiver Station (OpenBTS) serta membuahkan karya Wajanbolik yang saat ini sudah banyak digunakan di desa-desa dan daerah pelosok. Karyanya ini merupakan bentuk upayanya untuk menciptakan internet murah untuk rakyat,” jelasnya.
Ia juga meyakini, Onno W. Purbo yang kerap disapa Kang Onno ini mampu membawa TIK menjadi salah satu alat utama untuk dapat mengejar ketertinggalan SDM Indonesia dari bangsa lain. TIK akan menjadi pendorong serta penggerak laju perekonomian dan percepatan pembangunan negeri ini.
Selanjutnya, berikut ini petikan wawancara BISKOM dengan Ashari Abidin di waktu luangnya.
Apakah Onno W. Purbo yang dikenal akan kesederhanaan dan kerap bicara ceplas-ceplos ini bisa menjadi sosok yang ideal untuk menjabat Menkominfo?
Berbicara Kementerian Kominfo sangat sarat dengan kebijakan teknis. Jadi dibutuhkan orang yang siap untuk kerja, yang siap untuk menyelesaikan masalah-masalah TIK yang menghambat kemajuan bangsa, dan orang yang berkata apa adanya.
TIK adalah bidang yang selalu mengedapankan transparancy, untuk itu kita memerlukan Menkominfo yang bisa mengungkapkan fakta secara lugas dan tegas. Penggunaan bahasa yang dikemas ataupun pemakaian kata-kata yang bisa memberikan makna ganda, akan menyulitkan dan bahkan dapat membebani implementasi TIK di lapangan. Meskipun kita sebagai orang timur terbiasa dengan tata bahasa yang mementingkan kesopanan, namun khusus untuk kementrian teknis seperti Kemenkominfo, fakta jelas jauh lebih dibutuhkan. Di sinilah perlunya orang yang paham teknis, dan berani menyampaikan apa adanya, serta memahami konsekuensinya.
Menurut saya, Onno W. Purbo adalah orang berpenampilan apa adanya, selalu mengungkapkan fakta, dan terus menghasilkan karya yang mengedepankan transparansi dan keterbukaan TIK. Menkominfo adalah wasit dari seluruh aktifikas TIK di tanah air, orang seperti Onno lah yang paling tepat untuk mengisinya.
Apa sumbangsih Onno yang Anda lihat terhadap perkembangan TIK di tanah air?
Onno sangat concern terhadap pemberdayaan internet yang murah dan cepat untuk rakyat. Berbagai upaya dilakukannya untuk menghadirkan solusi internet cepat dan murah. Jaringan RT/RW-net, atau antena Wajanbolik adalah bukti kepedulian beliau akan pentingnya pemerataan koneksi internet untuk seluruh rakyat. Ia juga mengurangi kebergantungan koneksi internet dari pihak-pihak tertentu, yang juga merasa bahwa koneksi internet merupakan hak setiap warna negara. Sudah sewajarnya Onno dijuluki sebagai Bapak Internet Indonesia, karena kepedulian, usaha, Inovasi dan konsistensi beliau dalam memperjuangkan internet yang murah dan cepat bagi seluruh warga.
Solusi beliau yang belakangan banyak dibicarakan dan digunakan, yakni OpenBTS, yang saat ini belum mendapat izin untuk beroperasional secara resmi dari regulator, dan hanya diperbolehkan beroperasional dalam kondisi darurat, misalnya bencana alam dan kondisi sejenis lainnya. Namun tentunya, semua inovasi untuk membuat akses TIK bisa menjadi murah dan mudah, perlu mendapat dukungan dari regulator terkait. Perlu inovasi di bidang regulasi yang memungkinkan kreatifitas seperti ini dapat terus bergulir dan terakomodasi.
Mengapa pemerataan internet menjadi penting untuk diperjuangkan di negeri ini?
Seperti kita ketahui, internet menjadi pintu utama untuk mengejar ketertinggalan bangsa Indonesia terhadap bangsa lain, dan menjadi alat untuk menuju kesetaraan dengan bangsa lain. Dengan internet, segala informasi dari seluruh belahan dunia dapat diakses dengan mudah, tanpa harus melalui pihak tertentu, secara instan saat itu juga dibutuhkan. Pendekatan yang dilakukan Onno selalu menggunakan teknologi berbasis open source, membuat solusinya menjadi semakin murah, terbuka serta transparan.
Penggunaan teknologi berbasis open source memungkinkan solusi internet gateway menjadi sangat murah dan mudah didapat. Cukup menggunakan satu buah komputer biasa yang diinstal sistem operasi Linux, ditambah beberapa setting konfigurasi/instalasi untuk firewall, proxy dan bandwidth limiter (semuanya berbasis open source), maka kita sudah punya solusi internet gateway yang dapat berjalan dengan baik.
Penyebaran internet yang tidak merata sangat dirasakan oleh masyarakat desa. Sebetulnya, seberapa besar desa membutuhkan jaringan internet dan bagaimana dengan dampaknya?
Dukungan atas perkembangan dan pertubumbuhan desa salah satunya adalah dengan pemberdayaan TIK di lingkungan pedesaan. Internet akan memberikan perubahan yang sangat besar bagi kemajuan desa. Internet memungkinkan desa untuk mengetahui pos tani daerahnya masing-masing, mengetahui cara untuk menghasilkan pertanian yang bagus dan maksimal, memungkinkan petani untuk dapat mencari inovasi terbaru di bidang pertanian khususnya untuk bidang pertanian yang sedang digeluti.
Dengan internet, para petani dengan cepat dapat mengetahui dan dapat menduplikasi tekonologi dan terobosan yang digunakan oleh para petani di negara lain, ataupun petani dari daerah lain di Indonesia. Dengan internet pula, para petani dapat langsung berinteraksi dengan pembeli, sehingga bisa mendapat untung lebih baik dan si pembeli bisa mendapat harga yang lebih murah.
Dengan internet pula, para petani dapat berinteraksi langsung dengan para investor yang tertarik untuk mengembangkan industri pertanian dengan teknologi atau inovasi tertentu, tanpa harus melalui banyak perantara.
Dan dengan internet, para petani dapat menghasilkan produk pertanian dengan kualitas yang unggul, sehingga dapat memenuhi standar dunia internasional untuk kebutuhan ekspor. Pemberdayaan internet desa juga akan memaksimalkan penyerapan tenaga TIK yang ada di lingkungan pedesaan. Ini akan menjadi spiral effect yang terus membesar dimana akan semakin banyak penyerapan SDM TIK dari SMK, akan semakin memberdayaan desa, semakin majunya desa akan membuat semakin banyak lagi dana yang bisa dialokasikan untuk pendidikan SMK di pedesaan, semakin banyak pula siswa baru SMK yang akan terus dididik dan nantinya diserap kembali untuk pemberdayaan desa.
Berarti TIK ataupun internet juga akan mempengaruhi pembangunan SDM dalam negeri?
Betul. TIK merupakan cara utama dalam membangun SDM di tanah air. Untuk menunjang itu, pendidikan TIK di Indonesia menjadi suatu keharusan yang tidak bisa ditawar. Namun disayangkan kita justru mengalami kemunduran dengan adanya penghapusan materi pembelajaran TIK dari sekolah dasar dan menengah. Padahal dengan TIK semua ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi semakin mudah dan murah untuk diperoleh.
Namun berita baiknya adalah saat ini sudah semakin banyak SMK di tanah air yang mempunyai berbagai jurusan TIK seperti Multimedia, Teknik Jaringan Komputer dan juga Rekayasa Perangkat Lunak. Dan ternyata kualitas mereka semakin hari semakin baik. Saat ini sudah semakin banyak lagi siswa SMK yang langsung bekerja di masyarakat. Siswa SMK juga sudah mampu membuat karya yang semakin mendekati kebutuhan industri, sehingga memudahkan dari kalangan industri untuk dapat menyerap lulusan SMK tersebut. Kendati demikian, pemerataaan pertumbuhan SDM TIK perlu semakin ditingkatkan dengan memperbanyak SMK-SMK di seluruh pelosok Indonesia.
Seperti apakah SDM TIK yang berdaya saing nantinya?
Tentunya seperti yang diimpikan Onno dan juga sebagian besar masyarakat TIK, yaitu SDM yang mampu membuat bangsa ini berdaulat dan merdeka di bidang TIK, serta mampu membuat infrastruktur dan aplikasi sendiri yang terus mengurangi ketergantungan pada luar negeri. Pada akhirnya Indonesia akan mempunyai ahli TIK yang disegani negara lain. Sebagai langkah awal, bangsa Indonesia perlu memerdekakan dirinya melalui akses internet yang mudah, murah dan cepat. •
MEET Taiwan yang merupakan program berkelanjutan yang digelar Biro Perdagangan Luar Negeri (BOFT), Kementerian Ekonomi (MOEA) Taiwan, dan Taiwan External Trade Development Council (TAITRA) kembali hadir di Indonesia.
Kegiatan tahunan yang dilaksanakan untuk mempromosikan industri Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) Taiwan ini mengajak pebisnis Indonesia untuk mengunjungi dan melihat prospek MICE yang ada di Taiwan.
Kali ini, Meet Taiwan yang digelar di Grand Melia Hotel, Jakarta bertujuan untuk membuka mata Indonesia agar Taiwan dijadikan negara tujuan MICE bagi pelaku bisnis di tanah air. Seperti dikatakan Director of The Meet Taiwan Project, Lily Su, pemerintahannya sangat ingin berbagi hal tentang Taiwan. Mulai dari pengalaman budaya, gastronomic delicacies, lokasi pemandangan alam, serta tempat konvensi dan pameran modern dengan pilihan akomodasi dan fasilitas infrastruktur serta sumber daya yang kuat.
“Kami mengharapkan melalui event ini bisa menjalin kerjasama yang lebih luas lagi dengan Indonesia. Seperti yang sudah terjalin erat selama ini telah menempatkan Indonesia menduduki peringkat ke-9 tahun 2013 di antara negara-negara untuk investasi langsung asing di Indonesia,” ujar Lily, di Jakarta (20/8).
Disebutkan juga, Indonesia telah menjadi salah satu sumber terbesar pengunjung ke Taiwan. tahun lalu. Jumlah pengunjung Indonesia ke Taiwan untuk pariwisata dan kegiatan MICE mencapai rekor tertinggi, sebanyak 171.299. Menurut statistik Biro Pariwisata Taiwan ini, selain China, Indonesia adalah 5 terbesar sumber wisata inbound Taiwan.
“Banyak beragam pilihan yang ditawarkan Taiwan untuk memudahkan membuat program dan paket untuk berbagai agenda MICE. Taiwan menawarkan keuntungan yang tak terbatas bagi pembeli dan penjual mencari inovasi, nilai dan jaringan yang terintegrasi penuh dengan supply chain,” lanjutnya.
Dalam acara ini, Taiwan menggelar sesi networking dengan 6 pemasok MICE premium Taiwan, yaitu Asia Concentrate Corporation, GIS Group, Kuching Travel Service (Taiwan), Tian-an International Travel Agency, MSL Group dan WOW City.
Di kesempatan ini, juga diumumkan dimulainya Meet Taiwan “Super Team in Asia” yang merupakan kampanye pemasaran event yang diadakan pertama kalinya secara multinasional yang bertujuan untuk mempromosikan insentif perjalanan ke Taiwan antara pembeli potensial dari lima negara teratas dengan sebagian besar wisatawan mancanegara, yakni Jepang, Korea, Singapura, Malaysia, dan Indonesia.
Kampanye ini bergulir dalam dua tahap kompetisi, yaitu melalui tahap online dan offline tour ke Taiwan untuk mendidik, menghibur, dan mengekspresikan keindahan sumber daya wisata Taiwan. Pendaftaran sudah dibuka di www.asiasuperteam.com. Pemenang akan mendapatkan paket wisata insentif ke Taiwan yang senilai USD 50.000. •