Home Blog Page 846

Ketua MA Tekankan Pentingnya Integritas Kepada Para Ketua Pengadilan Tinggi

0
Ketua MA, Prof. Dr. Hatta Ali Menyampaikan Sambutannya.

Jakarta, BISKOM – Mahkamah Agung (MA) bekerja sama dengan EU-UNDP Support to the Justice Sector Reform in Indonesia (SUSTAIN) serta UNDP Regional Bangkok menggelar Judicial Integrity Champions Second Network Meeting “The Path Towards Judicial Excellence”  di Hotel Aryaduta, Jakarta.

Acara yang diselenggarakan  pada tanggal 25-26 Maret 2019 ini bertujuan untuk meninjau hasil kerja yang telah dicapai oleh Jaringan Regional Integritas Peradilan dan mendiskusikan checklist integritas yang telah di uji cobakan oleh Pengadilan Federal Malaysia serta melihat peran inovasi dan teknologi dalam peningkatan kinerja pengadilan, khususnya mengenai transparansi dan akuntabilitas.

Pemukulan Gong oleh Ketua MA, Prof. Dr. Hatta Ali.

Integrity Checklist sendiri merupakan alat untuk memperbaiki kinerja pengadilan dari perspektif transparansi dan akuntabilitas. Alat ini dikembangkan oleh UNDP bersama International Consortium on Court Excellence (ICCE) dengan menggunakan International Framework for Court Excellence (IFCE).

Pertemuan ini diikuti oleh kurang lebih 100 Ketua Pengadilan Tingkat Banding dari seluruh Indonesia dan dihadiri pula oleh Ketua MA Prof. Dr. Hatta Ali, SH., MH., Ketua Komisi Yudisial Dr. Jaja Ahmad Jayus SH., M.Hum. dan jajaran MA serta para hakim negara sahabat. Tahun 2019 ini Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan, sebelumnya pertemuan ini dilangsungkan di Bangkok, Thailand pada Maret 2018.

Dalam sambutannya, Ketua MA menyampaikan bahwa kegiatan ini harus mendapatkan apresiasi. “Kegiatan ini mengadopsi pendekatan hak asasi manusia untuk memastikan terwujudnya keadilan bagi semua orang, dengan mempromosikan transparansi, integritas, dan akuntabilitas lembaga peradilan,” ujarnya.

Para Peserta Judicial Integrity Champions Second Network Meeting dari Luar Negeri foto bersama Ketua MA, Prof. Dr. Hatta Ali.

Integritas menjadi alat yang mengharmonisasi nilai dan norma yang dianggap ideal dan dijadikan hukum melalui institusi lembaga peradilan dan dipedomani oleh masyarakat. “Oleh karena itu di dalam lembaga peradilan, integritas bukan hanya sebagai sesuatu yang dianggap baik namun integritas telah menjadi sebuah kebutuhan. The Bangalore Principles of Judicial Conduct 2002 yang menjadi pedoman bagi perilaku hakim juga menekankan integritas ini sebagai poin yang sangat penting. Hakim harus selalu memiliki standar yang tinggi baik dalam kehidupan pribadinya maupun dalam kehidupan bermasyarakatnya,” terang Hatta Ali.

Lebih lanjut Ketua MA menjelaskan bahwa salah satu dari tujuan pembangunan berkelanjutan adalah perdamaian, hukum, dan institusi yang kuat.

“Institusi peradilan yang tidak berintegritas cenderung sewenang-wenang dalam menjatuhkan putusan dan menyalahgunakan kekuasaan serta tidak mampu memberikan pelayanan publik yang prima. Jika hal ini terjadi maka publik akan kehilangan kepercayaan kepada lembaga peradilan dan berakibat timbulnya rasa tidak aman serta kekerasan di tengah masyarakat yang pada akhirnya berdampak pada pembangunan di semua negara khususnya dari sisi pertumbuhan ekonomi,” paparnya.

Para Peserta Judicial Integrity Champions Second Network Meeting “The Path Towards Judicial Excellence” foto bersama Ketua MA, Prof. Dr. Hatta Ali.

Integritas merupakan salah satu dari nilai-nilai badan peradilan yang menjadi bagian kerangka kerja pengadilan yang unggul (court excellence). Hal ini menjadi dasar untuk mengukur kepercayaan publik terhadap lembaga peradilan sebagai parameter kesuksesan pelaksanaan fungsi oleh lembaga peradilan. “Kepercayaan publik yang tinggi akan memastikan kepatuhan masyarakat terhadap putusan-putusan pengadilan, memperkuat supremasi hukum, dan meningkatkan dukungan agar terpenuhinya sumber-sumber kebutuhan lembaga peradilan,” tambah Ketua MA.

Selain Ketua MA, turut pula memberikan sambutan pembukaan dalam kegiatan ini yakni Mr. Vincent Guérend, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam; Mr. Rob Fenn, Wakil Kepala Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN dan Timor-Leste, dan Mr. Nicholas Booth, Team Leader Governance and Peacebuilding a.i. UNDP Regional Bangkok.

Ketua MA, Prof. Dr. Hatta Ali berkenan berbicang-bincang dengan Pimpinan Umum Info Breaking News, Emil Simatupang dan Wapemred Info Breaking News, Soegiharto Santoso.

Sebagai perwakilan dari Indonesia, Wakil Ketua MA Bidang Non Yudisial Dr. H. Sunarto, S.H. menyampaikan kesuksesan MA dalam menyusun database yang terintegrasi guna mendukung transparansi dan akuntabilitas peradilan. Sedangkan dari Malaysia, Ketua Mahkamah Agung Malaysia YM Tan Sri Richard Malanjun menyampaikan kisah sukses Malaysia dalam mengujicobakan integrity checklist dalam proses pembaruan peradilan di Malaysia. Sementara Vietnam menyampaikan upaya memperkuat integritas yudisial dan kapasitas hakim dalam penyelesaian sengketa komersial, dan Filipina memaparkan peran Dewan Koordinasi Sektor Yudisial.

Khusus untuk perserta dari Indonesia, diskusi di hari kedua akan berfokus pada pembahasan hasil-hasil dari Proyek SUSTAIN dan rencana keberlanjutannya, terutama mengenai keberlanjutan aplikasi sistem komputer: SIPP, SIWAS, SIKEP dan Sisdiklat.  Proyek EU-UNDP SUSTAIN merupakan proyek selama lima tahun yang didanai oleh Uni Eropa dan dilaksanakan oleh Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) Indonesia. Proyek ini memberikan dukungan teknis bagi MA dan pengadilan-pengadilan di bawahnya dalam melaksanakan pembaruan peradilan demi meningkatkan transparansi, integritas dan akuntabilitas lembaga peradilan serta meningkatkan kualitas pelayanan peradilan bagi masyarakat. (Hoky & Vincent)

Artikel Terkait:

Ketua MA Hatta Ali Melantik Tiga Ketua Muda Pada Mahkamah Agung RI

Presiden Jokowi Puji Keberhasilan Mahkamah Agung

Ketua MA Tekankan Pentingnya Integritas Kepada Para Ketua Pengadilan Tinggi

Ketua MA Tunjuk Andi Samsan Nganro Jubir Baru, Dan Sesalkan Berita Yang Tidak Update

Peran UU Contempt of Court Dalam Perlindungan Kekuasaan Kehakiman Yang Mandiri dan Bebas Dari Segala Pengaruh dan Ancaman

Johanis Tanak Lulus Uji Kompetensi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Jilid V

MA Kabulkan Kasasi Syafruddin Arsyad Temenggung, Terdakwa Kasus BLBI.

Tolak PK Baiq Nuril, MA Tegaskan Tak Ada Maladministrasi

Peluncuran Sistem Informasi Perlengkapan Mahkamah Agung Republik Indonesia (SIPERMARI)

Hakim Kena OTT KPK di Balikpapan Diberhentikan Sementara Oleh MA.

Ketua MA Luncurkan SIPP Tingkat Banding Versi 3.2.0.

Semarak Acara MA di Labuan Bajo

MA Siap Hadapi Pemilu, Ketua Kamar TUN Berpesan Pejabat Wajib Laksanakan Perintah Hukum

Ketua MA Tekankan Pentingnya Integritas Kepada Para Ketua Pengadilan Tinggi

HUT IKAHI Ke-66, Ketua MA Harap Hakim Pahami Ekonomi Digital

Perlunya Hakim Berperspektif Gender Untuk Wujudkan Akses Keadilan Bagi Perempuan dan Anak

Presiden Jokowi Apresiasi Reformasi di MA lewat aplikasi e-Court

Presiden Jokowi Puji Keberhasilan Mahkamah Agung

Ketua MA Lantik 29 Ketua Pengadilan Tingkat Banding

Ketua MA Tunjuk Andi Samsan Nganro Jubir Baru, Dan Sesalkan Berita Yang Tidak Update

Ketua MA Luncurkan Aplikasi Sistem Informasi Kepegawaian (SIKEP) Integritas Manajemen SDM berbasis Kompetensi

CloudSpend, Platform Analisis Biaya untuk Cloud Publik

0

Jakarta, Biskom – Site24x7, solusi pemantauan kinerja berbasis cloud untuk operasi DevOps dan TI dari Zoho Corporation, mengumumkan ketersediaan umum Site24x7 CloudSpend, solusi analisis biaya untuk platform cloud publik.

Solusi ini bertujuan menjembatani kesenjangan antara perencanaan kapasitas dan optimalisasi biaya untuk sumber daya yang berjalan di lingkungan Amazon Web Services (AWS). Wawasan intelijen bisnis (BI) CloudSpend memungkinkan perusahaan untuk memvisualisasikan pengeluaran yang tidak terkendali dan menerapkan kontrol anggaran yang efektif, sekaligus mengurangi pengeluaran operasional (OpEx) di beberapa akun.

Adopsi cloud publik telah menyaksikan pertumbuhan eksponensial dalam beberapa tahun terakhir, dan menurut IDC, pengeluaran untuk layanan dan infrastruktur cloud publik diperkirakan akan mencapai $ 210 miliar pada tahun 2019, peningkatan sebesar 23,8% dari tahun 2018. Pasar diperkirakan akan mencapai lima tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 22,5% dengan pengeluaran layanan cloud publik mencapai $ 370 miliar pada tahun 2022. Dengan cloud publik yang hemat biaya dan mudah dibentuk, bisnis cenderung memanfaatkannya untuk mendigitalkan layanan mereka dan mencapai tujuan bisnis mereka lebih cepat .

Hal ini sering mengarah pada kompleksitas yang timbul karena sumber daya cloud yang tidak dipantau, kurang dimanfaatkan, atau menganggur di berbagai platform di beberapa akun, yang mengakibatkan pengeluaran berlebihan. Untuk menghilangkan biaya yang tidak diinginkan ini, organisasi memerlukan solusi yang dapat membantu memantau dan mengoptimalkan biaya cloud mereka tanpa memengaruhi layanan mereka.

CloudSpend Site24x7 menangani masalah optimisasi biaya ini dengan pandangan holistik tentang pengeluaran cloud di beberapa akun dari satu konsol. CloudSpend juga menyediakan tim TI (perencana keuangan TI & penyedia layanan cloud) wawasan BI (Business Intelligence) untuk menangani penyesuaian biaya cloud yang mencapai alokasi sumber daya berbasis prioritas, dan dengan demikian membantu mengurangi keseluruhan OpEx.

“Dengan model penetapan harga bayar saat ini, platform cloud publik adalah penggerak strategis untuk transformasi digital. Karena transformasi digital sebagian besar merupakan proses dan bukan tujuan akhir, perusahaan tidak hanya ingin memulai perjalanan transformasi digital mereka, tetapi juga ingin untuk mengoptimalkannya untuk menuai hasil yang lebih besar, “kata Srinivasa Raghavan, manajer produk, Site24x7.

”Tambahan CloudSpend pada kemampuan pemantauan kami yang digerakkan oleh AI tidak hanya merampingkan dan meningkatkan kinerja aplikasi mereka di AWS tetapi mempertahankan keseimbangan ketika menyangkut pengeluaran cloud, sehingga menciptakan keuntungan kedua belah pihak bagi tim DevOps dan TI.” (red/ju)

PLTSa Merah-Putih Bantargebang diresmikan

0

Bekasi, Biskom- Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Merah-Putih Bantargebang secara resmi dioperasikan, Senin(25/3). Instalasi Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik berbasis Teknologi Ramah Lingkungan merupakan PLTSa pertama di Indonesia.

PLTSa Bantargebang dibangun Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta. Kapasitas pengolahan sampah mencapai 100 ton per hari, dan akan menghasilkan listrik sebagai bonus sebanyak 700 kilowatt.

“Pilot Project PLTSa Merah-Putih ini diharapkan secara nasional menjadi percontohan dalam mengolah sampah di Indonesia. Listrik yang dihasilkan dari PLTSa ini akan digunakan untuk keperluan internal PLTSa sendiri,” ujar Hammam Riza, Kepala BPPT.

Lebih lanjut Hammam mengharapkan dengan beroperasinya PLTSa ini, dapat memberikan rekomendasi kepada pemerintah tentang PLTSa, baik dalam hal teknologi maupun kebijakan. “PLTSa ini kami hadirkan tentunya dengan keinginan tinggi nilai TKDN nya. Tim BPPT memiliki desain teknologi PLTSa, yang dibangun bekerjama dengan mitra lokal. Sebagian besar peralatan merupakan produksi dalam negeri. Oleh karenanya kami menamakan dengan PLTSa merah putih,” tegasnya

PLTSa termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN), sesuai Perpres No. 58/2017 tentang Proyek Infrastruktur Strategis Nasional. Dalam implementasinya, diatur dalam Perpres No. 35/2018, tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik berbasis Teknologi Ramah Lingkungan, yang akan di prioritaskan penerapannya di 12 kota besar di Indonesia, dan salah satunya di DKI Jakarta.

Tim koordinasi yang disebutkan dalam Perpres tersebut, diketuai oleh Kemenkomaritim, termasuk BPPT sebagai salah satu anggotanya. Dalam Perpres No. 97/2017 Kebijakan Strategi Nasional –Jakstranas BPPT telah ditugaskan melaksanakan penelitian dan pengembangan teknologi penanganan sampah.

Hadir dalam acara peresmian tersebut, yakni Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan, Menristekdikti Muhamad Nasir, Asisten Pembangunan dan lingkungan Hidup Yusmada Faisal, Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany serta pejabat tinggi lainnya.

Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan mengatakan program dirintis sejak 2017 untuk diupayakan untuk mengurangi masalah sampah. “Presiden (Jokowi-red) sudah marah terkait masalah sampah ini. Pada 2017 dengan koordinasi Kemenristekdikti dijajaki teknologi yang dimiliki BPPT yang merupakan karya anak bangsa,” ujar Luhut Binsar Panjaitan.

Mengingat permasalahan sampah yang kian parah. Kata Luhut kapasitas pengolahan sampah akan ditingkatkan. “Kami sudah meminta BPPT membuat rancangan pabrik produksi tidak hanya 100 ton tapi juga bahkan hingga 1500 ton perhari,” ujarnya.

Sementara itu, Menristekdikti Muhamad Nasir mengatakan pembiayaan PLTSa dianggarkan dari APBN dengan total capai Rp 96 miliar. “PLTSa ini merupakan proyek percontohan untuk daerah-daerah lain. Kami akan masukkan dalam i-katalog, karena harganya sudah ditentukan. Jadi, tidak perlu menggunakan sistem lelang yang makan waktu berbulan-bulan,” ujarnya. I-katalog adalah daftar yang dibuat secara elektronik yang bisa diakses secara online berbasis internet.

Teknologi PLTSa

Pilot Project PLTSa dipilih menggunakan teknologi termal dengan tipe insinerasi menggunakan tungku jenis reciprocating grate. Teknologi tersebut dipilih karena merupakan teknologi yang sudah proven, banyak dipakai untuk Waste to Energy (WtE) di dunia, ramah lingkungan (dilengkapi dengan alat pengendali polusi), ekonomis, dan bisa digunakan untuk kondisi sampah di Indonesia, serta mempunyai potensi TKDN yang tinggi.

Peralatan utama dari PLTSa terdiri dari 4 (empat) peralatan utama yaitu bunker sebagai penampung sampah yang dilengkapi platform dan grab crane dan ruang bakar sistem reciprocating grate yang didisain dapat membakar sampah dengan suhu diatas 850oC sehingga pembentukan dioxin dan furan dapat diminimalisir. Panas yang terbawa pada gas buang hasil pembakaran sampah, digunakan untuk mengkonversi air dalam boiler menjadi steam untuk memutar turbin menghasilkan tenaga listrik.

Unit PLTSa juga dilengkapi dengan unit Pengendali Pencemaran Udara untuk membersihkan bahan berbahaya yang terbawa dalam gas buang, sehingga gas buang yang keluar memenuhi baku mutu yang ditetapkan. Pilot Project PLTSa ini juga dilengkapi dengan unit pre-treatment, untuk memilah sampah tertentu yang tidak diijinkan masuk PLTSa, seperti logam, kaca, batu, Limbah B3 dan juga sampah sampah yang berukuran besar. (red/ju)

Rekayasa dan Kriminalisasi Wartawan Hoky akan Disidangkan Lagi di PN Bantul Atas Dugaan Laporan Tersangka Faaz Ismail.

0
Hoky di persidangan perkara nomor 633/Pdt.G/2018/PN JKT.SEL tanggal 20 Maret 2019. Sidang akan dilanjutkan pada 27 Maret 2019.

Jakarta, BISKOM  – Dugaan rekayasa dan kriminalisasi wartawan jilid 2 (dua) terhadap Ir. Soegiharto Santoso alias Hoky selaku Ketum Apkomindo yang juga merupakan Pemred Media Online BISKOM ini akan diuji lagi di Pengadilan Negeri Bantul, pada hari Rabu, tanggal 27 Maret 2019 mendatang, sebelumnya Hoky telah mengalami proses kriminalisasi jilid 1 (satu) dan sempat ditahan selama 43 (empat puluh tiga) hari dari 24 November 2016  hingga  05 Januari 2017 di Rutan Bantul, dengan cara sewenang-wenang oleh para oknum penegak hukum yang memproses  LP/392/IV/2016/ Bareskrim Polri atas laporan rekayasa yang dilakukan oleh Agus Setiawan Lie atas kuasa Sonny Franslay.

Meskipun telah ditahan selama 43 hari, faktanya Hoky divonis Bebas oleh PN Bantul pada tanggal 25 September 2017 dan Kasasi JPU Ansyori, SH (Jaksa Utama Pratama) dari Kejagung RI dengan tuntutan 6 tahun penjara serta denda 4 Miliar subsider 6 bulan penjara telah di TOLAK oleh MA pada tanggal 18 Desember 2018 yang lalu.

Kali ini dugaan rekayasa laporan polisi dilakukan oleh Faaz Ismail yang merupakan kolega dari Agus Setiawan Lie  dan Sonny Franslay, bahkan menurut  pengakuan Faaz pada saat membuat laporan di Polres Bantul dengan LP/109/V/2017/SPKT, tertanggal  24 Mei 2017,  dia didampingi oleh Agus Setiawan Lie.

Faaz dengan 2 (dua) orang saksi yaitu JPU Ansyori SH dan Suwandi Sutikno diduga merekayasa dengan laporan dan keterangan palsu tentang tindak pidana Penganiayaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 351 KUHP dan Hoky sempat ditetapkan sebagai Tersangka Pasal 351 KUHP pada tanggal 27 Oktober 2018, karena dalam BAP mereka menyatakan Hoky melakukan pemukulan, padahal Hoky tidak melakukan tindak pidana penganiayaan sama sekali.

Oleh karena itu Hoky melakukan Praperadilan terhadap Polres Bantul dengan perkara nomor 3/Pid.Pra/2018/PN Btl. dan dalam persidangan Praperadilan tersebut  hadir  5 (lima) orang Saksi yaitu; Dicky Purnawibawa, Edy Anantoratadhi, Ngongo Bili (Veri), Andi Riyanto danRohman Yudi Ardianto (Anang) yang menyatakan tidak ada tindak pidana penganiayaan sama sekali, yang ada hanya ribut-ribut soal kata-kata “KUTU KUPRET” saja, selain dari itu masih ada 3 (tiga) orang saksi yaitu Darma Kusuma Setya, Christian Yanuar dan Joko Rianto yang dalam BAP di Polres Bantul  telah menyatakan lebih kurang hal yang sama yaitu tidak melihat adanya tindak pidana penganiayaan.

Hoky sedang bertanya kepada saksi IPTU Sigit Teja Sukmana di persidangan perkara Praperadilan nomor 3/Pid.Pra/2018/PN Btl. tanggal 13 Desember 2018.

Hoky melakukan Praperadilan karena memang tidak ada tindak pidana penganiayaan sama sekali, bahkan Hoky tidak pernah memperoleh surat panggilan Pertama, tetapi langsung surat panggilan Kedua, serta memang tidak ada bukti visum, termasuk pada CCTV di PN Bantul tidak ada bukti penganiayaan sama sekali, namun pada tanggal 15 Januari 2019 Hoky ditetapkan sebagai Tersangka lagi, meskipun diubah dari tindak pidana penganiayaan berat pasal 351 KUHP menjadi tindak pidana penganiayaan ringan Pasal 352 KUHP.

Saat dilakukan konfirmasi oleh awak media, Hoky menyatakan;  “Saya tetap akan hadapi dan siap hadir di PN Bantul, bahkan saya telah proaktif menghubungi penyidik, saya juga telah mengirimkan Chat WA kepada penyidik termasuk ke Sdr. Faaz dan Sdr. Suwandi agar pelapor dan saksi hadir, termasuk saya menghubungi via call dan SMS saksi JPU Ansyori SH, karena saksi JPU Ansyori SH tidak menggunakan WA, tentu saja harapan saya mereka hadir, agar terungkap dimuka persidangan rekayasa mereka, seperti saat sidang pada tahun 2017, dimana salah satu saksi lawan mengungkapkan tentang benar ada orang yang menyiapkan dana agar saya masuk penjara, kesaksian tersebut tertuliskan dalam salinan putusan 3/Pid.Sus/2017/PN Btl. (Hak Cipta), hebat sekali-kan orang yang menyiapkan dana.”” kata Hoky kepada sejumlah media, Minggu (24/3/2019) di Jakarta.

Memang upaya mengkriminaliasi Hoky selaku Ketum Apkomindo terus menerus sejak dia menjabat sebagai Ketum Apkomindo di awal tahun 2015 hingga saat ini di tahun 2019, faktanya telah ada 5 (lima) laporan polisi yaitu (1)  satu di Polres JakPus, (3) tiga di Bareskrim Polri dan (1) di Polres Bantul,  dimana seluruh laporan polisi tersebut diduga merupakan rekayasa hukum dan dibuat-buat, sehingga satu-persatu dapat diatasi dengan baik oleh Hoky, apalagi saat ini Hoky bersama dengan beberapa koleganya telah mendirikan kantor pengacara dengan nama Mustika Raja Law Office untuk membantu mengatasi permasalahan hukum dirinya, sekaligus untuk membantu teman-teman yang membutuhkan.

Sebab bukan hanya 5 (lima) laporan polisi saja yang harus dihadapi oleh Hoky, terbukti sampai dengan saat ini telah ada total 13 (tiga belas) Perkara Pengadilan berkaitan dengan Apkomindo, dimana telah 11 (sebelas) Perkara yang diatasinya antara lain; 1 (satu) di PN JakTim,  1 (satu) di PT DKI Jakarta, 1 (satu) di PTUN, 1 (satu) di PT TUN, 3 (tiga) di PN Bantul,  1 (satu) di PN JakPus  dan  3 (tiga) di MA.

Untuk saat ini Hoky juga sedang menghadapi gugatan baru dari Rudy Dermawan Muladi dan Faaz Ismail, dimana Rudy dan Faaz yang sejak 14 Februari 2018  sudah dinyatakan sebagai Tersangka Pidana pencemaran nama baik dan Undang Undang ITE di Polda DIY atas laporan polisi nomor : LP/362/VII/2017/DIY/SPKT,  tapi hingga kini telah lebih dari 1 (satu) tahun lamanya masih belum dilimpahkan ke penuntutan, sedangkan sebaliknya Faaz  Ismail cs yang melaporkan kasus Tindak Pidana ringan (Tipiring) Hoky dengan Pasal 352 KUHP ini perkaranya sedang berjalan di Pengadilan Negeri Bantul, Yogyakarta.

Gugatan baru mereka perkara perdata nomor 633/Pdt.G/2018/PN JKT.SEL di Pengadilan Negeri JakSel, dimana Rudy dan Faaz mengklaim dirinya masing-masing sebagai Ketum dan Sekjen DPP APKOMINDO Masa Bakti 2015-2020 serta menggunakan jasa pengacara sangat terkenal yaitu Prof. Dr. Otto Hasibuan, SH., MM. , Selain Hoky masih ada Tergugat  lainnya yaitu; Muzakkir, Go Andri Sugondo, Agustinus Sutandar, Gomulia Oscar, dan Suwato Kumala, kemudian masih ada pihak Turut Tergugatnya yaitu; Felix Lukas Lukmana, H. Hendra Widya, SE, MM, MBA, Nurul Larasati, SH, Erlien Wulandari, SH, dan Dini Lastari Siburian, SH.

Hoky sedang bertanya kepada saksi Brigadir Hartono di persidangan perkara Praperadilan nomor 3/Pid.Pra/2018/PN Btl. tanggal 13 Desember 2018.

Sehingga nanti pada saat yang sama yaitu hari Rabu, tanggal 27 Maret 2019 akan ada agenda sidang lanjutan di PN JakSel, namun Hoky harus memilih hadir di PN Bantul, sebab untuk di PN JakSel merupakan sidang gugatan Perdata, sedangkan di PN Bantul adalah sidang Pidana.

Hoky yang sempat menjadi Ketua Pantia Kongres Pers Indonesia pada tanggal 06 Maret 2019 lalu di Asrama Haji Pondok Gede, menghimbau agar teman-teman jurnalis berkenan membantu melakukan pemberitaan, namun tetap berimbang serta adil.

Hoky mengatakan; “Saya senang jika teman-teman jurnalis yang berdomisili di sekitar Bantul seperti dari Yogyakarta, dari Sleman, dari Gunung Kidul dan dari Kulon Progo berkenan hadir dan meliput Sidangnya, karena akan semakin terungkap tentang Pihak lawan selalu berupaya melakukan rekayasa hukum terhadap diri saya, bahkan Sdr. Faaz sempat menyatakan kepada saya bahwa untuk gugatan di PN JakSel itu dia hanya tanda tangan saja dan ada orang yang membiayai pembayaran kepada pengacara-nya, nanti bisa bertanya langsung ke Sdr. Faaz di PN Bantul,  mereka berpikir hukum itu bisa dibeli dan direkayasa, padahal jaman telah berubah serta faktanya saya telah menang di MA hingga 3 perkara dari pihak mereka, bahkan Kasasi JPU dengan tuntutan penjara 6 tahun telah ditolak oleh MA, saat ini saya sedang menantikan salinan putusan dari MA, mereka malah masih bermain-main dengan hukum terus, yakinlah tidak lama lagi kelompok mereka akan menuai apa yang telah mereka taburkan.” pungkas Hoky. (Redaksi)

3 pelajar SMP Brighton Raih Emas Kompetisi Discovery Camp

0

Jakarta, Biskom – Sebanyak tiga siswi pelajar SMP Brighton, Ertara Alya Vin, Azalia Cinta Zahirah Putri dan Aurelia Maharani Putri meraih medali emas dalam ajang kompetisi “Discovery Camp” yang diselenggarakan PP-IPTEK, Kemenristekdikti sejak 21 – 23 Maret 2019 di gedung PP-IPTEK TMII, Jakarta Timur.

Ketiga siswi tersebut mengaku terkejut dan histeris saat pengumuman dibacakan dewan juri dan kelompoknya meraih medali emas dan berhak mengikuti ajang kompetisi internasional “Junior Science Odyssey (JSO)” yang akan diadakan pada tanggal 9 – 15 Juni 2019 di National Science Museum (NSM), Thailand.

“ Kami bertiga pesimis dan hampir pulang, pasrah dan tidak menduga sama sekali bisa meraih medali emas, karena peserta semuanya pintar luar biasa, kami mengira akan mendapatkan perunggu saja, “ ungkap Ertara Alya Vin seperti diamini rekannya Azalia Cinta Zahirah Putri dan Aurelia Maharani Putri, usai penyerahan hadiah di PP-IPTEK, Sabtu(23/3).

Dengan rasa haru mereka saling berpelukan disertai isak tangis kegembiraan dan menuturkan bahwa kemenangannya adalah berkat dorongan dari orang tua, guru serta teman-temannya disekolah. “Dorongan orang tua, para guru dan juga tema-teman yang membuat kami semangat dalam mengikuti Kompetisi Discovery Camp ini dan semoga bisa membawa nama baik sekolah ,” ujar Azalia, Aurelia dan Ertara.

Seperti diberitakan sebelumnya PP-IPTEK menyelenggarakan “Discovery Camp” yang merupakan kegiatan kompetisi keterampilan ilmiah yang dikemas dalam bentuk perkemahan. Tema kegiatan “Discovery Camp” ini adalah The Role of Youth in Communicating Science for Sustainable Development Goals (SDGs) in Indonesia yang diangkat dari tema besar kegiatan JSO 2019.

Peserta “Discovery Camp” diikuti sebanyak 25 kelompok yang terdiri dari 75 orang pelajar yang berasal dari 11 SMP/SMA di wilayah Jabodetabek yang berusia 13 – 15 tahun, dimana dalam satu kelompok terdiri atas 3 orang siswa/siswi.

Direktur PP-IPTEK, M. Syachrial Annas sebelumnya mengatakan Para peserta yang ikut “Discovery Camp” harus memiliki kemampuan berpikir kreatif dalam menciptakan ide-ide secara langsung, mampu berbahasa Inggris secara aktif, dan mempunyai kemampuan sosialisasi yang tinggi karena nantinya pada kegiatan “Junior Science Odyssey (JSO) ” yang akan diadakan pada 9 – 15 Juni 2019 di National Science Museum (NSM), Thailand, dan  tiap peserta juga akan dikelompokkan dengan peserta dari negara lain untuk berkompetisi.

“PP-IPTEK akan selalu mempersiapkan lomba-lomba yang berjenjang sampai pada level internasional dengan matang. Hasil dari kegiatan Discovery Camp membuat kita lebih siap dalam memperoleh hasil yang baik dan bisa membanggakan bangsa di tingkat internasional. Semoga kita bisa berhasil menjadi pemenang di event-event internasional.” ujar Syachrial

Syachrial Annas menjelaskan, peserta JSO berasal dari 13 negara anggota ASEAN Plus Three (Jepang, Korea, China), serta negara tamu seperti Swedia, Australia, dan Nigeria. Junior Science Odyssey (JSO) merupakan ajang kompetisi siswa usia 13 – 15 tahun di bidang sains terkait dengan kemampuan untuk memanfaatkan peralatan laboratorium dan melakukan pemecahan masalah terhadap suatu penelitian yang dituangkan dalam bentuk presentasi poster ilmiah.

“ Kegiatan JSO adalah wadah bagi siswa dalam bersosialisasi dengan siswa dari negara lainnya. Oleh karena itu, kegiatan “Discovery Camp” akan mempersiapkan siswa/siswi Indonesia dalam berkompetisi melalui berbagai program imiah yang sesuai dengan tema,” terangnya.

Sementara itu Kepala Sub Divisi Peragaan, Ichsan Surur yang juga selaku juri pada acara tersebut mengatakan para peserta“Discovery Camp” semuanya pintar dalam menuangkan ide, mempresentasikan dan mengembangkan sesuai tema The Role of Youth in Communicating Science for SDGS in Indonesia. “ Kita juga mewajibkan menggunakan bahasa inggris, karena nantinya dalam rangka persiapan JSO di Thailand mereka akan terbiasa berkomunikasi dengan para peserta dari negara lain ,” imbuhnya. (red)

Daftar Pemenang Kompetisi Discovery Camp 2019 :

Gold:
SMP Brighton (Kelompok 7)
– Ertara Alya Vin
– Azalia Cinta Zahirah Putri
– Aurelia Maharani Putri Silver:
SMP Brighton (Kelompok 2)
– Steven Karlisius Silaban
– Nakeshia Angela Valentina Situmorang
– Cindy Evani

Silver:
SMP ISLAM TUGASKU (Kelompok 2)
– Fellyssya Faradila Hiko
– Mushtafa Hafizh Ismarrahman
– Nasya Nur Azizah
Bronze:
MTS Istiqlal (Kelompok 1)
– Asti Azalia
– Indria Zahidah
– Nuha Nazeeha
Bronze:
SMP BRIGHTON (Kelompok 8)
– Diffie Alfierie Iswanto
– Regina Rachel Sheerya Butarbutar
– Nayyara Azzahra Mahdani
Bronze:
SMPN 115
– Isabel Angelina Sianturi
– Axel Manuel Bisuk Raja Mangatur Manurung
– Sirhan Zafirah

AISKINDO Tekankan Pentingnya Sertifikasi Security

0

Jakarta, Biskom – Asosiasi Industri Sistem Keamanan Indonesia (Aiskindo) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, (22/3). Rakornas ke-2 ini mengangkat tema Empowering Knowledge and Collaboration for Safer  Indonesia. Tema ini mengingatkan agar industri security lebih profesional.

Ketua Umum Aiskindo, Stefanus Ronald Juanto, mengatakan, Rakernas yang diikuti oleh seluruh perwakilan daerah Aiskindo tersebut guna meningkatkan kebersamaan para pelaku industri sistem keamanan.

Menurut Ronald, dunia security memerlukan satu standardisasi pengetahuan yang memadai yang bisa disebut profesional di bidang security. “Karena itu, Rakernas mengangkat tema empowering yaitu bagaimana kita memberdayakan pengetahuan dan kolaborasi atau kerjasama untuk membangun Indonesia yang lebih aman,” lanjutnya.

Sementara itu, Darwin Lestari Tan, Dewan Penasehat Aiskindo mengatakan,  “Selama ini dunia security ini belum ada pendidikan resmi atau khusus seperti jurusan lain misalnya teknik sipil atau arsitektur. banyak sekali yang berkecimpung di bidang security ini berasal dari berbagai bidang seperti IT, elektronik dan sebagainya.

Untuk itu, dalam Rakernas ini digelar satu kegiatan yang khusus disesuaikan dengan tema yaitu training, ujian dan sertifikasi. Kegiatan ini diikuti sekitar 100 peserta yang mendapat training berbagai bidang, kemudian dilanjutkan ujian. Peserta yang lulus akan mendapat sertifikasi sebagai pembuktian atas keahlian yang dimiliki.

“Ini adalah suatu gerakan dimana kita membangkitkan awareness atau kesadaran bahwa sertifikasi ini penting. Kalau Anda mau pasang CCTV atau alarm, bagaimana costumer tahu bahwa Anda memang memiliki kemampuan. Bagaimana saat membongkar plafon rumah atau mengambil listrik, ada kekhawatiran orang apakah  kegiatan ini membahayakan atau tidak,” terangnya.

Darwin mengungkapkan, ada tiga bidang yang akan disertifikasi yaitu Certified Intruder Alarm Engineer di bidang Security Alarm, dan Certified  IT Surveillance Engineer yaitu pemasangan CCTV berbasis IP (Internet Protocol) atau digital CCTV. Serta, Certified  Network Control Engineer yaitu bagaimana memasang akses kontrol seperti kunci-kunci elektronik, kontrol dengan kartu, ibu jari, maupun wajah.

Intinya kita ingin ada awareness agar jangan sampai hanya sembarangan pasang tapi harus dibuktikan. Jadi perlu standardisasi kompetensi. Sebenarnya negara sudah membuat sertifikasi profesi namun di bidang security ini belum ada. Karena di Indonesia masih belum jelas apakah security ini bidang ilmu sendiri atau masuk digolongkan ke bidang lain,” terangnya.

Untuk itu, Aiskindo akan meyakinkan bahwa memang security itu berbeda tidak bisa digolongkan menjadi IT atau elektronik.

Dalam paparan berjudul The Future of Security Industry and professionalism,  Darwin menekankan betapa pentingnya sertifikasi karena ilmu security ini sudah berdiri sendiri. Ia mencontohkan, di salah satu Universitas di  Australia memiliki jurusan Security Science dengan jenjang S2 sampai S3. Sementara di Indonesia belum ada jurusan formalnya.

“Kalau kita mendengar kata security di Indonesia selalu mengacu pada teknologi seperti CCTV, alarm dan alat-alat lainnya. Padahal security adalah suatu strategi dimana peranan teknologi hanya sebagian dari semua konsep dan strategi itu. Di dalamnya ada unsur Crime Prevention, Security Management, Counter Terorism, dan lan-lain,” tuturnya.

Darwin mengingatkan bahwa di era globalisasi, SDM  kita harus bersaing dengan  SDM dari negara tetangga,  minimal Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yakni dari Singapura atau Thailand. “Kalau mereka sudah punya kompetensi bisa leluasa  masuk ke Indoensia atau negara lainnya,  namun  kalau SDM lokal  kita tidak memiliki kompetensi maka akan  kalah bersaing. Jka tanpa sertifikasi maka orang-orang akan sulit percaya tentang keahlian atau  ketrampilan  Anda,” tegasnya.

Pihaknya berharap minimal ada standar di Indonesia yang diakui oleh negara, sebab untuk profesi yang lain sudah ada. Untuk itu, Aiskindo akan memberi masukan kepada BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) supaya ada penggolongan security secara tersendiri. (red)

Peserta Discovery Camp Kunjungi Lab di Puspiptek

0

Jakarta, Biskom –  Dalam rangka mengedukasi para pelajar tentang perkembangan teknologi di Indonesia,  peserta kompetisi Discovery Camp 2019, melakukan kunjungan ilmiah ke beberapa laboratorium iptek milik BPPT  yang terletak di kawasan  Puspiptek, Serpong, Tangsel, (22/3).

Beberapa laboratorium Iptek yang dikunjungi peserta Discovery Camp di antaranya Pusat Teknologi Industri Pertahanan dan Keamanan (PTIPK), Balai Bioteknologi, Balai Besar Teknologi Konversi Energi (B2TKE), dan Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC).

Discovery Camp yang digelar oleh Pusat Peragaan Iptek (PP-Iptek), Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada 21-23 Maret 2019 di Gedung PP-Iptek yang berlokasi di area komplek Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Discovery Camp merupakan ajang seleksi kompetisi Junior Science Odyssey (JSO) yang akan diadakan di National Science Museum (NSM), Thailand pada 9-15 Juni 2019.

JSO merupakan ajang kompetisi siswa usia 13-15 tahun di bidang sains terkait dengan kemampuan untuk memanfaatkan peralatan laboratorium dan melakukan pemecahan masalah terhadap suatu penelitian yang dituangkan dalam bentuk presentasi poster ilmiah. JSO 2019 akan diikuti peserta dari 13 negara anggota ASEAN Plus Three (Jepang, Korea, China), serta negara tamu yaitu Swedia, Australia, dan Nigeria.

Dalam kunjungannya tersebut PP-Iptek membawa para pelajar peserta Discovery Camp sebanyak 25 kelompok yang terdiri dari 75 orang pelajar yang berasal dari 11 SMP/SMA di wilayah Jabodetabek yang berusia 13 – 15 tahun.

Kepala Program dan Pendidikan PP- IPTEK, Putu Lia Suryaningsih mengungkapkan kunjungan ini dalam rangka mengedukasi para pelajar tentang perkembangan teknologi Indonesia. Setelah melakukan kunjungan, para pelajar diminta membuat laporan berupa karya tulis sebagai bagian proyek penelitian.

“Pengetahuan mereka tentang Puspiptek masih terbatas, mindset mereka pada Puspiptek tahunya hanya ilmiah. Setelah berkunjung jadi mereka paham bahwa Indonesia juga bisa mengembangkan Pesawat Nir awak, yang bisa dikembangkan dalam rangka membantu memadamkan kebakaran hutan dan membuat hujan buatan,” ujar Lia.

Lia berharap kunjungannya ke Puspiptek dapat membuka cakrawala bagi para pelajar tentang perkembangan teknologi di Indonesia. “Kita kunjungan ini berharap dapat membuka cakrawala mereka, bahwa Indonesia punya banyak pusat sains untuk dikembangkan bagi ilmu pengetahuan Indonesia,” pungkasnya.

Discovey Camp merupakan kegiatan kompetisi keterampilan ilmiah yang dikemas dalam bentuk perkemahan. Kegiatan ini mengangkat tema The Role of Youth in Communicating Science for Sustainable Development Goals (SDGs) in Indonesia yang menjadi tema besar kegiatan JSO 2019.

Ke depan, PP-Iptek akan selalu mempersiapkan lomba-lomba berjenjang sampai pada level internasional dengan matang. Hasil dari kegiatan Discovery Camp diharapkan membuat peseta lebih siap untuk memperoleh hasil yang bisa membanggakan bangsa di tingkat internasional. (red)

Indonesia Raih Kenaikan EGDI Sebesar 0,1232 poin

0

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai langkah telah dilakukan oleh Pemerintah untuk memperbaiki kinerja birokrasi melalui penerapan sistem pemerintahan berbasis elektronik (SPBE) seperti e-procurement, penguatan reformasi birokrasi, peningkatan kualitas layanan publik, serta kebijakan Satu Data dan Satu Peta.

Upaya perbaikan birokrasi tersebut telah meningkatkan peringkat Government Effectiveness Index Indonesia, dari peringkat 103 pada tahun 2015 menjadi peringkat 86 pada 2016 atau naik 17 peringkat.

Sementara itu, peringkat Indonesia dalam E-Government Development Index (EGDI) yang dirilis PBB dari tahun ke tahun juga menunjukkan peningkatan. Laporan tersebut menyatakan Indonesia berhasil menaikkan peringkat dari Middle ke High EGDI Country.

Pada tahun 2010, total indeks EGDI Indonesia adalah 0,4026 dan pada 2018, indeks Indonesia mencapai 0,5258 atau naik 0,1232 poin. Berbagai pencapaian di atas merupakan hasil dari upaya terus menerus yang dilakukan pemerintah untuk mempercepat penerapan e-government di Indonesia.

“Inisiatif-inisiatif yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia, misalnya melalui program kota pintar (smart cities), merupakan sinyal positif bagi penerapan connected government. Dari 17 negara yang mengalami peningkatan indeks EGDI, lima berasal dari Asia dan Indonesia adalah salah satunya.

Hal ini menandakan transformasi digital di Indonesia sudah berjalan cukup baik dan saya yakin ke depannya, Indonesia akan menikmati manfaat besar dari digitalisasi ini,” ujar Ernest Lee, VP Government Vertical ALE APAC.

Maraknya pembahasan mengenai e-government mendorong Alcatel-Lucent Enterprise (ALE) sebagai penyedia solusi komunikasi terintegrasi menyelenggarakan ‘ALE GovDay 2019: The Future of Government’.

Pada acara ini, ALE berbagi strategi pemanfaatan teknologi dan transformasi digital yang bisa mendukung penerapan e-government di Indonesia. Kegiatan ini dihadiri oleh pakar teknologi informasi adan komunikasi, e-government, serta perwakilan pemerintah dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Luar Negeri dan lain-lain.

 

“Melalui ALE GovDay 2019, kami ingin memberikan kontribusi bagi penerapan e-government di Indonesia. Sesuai dengan misi ALE untuk menghubungkan semua hal  demi menciptakan pengalaman teknologi yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan, kami ingin membantu mewujudkan connected government untuk meningkatkan kualitas layanan pemerintah kepada publik,” ujar Adios Purnama, Country Manager Alcatel-Lucent Enterprise.

Selain berbagi pengalaman dan strategi, dalam acara ini, ALE bersama dengan partner teknologi seperti Fujitsu, Samsung, Sangfor, Lenovo, Aca Pacific, Artapala, Virtus dan lain-lain menghadirkan beberapa solusi komunikasi bagi penerapan e-government. ALE sendiri telah berpengalaman membantu pemerintah di berbagai negara dalam menerapkan e-government.

ALE berperan penting dalam pengembangan smart city pertama di Palestina, tepatnya di kota Rabawi, melalui solusi Rainbow CPaaS dan UCaaS. Di Thailand, ALE mendukung Bangkok Metropolitan Administration (BMA) mengelola jaringan dengan lebih mudah dan sederhana.

OmniVista 2500 yang digunakan ALE di BMA memungkinkan pemerintah setempat mengelola dan me-maintain jaringan secara terpadu dan simpel serta mendukung penggunaan perangkat Internet of Things (IoT) sebagai bagian dari rencana ‘Smart City’ di Bangkok.

“Di acara ALE GovDay 2019: The Future of Government ini kami bersama para pakar membahas perkembangan e-government di Indonesia dan bersama-sama mencari solusi terbaik bagi pembangunan e-government di Indonesia,” pungkas Adios. (moc)

 

 

Panasonic Kenalkan Solusi Face Recognition

0

Panasonic memperkenalkan solusi Face Recognition (Pengenalan Wajah) berteknologi Deep Learning yang terintegrasi dengan Closed Circuit Television (CCTV) lewat produk WV-ASF950.

Solusi ini diklaim bisa mengenali sudut wajah sampai 45 derajat dari kiri dan kanan atau 30 derajat dari atas dan bawah hingga identifikasi wajah yang menggunakan kacamata atau masker.

“Teknologi terbaru ini dapat menghadirkan standar terbaru dalam sektor keamanan di Indonesia,” kata Seigo Saifu, Presiden Direktur PT Panasonic Gobel Indonesia.

Solusi Face Recognition dilengkapi fitur intelligent Auto (iA) dan Best Shot yang terdapat dalam IP Camera line up i-PRO Extreme. Gambar ini dikirim ke server Face Recognition untuk diproses.

Selain itu dapat terhubung dengan 20 IP Camera dalam satu server yang dapat ditambah menjadi 2.000 IP Camera dalam 10 server.

Solusi Face Recognition dapat melakukan face matching (pencocokan wajah) yang tertangkap kamera dengan data base yang sudah terdaftar sebelumnya. Hal ini digunakan untuk mendeteksi wajah orang saat mereka melewati pintu bandar udara (bandara).

“Sistem ini dapat mendeteksi perbedaan wajah hingga 10 tahun,” ujar Sofian Hadi. Assistant Manager Security System PT Panasonic Global Indonesia.

Waktu 10 tahun dipilih lantaran masa berlaku paspor di Jepang berlangsung selama ini. Jadi, ini telah diterapkan di Bandara Udara (Bandara) Haneda, Jepang.

Fungsi lainnya adalah face searching (pencarian wajah) untuk mengetahui lokasi atau keberadaan seseorang. Terakhir ini juga bisa dipakai untuk statistik atau mengumpulkan data orang seperti umur dan jenis kelamin.

 

“Teknologi ini akan dipakai Olimpiade Tokyo 2020 dan NUS (National University Singapore),” ucapnya.

Panasonic baru mengenalkan Solusi Face Recognition pada sektor perbankan dan sektor pemerintahan sepanjang 2019. Jadi, ini belum dipatok untuk penjualan.

Kehandalan produk WV-ASF950 telah diuji oleh National Institute of Standards and Technology (NIST) melalui IJB-A face challenge). (moc)

PP-IPTEK Gelar Discovery Camp 2019

0

Jakarta, Biskom-  Discovery Camp 2019,  kompetisi keterampilan ilmiah yang dikemas dalam bentuk perkemahan, kembali digelar Pusat Peragaan Iptek (PP-IPTEK) Kemenristekdikti pada 21 – 23 Maret 2019 di gedung PP-IPTEK, TMII Jakarta.

Tema kegiatan Discovery Camp  ini adalah The Role of Youth in Communicating Science for Sustainable Development Goals (SDGs) in Indonesia yang diangkat dari tema besar kegiataJunior Science Odyssey (JSO) 2019. Pesertanya  sebanyak 25 kelompok yang terdiri dari 75 orang pelajar yang berasal dari 11 SMP/SMA di wilayah Jabodetabek yang berusia 13 – 15 tahun, dimana dalam satu kelompok terdiri atas 3 orang siswa/siswi.

Para peserta harus memiliki kemampuan berpikir kreatif dalam menciptakan ide-ide secara langsung, mampu berbahasa Inggris secara aktif, dan mempunyai kemampuan sosialisasi yang tinggi karena nantinya pada kegiatan JSO di Thailand tiap peserta juga akan dikelompokkan dengan peserta dari negara lain untuk berkompetisi.

Direktur PP-IPTEK, M. Syachrial Annas mengatakan Discovery Camp  sebagai ajang seleksi kompetisi sains JSO yang akan diadakan pada 9 – 15 Juni 2019 di National Science Museum (NSM), Thailand.

“PP-IPTEK akan selalu mempersiapkan lomba-lomba yang berjenjang sampai pada level internasional dengan matang. Hasil dari kegiatan Discovery Camp membuat kita lebih siap dalam memperoleh hasil yang baik dan bisa membanggakan bangsa di tingkat internasional. Semoga kita bisa berhasil menjadi pemenang di event-event internasional.” ujar Annas.

Annas menjelaskan, peserta JSO berasal dari 13 negara anggota ASEAN Plus Three (Jepang, Korea, China), serta negara tamu seperti Swedia, Australia, dan Nigeria. JSO merupakan ajang kompetisi siswa usia 13 – 15 tahun di bidang sains terkait dengan kemampuan untuk memanfaatkan peralatan laboratorium dan melakukan pemecahan masalah terhadap suatu penelitian yang dituangkan dalam bentuk presentasi poster ilmiah.

“ Kegiatan JSO adalah wadah bagi siswa dalam bersosialisasi dengan siswa dari negara lainnya. Oleh karena itu, kegiatan ini akan mempersiapkan siswa/siswi Indonesia dalam berkompetisi melalui berbagai program imiah yang sesuai dengan tema,” terangnya.

Sementara itu Kepala Program dan Pendidikan PP-IPTEK Putu Lia Suryaningsih menjelaskan kegiatan  ini meliputi Skill Process, yaitu langkah-langkah penelitian yang berbasis penelitian sederhana dengan menggunakan metode berpikir ilmiah,

Kegiatan lainnya adalah Workshop Sains dengan judul Introduction of Science for SDG dengan pembicara Mutia Delina,  Dosen Fisika FMIPA Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Selain itu akan dilakukan kunjungan Ilmiah dan Proyek Kelompok membuat presentasi yang berkaitan dengan tema kegiatan yang dipresentasikan oleh tiap peserta dalam Bahasa Inggris di hadapan Juri.

Kunjungan Ilmiah akan dilakukan ke beberapa laboratorium Iptek BPPT di kawasan Puspiptek Serong, Tangsel, di antaranya Pusat Teknologi Industri Pertahanan dan Keamanan (PTIPK), Balai Bioteknologi, Balai Besar Teknologi Konversi Energi (B2TKE), dan Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC).

“ Selain kegiatan Discovery Camp masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang disajikan oleh PP-IPTEK kepada masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pengetahuan Iptek masyarakat, khususnya generasi muda,” pungkas Lia

PP-IPTEK sebagai science center pertama di Indonesia dan salah satu wahana pembelajaran iptek bagi masyarakat, khususnya generasi muda memiliki peran strategis dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia sesuai dengan visi dan misi negara. (red/ju)